• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

C. Prosesi Ritual Labuhan di Gunung Merapi

Labuhan berasal dari kata “labuh” yang bermakna melarung (Syah, R. 2006. Labuhan Alit. Diunduh 15 Juli, 2008,

dari

Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008), labuhan berarti upacara tradisional kraton yang dilaksanakan di tepi laut di sebelah Selatan Yogyakarta, merupakan wujud syukur atas kelangsungan kerajaan Mataram, juga untuk mendoakan keselamatan pribadi Sri Sultan, Kraton Yogyakarta dan rakyat Yogyakarta. Ada dua jenis labuhan, yaitu Labuhan Ageng dan Labuhan

Alit. Labuhan Ageng dilaksanakan delapan tahun sekali berdasarkan tahun Dal, tempat-tempat yang di gunakan untuk upacara Labuhan Ageng ini adalah Pantai Parang Kusumo, Gunung Merapi, Gunung Lawu dan Dlepih Kahyangan. Sedangkan Labuhan Alit dilaksanakan setiap tahun yaitu pada tanggal 30 bulan Rajab penanggalan Jawa dan tidak menyertakan satu tempat yaitu Dlepih Kahyangan. Kedua labuhan tersebut merupakan rangkaian upacara untuk memperingati Tingalan Jumenengan Dalem Nata atau penobatan Sri Sultan (Semarak Upacara Adat Labuhan Merapi. Diunduh 24 Agustus, 2009, dari http://www.tourismsleman.com/index.php?option=com_content&taks=view&id =119&Itemid=43&lang=id_ID). Prosesi ritual labuhan di Gunung Merapi berlangsung di Pos II pendakian Gunung Merapi atau sering disebut Pendapa Labuhan Gunung Merapi. Sedangkan prosesi ritualnya sendiri dipimpin

langsung oleh seorang abdi dalem Kraton Yogyakarta sebagai juru kunci Gunung Merapi yang pada masa ini dipegang oleh R.Ng. Surakso Hargo atau lebih dikenal dengan sebutan mBah Maridjan (Mbah Marijan Pimpin Labuhan Jumenengan HB X. Diunduh 24 Agustus, 2009, dari

http://www.indosiar.com/news/sapa/63777/mbah-marijan-pimpin-labuhan-jumenengan-hb-x).

2. Rangkaian dan Lokasi Labuhan

Upacara labuhan di Gunung Merapi ini diawali dengan serah terima ubo rampe labuhan dari utusan Kraton Yogyakarta kepada pejabat Kabupaten Sleman di Kecamatan Cangkringan. Selanjutnya, abdi dalem yang bertugas untuk melaksanakan labuhan ini memeriksa kelengkapan dari semua ubo rampe

yang diterima. Sebelum diserahkan kepada juru kuci Gunung Merapi, ubo rampe labuhan akan dikirabkan. Setelah tiba di kediaman juru kunci di Dusun Kinahrejo, Desa Cangkringan, Kecamatan Umbulharjo, Sleman, ubo rampe

kemudian akan disemayamkan selama satu malam di pendapa rumah. Pada sore harinya akan digelar beberapa atraksi seni serta kenduri atau selamatan sebagai wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pertunjukan wayang kulit akan digelar semalam suntuk sebagai pengiring tirakat para abdi dalem maupun masyarakat yang ikut menyemarakkan labuhan (Semarak Upacara Adat Labuhan Merapi. Diunduh 24 Agustus, 2009, dari

23

http://www.tourismsleman.com/index.php?option=com_content&taks=view&id =119&Itemid=43&lang=id_ID).

Menjelang pagi hari, pada pukul 06.00 WIB prosesi labuhan akan berangkat dari halaman rumah juru kunci Gunung Merapi menuju Pos II pendakian atau sering disebut Pendapa Labuhan. Sebelum tiba di Pendapa Labuhan, arak-arakan akan berhenti di Pos I atau sering disebut Srimanganti yang dipercaya sebagai pintu gerbang Gunung Merapi. Di Srimanganti ini terdapat dua buah batu besar yang dinamakan Sela Dampit. Pemberhentian pertama arak-arakan labuhan di Srimanganti ini bertujuan untuk berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar upacara labuhan dapat berjalan lancar serta menyampaikan permisi (Jawa: kulonuwun) dan maksud kedatangan arak-arakkan kepada “penunggu” atau leluhur yang tinggal di Gunung Merapi (Pujo Miyono, wawancara, 9 April 2010).

Setelah acara di Srimanganti selesai, arak-arakan meneruskan perjalanan menuju Pendapa Labuhan. Tempat ini berupa pendapa yang diapit dua buah

cungkup atau pendopo kecil di sisi kiri dan kanannya. Setelah para abdi dalem

menempatkan posisi masing-masing sesuai dengan tugasnya, upacara inti labuhan segera dimulai. Kelengkapan ubo rampe labuhan akan diperiksa lagi secara teliti sebelum pemanjatan doa. Setelah siap maka dimulailah pemanjatan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai rasa syukur dan permohonan keselamatan bagi Sri Sultan, keluarga Sri Sultan, Kraton Yogyakarta dan masyarakat Yogyakarta. Selain doa yang telah disampaikan kepada Tuhan

Yang Maha Esa, disampaikan pula penghormatan kepada leluhur yang mendiami Gunung Merapi dengan membakar dupa, pemberian bunga dan sesaji serta penyerahan ubo rampe (Pujo Miyono, wawancara, 9 April 2010).

Setelah pemanjatan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan penghormatan kepada leluhur yang mendiami Gunung Merapi selesai, beberapa

abdi dalem segera membagikan sesaji kepada masyarakat yang ikut dalam upacara labuhan ini. Sesaji yang dibagikan meliputi bunga dan makanan yang telah dibungkus dengan plastik sebelumnya. Sedangkan ubo rampe yang telah diserahkan kepada leluhur yang mendiami Gunung Merapi tersebut akan dibawa turun kembali untuk diserahkan kepada masyarakat yang sudah memesan sebelumnya. Setelah pembagian sesaji selesai, maka selesai pula acara inti labuhan di Gunung Merapi ini (Pujo Miyono, wawancara, 9 April 2010).

3. Tugas Abdi Dalem Pada Upacara Labuhan

Tugas yang dijalankan oleh para abdi dalem pada upacara labuhan di Gunung Merapi bukan hanya pada waktu upacara inti di Pendapa Labuhan saja. Menurut Pujo Miyono (wawancara, 9 April 2010), tugas dibagi menjadi tiga bagian, yaitu sebelum upacara labuhan, inti upacara labuhan dan setelah upacara labuhan. Tugas yang harus dijalankan sebelum upacara labuhan ini dimulai kurang lebih dua bulan sebelum waktu upacara dilaksanakan. Dalam waktu dua bulan ini pada setiap hari minggu atau hari yang sudah disepakati, mereka melaksanakan tugas ini. Tugasnya yaitu mempersiapkan rute perjalanan

25

yang akan dilalui arak-arakkan upacara labuhan (Jawa: dandan dalan). Rute arak-arakkan labuhan yang dipersiapkan dimulai dari halaman rumah juru kunci Gunung Merapi yang pada masa ini dipegang oleh R.Ng.Surakso Hargo menuju Pos I atau sering disebut Srimanganti dan selanjutnya sampai ke Pos II atau Pendapa Labuhan. Persiapan yang dilakukan meliputi membersihkan jalan dari ranting-ranting dan dahan-dahan pohon yang mengganggu jalan yang akan dilalui serta memperbaiki jalan setapak yang rusak. Kawasan Srimanganti dan Pendapa Labuhan juga dibersihkan dari berbagai kotoran yang ada.

Tugas yang kedua adalah pelaksanaan inti prosesi ritual labuhan. Mulai dari serah terima ubo rampe labuhan sampai pelaksanan prosesi ritual labuhan di Pendapa Labuhan. Pada waktu ubo rampe disemayamkan di pendapa rumah juru kunci selama satu hari satu malam, berbagai sesaji dibuat serta diadakan

kenduri atau selamatan sebagai pengungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sesaji yang dibuat jumlah dan macamnya cukup banyak meliputi

sekul suci ulam sari, golong, tumpeng wajak, jenang abang-putih, blowok piringan, dan sesaji yang akan dibawa ke atas yang kemudian dibagikan kepada masyarakat yang ikut adalah sekul pethak panggang urap. Setiap abdi dalem

sudah mempunyai tugas masing-masing dalam membuat dan menyiapkan sesaji. Ada salah satu sesaji yang dibuat dengan harus melakukan ritual tertentu, seperti mandi kramas (Jawa: adus karmas) dengan membaca doa yang sudah ditentukan sebelumnya, yaitu sekul suci ulam sari. Sebelum matahari menampakkan wajahnya, semua abdi dalem sudah harus siap untuk

melaksanakan inti prosesi ritual labuhan menuju Srimanganti dan Pendopo Labuhan. Ubo rampe labuhan, sesaji dan alat-alat lain seperti payung (songsong) dan tikar ikut dibawa serta (Samiyem, wawancara, 2010).

Bagi sebagian orang, tugas yang ketiga ini tidak cukup dikenal. Tugas ini adalah mendapatkan berbagai benda dari Gunung Merapi sebagai “ angsal-angsal” atau oleh-oleh sebagai bukti kepada Sri Sultan bahwa labuhan telah selesai dilaksanakan dengan baik dan lancar. Benda-benda tersebut meliputi gerpak wesi, gondopuro, kapuroko, sulonjono, dan belerang. Setelah benda-benda tersebut didapatkan kemudian diserahkan ke kraton bersama-sama dengan angsal-angsal atau oleh-oleh dari labuhan Gunung Lawu, labuhan Parangkusuma maupun Dlepih Kahyangan jika pada tahun Dal dalam penanggalan Jawa (Samiyem, wawancara, 2010).

Dokumen terkait