BAB 7. PROSPEK PEREKONOMIAN DAERAH
7.1. Prospek Pertumbuhan Ekonomi
BAB 7
PROSPEK PEREKONOMIAN DAERAH
Pertumbuhan ekonomi Provinsi Sulawesi Tengah pada triwulan IV 2014 diperkirakan
sebesar 5% - 5,5% (yoy), atau lebih rendah dibandingkan dengan triwulan III-2014 sebesar 6,58% (yoy) maupun periode yang sama tahun sebelumnya 6,28% (yoy).
Dengan memperhitungkan kenaikan BBM sebesar Rp2.000/l, inflasi tahunan Kota
Palu pada triwulan IV 2014 diperkirakan mencapai 8,4%-8,9% (yoy) lebih tinggi dibandingkan inflasi triwulan III 2014 sebesar 5,5% (yoy) maupun periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 7,6% (yoy).
Secara tahunan pertumbuhan ekonomi Sulawesi Provinsi Sulawesi Tengah di tahun
2014 diperkirakan mencapai 4,4% - 4,9% (yoy), jauh melambat dibandingkan tahun 2013 yang mencapai 9,38% (yoy).
7.1. Prospek Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi Provinsi Sulawesi Tengah pada triwulan IV-2014 diperkirakan tumbuh sebesar 5% - 5,5% (yoy), atau lebih rendah dibandingkan dengan triwulan III-2014 sebesar 6,58% (yoy) maupun periode yang sama tahun sebelumnya 6,28% (yoy). Secara tahunan pertumbuhan ekonomi Provinsi Sulawesi Tengah di tahun 2014 diperkirakan mencapai 4,4% - 4,9% (yoy), jauh melambat dibandingkan tahun 2013 yang mencapai 9,38% (yoy).
Grafik 7.1. Perkembangan Indeks Tendensi Konsumen Grafik 7.2. Perkembangan Indeks Ekonomi Saat Ini 90 95 100 105 110 115 120 125 I II III IV 2014 Perkiraan pendapatan rumah tangga mendatang Rencana pembelian barang-barang tahan lama Indeks Tendensi Konsumen
Indeks
Sumber : BPS Prov. Sulteng
60 80 100 120 140 160 180 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 2012 2013 2014
Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) Ketepatan waktu pembelian barang tahan lama Penghasilan saat ini Ketersediaan lapangan kerja
Indeks
Optimis Pesimis
74 Perkiraan lebih rendahnya pertumbuhan ekonomi triwulan IV dibandingkan triwulan III didukung Indeks Tendensi Konsumen yang dikeluarkan BPS. Indeks Tendensi Konsumen di triwulan IV 2014 diperkirakan mengalami penurunan yang ditopang oleh penurunan pada indeks perkiraan pendapatan rumah tangga mendatang. Faktor ekspektasi kebijakan kenaikan BBM yang akan dilakukan pemerintah sebelum tahun 2015 memicu terjadinya peningkatan harga berbagai barang dan jasa yang pada gilirannya dapat menurunkan pendapatan masyarakat.
Konsumsi Rumah Tangga diperkirakan tumbuh positif namun dalam level terbatas. Faktor yang mendorong pertumbuhan tingkat konsumsi adalah adanya perayaan Natal dan Tahun Baru serta puncak realisasi berbagai proyek pemerintah di triwulan IV 2014 . Namun disisi lain, adanya kebijakan pemerintah yang menaikkan BBM dapat berdampak pada meningkatnya harga berbagai barang dan jasa yang berpotensi mengurangi tingkat konsumsi masyarakat. Konsumsi pemerintah pada triwulan IV 2014 diperkirakan tumbuh tinggi seiring dengan siklus puncak realisasi berbagai proyek APBD dan APBN. Di sektor perbankan, kebijakan moneter yang kontraktif diperkirakan memberikan perlambatan di sisi penyaluran kredit. Di triwulan III 2014, pertumbuhan kredit perbankan di Sulteng sebesar 14,82%, lebih rendah dari tw II 2014 16,81 (yoy) atau periode yang sama tahun sebelumnya 27,86% (yoy). Tren perlambatan ini diperkirakan terus berlanjut hingga akhir tahun 2014.
Grafik 7.3. Perkembangan BI Rate dan Suku Bunga Kredit Bank Umum di Sulawesi Tengah
14,54 15,62 11,62 7,5 5 7 9 11 13 15 17 19 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 2012 2013 2014
SUKU BUNGA TERTIMBANG MODAL KERJA SUKU BUNGA TERTIMBANG INVESTASI SUKU BUNGA TERTIMBANG KONSUMSI BI Rate
%
Sumber : Bank Indonesia
Kinerja ekspor pada triwulan IV 2014 diperkirakan masih mengalami kontraksi dalam. Ekspor Sulawesi Tengah yang didominasi oleh ekspor bahan tambang menghadapi tantangan berupa penerbitan Peraturan Pemerintah No. I/2014 tentang Implementasi Larangan Ekspor Mineral Mentah yang merupakan revisi PP No. 23/2010
75 dan menjadi dasar pelaksanaan UU no.4/2009 tentang mineral dan batu bara. Berdasarkan data terbaru yang dirilis BPS dan Bank Indonesia diperoleh informasi bahwa nominal ekspor tambang Provinsi Sulawesi Tengah dari bulan Januari hingga September tercatat nihil (nol). Kondisi ini diperkirakan berlanjut hingga akhir tahun 2014 akibat belum adanya penyelesaian smelter hingga akhir tahun 2014. Akibatnya selama tahun 2014 sektor pertambangan akan memberikan andil negatif pada pertumbuhan ekonomi secara agregat. Di sisi lain produksi kakao diperkirakan masih belum mengalami trend pertumbuhan positif seiring dengan menurunnya produksi kakao di berbagai daerah dan belum teratasinya permasalahan hama serta perubahan pemanfaatan lahan ke komoditas lain yang lebih menguntungkan seperti padi dan kelapa sawit.
Kinerja investasi di triwulan IV 2014 diperkirakan melanjutkan tren pertumbuhan tinggi seperti pada triwulan sebelumnya. Kinerja PMA terutama ditopang oleh realisasi investasi yang dilakukan oleh perusahaan beberapa industri pengolahan besar. Di triwulan III-2014, beberapa proyek besar di Kabupaten Banggai dan Kabupaten Morowali masih terus berjalan. Berdasarkan liaison yang dilakukan KPw BI Provinsi Sulawesi Tengah ke perusahaan besar di Kabupaten Banggai, diperoleh informasi bahwa pembangunan perekayasaan, pengadaan dan konstruksi perusahaan tersebut telah mencapai 99% per awal triwulan IV 2014. Saat ini perusahaan sedang berfokus pada persiapan pengoperasian kilang. Selain itu seluruh komponen kilang seperti main heat exchanger dan LNG storage tank telah terpasang.
Disamping itu berbagai proyek investasi yang terus berlanjut di Kota Palu seperti proyek pembangunan pusat perbelanjaan, persiapan infrastruktur Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) serta berbagai proyek properti rumah, ruko dan perkantoran menjadi faktor pendorong kinerja investasi bangunan. Di sisi lain, puncak realisasi APBD dan APBN di triwulan IV 2014 memberikan efek positif pada kinerja investasi Sulawesi Tengah. Di tahun 2014 tren investasi diperkirakan tetap tinggi seiring dengan masih besarnya arus investasi dari luar daerah ke dalam Provinsi Sulawesi Tengah, upaya perbaikan iklim investasi yang dilakukan oleh pemerintah serta perbaikan dan peningkatan infrastruktur di berbagai daerah seperti listrik, jalan, bandara dan pelabuhan.
Hasil Survei Konsumen bulan Oktober 2014 menunjukkan indeks keyakinan konsumen dan indeks ekspektasi konsumen dalam area pesimis dengan tren menurun. Faktor rencana kenaikan BBM yang akan dilakukan pemerintah di triwulan IV 2014 menjadi faktor menurunnya pendapatan dan optimisme masyarakat.
76 Grafik 7.4. Perkembangan Indeks Keyakinan
Konsumen
Grafik 7.5. Perkembangan Ekspektasi Konsumen
80 100 120 140 160 180 200 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 2012 2013 2014
Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) Ekspektasi Konsumen (IEK)
I Indeks Optimis Pesimis 90 110 130 150 170 190 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 2012 2013 2014 Indeks
Ekspektasi Konsumen (IEK) Ekspektasi Kegiatan Usaha Ekspektasi Ketersediaan Lapangan Kerja Ekspektasi Penghasilan
Optimis Pesimis
Kebijakan larangan ekspor tambang dalam bentuk mentah memberikan perubahan yang besar dalam struktur PDRB Sulawesi Tengah. Di triwulan IV 2014, sektor pertambangan diperkirakan melanjutkan tren kontraksi yang dalam seperti halnya yang terjadi pada triwulan I, II dan III 2014. Di triwulan II dan III 2014, sektor pertambangan mengalami kontraksi secara tahunan masing-masing sebesar -49,64% (yoy) dan -33,10% (yoy). Kondisi serupa diperkirakan akan terjadi di triwulan IV 2014 akibat belum adanya realisasi penyelesaian smelter hingga akhir tahun. Pembangunan smelter di Morowali saat ini masih berjalan progresif. Pada tanggal 2 Mei 2014, Wakil Gubernur Provinsi Sulawesi Tengah melakukan peletakan batu pertama pembangunan smelter tahap II pabrik pengolahan nikel menjadi ferronikel. Smelter tahap II tersebut nantinya akan memiliki kapasitas sebesar 600.000 ton per tahun. Untuk tahap I, perusahaan masih melakukan pembangunan dengan rencana kapasitas sebesar 300.000 ton/tahun. Diperkirakan pada Triwulan II 2015 smelter tahap I tersebut dapat beroperasi.
Pertumbuhan sektor pertanian yang memiliki pangsa PDRB terbesar di Sulawesi Tengah diperkirakan tumbuh positif. Kinerja subsektor tabama ditopang oleh panen raya pada bulan Oktober 2014. Kinerja sektor perkebunan diperkirakan tumbuh melambat seiring dengan masih rendahnya produksi dan ekspor kakao. Produksi kakao di Sulawesi Tengah diperkirakan melanjutkan tren negatif akibat banyaknya pohon kakao yang telah tua dan rusak serta serangan hama yang masih terjadi di berbagai sentra produksi. Ekspor kakao Sulteng saat ini mengalami pergeseran dari sebelumnya berfokus pada ekspor luar negeri dengan negara tujuan Malaysia dan Hongkong menjadi fokus pada pasar dalam negeri seiring dengan pembangunan pabrik pengolahan biji kakao di dalam negeri. Di sisi lain subsektor perikanan diperkirakan melanjutkan tren pertumbuhan