sehingga dapat menjaga hubungan yang konsisten dan stabil dengan nasabah.
Risk Management has become an integral part of business, decision making, and cultural processes of every individual in the Bank. These professional and transparent processes enable the Bank to tackle any risk with pinpoint precision, thus ensuring consistent and stable relationship with the customers.
Pengelolaan risiko menjadi bagian integral dari proses bisnis, keputusan, dan budaya setiap insan Bank OCBC NISP. Hal ini sejalan dengan visi, misi, dan tujuan Bank untuk menjadi ’Your Partner for Life’ bagi nasabah serta berlandaskan prinsip-prinsip GCG (Good Corporate Governance) dan semangat inovasi untuk meningkatkan nilai Bank secara berkelanjutan. Proses yang profesional dan transparan, mendukung Bank untuk mampu menangani berbagai risiko dengan tepat, sehingga dapat menjaga hubungan yang konsisten dan stabil dengan nasabah.
Implementasi kerangka kerja manajemen risiko dilaksanakan sesuai dengan praktik terbaik yang berlaku umum dalam industri perbankan dan lembaga keuangan. Kerangka kerja tersebut difokuskan kepada pengawasan aktif dari Dewan Komisaris dan Direksi, kebijakan yang cukup, prosedur dan penetapan limit, kecukupan proses identifikasi, pengukuran, pemantauan risiko dan sistem informasi, serta sistem pengendalian internal yang menyeluruh.
Tata kelola risiko, toleransi risiko, dan risk appetite menjadi tanggung jawab penuh dari jajaran Direksi. Didukung pula oleh pengawasan secara independen baik melalui unit kerja Manajemen Risiko maupun unit kerja Audit Internal. Dalam penerapannya, keseluruhan pengelolaan risiko menjadi
Risk Management has become an integral part of business, decision making, and cultural processes of every individual in the Bank. This is in line with the Visions, Missions, and Goals of Bank OCBC NISP – that is, to be ’Your Partner for Life’ for the customers – and based on the principle of GCG (Good Corporate Governance) and innovative spirit to enhance the perpetual values of the Bank.
These professional and transparent processes enable the Bank to tackle any risk with pinpoint precision, thus ensuring consistent and stable relationship with the customers.
The framework of risk management is implemented in accordance with best practices applicable in the banking and financial institution industry. The framework more focuses on active monitoring from the Board of Commissioners and Directors, proper policies, limit setting and procedures, sufficient processes of risk identification, measurement, supervision, and information system, as well as a comprehensive internal control system.
The Board of Directors takes full responsibility on the risk management, tolerance, and appetite of the Bank with the support of independent monitoring of the Risk Management and Internal Audit Divisions. During the implementation, overall management as a whole comprehensive process becomes the
From ManagementOperational ReviewFinancial ReviewCorporate DataBackground of Bank OCBC NISPGCG Report responsibility of all employees at every level of the organization.
Risk Management Division functions to establish and develop effective and consistent risk management processes and tools;
hence, the Bank can build a corporate culture that emphasizes on the risk awareness of its employees. The implementation of comprehensive risk awareness and management from all employees, as well as the execution of independent monitoring, will contribute and provide added value to the progressive development of the Bank within the consideration of optimal risk-adjusted return.
The organizational chart of Risk Management Group shows that risk management procedures are tackled by several divisions addressing credit risks, market risks, liquidity risks, operational risks, and other (legal, strategic, compliance, and reputational) risks. These divisions work together in partnership with the whole range of business and supporting units from strategic to transactional level, while the Board of Commissioners perform organizational supervision with the assistance of committees related to risk management and auditing, as provided on Figure 1.
- Corporate Credit Risk Management Division, Commercial Credit Risk Management Division, and Consumer Credit Risk Management are responsible for controlling lending activities according to prudent banking principles and in ensuring all credit risks have been managed optimally.
tanggung jawab bersama seluruh karyawan di setiap lini organisasi. Unit kerja Manajemen Risiko berfungsi menetapkan dan mengembangkan proses dan perangkat pengelolaan risiko yang efektif dan konsisten, sehingga terbangun budaya Bank yang menitikberatkan kesadaran karyawan akan risiko. Dengan penerapan dan kesadaran risiko yang menyeluruh dari semua pihak serta pengawasan yang independen akan memberikan kontribusi dan nilai tambah bagi pertumbuhan Bank secara berkesinambungan, dengan tetap memperhatikan risk-adjusted return yang optimal.
Dalam kerangka organisasi di dalam Risk Management Group, pengelolaan manajemen risiko terbagi dalam beberapa unit kerja yang bertanggung jawab terhadap risiko kredit, risiko pasar, risiko likuiditas, risiko operasional, dan risiko lainnya (risiko hukum, strategis, kepatuhan, dan reputasi). Unit kerja manajemen risiko ini bekerja sama dan bermitra dengan seluruh unit usaha dan unit pendukung, mulai dari level strategis sampai dengan level transaksi. Sedangkan pengawasan organisasi dilakukan oleh Dewan Komisaris dibantu oleh komite-komite terkait manajemen risiko dan komite audit sebagaimana terlihat pada Bagan 1.
BOARD OF
- Divisi Corporate Credit Risk Management, Divisi Commercial Credit Risk Management, dan Consumer Credit Risk Management bertanggung jawab mengendalikan pemberian kredit agar sesuai dengan prinsip kehati-hatian dalam pemberian kredit sekaligus memastikan bahwa semua risiko kredit telah dikelola secara optimal.
- Market Risk and Treasury Control work within the scope of developing risk management processes in order to improve the efficacy of market risk management, control, and monitoring functions by formulating policies and limits, as well as through the implementation of regulations and reporting.
- Operational Risk Management Division is in charge of managing operational risk according to the best practices in minimizing unpredictable losses and in handling estimated losses, also in assuring new business opportunities with controlled risks.
- Asset Liability Risk Management Division is responsible for proper monitoring, measuring, reporting liquidity risk and interest rate risk management in the banking book, and serving as an independent party who performs control function on risks from balance sheet and liquidity positions.
- Asset Recovery Management Division is in charge of effective management and settlement of non-performing loans through various alternative solutions, including:
restructuring, cash settlement, asset settlement, loan disposal, and litigation.
- Enterprise Policy and Portfolio Management is responsible for the sufficiency of policies, procedures, and limits. This includes the development of bank-wide policy architecture, and the formulation of risk profile that is more suitable to the business conditions and characteristics of the Bank, with due consideration to current regulations on risk management.
- Market Risk and Treasury Control memiliki fungsi serta ruang lingkup mengembangkan proses manajemen risiko dalam rangka efektivitas fungsi pengelolaan, pengendalian, dan pengawasan risiko pasar melalui formulasi kebijakan dan limit, serta penerapan ketentuan dan pelaporan.
- Divisi Operational Risk Management bertanggung jawab untuk mengelola risiko operasional sejalan dengan best practices untuk meminimalisir kerugian yang tidak terduga dan mengelola kerugian-kerugian yang dapat diperkirakan, serta memastikan peluang bisnis baru dengan risiko yang terkendali.
- Divisi Asset Liability Risk Management bertanggung jawab dalam memonitor, mengukur, dan melaporkan manajemen risiko likuiditas dan risiko suku bunga dalam banking book secara baik, serta pihak independen yang melaksanakan fungsi kontrol risiko yang timbul dari posisi neraca dan likuiditas.
- Divisi Asset Recovery Management bertanggung jawab untuk melakukan penanganan dan penyelesaian kredit bermasalah secara efektif melalui berbagai alternatif penyelesaian kredit seperti restrukturisasi, cash settlement, asset settlement, loan disposal, dan litigasi.
- Enterprise Policy and Portfolio Management bertanggung jawab atas kecukupan kebijakan, prosedur dan penetapan limit. Termasuk membangun arsitektur kebijakan secara bank-wide, serta mengembangkan penetapan risk profile yang lebih sesuai dengan kondisi dan karakteristik usaha Bank dengan tetap memperhatikan peraturan terkait manajemen risiko yang berlaku.
Corporate Image and Identity
Shareholders Values (Capital Management) Best Asset Quality Bank
Profitable Bank
Best Managed Bank
Credit Risk Market Risk
Interest Rate Risk FX Risk Liquidity Risk IT /System Human Capital Catastrophe
Liquidity Risk Operational Risk
Portfolio and Capital Risk Management
I. Organization
Enterprise Risk Management (International Best Practice / Basel)
Front Office Middle Office Back Office
Good Corporate Governance
Corporate Culture & Values Corporate Vision, Mission, Strategy Stakeholders Roles & Beliefs
Employees Shareholders Customers Vendors Regulators Other Publics
Strongest Bank in the world
From ManagementOperational ReviewFinancial ReviewCorporate DataBackground of Bank OCBC NISPGCG Report
Penguatan 4 Pilar
Dalam rangka perencanaan dan pemantauan risiko yang lebih baik, pengembangan pengelolaan risiko Bank menitikberatkan pada penguatan dari 4 (empat) pilar infrastruktur risiko.
Infrastruktur yang dibangun dalam Risk Management Group dimaksudkan untuk dapat mengakomodasi kerangka pengelolaan risiko Bank secara holistik. Keempat pilar yang dibangun terbagi atas organisasi, kebijakan, sistem dan data, serta metodologi.
Kerangka kerja dan pengembangan pilar-pilar tersebut tercermin pada Bagan 2, dimana tujuan utamanya adalah tercapainya identitas dan gambaran Perusahaan sesuai dengan visi dan misi yang telah ditetapkan, serta peningkatan nilai terhadap shareholders dan stakeholders.
Fokus pengelolaan pilar infrastruktur risiko yang pertama dimulai dari organisasi dan sumber daya manusia. Pengembangan yang dilakukan untuk pilar pertama ini adalah melengkapi kebutuhan sumber daya yang memadai, baik dari segi kualitas maupun kuantitas, mencakup di unit bisnis maupun unit pendukung, dan juga termasuk unit kerja manajemen risiko. Pengelolaan risiko tidak dilihat berdasarkan setiap jenis risiko secara terpisah, namun memerlukan pengelolaan yang holistik terhadap keseluruhan risiko berdasarkan tujuan strategis dan risk appetite.
Di dalam organisasi Risk Management Group, hal ini tercakup dalam 8 (delapan) unit fungsional yang mengelola keseluruhan spektrum jenis risiko yang ada, terutama risiko kredit, risiko pasar, risiko likuiditas, dan risiko operasional.
Fokus pilar infrastruktur risiko yang kedua diterapkan dalam pengembangan kebijakan dan kerangka kerja risiko. Proses pengembangan kebijakan ini ditatalaksanakan dalam bentuk arsitektur kebijakan dan prosedur yang lebih terstruktur.
Arsitektur kebijakan dan prosedur ini terdiri dari 5 (lima) tingkatan, dimana tingkat kebijakan yang pertama yaitu Kebijakan Manajemen Risiko menjadi payung pedoman bagi seluruh kebijakan dan prosedur yang berlaku di Bank. Dengan demikian, penerapan dan pengelolaan risiko menjadi komitmen dan landasan berpikir serta bertindak dari Manajemen dan seluruh karyawan Bank.
Sehubungan dengan pelaksanaan aktivitas bisnis yang kompleks dalam kondisi lingkungan internal dan eksternal yang semakin beragam tantangannya, diperlukan adanya pengembangan sistem dan proses dalam pengolahan data. Pengembangan yang dilakukan harus mampu mengubah proses semi-manual menjadi sistem yang terstruktur dan terintegrasi secara real time melalui teknologi informasi yang handal. Fokus pengembangan sistem dan integrasi data ini merupakan pilar infrastruktur risiko yang ketiga.
Reinforcing the 4 Pillars
In order to further improve risk planning and supervision, the development of the Bank’s risk management emphasizes on 4 (four) pillars of risk infrastructures. The infrastructures built by Risk Management Group are intended to be able to holistically accommodate the risk management framework of the Bank.
These four pillars are organization, policy, system and data, and methodology. The framework and development of these pillars are presented on Figure 2, where the main purpose is the accomplishment of Corporate Identity and Image in line with the constituted Visions and Missions, which then enhance corporate values for shareholders and stakeholders.
The focus of the first pillar of risk infrastructure starts at the organization and human resources. The development conducted for the first pillar is meeting corporate needs of capable human resources in terms of both quality and quantity in business and supporting units, including risk management division. Risk management is not seen separately on each type of risk, but is handled holistically based on strategic goals and risk appetite.
Within the organization of Risk Management Group, the holistic approach is covered by 8 (eight) functional units that handle the entire spectrum of existing types of risks, particularly credit risks, market risks, liquidity risks, and operational risks.
The second pillar of risk infrastructure is focuses on the development of risk policies and frameworks. The policy development process is regulated in the form of more structured policy and procedural architectures. These architectures comprise of 5 (five) levels, where the first level, or the Risk Management Policy, becomes the guidance for all implemented policies and procedures of the Bank. To the extent that risk implementation and management are ingrained into the commitment and paradigm of management and every employee of the Bank.
As the execution of complex business activities within internal and external environments creates greater challenges, it needs the advancement of data processing system and procedures.
Such advancement should enable the transformation from semi-manual processes into a real-time, structured, and integrated system by utilizing state-of-the-art information technology. The development of data system and integration is the main attention of the third pillar of risk infrastructures.
Infrastruktur risiko dilengkapi melalui fokus pilar keempat, yaitu metodologi dan pendekatan untuk analisis dan permodelan risiko. Pengembangan metodologi dan pendekatan yang terus-menerus seiring dengan kemajuan international best practices akan memperkokoh pengelolaan risiko Bank dalam menghadapi perubahan situasi perekonomian global.
Pilar-pilar ini dan kerangka kerja manajemen risiko Bank selalu dikembangkan dan diperbaiki secara terus-menerus sejalan dengan ekspansi dan kompleksitas bisnis, baik untuk kondisi saat ini maupun rencana Bank ke depan.
Selama tahun 2011, Bank OCBC NISP melaksanakan berbagai inisiatif penerapan manajemen risiko sesuai dengan kerangka kerja dan pengembangan pilar infrastruktur sebagaimana dijelaskan diatas, yaitu sebagai berikut:
Pengelolaan Risiko Kredit
Bank tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dalam pemutusan kreditnya, sehingga NPL dapat terjaga di level yang sangat rendah.
Krisis ekonomi di Eropa yang terus berlanjut dan ekonomi Amerika yang masih belum terlalu membaik, mendorong Bank terus memperhatikan portofolio kredit dengan lebih seksama. Bank juga mengantisipasi bila kondisi global ini berdampak kepada portofolio Bank. Salah satu strategi antisipasi yang dilakukan adalah memecah Divisi Commercial Credit Risk menjadi Divisi Corporate Credit Risk Management dan Divisi Commercial Credit Risk Management. Dengan demikian, pemantauan portofolio kredit lebih melekat dan efektif. Keputusan kredit bisa diambil lebih cepat, baik untuk langkah-langkah preventif, maupun untuk mengambil kesempatan bisnis yang potensial.
Pengembangan sumber daya manusia terus dilakukan dengan pelatihan-pelatihan kredit baik untuk tim Corporate dan Divisi Commercial Credit Risk Management, maupun untuk Business Unit. Kolaborasi dengan Business Unit diperkuat melalui berbagai proyek, di antaranya tim manajemen risiko dan tim business unit bekerja sama sejak awal proses proposal kredit. Dengan implementasi proyek ini, peningkatan efisiensi proses kerja terjadi yang mampu mempersingkat waktu proses persiapan proposal hingga persetujuan kredit.
Tim Credit Risk pun terus dikembangkan melalui perekrutan dan pengembangan staf untuk ditempatkan di wilayah di mana bisnis sedang dikembangkan, termasuk beberapa daerah di luar pulau Jawa.
Risk infrastructures is completed through the focus of the fourth pillar, that is, the methodologies and approaches of risk analysis and modeling. The continuous development of methodologies and approaches according to international best practices will fortify the Bank’s risk management in the face of ever-changing global economy.
These pillars and the risk management framework of the Bank will always be developed and perfected continually alongside business expansion and complexity of the Bank for present and future conditions.
Throughout 2011, Bank OCBC NISP performed several risk management initiatives to implement the aforementioned framework and development of infrastructure pillars, including:
Credit Risk Management
The Bank consistently implements prudent banking principles in providing credit; hence, NPL was successfully kept at a very low level.
Prolonged economic crisis in Europe and the U.S. economy still yet to recover, the Bank felt compelled to pay attention to its credit portfolio more closely, as well as anticipating if the global recession would affect the Bank’s portfolio. One of the anticipatory strategies was splitting Commercial Credit Risk Division into Corporate Credit Risk Management Division and Commercial Credit Risk Management Division. Hence, credit portfolios can be monitored more thoroughly and effectively. Additionally, credit decisions can be made quicker, whether for preventive measures or for capitalizing on potential business opportunities.
The development of human resources continued to be undertaken through credit trainings for both Corporate and Commercial Credit Risk Management Divisions, as well as for Business Units.
The collaboration with Business Units was strengthened through many joint projects, including the collaboration between risk management and business unit teams from the beginning of the credit proposal process. With the implementation of joint projects, the Bank’s improved efficiency can shorten the time needed to complete processes from credit proposal up to credit approval.
The Credit Risk Team is continually enhanced through recruitment and development of personnel, for their subsequent assignment at growing business locations, including several regions outside Java.
From ManagementOperational ReviewFinancial ReviewCorporate DataBackground of Bank OCBC NISPGCG Report Pengembangan infrastruktur kredit terus dilakukan sesuai
dengan rencana yang telah ditetapkan tahun lalu. Credit rating yang dikembangkan akan menjadi dasar untuk “Internal Credit Rating Approach”. Stress testing secara rutin juga dilakukan, terutama secara spesifik berkaitan dengan kejadian tsunami di Jepang dan pelemahan ekonomi di Eropa. Proses-proses ini dengan sendirinya melatih kemampuan dan kepekaan tim kredit dalam mengantisipasi dampak ekonomi dunia terhadap portofolio kredit Bank.
Bank OCBC NISP mempunyai divisi khusus dan terpusat untuk penanganan kredit bermasalah yang disebut Asset Recovery Management (ARM). Divisi ARM menangani kredit bermasalah di segmen Emerging Business, Commercial, Wholesale, dan Enterprise Banking. Langkah yang diterapkan adalah melakukan restrukturisasi terlebih dahulu dibandingkan alternatif penyelesaian kredit lainnya, dengan memperhatikan kemampuan usaha debitur. Bila kredit bermasalah tidak dapat direstrukturisasi, maka Bank akan menempuh penyelesaian kredit bermasalah lainnya dengan beberapa alternatif sebagai berikut:
• Cash Settlement dengan jalan penjualan jaminan atau dari sumber dana lainnya;
• Asset Settlement;
• Loan Disposal;
• Litigasi, baik berupa eksekusi Hak Tanggungan langsung melalui balai lelang swasta dan Pengadilan, serta melakukan kepailitan melalui Pengadilan Niaga. Litigasi merupakan penanganan akhir apabila proses restrukturisasi dan alternatif penyelesaian lainnya berjalan cukup sulit dan tidak dapat terlaksana dengan cepat.
Sementara itu, terkait dengan penyelesaian agunan yang diambil alih (AYDA), Bank OCBC NISP melakukan beberapa langkah konkrit sebagai berikut:
• Upaya pemasaran dan penjualan AYDA dilakukan melalui pemasaran internal Bank ataupun bekerja sama dengan agen properti, broker perorangan, dan balai lelang swasta jika diperlukan.
• Laporan penilaian AYDA dilakukan secara berkala satu tahun sekali.
• Maintenance atas AYDA dilakukan secara berkala dengan cara antara lain penempatan penjaga pada AYDA tertentu. Biaya pemeliharaan seperti telepon, listrik, air dan lain sebagainya dilakukan secara rutin.
The development of credit infrastructures progressed as planned last year. The developed credit rating was set as the reference for “Internal Credit Rating Approach.” Routine stress testing was also performed, specifically in relation to the tsunami in Japan and the recession in European countries. These processes by themselves sharpened the abilities and sensitivities of credit team in anticipating the impact of global economy on the credit portfolio of the Bank.
Bank OCBC NISP also has a special division called the Asset Recovery Management (ARM), which is mainly responsible for dealing with non-performing loans in Emerging Business, Commercial, Wholesale, and Enterprise Banking segments. By considering debtors’ business capabilities, the division takes credit restructuring as the first choice of action, before resorting to other credit settlement solutions. If non-performing loans cannot be restructured, the Bank would take other measures within these alternatives:
• Cash Settlement, by means of selling credit collaterals or other sources of funding;
• Asset Settlement;
• Loan Disposal;
• Litigation, whether by means of mortgage execution at the
• Litigation, whether by means of mortgage execution at the