• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

A. Gingivitis

3. Proses Terjadinya Gingivitis

Plak yang dibiarkan akan menebal karena bakteri akan terus berkembangbiak jika terdapat makanan sebagai sumber energi yaitu sukrosa yang memiliki molekul kecil yang mudah berdifusi, akibat plak ini terjadi gingivitis karena plak yang dibiarkan menumpuk menyebabkan bakteri yang terdapat dilapisan paling dalam kehilangan sumber energi dan akan mati. Bakteri mati mengeluarkan endotoksin yang akan menginflamasi gingiva dan bakteri yang terdapat pada lapisan terluar akan mendapatkan sumber energi dan menghasikan enzim hiarulodinase yang akan meregangkan jaringan epitel maka bakteri penyebab gingivitis akan masuk, dengan adanya antigen-antibodi terjadi proses inflamasi.

Sebagai reaksi pertahanan tubuh maka limfosit lebih banyak dan terjadi pertarungan antara limfosit dan bakteri, bila pertahanan tubuh lemah maka terjadi abses. Dinding akan semakin tipis, dan gusi merah terang dan membulat karena banyak aliran darah dan cairan gusi yang menyebabkan gusi membengkak, apabila disentuh mudah berdarah, perlekatan gusi (epitelnya rusak) sehingga terjadi degenerasi (resesi gusi) (Putri, 2013).

4. Faktor - faktor penyebab terjadinya gingivitis a. Faktor Lokal

1) Plak

Plak gigi merupakan deposit lunak yang melekat erat pada permukaan gigi, terdiri atas mikroorganisme yag berkembangbiak dalam suatu matrik intraseluler jika seseorang melalaikan kebersihan gigi dan mulutnya. Bila jumlahnya sedikit plak tidak akan terlihat, kecuali diwarnai menggunakan larutan disclosing.

Jika menumpuk plak terlihat berwarna abu-abu, abu-abu kekuningan dan kuning. Apabila plak tidak dibersihkan maka akan terjadi penumpukan plak dan menyebabkan peradangan pada gusi (Putri, 2013).

2) Kalkulus

Kalkulus merupakan suatu massa yang mengalami kalsifikasi yang terbentuk dan melekat erat pada permukaan gigi, dan objek solid lainnya di dalam mulut, misalnya restorasi dan gigi geligi tiruan. Kalkulus adalah plak terkalsifikasi. Kalkulus bukanlah penyebab langsung terjadinya inflamasi, tetapi berperan penting dalam perkembangbiakan penyakit, bertindak sebagai permukaan kasar seperti batu karang, tempat mikroorganisme berkembangbiak dan melepaskan produk toksinnya. Permukaan

kalkulus yang kasar mempersulit proses pembersihan plak, bakteri dalam plak menyebabkan peradangan pada gusi (Fedi, 2012).

3) Gigi berjejal

Gigi berjejal adalah keadaan dimana letak gigi berdesak-desakan dalam rongga mulut karena rahang yang kecil, sehingga tidak cukup untuk menampung gigi, atau sebaliknya ukuran gigi yang terlalu besar sehingga posisi gigi menjadi berdesakan atau berjejal. Faktor yang menyebabkan gigi berjejal adalah faktor keturunan, gigi susu yang tanggal tidak pada waktunya, kebiasaan buruk seperti menghisap ibu jari (Susanto, 2011).

Akibat dari gigi berjejal adalah susahnya untuk melakukan pembersihan yang tepat pada permukaan gigi, sehingga menyebabkan penumpukan plak. Plak merupakan penyebab utama dari gingivitis (Kusumawardani, 2011).

b. Faktor Sistemik 1) Hormonal

a) Kehamilan

Peningkatan kadar hormon estrogen dan progesteron pada masa kehamilan mempunyai efek bervariasi pada jaringan, diantaranya pelebaran pembuluh darah yang menyebabkan bertambahnya aliran darah sehingga gusi menjadi lebih merah,

bengkak dan mudah mengalami perdarahan (Hermawan, 2010).

Perubahan ini dimulai sejak bulan kedua kehamilan, memuncak pada bulan kedelapan (Fedi, 2012).

b) Pubertas

Masa pubertas produksi hormon seks meningkat sehingga berdampak pada komposisi mikroflora pada jaringan epitel gusi yang dapat bereaksi hebat terhadap jumlah plak yang ada dan akan menyebabkan inflamasi diikuti dengan pembengkakan gingiva dan perdarahan (Martariwansyah, 2008).

2) Diabetes Mellitus

Diabetes mellitus adalah kelainan metabolisme glukosa yang ditandai dengan berkurangnya metabolisme atau produksi insullin. Tanda–tanda klasik dengan gejala diabetes mellitus yang

tidak terkontrol meliputi rasa haus, lapar, ingin berkemih berlebihan, pruritus (gatal) dan glikosuria (pengeluaran gula pada urin). Pasien

penderita diabetes melitus yang tidak terkontrol rentan terhadap gingivitis, hiperplasia gingiva dan periodontitis (Fedi, 2012).

3) Kelainan darah

Kelainan darah seperti leukimia adalah suatu kondisi keganasan yang ditandai oleh produksi berlebih sel darah putih (Langlais, 2012). Penyusupan sel – sel leukimia kedalam gusi

menyebabkan gingivitis dan berkurangnya kemampuan untuk melawan infeksi akan semakin memperburuk keadaan ini (Kusumawardani, 2011).

Gingivitis pada leukimia ditandai dengan gusi berwarna merah, nyeri, lunak dan cenderung lepas dari gigi. Stippling jaringan menghilang dan perdarahan spontan dari sulkus gusi akhirnya terjadi (Langlais, 2012). Perdarahan sering kali berlanjut sampai beberapa menit atau lebih karena pada penderita leukimia, darah tidak membeku secara normal (Kusumawardani, 2011).

5. Jenis – jenis gingivitis

a. Acute Necrotizing Ulcerative Gingivitis (ANUG)

ANUG ditandai demam, gusi merah padam, sakit mulut yang hebat, hipersalipasi dan bau mulut yang khas. Papila-papila interdental terdorong keluar dan berulserasi. Gingivitis ini terjadi umumnya pada orang antara usia 15-25 tahun, terutama yang mengalami stress yang meningkat dan berkurangnya daya tahan tubuh, juga pada penderita infeksi HIV (Langlais, 2012).

b. Gingivitis marginalis

Gingivitis marginalis ditandai dengan gusi berwarna merah dan disebabkan oleh adanya kalkulus dan penumpukan plak. Gingivitis ini merupakan awal dari penyakit periodontal (Langlais, 2012).

c. Gingivitis Hormonal

Gingivitis yang umumnya terjadi saat pubertas dan kehamilan.

Ditandai dengan tepi gusi tampak merah padam, membengkak, nyeri, papil menjadi lunak. Bersifat sementara, dapat diredakan dengan perawatan kebersihan gigi dan mulut (Langlais, 2012).

d. Gingivitis diabetik

Gingivitis ini terjadi pada penderita diabetes melitus.

Gingivitis biabetik biasanya ditandai dengan warna gingiva merah terang, membengkak dan kosistensi gingival lunak (Langlais, 2012).

e. Gingivitis leukemik

Gingivitis ini terjadi pada penderita leukimia. Ditandai dengan gusi berwarna merah, nyeri, lunak dan cenderung lepas dari gigi.

Kelanjutannya gusi menjadi ungu dan mengkilat. Stippling menghilang, adanya perdarahan spontan dari sulkus gusi (Langlais, 2012).

6. Pencegahan dan perawatan gingivitis

a. Pengenalan cara sehari – hari yang efektif dalam menjaga oral hygiene seperti :

1) Sikat gigi

Pengenalan teknik sikat gigi yang tepat, memotivasi untuk sikat gigi secara teratur dan pemilihan pasta gigi yang tepat.

Pemilihan bulu sikat yang halus agar tidak melukai gusi dan mengganti sikat gigi sekurang-kurangnya tiap tiga bulan sekali agar bulu sikat masih tetap efektif dalam membersihkan gigi. Menyikat gigi dapat mengeliminasi dental plak yang merupakan cikal bakal terjadinya penyakit mulut (Hermawan, 2010).

2) Kumur – kumur antiseptik

Bahan aktif yang sering digunakann sebagai kumur-kumur umumya berasal dari minyak tumbuh-tumbuhan seperti metal salisia, sedangkan yang diresepkan dokter adalah chlorhexidine 0.20% dan H2O2 1.5% atau 3.0%. Kumur-kumur yang lebih murah dan efektif adalah dengan air garam hangat. Kumur-kumur diperlukan dalam upaya mencegah penyakit gusi dan periodontal dan penggunaannya diawali dengan sikat gigi. Penggunaan sebaiknya tidak terlalu sering karena akan menyebabkan flora normal mulut mati dan mulut menjadi kering (Hermawan, 2010).

3) Dental floss atau benang gigi

Cara ini cukup efektif mencegah penyakit periodontal karena membersihkan sela-sela gigi. Teknik penggunaannya harus dimengerti dengan tepat karena jika tidak akan melukai gusi dan membuat radang (Hermawan, 2010).

4) Kontrol ke klinik gigi secara teratur

Diperlukan sebagai salah satu upaya preventif, karena jika tidak dengan ahlinya akan sulit untuk mengamati perubahan pada gigi dan gusi. Jika pernah menderita penyakit periodontal disarankan untuk kontrol secara teratur setiap 3 bulan sekali (Hermawan, 2010).

b. Apabila kelainan periodontal telah terjadi, terapi dan perawatan lanjut sangat diperlukan pada kasus penyakit periodontal adalah :

1) Scalling

Tindakan untuk melepaskan kalkulus dari tempat perekatnya pada gigi. Diperlukan scalling karena kalkulus merupakan deposit yang terkalsifikasi sehingga melekat keras dan tidak hilang dengan sikat gigi tetapi dengan menggunakan alat khusus yaitu ultrasonic scaler.

Umumnya kalkulus supragingiva berlokasi pada sisi bukan dari gigi-gigi molar rahang atas dan sisi lingual dari gigi anterior rahang bawah. Jika sudah di scalling melakukan kontrol yang dilakukan 1-2 minggu setelahnya untuk melihat adanya suatu perbaikan dari gusi (Hermawan, 2010).

2) Kuretase

Periodontal pocket yang berisi banyak food debris maupun

kuman untuk mencegah peradangan lanjut (Hermawan, 2010).

3) Kumur – kumur antiseptik

Terutama yang sering digunakan adalah Chlorhexidine 0.20%. kumur – kumur sekurangnya 1 menit sebanyak 10cc terbukti efektif dalam meredakan peradangan pada jaringan periodontal (Hermawan, 2010).

4) Anti inflamasi

Diresepkan dokter untuk meredakan gejala simtomatik penyakit gusi dan periodontal (Hermawan, 2010).

c. Indeks mengukur gingivitis

Gingivitis diukur dengan indeks gingiva. Indek adalah metode untuk mengukur keparahan suatu penyakit pada individu atau populasi.

Indeks digunakan pada praktik klinik untuk menilai status gingiva seseorang dari waktu ke waktu, penelitian klinis indeks gingival dipakai untuk menilai efektivitas suatu pengobatan atau alat (Putri, 2013).

Indeks gingival yang pertama kali diusulkan pada tahun 1963 untuk menilai banyaknya peradangan pada gusi. Menurut metode ini, keempat area gusi pada masing-masing gigi (fasial, mesial, distal dan lingual) dinilai tingkat peradangannya dan diberi skor 0-3 :

Skor Keadaan Gingiva

0 Gingiva normal : tidak ada keradangan, tidak ada perubahan warna dan tidak ada peradangan

1 Peradangan ringan : terlihat ada sedikit perubahan warna dan sedikit edema, tetapi tidak ada perdarahan saat probing

2 Peradangan sedang : warna kemerahan, adanya edema dan terjadi perdarahan pada saat probing

3 Peradangan berat : warna merah terang atau merang menyala, adanya edema, ulserasi, kecenderungan adanya perdarahan spontan

Perdarahan dinilai dengan cara menelusuri dinding margin gusi bagian saku gusi menggunakan probe, pengukuran digunakan enam gigi indeks termasuk Ramfjord Teeth (16 21 24 36 41 dan 44). Skor keempat area dijumlahkan dan dibagi empat dan merupakan skor gingival untuk gigi yang bersangkutan, dengan menjumlahkan seluruh skor gigi dan dibagi dengan jumlah gigi yang diperiksa, skor indeks gingiva :

Kriteria Skor

Sehat 0

Peradangan Ringan 0,1 – 1,0

Peradangan Sedang 1,1 – 2,0

Perangan Berat 2,1 – 3,0

Indeks gingival = Total skor gingiva : Jumlah indeks gigi x jumlah permukaan gigi yang diperiksa

B. Standar Operasional Prosedur Tindakan Perawatan Skeling Terhadap Kalkulus Penyebab Gingivitis

Berdasarkan Kumpulan SOP Praktikum Jurusan Keperawatan Gigi Tahun 2014 tindakan perawatan yang dilakukan yaitu dengan melakukan pembersihan kalkulus (skeling) pada regio yang mengalami gingivitis.

1. Alat dan bahan yang digunakan : a. Alat :

Dental unit, alat diagnostik, skaler (sickle, wing shape, curret, hoe), alat poles, bak instrumen, dappen dish (2 buah), alat pelindung diri (sarung tangan dan masker).

b. Bahan :

Larutan disclosing, sikat gigi, pasta gigi, brush, cotton pellet, cotton roll, tanpon, lar.betadine 10%.

2. Prosedur skeling a. Persiapan

1) Persiapan alat diagnostik dan bahan penunjang.

2) Persiapkan alat tulis, kartu status dan inform consent.

3) Persiapan kebersihan pribadi terdiri dari cuci tangan sebelum pemeriksaan, memakai sarung tangan dan masker, baju praktek dan sepatu bersih.

4) Persiapan kebersihan dan kerapian lingungan kerja yaitu daerah kerja bersih dan rapi, dipersiapkan secara ergonomis.

b. Pelaksanaan

1) Lakukan persiapan alat, bahan dan perator pada pengerjaan skeling.

2) Atur posisi pasien dan posisi operator pada tiap tahap skeling.

3) Teteskan larutan disclosing dengan benar.

4) Bimbing pasien menyikat gigi.

5) Tunjukan pada pasien bagian gigi yang masih kotor.

6) Raba batas kalkulus dengan explorer sebagai acuan meletakkan sisi potong skaler.

7) Bedakan kalkukus supra dan subgingival dengan melihat warna letak dan kekerasannya.

8) Pilih alat skaler yang tepat untuk tiap regio kalkulus

9) Lakukan teknik skaling dengan benar dengan memperhatikan prinsip seperti cara tumpuan, gerakan menarik, retraksi pipi tahap per tahap.

10) Lakukan pemolesan gigi pasca skeling dengan alat, bahan dan teknik yang benar.

11) Aplikasikan larutan antiseptik pada jaringan lunak.

12) Lakukan instruksi sesuai kasus yang ditemukan pada pasien.

13) Lakukan rujukan pada kasus-kasus gingivitis/periodontitis lanjut.

c. Penyelesaian

1) Menutup rangkaian pelaksanaan skeling. Selesai perawatan lakukanlah pemberian instruksi pada pasien.

2) Membereskan kembali peralatan skeling dan merapihkan daerah tempat kerja.

C. Pelayanan Asuhan Keperawatan Gigi dan Mulut 1. Pengertian

Permenkes nomor 58 tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Pekerjaan Perawat Gigi menyebutkan bahwa pelayanan asuhan keperawatan gigi dan mulut adalah pelayanan kesehatan gigi dan mulut dalam bidang promotif, preventif, dan kuratif sederhana yang diberikan

kepada individu, kelompok, dan masyarakat yang ditujukan untuk meningkatkan derajat kesehatan gigi dan mulut yang optimal.

Undang – undang nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan di pasal 93 menyebutkan bahwa pelayanan kesehatan gigi dan mulut dilakukan untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam bentuk peningkatan kesehatan gigi, penyakit gigi, pengobatan penyakit gigi dan pemulihan kesehatan gigi oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat yang dilakukan secara terpadu, terintegrasi dan berkesinambungan (Kemenkes RI, 2012).

2. Proses

Proses keperawatan gigi yang ditujukan untuk pemberian pelayanan klinis keperawatan gigi menunjukan bahwa seorang perawat gigi bertanggung jawab untuk mengidentifikasi dan memecahkan masalah dalam ruang lingkup praktek pelayanan asuhan keperawatan gigi meliputi empat kegiatan yaitu pengkajian, diagnosis keperawatan gigi, perencanaan, implementasi dan evaluasi (Dahlan, 2008).

a. Pengkajian

Pengkajian adalah seni mengumpulkan data dan menganalisis data–data subyektif maupun obyektif dan mengarahkan penilaian kepada kebutuhan manusia dari klien dan hal–hal yang menghalangi pemenuhan kebutuhan tersebut yang berhubungan dengan pelayanan asuhan keperawatan gigi (Dahlan, 2008).

b. Diagnosa keperawatan

Diagnosa keperawatan gigi adalah kesimpulan dari pengkajian dan fokus kepada kebutuhan–kebutuhan manusia yang dapat dipenuhi melalui pelayanan asuhan keperawatan gigi (Dahlan, 2008).

c. Perencanaan

Perencanaan adalah tindakan penentuan tipe–tipe intervensi keperawatan gigi yang dapat dilaksanakan (diimplementasikan) untuk mengatasi masalah klien dan membantu klien mencapai pemenuhan kebutuhannya yang berhubungan dengan kesehatan mulut.Perencanaan merupakan kerangka kerja untuk pembuatan keputusan dan menguji penilaian klinis dalam pelaksanaan pelayanan asuhan keperawatan gigi (Dahlan, 2008).

d. Impementasi

Implementasi adalah tindakan pelaksanaan perencanaan keperawatan gigi yang telah dirancang dengan khusus untuk memenuhi kebutuhan klien yang berhubungan dengan kesehatan mulut. Implementasi termasuk tindakan – tindakan yang dilaksanakan oleh perawat gigi, klien atau direncanakan lain dalam rangka mencapai tujuan klien, setiap tindakan ditampilkan (dilaksanakan) dan hasilnya dicatat dalam catatan klien atau medical record (Dahlan, 2008).

e. Evaluasi

Evaluasi adalah membandingkan data klien setelah selesai perawatan dengan data yang telah dikumpulkan pada waktu pengkajian awal untuk menentukan ada/tidaknya kemajuan (perubahan) klien atau tercapai tidaknya tujuan perawatan (Dahlan, 2008).

BAB 3

TINJAUAN KASUS

A. Uraian Kasus

Kasus yang disajikan bahan tulisan adalah kasus gingivitis yang terdapat pada gigi 17 16 15 11 21 26 27 35 34 33 32 31 41 42 43 44 45 46 dimana pasien merasa tidak nyaman karena sering berdarah saat menyikat gigi dan belum pernah melakukan perawatan pada gigi dan mulutnya. Secara klinis terlihat pada gigi 17 16 15 11 21 26 27 35 34 33 32 31 41 42 43 44 45 46 memang terlihat gusi lebih lunak dan berwarna merah terang dan beberapa gigi mengalami kelainan posisi dimana terlihat ada penumpukan plak dan kalkulus.

Penatalaksanaan asuhan keperawatan gigi dan mulut dapat diartikan sebagai suatu proses menggunakan pendekatan dalam pelayanan keperawatan gigi, pelaksanaannya terdapat beberapa aspek sebagai berikut:

1. Pengkajian

2. Diagnosis keperawatan 3. Perencanaan

4. Implementasi 5. Evaluasi

Aspek–aspek tersebut merupakan kesatuan yang menyeluruh dalam proses keperawatan gigi sebagai kerangka kerja untuk menyelenggarakan pelayanan asuhan keperawatan gigi dan mulut berkualitas ditujukan kepada semua klien dan masyarakat (Dahlan, 2008).

B. Pengkajian

1. Identitas Pasien

Nama : Nn. E

Tempat tanggal lahir : Bandung, 28 Juli 1995 Jenis kelamin : Perempuan

Pekerjaan : Mahasiswa

Alamat : Jl. Pesantren Komplek Bukit Permata Indah Blok B3 Rt. 06/Rw. 05 Kec. Cimahi Selatan Agama : Islam

Bangsa : Indonesia Gol. Darah : O

2. Keluhan

a. Keluhan Utama :

Pada tanggal 2 April 2016 pasien Nn. E yang dilakukan studi pendahuluan kesehatan gigi dan mulut di Ciumbuleit Bandung mengeluhkan gigi bawah depan sering berdarah pada saat menyikat gigi dan pasien merasa tidak nyaman pada kondisi giginya sejak setahun yang lalu sampai dengan sekarang. Pasien ingin dirawat.

b. Keluhan Tambahan :

Selain sering berdarah pada saat menyikat gigi dan tidak nyaman dengan kondisi giginya, pasien mengeluhkan pada gigi bawahnya terasa kasar jika dirasakan oleh lidah sejak setahun lalu.

3. Pemeriksaan Awal

a. Riwayat Kesehatan Umum

Pasien merasa sehat, dalam lima tahun terakhir pasien dinyatakan tidak pernah mengalami penyakit serius oleh pihak medis, tidak pernah menjalani operasi atau menjalani rawat inap di rumah sakit, pasien menyatakan bahwa dirinya tidak memiliki kelainan pembekuan pembuluh darah, tidak mempunyai alergi terhadap obat-obatan, makan-makanan dan cuaca.

b. Riwayat Kesehatan gigi dan Mulut

Pasien tidak pernah memeriksakan kesehatan gigi dan mulutnya ke klinik gigi, dan menyatakan bahwa dalam menyikat gigi masih belum melakukan dengan cara yang benar, tepat dan cermat, menyikat gigi sehari sekali yakni pada saat mandi pagi saja. Pasien sering mengkonsumsi makanan yang manis dan lengket seperti permen dan jarang mengkonsumsi makanan yang berserat dan berair seperti sayur dan buah dengan intensitas seminggu tiga hari seperti buah pisang, apel, rambutan dan sayur seperti buncis, wortel dan kangkung, memiliki

kebiasaan minum teh setiap hari di pagi hari dan mengunyah satu sisi disebelah kiri karena gigi kanan kadang merasa linu bila terkena makanan atau minuman terlalu dingin dan manis.

4. Pemeriksaan Objektif a. Pemeriksaan Ekstra Oral

Pada pasien Nn. E dilakukan pemeriksaan ekstra oral antara lain :

1) Palpasi

Tidak ada kelainan pada saat dilakukan palpasi di daerah submandibularis terhadap kelenjar limfe baik disebelah kanan maupun sebelah kiri.

2) Muka atau Wajah

Dilihat dari bentuk wajah pasien Nn. E tidak ada kelainan dan terlihat simetris.

b. Pemeriksaan Intra Oral

Setelah melengkapi data identitas pasien Nn. E serta melakukan proses anamnesa, selanjutnya dilakukan tindakan pemeriksaan kebersihan gigi dan mulut dengan menggunakan index OHI-S dengan menggunakan alat kaca mulut dan sonde yang didahului pemberian disclosing solution pada permukaan gigi yang terlihat berwarna lebih merah yang menandakan nilai tingkat kebersihan mulutnya.

1) Penentuan gigi index

1.6 1.1 2.6

4.6 3.1 3.6

2) Index kebersihan mulut

Debris index

3 2 2 12/6=

2,00

Kriteria

2 1 2 Buruk

Kalkulus index

3 0 2 7/6=

1,17

2 0 1

Skor OHI-S : 12/6 + 7/6 = 19/6 = 3,17

Kriteria OHI-S : Buruk

c. Pemeriksaan Jaringan Keras Gigi

KME : Gigi 36, 37 KMD : Gigi 47 KMP Vital : Tidak ada

KMP Non Vital : Tidak ada KMA : Tidak ada

Tumpatan : Tidak ada Gigi hilang / dicabut karena karies : Gigi 13

d. Index Pengalaman Karies DMF-T :

D = 3

M = 1 F = 0 DMF-T = 4

e. Karang gigi / Kalkulus :

Terdapat karang gigi pada gigi rahang atas 17 16 15 26 27 dibagian bukal, rahang bawah pada gigi 34 33 32 31 41 42 43 44 45 46 dibagian lingual.

f. Pemeriksaan mukosa mulut :

Pasien tidak memiliki kelainan pada mukosa mulut lidah, pipi, bibir dan palatum, namun kelainan ditemukan pada gusi yaitu gingivitis di gigi 11 21 dibagian labial 17 16 15 26 27 di bagian bukal dan gigi 35 34 33 32 31 41 42 43 44 45 46 dibagian lingual dengan konsistensi lunak, bentuk papil membulat, bentuk margin abnormal dan terlihat berwarna merah terang.

1) Pemeriksaan indeks gingival

Gigi indeks

Area gingival yang diukur

Mesial Fasial/Labial Distal Lingual/Palatal

16 2 2 2 0

21 2 2 1 0

24 1 1 1 0

36 1 0 1 2

41 2 2 1 2

44 2 2 1 2

Total 10 9 7 6

Indeks Gingival = Total skor gingiva . Jumlah indeks gigi x jumlah permukaan diperiksa = 32/24 = 1, 33 (peradangan sedang)

g. Kelainan / Anomali gigi :

Pasien tidak memiliki kelainan pada bentuk, jumlah dan ukuran giginya, namun kelainan ditemukan pada posisi gigi pasien yaitu di Gigi 14 12 38 33 32 43 45 rotasi, gigi 31 dan 42 labioversi.

h. Pewarnaan gigi extrinsik :

Tidak terdapat pewarnaan gigi extrinsik pada gigi pasien Nn. E, semua gigi bebas dari stain yang membuat gigi terlihat perubahan warna.

C. Analisa Data

DATA MASALAH KEMUNGKINAN PENYEBAB

Gigi 17 16 15

-Awal sering terjadi perdarahan pada gusi saat menyikat gigi sejak setahun yang lalu, tidak hanya saat menstruasi tetapi saat menyikat gigi selalu mengalami perdarahan pada gusinya, awalnya menjelaskan pernah mengalami trauma saat menyikat gigi yang menyebabkan gusinya berdarah.

-Pasien Nn. E kurang menjaga

kesehatan gigi seperti menyikat gigi dalam waktu yang tidak tepat yaitu pada pagi hari dengan cara yang kurang tepat, bagian depan kanan-kiri, samping bulat-bulat, bagian kunyah maju mundur, bagian dalam dekat lidah terlewat dan plak dibiarkan menumpuk lama.

-Pasien Nn. E jarang mengkonsumsi buah dan sayuran yang berair dan berserat karena pasien mahasiswa yang tinggal di kontrakan menjadi lebih sering mengkonsumsi makanan siap saji, intensitasnya dalam seminggu tiga hari seperti buah pisang, apel dan rambutan, untuk sayuran seperti buncis, wortel dan kangkung sehingga kurangnya self cleansing.

-Pasien Nn. E belum pernah memeriksakan giginya ke klinik gigi karena kurang akan

pengetahuan dalam perawatan gigi dan mulutnya.

-Saat pemeriksaan awal pasien terlihat adanya penumpukan plak pada gigi anterior, bukal gigi belakang atas dan lingual pada gigi bawah belakang.

-Terlihat adanya karang gigi dibagian lingual gigi anterior bawah, pasien mulai mengeluhkan terasa kasar pada gigi tersebut sejak setahun lalu.

-Kondisi gigi pasien pada bagian bawah gigi anterior terlihat berjejal dan sulit membersihkan plak hanya dengan menyikat gigi saja.

Gigi 17 16 15 kesehatan gigi dan mulut, menyikat gigi dengan waktu tidak tepat pada pagi hari dengan cara yang kurang tepat pada bagian depan kanan-kiri, samping bulat-bulat, bagian kunyah maju mundur, bagian dalam dekat lidah terlewat dan plak dibiarkan melekat lama di gigi.

-Pasien jarang mengkonsumsi buah dan sayuran yang berair dan berserat karena pasien mahasiswa yang tinggal di kontrakan menjadi lebih sering mengkonsumsi makanan siap saji, intensitasnya dalam seminggu tiga hari seperti buah pisang, apel dan rambutan, untuk sayuran seperti buncis, wortel dan kangkung sehingga tidak adanya self cleansing.

-Kondisi gigi pasien pada bagian bawah gigi anterior terlihat berjejal

dan sulit dalam membersihkannya bila tidak memakai alat bantu sikat gigi, sehingga plak dibiarkan menumpuk dalam waktu lama.

-Pasien Nn. E belum pernah memeriksakan giginya ke klinik gigi karena kurang akan pengetahuan dalam perawatan gigi dan mulutnya.

Gigi 47 KMD Linu jika terkena rangsang dingin.

- KME yang tidak dirawat.

-Pasien Nn. E belum pernah memeriksakan giginya ke klinik gigi karena kurang akan pengetahuan dalam perawatan gigi sehingga tidak terkontrol adanya lubang yang masih dangkal

-Pasien Nn. E kurang menjaga kesehatan gigi dan mulutnya seperti menyikat gigi dengan waktu dan cara yang tidak tepat yang

-Pasien Nn. E kurang menjaga kesehatan gigi dan mulutnya seperti menyikat gigi dengan waktu dan cara yang tidak tepat yang