• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN SISTEM PERUSAHAAN

3.3. Proses Produksi

3.3.2. Proses Produksi Produk OTC (Open Top Can)

Proses produksi produk OTC/kaleng pada PT. Frisian Flag Indonesia-Plant Ciracas terdiri dari beberapa tahap dimana material akan diproses dari mesin satu ke mesin yang lainnya, yaitu slitter, soudronic, parting, NFB/NFBS (Necking, Flanging, Beading dan Seamer), seamer, leak tester dan yang terakhir yaitu palletizer. Area produksi pada Departemen SCM Can Making memiliki 3 line produksi, yaitu line 1, line 2 dan line 3. Masing-masing line memiliki masing-masing mesin yang sama-sama memproduksi kaleng. Line 1 dan line 2 memiliki mesin dengan urutan proses produksi yaitu slitter, soudronic, parting, NFB, Seamer, leak tester dan palletizer. Line 3 memiliki sebuah mesin yang berbeda dengan line 1 dan 2 sehingga tahapan proses produksinya pun berbeda, yaitu dimulai dari slitter, soudronic, parting, NFBS, leak tester dan palletizer. Line 3 tidak terdapat mesin NFB seperti pada line 1 dan line 2, tetapi memiliki mesin NFBS dimana merupakan mesin gabungan dari NFB dan seamer.

Adapun tahapan proses produksi OTC/Open Top Can dari masing-masing line yaitu sebagai berikut:

a. Line 1 dan Line 2

Mesin slitter pada produksi OTC memiliki 2 mesin, yaitu mesin slitter cepak dan mesin slitter duplex sehingga masing-masing line produksi tidak memiliki mesin slitter sendiri. Mesin slitter cepak berada diatara line 1 dan line 2, sedangkan mesin slitter duplex terletak pada line 3. Tinplate body yang digunakan untuk membuat kaleng pada line 1 dan line 2 berasal dari mesin slitter cepak dan juga mendapat supply dari mesin slitter duplex yang terletak pada line 3. Tahapan produksi pada line 1 dan line 2 yaitu:

i. Mesin slitter

Satu buah mesin slitter ini akan menyuplai material tinplate body yang telah dipotong menjadi ukuran kecil ke mesin soudronic 1 dan soudronic 2. Pertama-tama material tinplate body yang masih berbentuk lembaran awal persegi panjang akan di bawa dari rak penyimpanan material menggunakan forklift menuju mesin produksi. Material tinplate body tersebut akan diproses terlebih dahulu di mesin slitter. Material tinplate body tersebut yang awalnya masih berukuran 0,150 mm x 860 mm x 925 mm akan dipotong menjadi 4 bagian sama besar pada 1st operation, kemudian dipotong lagi menjadi lebih kecil yaitu menjadi 5 bagian sama besar yaitu pada 2nd operation. Pemotongan material tinplate body ini akan menghasilkan 20 lembar potongan sama besar dengan ukuran panjang 230 ± 0,05 mm dan lebar 170 ± 0,05 mm. Potongan material tersebut kemudian akan memasuki proses selanjutnya yaitu mesin soudronic.

ii. Mesin soudronic

Material tersebut setelah dipotong menjadi ukuran yang lebih kecil, maka material tinplate body tersebut akan melalui proses scouring, rounding dan welding pada mesin soudronic. Pertama-tama material yang awalnya berbentuk lembaran persegi panjang akan melalui proses scouring untuk membuat ulir di tengah body blank untuk dipotong di mesin parting, kemudian body blank akan dibentuk melengkung menjadi double candengan diameter 81,80 mmpada tahap rounding, kemudian material tersebut akan dilas agar masing-masing sisi kiri dan kanan menempel. Tahap ini merupakan tahap pengelasan (welding). Material

setelah dilas, maka akan berjalan menuju mesin ketiga yaitu mesin parting.

iii. Mesin parting

Tahap ketiga di mesin parting ini yaitu double can dari mesin soudronic akan di potong menjadi 2 bagian sama besar berdasarkan ulir scouring yang telah dibuat, yaitu dari ukuran awal 230 ± 0,05 mm dan diameter 81,80 mm dipotong manjadi ukuran 115 ± 0,05 mm dengan diameter yang tetap yaitu 81,80 mm. Satu double can akan mengasilkan 2 buah single can dengan ukuran yang lebih kecil dan diameter yang sama. Tinplate tersebut selanjutnya akan menuju tahap proses berikutnya yaitu pada mesin NFB.

iv. Mesin NFB

Single can selanjutnya akan masuk ke mesin NFB (Necking, Flanging, Beading). Pada mesin NFB itu sendiri memiliki tiga tahapan proses, yang pertama adalah proses Necking, yaitu proses pembentukan leher kaleng dimana single can akan di presspada mesin Necking agar terbentuk leher kaleng yang melengkung diatas OTC. Single can tersebut setelah melalui tahap necking akan berlanjut ke tahap Flanging, merupakan tahap dimana pembentukan bibir kaleng dilakukan. Bibir kaleng merupakan bagian teratas kaleng yang dibentuk melengkung keluar. Tahap yang terakhir yaitu tahap Beading, yaitu tahap pembentukan ulir pada badan OTC agar OTC dapat lebih kuat dan kokoh sehingga teksturnya tidak lemas/lentur ketika dipegang. OTC akan dilanjutkan menuju mesin Seamer.

v. Mesin Seamer

OTC atau kaleng yang telah dibentuk leher, bibir dan ulir badannya akan ditutup atasnya dengan lid pada mesin seamer. Lid yang berasal dari supplier ini akan dibawa menggunakan forklift yang kemudian akan disusun ke mesin enfeeder/magazine lid oleh operator secara manual. Lid akan berjalan di tension belt lid support hingga menuju outfeed star untuk dipress atau disatukan dengan OTC atau kaleng yang berasal dari mesin NFB. OTC atau kaleng ketika sudah ditutup dengan lid, kemudian OTC tersebut akan berjalan menuju mesin leak tester.

vi. Mesin Leak Tester

Mesin leak tester merupakan mesin yang melakukan pemeriksaan atau pengecekan terhadap OTC atau kaleng yang telah melalui tahap-tahap pada mesin-mesin sebelumnya, apakah OTC atau kaleng tersebut sudah melalui proses yang benar dan hasilnya sesuai standar ataukah tidak. Mesin ini memeriksa apakah ada kecacatan (defect) pada OTC yang telah diproduksi, khususnya memeriksa kebocoran pada kaleng. Mesin leak tester ini dengan kata lain dapat menyortir OTC yang bagus atau layak untuk digunakan dan OTC yang jelek/cacat dan tidak layak untuk digunakan. Penyortiran ini dilakukan berdasarkan standar OTC yang harus dihasilkan. OTC yang telah diperiksa melalui mesin leak tester ini jika kondisinya bagus atau tidak ada cacat, atau dengan kata lain memenuhi standar yang ditetapkan maka OTC akan diloloskan untuk menuju tahap berikutnya yaitu palletizer. Sebaliknya, jika OTC yang diperiksa oleh mesin leak tester jelek atau memiliki cacat, atau dengan kata lain tidak sesuai standar OTC yang telah ditetapkan maka OTC tersebut akan dibuang secara otomatis oleh mesin dan ditampung dalam sebuah keranjang defect OTC (kaleng cacat).

Standar yang harus dipenuhi oleh sebuah OTC atau kaleng untuk diloloskan ke palletizer yaitu OTC tidak boleh bocor, pecah, penyok, ataupun memiliki potongan zig-zag dimana sisi sebelah kiri dan sisi sebelah kanan tidak lurus. OTC juga harus memiliki hasil Necking, Flanging dan Beading yang bagus pula. Necking yaitu pembentukan leher kaleng harus sempurna dan tidak cacat atau penyok, kemudian flanging yaitu pembentukan bibir kaleng harus rata dan tidak bergelombang, kemudian ketika dipress, OTC tidak boleh pecah yaitu pengelasan sisi atas sobek. Standar yang terakhir yaitu beading, dimana pembentukan ulir pada badan OTC harus sempurna dan tidak ada benjolan titik-titik yang disebabkan karena komponen mesin yang bermasalah. OTC yang bocor dapat disebabkan karena hasil pengelasan atau welding pada mesin soudronic yang tidak sempurna sehingga terdapat sisi kanan dan kiri yang tidak menyatu/bolong. OTC yang penyok dapat disebabkan karena mesin jamming yang menyebabkan OTC menjadi cacat.

OTC yang telah lolos dari mesin leak tester dalam arti OTC telah sesuai standard dan tidak memiliki cacat, selanjutnya akan berjalan menuju mesin palletizer dimana OTC-OTC yang telah diproduksi akan dipaletkan pada pallet.

vii. Mesin Palletizer

OTC-OTC akan disusun menjadi 14 tumpukan layer dimana masing-masing layer memiliki ±225 buah OTC/kaleng, sehingga dalam 1 pallet terdapat ±3150 OTC/kaleng. OTC-OTC yang dipalletkan ini merupakan stock OTC yang nantinya akan disupply ke bagian SCM Can Packing untuk melalui proses filling, kemudian pengepakan susu dalam kardus dan berakhir pada proses shipping atau disimpan dalam warehouse produk jadi. Berikut adalah gambar alur proses produksi pada line 1 dan line 2:

Gambar 3.3. Alur Proses Produksi Line 1 dan Line 2 b. Line 3

Line 3 juga memiliki tahap proses yang sama dengan line 1 dan line 2, tetapi memiliki satu perbedaan mesin yaitu line 3 memiliki mesin NFBS yang merupakan gabungan dari mesin NFB dan Seamer pada line 1 dan line 2. Adapun tahapan proses pada line 3 yaitu:

i. Mesin Slitter duplex

Mesin slitter duplex ini memiliki proses pemotongan material tinplate body yang sama dengan line 1 dan line 2. Pemotongan material tinplate dilakukan dari material berbentuk lembaran persegi panjang dengan ukuran 0,150 mm x 860 mm x 925 mm dipotong menjadi 4 bagian dan

kemudian dipotong lagi menjadi 5 bagian sama besar menjadi ukuranpanjang 230 ± 0,05 mm dan lebar 170 ± 0,05 mm. Kemudian material ini akan diproses ke mesin soudronic line 3.

ii. Mesin soudronic

Mesin soudronic 3 memiliki spesifikasi mesin yang berbeda dengan mesin soudronic di line 1 dan line 2, dapat dikatakan mesin soudronic line 3 ini berbeda dengan mesin soudronic pada line 1 dan line 2. Tahap proses pembentukan material tinplate memiliki tahapan yang sama dengan line 1 dan line 2, meskipun mesinnya berbeda. Tahap pertama yaitu tinplate akan melalui proses scouring, kemudian dibentuk melengkung menjadi double can (rounding) kemudian akan dilas (welding) dengan kawat tembaga untuk menyatukan tinplate sisi kiri dan sisi kanan agar menempel. Double can kemudian akan menuju mesin parting.

iii. Mesin parting

Double can tersebut kemudian pada mesin parting ini dipotong menjadi 2 bagian sama besar sama seperti pada line 1 dan line 2 untuk menghasilkan single can. Single can setelah itu akan menuju mesin NFBS.

iv. Mesin NFBS (Necking, Flanging, Beading, Seamer)

Mesin NFBS pada line 3 ini merupakan gabungan dari mesin NFB dan Seamer. Tahapan urutan proses pada mesin ini sama seperti mesin NFB dan seamer di line 1 dan line 2, hanya bedanya mesin NFBS ini memiliki tahapan proses pada OTC dari pembentukan leher kaleng, bibir kaleng, ulir badan dan penyatuan lid (tutup OTC) dengan OTCdalam satu mesin itu sendiri.

v. Mesin Leak Tester

Mesin leak tester pada line 3 berjalan sama seperti pada line 1 dan line 2, mesin ini menyortir OTC yang cacat dan yang bagus. Jika OTC cacat seperti bocor, pecah, penyok maupun rusak maka OTC tersebut akan terbuang otomatis oleh mesin leak tester itu sendiri. Mesin leak tester ini sendiri memiliki vacuum yang terdiri dari head vaccum, karet vaccum dan filter yang akan mengecek OTC yang tidak sesuai standar.

vi. Mesin Palletizer

Mesin palletizer line 3 ini juga memiliki sistem kerja yang sama dengan line 1 maupun line 2, yaitu OTC akan berjalan pada conveyor mesin

palletizer dan kemudian akan disusun dalam sebuah layer. Satu buah layer memiliki ±225 buah OTC. Layer-layer tersebut akan ditumpuk dan disusun diatas sebuah pallet. Satu pallet memiliki 14 tumpukan layer sehingga 1 pallet memiliki ±3150 OTC. OTC pada pallet-pallet tersebut kemudian akan menjadi stock untuk disupply ke bagian SCM Can Packing. Berikut ini adalah gambar alur proses produksi pada line 3:

Gambar 3.4. Alur Proses Produksi Line 3 3.4. Fasilitas Produksi

Fasilitas produksi pada PT. Frisian Flag Indonesia-Plant Ciracas khususnya dalam departemen SCM Can Making berupa sistem penanganan material (material handling). Berikut ini merupakan fasilitas produksi yang berkaitan dengan sistem penanganan material pada Departemen SCM Can Making, yaitu: a. Pallet

Pallet digunakan untuk meletakkan material seperti lembaran tinplate body dan tumpukan lid yang akan disusun pada mesin endfeeder seamer,kemudian digunakan juga untuk menyimpan OTC-OTC yang telah disusun dalam bentuk layer pada mesin palletizer sebagai stock yang akan disuplai ke SCM Can Packing.

b. Forklift

Forklift merupakan material handling yang digunakan dalam area produksi SCM Can Making, yaitu untuk memindahkan material yaitu Lid, tinplate body maupun body blank yang telah dipotong pada mesin slitter. Material-material tersebut dipindahkan dalam bentuk pallet guna untuk diproses pada mesin,

untuk diisi pada mesin enfeeder/magazine lid. Forklift juga digunakan untuk memindahkan tinplate body menuju mesin slitter untuk dipotong menjadi 20 buah potongan body blank. Body blank yang telah disusun pada mesin slitter duplex line 3 juga disuplai menggunakan material handling forklift ke mesin soudronicline 1 dan line 2 karena line 1 dan line 2 hanya memiliki 1 mesin slitter. Forklift dalam area SCM Can Making juga digunakan untuk membawa dan menyusun pallet-pallet yang berisi OTC yang telah disusun pada mesin palletizer. Forklift juga digunakan untuk membawa keranjang berisi body blank yang cacat/rusak maupun OTC yang cacat/rusak yang telah ditampung dari masing-masing mesin dari tiap line produksi untuk dibawa ke recovery. Recovery merupakan tempat pembuangan kaleng cacat dan produk susu yang tidak sesuai standar untuk diproses ulang.

c. Keranjang biru

Keranjang biru merupakan fasilitas produksi yang digunakan untuk menampung OTC-OTC atau kaleng-kaleng yang rusak/cacat yang didapatkan dari masing-masing proses pada tiap-tiap mesin di line produksi. Setiap mesin pada setiap line disediakan satu buah keranjang biru yang digunakan oleh operator mesin untuk membuang OTC yang cacat/rusak dari mesin tersebut. Keranjang biru ini di sediakan pada mesin soudronic, parting, NFB, NFBS, Seamer dan palletizer.Dalam satu buah keranjang biru dapat menampung ±150 OTC yang cacat/rusak.

d. Keranjang kuning

Keranjang kuning memiliki fungsi yang sama dengan keranjang biru yaitu untuk menampung OTC/kaleng yang cacat/ rusak, tetapi keranjang kuning ini memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan keranjang biru. Keranjang kuning ini digunakan pada mesin Leak Tester karena mesin Leak Tester paling banyak menghasilkan defect/cacat sebab yang pada dasarnya mesin ini memiliki fungsi yaitu memeriksa dan menyortir OTC yang bagus dan yang cacat/rusak/bocor. Daya tampung keranjang kuning 4 kali lebih besar dari keranjang biru, yaitu dapat menampung atau menyimpan OTC yang cacat/rusak sebanyak ±600 kaleng/OTC.

BAB 4