• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEMBALI (Land Acquisition and Resettlement Plan Framework/

E. PROTOKOL HIBAH TANAH SECARA SUKARELA (VLD)

54. Tanah yang dibutuhkan untuk sub-proyek akan diidentifikasi selama penyelesaian

Rencana Penataan Lingkungan Permukiman (RPLP). Seperti halnya PNPM-Perkotaan/ ND, rata-rata lahan yang dibutuhkan untuk sub-proyek (infrastruktur masyarakat tersier) relatif kecil dan dihibahkan secara sukarela oleh anggota masyarakat. Identifikasi lahan perlu dimulai selama persiapan RPLP melalui pendekatan partisipatif, dan konfirmasi kebutuhan (ukuran, tujuan, lokasi) dilakukan selama persiapan proposal sub-proyek di tingkat kelompok swadaya masyarakat (KSM). Protokol hibah secara tanah sukarela atau Voluntary Land Donation (VLD) adalah sebagai berikut:

i. Pemberi hibah tanah akan menerima manfaat langsung dari subproyek. ii. Pemberi hibah tanah tidak dikategorikan miskin.

iii. Pemberi hibah tanah adalah pemilik yang sah atas tanah tersebut.

iv. Hibah tanah harus dilaksanakan pada sub-proyek prioritas yang telah disetujui. v. Tujuan dan dampak dari kegiatan yang diusulkan pada tanah yang dihibahkan harus

sepenuhnya dijelaskan kepada penyumbang.

vi. Hibah tanah tidak akan menyebabkan relokasi atau menyebabkan pemilik tanah kehilangan tanah dan mata pencaharian mereka dengan cara yang signifikan. vii. Tanah yang dihibahkan adalah <10% dari total luas lahan produktif.

40 Kerangka Kerja Pengelolaan Lingkungan dan Sosial – Program KOTAKU

ix. Lokasi dan luas tanah diidentifikasi oleh WTP dan diverifikasi oleh fasilitator, BKM dan harus bebas dari dampak lingkungan dan risiko kesehatan.

x. Tidak ada struktur nilai sejarah atau budaya pada tanah yang dihibahkan.

xi. Pemberi hibah tanah akan menerima informasi yang jelas dan lengkap tentang hak-hak mereka. Pemilik tanah perlu diberitahukan tentang hak-hak-hak-hak mereka untuk menerima kompensasi sebelum membuat keputusan untuk mehibahkan tanahnya secara sukarela. Pemberi hibah dapat meminta manfaat moneter maupun non-moneter atau insentif sebagai syarat untuk hibah.

xii. Semua anggota keluarga dari pemberi hibah harus mengetahui hibah tersebut. Seseorang yang memanfaatkan atau menduduki lahan masyarakat atau kolektif juga harus mengetahui hibah tersebut.

xiii. Bagi tanah masyarakat atau kolektif, hibah hanya dapat terjadi dengan persetujuan dari individu yang memanfaatkan atau menduduki tanah yang bersangkutan. xiv. Verifikasi harus diperoleh dari setiap orang mehibahkan tanah (baik melalui

dokumentasi yang tepat atau melalui konfirmasi oleh setidaknya dua orang saksi). xv. Setiap tanah yang dihibahkan yang tidak digunakan untuk tujuan yang telah

disepakati, maka dikembalikan kepada pemberi hibah. xvi. Selain itu, aspek-aspek berikut perlu dilakukan:

i. Fasilitator harus memberikan kesempatan kepada pemilik tanah untuk mendapatkan konsultansi yang independen sebelum membuat keputusan untuk menghibahkan tanahnya secara sukarela untuk subproyek.

ii. Konsultasi dengan pemilik tanah mengenai hibah tanah harus menjamin bahwa tidak ada tekanan ditujukan kepada pemilik tanah dalam proses memutuskan untuk menghibahkan tanahnya.

iii. Pemilik tanah memiliki hak untuk menolak mengibahkan tanah dan Manajemen Proyek harus mengambil langkah-langkah untuk mengidentifikasi lokasi alternatif untuk Kegiatan Proyek. Hak penolakan dicantumkan dalam dokumen hibah yang akan ditandatangani pemberi hibah.

iv. Hibah tanah secara sukarela harus didokumentasikan dalam dokumen hukum, Surat Pernyataan Hibah Tanah, harus ditandatangani oleh pemilik tanah, fasilitator dan kepala desa, BKM, saksi, serta ahli waris. Contoh Surat Pernyataan untuk Hibah Tanah dapat dilihat pada Lampiran 17.

v. Jika tanah tersebut hanya diizinkan untuk izin pakai atau izin dilewati, maka diperlukan Surat Pernyataan dan harus ditandatangani oleh pemilik tanah, fasilitator, dan kepala desa, BKM, dan para saksi, serta ahli waris. Format untuk Surat Pernyataan dari Izin Pakai Tanah dapat dilihat pada Lampiran 18 dan Format Surat Pernyataan tentang Izin Tanahnya Dilewati dapat dilihat pada Lampiran 19.

vi. Kelompok swadaya masyarakat (KSM) harus melampirkan semua dokumentasi lain yang terkait dengan hibah tanah secara sukarela termasuk risalah rapat, pengaduan dan prosedur penyelesaian sengketa.

Kerangka Kerja Pengelolaan Lingkungan dan Sosial – Program KOTAKU 41

vii. Mekanisme penanganan pengaduan harus mengikuti mekanisme penanganan pengaduan proyek. Jika perlu, proses penanganan pengaduan melibatkan partisipasi pihak ketiga yang tidak langsung berafiliasi dengan pelaksana proyek atau bukan pemimpin tradisional yang merupakan pihak dalam proses hibah.

viii. Salinan asli Surat Pernyataan harus disimpan baik oleh pemilik tanah dan oleh KSM sebagai bagian dari proposal. Salinan Surat Pernyataan harus disimpan di kantor desa/ kelurahan. Proposal harus disediakan untuk dapat diakses oleh masyarakat umum.

ix. Tanah yang dihibahkan harus diproses secara hukum status kepemilikannya setelah tanah tersebut dihibahkan.

x. Pajak yang harus dibayar oleh pemberi hibah tanah untuk pendaftaran pengalihan kepemilikan tanah, apabila berlaku, harus seluruhnya ditanggung penuh oleh proyek.

xi. Satker Kota juga bertanggung jawab dalam menjaga salinan dokumen dengan dokumentasi untuk setiap salinan dari hibah tanah. Dokumentasi agar tersedia dan mudah diakses untuk kebutuhan pemeriksaan bila terdapat pengaduan yang mungkin timbul.

F. PROTOKOL KONSOLIDASI TANAH SUKARELA BERBASIS

MASYARAKAT

55. Proyek mengantisipasi bahwa masyarakat dari kawasan kumuh mungkin ingin

melakukan konsolidasi tanah secara sukarela berbasis masyarakat dalam skala kecil di lokasi mereka tinggal. Hal ini akan mencakup pengaturan tata letak bangunan atau struktur menjadi lebih teratur. Konsolidasi tanah mungkin ditujukan untuk pelebaran jalan dan penataan ulang dari kondisi tanah. Konsolidasi tanah atau penataan ulang tanah meliputi penataan tanah dan bangunan yang tidak teratur dan yang tidak cukup terlayani menjadi lebih teratur, bentuknya menjadi efisien, penyediaan infrastruktur dasar yang secara keseluruhan akan meningkatkan nilai tanah yang menguntungkan semua pemilik tanah yang berpartisipasi. Konsolidasi tanah menjadikan kawasan yang dibangun tanpa pengadaan tanah atau penggusuran, dan pada saat yang sama memfasilitasi kawasan untuk menyesuaikan dengan rencana tata ruang dan tata guna lahan kota.

56. Dalam proyek ini, protokol untuk konsolidasi tanah adalah sebagai berikut:

i. Kelompok swadaya masyarakat harus secara sukarela mengajukan inisiatif konsolidasi tanah, dan inisiatif tersebut harus menjadi bagian dari RPLP/RTPLP; ii. Satker Kota, dibantu oleh konsultan dan fasilitator, memverifikasi proposal di

lapangan bahwa:

42 Kerangka Kerja Pengelolaan Lingkungan dan Sosial – Program KOTAKU

ii. Konsolidasi tanah sudah sesuai dengan rencana tata ruang kota dan

RPLP/RTPLP;

iii. Jumlah anggota masyarakat dan lokasi konsolidasi tanah sesuai dan

memadai secara fisik untuk penataan pembangunan di lokasi tersebut;

iv. Status kepemilikan tanah setiap bidang tanah yang terlibat di lokasi

konsolidasi tanah jelas secara hukum;

v. Masyarakat terorganisir dengan baik untuk mempersiapkan dan

melaksanakan konsolidasi tanah; dan

vi. Lahan dimana konsolidasi tanah memiliki aksesibilitas yang baik ke daerah

lain.

iii. Pemerintah kota membentuk tim teknis (termasuk Badan Pertanahan Nasional/BPN), untuk mendukung inisiatif masyarakat, dan memberikan sosialisasi dan pelatihan tentang konsolidasi tanah, serta memberikan panduan dan membantu masyarakat selama proses persiapan dan pelaksanaan konsolidasi tanah.

iv. Peserta konsolidasi tanah dapat membentuk tim konsolidasi tanah yang terdiri dari wakil-wakil yang dipilih oleh peserta konsolidasi tanah, untuk memimpin persiapan dan pelaksanaan konsolidasi tanah. Tim konsolidasi tanah memimpin penyusunan Rencana Pelaksanaan Konsolidasi Tanah (LCIP). Rencana tersebut merupakan bagian dari RPLP/RTPLP.

v. LCIP terdiri dari latar belakang, tujuan, wilayah, daftar calon peserta, proses dan pendekatan persiapan konsolidasi tanah dan pelaksanaan, pertemuan masyarakat untuk mencapai kesepakatan, rencana lokasi indikatif dan kontribusi lahan, rencana pembiayaan dari proses, pengaturan kelembagaan di masyarakat dan

berkoordinasi dengan pemerintah kota, pengungkapan/pengumuman,

penanganan pengaduan, dan tata waktu.

vi. Peserta konsolidasi tanah membuat identifikasi diri pada daftar peserta, kepemilikan tanah atau status kepemilikan masing-masing bidang tanah, melaksanakan pengukuran dan pemetaan wilayah konsolidasi tanah asal, dan diverifikasi oleh Badan Pertanahan Nasional tingkat Kota ini. Daftar peserta harus mencakup laki-laki dan perempuan pemilik tanah.

vii. Peserta konsolidasi tanah menyiapkan rencana lokasi dari bidang tanah konsolidasi yang mencakup realokasi bidang tanah dengan ukuran baru, penataan ulang atau infrastruktur masyarakat baru dan fasilitas umum.

viii. Kontribusi tanah yang terjadi dalam konsolidasi tanah harus ditetapkan dan disepakati oleh peserta konsolidasi tanah. Penggunaan lahan kontribusi untuk penataan pembangunan in-situ, bidang tanah baru untuk setiap peserta, untuk fasilitas umum dan infrastruktur masyarakat, dan/atau untuk mendanai biaya pembangunan tanah (yang diperlukan, yang bisa memanfaatkan dana untuk infrastruktur tersier di bawah komponen 3.2) harus disepakati oleh peserta konsolidasi tanah.

Kerangka Kerja Pengelolaan Lingkungan dan Sosial – Program KOTAKU 43

ix. Konsultan dan fasilitator membantu peserta konsolidasi tanah dalam penyusunan rencana lokasi baru. Rencana lokasi bidang tanah konsolidasi harus mencakup perhitungan untuk semua penggunaan lahan asli dan rencana penggunaan lahan. Hal ini juga harus mencakup Surat Perjanjian untuk partisipasi dan kontribusi tanah masing-masing peserta, berita acara rapat, daftar hadir, foto, dll. Surat Perjanjian untuk berpartisipasi dan berkontribusi tanah harus disahkan oleh pasangan (suami atau istri) dari pemilik tanah.

x. Draft rencana lokasi diperlihatkan/diumumkan di fasilitas umum seperti masjid dan di kantor desa. Draft rencana lokasi akan dikaji dan disetujui oleh tim teknis kota.

xi. Badan Pertanahan Nasional tingkat Kota memproses sertifikasi bidang tanah baru untuk setiap peserta. Biaya untuk proses sertifikasi akan ditanggung oleh peserta konsolidasi tanah, atau dapat difasilitasi oleh program sertifikasi tanah nasional, bila ada.

xii. Pengaduan atau perselisihan, jika tidak dapat diselesaikan oleh masyarakat sendiri, akan difasilitasi oleh konsultan kota atau fasilitator, dan bila diperlukan, oleh tim teknis Kota

xiii. Semua dokumentasi selama persiapan dan pelaksanaan konsolidasi tanah akan didokumentasikan dengan baik di kantor LKM dan di kantor desa/kelurahan masing-masing.

xiv. Satker kabupaten/kota, dengan bantuan konsultan, melaporkan kemajuan persiapan dan pelaksanaan konsolidasi tanah, dan informasi dari kemajuan akan diunggah setiap bulan dalam MIS proyek. Satker provinsi memantau kemajuan melalui MIS dan melakukan pengecekan lapangan yang diperlukan. PMU akan mencakup persiapan konsolidasi tanah dan implementasi dalam Laporan Bulanan Proyek, yang tersedia di situs jaringan proyek.