BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
B. Standar Operasional Prosedur Tindakan Perawatan Skeling
Berdasarkan Kumpulan SOP Praktikum Jurusan Keperawatan Gigi Tahun 2014 tindakan perawatan yang dilakukan yaitu dengan melakukan pembersihan kalkulus (skeling) pada regio yang mengalami gingivitis.
1. Alat dan bahan yang digunakan : a. Alat :
Dental unit, alat diagnostik, skaler (sickle, wing shape, curret, hoe), alat poles, bak instrumen, dappen dish (2 buah), alat pelindung diri (sarung tangan dan masker).
b. Bahan :
Larutan disclosing, sikat gigi, pasta gigi, brush, cotton pellet, cotton roll, tanpon, lar.betadine 10%.
2. Prosedur skeling a. Persiapan
1) Persiapan alat diagnostik dan bahan penunjang.
2) Persiapkan alat tulis, kartu status dan inform consent.
3) Persiapan kebersihan pribadi terdiri dari cuci tangan sebelum pemeriksaan, memakai sarung tangan dan masker, baju praktek dan sepatu bersih.
4) Persiapan kebersihan dan kerapian lingungan kerja yaitu daerah kerja bersih dan rapi, dipersiapkan secara ergonomis.
b. Pelaksanaan
1) Lakukan persiapan alat, bahan dan perator pada pengerjaan skeling.
2) Atur posisi pasien dan posisi operator pada tiap tahap skeling.
3) Teteskan larutan disclosing dengan benar.
4) Bimbing pasien menyikat gigi.
5) Tunjukan pada pasien bagian gigi yang masih kotor.
6) Raba batas kalkulus dengan explorer sebagai acuan meletakkan sisi potong skaler.
7) Bedakan kalkukus supra dan subgingival dengan melihat warna letak dan kekerasannya.
8) Pilih alat skaler yang tepat untuk tiap regio kalkulus
9) Lakukan teknik skaling dengan benar dengan memperhatikan prinsip seperti cara tumpuan, gerakan menarik, retraksi pipi tahap per tahap.
10) Lakukan pemolesan gigi pasca skeling dengan alat, bahan dan teknik yang benar.
11) Aplikasikan larutan antiseptik pada jaringan lunak.
12) Lakukan instruksi sesuai kasus yang ditemukan pada pasien.
13) Lakukan rujukan pada kasus-kasus gingivitis/periodontitis lanjut.
c. Penyelesaian
1) Menutup rangkaian pelaksanaan skeling. Selesai perawatan lakukanlah pemberian instruksi pada pasien.
2) Membereskan kembali peralatan skeling dan merapihkan daerah tempat kerja.
C. Pelayanan Asuhan Keperawatan Gigi dan Mulut 1. Pengertian
Permenkes nomor 58 tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Pekerjaan Perawat Gigi menyebutkan bahwa pelayanan asuhan keperawatan gigi dan mulut adalah pelayanan kesehatan gigi dan mulut dalam bidang promotif, preventif, dan kuratif sederhana yang diberikan
kepada individu, kelompok, dan masyarakat yang ditujukan untuk meningkatkan derajat kesehatan gigi dan mulut yang optimal.
Undang – undang nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan di pasal 93 menyebutkan bahwa pelayanan kesehatan gigi dan mulut dilakukan untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam bentuk peningkatan kesehatan gigi, penyakit gigi, pengobatan penyakit gigi dan pemulihan kesehatan gigi oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat yang dilakukan secara terpadu, terintegrasi dan berkesinambungan (Kemenkes RI, 2012).
2. Proses
Proses keperawatan gigi yang ditujukan untuk pemberian pelayanan klinis keperawatan gigi menunjukan bahwa seorang perawat gigi bertanggung jawab untuk mengidentifikasi dan memecahkan masalah dalam ruang lingkup praktek pelayanan asuhan keperawatan gigi meliputi empat kegiatan yaitu pengkajian, diagnosis keperawatan gigi, perencanaan, implementasi dan evaluasi (Dahlan, 2008).
a. Pengkajian
Pengkajian adalah seni mengumpulkan data dan menganalisis data–data subyektif maupun obyektif dan mengarahkan penilaian kepada kebutuhan manusia dari klien dan hal–hal yang menghalangi pemenuhan kebutuhan tersebut yang berhubungan dengan pelayanan asuhan keperawatan gigi (Dahlan, 2008).
b. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan gigi adalah kesimpulan dari pengkajian dan fokus kepada kebutuhan–kebutuhan manusia yang dapat dipenuhi melalui pelayanan asuhan keperawatan gigi (Dahlan, 2008).
c. Perencanaan
Perencanaan adalah tindakan penentuan tipe–tipe intervensi keperawatan gigi yang dapat dilaksanakan (diimplementasikan) untuk mengatasi masalah klien dan membantu klien mencapai pemenuhan kebutuhannya yang berhubungan dengan kesehatan mulut.Perencanaan merupakan kerangka kerja untuk pembuatan keputusan dan menguji penilaian klinis dalam pelaksanaan pelayanan asuhan keperawatan gigi (Dahlan, 2008).
d. Impementasi
Implementasi adalah tindakan pelaksanaan perencanaan keperawatan gigi yang telah dirancang dengan khusus untuk memenuhi kebutuhan klien yang berhubungan dengan kesehatan mulut. Implementasi termasuk tindakan – tindakan yang dilaksanakan oleh perawat gigi, klien atau direncanakan lain dalam rangka mencapai tujuan klien, setiap tindakan ditampilkan (dilaksanakan) dan hasilnya dicatat dalam catatan klien atau medical record (Dahlan, 2008).
e. Evaluasi
Evaluasi adalah membandingkan data klien setelah selesai perawatan dengan data yang telah dikumpulkan pada waktu pengkajian awal untuk menentukan ada/tidaknya kemajuan (perubahan) klien atau tercapai tidaknya tujuan perawatan (Dahlan, 2008).
BAB 3
TINJAUAN KASUS
A. Uraian Kasus
Kasus yang disajikan bahan tulisan adalah kasus gingivitis yang terdapat pada gigi 17 16 15 11 21 26 27 35 34 33 32 31 41 42 43 44 45 46 dimana pasien merasa tidak nyaman karena sering berdarah saat menyikat gigi dan belum pernah melakukan perawatan pada gigi dan mulutnya. Secara klinis terlihat pada gigi 17 16 15 11 21 26 27 35 34 33 32 31 41 42 43 44 45 46 memang terlihat gusi lebih lunak dan berwarna merah terang dan beberapa gigi mengalami kelainan posisi dimana terlihat ada penumpukan plak dan kalkulus.
Penatalaksanaan asuhan keperawatan gigi dan mulut dapat diartikan sebagai suatu proses menggunakan pendekatan dalam pelayanan keperawatan gigi, pelaksanaannya terdapat beberapa aspek sebagai berikut:
1. Pengkajian
2. Diagnosis keperawatan 3. Perencanaan
4. Implementasi 5. Evaluasi
Aspek–aspek tersebut merupakan kesatuan yang menyeluruh dalam proses keperawatan gigi sebagai kerangka kerja untuk menyelenggarakan pelayanan asuhan keperawatan gigi dan mulut berkualitas ditujukan kepada semua klien dan masyarakat (Dahlan, 2008).
B. Pengkajian
1. Identitas Pasien
Nama : Nn. E
Tempat tanggal lahir : Bandung, 28 Juli 1995 Jenis kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Mahasiswa
Alamat : Jl. Pesantren Komplek Bukit Permata Indah Blok B3 Rt. 06/Rw. 05 Kec. Cimahi Selatan Agama : Islam
Bangsa : Indonesia Gol. Darah : O
2. Keluhan
a. Keluhan Utama :
Pada tanggal 2 April 2016 pasien Nn. E yang dilakukan studi pendahuluan kesehatan gigi dan mulut di Ciumbuleit Bandung mengeluhkan gigi bawah depan sering berdarah pada saat menyikat gigi dan pasien merasa tidak nyaman pada kondisi giginya sejak setahun yang lalu sampai dengan sekarang. Pasien ingin dirawat.
b. Keluhan Tambahan :
Selain sering berdarah pada saat menyikat gigi dan tidak nyaman dengan kondisi giginya, pasien mengeluhkan pada gigi bawahnya terasa kasar jika dirasakan oleh lidah sejak setahun lalu.
3. Pemeriksaan Awal
a. Riwayat Kesehatan Umum
Pasien merasa sehat, dalam lima tahun terakhir pasien dinyatakan tidak pernah mengalami penyakit serius oleh pihak medis, tidak pernah menjalani operasi atau menjalani rawat inap di rumah sakit, pasien menyatakan bahwa dirinya tidak memiliki kelainan pembekuan pembuluh darah, tidak mempunyai alergi terhadap obat-obatan, makan-makanan dan cuaca.
b. Riwayat Kesehatan gigi dan Mulut
Pasien tidak pernah memeriksakan kesehatan gigi dan mulutnya ke klinik gigi, dan menyatakan bahwa dalam menyikat gigi masih belum melakukan dengan cara yang benar, tepat dan cermat, menyikat gigi sehari sekali yakni pada saat mandi pagi saja. Pasien sering mengkonsumsi makanan yang manis dan lengket seperti permen dan jarang mengkonsumsi makanan yang berserat dan berair seperti sayur dan buah dengan intensitas seminggu tiga hari seperti buah pisang, apel, rambutan dan sayur seperti buncis, wortel dan kangkung, memiliki
kebiasaan minum teh setiap hari di pagi hari dan mengunyah satu sisi disebelah kiri karena gigi kanan kadang merasa linu bila terkena makanan atau minuman terlalu dingin dan manis.
4. Pemeriksaan Objektif a. Pemeriksaan Ekstra Oral
Pada pasien Nn. E dilakukan pemeriksaan ekstra oral antara lain :
1) Palpasi
Tidak ada kelainan pada saat dilakukan palpasi di daerah submandibularis terhadap kelenjar limfe baik disebelah kanan maupun sebelah kiri.
2) Muka atau Wajah
Dilihat dari bentuk wajah pasien Nn. E tidak ada kelainan dan terlihat simetris.
b. Pemeriksaan Intra Oral
Setelah melengkapi data identitas pasien Nn. E serta melakukan proses anamnesa, selanjutnya dilakukan tindakan pemeriksaan kebersihan gigi dan mulut dengan menggunakan index OHI-S dengan menggunakan alat kaca mulut dan sonde yang didahului pemberian disclosing solution pada permukaan gigi yang terlihat berwarna lebih merah yang menandakan nilai tingkat kebersihan mulutnya.
1) Penentuan gigi index
1.6 1.1 2.6
4.6 3.1 3.6
2) Index kebersihan mulut
Debris index
3 2 2 12/6=
2,00
Kriteria
2 1 2 Buruk
Kalkulus index
3 0 2 7/6=
1,17
2 0 1
Skor OHI-S : 12/6 + 7/6 = 19/6 = 3,17
Kriteria OHI-S : Buruk
c. Pemeriksaan Jaringan Keras Gigi
KME : Gigi 36, 37 KMD : Gigi 47 KMP Vital : Tidak ada
KMP Non Vital : Tidak ada KMA : Tidak ada
Tumpatan : Tidak ada Gigi hilang / dicabut karena karies : Gigi 13
d. Index Pengalaman Karies DMF-T :
D = 3
M = 1 F = 0 DMF-T = 4
e. Karang gigi / Kalkulus :
Terdapat karang gigi pada gigi rahang atas 17 16 15 26 27 dibagian bukal, rahang bawah pada gigi 34 33 32 31 41 42 43 44 45 46 dibagian lingual.
f. Pemeriksaan mukosa mulut :
Pasien tidak memiliki kelainan pada mukosa mulut lidah, pipi, bibir dan palatum, namun kelainan ditemukan pada gusi yaitu gingivitis di gigi 11 21 dibagian labial 17 16 15 26 27 di bagian bukal dan gigi 35 34 33 32 31 41 42 43 44 45 46 dibagian lingual dengan konsistensi lunak, bentuk papil membulat, bentuk margin abnormal dan terlihat berwarna merah terang.
1) Pemeriksaan indeks gingival
Gigi indeks
Area gingival yang diukur
Mesial Fasial/Labial Distal Lingual/Palatal
16 2 2 2 0
21 2 2 1 0
24 1 1 1 0
36 1 0 1 2
41 2 2 1 2
44 2 2 1 2
Total 10 9 7 6
Indeks Gingival = Total skor gingiva . Jumlah indeks gigi x jumlah permukaan diperiksa = 32/24 = 1, 33 (peradangan sedang)
g. Kelainan / Anomali gigi :
Pasien tidak memiliki kelainan pada bentuk, jumlah dan ukuran giginya, namun kelainan ditemukan pada posisi gigi pasien yaitu di Gigi 14 12 38 33 32 43 45 rotasi, gigi 31 dan 42 labioversi.
h. Pewarnaan gigi extrinsik :
Tidak terdapat pewarnaan gigi extrinsik pada gigi pasien Nn. E, semua gigi bebas dari stain yang membuat gigi terlihat perubahan warna.
C. Analisa Data
DATA MASALAH KEMUNGKINAN PENYEBAB
Gigi 17 16 15
-Awal sering terjadi perdarahan pada gusi saat menyikat gigi sejak setahun yang lalu, tidak hanya saat menstruasi tetapi saat menyikat gigi selalu mengalami perdarahan pada gusinya, awalnya menjelaskan pernah mengalami trauma saat menyikat gigi yang menyebabkan gusinya berdarah.
-Pasien Nn. E kurang menjaga
kesehatan gigi seperti menyikat gigi dalam waktu yang tidak tepat yaitu pada pagi hari dengan cara yang kurang tepat, bagian depan kanan-kiri, samping bulat-bulat, bagian kunyah maju mundur, bagian dalam dekat lidah terlewat dan plak dibiarkan menumpuk lama.
-Pasien Nn. E jarang mengkonsumsi buah dan sayuran yang berair dan berserat karena pasien mahasiswa yang tinggal di kontrakan menjadi lebih sering mengkonsumsi makanan siap saji, intensitasnya dalam seminggu tiga hari seperti buah pisang, apel dan rambutan, untuk sayuran seperti buncis, wortel dan kangkung sehingga kurangnya self cleansing.
-Pasien Nn. E belum pernah memeriksakan giginya ke klinik gigi karena kurang akan
pengetahuan dalam perawatan gigi dan mulutnya.
-Saat pemeriksaan awal pasien terlihat adanya penumpukan plak pada gigi anterior, bukal gigi belakang atas dan lingual pada gigi bawah belakang.
-Terlihat adanya karang gigi dibagian lingual gigi anterior bawah, pasien mulai mengeluhkan terasa kasar pada gigi tersebut sejak setahun lalu.
-Kondisi gigi pasien pada bagian bawah gigi anterior terlihat berjejal dan sulit membersihkan plak hanya dengan menyikat gigi saja.
Gigi 17 16 15 kesehatan gigi dan mulut, menyikat gigi dengan waktu tidak tepat pada pagi hari dengan cara yang kurang tepat pada bagian depan kanan-kiri, samping bulat-bulat, bagian kunyah maju mundur, bagian dalam dekat lidah terlewat dan plak dibiarkan melekat lama di gigi.
-Pasien jarang mengkonsumsi buah dan sayuran yang berair dan berserat karena pasien mahasiswa yang tinggal di kontrakan menjadi lebih sering mengkonsumsi makanan siap saji, intensitasnya dalam seminggu tiga hari seperti buah pisang, apel dan rambutan, untuk sayuran seperti buncis, wortel dan kangkung sehingga tidak adanya self cleansing.
-Kondisi gigi pasien pada bagian bawah gigi anterior terlihat berjejal
dan sulit dalam membersihkannya bila tidak memakai alat bantu sikat gigi, sehingga plak dibiarkan menumpuk dalam waktu lama.
-Pasien Nn. E belum pernah memeriksakan giginya ke klinik gigi karena kurang akan pengetahuan dalam perawatan gigi dan mulutnya.
Gigi 47 KMD Linu jika terkena rangsang dingin.
- KME yang tidak dirawat.
-Pasien Nn. E belum pernah memeriksakan giginya ke klinik gigi karena kurang akan pengetahuan dalam perawatan gigi sehingga tidak terkontrol adanya lubang yang masih dangkal
-Pasien Nn. E kurang menjaga kesehatan gigi dan mulutnya seperti menyikat gigi dengan waktu dan cara yang tidak tepat yang menyebabkan plak tidak terkontrol
-Pasien sering mengkonsumsi makanan yang manis dan lengket dan mengakibatkan gigi mudah berlubang.
Gigi 36 37 KME Retensi plak dan debris
-Pasien senang mengkonsumsi makanan manis dan lengket seperti permen dan coklat sejak kecil sampai dengan sekarang.
-Pasien Nn. E kurang menjaga kesehatan gigi dan mulutnya seperti menyikat gigi dalam waktu yang tidak tepat yaitu pada saat mandi pagi yang menyebabkan plak lama tidak terbersihkan saat setelah makan pada bagian kunyah.
-Pasien Nn. E belum pernah memeriksakan giginya ke klinik gigi karena kurang pengetahuan dalam perawatan gigi dan mulutnya sehingga tidak ada pencegahan terjadinya lubang gigi.
Gigi 14 12 38
-Pasien menjelaskan saat kecil takut untuk dicabut giginya sehingga membiarkan giginya lepas sendiri saat gigi tetapnya sudah tumbuh
-Ukuran rahang yang tidak sesuai dengan ukuran gigi
D. Diagnosa Keperawatan
DATA MASALAH KEMUNGKINAN PENYEBAB
Gigi 17 16 15
-Awal sering terjadi perdarahan pada gusi saat menyikat gigi sejak setahun yang lalu, tidak hanya saat pasien Nn. E menstruasi tetapi saat menyikat gigi pasien selalu mengalami perdarahan pada gusinya, awalnya pasien menjelaskan bahwa pernah mengalami trauma saat menyikat gigi yang menyebabkan gusinya berdarah.
-Pasien Nn. E kurang menjaga
kesehatan gigi dan mulutnya seperti menyikat gigi dalam waktu yang tidak tepat yaitu pada saat mandi pagi dengan cara yang kurang tepat pada bagian depan dan samping bulat-bulat, bagian kunyah maju mundur, namun bagian dalam dekat lidah sering terlewat dan plak dibiarkan menumpuk.
-Pasien Nn. E jarang mengkonsumsi buah-buahan dan sayuran yang berair dan berserat karena pasien mahasiswa yang tinggal di kontrakan menjadi lebih sering mengkonsumsi makanan siap saji, intensitasnya dalam seminggu tiga hari seperti buah pisang, apel dan rambutan, untuk sayuran seperti buncis, wortel dan kangkung sehingga kurangnya self cleansing pada mulut.
-Pasien Nn. E belum pernah
memeriksakan giginya ke klinik gigi karena kurang akan pengetahuan dalam perawatan gigi dan mulutnya.
-Saat pemeriksaan awal pasien terlihat adanya penumpukan plak pada gigi anterior, bukal gigi belakang atas dan lingual pada gigi bawah belakang.
-Terlihat adanya karang gigi dibagian lingual gigi anterior bawah, pasien mulai mengeluhkan terasa kasar pada gigi tersebut sejak setahun lalu.
-Kondisi gigi pasien pada bagian bawah gigi anterior terlihat berjejal dan sulit membersihkan plak hanya dengan menyikat gigi saja.
E. Perencanaan Perawatan sayuran berserat dan berair
lanjut dan sayuran berserat dan berair sebagai self
-Rutin berkumur dengan obat kumur antiseptik 2x sehari untuk meredakan oral fisioterapi yang
telah ditunjukan saat penyuluhan sayuran berserat dan berair sebagai self
sehat. tidak mudah terjadi gingivitis, berkumur dengan obat kumur antiseptik 1x sehari.
F. Implementasi Perawatan
Tahap implementasi adalah tahapan tindakan perawatan yang diberikan kepada pasien Nn. E, tindakan perawatan ini dilakukan untuk memberikan perawatan sesuai dengan keluhan utama yang dirasakan pasien Nn. E. Tindakan yang dilakukan terhadap Nn. E antara lain :
1. Kunjungan ke – 1
a. Pada kunjungan ke-1 tanggal 13 Mei 2016 pasien datang ke puskesmas Ciumbuleuit untuk dilakukan anamnesa oleh peneliti, pasien mengeluhkan gigi bawah depan sering berdarah pada saat menyikat gigi dan pasien merasa tidak nyaman pada kondisi giginya sejak setahun yang lalu sebelum pasien datang ke puskesmas Ciumbuleuit.
b. Peneliti melakukan pengkajian identitas pasien dan keluhan pasien, menanyakan riwayat kesehatan umum dan riwayat kesehatan gigi pasien, melakukan pemeriksaan ekstra oral dan intra oral, pemeriksaan kalkulus serta melakukan pemeriksaan mukosa mulut yaitu gusi menggunakan gingival indeks untuk mengukur kriteria peradangan pada gusi.
Gigi Area gingival yang diukur
indeks Mesial Fasial/Labial Distal Lingual/Palatal
16 2 2 2 0
21 2 2 1 0
24 1 1 1 0
36 1 0 1 2
41 2 2 1 2
44 2 2 1 2
Total 10 9 7 6
Indeks Gingival = Total skor gingiva . Jumlah indeks gigi x jumlah permukaan diperiksa = 32/24 = 1, 33 (peradangan sedang)
c. Gusi pasien Nn. E yang diperiksa yaitu 24 permukaan, terdapat 12 permukaan yang mengalami perdarahan saat probing, 8 permukaan mengalami sedikit perubahan warna tanpa perdarahan dan 4 permukaan sehat serta didapatkan skor 1,33 dengan kriteria peradangan sedang.
d. Peneliti menjelaskan informed consent perawatan klinis yaitu scalling untuk menghilangkan faktor pendukung terjadinya gingivitis kepada pasien untuk persetujuan perawatan yang akan dilakukan.
e. Setelah informed consent ditandatangani oleh pasien, peneliti melakukan tindakan scalling pada seluruh permukaan gigi yang terdapat kalkulus menggunakan alat scaler.
f. Mengobservasi cara menyikat gigi pasien Nn. E dan memberikan penyuluhan tentang oral fisioterapi kepada pasien Nn. E.
g. Peneliti mendokumentasikan keadaan gusi dan gigi sebelum dilakukan scaling dan sesudah dilakukan scaling.
h. Akibat dari perawatan tindakan scalling gigi terbebas dari kalkulus namun terlihat gusi yang turun berwarna merah terang dan terjadi sedikit perdarahan.
i. Pasien diintruksikan untuk berkumur menggunakan obat kumur antiseptik kemudian diberikan penyuluhan tentang pengertian gingivitis, penyebab gingivitis, proses terjadinya gingivitis, cara perawatan gingivitis serta tentang pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut.
2. Kunjungan ke – 2
a. Tanggal 30 Mei 2016, peneliti melakukan pendokumentasian dan mengobservasi keadaan gusi yang telah dilakukan scalling pada kunjungan pertama.
b. Mengobservasi cara menyikat gigi pasien Nn.E sudah menggunakan cara yang cermat dan tepat atau belum.
c. Peneliti melakukan pemeriksaan gusi kembali menggunakan pengukuran gingival indeks untuk melihat adanya perubahan pada gusi yang mengalami peradangan.
Gigi indeks
Area gingival yang diukur
Mesial Fasial/Labial Distal Lingual/Palatal
16 2 2 2 0
21 2 1 1 0
24 1 1 0 0
36 1 0 1 2
41 1 1 1 1
44 2 2 1 2
Total 9 7 6 5
Indeks Gingival = Total skor gingiva . Jumlah indeks gigi x jumlah permukaan diperiksa = 27/24 = 1, 12 = (peradangan sedang)
d. Kondisi gusi yang radang terjadi perubahan, dari 24 permukaan gusi yang diperiksa terdapat 8 permukaan mengalami perdarahan saat probing, 11 permukaan mengalami sedikit perubahan warna tanpa
perdarahan dan 5 permukaan sehat serta skor gingival indeks menurun dari 1,33 menjadi 1,12 dengan kriteria tetap yaitu perdarahan sedang.
e. Diberikan penyuluhan tentang perawatan gingivitis dengan rutin berkumur menggunakan obat kumur antiseptik dan oral fisioterapi.
3. Kunjungan ke – 3
a. Tanggal 14 Juni 2016, peneliti mendokumentasikan kembali dan mengobservasi keadaan gusi yang sudah dilakukan tindakan scalling dan instruksi perawatan berkumur obat kumur antiseptik 2x sehari.
b. Mengobservasi cara menyikat gigi, Pasien Nn. E menyikat gigi dengan cara yang cermat dan tepat sesuai dengan penyuluhan.
c. Peneliti melakukan pemeriksaan gusi kembali menggunakan pengukuran gingival indeks untuk melihat perubahan pada gusi yang mengalami peradangan.
Gigi indeks
Area gingival yang diukur
Mesial Fasial/Labial Distal Lingual/Palatal
16 1 2 1 0
21 1 0 0 0
24 0 0 0 0
36 1 0 1 1
41 0 0 1 0
44 1 1 1 2
Total 4 3 4 3
Indeks Gingival = Total skor gingiva . Jumlah indeks gigi x jumlah permukaan diperiksa = 14/24 = 0, 58 = (Peradangan ringan)
f. Kondisi gusi saat diperiksa kembali terlihat jelas adanya perubahan dari 24 permukaan gusi pasien Nn. E hanya terdapat 2 permukaan yang mengalami perdarahan saat probing, 10 permukaan mengalami sedikit perubahan warna tanpa perdarahan dan 12 permukaan sehat serta skor
gingival indeks menurun dari 1,12 menjadi 0,58 dengan kriteria berubah dari perdarahan sedang menjadi perdarahan ringan.
d. Pasien Nn. E diberikan penyuluhan tentang pencegahan terjadinya gingivitis kembali dengan menerapkan oral fisioterapi sesuai pada saat penyuluhan.
G. Evaluasi
Evaluasi adalah membandingkan data klien setelah selesai perawatan dengan data yang telah dikumpulkan pada waktu pengkajian awal untuk menentukan ada/tidaknya kemajuan (perubahan) klien atau tercapai tidaknya tujuan perawatan (Dahlan, 2008).
Tercapainya perawatan tergantung kemauan pasien untuk berperan aktif mengikuti instruksi dari operator. Tindakan perawatan yang diberikan kepada pasien Nn. E secara berkesinambungan yaitu scalling untuk menghilangkan faktor pendukung penyebab gingivitis, oral fisioterapi untuk menghindari tidak tepatnya menyikat gigi dan penumpukan plak serta penyuluhan tentang gingivitis dan pemeliharaan kesehatan gigi untuk meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan gigi.
Berdasarkan pemeriksaan gingival indeks yang dilakukan setiap kunjungan pasien, terjadi penurunan skor dan perubahan kriteria menjadi lebih baik yang menandakan adanya peningkatan dan tercapainya keberhasilan dalam perawatan. Pasien Nn. E merasa lebih nyaman pada kondisi gusinya yang tidak mudah berdarah lagi saat menyikat gigi dan terlihat lebih bersih serta terasa halus pada setiap permukaan giginya.
BAB 4 PEMBAHASAN
Tujuan dari penelitian yang dilakukan ini yaitu untuk memperoleh gambaran secara umum tentang penatalaksanaan asuhan keperawatan gigi dan mulut pada pasien Nn. E dengan kasus gingivitis marginalis di Ciumbuleuit Bandung dan untuk mengetahui analisa kasus dari penatalaksanaan asuhan keperawatan gigi dan mulut pada pasien Nn. E dengan kasus gingivitis marginals.
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan untuk petugas kesehatan khususnya perawat gigi, dokter gigi dan peneliti pada saat melakukan penatalaksanaan asuhan keperawatan gigi dan mulut dengan kasus gingivitis marginalis. Selain itu, diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi untuk peneliti setelah melakukan tindakan perawatan.
A. Analisa Kasus Pasien
Tanggal 2 April 2016 pasien Nn. E berusia 20 tahun dilakukan studi pendahuluan kesehatan gigi dan mulut di Ciumbuleuit Bandung. Hasil anamnesa yang diperoleh dari pasien Nn. E yaitu mengeluhkan gigi bawah depan sering berdarah pada saat menyikat gigi sejak setahun lalu selain itu mengeluhkan pada gigi bawah terasa kasar jika dirasakan oleh lidah.
Hasil wawancara yang dilakukan tentang riwayat pemeliharaan kesehatan gigi, bahwa pasien Nn. E belum pernah kontrol ke klinik gigi sejak 20 tahun sebelum ada keluhan dan setahun lalu setelah timbul keluhan, memiliki kebiasaan menyikat gigi belum melakukan dengan cara yang tepat pada bagian gigi bawah dekat lidah tidak pernah terbersihkan, menyikat gigi
sehari sekali pada saat pagi hari. Pasien sering mengkonsumsi makanan manis dan lengket seperti permen setiap hari namun jarang mengkonsumsi makanan
sehari sekali pada saat pagi hari. Pasien sering mengkonsumsi makanan manis dan lengket seperti permen setiap hari namun jarang mengkonsumsi makanan