• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROSPEK PEREKONOMIAN DAN INFLASI REGIONAL

Dalam dokumen BAB 1 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL (Halaman 51-57)

Memasuki kuartal akhir 2009, pemulihan yang terjadi pada perekonomian global menunjukkan indikasi yang semakin menguat dan merata di berbagai negara. Perbaikan yang paling tampak adalah di negara emerging market Asia, terutama China. Perkembangan tersebut berdampak pada membaiknya ekonomi domestik, sehingga ekonomi Indonesia berpotensi tumbuh lebih baik dari perkiraan semula, baik pada 2009 maupun tahun 2010.

Pada 2009, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2009 sebesar 4,0%-4,5%, atau lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya sebesar 3,5%-4,0%.

Dan pada 2010, pertumbuhan ekonomi diproyeksi mencapai 5,0%-5,5%.

Pengaruhnya di tingkat regional akan terlihat dari kenaikan order produksi pada industri manufaktur Kepulauan Riau, terutama di kota Batam. Bersamaan dengan itu, kinerja ekspor luar negeri juga akan lebih menguat. Peningkatan utilisasi kapasitas berkorelasi langsung terhadap kebutuhan tenaga kerja sehingga berkontribusi terhadap kenaikan konsumsi di triwulan IV-2009. Tren nilai tukar Rupiah yang terus menguat menjadi kekhawatiran bagi sebagian pelaku bisnis yang berbasis ekspor. Perbaikan dalam administrasi impor di pelabuhan Free Trade Zone (FTZ) Batam merupakan hal yang mendesak guna mendukung pemulihan ekonomi regional.

Sementara tekanan inflasi di triwulan mendatang diproyeksi lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya. Kenaikan harga lebih dipicu oleh faktor tingginya curah hujan di akhir tahun sehingga mengganggu kelancaran arus barang kebutuhan pokok masyarakat dari luar wilayah. Sementara pengaruh dari kenaikan harga komoditas dunia terhadap laju inflasi kota Batam dan Tanjung Pinang diperkirakan masih minimal.

Grafik 7.2.

Perkembangan Nilai Tukar Rupiah terhadap US Dollar dan Singapore Dollar

Sumber : Kurs Tengah Bank Indonesia Grafik 7.1.

Proyeksi Harga Minyak Mentah WTI dan Natural Gas

Sumber : www.marketvector.com

proyeksi 

7

7..11.. PRPROOSSPPEEKK PPEERRTTUUMMBBUUHHAANN EEKKOONNOOMMII

Pertumbuhan ekonomi Kepulauan Riau di triwulan IV 2009 diperkirakan mengalami ekspansi pada kisaran 1,33% s/d. 2,29% (y-o-y). Dengan demikian perekonomian sepanjang tahun 2009 diproyeksi bergerak antara -0,2% sampai dengan 1%. Determinan penguatan disisi permintaan didorong oleh tingginya konsumsi masyarakat menjelang akhir tahun – terutama pada komponen pengeluaran pemerintah, serta tren pemulihan ekpor. Kondisi tersebut berpengaruh secara signifikan pada output sektor industri manufaktur. Pemulihan sektor unggulan tersebut akan berdampak positif pada aktivitas perdagangan, keuangan dan jasa-jasa.

Ekspansi ekonomi Kepulauan Riau di triwulan mendatang dipengaruhi dari 2 sisi, eksternal dalam konteks nasional dan global, serta faktor internal di level regional Kepulauan Riau. Momentum pemulihan ekonomian global di bulan Agustus 2009 mulai terlihat pada beberapa negara mitra dagang Asia, antara lain China, India, Korea, dan Jepang. Khusus untuk Jepang, momentum pertumbuhan baru sebatas pada tahap stabilisasi setelah mengalami keterpurukan ekonomi yang sangat dalam. Berdasarkan laporan IMF terakhir (Oktober 2009), level kontraksi yang melandai pada kuartal akhir (Q4) diperkirakan terjadi pada ekonomi Amerika Serikat, Jepang, China, India, Singapura, dan negara-negara yang tergabung dalam Asean-5 (Indonesia, Malaysia, Philipina, Thailand dan Vietnam).

Sumber : BPS Provinsi Kepulauan Riau ;

*) angka sementara; (P) Proyeksi Kantor Bank Indonesia Batam, Oktober 2009 Tabel 7.1.

Proyeksi Laju Pertumbuhan Triwulan IV 2009 berdasarkan Sektor Ekonomi & Komponen Penggunaan

2008 2009

Tw‐IV Tw‐III* 2008

KOMPONEN PENGGUNAAN

1. Konsumsi Rumah Tangga 17.45% 22.53% 22.86% ‐ 23.83% 19.03% 18.71% ‐ 19.91%

2. Konsumsi Lembaga Swasta 13.91% 24.18% 11.90% ‐ 12.86% 13.41% 20.64% ‐ 21.84%

3. Konsumsi Pemerintah 13.01% 21.20% 25.04% ‐ 26.00% 13.26% 16.23% ‐ 17.43%

4. Pembentukan Modal Tetap Bruto 25.72% 13.48% 5.54% ‐ 6.50% 29.38% 11.16% ‐ 12.36%

5. Ekspor Barang dan Jasa ‐1.39% ‐6.46% ‐3.23% ‐ ‐2.26% 6.18% ‐5.50% ‐ ‐4.30%

6. Impor Barang dan Jasa 19.57% 3.69% 9.65% ‐ 10.62% 2.94% 7.83% ‐ 9.03%

SEKTOR EKONOMI

1. Pertanian ‐0.72% 0.23% ‐0.04% ‐ 0.92% 3.80% ‐0.34% ‐ 0.86%

2. Pertambangan & Penggalian ‐3.09% ‐0.33% ‐1.02% ‐ ‐0.05% ‐2.71% ‐1.21% ‐ ‐0.01%

3. Industri Pengolahan 1.78% ‐3.15% ‐0.51% ‐ 0.45% 4.56% ‐2.61% ‐ ‐1.41%

4. Listrik, Gas & Air Bersih 1.65% 2.45% ‐0.33% ‐ 0.63% 7.94% 0.59% ‐ 1.79%

5. Bangunan 24.03% 13.61% 11.61% ‐ 12.58% 34.26% 13.09% ‐ 14.29%

6. Perdagangan, Hotel & Restoran 2.21% 0.73% 2.12% ‐ 3.09% 7.77% 0.11% ‐ 1.31%

7. Pengangkutan & Komunikasi 9.64% 6.91% 4.85% ‐ 5.81% 14.44% 5.43% ‐ 6.63%

8. Keuangan, Persewaan & Jasa P'an 7.10% 4.56% 5.18% ‐ 6.15% 9.71% 5.04% ‐ 6.24%

9. Jasa‐Jasa 10.36% 8.66% 8.54% ‐ 9.50% 15.59% 8.37% ‐ 9.57%

Indikasi pemulihan ekonomi pada negara China, Hongkong dan Singapura juga diperkuat dengan survei Hudson terkait tingginya ekpektasi perusahaan dalam merekrut tenaga kerja permanen di triwulan IV 2009 berdasarkan hasil survei yang dilakukan Hudson Highland Group Inc, sebuah perusahaan jasa konsultan tenaga kerja global. Sedangkan pada skala Nasional, ekonomi Indonesia yang tumbuh baik bersama-sama dengan China dan India, serta stabilitas politik pasca terbentuknya kabinet baru pemerintahan memberi sentimen positif bagi investor. Hal ini ditandai dengan masuknya modal-modal asing dalam jumlah besar di pasar keuangan Indonesia sehingga terus memberi penguatan pada nilai tukar Rupiah.

Sumber : IMF & berbagai sumber (Oktober 2009)

*) Indonesia, Malaysia, Philipina, Thailand dan Vietnam Grafik 7.1.

Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Beberapa Negara di Dunia

Diagram 7.1.

Asesmen Momentum Pertumbuhan Global *)

Sumber : Haver Analytics; Bloomber LP & IMF, Global Data Source database

*) Grafik didasarkan pada 4 indikator ekonomi, termasuk industrial production, real retail sales, merchandise exports, dan purchasing managers index (PMI). Beberapa rating, terutama pada bulan terakhir didasarkan pada data actual dan proyeksi.

Sumber : The Hudson Report; Oct-Dec 2009 Grafik 7.2.

Survei Ekspektasi Perekrutan Karyawan Pemanen di China, Hongkong dan Singapura

Estimates

2008 2009 2010 2008 2009 2010

World Output  3.0 ‐1.1 3.1 ‐0.1 0.8 3.2

United States 0.4 ‐2.7 1.5 ‐1.9 ‐1.1 1.9

Euro Area 0.7 ‐4.2 0.3 ‐1.7 ‐2.5 0.9

Japan ‐0.7 ‐5.4 1.7 ‐4.5 ‐1.3 1.4

United Kingdom 0.7 ‐4.4 0.9 ‐1.8 ‐2.5 1.3

Canada 0.4 ‐2.5 2.1 ‐1.0 ‐1.5 3.0

Optimisme ekstenal tersebut, terutama yang terjadi pada negara Singapura sebagai mitra dagang dominan, memberi tingkat keyakinan yang lebih besar akan adanya pemulihan permintaan luar negeri di akhir tahun 2009. Kontraksi ekspor Kepulauan Riau diperkirakan melandai di level -3,23% s/d. - 2.26%, dibanding triwulan III yang mengalami penurunan mencapai 6,46%.

Sementara kondisi ekonomi makro regional Kepulauan Riau di triwulan mendatang diperkuat dengan peningkatan konsumsi sekitar 22,86% - 28,83%. Asesmen tersebut didorong oleh kenaikan pengeluaran masyarakat sehubungan dengan adanya rencana penambahan tenaga kerja baru oleh sektor industri manufaktur. Kebutuhan tenaga kerja diperkirakan mencapai 36.000 orang (Apindo, Oktober 2009) menyusul adanya kenaikan order dari negara mitra dagang. Selain kebutuhan masyarakat yang relatif meningkat memasuki musim liburan akhir tahun, komponen pengeluaran pemerintah juga akan lebih atraktif mengingat adanya ruang anggaran belanja yang cukup besar. Khusus pada anggaran pemerintah provinsi Kepulauan Riau, anggaran belanja yang belum terealisasi masih sekitar 38%, atau lebih dari Rp 600 milyar.

Ruang anggaran belanja modal pemerintah antara lain digunakan untuk penyelesaian pembangunan pulau Dompak sebagai pusat pemerintahan Kepulauan Riau. Metode pembangunan menerapkan konsep multiyears, dimana pencadangan tahun 2007 dianggarkan sekitar Rp125 Miliar, tahun 2008 sebesar Rp387 Miliar, tahun 2009 mencapai Rp680 Miliar dan untuk tahun 2010 dianggarkan sekitar Rp796 Miliar

Pengerjaan beberapa proyek konstruksi swasta seperti superblok Grand Quarter Batam mencakup apartemen, kondominium hotel alias kondotel, waterpark, pusat perbelanjaan, dan olahraga diperkirakan menelan dana investasi mencapai US$120 juta, dengan tahap pertama direncanakan sebesar US$ 50 juta. Selanjutnya terdapat proyek pembangunan Harbour Bay Mall dan Kepri Mall yang menelan biaya sekitar Rp 200 milyar, serta proyek-proyek konstruksi besar lainnya seperti Hotel Harmony One, Batam City Square (BCS) Condominium, dan Harbour Bay Condo. Di samping itu proyek-proyek perubahan baru juga mulai bermunculan seperti kluster terbaru di Diamond Palace Residence oleh Intan Property, 20 twin block Batam Centre Park di atas lahan seluas 14 hektare oleh Dimas Pratama Indah, dan Mulia Batindo yang memulai pembangunan 1000 unit rumah di Karimun.

Pemulihan kondisi makro regional sangat mungkin terealisasi dengan adanya status khusus Batam, Bintan dan Karimun sebagai kawasan FTZ (Free Trade Zone), yang menjadi insentif tambahan bagi investor. Untuk itu sangat dibutuhkan upaya optimal dari pemangku

dan pelaksana kebijakan khusus FTZ, dalam hal ini Dewan Kawasan (DK) dan Badan Pengusahaan (BP) FTZ. Pelayanan administrasi yang memadai dengan persyaratan yang lebih cepat dan mudah mutlak diperlukan demi optimalisasi pelaksanaan FTZ. Hal ini juga perlu didukung oleh penyediaan infrastruktur yang memadai (energi listrik, gas dan air bersih) beserta kebijakan-kebijakan yang lebih pro investasi.

7.7.22.. PRPROOSSPPEEKK IINNFFLLAASSII

Kenaikan harga yang terjadi di kota Batam selama triwulan IV 2009 relatif lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya. Lonjakan inflasi sempat terjadi di bulan September akibat kenaikan permintaan kebutuhan pangan dan sandang menjelang perayaan Idul Fitri.

Harga-harga secara umum diperkirakan kembali normal di bulan Oktober sehingga berpeluang membentuk ekspektasi penurunan harga (deflasi). Menjelang akhir tahun harga-harga diproyeksi kembali meningkat dipicu oleh curah hujan dan tingginya gelombang laut yang dapat menghambat kelancaran distribusi barang kebutuhan pokok. Laju inflasi di akhir tahun 2009 diestimasi bergerak antara 2,67% - 3,56%, jauh lebih rendah dibanding tahun 2008 yang tercatat sebesar 8,39%.

 

Pergerakan harga di kota Batam selama triwulan IV 2009 dipengaruhi beberapa faktor fundamental dan non-fundamental. Faktor fundamental yang mempengaruhi rendahnya tekanan inflasi dari sisi permintaan (demand side) diantaranya adalah penurunan permintaan kebutuhan pokok pasca Lebaran, penguatan nilai tukar Rupiah, dan tren penurunan suku bunga kredit.

Grafik 7.3.

Proyeksi Inflasi Umum Kota Batam

Sumber : BPS Provinsi Kepulauan Riau

Ket. : Juli – Desember 2009 adalah Proyeksi Bank Indonesia Batam

Sedangkan dari sisi penawaran (supply side), tekanan harga sebagian besar dipicu oleh faktor distribusi akibat tingginya curah hujan dan angin dalam 3 bulan ke depan, terutama di bulan Desember. Kondisi tersebut biasanya menyebabkan gelombang laut yang tinggi yang mempersulit distribusi barang kebutuhan pokok yang dipasok dari luar daerah.

Penurunan harga pasca Lebaran cukup terlihat pada hasil Survei Pemantauan Harga kota Batam di bulan Oktober terutama pada kebutuhan makanan, seperti cabe merah, kacang panjang, kangkung dan ikan-ikanan. Namun di bulan berikutnya, kendala distribusi akibat faktor cuaca dapat mengganggu kelancaran pasokan bahan pangan tersebut, sehingga memicu kenaikan harga pada kelompok volatile (harga berjolak). Sementara itu kekhawatiran akan kenaikan harga gula internasional berpotensi menambah tekanan pada inflasi inti (core inflation). Sedangkan faktor inflasi yang terkait dengan kebijakan pemerintah

Grafik 7.4.

Perkembangan Harga Beberapa Komoditi Penyumbang Inflasi Terbesar

Sumber : Survei Pemantauan Harga (SPH) Kota Batam Ket. : Berdasarkan harga rata-rata 4 pedagang di

pasar tradisional Aviari dan Sagulung OKTOBER

2009 NOVEMBER

2009

DESEMBER 2009 Gambar 7.1.

Prakiraan Curah Hujan di Indonesia Bulan Oktober – Desember 2009

Sumber : Badan Meteorologi dan Geofisika, Pemutakhiran Oktober 2009

Sumber : BPS, diolah

Ket. : Bulan Oktober – Desember 2009 adalah Proyeksi Bank Indonesia Batam, Oktober 2009

Grafik 7.5.

Estimasi Inflasi Kelompok Bahan Makanan, Makanan Jadi dan Sandang di Kota Batam

(administered) diperkirakan bersumber dari rencana kenaikan harga gas elpiji. Dampak dari kenaikan harga elpiji diproyeksi cukup minimal sepanjang kenaikan harga di tingkat eceran dapat terkendali.

Dalam dokumen BAB 1 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL (Halaman 51-57)

Dokumen terkait