Sumber : BPS Kepulauan Riau
*) angka sementara **) angka sangat sementara Tabel 1.1.
Pertumbuhan Ekonomi Sektoral dan Penggunaan (yoy) Grafik 1.1.
Struktur Perekonomian Kepulauan Riau
BAB 1
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL
1.1. KONDISI UMUM
Mementum pemulihan ekonomi makro regional Kepulauan Riau diperkirakan terjadi pada triwulan ini. Laju penurunan nilai tambah ekonomi (PDRB) semakin melandai di level 0,20%, dimana pada triwulan III masih mengalami kontraksi 0,43% (y-o-y). Hasil estimasi sementara Badan Pusat Statistik (BPS) tersebut searah dengan proyeksi Bank Indonesia Batam di kisaran -0,39% s/d 0,26%.
Faktor pendorong di sisi permintaan berasal dari kenaikan konsumsi, terutama pada golongan rumah tangga sehubungan dengan musim liburan sekolah dan perayaan Idul Fitri.
Penguatan ekspor juga mulai terlihat dengan adanya ekspansi permintaan global, namun menjadi kurang optimal akibat buruknya sistem administrasi Free Trade Zone (FTZ) yang menjadi keluhan sebagian besar pelaku industri di kota Batam.
Pengaruhnya di sisi produksi terlihat jelas pada kinerja sektor Industri Pengolahan yang diestimasi turun 3,15% (y-o-y), semakin melambat dibanding triwulan sebelumnya.
Distorsi pemulihan ekonomi juga berasal dari kebijakan tarif listrik yang membuat aktivitas sektor perhotelan terus menurun di tengah lemahnya daya beli masyarakat dan tingkat persaingan bisnis yang semakin tinggi. Penguatan di sisi penawaran baru terbatas pada sektor Perdagangan dan Pertanian yang mulai tumbuh positif didorong oleh tingginya konsumsi masyarakat selama triwulan berjalan.
I II III IV I II* III**
KOMPONEN PENGGUNAAN
1. Konsumsi Rumah Tangga 23.04% 17.48% 18.59% 17.45% 19.03% 11.42% 18.34% 22.53%
2. Konsumsi Lembaga Swasta 16.74% 11.26% 11.94% 13.91% 13.41% 30.78% 17.75% 24.18%
3. Konsumsi Pemerintah 18.06% 13.30% 9.15% 13.01% 13.26% 7.11% 11.69% 21.20%
4. Pembentukan Modal Tetap Bruto 26.50% 34.38% 31.22% 25.72% 29.38% 16.31% 11.07% 13.48%
5. Ekspor Barang dan Jasa 7.07% 5.88% 0.60% -1.39% 2.94% -5.50% -5.62% -6.46%
6. Impor Barang dan Jasa 12.95% 15.59% 23.46% 19.57% 18.01% 16.42% 3.57% 3.69%
SEKTOR EKONOMI
1. Pertanian 8.37% 5.78% 2.18% -0.72% 3.80% -0.12% -0.29% 0.23%
2. Pertambangan & Penggalian -1.89% -2.99% -2.85% -3.09% -2.71% -1.29% -1.04% -0.33%
3. Industri Pengolahan 5.56% 6.35% 4.67% 1.78% 4.56% -2.66% -2.94% -3.15%
4. Listrik, Gas & Air Bersih 13.49% 12.34% 5.12% 1.65% 7.94% 0.23% 1.16% 2.45%
5. Bangunan 45.93% 42.58% 28.52% 24.03% 34.26% 14.81% 13.65% 13.61%
6. Perdagangan, Hotel & Restoran 10.52% 10.37% 8.36% 2.21% 7.77% -0.87% -0.38% 0.73%
7. Pengangkutan & Komunikasi 18.56% 16.34% 13.84% 9.64% 14.44% 5.71% 5.40% 6.91%
8. Keuangan, Persewaan & Jasa P'an 11.69% 10.69% 9.59% 7.10% 9.71% 6.12% 5.46% 4.56%
9. Jasa-Jasa 20.57% 17.47% 14.77% 10.36% 15.59% 8.29% 9.12% 8.66%
P D R B 8.63% 8.60% 6.52% 3.05% 6.65% -0.35% -0.43% -0.20%
2009
2008 2008
1.2. SISI PERMINTAAN
1.2.1. Konsumsi
Tingginya pertumbuhan Konsumsi - sebagai faktor dominan pendorong pertumbuhan di sisi permintaan - sebagian besar dipengaruhi oleh penguatan nilai tukar Rupiah, rendahnya tingkat inflasi, serta kenaikan pola konsumsi masyarakat menjelang perayaan Idul Fitri. Selain itu, kecenderungan harga komoditas yang meningkat berperan cukup penting dalam mendorong pertumbuhan konsumsi rumah tangga hingga mencapai 22,53%. Pertumbuhan konsumsi pemerintah juga semakin berakselerasi akibat besarnya angka realisasi belanja menjelang akhir tahun anggaran.
Penguatan nilai tukar mempengaruhi peningkatan impor barang-barang konsumsi masyarakat, antara lain daging-dagingan, ikan, udang, susu, buah-buahan, sayuran, susu dan minuman dalam kemasan. Impor produk minuman tercatat mengalami peningkatan signifikan dengan rata-rata mencapai 97% dibanding periode triwulan II 2009. Kenaikan
Sumber : BPS Kepulauan Riau & MTI Singapore (diolah)
*) Angka Sementara Sumber : Kurs Tengah Bank Indonesia
Grafik 1.3.
Perkembangan Kurs IDR terhadap USD dan SGD Grafik 1.2.
Pertumbuhan Ekonomi Kepri. &Singapura (y-o-y)
Sumber : Bloomberg Grafik 1.4.
Perkembangan Harga Minyak & Gas Dunia
Sumber : Bloomberg Grafik 1.5.
Perkembangan Impor Komoditas Konsumsi
permintaan masyarakat terhadap produk makanan terutama daging, memberi pengaruh positif pada harga yang diterima petani di sub-sektor peternakan. Hasilnya, indeks Nilai Tukar Petani (NTP) di bulan Juli dan Agustus 2009 mengalami kenaikan dibanding 3 bulan sebelumnya.
`
Kondisi serupa juga terlihat pada indikator konsumsi non makanan seperti pendaftaran kendaraan bermotor baru dan realisasi pengadaan semen di Kepulauan Riau.
Meski masih tumbuh negatif, namun tren pembalikan sangat terlihat pada permintaan kendaraan bermotor baru, baik untuk jenis roda 2 maupun roda 4. Tingkat pertumbuhan kendaraan yang masih negatif dikonfirmasi oleh turunnya pertumbuhan kredit konsumsi perbankan yang pada posisi September hanya tumbuh 19,4%. Adapun hampir 40% dari total kredit konsumsi perbankan disalurkan untuk pembelian kendaraan bermotor.
Grafik 1.9.
Kredit Konsumsi Perbankan Kepri.
Sumber : Laporan Bulanan Bank Sumber : Dinas Pendapatan Daerah (diolah)
Grafik 1.8.
Realisasi Pengadaan Semen di Kepulauan Riau
Sumber : Asosiasi Semen Indonesia Grafik 1.6.
Perkembangan Indeks Nilai Tukar Petani (NTP)
Sumber : BPS Provinsi Kepulauan Riau
Grafik 1.7.
Pendaftaran Kendaraan Bermotor Baru
1.2.2. Investasi
Indikator investasi memperlihatkan pergerakan positif. Pertumbuhan investasi fisik PMTB di triwulan III relatif meningkat dibanding triwulan sebelumnya, dari 11,1% (angka revisi) menjadi 13,5%. Sebagaimana perkiraan di triwulan II 2009, peningkatan investasi dipengaruhi oleh banyaknya proyek konstruksi yang sedang berjalan – seperti pembangunan Hotel Harmony One, Grand Quarter (Integrated Condominium, Hotel, Supermarket), Kepri Mall, Mall Harbour Bay, Batam City Condominium, Apartemen Harris, Kantor Pemerintahan di Pulau Dompak, Water Treatment Plan (WTP) Duriangkang III oleh perusahaan air minum PT. Adhya Tirta Batam, serta pengerjaan proyek-proyek properti residensial. Kondisi ini diharapkan menjadi optimisme awal pelaku usaha terhadap kondisi perekonomian ke depan.
Peningkatan ini terkonfirmasi dari naiknya impor barang modal (capital goods) yang masuk ke wilayah kepabeanan Kepulauan Riau. Adapun indikator pembiayaan kredit investasi perbankan yang masih melambat menunjukkan bahwa pembiayaan proyek-proyek konstruksi tersebut bukan berasal dari perbankan lokal, melainkan dari kantor regional/pusat maupun luar negeri. Outstanding kredit investasi di posisi September tercatat sebesar Rp 2,52 triliun atau tumbuh 8,15% dibanding posisi yang sama tahun 2008, turun dibanding posisi triwulan II (Juni 2009) yang mengalami pertumbuhan sebesar 8,73%.
Grafik 1.10.
Perkembangan Investasi PMTB
Sumber : BPS Provinsi Kepulauan Riau (diolah)
Grafik 1.11.
Perkembangan Impor Capital Goods
Grafik 1.12.
Kredit Investasi Perbankan Kepulauan Riau
Grafik 1.16.
Perkembangan Volume Produk Impor Utama Grafik 1.15.
Perkembangan Volume Produk Ekspor Utama
1.2.3. Ekspor-Impor
Proses recovery yang sedang berlangsung di negara-negara mitra dagang utama belum memberi dampak yang signifikan pada kinerja ekspor di periode ini. Ekspor masih mencatat perlambatan yang cukup besar, diperkirakan mencapai 6,46%. Berdasarkan informasi yang diperoleh secara langsung dari pelaku industri, sulitnya administrasi barang masuk melalui pelabuhan FTZ diklaim sebagai salah satu penyebab yang mengakibatkan tertundanya proses produksi. Hal tersebut akhirnya berimbas pada pengiriman barang kepada pembeli di luar negeri juga menjadi tertunda, sebagaimana tercermin dari penurunan volume bongkar-muat peti kemas untuk tujuan internasional selama bulan Juli dan Agustus 2009 melalui pelabuhan FTZ, yakni pelabuhan Batu Ampar, Sekupang dan Kabil.
Dilihat dari volume perdagangan, kinerja ekspor di triwulan ini dipengaruhi oleh kenaikan relatif pada ekspor barang-barang mesin elektrik, barang logam (besi dan baja), serta elektronik. Sebagaimana dipaparkan pada kajian periode sebelumnya, adanya tren kenaikan ekspor barang elektronik di Singapura diduga berpengaruh positif pada perkembangan ekspor elektronik Kepulauan Riau di triwulan berjalan. Adapun ekspor barang perlengkapan transportasi yang sebagian besar merupakan komponen pendukung industri galangan kapal belum sepenuhnya pulih seperti kondisi sebelum krisis.
Grafik 1.13.
Pertumbuhan Ekspor dan Impor (y-o-y)
Sumber : BPS Provinsi Kepulauan Riau (diolah) Sumber : Otorita Batam, Pelabuhan FTZ Batam : Batu Ampar, Sekupang dan Kabil
Grafik 1.14.
Aktivitas Peti Kemas (Kontainer) Internasional
Periode Krisis
Sumber : Statistik Ekonomi dan Keuangan Daerah – Bank Indonesia
Sedangkan jika dilihat dari negara tujuan ekspor, pemulihan permintaan sebagian besar berasal dari negara-negara Eropa, sedangkan AS dan Jepang relatif stagnan. Sementara itu penurunan volume ekspor ke Negara China dan Hongkong dipengaruhi turunnya ekspor bijih alumunium akibat cadangan bauksit berkualitas di pulau Bintan semakin habis. Bauksit dengan kualitas terbaik, mengandung unsur Al di atas 52, dan Si di bawah 10. Meski demikian bauksit berkadar Al di atas 47 dan kadar Si sekitar 13 juga dapt terjual meski hanya negara China yang bersedia membeli dengan spesifikasi seperti itu. Adapun bauksit merupakan bahan dasar utama pembuatan alumunium.
1.3. SISI PENAWARAN
Dari aspek produksi, laju pertumbuhan didorong oleh membaiknya sektor-sektor traded, terutama sektor Pertanian dan Industri Pengolahan. Sementara di sektor non-traded lebih dipengaruhi oleh pemulihan aktivitas perdagangan dan jasa-jasa.
1.3.1. Sektor Industri Pengolahan
Di triwulan III 2009, perlambatan sektor industri diperkirakan mulai melandai dengan mencatat kontraksi sebesar 3,15%, sedangkan di triwulan II 2009 sebesar -2,94% (angka revisi). Kontribusi penurunan masih berasal dari lesunya aktivitas di industri Alat Angkutan, Mesin dan Peralatannya, di samping industri pengolahan Kayu, serta industri Logam Dasar Besi dan Baja.
Nilai tambah yang dihasilkan dari industri Alat Angkutan, Mesin dan Peralatannya diperkirakan mengalami penurunan 2,9% atau sekitar Rp 62 milyar dibanding posisi yang sama tahun 2008. Sedangkan industri Kayu dan Logam Dasar (besi dan baja) masing-masing berkontraksi sebesar 11,9% dan 2,9%. Sedangkan laju penurunan sub-sektor industri
Grafik 1.18.
Perkembangan Volume Ekspor ke Negara Asia Grafik 1.17.
Perkembangan Volume Ekspor Ke Negara G3
pengolahan lainnya seperti industri Makanan, Tekstil, Kertas, Pupuk, Kimia dan Semen relatif lebih kecil dibanding triwulan II 2009.
Sebagian perusahaan manufaktur di kota Batam memiliki keterkaitan dengan industri manufaktur Singapura sebagai representative office and marketing, antara lain industri elektronik, mesin dan alat angkutan. Perekonomian Singapura di triwulan III-2009 diestimasi mengalami penguatan yang signifikan. Laju pertumbuhan mencatat angka positif 0,8% (yoy), naik tajam dibanding triwulan II yang berkontraksi 3,2%. Kondisi ini didorong oleh peningkatan kinerja sektor manufaktur dengan tingkat pertumbuhan mencapai 8,3%, sedangkan di triwulan sebelumnya masih -1,1%. Faktor pendorong pertumbuhan terutama berasal dari industri biomedical dan elektronik terkait dengan inventory restocking dan kenaikan permintaan global secara relatif.
Perkembangan volume ekspor dan impor produk utama sektor Industri Pengolahan (termasuk Kawasan Berikat) cukup mengkonfirmasi kondisi tersebut. Ekspor bahan baku elektronik, mesin-mesin dan perlengkapan kantor mulai bergerak positif, sedangkan industri perlengkapan transportasi justru semakin menurun sampai dengan bulan Agustus 2009.
Sementara dari aspek pembiayaan perbankan terlihat bahwa outstanding kredit industri cenderung meningkat, meskipun tingkat pertumbuhannya belum membaik.
Grafik 1.19.
Pertumbuhan Sub-Sektor Industri Pengolahan Tw.I & Tw.II-2009
Sumber : BPS Kepulauan Riau, diolah Sumber : MTI Singapore – Oktober 2009 *) angka sementara Grafik 1.20.
Pertumbuhan GDP Singapura, Sektor Manufaktur, Konstruksi dan Jasa (yoy)
Grafik 1.21.
Perkembangan Volume Ekspor Utama Sektor Industri Pengolahan
Sumber : SEKDA - BI
Grafik 1.22.
Perkembangan Kredit Sektor Industri Pengolahan
Sumber : Laporan Bulanan Bank
1.3.2. Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran
Sektor andalan kedua di provinsi ini belum sepenuhnya membaik karena baru didorong oleh pemulihan aktivitas sub sektor Perdagangan Besar dan Eceran. Sedangkan industri perhotelan masih terus menunjukkan perlambatan, dan bisnis restoran cenderung bergerak stagnan.
Perbaikan kinerja sektor perdagangan besar dan eceran di triwulan ini sangat terbantu oleh kenaikan konsumsi masyarakat menjelang perayaan Idul Fitri. Perdagangan antar pulau mengalami kenaikan yang cukup tajam sebagaimana terlihat dari lonjakan volume peti kemas domestik di 3 pelabuhan FTZ kota Batam.
Sementara itu kinerja sektor perhotelan terlihat semakin menurun sejak krisis global ditambah dengan kebijakan pemerintah Singapura terkait virus H1N1 yang mewajibkan warganya untuk dikarantina saat pulang dari negara suspect H1N1 termasuk Indonesia.
Imbasnya ke kota Batam khususnya cukup besar mengingat sekitar 50% wisatawan asing berasal dari negara tersebut. Menurunnya nilai tambah yang dihasilkan industri perhotelan juga berkaitan erat dengan lonjakan tarif listrik mencapai 48%. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari kegiatan Liaison1 pada 5 hotel berbintang di kota Batam, kebijakan yang anomali di tengah kelesuan ekonomi tersebut menjadi keluhan dominan dari seluruh pelaku usaha di hotel berbintang. Kondisi tersebut berakibat pada turunnya tingkat hunian (occupancy rate) rata-rata sebesar 5% - 15%. Secara agregat, konsekuensinya tercermin pada indikator tingkat hunian hotel berbintang yang turun drastis di bulan Agustus menjadi hanya 36,5%.
1Liaison merupakan suatu kegiatan survey yang dilakukan oleh Bank Indonesia sebagai salah satu upaya untuk memperoleh data/statistik dan informasi secara langsung mengenai perkembangan dan arah kegiatan ekonomi untuk mendukung formulasi
Grafik 1.23.
Aktivitas Peti Kemas (Kontainer) Domestik
Sumber : Otorita Batam, Pelabuhan FTZ Batam : Batu Ampar, Sekupang dan Kabil.
Grafik 1.24.
Tingkat Hunian Hotel Berbintang (occ.rate)
Sumber : BPS Kepulauan Riau, diolah
Tekanan di sektor pariwisata salah satunya juga dapat terindikasi dari turunnya jumlah penumpang yang datang melalui bandara Hang Nadim Batam selama triwulan III 2009 jika dibandingkan periode sebelumnya. Perkembangan di pembiayaan perbankan lokal juga mencerminkan hal tersebut. Pertumbuhan kredit untuk sektor distribusi dan perdagangan cenderung meningkat, sementara untuk sektor hotel dan restoran kembali melambat di bulan September setelah sempat naik sejak bulan Mei 2009. Akibatnya, aktivitas bisnis travel agent juga menurun drastis sebagaimana dikonfirmasi oleh perlambatan kredit di subsektor biro perjalanan.
1.3.3. Sektor Bangunan
Pertumbuhan sektor bangunan diperkirakan mulai stabil memasuki triwulan III 2009, dengan level perlambatan yang sangat terbatas. Kondisi ini didorong oleh munculnya proyek- proyek properti di triwulan berjalan, antara lain dilakukan oleh Intan Property kluster terbaru di Diamond Palace Residence, Dimas Pratama Indah yang membangun 20 twin block Batam Centre Park di atas lahan seluas 14 hektare, dan Mulia Batindo yang memulai pembangunan 1000 unit rumah di Karimun.
Indikator pembiayaan perbankan pada sektor konstruksi juga mulai meningkat dibanding periode triwulan sebelumnya yang mencatat titik terendah pada bulan Mei 2009.
Optimisme juga didorong oleh meningkatnya pertumbuhan realisasi pengadaan semen selama triwulan III 2009 (Juli – September). Indikator impor komoditi utama sektor bangunan juga mengkonfirmasi hal tersebut. Impor besi dan baja, serta barang kayu mengalami kenaikan, sementara impor keramik dan furniture cenderung stagnan dibanding bulan-bulan sebelumnya.
Sumber : Laporan Bulanan Bank Grafik 1.26.
Pertumbuhan Kredit Sektor Distribusi, Perdagangan Eceran, Hotel & Restoran
Sumber : Otorita Batam, Bandara Hang Nadim - Batam Grafik 1.25.
Volume Penumpang (Domestik & Int’l) yang Datang Melalui Bandara Hang Nadim Batam
Berbagai indikator tersebut mengindikasikan bahwa aktivitas sektor bangunan masih terbatas pada tahap konstruksi, namun belum didukung oleh pulihnya daya beli masyarakat terhadap properti. Hal ini terlihat dari indikator pembiayaan perbankan untuk Kredit Pemilikian Rumah (KPR) yang tumbuh melambat sampai dengan posisi September 2009.
Perlambatan terbesar terjadi pada pembiayaan KPR tipe di atas 70 m2 dimana pada akhir triwulan III hanya tumbuh 5%, sedangkan di akhir triwulan II masih tumbuh 20,2%.
Sementara perlambatan kredit KPR untuk tipe ≤70 m2 relatif moderat, dari 16,2% menjadi 14,6%, terbantu dengan adanya permintaan pada rumah bersubsidi yang memiliki tingkat bunga rendah.
Grafik 1.27.
Perkembangan Sektor Bangunan
Sumber : BPS Kepulauan Riau
Grafik 1.28.
Perkembangan Kredit Konstuksi
Sumber : Laporan Bulanan Bank
Sumber : SEKDA - BI Grafik 1.30.
Perkembangan Volume Impor Utama Sektor Bangunan
Grafik 1.29.
Realisasi Pengadaan Semen di Kepulauan Riau
Sumber : Asosiasi Semen Indonesia
Grafik 1.32.
Perkembangan KPR Type >70m2 Grafik 1.31.
Perkembangan KPR Type <70m2
1.3.4. Sektor-sektor Lainnya
Nilai tambah perekonomian yang berasal dari sektor Pertambangan dan Penggalian terus membaik hingga mencatat tingkat kontraksi yang cukup rendah sebesar 0,33%.
Perbaikan kinerja sektor Pertambangan dipengaruhi oleh tingginya realisasi lifting minyak dari blok Belanak dimana pada bulan Oktober 2009 telah mencapai 12.948 ribu barel, atau 154% dari target lifting sebesar 8.395 ribu barel. Sebagai penghasil minyak utama yakni mencapai 65% dari total produksi minyak Kepulauan Riau, kontribusi yang dihasilkan lapangan minyak Belanak milik Conoco Philips sangat mempengaruhi nilai tambah perekonomian di sektor migas Kepulauan Riau.
Namun demikian, pencapaian lifting blok Belida yang juga dimiliki oleh Conoco Phillips, blok Kerapu milik Star Energy dan blok Anoa oleh Premier Oil belum cukup optimal, berkisar antara 50% – 65%. Di samping aspek produksi, naiknya kinerja sektor pertambangan di triwulan ini juga dipengaruhi oleh faktor kenaikan harga minyak di pasaran dunia.
Sementara di sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan, perlambatan dipicu oleh stagnasi kinerja perbankan regional selama triwulan berjalan. Langkah penurunan suku bunga kredit oleh 14 bank belum diikuti oleh peningkatan jumlah kredit akibat masih tingginya resiko di dunia usaha, terutama pada sektor industri pengolahan. Aktivitas industri yang belum sepenuhnya pulih masih berimplikasi negatif pada sektor industri pendukung yang menjadi target pembiayaan perbankan lokal. Selain itu, resiko pembiayaan pada kredit kendaraan juga relatif meningkat yang memicu kenaikan rasio kredit bermasalah (NPL’s).
Sumber : ESDM Dirjen Minyak dan Gas Bumi
Grafik 1.33.
Perkembangan Lifting Minyak & Gas Kepulauan Riau
Grafik 1.34.
Pencapaian Lifting Minyak berdasarkan Lokasi Lapangan Minyak di Kepulauan Riau
Sumber : ESDM Dirjen Minyak dan Gas Bumi
Grafik 1.38.
Pertumbuhan Kredit Sub-sektor Tanaman Pangan, Perikanan & Peternakan
Terakhir, akselerasi sektor Pertanian didukung oleh tingginya konsumsi masyarakat terhadap makanan termasuk daging-dagingan selama bulan Ramadhan dan menjelang Idul Fitri. Output sektor Pertanian pada triwulan III diestimasi meningkat 0,23% (yoy), sedangkan di triwulan sebelumnya tumbuh negatif 0,29%. Kenaikan output sebagian besar berasal dari sub sektor Tanaman Bahan Makanan serta sub sektor Peternakan dan Hasil-hasilnya. Di lain pihak, berakhirnya musim panen ikan memasuki musim utara berimplikasi negatif terhadap nilai tambah sektor perikanan, yang juga terefleksi pada pertumbuhan kredit sub-sektor perikanan yang melambat tajam.
Sumber : Laporan Bulanan Bank Grafik 1.36.
Perkembangan LDR dan NPL Perbankan di Kepulauan Riau
Grafik 1.35.
Pertumbuhan Aset, DPK & Kredit Perbankan Kepulauan Riau
Sumber : Laporan Bulanan Bank
Sumber : Laporan Bulanan Bank (BU+BPR) Grafik 1.37.
Produksi Padi, Jagung & Kacang Tanah
Sumber : BPS Kepulauan Riau
*Angka Tetap ; **Angka Ramalan
BAB 2
PERKEMBANGAN INFLASI REGIONAL
2.1 INFLASI KOTA BATAM
2.1.1. Kondisi Umum
Laju inflasi Kota Batam sampai dengan triwulan III 2009 jauh lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi ini selain dipicu oleh penurunan harga komoditas primer dan kelancaran supply barang kebutuhan pokok dari wilayah pemasok, juga dipengaruhi oleh faktor tingginya indeks harga pada periode yang sama tahun 2008. Sampai dengan triwulan III 2009, laju inflasi tahun kalender (ytd) Kota Batam sebesar 1,98%, sedangkan di tahun 2008 tercatat sebesar 7,76%. Sementara itu, tingkat inflasi headline mengalami sedikit kenaikan dari 2,52% (yoy) di triwulan II 2009 menjadi 2,57% (yoy) di periode laporan. Laju inflasi tahunan kota Batam tetap berada dibawah inflasi nasional yang tercatat sebesar 2,83%.
Grafik 2.1.
Perkembangan Laju Inflasi Tahunan Kota Batam & Nasional
2.1.2. Inflasi Triwulanan
Perkembangan harga di Kota Batam selama triwulan III diidentifikasi mengalami kenaikan harga (inflasi) sebesar 1,75% setelah pada triwulan sebelumnya mengalami penurunan harga (deflasi) sebesar 0,43% (qtq). Inflasi sepanjang triwulan laporan terutama dipengaruhi oleh kenaikan harga yang terjadi di bulan Agustus dan September dimana pada saat itu bertepatan dengan bulan suci Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Pada bulan Agustus
Sumber : BPS, diolah
Kota Batam mengalami kenaikan harga sebesar 0,33% (mtm) sedangkan kenaikan harga yang lebih tinggi terjadi di bulan September yang mengalami inflasi sebesar 1,27% (mtm).
Sementara itu kenaikan harga yang terjadi di Kota Batam pada bulan Juli relatif rendah dengan angka inflasi sebesar 0,15%. Inflasi pada bulan Juli banyak dipengaruhi oleh kenaikan harga biaya pendidikan menjelang pembukaan tahun ajaran baru sekolah.
Tabel 2.1.
Perkembangan Inflasi Triwulanan Kota Batam
KELOMPOK Triwulan II -2009 Triwulan III -2009
Inflasi Sumbangan Inflasi Sumbangan
I Bahan Makanan -1,93 -0,46 3,07 0,71
II Makanan Jadi, Minuman, Rokok & Tembakau 1,17 0,19 0,96 0,16 III Perumahan, Air, Listrik & Bahan Bakar 0,16 0,04 0,04 0,01
IV Sandang -3,56 -0,25 2,96 0,21
V Kesehatan 1,38 0,06 1,05 0,04
VI Pendidikan, Rekreasi & Olahraga 0,00 0 0,21 0,01
VII Transpor, Komunikasi & Jasa Keuangan -0,03 -0,01 0,67 0,13
INFLASI -0,43 1,75
Sumber : BPS Kota Batam
Berdasarkan kontribusinya, kelompok bahan makanan menjadi penyumbang inflasi terbesar di triwulan III 2009. Kelompok ini mengalami kenaikan harga sebesar 3,07% (qtq) dengan sumbangan terhadap inflsi yang terjadi secara umum sebesar 0,71% (qtq).
Selanjutnya diikuti oleh kenaikan harga (inflasi) kelompok sandang sebesar 2,96% (qtq) dengan kontribusi mencapai 0,21% (qtq). Saat bersamaan, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau memberi kontribusi inflasi sebesar 0,16% (qtq) dengan tingkat inflasi mencapai 0,96% (qtq), di samping kelompok kesehatan dengan kontribusi inflasi sebesar 0,04% (qtq) dan angka inflasi sebesar 1,05% (qtq).
2.1.3. Inflasi Berdasarkan Kelompok Barang
Secara umum, harga-harga di Kota Batam selama triwulan III 2009 mengalami kenaikan (inflasi) sebesar 1,75% (qtq), berbeda dengan triwulan sebelumnya yang mengalami deflasi sebesar 0,43% (qtq).
2.1.3.1. Bahan Makanan
Pada triwulan III 2009, kelompok bahan makanan di Kota Batam mengalami inflasi yang cukup tinggi yaitu sebesar 4,25% (qtq) dengan sumbangan inflasi sebesar 0,98% (qtq).
Sub kelompok yang mengalami kenaikan harga terbesar adalah sub kelompok bumbu- bumbuan dengan tingkat kenaikan harga sebesar 24,43%, dipengaruhi oleh tingginya inflasi yang terjadi pada bulan September 2009 mencapai 20,46% (mtm). Kenaikan harga yang terjadi pada kelompok ini dipengaruhi oleh peningkatan yang cukup tinggi saat Ramadhan dan Idul Fitri yang jatuh pada bulan tersebut.
Sedangkan sub kelompok daging melanjutkan trend penurunan harga sejak triwulan I 2009 hingga triwulan laporan. Sub kelompok daging pada triwulan III 2009 mengalami deflasi sebesar 2,87% (qtq). Sub kelompok lain yang mengalami penurunan harga adalah sub kelompok lemak dan minyak yang mengalami penurunan harga sebesar 2,91% (qtq).
penurunan yang terjadi pada dua sub kelompok tersebut dipengaruhi oleh supply daging untuk masyarakat Kota Batam yang lancar. Kebutuhan daging ayam masyarakat Kota Batam selain dipenuhi dari luar pulau Batam juga dipenuhi dari peternakan yang ada di Pulau Batam.
2.1.3.2. Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau
Kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau pada triwulan III 2009 mengalami inflasi sebesar 2,06% (qtq). Sumbangan inflasi terbesar diberikan oleh sub kelompok tembakau dan minuman beralkohol yang mencatat inflasi sebesar 3,66%.
Sedangkan sub kelompok minuman tidak beralkohol mengalami inflasi 3,19%, dan sub kelompok makanan jadi mengalami tingkat inflasi terendah sebesar 1,01%.
Grafik 2.2. Inflasi Kota Batam Berdasarkan Kelompok Barang
Sumber : BPS Kota Batam, diolah
2.1.3.3. Kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar
Kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar pada triwulan laporan mengalami kenaikan harga sebesar 0,06% (qtq). Inflasi tertinggi dialami oleh sub kelompok perlengkapan rumah tangga yang mengalami inflasi sebesar 2,63% (qtq) diikuti sub kelompok penyelenggaraan rumah tangga dengan tingkat inflasi 0,06% (qtq). Sub kelompok bahan bakar, penerangan dan air tidak mengalami kenaikan harga.
Sedangkan sub kelompok biaya tempat tinggal di triwulan ini mengalami penurunan tarif sebesar 0,1% (qtq), yang terjadi berlangsung terus menerus selama periode laporan.
Penurunan harga yang terjadi pada sub kelompok biaya tempat tinggal terkait dengan perkembangan penduduk Kota Batam yang relatif stagnan dengan kecenderungan menurun terkait dengan dampak krisis ekonomi global yang berimbas pada pengurangan karyawan di beberapa perusahaan di bidang industri pengolahan.
2.1.3.4. Kelompok Sandang
Kelompok sandang pada triwulan III 2009 ini mengalami inflasi sebesar 3,08% (qtq).
Kenaikan harga kelompok sandang ini dipengaruhi oleh peningkatan permintaan sandang terutama dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Fitri. Semua sub kelompok dalam kelompok sandang mengalami kenaikan harga. Kenaikan harga tertinggi dialami oleh sub kelompok sandang wanita yang mengalami kenaikan harga sebesar 5,49% (qtq). Sementara itu sub kelompok sandang laki-laki mengalami kenaikan harga sebesar 4,58% (qtq) diikuti oleh sub kelompok sandang anak-anak dengan angka inflasi sebesar 2,07% (qtq) dan sub kelompok barang pribadi dan sandang lain dengan angka inflasi sebesar 1,02% (qtq).
2.1.3.5. Kelompok Kesehatan
Kelompok kesehatan pada triwulan laporan mengalami inflasi sebesar 1,52% (qtq).
Sub kelompok jasa perawatan jasmani yang pada triwulan sebelumnya tidak mengalami kenaikan harga pada triwulan laporan mengalami kenaikan harga yang cukup tinggi yaitu sebesar 10,94% (qtq). Sedangkan sub kelompok jasa kesehatan mengalami kenaikan harga sebesar 1,8% (qtq) diikuti oleh sub kelompok obat-obatan dengan angka inflasi sebesar 0,81% dan sub kelompok perawatan jasmani dan kosmetik dengan angka inflasi sebesar 0,03% (qtq).
2.1.3.6. Kelompok Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga
Kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga pada triwulan III 2009 mengalami kenaikan harga sebesar 0,38% (qtq). Kenaikan harga kelompok ini dipengaruhi oleh
dimulainya tahun ajaran baru pada bulan Juli dan Agustus yang mengakibatkan tingginya permintaan untuk pendidikan dan kebutuhan lain seperti buku dan seragam sekolah.
Kenaikan harga tertinggi dialami sub kelompok perlengkapan sekolah yang mengalami inflasi sebesar 0,98% (qtq). Sehubungan dengan musim liburan sub kelompok rekreasi juga mengalami kenaikan harga dengan angka inflasi sebesar 0,59% (qtq).
2.1.3.7. Kelompok Transportasi, Komunikasi dan Jasa Keuangan
Setelah selama tiga triwulan berturut-turut mengalami penurunan harga (deflasi) yang dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah menurunkan BBM pada akhir tahun 2008, pada triwulan III 2009 kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan mengalami inflasi sebesar 0,64% (qtq). Sub kelompok yang mengalami kenaikan harga tertinggi adalah sub kelompok transportasi dengan angka inflasi sebesar 0,86% (qtq). Sedangkan sub kelompok jasa keuangan mengalami inflasi sebesar 0,52% (qtq) diikuti oleh sub kelompok sarana dan penunjang transportasi dengan angka inflasi sebesar 0,38% (qtq). Sementara itu sub kelompok komunikasi pada triwulan laporan tidak mengalami perubahan harga.
2.2 INFLASI KOTA TANJUNG PINANG
2.2.1. Kondisi Umum
Searah dengan trend inflasi nasional dan beberapa kota lainnya, laju inflasi Kota Tanjung Pinang selama triwulan III 2009 mengalami penurunan dibandingkan triwulan sebelumnya. Laju inflasi tahunan Kota Tanjung Pinang pada triwulan laporan tercatat sebesar 2,07%, menurun tajam dibanding triwulan II 2009 yang tercatat sebesar 4,13% (yoy). Tidak seperti triwulan sebelumnya, inflasi tahunan Kota Tanjung Pinang pada triwulan III 2009 tetap lebih rendah dibanding angka inflasi nasional yang tercatat sebesar 2,83% (yoy).
Grafik 2.3.
Laju Inflasi Tahunan Kota Tanjung Pinang dan Nasional
Sumber : BPS, diolah
Setelah mengalami inflasi yang cukup tinggi dalam beberapa periode akibat pengaruh economic of scale, pada triwulan laporan laju inflasi Kota Tanjung Pinang mulai menunjukkan trend penurunan dengan skala yang cukup rendah. Sejak peralihan ibukota Provinsi Kepulauan Riau dari Kota Batam ke Kota Tanjung Pinang, banyak terjadi pergerakan penduduk dan kegiatan ekonomi dari Kota Batam ke Kota Tanjung Pinang. Oleh karena itu, terjadi peningkatan permintaan terhadap kebutuhan pokok masyarakat baik untuk konsumsi maupun sebagai bahan baku distribusi. Setelah untuk beberapa periode terjadi over demand pada triwulan III 2009 penawaran sudah mulai mengalami peningkatan sehingga tingkat harga sudah mulai mengarah ke titik keseimbangan yang baru.
2.2.2. Inflasi Triwulanan
Setelah pada triwulan II 2009 mengalami penurunan harga (deflasi) pada triwulan laporan Kota Tanjung Pinang mengalami kenaikan harga dengan angka inflasi sebesar 1,28% (qtq). Kenaikan harga yang terjadi di triwulan III 2009 dipengaruhi oleh peningkatan permintaan yang terjadi pada saat Ramadhan dan Idul Fitri.
Tabel 2.2.
Perkembangan Inflasi Triwulanan Kota Tanjung Pinang
KELOMPOK Triwulan II -2009 Triwulan III -2009
Inflasi Sumbangan Inflasi Sumbangan
I Bahan Makanan -4,2 -1,14 2,88 0,75
II Makanan Jadi, Minuman, Rokok & Tembakau 2 0,45 1,43 0,32 III Perumahan, Air, Listrik & Bahan Bakar -0,07 -0,01 0,25 0,06
IV Sandang -2,04 -0,13 1,48 0,09
V Kesehatan 2,07 0,08 0,09 0
VI Pendidikan, Rekreasi & Olahraga 0,2 0,01 1,97 0,07
VII Transpor, Komunikasi & Jasa Keuangan 0,15 0,02 -0,06 -0,01
INFLASI -0,72 1,28
Sumber : BPS, diolah
Kelompok bahan makanan menjadi kelompok dengan sumbangan inflasi tertinggi dengan angka inflasi sebesar 2,88% (qtq) dengan sumbangan inflasi sebesar 0,75% (qtq).
Pada saat Ramadhan dan Idul Fitri permintaan masyarakat Kota Tanjung Pinang terhadap bahan makanan mengalami peningkatan yang cukup signifikan yang berakibat pada kenaikan harga. Kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau juga mengalami inflasi yang cukup tinggi yaitu sebesar 1,43% (qtq) dengan sumbangan inflasi sebesar 0,32%
(qtq). Peningkatan permintaan selama Ramadhan dan Idul Fitri juga berdampak pada kenaikan harga yang dialami oleh kelompok sandang yang mengalami inflasi sebesar 1,48%
(qtq) dengan sumbangan inflasi sebesar 0,09% (qtq).
Selain faktor Ramadhan dan Idul Fitri yang terjadi di bulan Agustus dan September, pada triwulan III 2009 juga bersamaan dengan dimulainya tahun ajaran baru. Oleh karena itu permintaan terhadap jasa pendidikan maupun perlengkapan sekolah mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Akibatnya kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga mengalami kenaikan harga yang cukup tinggi pada triwulan III 2009 yaitu sebesar 1,97% (qtq) dengan sumbangan inflasi sebesar 0,07% (qtq).
Sementara itu kelompok transportasi transportasi, komunikasi dan jasa keuangan pada triwulan III 2009 justru mengalami deflasi. Penurunan harga ini dipengaruhi oleh penurunan harga yang terjadi di sub kelompok transportasi dan komunikasi akibat semakin banyaknya supply di kedua bidang tersebut terkait dengan status baru Kota Tanjung Pinang sebagai ibukota Provinsi Kepulauan Riau.
2.2.3. Inflasi Berdasarkan Kelompok Barang 2.2.3.1. Bahan Makanan
Kelompok bahan makanan di Kota Tanjung Pinang pada triwulan III 2009 mengalami inflasi sebesar 2,88% (qtq). Inflasi tertinggi dialami oleh sub kelompok bumbu-bumbuan yang mengalami inflasi sebesar 20,99% (qtq) diikuti oleh sub kelompok ikan segar mengalami inflasi sebesar 10,91% (qtq). Sub kelompok daging juga mengalami kenaikan harga dengan angka inflasi sebesar 3,28% (qtq).
Sementara itu, sub kelompok sayur-sayuran justru mengalami penurunan harga sebesar 21,43% (qtq). Pada triwulan III 2009 sub kelompok sayur-sayuran terus mengalami penurunan harga selama tiga bulan. Penurunan harga sub kelompok sayur-sayuran ini dipengaruhi cuaca yang mendukung dalam proses distribusi sayur-sayuran ke Kota Tanjung Pinang. Sub kelompok lain yang mengalami deflasi adalah sub kelompok buah-buahan dengan angka deflasi sebesar 1,41%, (qtq).
2.2.3.2. Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau
Kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau mengalami kenaikan harga sebesar 1,43% (qtq). Inflasi tertinggi dialami oleh sub kelompok tembakau dan minuman beralkohol yang mencatat inflasi sebesar 4,16% diikuti sub kelompok minuman tidak beralkohol dengan tingkat inflasi sebesar 2,48% dan harga-harga pada sub kelompok makanan jadi yang meningkat sebesar 0,14%.
2.2.3.3. Kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar
Kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar pada triwulan laporan mengalami peningkatan harga sebesar 0,25% (qtq), dipengaruhi oleh peningkatan harga yang terjadi pada sub kelompok perlengkapan rumah tangga dengan angka inflasi sebesar 2,07% (qtq). Sementara itu sub kelompok penyelenggaraan rumah tangga dan sub kelompok biaya tempat tinggal mengalami kenaikan harga masing-masing dengan angka inflasi sebesar 0,33% (qtq) dan 0,17% (qtq). Sementara itu sub kelompok bahan bakar, penerangan dan air pada triwulan III 2009 tidak mengalami perubahan harga.
2.2.3.4. Kelompok Sandang
Pada triwulan III 2009 kelompok sandang mengalami inflasi sebesar 1,48% (qtq) yang dipengaruhi oleh kenaikan harga pada sub kelompok barang pribadi dan sandang lainnya yang mengalami inflasi sebesar 4,45% (qtq). Sementara itu sub kelompok sandang anak-anak mengalami inflasi sebesar 0,12% (qtq) diikuti oleh sub kelompok sandang laki-laik dan sub kelompok sandang wanita dengan angka inflasi masing-masing sebesar 0,11% (qtq) dan 0,095 (qtq).
2.2.3.5. Kelompok Kesehatan
Kelompok kesehatan pada triwulan laporan mengalami inflasi sebesar 0,09% (qtq) dipengaruhi oleh kenaikan harga yang terjadi pada sub kelompok obat-obatan. Sementara itu sub kelompok perawatan jasmani dan kosmetika justru mengalami deflasi sebesar 0,27%
(qtq). Sementara itu sub kelompok jasa kesehatan dan sub kelompok jasa perawatan jasmani tidak mengalami perubahan sepanjang triwulan III 2009.
2.2.3.6. Kelompok Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga
Tahun ajaran baru pendidikan yang dimulai bulan Juli dan Agustus berpengaruh pada peningkatan permintaan terhadap jasa pendidikan dan perlengkapan pendidikan.
Peningkatan permintaan tersebut berpengaruh pada kenaikan harga yang terjadi di triwulan III 2009. Kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga pada triwulan III 2009 mengalami kenaikan harga sebesar 1,97% (qtq). Kenaikan harga yang dialami oleh kelompok ini dipengaruhi oleh kenaikan harga yang dialami oleh sub kelompok jasa pendidikan dan sub kelompok perlengkapan pendidikan yang masing-masing mengalami kenaikan harga dengan angka inflasi sebesar 4,04% (qtq) dan 0,87% (qtq).
2.2.3.7. Kelompok Transportasi, Komunikasi dan Jasa Keuangan
Kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan pada triwulan III 2009 mengalami penurunan harga dengan angka deflasi sebesar 0,06% (qtq). Penurunan harga ini dipengaruhi oleh penurunan harga yang terjadi pada sub kelompok transportasi dan komunikasi yang mengalami penurunan harga dengan angka deflasi masing-masing sebesar 0,04% (qtq) dan 0,12% (qtq). Sebaliknya, sub kelompok jasa keuangan mengalami kenaikan harga dengan angka inflasi sebesar 0,71% (qtq). Sub kelompok sarana penunjang transportasi pada triwulan III 2009 tidak mengalami perubahan harga dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.
BAB 3
PERKEMBANGAN PERBANKAN REGIONAL
3.1 KONDISI UMUM
Perkembangan perbankan di wilayah provinsi Kepulauan Riau selama triwulan III 2009 mengalami peningkatan dibanding periode sebelumnya. Di satu pihak, pertumbuhan kredit secara triwulan lebih tinggi dibanding dengan total aset dan Dana Pihak Ketiga (DPK).
Namun di sisi lain, pertumbuhan tahunan indikator kredit perbankan tercatat lebih rendah dibanding pertumbuhan total aset dan DPK di posisi September 2009. Penurunan BI Rate terlihat mulai direspon bersamaan dengan semakin membaiknya ekspektasi kalangan Perbankan terhadap kondisi ekonomi secara umum.
Total asset perbankan di Provinsi Kepulauan Riau di triwulan III 2009 tercatat sebesar Rp22,62 triliun atau naik sekitar Rp1,31 triliun (6,16%) dibanding posisi akhir triwulan II 2009 yang tercatat sebesar Rp21,31 miliar. Secara tahunan total asset perbankan mengalami kenaikan Rp4,25 triliun (18,81%) dibanding posisi September 2008 yang tercatat sebesar Rp18,38 triliun. Sementara itu, total DPK yang dihimpun oleh perbankan juga mengalami peningkatan sebesar Rp514 miliar (2,97%) dibandingkan triwulan sebelumnya dan meningkat sebesar Rp2,82 triliun (18,81%) dibandingkan posisi triwulan III 2008, sehingga menjadi Rp17,83 triliun.
Grafik. 3.1.
Perkembangan Indikator Perbankan
Sumber : Bank Indonesia
Penyaluran kredit di Provinsi Kepulauan Riau pada triwulan III 2009 tercatat sebesar Rp12,23 triliun atau meningkat Rp837,05 miliar (7,35%) dibandingkan triwulan II 2009 yang tercatat sebesar Rp11,39 triliun. Sedangkan secara tahunan penyaluran kredit perbankan mengalami peningkatan sebesar Rp1,74 triliun (16,65%) dibandingkan posisi yang sama tahun sebelumnya. Hasilnya, tingkat LDR perbankan di triwulan III 2009 menjadi lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya, dari 65,76% menjadi 68,56%. Kondisi ini dapat dibaca sebagai salah satu bentuk optimisme perbankan terhadap prospek ekonomi Provinsi Kepulauan Riau ke depan.
3.2. KONDISI BANK UMUM
Setelah pada triwulan sebelumnya total asset dan DPK bank umum mengalami penurunan, pada triwulan III 2009, kedua indikator tersebut mengalami kenaikan. Kenaikan total asset dan DPK tersebut didukung oleh kinerja penyaluran kredit pada triwulan III yang juga mengalami pergerakan positif.
Jumlah jaringan kantor cabang bank umum di wilayah Provinsi Kepulauan Riau tercatat sebanyak 48 kantor cabang pada triwulan III 2009 atau mengalami pertambahan 1 kantor cabang dibandingkan triwulan sebelumnya yaitu Bank Syariah Mandiri Tanjung Pinang.
Grafik 3.2.
Perkembangan Total Asset, Kredit, DPK, dan LDR Bank Umum
Grafik 3.3.
Perkembangan Kredit dan NPL’s Bank Umum di Kepulauan Riau
Sumber : Bank Indonesia
Tabel 3.1.
Perkembangan Indikator Bank Umum
(juta rupiah)
Indikator
Periode
2008 2009
Tw.2 Tw.3 Tw.4 Tw.1 Tw.2
1. Jaringan BU 45 45 46 46 48
a. Batam 29 29 29 29 30
b. Tj. Pinang 13 13 14 14 15
c. Karimun 2 2 2 2 2
d. Natuna 1 1 1 1 1
2. Total Asset 16.709.890 17.600.675 19.898.329 20.242.439 21.348.919
a. Batam 12.319.472 12.891.294 14.478.579 14.578.187 15.515.182 b. Tj. Pinang 3.619.643 3.830.760 4.392.858 4.621.290 4.856.914
c. Dati II lain 770.775 878.621 1.026.892 1.042.962 976.906
3. Total DPK 14.071.918 14.446.343 16.332.781 16.601.580 16.890.612
a. Batam 9.873.065 9.966.579 11.249.163 11.245.003 11.441.182 b. Tj. Pinang 3.442.043 3.609.408 4.067.217 4.328.898 4.502.862
c. Dati II lain 756.810 870.356 1.016.401 1.027.679 946.568
4. Total Kredit 9.291.399 9.944.195 10.653.877 10.529.216 11.498.798
a. Batam 7.623.089 8.139.988 8.729.088 8.512.180 9.181.084
b. Tj. Pinang 1.319.883 1.423.511 1.539.970 1.622.192 1.844.085
c. Dati II lain 348.427 380.696 384.819 394.844 473.629
5. LDR (%) 66,03 68,84 65,23 63.42 68.08
a. Batam 77,21 81,67 77,6 77.73 80.25
b. Tj. Pinang 38,35 39,44 37,86 37.47 40.95
c. Karimun 41,65 39,89 38,41 38.32 44.27
d. Natuna 59,59 54,34 36,83 38.63 65.95
6. NPLs (%) 2,33 2,94 2,60 2.96 3.06
a. Batam 2,14 2,96 2,76 3.15 2.93
b. Tj. Pinang 3,21 2,64 2,04 2.44 4.21
c. Karimun 4,84 5,29 1,72 1.47 1.63
d. Natuna 0 0 0 0.04 0.18
Sumber : Bank Indonesia
3.2.1. Total Asset Bank Umum
Pada triwulan III 2009 total asset bank umum tercatat sebesar Rp21,35 triliun atau naik sebesar Rp1,16 triliun (5,74%) dibanding triwulan II 2009 yang tercatat sebesar Rp20,19 triliun. Secara tahunan terjadi peningkatan sebesar Rp3,74 triliun (21,30%) terhadap posisi September 2008.
Berdasarkan Dati II, aktivitas bank umum masih terkonsentrasi di Kota Batam, dengan total asset mencapai Rp15,51 triliun atau 72,67% dari seluruh total asset bank umum di provinsi Kepulauan Riau. Sedangkan total asset bank umum di Tanjung Pinang sebesar
Rp4,85 triliun dengan pangsa sekitar 22,75%. Sementara di wilayah lainnya yakni kabupaten Tanjung Balai Karimun, Natuna dan Tanjung Uban tercatat sebesar Rp976,91 miliar (4,57%).
Peningkatan total asset bank umum terjadi di semua dati II di Provinsi Kepulauan Riau. Total asset bank umum di Kota Batam mengalami peningkatan sebesar Rp806,23 miliar (5,48%) dibandingkan triwulan sebelumnya sehingga pada triwulan III 2009 tercatat sebesar Rp15,52 triliun. Secara tahunan, total asset bank umum di Kota Batam tercatat meningkat sebesar Rp2,62 triliun dibandingkan dengan posisi yang sama di tahun sebelumnya.
Total asset bank umum di Kota Tanjung Pinang pada triwulan III 2009 tercatat sebesar Rp4,86 triliun atau mengalami peningkatan sebesar Rp273,18 miliar (5,96%) dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Sedangkan secara tahunan peningkatan yang dialami oleh total asset bank umum di Kota Tanjung Pinang adalah sebesar Rp1,03 triliun (26,79%).
Sementara itu, total asset bank umum di Tanjung Uban, Tanjung Balai Karimun dan Natuna mulai mengalami peningkatan setelah pada triwulan sebelumnya sempat mengalami penurunan. Total asset bank umum di wilayah ini pada triwulan III 2009 meningkat sebesar Rp79,33 miliar (8,84%) dibandingkan triwulan II 2009 menjadi sebesar Rp976,91 miliar.
Sementara itu secara tahunan indikator total asset bank umum di Tanjung Uban, Tanjung Balai Karimun dan Natuna mengalami peningkatan sebesar Rp98,23 miliar (11,19%).
3.2.2. Dana Pihak Ketiga (DPK) Bank Umum
Secara triwulanan, jumlah dana masyarakat yang dihimpun bank umum pada posisi September 2009 mengalami peningkatan sebesar Rp386,35 miliar (2,34%) menjadi Rp16,89
Diagram 3.1.
Share Asset Bank Umum
Grafik 3.4.
Perkembangan Asset Bank Umum
Sumber : Bank Indonesia
triliun. Peningkatan tersebut sebagian besar disumbangkan oleh peningkatan simpanan dalam bentuk tabungan yang meningkat sebesar Rp150,79 miliar (2,49%) dibandingkan triwulan sebelumnya menjadi Rp6,21 triliun. Sementara itu simpanan dalam bentuk deposito meningkat sebesar Rp136,86 miliar terhadap triwulan II 2009 menjadi Rp3,99 triliun pada triwulan laporan. Simpanan dalam bentuk giro mengalami peningkatan sebesar Rp98,69 miliar menjadi sebesar Rp6,69 triliun dibandingkan dengan triwulan II 2009 yang tercatat sebesar Rp6,59 triliun.
Meskipun peningkatan yang dialami oleh simpanan dalam bentuk giro paling rendah, namun secara nominal porsi simpanan giro masih merupakan jenis simpanan terbesar (39,64%) diantara dua jenis simpanan lain dengan nilai nominal sebesar Rp6,69 triliun. Porsi simpanan jenis tabungan tercatat sebesar Rp6,21 triliun (36,74%). Sedangkan simpanan dalam bentuk deposito tercatat sebesar Rp3,99 triliun (23,62%). Dominasi sektor industri dan sektor perdagangan pada perekonomian Kota Batam turut mempengaruhi jenis transaksi perbankan di Provinsi Kepulauan Riau. Kebutuhan masyarakat akan dana likuid serta transaksi ekonomi yang membutuhkan waktu singkat menyebabkan simpanan berbentuk giro memiliki porsi terbesar terhadap total simpanan masyarakat di perbankan.
3.2.3. Kredit Bank Umum
Jumlah kredit yang disalurkan oleh bank umum di wilayah kerja Kantor Bank Indonesia Batam pada triwulan III 2009 tercatat sebesar Rp11,49 triliun atau naik Rp750,49 miliar (6,98%) dibandingkan triwulan sebelumnya. Peningkatan jumlah kredit yang lebih tinggi dibandingkan dengan peningkatan DPK berdampak pada kenaikan tingkat LDR (Loan to Deposit Ratio) bank umum di Provinsi Kepulauan Riau, dari 65,12% pada triwulan II 2009 menjadi 68,08% di triwulan laporan. Peningkatan kredit tersebut diikuti dengan peningkatan
Sumber : Bank Indonesia Grafik 3.5.
Perkembangan DPK Bank Umum
Diagram 3.2.
Share DPK Bank Umum
kredit bermasalah (NPLs) yang mengalami kenaikan dari 2,79% pada triwulan II 2009 menjadi 3,06% pada triwulan III 2009.
Berdasarkan jenis penggunaannya, kredit yang disalurkan di wilayah kerja KBI Batam sebagian besar digunakan untuk kredit konsumsi sebesar Rp4,77 triliun atau 41,46% dari total kredit yang diberikan. Sedangkan kredit untuk modal kerja dan investasi masing-masing sebesar Rp4,21 triliun (36,62%) dan Rp2,52 triliun (21,92%).
Kredit konsumsi di triwulan ini mengalami peningkatan sebesar Rp221,52 miliar (4,87%) terhadap triwulan II 2009, sedangkan secara tahunan meningkat Rp726,27 miliar (17,97%). Searah dengan itu, kredit untuk modal kerja juga meningkat secara triwulanan sebesar Rp449,89 miliar (11,96%), dimana pertumbuhan tahunannya mencapai 17,87%
atau naik sebesar Rp638,44 miliar. Sementara itu kredit investasi mengalami peningkatan sebesar Rp79,08 miliar (3,24%) terhadap triwulan II 2009, sedangkan secara tahunan mengalami kenaikan Rp189,90 miliar (8,15%).
3.2.4. Kredit UMKM Bank Umum
Penyaluran kredit UMKM bank umum selama triwulan III 2009 juga menunjukkan peningkatan. Jika pada triwulan II 2009 penyaluran kredit UMKM tercatat sebesar Rp5,81 triliun, pada triwulan III 2009 ini naik menjadi Rp5,98 triliun, atau tumbuh 3,10%. Secara tahunan, kredit UMKM mengalami peningkatan mencapai Rp405,33 miliar (7,26%).
Setelah mengalami peningkatan yang cukup tajam pada triwulan II 2009, share kredit UMKM terhadap total kredit kembali menunjukkan penurunan sebagaimana yang terjadi di
Grafik 3.6.
Perkembangan Kredit Jenis Penggunaan Bank Umum
Diagram 3.3.
Kredit Jenis Penggunaan Bank Umum
Sumber : Bank Indonesia
awal tahun 2009. Share kredit UMKM di posisi September 2009 tercatat sebesar 52,32%, menurut dibanding posisi Juni yang tercatat sebesar 54,05%. Peningkatan share kredit UMKM ini merupakan salah satu bentuk perhatian perbankan terhadap pengembangan bisnis berskala kecil dan mikro di wilayah Provinsi Kepulauan Riau.
3.3 BANK PERKREDITAN RAKYAT
Sebagai daerah yang memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi cukup tinggi dan pergerakan ekonomi yang cukup dinamis, Provinsi Kepulauan Riau menarik minat investor untuk menanamkan modalnya untuk diinvestasikan pada bisnis perbankan, khususnya BPR.
Adapun alasan investor tersebut memilih BPR karena bisnis BPR tidak terlalu membutuhkan modal besar dan proses pendiriannya tidak terlalu rumit.
Tabel 3.2.
Perkembangan Indikator BPR
(dalam jutaan rupiah)
KETERANGAN 2008 2009
Tw.3 Tw.4 Tw.1 Tw.2 Tw.3
TOTAL ASSET 776.379 918.784 1.086.223 1.120,17 1.274.141 TOTAL DANA 564.556 660.973 801.204 816,64 944.313 a. Tabungan 51.715 63.749 82.123 102,99 113.645 b. Deposito 512.841 597.224 719.079 713,65 830.668 TOTAL KREDIT 538.346 563.476 593.136 642,73 729.281 a. Investasi 50.540 52.551 54.784 61,32 68.975 b. Modal Kerja 128.903 128.638 134.479 143,82 178.359 c. Konsumsi 358.903 382.287 403.873 437,59 481.947
Sumber : Bank Indonesia
Grafik 3.7.
Perkembangan Kredit UMKM dan Share terhadap Total Kredit
Sumber : Bank Indonesia
Sampai dengan triwulan III 2009 jumlah kantor Bank Perkreditan Rakyat (BPR) tercatat ada 28 kantor BPR dan 3 (tiga) kantor cabang BPR atau terjadi penambahan 2 (dua) BPR yaitu BPR Mutiara Cemerlang Barelang dan BPR Global Mentari. Perkembangan BPR yang sudah beroperasi juga tergolong cukup baik yang ditunjukkan oleh kenaikan share beberapa indikator kinerja BPR terhadap perbankan di Provinsi Kepulauan Riau secara keseluruhan.
Dilihat dari total asset, share asset BPR terhadap total asset perbankan di Provinsi Kepulauan Riau mengalami peningkatan secara gradual tiap triwulan. Pada triwulan III 2009 terjadi peningkatan yang cukup tinggi. Jika pada triwulan II 2009 share asset BPR terhadap total asset perbankan di Provinsi Kepulauan Riau tercatat 5,26% maka pada triwulan III 2009 share total asset BPR Provinsi Kepulauan Riau terhadap perbankan provinsi Kepulauan Riau tercatat sebesar 5,63%. Peningkatan share ini disebabkan adanya penambahan 2 BPR baru sehingga memberikan masyarakat lebih banyak pilihan dalam memenuhi kebutuhan pembiayaan baik konsumsi, investasi maupun modal kerja, di samping fungsi utamanya dalam mendorong pertumbuhan sektor usaha kecil-menengah dan koperasi.
Di sisi pembiayaan, share kredit BPR terhadap total kredit perbankan di Provinsi Kepulauan Riau mengalami sedikit penurunan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.
Pada triwulan III 2009 share kredit BPR terhadap total kredit perbankan tercatat sebesar 5,96% sedikit lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 5,98%.
3.3.1. Total Asset Bank Perkreditan Rakyat
Total asset BPR yang berada di wilayah kerja Kantor Bank Indonesia Batam sampai dengan triwulan III 2009 terus melanjutkan trend peningkatan. Sampai dengan triwulan III 2009, total asset BPR mengalami peningkatan sebesar Rp153,97 miliar (13,75%) menjadi
Grafik 3.8.
Share Total Asset BPR terhadap Total Asset Perbankan
Grafik 3.9.
Share Kredit BPR terhadap Kredit Perbankan
Sumber : Bank Indonesia
sebesar Rp1,27 triliun dibanding triwulan II 2009 yang tercatat sebesar Rp1,12 triliun. Secara tahunan total asset BPR mengalami peningkatan sebesar Rp497,76 miliar (64,11%).
3.3.2. DPK Bank Perkreditan Rakyat
Sebagaimana indikator BPR yang lain, total dana yang berhasil dihimpun oleh BPR pada triwulan laporan meningkat dengan triwulan sebelumnya. Jika pada triwulan II 2009 total dana yang dihimpun BPR tercatat sebesar Rp816,64 miliar, maka pada triwulan III 2009 DPK BPR meningkat menjadi Rp944,31 miliar atau naik sebesar Rp127,67 miliar (15,63%).
Secara tahunan dana yang berhasil dihimpun oleh BPR mengalami peningkatan sebesar Rp379,76 miliar (67,27%). Sebagaimana karakteristik BPR, sebagian besar dana masyarakat yang dihimpun oleh BPR disimpan dalam bentuk deposito. Sedangkan simpanan dalam bentuk tabungan biasanya digunakan oleh nasabah untuk proses pencairan kredit. Dana simpanan dalam bentuk deposito yang dihimpun oleh BPR di Provinsi Kepulauan Riau tercatat sebesar Rp830,67 miliar atau 87,97% dari seluruh total DPK BPR. Sedangkan 12,03%
disimpan dalam bentuk tabungan sebesar Rp113,65 miliar.
Grafik 3.10.
Perkembangan Asset BPR
Sumber : Bank Indonesia
Grafik 3.11.
Perkembangan DPK BPR
Sumber : Bank Indonesia
Diagram 3.4.
Share DPK BPR
Dibandingkan posisi triwulan sebelumnya, simpanan dalam bentuk deposito selama triwulan laporan meningkat sebesar Rp117,01 miliar (16,40%), sedangkan simpanan dalam bentuk tabungan meningkat sebesar Rp10,66 miliar (10,35%). Ditinjau secara tahunan terdapat kenaikan yang lebih besar, dimana deposito tercatat meningkat Rp317,83 miliar (61,97%), dan tabungan mengalami pertumbuhan yang sangat tinggi mencapai Rp61,93 miliar atau tumbuh 119,75% dibanding periode yang sama tahun 2008. Peningkatan jumlah tabungan ini searah dengan peningkatan kredit karena rekening tabungan digunakan untuk menampung pencairan kredit yang dilakukan oleh BPR kepada nasabahnya.
3.3.3. Kredit Bank Perkreditan Rakyat
Searah dengan kredit bank umum yang meningkat, penyaluran kredit yang dilakukan oleh BPR selama periode triwulan III 2009 juga mengalami kenaikan, baik jika dibandingkan triwulan II 2009 maupun secara tahunan. Jumlah kredit yang disalurkan oleh 28 BPR yang beroperasi di wilayah Provinsi Kepulauan Riau posisi akhir triwulan III 2009 tercatat sebesar Rp729,28 miliar, bertambah Rp86,55 miliar (13,47%) dibandingkan triwulan sebelumnya atau naik sebesar Rp190,93 miliar (35,47%) dibandingkan triwulan III 2008.
Penyaluran kredit yang dilakukan oleh BPR di wilayah kerja KBI Batam sebagian besar digunakan untuk keperluan konsumsi. Kredit untuk konsumsi yang disalurkan BPR di wilayah kerja KBI Batam pada triwulan III 2009 tercatat sebesar Rp481,95 miliar atau 66,09% dari seluruh total kredit yang diberikan oleh BPR. Sementara kredit untuk modal kerja sebesar Rp178,36 miliar atau 24,46% dari seluruh total kredit yang diberikan oleh BPR. Sedangkan porsi kredit investasi hanya sebesar Rp68,98 miliar (9,46%).
Kredit konsumsi BPR di triwulan ini mengalami kenaikan sebesar Rp44,36 miliar (10,14%) dibanding triwulan II 2009 yang tercatat sebesar Rp437,59 miliar, sedangkan
Grafik 3.12.
Perkembangan DPK BPR
Diagram 3.5.
Share Kredit BPR
Sumber : Bank Indonesia
secara tahunan tercatat meningkat sebesar Rp123,04 miliar (34,28%). Sementara itu kredit modal kerja BPR secara triwulanan naik Rp34,54 miliar (24,02%) atau naik Rp49,46 miliar (38,37%) terhadap posisi yang sama tahun 2008. Adapun kredit investasi yang disalurkan oleh BPR mencatat penambahan sebesar Rp7,66 miliar (12,49%) dibandingkan triwulan II 2009, atau tumbuh sebesar Rp18,44 miliar (36,48%) terhadap posisi yang sama tahun sebelumnya.
Besarnya kredit BPR untuk keperluan konsumsi mencerminkan intermediasi yang dilakukan BPR terhadap dunia usaha masih belum optimal. Sebagian besar BPR di Provinsi Kepulauan Riau menyalurkan kredit untuk keperluan pembelian mobil dan beberapa untuk pembelian rumah atau ruko. Sedangkan porsi yang untuk kredit produktif terutama pemberdayaan UMKM masih kurang optimal. Kondisi ini menjadi perhatian penting mengingat sebagaimana diamanatkan oleh ketentuan bahwa keberadaan BPR adalah sebagai lembaga pembiayaan sektor-sektor produktif untuk UMKM dan Koperasi.
Sementara itu, NPLs kredit yang diberikan oleh BPR sampai dengan triwulan III 2009 relatif tetap dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Namun jika dibandingkan dengan posisi yang sama tahun sebelumnya, NPLs kredit BPR di Provinsi Kepulauan Riau mengalami penurunan. Jika pada triwulan III 2008 NPLs kredit BPR tercatat sebesar 1,84% makan pada triwulan III 2009 NPLs kredit BPR tercatat sebesar 1,48%.
Grafik 3.13.
Perkembangan Kredit dan NPLs BPR
Sumber : Bank Indonesia