Fokus rancangan environment penulis berada pada eksterior dan interior dari rumah seorang dukun perempuan yang cantik, Nyai Ayu Saktika. Tetapi sebelum mendesain, penulis terlebih dahulu melihat three-dimensional character dari Nyai Ayu Saktika sebagai berikut.
Nama : Ayu Saktika
Tempat/Tanggal Lahir : Surakarta, 13 Juni 1941
Jenis Kelamin : Perempuan
51
Gambar 3.18. Three-dimensional character Nyai Ayu Saktika (Dokumentasi Pribadi)
Setelah mendapat informasi mengenai karakter Nyai Ayu Saktika, penulis kemudian membuat dua desain awal perancangan yang menjadi pembahasan, yaitu eksterior rumah dan interior ruang tamu. Penulis merancang kedua environment ini untuk memiliki dua kesan yang berbeda. Eksterior akan
memberikan kesan yang menyeramkan dan enggan untuk didekati guna mengusir tamu-tamu yang tidak diharapkan. Sedangkan interior memperlihatkan pribadi Nyai Ayu Saktika yang merupakan perempuan sakti dan terobsesi kepada harta.
52 3.5.1. Eksterior
1. Desain Eksterior I
Gambar 3.19. Desain Eksterior I (Dokumentasi Pribadi)
Pada desain eksterior pertama, penulis memutuskan untuk mengambil unsur rumah adat jawa, yaitu joglo, untuk rumah Nyai Saktika berdasarkan tempat asalnya dan juga karena menurut hasil wawancara dari Profesor Gunawan, masyarakat jawa percaya bahwa dengan membangun rumah Joglo, kedudukan sosial mereka di masyarakat meningkat, karena itu rumah jenis ini identik dengan orang-orang berstatus sosial tinggi.
53
Simbolisme dalam rumah Joglo juga tidak hanya berkaitan erat antara hubungan manusia dengan alam sekitarnya, tetapi juga representasi hubungan maupun kedudukan laki-laki dan perempuan, seperti yang ditulis oleh Subiyantoro (2011), di mana menganut sistem patriarki.
Pernyataan ini kemudian menginspirasi penulis untuk membuat rumah Nyai Ayu Saktika memakai konsep tersebut, melihat bagaimana dalam three-dimensional characternya, ia menentang sistem ketidaksetaraan
perempuan dan laki-laki tersebut.
Penulis juga memberikan penampakan rumah yang kumuh di luar dengan tujuan perlindungan Nyai Saktika dari orang-orang yang berusaha mengganggunya. Karena itu akhirnya penulis mengambil referensi perancangan dari rumah gubuk juga, yang mana terbuat dari material kayu jati dan juga daun kering sebagai atapnya.
Di sisi lain, untuk memberikan kesan bahwa orang yang tinggal di rumah tersebut memiliki keberadaan yang tidak mudah untuk diremehkan, penulis memberikan beberapa anak tangga. Hal tersebut guna memberikan perasaan terintimidasi terhadap orang yang mendatanginya, sekalipun penampakan rumah yang terlihat menggambarkan orang yang tinggal di dalam tersebut tidak berada.
Namun setelah mendapat feedback dan memikirkan konsep desain dengan lebih matang, penulis kemudian memperluas aspek-aspek yang akan dipakai untuk merancang sebuah environment dan mendesainnya
54
ulang. Desain awal eksterior tersebut belum menggambarkan keseluruhan karakter Nyai Ayu Saktika sesuai dengan three-dimensional character, maupun konsep yang penulis inginkan.
2. Desain Eksterior II
Gambar 3.20. Desain Eksterior II (Dokumentasi Pribadi)
Dalam desain eksterior kedua, penulis mencoba menggabungkan konsep rumah joglo dengan gaya rumah dari ‘Monster House’. Penulis kemudian membuat jendela dan pintu yang seolah-olah mengindikasikan bahwa rumah itu ‘hidup’ dan menjaga orang yang tinggal di dalamnya. Ide ini diambil dari rumah ‘Monster House’ yang juga digambarkan memiliki fitur wajah dan melakukan self-defense.
55
Melalui pernyataan Chijiiwa (1987), penulis kemudian menggabungkan beberapa warna guna mengekspresikan suatu kesan yang ingin disampaikan ke penonton atau orang yang melihatnya. Maka dari itu, penulis memakai warna lantai dan dinding kayu biru, untuk melambangkan perasaan aman Nyai Ayu Saktika saat berada dalam rumah tersebut, tetapi juga kesendirian. Ungu di atap untuk menunjukkan obsesinya terhadap harta sebagai prioritas utama, hijau untuk harta, dan jingga di pintu sebagai pertanda bahaya ke orang lain.
Di desain ini, penulis belum mengaplikasikan konsep rumah joglo juga beberapa acuan lainnya secara maksimal. Material yang digunakan juga tidak terlalu terlihat dalam penggambarannya. Pengaplikasian yang tidak maksimal tersebut dikarenakan karena dasar kendala konsep batasan masalah yang belum benar, juga keterbatasan wawasan, sehingga penulis melakukan revisi dengan hasil sebagai berikut.
56 3. Desain Eksterior III
Gambar 3.21. Desain Eksterior III (Dokumentasi Pribadi)
Penulis kemudian mengubah banyak hal dari eksterior rumah joglo, mengikuti dua referensi rumah di atas yaitu ‘Perempuan Tanah Jahanam’
dan ‘Monster House’, lebih menerapkan keterkaitan three-dimensional character dengan konsep rumah Joglo, juga teori psikologi warna dengan
dua potong adegan ‘Maleficent’ sebagai referensinya.
Dari kedua referensi rumah, penulis mengambil beberapa aspek yang berbeda. Sama seperti desain-desain sebelumnya, penulis hanya membuat satu komponen rumah Joglo yang disebut omah, sebagai rumah Nyai Ayu Saktika. Mengambil penjelasan bagian-bagian dari rumah Joglo
57
yang dibuat oleh Subiyantoro (2011), bahwa rumah Joglo juga menerapkan gender representation, dimana pendhapa yang berada di depan menyimbolkan laki-laki dan omah yang berada di belakang adalah ranah perempuan.
Nyai Ayu Saktika yang hanya membangun omah bisa dilihat sebagai penentangannya terhadap anggapan bahwa perempuan kodratnya berada di bawah laki-laki. Penulis menambahkan anak tangga agar memberi kesan bahwa orang yang tinggal di rumah tersebut status sosialnya lebih tinggi dari masyarakat pada umumnya, melihat dari three-dimensional character yang dimilikinya.
Di desain ketiga, penulis kemudian memperbaiki ukuran rumah Joglo agar menjadi lebih lebar. Rumah Joglo tersebut diperbaiki agar lebih memanjang ke samping melalui hasil observasi dari referensi rumah
‘Perempuan Tanah Jahanam’ dan rumah Joglo lainnya. Rumah tersebut juga dibangun dengan kayu jati untuk pilar, dinding dan lantai, kemudian batu kali sebagai fondasi rumah, dan terakhir atap yang terbuat dari tanah liat. Penulis memakai kayu jati karena merupakan material ideal yang dikenal dengan keawetan dan ketahanannya melawan perubahan cuaca.
Untuk memperlihatkan bahwa rumahnya sudah berdiri dalam waktu yang cukup lama, penulis membuat ketidak-utuhan dalam elemen-elemen dari material bangunan rumah tersebut. Contohnya pada cat baik di kayu dinding, lantai, maupun genteng, sudah memudar akibat reaksi dari
58
cuaca yang dilalui rumah tersebut selama ini. Susunan atap yang tidak lagi rapi serta kayu-kayu yang tidak sama seperti semula lagi bentuknya memperlihatkan buruknya keadaan rumah milik Nyai Ayu Saktika. Karena ketahanan kayu jati tersebut, maka dari itu walaupun sudah puluhan tahun berlalu, kondisi rumah masih bisa terbilang layak huni meski tanpa pemugaran.
Bentuk dominan pada rumah milik Nyi Misni adalah persegi dan segitiga, memberikan kesan kaku dan ketidak-nyamanan pada orang yang melihat atau mendekatinya. Penulis kemudian menerapkan hal yang sama dengan desain rumah Nyi Ayu Saktika, karena ketidak-ramahannya kepada orang lain, juga tidak menerima tamu yang tak diundang.
Sama seperti desain pertama dan kedua, satu-satunya properti yang ada di desain ketiga ini hanya rumah Nyai Ayu Saktika saja. Melihat dari rumah Nyi Misni pada ‘Perempuan Tanah Jahanam’, penulis ingin menonjolkan sifat ketidak-ramahan dan tidak terlihatnya suatu kehidupan di rumah tersebut untuk menimbulkan perasaan yang tidak nyaman saat orang luar melihatnya.
Penulis lalu mengambil referensi warna biru dari film ‘Maleficent’
yang menurut teori warna Feisner (2006), bisa diartikan seperti kesetiaan dan rasa aman, juga kesendirian serta kesedihan, sesuai dengan suasana dan kesan yang disampaikan kepada penonton saat melihat mahluk-mahluk tersebut bersembunyi di dalam hutan Moors. Dasar teori dan arti
59
yang diberikan dari pemilihan warna hutan Moors itu sangat menggambarkan situasi pengisolasian diri dan rasa aman yang Nyi Ayu Saktika dapatkan dengan berada di rumah itu.
4. Desain Eksterior IV
Gambar 3.22. Desain Eksterior IV (Dokumentasi Pribadi)
Rancangan ketiga tidak memiliki perubahan yang signifikan, salah satu perubahan yang penulis buat adalah detail seperti pudarnya cat dan genteng bolong berdasarkan hasil observasi film animasi ‘Monster House’, di mana rumahnya mengalami perubahan yang signifikan, mulai dari
60
pemudaran cat yang tampak di seluruh sisi rumah, juga permukaan yang tidak merata pada kayunya. Begitu juga yang dilihat dengan rumah Joglo milik Nyi Misni, kayunya terlihat tua dan gentengnya tidak utuh.
Gambar 3.23. Detail genteng eksterior IV (Dokumentasi Pribadi)
Pada desain ketiga, penulis memperbaiki shading dari atap rumah Nyai Ayu Saktika, karena pada rancangan sebelumnya, dimensi genteng tanah liat tersebut terlihat lebih seperti ke kertas atau benda dengan kelebaran yang sangat tipis. Penulis kemudian memberikan penekanan terhadap permukaan yang terkena bayangan ataupun cahaya, untuk memperlihatkan yang mana lebih banyak terpapar sinar dengan yang tidak.
Penambahan lumut juga diaplikasikan tidak dengan warna hijau, tetapi mengikuti ambience dari keseluruhan environment.
61
Gambar 3.24. Detail dinding dan lantai eksterior IV (Dokumentasi Pribadi)
Perancangan ini juga memiliki penambahan detail di dinding kayu dan lantai semennya. Sama seperti genteng sebelumnya, penulis menambahkan lumut serta warna yang menggambarkan cat pudar di keduanya. Hal tersebut bisa dilihat dari warna yang tidak merata di permukaan dinding atau pilar kayu, maupun pada lantai semen.
Gambar 3.25. Aplikasi lampu gantung pada eksterior IV (Dokumentasi Pribadi)
62
Pada rancangan ini, di tengahnya terdapat satu lampu gantung kuno yang biasa ditemukan di rumah-rumah jawa lama. Ide pemasangan lampu gantung tersebut berasal dari cara seekor anglerfish memancing mangsanya dengan sungut yang di ujungnya terdapat cahaya. Penulis menggunakan lampu gantung tersebut untuk memberi kesan yang sama dengan Nyai Ayu Saktika menarik kostumernya. Warna jingga menurut teori warna Feisner (2006) sendiri adalah menandakan hati-hati, disini lebih ditujukan kepada orang asing yang menghampirinya.
Gambar 3.26. Eksplorasi desain lampu gantung (Dokumentasi Pribadi)
63
Gambar 3.27 Penerapan bentuk pada lampu gantung
(Dokumentasi Pribadi)
Lampu gantung yang digunakan pada eksterior rumah dukun Nyai Ayu Saktika mengalami perubahan dari referensi aslinya. Di gambar referensi, logam yang berada di dua sisi lampu tersebut memiliki motif flora. Penulis lalu menyederhanakan motif yang rumit dan penuh detail tersebut ke bentuk yang berhubungan dengan kesan yang ingin diberikan oleh lampu di rumah Nyai Ayu Saktika. Segitiga kemudian dipakai dalam desain lampu gantung, dimana menurut Tillman (2011), bentuk tersebut dikaitkan dengan permasalahan.
64 3.5.2. Interior
1. Desain Interior I
Gambar 3.28. Desain Interior I (Dokumentasi Pribadi)
Interior memiliki ide desain yang berbanding terbalik dengan eksterior.
Jika eksterior merupakan kesan yang ingin diberikan Nyai Ayu Saktika untuk menghindari dan menjauhkan orang-orang jahat yang tidak diundang, maka interior merupakan visual dari jati dirinya sendiri. Interior ruangan yang dimaksud merupakan ruang tamu, sekaligus ruang praktik dukun.
Seperti yang dilihat di three-dimensional characternya, Nyai Ayu Saktika merupakan seorang dukun perempuan jawa yang memiliki status sosial tinggi, memiliki banyak harta, serta independen. Dari informasi tersebut, penulis memutuskan untuk memberikan ruangan dengan gaya
65
eropa yang mewah. Ruangan tersebut dibuat sangat tinggi langit-langitnya serta perabotan mewah untuk menonjolkan kasta sosial juga kemampuan finansial yang dimiliki oleh Nyai Ayu Saktika.
Potrait besar Nyai Ayu Saktika yang ada di tengah-tengah ruangan
memvisualisasikan kemandirian dan kehebatan dirinya yang ditunjukkan kepada orang-orang yang bertamu. Beberapa props seperti keris, kemenyan dan wadah pembakarannya, tanaman bunga melati, serta gelas dan kendi-kendi kuno dipakai untuk memberitahukan identitas Nyai Ayu Saktika sebagai dukun perempuan dan etnis jawanya.
2. Desain Interior II
Gambar 3.29. Desain Interior II (Dokumentasi Pribadi)
66
Interior mengalami perubahan yang sangat signifikan. Setelah mengetahui konsep rumah Joglo lebih mandalam, penulis kemudian memutuskan untuk memilih satu ruangan spesifik sebagai ruang terpenting bagi Nyai Ayu Saktika. Salah satu komponen dari rumah Joglo, yaitu senthong tengah, adalah sebuah kamar di dalam omah dan digunakan sebagai tempat pemujaan Dewi Sri. Ruang tersebut menjadi referensi dalam menjadi ruangan dukun Nyai Saktika karena sifatnya yang sakral dan identik dengan energi spiritual.
Untuk memberikan keterangan waktu melalui segala jenis elemen yang berada pada satu frame yang dikemukakan oleh LoBrutto (2002), penulis lalu memberikan beberapa props modern seperti lantai marmer, karpet, meja serta botol-botol zaman sekarang mulai dari yang mahal sampai termurah. Botol-botol tersebut digunakan Nyai Ayu Saktika untuk menyimpan tuyul-tuyulnya. Gambar berikut merupakan botol-botol yang dipajang di ruang tamu milik Nyai Ayu Saktika.
67
Gambar 3.30. Desain props botol (Dokumentasi Pribadi)
Guna perbedaan brand berdasarkan harga botol tersebut menunjukkan kualitas tuyul yang tinggal di masing-masing botol. Botol ataupun tempat minum yang dipakai antara lain adalah botol anggur, tumblr dari merk Supreme dan Starbucks, Tupperware, Lock&Lock, botol
reaksi dari lab kimia, toples kaca, botol air mineral, sampai yang termurah yaitu Aqua gelas. Menurut kepercayaan orang-orang, tuyul sendiri memiliki klasifikasi kelasnya sendiri. Semakin bagus tuyul tersebut, maka semakin banyak pula uang yang dihasilkannya.
68
Gambar 3.31. Close-up botol tempat bersemayam tuyul (Dokumentasi Pribadi)
Melihat juga bahwa di Indonesia, banyak jin atau mahluk halus yang ditangkap dan dimasukkan ke botol, penulis akhirnya menggabungkan kedua hal tersebut. Semakin tinggi harga botol minuman, maka semakin bagus pula kualitas tuyul yang bersemayam di dalamnya.
Untuk menyampaikan ide tersebut, penulis lalu memberikan tag dengan tulisan tuyul beserta kualitasnya, begitu juga penampakan tuyul dengan kualitas terendah di gelas air mineral.
Selain tempat disimpannya tuyul, props botol ini dibuat demi menunjukkan bahwa cerita itu sedang berlangsung di era sekarang, walaupun dipenuhi dengan barang-barang dan ruangan yang tradisional.
Dengan teori environment yang mengemukakan bahwa segala sesuatu yang ada di dalam frame dapat menunjukkan sosiologis tokoh, penulis
69
kemudian memasukkan beberapa objek hasil observasi dari film ‘Ratu Ilmu Hitam’ ataupun dukun pada umumnya demi menjadi methaporical props untuk memperkenalkan kedudukan Nyai Ayu Saktika di masyarakat sebagai dukun.
Gambar 3.32. Desain meja tamu (Dokumentasi Pribadi)
Pada perancangan meja tamu, penulis memakai meja klasik, modern-klasik serta meja kayu jepara. Ketiga referensi ini dipilih karena menjadi tolok ukur penulis dalam merancang sebuah meja yang terlihat dan berkaitan dengan kemewahan seperti jenis klasik, memiliki khas nusantara dari jepara, serta berada di tengah-tengah era klasik dan modern.
Penulis lalu memilih desain meja ketiga, karena masih memiliki ciri khas meja nusantara, tetapi minimalis seperti meja modern-klasik yang tetap memperlihatkan era sekarang.
70
Gambar 3.33. Desain meja (Dokumentasi Pribadi)
Untuk meja yang berada di sudut ruangan, tempat botol-botol diletakkan, penulis memakai beberapa referensi yang sama dengan rancangan meja tamu sebelumnya. Disini penulis menambahkan satu meja modern sebagai referensi, karena semulanya, ingin menonjolkan era modern dengan desain meja yang satu ini.
Akan tetapi setelah melalui proses desain, penulis kemudian memutuskan untuk menggunakan meja dengan gaya modern-klasik karena selain nilai visual yang cocok dengan ruangan tersebut, juga menjadi salah satu dari sedikit props yang menonjolkan kekayaan Nyai Ayu Saktika.
71
Gambar 3.34. Buah Dewandaru (Dokumentasi Pribadi)
Kamar tersebut juga dikelilingi dengan rak yang dipenuhi dengan buah dewandaru, yang dipercaya dapat memberikan rezeki berlimpah oleh orang-orang. Buah dewandaru tersebut diawetkan di dalam satu toples per buahnya. Penulis memutuskan untuk membuat konsep ini untuk menunjukkan keserakahan dan obsesi Nyai Ayu Saktika terhadap harta.
Maka dari itu, tempat Nyai Ayu Saktika duduk berada tepat di tengah-tengah ruangan yang dikelilingi buah tersebut, menggambarkan obsesi dan prioritas utamanya dalam hidup adalah harta.
72
Gambar 3.35. Eksplorasi desain lemari I (Dokumentasi Pribadi)
Toples-toples berisi buah dewandaru itu kemudian ditaruh di deretan lemari yang mengelilingi satu ruangan kecuali bagian pintunya.
Dalam membuat desain lemari, penulis mengambil referensi dari lemari kayu antik dengan bahan kayu serta rak buku. Rak buku diambil sebagai referensi karena desainnya yang terbuka, agar memudahkan orang mengambil dan melihat susunan buku tersebut.
Desain lemari atau rak tersebut berbentuk dasar dari segitiga dan persegi, untuk menggambarkan ketekunan dan cara licik apa saja yang dapat Nyai Ayu Saktika tempuh untuk mendapatkan harta kekayaan.
Kedua desain tersebut merupakan percampuran dari lemari antik dan rak buku, supaya dapat menunjukkan nilai dari barang tersebut sekaligus memajang dan memamerkan koleksi buah dewandaru yang dimilikinya.
73
Penulis kemudian memilih desain kedua karena dirasa lebih tepat untuk dibuat berderet mengelilingi ruangan.
Ruangan sakti milik Nyi Ayu Saktika didominasi oleh warna ungu, juga cahaya berwarna jingga dari buah dewandaru. Pemilihan kedua warna tersebut mengacu pada referensi dari gua Ursula di dalam ‘The Little Mermaid’. Warna ungu menunjukkan kekuatan spiritualnya dan jingga menekankan ambisi atau tujuan yang ingin dicapainya.
Penulis kemudian ingin menunjukkan perbedaan kasta yang dimiliki Nyai Ayu Saktika dengan orang yang datang meminta pertolongannya melalui besar dan bentuk yang jauh berbeda dari kedua kursi yang ada di ruangan tersebut. Nyai Ayu Saktika duduk di kursi dengan ukuran yang jauh lebih besar dari tubuhnya dengan ujung yang runcing berbentuk segitiga. Kebalikan dari situ, kursi milik tamu berbentuk persegi dimana dikaitkan dengan kaku dan kepatuhan.
Hal tersebut memberikan kesan yang canggung dan perasaan terancam kepada tamu saat berhadapan dengan Nyai Ayu Saktika yang duduk di kursi menjulang tinggi, dengan perpaduan dua bentuk yaitu persegi yang di konteks ini pemegang kuasa atau aturan, juga segitiga yang melambangkan kelicikan dan kejahatan.
74 3. Desain Interior III
Gambar 3.36. Desain Interior III (Dokumentasi Pribadi)
Rancangan terakhir hanya mengalami sedikit perubahan untuk mematangkan kejelasan background tokoh, serta perbaikan dan penambahan detail. Perubahan pertama terdapat pada lemari. Penulis memutuskan untuk memberi detail ukiran yang berasal dari tempat asal Nyai Ayu Saktika, yaitu Surakarta, guna penonton bisa melihat dan menganalisa background dari dirinya.
75
Gambar 3.37. Desain lemari interior II (Dokumentasi Pribadi)
Penulis juga menambahkan laci di deretan lemari agar tidak terlihat terlalu ramai, dan penonton bisa memfokuskan pandangannya ke ukiran yang terdapat di bagian paling atas lemari. Di desain ini pula, psikologi bentuk sudah lebih diterapkan dari desain-desain sebelumnya. Bagian ukiran pada lemari tersebut berbentuk segitiga, termasuk banyak props yang berbentuk persegi.
Bentuk persegi mendominasi daripada segitiga bisa diartikan bahwa walaupun Nyai Ayu Saktika melakukan perbuatan yang tidak baik, yaitu psikologi bentuk segitiga oleh Tillman (2011), tetapi semua itu digerakkan berdasarkan tujuan dan alasan kuat yang ia jalani dengan tekun
76
sampai sekarang. Karena itu persegi, yang berarti aturan, lebih dominan dibanding bentuk segitiga yang memberi kesan kejahatan.
Gambar 3.38. Perancangan perlatan dukun (Dokumentasi Pribadi)
Pada three-dimensional character Nyai Ayu Saktika, bisa dipahami bahwa ia adalah seorang perempuan tua yang perawakannya seperti gadis muda. Penulis kemudian mengambil salah satu aspek dari film maupun pribadi Suzzanna sendiri, yaitu meminum air rendaman bunga melati maupun memakannya secara langsung, yang konon katanya merupakan rahasia awet mudanya.
77
Di desain interior ruangan Nyai Ayu Saktika, terlihat ada banyak kendi-kendi air di belakang maupun di sebelah kursi miliknya. Kendi-kendi tersebut berisi air guna menjadi bahan dari proses ritualnya, juga rendaman bunga melati yang ia gunakan untuk membuatnya tidak termakan usia. Beberapa props hasil observasi lainnya yang digunakan dalam desain rumah Nyai Ayu Saktika untuk menunjukkan identitasnya sebagai dukun antara lain adalah sesajen, dupa, dan tempat bakar sajen.
Ada penambahan dan pengurangan props yang penulis lakukan setelah mengobservasi dengan lebih seksama lagi. Di referensi dukun yang penulis pakai, terlihat ada gelas kaca berisi air, yang biasa menjadi minuman sang klien ataupun untuk disemburkan oleh dukun. Penulis memutuskan untuk menambahkannya karena hal itu merupakan ciri khas seorang dukun di masyarakat Indonesia. Salah satu yang mendukung pernyataan tersebut adalah dari lirik lagu ‘Mbah Dukun’ oleh Alam, yang isinya adalah “dengan segelas air putih lalu pasien disembur”.
Penulis juga menghilangkan meja dan dua pasang kursi, karena berdasarkan hasil observasi acuan, para dukun biasanya melakukan ritual sambil duduk di lantai yang beralas. Alas tersebut tetap memakai karpet bulu supaya bisa memvisualkan keterangan waktu cerita tersebut berlangsung, bersama props modern lainnya berlandaskan teori environment oleh LoBrutto (2002).