BAB II LANDASAN TEORI
B. Jaminan Fidusia
3. Proses terjadinya Jaminan fidusia
Menurut undang-undang nomor 42 tahun 1999, Jaminan fidusia terjadi melalui 2 tahapan :
a. Tahapan Pembebanan Jaminan Fidusia
Jaminan fidusia merupakan perjanjian ikutan dari suatu perjanjian pokok yang menimbulkan kewajiban bagi para pihak untuk memenuhi suatu prestasi. Pembebanan benda dengan jaminan fidusia dibuat dengan akta notaris dalam bahasa Indonesia dan merupakan akta jaminan fidusia. Terhadap pembuatan akta jaminan fidusia dikenakan biaya. Akta jaminan fidusia kurangnya memuat :
1) Identitas pihak Pemberi dan Penerima fidusia 2) Data perjanjian pokok yang dijamin fidusia
3) Uraian mengenai Benda yang menjadi obyek JaminanFidusia 4) Nilai penjaminan
5) Nilai Benda yang menjadi obyek Jaminan Fidusia.
58
Junaidi Abdullah, “Jaminan Fidusia., 118
59
Ibid.
60
b. Tahapan Pendaftaran Jaminan Fidusia
Benda yang dibebani dengan jaminan fidusia wajib didaftarkan. Walaupun bend a yang dijaminkan fidusia berada di luar wilayah republik Indonesia. Pendaftaran jaminan fidusia dilakukan pada Kantor pendaftaran fidusia. Permohonan pendaftaran jaminan fidusia dilakukan oleh penerima fidusia, kuasa atau wakilnya dengan melampirkan pernyataan pendaftaran jaminan fidusia. Pernyataan pendaftaran memuat :
1) Identitas pihak Pemberi dan Penerima Fidusia
2) Tanggal,nomor akta jaminan Fidusia, nama, tempat kedudukan notaris yang membuat akta Jaminan Fidusia
3) Data perjanjian pokok yang dijamin fidusia
4) Uraian mengenai Benda yang menjadi obyek Jaminan Fidusia 5) Nilai penjaminan
6) Nilai benda yang menjadi obyek Jaminan Fidusia. 4. Sengketa Jaminan Fidusia dalam Undang-Undang
Apabila dalam suatu perjanjian debitur tidak melaksanakan apa yang telah diperjanjikan karena kesalahannya maka dapat dikatakan debitur tersebut telah melakukan wanprestasi. Kesalahan itu dapat berupa sengaja dan tidak berprestasi, telah lalai atau ingkar janji atau bahkan melanggar perjanjian dengan melakukan sesuatu hal yang dilarang atau tidak boleh dilakukan. Hal ini berakibat hukum yaitu pihak yang
dirugikan dapat menuntut pelaksanaan dari prestasi atau konsekuensi lain yang diatur dalam perjanjian (ganti kerugian).
Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (KHES) Bagian Kedua Kategori Hukum Akad Pasal 26 berbunyi Akad tidak sah apabila bertentangan dengan: a. syariat islam; b. peraturan perundang-undangan; c. ketertiban umum; dan/atau d. Kesusilaan.61 Sedangkan Bagian Ketujuh tentang Akibat Akad pasal Pasal 47 menyatakan bahwa suatu akad dapat dibatalkan oleh pihak yang berpiutang jika pihak yang berutang terbukti melakukan perbuatan yang merugikan pihak yang berpiutang.62
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia Eksekusi Jaminan Fidusia Pasal 29 (1) Apabila debitor atau Pemberi Fidusia cidera janji, eksekusi terhadap Benda yang menjadi objek Jaminan Fidusia dapat dilakukan dengan cara: a. pelaksanaan titel eksekutorial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (2) oleh Penerima Fidusia; b. penjualan benda yang menjadi objek Jaminan Fidusia atas kekuasaan Penerima Fidusia sendiri melalui pelelangan umum serta mengambil pelunasan piutangnya dari hasil penjualan; c. penjualan di bawah tangan yang dilakukan berdasarkan kesepakatan Pemberi dan Penerima Fidusia jika dengan cara demikian dapat diperoleh harga tertinggi yang menguntungkan para pihak. (2) Pelaksanaan penjualan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf c dilakukan setelah lewat waktu 1 (satu) bulan sejak diberitahukan secara
61
PPHIMM, Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah, (Jakarta: Kencana, 2009), h. 23
62
tertulis oleh Pemberi dan Penerima Fidusia kepada pihak-pibak yang berkepentingan dan diumumkan sedikitnya dalam 2 (dua) surat kabar yang beredar di daerah yang bersangkutan.63
Pasal 30 Pemberi Fidusia wajib menyerahkan Benda yang menjadi objek Jaminan Fidusia dalam rangka pelaksanaan eksekusi Jaminan Fidusia. Pasal 31 Dalam hal Benda yang menjadi objek Jamiman Fidusia terdiri atas benda perdagangan atau efek yang dapat dijual di pasar atau di bursa, penjualannya dapat dilakukan di tempat-tempat tersebut sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 32 Setiap janji untuk melaksanakan eksekusi terhadap Benda yang menjadi objek Jaminan Fidusia dengan cara yang bertentangan dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 dan Pasal 31, batal demi hukum.64
Pasal 33 Setiap janji yang memberi kewenangan kepada Penerima Fidusia untuk memiliki Benda yang menjadi objek Jaminan Fidusia apabila debitor cidera janji, batal demi hukum. Pasal 34 (1) Dalam hal hasil eksekusi melebihi nilai penjaminan, Penerima Fidusia wajib mengembalikan kelebihan tersebut kepada Pemberi Fidusia. (2) Apabila hasil eksekusi tidak mencukupi untuk pelunasan utang debitor tetap bertanggung jawab atas utang yang belum terbayar.65
63
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 1999
Tentang Jaminan Fidusia
64
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 1999
Tentang Jaminan Fidusia
65
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 1999
Hukum perdata Indonesia memberikan ruang bagi penyelesaian sengketa nonpidana melalui lembaga non-peradilan. Hal ini terjadi karena penyelesaian konflik melalui peradilan selalu sangat formal, berbiaya mahal, dan memakan waktu cukup lama. Hal ini dapat mendatangkan putus asa kepada para pihak yang menginginkan penyelesaian sengketa secara cepat. Berdasarkan latar belakang tersebut, hukum perdata membuka peluang bagi penyelesaian sengketa melalui lembaga nonperadilan.
Somasi minimal telah dilakukan sebanyak tiga kali oleh kreditur atau juru sita. Apabila somasi itu tidak diindahkannya, maka kreditur berhak membawa persoalan itu ke pengadilan. Dan pengadilanlah yang akan memutuskan, apakah debitur wanprestasi atau tidak. Somasi adalah
teguran dari si berpiutang (kreditur) kepada si berutang (debitur) agar dapat memenuhi prestasi sesuai dengan isi perjanjian yang telah disepakati antara keduanya. Somasi ini diatur di dalam Pasal 1238
KUHPerdata dan Pasal 1243 KUHPerdata.
Pasal 1238 menyatakan bahwa debitur dinyatakan Ialai dengan surat perintah, atau dengan akta sejenis itu, atau berdasarkan kekuatan dari perikatan sendiri, yaitu bila perikatan ini mengakibatkan debitur harus dianggap Ialai dengan lewatnya waktu yang ditentukan. 66 Sedangkan pasal 1243 berbunyi penggantian biaya, kerugian dan bunga karena tak dipenuhinya suatu perikatan mulai diwajibkan, bila debitur,
66
walaupun telah dinyatakan Ialai, tetap Ialai untuk memenuhi perikatan itu, atau jika sesuatu yang harus diberikan atau dilakukannya hanya dapat diberikan atau dilakukannya dalam waktu yang melampaui waktu yang telah ditentukan.67
Disamping debitur harus menanggung hal tesebut diatas, maka yang dapat dilakukan oleh kreditur dalam menghadapi debitur yang
wanprestasi ada pada Pasal 1276 KUHPerdata yang berbunyi jika dalam
hal-hal yang disebutkan dalam pasal lalu pilihan diserahkan kepada kreditur dan hanya salah satu barang saja yang hilang, maka jika hal itu terjadi di luar kesalahan debitur, kreditur harus memperoleh barang yang masih ada; jika hilangnya salah satu barang tadi terjadi karena salahnya debitur, maka kreditur dapat menuntut penyerahan barang yang masih ada atau harga barang yang telah hilang. Jika kedua barang lenyap, maka bila hilangnya barang itu, salah satu saja pun, terjadi karena kesalahan debitur, kreditur boleh menuntut pembayaran harga salah satu barang itu rnenurut pilihannya.68
Pada prinsipnya para pihak yang bersengketa sepakat tentang cara dan lembaga yang digunakan menyelesaikan sengketanya. Prinsip itu secara tegas diatur dalam pasal 1338 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang menyatakan “Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai Undang-Undang bagi mereka yang membuatnya”. Sementara itu, pasal 6 ayat (1) Undang-Undang No. 30 Tahun 1999
67
KUHPerdata Pasal 1243
68
tentang Arbitrase dan Alternatif Pilihan Penyelesaian Sengketa menyatakan: “Sengketa atau beda pendapat perdata dapat diselesaikan oleh para pihak melalui alternatif penyelesaian sengketa yang didasarkan pada itikad baik dengan mengesampingkan penyelesaian secara litigasi di Pengadilan Negeri”.69
ADR merupakan alternatif penyelesaian sengketa yang dilakukan diluar pengadilan (ordinary court) melalui proses negosiasi, mediasi, dan arbitrasi. Negosiasi dan mediasi merupakan bagian dari proses penyelesaian sengketa secara kompromi (kooperatif antar pihak) dengan tujuan pemecahan masalah bersama. Dalam arbitrase, proses penyelesaian sengketa disebut “metode kompromi negosiasi bersaing” dan terdapat pihak ketiga yang putusannya bersifat final. Dalam hal ini negosiasi dan berunding antara Kreditur dan Debitur merupakan salah satu arena (ruang) yang tersedia berada di luar pengadilan.
Hal ini sesuai dengan ketentuan Pasal 27 ayat (1) Undang- Undang Jaminan Fidusia yang menyatakan : “Penerima Fidusia memiliki hak yang didahulukan terhadap kreditur lainnya”. Apabila terdapat lebih dari satu kreditur dan hasil penjualan harta benda debitur tidak cukup untuk menutupi utang-utangnya kepada kreditur, maka yang harus didahulukan adalah kreditur yang preferent, yaitu kreditur yang harus didahulukan dalam pembayarannya diantara kreditur lainnya jika debitur
69
Undang-Undang No. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Pilihan Penyelesaian Sengketa pasal 6 ayat 1
melakukan wanprestasi. Selain itu, pendaftaran Jaminan Fidusia menentukan pula kelahiran hak preferen kreditur (Penerima Fidusia).
Ini dikarenakan Jaminan Fidusia memberikan hak kepada Pemberi Fidusia untuk tetap menguasai benda yang menjadi objek Jaminan Fidusia berdasarkan kepercayaan, diharapkan system pendaftaran Jaminan Fidusia ini dapat memberikan jaminan kepada pihak Penerima Fidusia dan pihak yang mempunyai kepentingan terhadap benda yang menjadi objek Jaminan Fidusia tersebut.
Pada perbankan syariah, penyelesaian sengketa akibat ingkar janji lebih mengedepankan langkah negosiasi dan mediasi. Hal ini pada implementasinya dilakukan dengan cara somasi, rescedul, dan sebagainya. Istilah negosiasi berasal bahasa Inggris “negotiation”, dalam pengertian secara umum negosiasi adalah proses tawar-menawar dengan cara berunding untuk mencapai kesepakatan kedua belah pihak. Negosiasi adalah sebuah proses yang didalamnya dua pihak atau lebih bertukar barang dan jasa dan berupaya menyepakati tingkat kerjasama tersebut bagi mereka.
Mediasi adalah cara penyelesaian sengketa melalui proses perundingan untuk memperoleh kesepakatan para pihak dengan dibantu oleh mediator. Mediasi berasal dari bahasa Inggris yang berarti menyelesaikan sengketa dengan menengahi. Mediasi merupakan proses negosiasi pemecahan masalah, dimana pihak luar yang tidak memihak (impartial) bekerjasama dengan pihak yang bersengketa untuk mencari kesepakatan bersama. Mediator tidak berwenang untuk memutus sengketa, tetapi hanya membantu para
pihak untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang dikuasakan kepadanya.70
Sebagaimana pengertian di atas dapat diketahui bahwa yang dimaksud dengan mediasi adalah upaya menyelesaikan sengketa para pihak dengan kesepakatan bersama melalui mediator yang bersikap netral dan tidak membuat keputusan atau kesimpulan bagi para pihak tetapi menunjang fasilitator untuk terlaksananya dialog antar pihak dengan suasana keterbukaan, kejujuran, dan tukar pendapat untuk mencapai mufakat.
Istilah pernyataan lalai atau somasi merupakan terjemahan dari
ingebrekestelling. Somasi diatur dalam Pasal 1238 KUH Perdata dan
Pasal 1243 KUH Perdata. Somasi adalah teguran dari si berpiutang (kreditur) kepada si berutang (debitur) agar dapat memenuhi prestasi sesuai dengan isi perjanjian yang telah disepakati antara keduanya. Somasi timbul disebabkan debitur tidak memenuhi prestasinya sesuai dengan yang diperjanjikan.71 Ada tiga cara terjadinya somasi itu, yaitu:
a. Debitur melaksanakan prestasi yang keliru, misalnya kreditur menerima sekeranjang jambu seharusnya sekeranjang apel;
b. Debitur tidak memenuhi prestasi pada hari yang telah dijanjikan. Tidak memenuhi prestasi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu kelambatan melaksanakan prestasi dan sama sekali tidak memberikan prestasi. Penyebab tidak melaksanakan prestasi sama
70
Khotibul Umam, Penyelesaian Sengketa diluar Pengadilan, (Yogyakarta: Penerbit Pustaka Yustisia, 2010), h. 10
71
Soedharyo Soimin, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, (Jakarta: Sinar Grafika, 2016), h.314
sekali karena prestasi tidak mungkin dilaksanakan atau karena debitur terang-terangan menolak memberikan prestasi.
c. Prestasi yang dilaksanakan oleh debitur tidak lagi berguna bagi kreditur setelah lewat waktu yang diperjanjikan.
Rescheduling merupakan upaya penyelamatan kredit dengan
melakukan perubahan syarat-syarat perjanjian kredit yang berkenaan dengan jadwal pembayaran kembali kredit atau jangka waktu, termasuk grace period baik termasuk besarnya jumlah angsuran atau tidak. Rescheduling yaitu perubahan jadwal pembayaran kewajiban nasabah atau jangka waktunya serta perubahan jumlah angsuran.72
Maksudnya, perubahan jadwal pembayaran kewajiban debitur atau jangka waktu. Konkretnya, bank akan menawarkan penjadwalkan utang di mana tenor kredit bisa diperpanjang sehingga beban angsuran berkurang. Atau bisa juga jumlah angsuran disesuaikan dengan kemampuan bayar nasabah.
Reconditioning adalah upaya penyelesaian pembiayaan
bermasalah dengan mengubah sebagian atau seluruh persyaratan pembiayaan, seperti jadwal pembayaran, jumlah angsuran, jangka waktu pembiayaan, dan juga diberikan potongan selama tidak menambah sisa kewajiban nasabah yang harus dibayarkan kepada bank.73
Sebagaimana penjelasan tersebut, reconditioning merupakan upaya penyelamatan kredit dengan cara melakukan perubahan atas sebagian atau seluruh syarat perjanjian kredit yang tidak terbatas hanya kepada perubahan jadwal angsuran atau jangka waktu kredit saja, namun perubahan tersebut tanpa memberikan tambahan kredit atau tanpa
72
Hermansyah, Hukum Perbankan Nasional Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2005), h. 71. 73
Faturrahman Djamil, Penyelesaian Pembiayaan Bermasalah di Bank Syariah, (Jakarta:Sinar Grafika, 2012), h. 83.
melakukan konversi atas seluruh atau sebagian dari kredit menjadi equity perusahaan.
Restructuring yaitu mengubah seluruh persyratan pembiayaan berupa penambahan dana fasilitas pembiayaan, pelaksanaan konversi akad pembiayaan, konversi pembiayaan menjadi surat berharga syariah berjangka waktu menengah, konversi pembiayaan menjadi penyertaan modal sementara pada perusahaan nasabah yang dapat dilakukan bersamaan dengan rescheduling atau
reconditioning.74
Sebagaimana penjelasan tersebut, restructuring merupakan upaya penyelamatan dengan melakukan perubahan syarat-syarat perjanjian kredit atau melakukan konversi atas seluruh atau sebagian dari kredit menjadi equity perusahaan dan equity bank yang dilakukan dengan atau tanpa rescheduling dan atau reconditioning.
Restrukturisasi pembiayaan penerapannya dapat dilakukan secara bersamaan atau kombinasi, seperti pelaksanaan rescheduling dan
reconditioning, pelaksanaan rescheduling dan restructuring, atau rescheduling, reconditioning, dan restructuring secara bersamaan.Bank dapat memberikan keringanan jumlah angsuran disertai dengan kelonggaran jadwal pembayarannya sesuai dengan kebijakan yang diambil dan adanya kesepakatan bersama nasabah. Kriteria nasabah yang pembiayaannya dapat direstrukturisasi adalah sebagai berikut:
a. Nasabah mengalami penurunan kemampuan atau kesulitan dalam pembayaran.
b. Nasabah memiliki itikad baik untuk membayar.
74
c. Nasabah memiliki prospek usaha yang baik dan mampu memenuhi kewajibannya setelah dilakukan restrukturisasi pembiayaan.
Namun demikian, dalam hal penyelamatan pembiayaan bermasalah bank tidak diperbolehkan melakukan restrukturisasi dengan tujuan untuk:
a. Menghindari penurunan penggolongan kualitas pembiayaan. b. Menghindari adanya peningkatan PPAP.
c. Menghindari penghentian pengakuan pendapatan secara akrual. Pelaksanaan restrukturisasi pembiayaan memiliki beberapa ketentuan, diantaranya sebagai berikut:
a. Nasabah membuat permohonan apabila pembiayaannya akan direstrukturisasi.
b. Apabila perpanjangan atas pembiayaan memenuhi kualitas lancar dan telah jatuh tempo serta tidak disebabkan oleh penurunan kemampuan membayar nasabah maka tidak termasuk dalam restrukturisasi pembiayaan.
c. Kualitas pembiayaan yang dapat direstrukturisasi terdapat pada kualitas Kurang Lancar, Diragukan, dan Macet.
d. Pelaksanaan restrukturisasi harus memuat analisis dan dokumentasi yang baik.
e. Restrukturisasi dapat dilakukan paling banyak 3 (tiga) kali selama jangka waktu pembiayaan.
f. Untuk restrukturisasi selanjutnya dapat dilakukan 6 (bulan) setelah restrukturisasi pembiayaan sebelumnya berakhir.
Tata cara restrukturisasi pembiayaan (rescheduling,
reconditioning, dan restructuring) adalah sebagai berikut:
a. Penjadwalan kembali (rescheduling).
Rescheduling dilakukan dengan memperpanjang jangka waktu jatuh
tempo pembiayaan tanpa mengubah sisa kewajiban nasabah yang harus dibayarkan kepada bank. Jumlah pembayaran angsuran nasabah menjadi lebih ringan karena jumlahnya diperkecil dari angsuran sebelumnya.75
b. Persyaratan kembali (reconditioning).
Reconditioning dilakukan dengan menetapkan kembali syarat-syarat
pembiayaan, diantaranya adalah perubahan jadwal pembayaran, perubahan jumlah angsuran, jangka waktu atau pemberian potongan sepanjang tidak menambah sisa kewajiban mnasabah.76
c. Penataan kembali (restructuring).
Restructuring dilakukan dengan konversi akad murabahah sebesar
sisa kewajiban nasabah menjadi ijarah muntahiyyah bittamlik,
mudharabah, atau musharakah.77 Konversi akad yang dimaksud dilakukan sebagai berikut:
75
Wangsawidjaja, Pembiayaan Bank Syariah, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2012), h. 455
76
Ibid
77
1) Akad pembiayaan murabahah dihentikan oleh bank dengan memperhitungkan nilai wajar objek murabahah. Apabila nilai wajar lebih kecil daripada jumlah kewajiban nasabah, maka sisa kewajiban nasabah tetap menjadi hak bank dan penyelesaiannya berdasarkan kesepakatan dengan nasabah, sebaliknya apabila nilai wajar lebih besar daripada jumlah kewajiban nasabah, maka selisih nilai tersebut diakui sebagai uang muka ijarah
muntahiya bittamlik atau menambah porsi modal nasabah untuk musyarakah atau mengurangi modal mudharabah dari bank.
2) Akad pembiayaan baru dibuat dengan mempertimbangkan kondisi nasabah dan mencantumkan kronologi akad pembiayaan sebelumnya dalam akad pembiayaan baru dengan mengikuti ketentuan yang diatur dalam ketentuan Bank Indonesia mengenai pelaksanaan prinsip syariah.
d. Restructuring dengan melakukan konversi menjadi surat berharga syariah berjangka waktu menengah.
Pelaksanaan restrukturisasi pembiayaan dengan konversi surat berharga syariah berjangka waktu menengah dalam dilakukan sebagai berikut:
1) Akad pembiayaan murabahah dihentikan oleh bank.
2) Akad mudharabah atau musyarakah dibuat antara bank dengan nasabah atas surat berharga syariah berjangka waktu menengah
yang diterbitkan oleh nasabah berdasarkan proyek yang dibiayai.
3) Bank harus memiliki surat berharga syariah berjangka waktu menengah yang besarnya setara dengan kewajiban nasabah. e. Restructuring dengan melakukan konversi menjadi penyertaan
modal sementara.
Penyertaan modal sementara dalam pelaksanaan restrukturisasi pembiayaan dilakukan sebagai berikut:
1) Konversi ini dilakukan pada nasabah yang merupakan badan usaha berbentuk hukum Perseroan Terbatas.
2) Akad pembiayaan murabahah dihentikan oleh bank, lalu bank membuat akad musyarakah dengan nasabah untuk penyertaan modal sementara sesuai kesepakatan nasabah atas usaha yang dilakukan.
3) Penyertaan modal sementara yang diberlakukan paling tinggi sebesar sisa kewajiban nasabah. Sisa kewajiban nasabah merupakan jumlah dari pokok dan margin yang belum dibayar oleh nasabah pada saat dilakukan restrukturisasi.
f. Konversi Akad Murabahah
Bank dapat melakukan konversi akad murabahah bagi nasabah yang tidak dapat menyelesaikan atau melunasi pembiayaan murabahah sesuai jumlah dan waktu yang telah disepakati, tetapi ia masih prospektif, dengan ketentuan sebagai berikut:
1) Akad murabahah dapat digantikan dengan cara objek
murabahah dijual oleh nasabah kepada bank dengan harga pasar
lalu nasabah melunasi sisa pembayaran dari hasil penjualan tersebut.
2) Apabila hasil penjualan melebihi sisa pembayaran maka kelebihan itu dapat dijadikan uang muka untuk akad ijarah
muntahiya bittamlik atau bagian modal dari mudharabah dan musyarakah. Namun, apabila hasil penjualan lebih kecil
daripada sisa pembayaran maka sisa pembayaran tersebut tetap menjadi kewajiban nasabah yang cara pelunasannya telah disepakati kedua belah pihak. Setelah itu, dibuatlah akad baru yaitu IMBT atas barang tersebut, mudharabah atau
musyarakah.78
Kualitas penggolongan pembiayaan setelah dilakukan restrukturisasi sebagai upaya penyelamatan pembiayaan bermasalah adalah sebagai berikut:
a. Apabila sebelum pelaksanaan restrukturisasi pembiayaan tergolong diragukan atau macet maka setelah direstrukturisasi pembiayaan akan menjadi golongan kurang lancar. Apabila tergolong kurang lancar maka setelah direstrukturisasi kualitas pembiayaan tetap. b. Kualitas pembiayaan dapat menjadi lancar apabila nasabah tidak
mengalami tunggakan pembayaran selama 3 (tiga) kali periode pembayaran secara berturut-turut sesuai perjanjian dalam restrukturisasi dan apabila nasabah tidak memenuhi persyaratan maka kualitas pembiayaan menjadi sama dengan sebelum direstrukturisasi.
c. Kualitas pembiayaan lancar dapat dilakukan dalam waktu 3 (tiga) bulan setelah dilakukan restrukturisasi pembiayaan.
78
Trisandini P. Usanti dan Abd. Shomad, Transaksi Bank Syariah, (Jakarta: Bumi Aksara, 2015), h. 111
d. Kualitas pembiayaan tetap dikatakan macet apabila pembiayaan direstrukturisasi lebih dari 3 (tiga) kali.
e. Setelah 1 (satu) tahun sejak adanya penetapan kualitas pembiayaan setelah direstrukturisasi maka penilaian kembali dilakukan dengan memperhatikan prospek usaha nasabah dan kemampuan membayar kewajiban nasabah.
Penghapusan utang adalah tindakan yang menghapus separuh atau seluruh utang individu, perusahaan, atau negara. Penghapusan utang juga mengacu pada tindakan yang menurunkan laju atau menghentikan pertumbuhan utang.
Arbitrase syariah hanya dapat diterapkan untuk masalah-masalah sengketa ekonomi syariah. Bagi kalangan pengusaha, arbitrase merupakan pilihan hukum (law choise) yang paling menarik guna menyelesaikan sengketa sesuai dengan keinginan dan kebutuhan. Dalam banyak perjanjian perdata syariah di Indonesia, klausula arbitrase banyak digunakan sebagai pilihan penyelesaian sengketa. Pendapat hukum yang diberikan lembaga arbitrase syariah bersifat mengikat (binding) oleh karena pendapat yang diberikan tersebut akan menjadi
Bagian yang tidak terpisahkan dari perjanjian pokok (yang dimintakan pendapatnya pada lembaga arbitrase tersebut). Setiap pendapat yang berlawanan terhadap pendapat hukum yang diberikan tersebut berarti pelanggaran terhadap perjanjian (breach of contract
bentuk upaya hukum apapun. Keputusan arbitrase bersifat mandiri, final dan mengikat seperti putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap sehingga ketua pengadilan tidak diperkenankan memeriksa alasan atau pertimbangan hukum dari putusan Badan Arbitrase Syariah Nasional tersebut.
Litigasi merupakan proses penyelesaian sengketa di pengadilan, dimana semua pihak yang bersengketa saling berhadapan satu sama lain untuk mempertahankan hak-haknya di muka pengadilan. Hasil akhir dari suatu penyelesaian sengketa melalui litigasi adalah putusan yang menyatakan win-lose solution. Prosedur dalam jalur litigasi ini sifatnya lebih formal dan teknis, menghasilkan kesepakatan yang bersifat menang kalah, cenderung menimbulkan masalah baru, lambat dalam penyelesaiannya, membutuhkan biaya yang mahal, tidak responsif dan menimbulkan permusuhan diantara para pihak yang bersengketa. Kondisi ini menyebabkan masyarakat mencari alternatif lain yaitu penyelesaian sengketa di luar proses peradilan formal. Penyelesaian sengketa di luar proses peradilan formal ini lah yang disebut dengan Alternative Dispute
Resolution atau ADR.
Ketentuan tentang jenis eksekusi obyek hak tanggungan secara menyeluruh diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-Benda Yang Berkaitan dengan Tanah Pasal 20 UUHT Tahun 1996, yaitu:
a. Eksekusi Langsung (parate eksekusi)-vide pasal 6 UUHT jo Pasal 20 ayat (1) UUHT. BMI mempunyai hak untuk menjual obyek hak tanggungan dengan kekuasaan sendiri melalui pelelangan umum serta mengambil pelunasan piutangnya dari hasil penjualan tersebut. Dilakukan dengan bekerjasama pada Balai Lelang Swasta