BAB 5 HASIL
5.1.8 Proses Produksi
PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk memiliki sumber bahan baku yang cukup banyak berupa daerah perbukitan disekitar lokasi pabrik yang mengandung batu kapur, tanah liat dan silica. Ketiga komponen ini merupakan bahan baku utama yang digunakan dalam proses pembuatan semen. Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku tersebut, perusahaan sudah melakukan penambangan pada beberapa lokasi antara lain Quarry D dan didaerah Hambalang. Selain ketiga bahan tersebut dalam pembuatan semen digunakan juga pasir besi dan gypsum sebagai bahan baku tambahan.
a. Penambangan batu kapur
-Cleaning (Pembersih) : Upaya pembersihan dilakukan untuk menghilangkan lapisan tanah kurang lebih 30 cm dengan menggunakan alat berat yaitu bulldozer. Alat ini mengeruk tanah yang bergelombang hingga rata untuk dibuat akses jalan, peledakan dan pendistribusian material.
- Drilling (Pengeboran) : Maksud pengeboran dilakukan untuk membuat lubang tembak. Dimana lubang tersebut kedalamannya 9-13 m yang berfungsi sebagai tempat menyimpan bahan peledak. Bahan peledak ditempatkan pada lubang dan kemudian di netralisirkan dari seluruh karyawan di lapangan untuk menjauhi lubang dengan radius jarak aman. - Balsting (Peledakan) : Tujuan peledakan adalah untuk membongkar batuan kapur yang memiliki kekerasan yang tinggi. Batuan kapur di bor 9-13 meter (zona aman) Ketika semua aman bahan peledak diledakkan atas perintah operator minning atau penambangan sesuai dengan SOP yang berlaku pada pukul 12.00 hingga 13.00 WIB dengan ketentuan tidak ada karyawan atau warga yang berada di zona peledakan.
- Loading (Pemuatan) dan hauling (Pengakuan) : Memuat batu kapur hasil ke atas alat angkut. Alat yang digunakandi quarry D sebagian besar adalah whell loader dengan kapasitas 5-10 . Loader mengangkut batuan dan memindahkan dalam dump truck yang berkapasitas 30-60 ton. Buldozer mengeruk bahan material untuk dimasukkan ke dalam whell loader dan dibawa ke crusher untuk diolah dengan hasil ukuran standar.
- Crushing (Penghancuran) : Mereduksi ukuran batu menjadi suatu produk yang dapat diterima oleh raw mill. Alat crushing memecahkan bahan material lime stone untuk dikirim ke gudang lime stone dengan alat conveyor sepanjang 5 KM di Quarry D ke gudang lime stone raw mill.
- Conveying (Penerimaan) : pengiriman batu kapur dari Quarry D menggunakan belt conveyor dengan kapasitas 2500 ton/jam langsung dikirim ke plant namun sebagian disimpan terlebih dahulu dalam storage Quarry D. Alat ini juga membantu mengatur dan menginspeksi kualitas batu kapur agar fluktuasinya tidak tajam.
b. Penyimpanan Bahan Baku Untuk Limestone
-Timbunan Memanjang (Longitudinal Stockpile) : Dengan menggunakan metode memanjang dimana material ditimbun dengan cara menjatuhkan dari atas, penimbun bergerak secara kontinyu sepanjang garis pusat arah memanjang timbunan. Dengan cara ini akan terjadi berlapis-lapis material yang berbentuk atap sepanjang timbunan. Ini dimaksudkan untuk meniadakan variasi sehingga diharapka disemua penampang lintang timbunan mempunyai komposisi yang sama. Pada penimbunan cara ini, material yang jatuh dari atas akan sliding dan bergulir turun sehingga akan terjadi segregasi yang kadarnya tergantung dari sifat material dimana material yang kasar akan cenderung terkempul dibagian bawah timbunan.
- Timbunan Melingkar (Circular Blending Bed) kontinyu : Secara umum menggunakan metode melingkar, hal ini dimaksudkan agar dapat memberikan homogenitas material yang baik pada material dengan jumlah yang besar untuk diameter blending yang sama. Penimbunan dilakukan secara kontinyu tanpa harus menunggu pembukaan seksi yang baru dan mampu menyimpan dalam jumlah yang besar dan operasinya lebih mudah.
c. Penambangan Tanah Liat
- Penambangan sandy clay dilakukan di Hambalang, dengan cara diangkut dengan dump truck yang memiliki kapasitas 30 ton dan untuk menaikannya digunakan wheel loader kemudian dibawa ke tempat penghancuran. Hal ini bertujuan untuk memudahkan pengangkutan dengan belt conveyor menuju plant dan untuk mempersiapkan bahan baku agar memenuhi standar ukuran yang diinginkan sebelum dihancurkan kembali di dalam raw mill.
d. Penyediaan Pasir Besi, Bijih Besi, Pasir Silika dan gypsum
Dalam pembuatan semen, pasir besi digunakan sebagai bahan korektif yang ditambahkan ke dalam bahan baku apabila komposisinya belum memenuhi syarat. Kebutuhan pasir besi dan biji besi dipenuhi oleh PT Aneka Tambang di Cilacap, sedangkan kebutuhan gypsum dipenuhi dengan mengimpor Thailand, Jepang Australia atau dari PT.Petrokimia Gresik. Pasir silika dibeli dari pulau Belitung dan daerah Cibadak, Sukabumi.
e. Unit Pengeringan dan Penggilingan Bahan Baku (Raw Mill Unit)
Sebelum bahan baku dimasukkan ke dalam kiln, bahan baku tersebut mengalami tahap pengeringan dan penggilingan. Proses pengeringan sandy clay berlangsung pada rotary dryer dan untuk lime stone berlangsung pada impact dryer dengan memanfaatkan panas yang diambil dari exhaust gas suspension preheater. Berikut langkah-langkah pengeringan yang dilakukan terhadap raw material adalah :
- Batu kapur dari tempat penyimpanan diambil oleh reclaimer ke belt conveyor dan diteruskan ke impact dryer untuk memperkecil ukurannya hingga 30 mm dengan kadar air dijaga 1%. Batu kapur yang telah dihancurkan dan dikeringkan dalam impact dryer kemudian masuk ke dalam hopper limestone.
- Tanah liat dan pasir silica dari tempat penyimpanan diangkut dengan belt conveyor untuk dimasukkan ke dalam rotary dryer. Di sini terjadi pengeringan oleh gas panas yang keluar dari SP. Setelah keluar dari SP rotary dryer, tanah liat dimasukkan ke dalam storage sementara oleh belt conveyor lalu dialirkan menuju hopper dengan menggunakan bucket elevator.
- Pyrite cinder atau besi oksida langsung dimasukkan ke dalam hopper dengan menggunakan belt conveyor dan bucket conveyor.
- Dari masing-masing hopper, material di timbang dengan menggunakan weighing feeder dan dialirkan ke dalam air separator. Di air separator ini terjadi pemisahan partikel halus dan kasar, dimana partikel yang sudah halus
dan telah memenuhi syarat akan terbawa oleh udara panas ke cyclone dan di cyclone akan terjadi pemisahan partikel halus dengan udara panas sedangkan partikel kasar yang masuk air separator akan jatuh keluar separator dan masuk kedalam raw grinding mill untuk dihancurkan menjadi partikel-partikel yang lebih halus. Partikel-partikel-partikel yang telah halus dimasukkan kembali ke dalam air separator untuk diproses kembali. Output dari cyclone yang berupa partikel halus dialirkan ke air blendingsilo dan diteruskan lagi ke storage silo. Output udara panas dari raw mill yang masih membawa partikel yang halus terkandung dalam udara panas.
f. Unit Pembakaran Tepung Baku dan Pendinginan Clinker (Burning Unit)
Tahapan proses ini dimaksudkan untuk mereaksikan bahan baku sehingga membentuk klinker dan proses ini terdiri atas 3 tahap :
1. Tahap homogenisasi
Di dalam air blending silo, tepung baku mengalami proses homogenisasi secara pneumatik dengan udara bertekanan yang dialirkan dari bagian bawah silo untuk mencegah terjadinya pemampatan material. Proses ini memiliki beberapa keunggulan antara lain :
• Mutu klinker lebih baik dan seragam serta mudah digiling. • Pemakaian bahan bakar lebih hemat.
• Bata tahan api lebih tahan lama karena operasi kiln lebih stabil dengan adanya coating yang stabil.
2. Tahap pembentukkan klinker
Proses pembentukkan klinker terdiri atas beberapa tahap sebagai berikut :
• Proses pemanasan dan penguapan air yang terjadi di suspension preheater.
• Proses kalsinasi awal yang terjadi di suspension preheater.
• Proses kalsinasi lanjutan yang terjadi di rotary kiln.
• Proses safety yang terjadi di rotary kiln. • Proses transisi yang terjadi di rotary kiln.
• Proses sintering atau klinkerisasi yang terjadi di rotary kiln.
• Proses pendinginan yang terjadi di air quenching cooler.
Tepung baku yang terdapat dalam raw meal silo yang lebih dikenal dengan nama kiln feed dialirkan oleh air sliding conveyor ke tangki pengumpan. Dengan bantuan rotary feeder, tepung baku tersebut dijatuhkan ke weighing feeder yang terdapat dibawahnya. Umpan kiln kini dialirkan ke suspension preheater dengan bucket elevator.
3. Tahap pendinginan klinker
Klinker yang keluar dari rotary kiln mengalami pendinginan awal dalam kiln yaitu pada cooling zone dari menjadi
Klinker harus didinginkan secara cepat sebelum masuk ke unit penggilingan akhir.
g. Unit Penggilingan Akhir (Cement Mill Unit)
Dari klinker silo, klinker keluar melalui apron conveyor dibawa dengan bucket elevator menuju ke hopper clinker, proporsinya ditentukan dengan weighting feeder. Kemudian klinker dibawa ke penggilingan akhir. Produk yang keluar dari cement mill akan terbagi atas dua arah. Produk semen yang halus akan dihisap oleh EP (electrostatic precipitator) melewati grit separator sedangkan produk semen yang relatif kasar akan jatuh ke air slide dan dibawa ke bucket elevator dan selanjutnya diteruskan ke dynamic separator. Didalam alat ini, partikel yang halus akan terbawa menuju enam buah cyclone lalu terbawa pada bucket elevator. Kemudian ditiup dengan menggunakan blower. Produk akhir tersebut dimasukkan kedalam cement silo, sedangkan partikel kasar akan masuk kembali kedalam cement mill melalui air slide.
h. Unit Pengantongan Semen (Packing Unit)
Didalam in line packer terdiri dari enam buah corong pengisian yang mengumpankan semen kedalam kantong dengan kapasitas masing-masing 50kg. Pada unit packing terdapat juga pengemasan dalam ukuran besar yaitu jumbo bag dengan kapasitas 1 ton dan 1.5 ton dan semen curah 19-20 ton. Untuk semen curah, semen yang berasal dari bin langsung didistribusikan ke
loading truck. Untuk mencegah polusi udara maka pada unit pengantongan ini dilengkapi dengan dust collector jenis bag filter.