• Tidak ada hasil yang ditemukan

6 BAB VI PROSPEK PEREKONOMIAN DAERAH

6.1. Prospek Ekonomi

Perekonomian Sumatera Barat pada triwulan II 2016 diprakirakan tumbuh di kisaran 5,4% - 5,8% (yoy), meningkat dibandingkan pertumbuhan di triwulan I 2016 sebesar 5,48% (yoy). Setelah pada awal tahun pengeluaran

pemerintah dan investasi cenderung melambat, pada triwulan II kinerja kedua kelompok PDRB tersebut akan meningkat dan diprakirakan menjadi faktor penopang pertumbuhan ekonomi. Sementara berdasarkan lapangan usaha, kinerja pertanian, perdagangan besar dan eceran, industri pengolahan serta transportasi dan pergudangan diprakirakan tumbuh meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. Beberapa faktor utama penyebab terjadinya peningkatan tersebut antara lain mulai meningkatnya harga komoditas ekspor utama seperti CPO dan karet, panen padi di sejumlah daerah, perayaan keagamaan Ramadhan dan Idul Fitri, perbaikan pendapatan dan daya beli masyarakat serta meningkatnya realisasi anggaran pemerintah di triwulan II 2016.

5,54 6,406,60 6,67 4,57 6,47 7,02 6,19 7,52 4,97 5,445,59 5,50 5,48 4,93 5,74 5,48 3,00 3,50 4,00 4,50 5,00 5,50 6,00 6,50 7,00 7,50 8,00

I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV

2012 2013 2014 2015 2016 2016* 5,4 - 5,8 %, yoy 2015 5,41 2014 5,86 2013 6,08 2012 6,31

Dengan mempertimbangkan kondisi domestik dan global, ekonomi Sumbar untuk keseluruhan tahun 2016 diperkirakan cenderung meningkat pada kisaran 5,4% - 5,8% (yoy), dibandingkan pertumbuhan tahun 2015 (5,41%, yoy). Dari sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi 2016

utamanya ditopang oleh kinerja konsumsi swasta,investasi dan ekspor. Dari sisi penawaran, lapangan usaha yang diperkirakan menopang pertumbuhan antara lain industri pengolahan dan perdagangan besar/eceran. Faktor pendorong utama perekonomian tahun 2016 antara lain realisasi investasi beberapa perusahaan besar, penyaluran dana desa, membaiknya harga komoditas ekspor utama dan peningkatan permintaan negara mitra dagang Sumbar khususnya India dan China, ekspektasi peningkatan pendapatan dan daya beli masyarakat serta paket kebijakan fiskal dan moneter yang lebih kondusif.

Tabel 6.1. Perkiraan Pertumbuhan Ekonomi Beberapa Negara

2015 2016p 2017p 2015 2016p 2017p Amerika Serikat 2,5 2,6 2,6 2,4 2,4 2,5 Kawasan Eropa 1,5 1,7 1,7 1,6 1,5 1,6 Kawasan Asia India 7,3 7,5 7,5 7,3 7,5 7,5 China 6,9 6,3 6 6,9 6,5 6,2 Jepang 0,6 1 0,3 0,5 0,5 -0,1 Kawasan ASEAN* 4,7 4,8 5,1 4,7 4,8 5,1 Sumber : IMF

*) Terdiri dari Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand dan Vietnam p) Proyeksi

Keterangan : Sama dengan perkiraan sebelumnya

Lebih rendah dari perkiraan sebelumnya Lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya Pertumbuhan Ekonomi

(%,yoy)

WEO (IMF) WEO (IMF)

Jan 2016 Apr 2016

6.1.1 Prospek Sisi Permintaan

Meningkatnya pertumbuhan perekonomian di triwulan II 2016

diprakirakan berasal dari membaiknya kinerja konsumsi rumah tangga, investasi dan ekspor. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga diprakirakan

cenderung meningkat yang dipicu oleh kebijakan pemerintah berupa penurunan harga BBM dan elpiji yang diharapkan dapat berimbas pada penurunan harga barang/jasa lainnya. Selanjutnya, meningkatnya alokasi dana desa pada tahun 2016 diharapkan dapat menstimulus kegiatan ekonomi masyarakat di pedesaan.

Disamping itu, meningkatnya harga komoditas utama seperti CPO dan karet diharapkan memberikan perbaikan pada penghasilan utama masyarakat khususnya pada lapangan usaha pertanian. Sementara itu, berdasarkan siklusnya, konsumsi masyarakat diprakirakan meningkat menjelang akhir triwulan II 2016 sering dengan masuknya bulan Ramadhan dan persiapan lebaran. Peningkatan konsumsi swasta ini sejalan dengan ekspektasi perbaikan konsumsi ke depan sebagaimana ditunjukkan oleh tingkat keyakinan konsumen yang menunjukkan peningkatan optimisme memasuki awal triwulan II 2016.

9,55% 0% 2% 4% 6% 8% 10% 12% 14% 16% 5 10 15 20 25

I II III IV I II III IV I II III IV I

2013 2014 2015 2016

Kredit Konsumsi pertumbuhan (yoy)

Rp triliun yoy 0 20 40 60 80 100 120 140

I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I

2012 2013 2014 2015 2016

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indeks Kondisi Ekonomi Saat ini (IKK) Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) Baseline Positif

Indeks

Grafik 6.2. Perkembangan Kredit Konsumsi Rumah Tangga

Grafik 6.3. Indeks Ekspektasi Konsumen

Realisasi investasi pada triwulan II 2016 diprakirakan meningkat dibandingkan triwulan I 2016, seiring dengan mulai dilaksanakannya sejumlah proyek infrastruktur pemerintah. Meningkatnya realisasi belanja

modal pemerintah sejalan dengan mulai dilaksanakannya pengerjaan fisik proyek infrastruktur pemerintah. Upaya perbaikan pencairan anggaran dilakukan dengan memanfaatkan teknologi informasi dalam proses monitoring/evaluasi sehingga dapat mempercepat realisasi belanja pemda. Dari sisi swasta, Pemprov Sumbar memberikan dukungan untuk mempermudah proses investasi bagi investor swasta yang serius berinvestasi di Sumbar antara lain melalui perbaikan kebijakan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP). Keputusan Dewan Gubernur BI yang tidak menaikkan BI rate pada bulan April 2016 (tetap sebesar 6,75%) diharapkan mampu memberikan stimulus bagi kegiatan usaha. Indikator lain yaitu Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia, mengkonfirmasi bahwa terdapat perbaikan investasi secara umum di triwulan II 2016 (Grafik 6.5 ).

15,92% 0% 5% 10% 15% 20% 25% 30% 35% 40% 2 4 6 8 10 12

I II III IV I II III IV I II III IV I

2013 2014 2015 2016

Kredit Investasi pertumbuhan (yoy)

Rp triliun yoy -4 0 4 8 Realisasi Tw I 2016 Prakiraan Tw II 2016

Pertanian PHR Industri Pengolahan

Pengangkutan dan Komunikasi Bangunan Pertambangan Keuangan Jasa-jasa Listrik, Gas dan Air Bersih

%, saldo bersih tertimbang

Grafik 6.4. Perkembangan Kredit Investasi Grafik 6.5. Prakiraan Investasi Secara Umum

-20 -16 -12 -8 -4 0 4 8 12 Realisasi Tw I 2016 Prakiraan Tw II 2016

Pertanian PHR Industri Pengolahan

Pengangkutan dan Komunikasi Bangunan Pertambangan Keuangan Jasa-jasa Listrik, Gas dan Air Bersih

%, saldo bersih tertimbang

-4 0 4 8 Realisasi Tw I 2016 Prakiraan Tw II 2016 Pertanian PHR

Industri Pengolahan Pengangkutan dan Komunikasi

Bangunan Pertambangan

Keuangan Jasa-jasa

Listrik, Gas dan Air Bersih

%, saldo bersih tertimbang

Grafik 6.6. Prakiraan Kegiatan Usaha Secara Umum

Grafik 6.7.Prakiraan Penggunaan Tenaga Kerja Secara Umum

Kinerja ekspor pada triwulan II 2016 diprakirakan meningkat dibandingkan triwulan I 2016. Faktor pendorong ekspor yaitu terjadinya

perbaikan harga komoditas CPO sehingga diprakirakan dapat mendorong perbaikan kinerja ekspor Sumatera Barat. Beberapa indikator menunjukkan terjadinya peningkatan nilai ekspor CPO dari USD99,1 juta pada Februari 2016 menjadi USD106,5 juta pada Maret 2016 serta meningkatnya volume ekspor melalui pelabuhan Teluk Bayur dari 177.319 ton pada Februari 2016 menjadi 267.219 ton pada Maret 2016. Sementara itu pada periode Maret 2016, harga TBS dan CPO masing-masing mencapai Rp1.587/kg dan USD 625/MT atau mengalami kenaikan masing-masing sebesar 26,50% dan 23,79% dibandingkan akhir tahun 2015 yang dapat menjadi insentif perbaikan kinerja ekspor ke depan. Namun demikian, masih terdapat faktor dan indikator yang berpotensi menghambat kinerja ekspor untuk tumbuh lebih tinggi lagi seperti masih rendahnya permintaan negara importir seiring dengan berlanjutnya pelemahan ekonomi pada negara tersebut.

100,0 200,0 300,0 400,0 500,0 600,0 700,0 800,0 900,0 1.000,0 200 400 600 800 1.000 1.200 1.400 1.600 1.800 2.000 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 2013 2014 2015 2016

Harga TBS Harga CPO Dunia-sisi kanan

Rp/kg USD/MT

Grafik 6.8. Perkembangan Harga TBS dan Harga CPO Dunia

Tabel 6.2. Pertumbuhan dan Proyeksi Harga Komoditas Ekspor Indonesia

Q1'16 Q2'16 Q3'16 Q4'16 2016 2017 Q1'16 Q2'16 Q3'16 Q4'16 2016 2017

Tembaga USD/Metric Ton -19,5 -26,6 -28,9 -18,6 -12,2 -21,6 0,5 -19,7 -24,8 -14,2 -7,5 -16,5 0,5

Batubara USD/Metric Ton -24,7 -26,1 -26,7 -27,1 -21,4 -25,3 1,3 -25,4 -26,7 -30,1 -28,9 -27,8 1,3

Palm Oil MYR/Metric Ton -8,9 4,4 12,0 15,1 7,0 9,6 1,5 8,4 12,0 18,1 10,8 12,3 1,5

Karet USD/kg -20,2 -28,6 -31,5 -24,9 -12,3 -24,3 -5,6 -24,5 -18,2 -10,4 4,6 -12,1 -5,6

Nikel USD/Metric Ton -28,7 -47,5 -42,3 -28,7 -19,7 -34,5 1,0 -40,8 -38,6 -24,2 -14,5 -29,5 1,0

Timah USD/Metric Ton -26,7 -25,6 -8,1 -5,7 -5,8 -11,3 0,0 -16,7 2,1 4,8 4,7 -1,3 0,0

Alumunium USD/Metric Ton -10,6 -19,5 -16,3 -7,4 0,3 -10,7 0,3 -16,4 -20,2 -11,2 -3,5 -12,8 0,3

Kopi USD/Pound -24,3 -31,8 -20,9 -9,7 -3,7 -16,5 7,8 -27,4 -11,5 0,8 7,2 -7,7 7,8 Others -4,1 -0,7 -1,6 -2,3 -2,3 -1,7 0,0 -1,0 -1,8 -2,3 -2,3 -1,8 0,0 -19,3 -19,1 -16,6 -13,1 -10,2 -14,7 0,6 -15,9 -14,1 -10,7 -9,1 -12,4 0,6 -15,0 -13,8 -12,3 -10,0 -8,0 -11,0 0,4 -11,6 -10,6 -8,3 -7,2 -9,4 0,4 April 2016 IHKEI NM 8 Pertumbuhan 2015 Satuan Komoditas IHKEI NM Total Maret 2016

Sumber : Bank Indonesia

6.1.2 Prospek Sisi Penawaran

Beberapa lapangan usaha seperti pertanian, perdagangan besar dan eceran, industri pengolahan dan transportasi dan pergudangan diprakirakan meningkat dan masih menjadi sumber utama pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat. Kinerja sektor pertanian diprakirakan meningkat seiring dengan panen padi di berbagai daerah serta mulai membaiknya harga komoditas perkebunan. Kinerja subsektor tanaman

bahan makanan (tabama) membaik seiring dengan panen yang diperkirakan berlangsung pada triwulan II 2016. Kinerja subsektor perkebunan meningkat, terindikasi dari perbaikan harga TBS dan Bokar (bahan olahan karet) pada Maret 2016. Hasil SKDU juga menunjukkan bahwa prakiraan perkembangan kegiatan

usaha sektor pertanian pada triwulan II 2016 membaik menjadi -3,42 dibandingkan realisasi triwulan I 2016 yang sebesar -6,76.

Kinerja sektor perdagangan pada triwulan II 2016 diprakirakan meningkat bila dibandingkan dengan triwulan I 2016, seiring dengan peningkatan aktivitas konsumsi masyarakat saat Ramadhan dan persiapan lebaran. Penurunan harga BBM, LPG dan tarif listrik pada April 2016 akan memberikan ruang penurunan harga barang dan jasa lainnya, dan selanjutnya dapat meningkatkan daya beli masyarakat. Di sisi produsen, kebijakan ini dapat menjadi insentif untuk mendorong aktivitas pelaku usaha di sektor perdagangan. Hasil SKDU menunjukkan bahwa prakiraan perkembangan kegiatan usaha sektor perdagangan pada triwulan II 2016 membaik menjadi -0,54 dibandingkan realisasi triwulan I 2016 yang mencapai -4,59. Sesuai hasil liaison, kinerja sektor perdagangan juga ditopang oleh membaiknya kinerja sektor hotel dan restoran. Awal tahun 2016 Tingkat Penghunian Kamar (TPK) naik mencapai hampir 65% atau lebih tinggi dibandingkan akhir tahun 2014 dan 2015 masing-masing sebesaar 62,3% dan 62,5%. Kinerja hotel dan restoran ini diprakirakan terus meningkat hingga akhir tahun seiring pelonggaran kebijakan pemerintah dan berbagai strategi seperti peningkatan penjualan melalui online, penguatan kerjasama korporasi, adanya sistem dynamic rate, dan adanya dukungan pemerintah daerah dalam meningkatkan pariwisata di berbagai daerah.

Kinerja sektor industri pengolahan diprakirakan meningkat, namun masih pada level yang terbatas.. Perbaikan harga CPO dan karet diperkirakan menjadi stimulus bagi industri pengolahan untuk meningkatkan kapasitas produksi dan ekspornya di triwulan II 2016. Di sisi lain kebijakan pemerintah untuk mempercepat penyaluran dan penyerapan KUR di tahun 2016, berpotensi meningkatkan produksi sektor pengolahan khususnya pada UMKM. Kinerja UMKM di triwulan II 2016 juga ditopang oleh peningkatan permintaan makanan jadi dan makanan olahan menjelang Ramadhan dan Idul Fitri. Perkiraan peningkatan kinerja industri pengolahan terkonfirmasi dari hasil SKDU yang menunjukkan adanya perbaikan kegiatan usaha khususnya di industri pengolahan.

Kinerja lapangan usaha transportasi dan pergudangan cenderung meningkat. Aktivitas ekonomi yang mulai meningkat di triwulan II membutuhkan

peningkatan usaha ikutan dan pendukung seperti transportasi dan pergudangan. Disamping itu, tingginya jumlah masyarakat minang yang akan merayakan Ramadhan dan Idul Fitri menjadi pemicu tingginya permintaan transportasi khususnya angkutan udara. Ekspektasi meningkatnya permintaan terhadap barang menjelang perayaan keagamaan juga menjadi faktor utama meningkatnya aktivitas pergudangan di triwulan II 2016.

Dokumen terkait