• Tidak ada hasil yang ditemukan

Survei Wilayah

Dalam dokumen JURNAL TEKNOLOGI PENGELOLAAN LIMBAH (Halaman 44-48)

Budi Setiawan

TAHAPAN-TAHAPAN PENENTUAN TAPAK 1. Pembuatan Konsep dan Perencanaan

2. Survei Wilayah

Mempunyai tujuan untuk mengidentifikasi satu atau lebih lokasi yang dianggap potensial untuk disposal limbah radioaktif, dimana kegiatan penapisan terhadap suatu wilayah yang dimungkinkan harus dilakukan secara sistematis yang nantinya akan menghasilkan wilayah potensial. Pada tahapan ini perlu pertimbangan hal-hal yang berkaitan dengan perekayasaan, operasional, sosioekonomi dan lingkungan.

Tahap survei wilayah mencakup 2 fase kegiatan, yaitu pemetaan wilayah untuk mengidentifikasi wilayah yang diperkirakan cocok sebagai lokasi-lokasi disposal yang potensial, dan proses penapisan untuk menseleksi lokasi-lokasi yang potensial untuk tahap evaluasi selanjutnya.

Pada kegiatan ini akan dilakukan pemetaan wilayah, dimana kegiatan pengumpulan dan evaluasi data sekunder dari wilayah-wilayah memungkinkan (terutama yang berbasis lempung) yang ada di pulau Jawa dilakukan, termasuk data dari wilayah-wilayah yang telah ditunjuk sebelumnya. Wilayah-wilayah yang dimungkinkan ini kemudian diadakan kegiatan observasi secara visual ke lapangan untuk dilakukan cross-check dengan hasil pekerjaan desk-top study. Data yang bersifat geologis dan non-geologis yang diperoleh dari kegiatan survei lapangan kemudian di kumpulkan dan diklasifikasikan sesuai dengan parameter tertentu untuk dievaluasi dengan kriteria penolak sehingga akan diperoleh wilayah-wilayah yang tertolak dan yang diterima. Untuk wilayah-wilayah yang dapat diterima selanjutnya disebut sebagai wilayah potensial.

39

Gambar 2. Proses penapisan suatu wilayah yang dikenali untuk pulau Jawa

40

diinginkan, kemudahan petunjuk pelaksanaan dan ketersediaan data wilayah/lokasi. Adanya persyaratan, peraturan dan petunjuk yang khusus harus pula dipertimbangkan dan digunakan dalam parameter pemetaan wilayah yang cocok untuk suatu fasilitas disposal limbah radioaktif. Secara sederhana, pemetaan wilayah dimulai dari suatu wilayah yang luas yang mempunyai kondisi geologi, struktur, hidrologi, geohidrologi dan cuaca yang favourable yang ada di wilayah tersebut, dan pada kegiatan selanjutnya kondisi yang diinginkan dikerucutkan menjadi wilayah yang lebih sempit dan akhirnya menjadi suatu wilayah yang lebih cocok untuk keperluan fasilitas disposal.

Beberapa wilayah-wilayah potensial yang diperoleh pada tahap ini kemudian ditapis kembali dengan menggunakan kriteria penolak dengan cakupan wilayah dan standar harga/nilai yang lebih detil, hasil yang diperoleh kemudian dibandingkan satu dengan lainnya berdasarkan data/identifikasi wilayah yang didapat saat survei ke lapangan. Penilaian evaluasi dengan cara pembandingan diperoleh setelah kriteria yang diperoleh diberi bobot dari nilai terjelek sampai terbaik dengan rentang nilai yang disesuaikan dengan rentang bobot yang diinginkan. Hasil penjumlahan dari nilai yang diperoleh kemudian diurutkan menjadi tapak potensial. Disini ada sejumlah wilayah dan lokasi yang tersisih dari evaluasi, daerah yang diterima atau lolos dari tahap penapisan ini disebut sebagai tapak potensial. Tapak potensial diperoleh dari hasil kerja identifikasi diantara lokasi-lokasi yang berada pada wilayah yang bersesuaian.

Dari hasil perolehan tapak potensial kemudian dipilih beberapa lokasi terpilih (tergantung berapa lokasi terpilih yang akan diusulkan, biasanya < 5 lokasi). Lokasi terpilih merupakan hasil seleksi lanjutan dari tapak potensial dengan menggunakan standar pembanding yang lebih detil yang dapat mencerminkan adanya akibat timbal balik antara rona/informasi antara yang berada diluar dan didalam lokasi yang diselidiki, yang dapat berpengaruh dan mempengaruhi terhadap lokasi-lokasi yang diusulkan sebagai tempat fasilitas disposal. Dengan meggunakan cara yang seperti ini, proses penapisan akan menghasilkan identifikasi (calon) lokasi terpilih yang kemudian akan diuji dalam tahapan selanjutnya yaitu karakterisasi tapak.

Kondisi aktual dari desk-top study wilayah berbasis lempung yang ada di pulau Jawa telah diperoleh 9 wilayah potensial yang ada di Banten (Serang, Serpong), di Jawa Barat (Karawang, Subang, Sumedang dan sekitarnya), di Jawa Tengah (Jepara dan Rembang) dan di Jawa Timur (Tuban dan Madura) [29] setelah dilakukan penapisan wilayah diperoleh 6 wilayah potensial yaitu wilayah di kabupaten Serang, Serpong, Sumedang, Jepara, Rembang dan Tuban [30]. Wilayah potensial dengan tapak-tapak potensial inilah yang terus didalami untuk nantinya akan diperoleh beberapa tapak potensial dan akhirnya menjadi tapak terpilih.

KESIMPULAN

Introduksi PLTN pertama di Indonesia akan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap masalah keselamatan lingkungan, seperti misalnya program disposal. Dengan mengadopsi prosedur penyiapan tapak IAEA, hasil review dari beberapa negara dan peraturan nasional yang ada, secara internal persiapan program penyiapan tapak untuk disposal limbah radioaktif terus didiskusikan secara intensif. Kegiatan penyiapan tapak yang sedang dilakukan juga dimaksudkan untuk melengkapi kegiatan-kegiatan penyiapan tapak terdahulu. Dengan mempertimbangkan kondisi lokal pulau Jawa maka batuan lempung dipertimbangkan sebagai host rock untuk fasilitas disposal limbah, dan beberapa informasi yang berkaitan dengan wilayah potensial yang ada di pulau Jawa terus dikumpulkan dan dievaluasi secara hati-hati untuk mendapatkan lokasi potensial. Dengan mengikuti prosedur penyiapan tapak akan di evaluasi beberapa area potensial kemudian untuk memperoleh lokasi-lokasi yang potensial yang akhirnya menjadi lokasi-lokasi terpilih.

DAFTAR PUSTAKA

[1]. Muziyawati, A., Data Hasil Pengolahan Limbah Padat Tahun 2007-2010, PTLR - BATAN, Tidak dipublikasi (2010)

[2]. ITB, Preliminary Site Investigation for Radioactive Waste Repositories (Masalembu Islands), ITB-Bandung 1989

[3]. ITB, Preliminary Survey at Genting and Parang Islands for The location of Radioactive Waste Repository, ITB-Bandung 1990

[4]. Sucipta, Evaluasi Pendahuluan Geologi Lingkungan Untuk Calon Lokasi Penyimpanan Limbah Radioaktif PLTN Daerah Muria Bagian Utara, Pros. Seminar Teknol. dan Keselamatan PLTN, PPTKR/PRSG-BATAN, Serpong, DBBL2-1 (1995).

41

[5]. Sucipta, Pemilihan Tapak Penyimpanan Limbah Radioaktif di Kawasan PUSPIPTEK Serpong, J.Teknol. Pengelolaan Limbah Vol.9(2), p.28 (Des. 2006)

[6]. IAEA, Classification of Radioactive Waste, Safety Standards Series GSG-1, IAEA-Vienna (2009) [7]. IAEA, Near Surface Disposal of Radioactive Wastes, Safety Series No. 111-S.3, IAEA, Vienna,

(1994)

[8]. IAEA, Siting of Near Surface Disposal Facilities, Safety Series No. 111-G-3.1, IAEA-Vienna (1994) [9]. IAEA, , Site Investigations for Repositories for Solid Radioactive Wastes in Shallow Ground

Technical Reports Series No. 216, IAEA, Vienna, (1982)

[10]. IAEA, Design, Construction Operation and Closure of Near Surface Repositories, Safety Series No. 111-G-3.2, IAEA-Vienna (1994)

[11]. Schaller, A., Site Selection of Low And Intermediate Level Radioactive Waste Repository In The Republic of Croatia, APO - Hazardous Waste Management Agency, Zagreb-Croatia (1996) [12]. Dept. of Primary Industries and Energy, A Radioactive Waste Repository For Australia Site

Selection Study-Phase 3, Reg. Assess., A Public Discussion Paper, Canberra-Australia (1997) [13]. Peraturan Kepala BAPETEN No. 03/Ka.BAPETEN/V-99, tentang Petunjuk Keselamatan

Pengelolaan Limbah Radioaktif, BAPETEN-Jakarta (1999)

[14]. Peraturan Pemerintah No. 27/2002 tentang Pengelolaan Limbah Radioaktif, BAPETEN-Jakarta (2002)

[15]. UU No.23/1997 Pengelolaan Lingkungan Hidup, Kementerian Lingkungan Hidup, Jakarta (1997) [16]. Dep. Dalam Negeri, Peta Curah Hujan Tahunan, skala 1:2.500.000, Dir.Tata Guna Tanah, Dirjen

Agraria-Depdagri, September 1981.

[17]. www.world-nuclear.org/info/inf94.html, Nuclear Power in Belgium (August 2007) [18]. www.uic.com.au/nip28.htm, Nuclear Power in France, Briefing Paper 28 (Dec 2007)

[19]. Setiawan, B., Karakterisasi Migrasi Radionuklida Dalam Lempung (Clay) Tipikal p. Jawa Pada Sistem Penyimpanan Limbah Radioaktif, Laporan Riset Insentif Diknas – Kementerian Pendidikan Nasional, Jakarta (2009)

[20]. Setiawan, B., Karakterisasi Keandalan Host Rock Jenis Konduktivitas Hidrolik Rendah Tipikal p. Jawa Sebagai Calon Wilayah Potensial Untuk Penyimpanan Akhir Limbah Radioaktif (daerah Subang), Laporan Riset Insentif PKPP Tahun 2010 – Kementerian Negara Riset dan Teknologi, Jakarta (2010)

[21]. Wendling LA ., et.al., Cesium Sorption Illite, Clay and Clay Minerals Vol. 52 No. 3, 375-381 (2004) [22]. Setiawan, B., Potencies of Kaolinite and Bentonite Clays as Candidate of Buffer Materials for

Radwaste Disposal System, Proc. 2nd Int. Conference on Math. and Natural Scie., ITB-Bandung 28-30 Oktober 2008

[23]. Amin, TC., Ratman N., Gafoer S., Peta Geologi Lembar Jawa Bagian Barat skala 1: 500.000. Puslitbang Geologi, Bandung-Indonesia (1998)

[24]. Amin, TC., Ratman N., Gafoer S., Peta Geologi Lembar Jawa Bagian Tengah skala 1: 500.000. Puslitbang Geologi, Bandung-Indonesia (1999)

[25]. Amin, TC., Ratman N., Gafoer S., Peta Geologi Lembar Jawa Bagian Timur skala 1: 500.000. Puslitbang Geologi, Bandung-Indonesia (1998, 1999).

[26]. Harahap, B., et.al., Stratigraphic Lexicon of Indonesia 1st ed., Geology R&D Center, Bandung-Indonesia (2003).

[27]. Van Bemmelen, RW., The Geology of Indonesia, Vol. 1A, Martinus Nijhoff, The Hague., (1949) [28]. Google Earth, Europa Technologies (2008)

[29]. Setiawan, B. dkk, Penyiapan Tapak Penyimpanan Lestari Limbah Radioaktif di Pulau Jawa dan Sekitarnya, Prosid. Seminar Teknologi Pengelolaan Limbah VI, ISSN 1410-6086, PTLR-BATAN, Serpong 24 Juni 2008

[30]. Sucipta, Setiawan, B., Pratomo, BS., Suganda, D., Pemilihan Wilayah Potensial Untuk Disposal Limbah Radioaktif di Pulau Jawa dan Sekitarnya, J. Teknologi Pengelolaan Limbah, Volume 13 No. 1 Juni 2010, ISSN 1410-9565, Nomor Akreditasi : 452/D/2010 (2010)

42

Dalam dokumen JURNAL TEKNOLOGI PENGELOLAAN LIMBAH (Halaman 44-48)

Dokumen terkait