Suzie Darmawati
PROTEKSI RADIASI TERPADU
Dalam perkembangan lebih lanjut disadari bahwa proteksi radiasi manusia tidak dapat dipisahkan dari proteksi radiasi lingkungan, karena sebenarnya keduanya merupakan komponen penghuni bumi yang bergantung satu sama lain. Untuk itu, sambil terus mengembangkan sistem proteksi radiasi lingkungan, para ahli juga mulai mengembangkan suatu sistem proteksi radiasi terpadu yang menggabungkan kedua sistem proteksi radiasi manusia dan lingkungan ini.
Sistem proteksi radiasi terpadu pertama kali diusulkan oleh Penreath [9]. Menurut Penreath, tujuan proteksi radiasi terpadu adalah menjaga kesehatan manusia dengan mencegah terjadinya efek deterministik dan membatasi efek stokastik pada individu dan meminimalkannya pada populasi, serta menjaga lingkungan dengan mencegah atau mengurangi frekuensi efek yang mungkin dapat
67 menyebabkan terjadinya kematian awal atau mengurangi keberhasilan reproduksi pada individu fauna dan flora tanpa memberikan dampak pada pelestarian spesies, pemeliharaan keragaman hayati, atau kesehatan dan status ekosistem.
Sistem proteksi radiologik terpadu secara umum dengan demikian harus mengembangkan sistem proteksi radiologik lingkungan dengan metodologi dan dasar ilmiah yang sama dengan sistem proteksi radiologik manusia. Pendekatan dalam sistem proteksi radiologik terpadu ini dapat dilihat pada Gambar 2 [8].
Seperti terlihat pada Gambar 2, untuk semua sumber pajanan radiasi, pengkajian pajanan dan evaluasi pajanan pada manusia dan biota diawali dengan tingkat konsentrasi radiasi di lingkungan. Pajanan masing-masing dihitung untuk manusia acuan dan hewan dan tanaman acuan. Keputusan yang akan diambil terkait pajanan manusia ditentukan oleh perbandingannya dengan nilai batas dosis dan penghambat dosis untuk situasi pajanan terencana dan yang ada, dan dengan tingkat acuan untuk situasi pajanan kedaruratan. Sedang pajanan pada biota dapat dievaluasi dengan membandingkannya dengan DCRL, dengan mempertimbangkan kondisi spesifik situasi pajanan.
Dalam kaitan di atas, situasi pajanan terencana adalah situasi pajanan yang melibatkan penggunaan sumber radiasi dengan sengaja, situasi pajanan yang ada adalah situasi pajanan yang melibatkan pajanan berkepanjangan setelah terjadinya kecelakaan, sementara situasi pajanan kedaruratan adalah situasi pajanan yang memerlukan tindakan segera untuk menghindari atau mengurangi konsekuensi yang tidak diinginkan [7].
Gambar 2. Skema untuk pengkajian dan evaluasi pajanan pada manusia dan biota
Jika lepasan radiasi ke lingkungan yang dapat menimbulkan pajanan pada manusia masih memenuhi nilai batas dosis, pada umumnya tidak ada risiko pajanan bagi biota yang ada di lokasi yang sama. Namun demikian, jika pajanan pada biota terjadi pada daerah yang tidak ada populasi manusianya, tidak berarti dampak radiologik pada biota ini dapat diisolasi. Di dunia yang memiliki hampir tujuh milyar manusia ini, lingkungan yang tidak berpopulasi akan selalu menjadi bagian dari habitat manusia – atau akan menjadi bagian habitat manusia dalam waktu mendatang, sehingga tetap harus diperhitungkan sebagai sumber aktual atau potensi sumber bagi pajanan manusia.
68
KESIMPULAN
Proteksi radiasi lingkungan merupakan topik yang masih akan terus dibahas karena pengetahuan mengenai efek radiasi pada spesies non-manusia masih sangat terbatas. Untuk mendukung pengembangannya maka pada tahun-tahun terakhir ini telah dikembangkan metodologi untuk memperkirakan pajanan pada hewan dan tanaman dan mengevaluasi pajanan tersebut dalam kaitannya dengan efek yang dapat terjadi. Tingkat Acuan Tertimbang Turunan (DCRL) yang diusulkan ICRP merupakan salah satu dasar untuk dapat mengevaluasi lebih rinci terhadap situasi yang terjadi sekiranya dosis tersebut dicapai.
Selain itu, perkembangan terakhir menunjukkan perlunya disusun suatu sistem proteksi radiasi terpadu yang menggabungkan sistem proteksi radiasi manusia dengan sistem proteksi radiasi lingkungan, mengingat saat ini dipandang tidak ada lagi bagian bumi yang lingkungannya terisolasi dari populasi manusia.
DAFTAR PUSTAKA
[1]. ICRP. Recommendations of the International Commission on Radiological Protection. Publication 26. Annals of the ICRP Vol.1 No.3. Pergamon Press, Oxford (1977).
[2]. ICRP. Recommendations of the International Commission on Radiological Protection. Publication 60. Annals of the ICRP Vol.21 No.1-3. Pergamon Press, Oxford (1991).
[3]. ICRP. A Framework for Assessing the Impact of Ionizing Radiation on Non-human Species. Publication 91. Annals of the ICRP Vol.33 No.3. Pergamon Press, Oxford (2003).
[4]. OECD/NEA. Radiological Protection of the Environment. ISBN 92-64-18497-X. OECD, Paris (2003).
[5]. Konvensi PBB tentang Hukum Laut.
[6]. ICRP. Environmental Protection: The Concept and Use of Reference Animals and Plants. Publication 108. Annals of the ICRP Vol.38 No.4-6. Pergamon Press, Oxford (2008).
[7]. ICRP. The 2007 Recommendations of the International Commission on Radiological Protection. Publication 103. Annals of the ICRP Vol.27 No.2-4. Pergamon Press, Oxford (2007).
[8]. Gerhard, P., et.al, The Activities of The IAEA in Developing Standards on Radiological Protection of The Environment, Proc. Third European IRPA Congress, June 14-16 2010, Helsinki, Finland. [9]. Penreath, J., Radiation Protection of People and The Environment: Developing a common
Pedoman Penulisan Naskah
Redaksi Jurnal Teknologi Pengelolaan Limbah menerima naskah/makalah karya tulis ilmiah dari kegiatan penelitian dan pengembangan di bidang pengelolaan limbah yang meliputi aspek-aspek pengolahan limbah, penyimpanan limbah, dekontaminasi-dekomisioning, keselamatan lingkungan dan radioekologi kelautan untuk penerbitan pada bulan Juni dan Desember setiap tahun.
Ketentuan penulisan naskah :
1. Naskah asli yang belum pernah dipublikasikan berupa karya tulis ilmiah dari hasil penelitian, survei, pengkajian atau studi literatur.
2. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris dengan format: menggunakan kertas A4, 1 kolom dengan margin atas, bawah, kiri dan kanan masing-masing 3 cm (1,18”). Gunakan jenis huruf “Arial” ukuran 9. Jumlah halaman naskah termasuk gambar dan tabel maksimal 20 halaman,
3. Sistematika penulisan meliputi JUDUL, ABSTRAK, KATA KUNCI, PENDAHULUAN, TATA KERJA, HASIL DAN PEMBAHASAN, KESIMPULAN, UCAPAN TERIMA KASIH (bila ada), DAFTAR PUSTAKA. Untuk makalah pengkajian dan perancangan dapat menyesuaikan.
4. Judul tulisan menggunakan huruf Kapital, bold, font 14. Nama penulis dicantumkan tanpa gelar, bold, font 11, sedangkan alamat penulis berupa Nama Unit Kerja, Instansi dan alamat Instansi.
5. Abstrak tidak melebihi 250 kata, dengan spasi 1, font 9 dan Judul tulisan dicantumkan kembali di dalam abstrak sebagai kalimat pertama. Abstrak berbahasa Inggris ditulis dalam format Italic.
6. Bab dan Sub-bab dalam tulisan tidak bernomor tapi dibedakan dengan huruf besar dan huruf kecil, bold, font 9 7. Penulisan “Tabel” dan “Gambar” dibelakangnya diserta dengan angka Arab dan penjelasannya. Contohnya:
i) . Tabel 1. Hasil Analisis X-RF ……… (ditulis di atas Tabel) ii) . Gambar 2. Kurva Kesetimbangan ………. (ditulis di bawah Gambar)
8. Pustaka yang dikutip dalam teks diberi nomor angka Arab di belakangnya sesuai dengan urutan pemunculan dalam Daftar Pustaka. Contoh: Standar IAEA memberi arahan bahwa kegiatan siting umumnya dilaksanakan melalui 4 tahapan utama [3],...
9. Penulisan Daftar Pustaka menggunakan format sebagai berikut:
Buku referensi :
[1] Akhmediev, M. and Ankiewicz, Y.: A Solution, Nonlinear Pulses and Beams, Chapman & Hall, London (1997).
Artikel yang terdapat dalam buku referensi:
[2] Dean, R.G.: Freak waves: A Possible Explanation, in Water Wave Kinetics, Editor: Torum, A and Gudmestad, O.T., Kluwer, Amsterdam, 609 – 612, (1990).
Artikel dari jurnal :
[3] Choppin, G.R.: The Role of Natural Organics in Radionuclide Migration in Natural Aquifer Systems, Radiochim. Acta 58/59, 113, (1992)
Artikel dalam proceeding
[4] Chung, F., Erdös, P., Graham , R.: On Sparse Sets Hitting Linear Forms, Proc. of the Number Theory for the Millennium, I, Urbana, IL, USA, 57 – 72, (2000).
10. Dewan Redaksi berhak untuk menolak suatu tulisan yang dianggap tidak memenuhi syarat. 11. Dewan Redaksi dapat mengedit naskah tanpa mengurangi makna.
12. Isi tulisan sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis.
13. Naskah diserahkan dalam bentuk cetakan 2 rangkap disertai compact disk (CD) berisi file naskah dalam format MS Word.