INSTRUMEN HUKUM INTERNASIONAL DAN HUKUM NASIONAL YANG BERKAITAN DENGAN PEMANASAN GLOBAL
A. INSTRUMEN HUKUM INTERNASIONAL
A. 3 PROTOKOL MONTREAL
a. Sejarah lahirnya Protokol Montreal
Sejarah lahirnya protokol montreal berangkat dari penelitian dua ahli kimia dari University of California, Rowland dan Molina, pada tahun 1974 yang memberi sebuah hipotesis sekaligus sebagai “early warning” tentang adanya keterkaitan rusaknya lapisan ozon akibat gas klorin yang terkandung dalam senyawa CFC (Chlorofluorocarbons). Gas klorin yang mampu bertahan sampai ratusan tahun ini, diindikasikan sebagai penyebab menipisnya lapisan ozon. Kemudian tahun 1985, Farman melakukan sebuah penelitian dan menemukan lubang ozon (ozon hole) di benua Antartika. Kondisi ini akhirnya menjadi sebuah perbincangan yang sangat menarik di kalangan para pemerhati masalah lingkungan khususnya di Amerika Serikat.
Ozon merupakan gas yang tidak berwarna yang tersusun atas tiga unsure oksigen (O). secara kimia, ozon sangat aktif dan bereaksi dengan sejumlah zat lain. ozon bisa berdampak positif ketika berada pada kondisi normal. Salah satu sifat ozon yang sangat baik adalah mampu menyerap ultraviolet-B (UV-B) yang sangat merusak kesehatan manusia dan lingkungan, maka ketika ozon dalam kondisi berlubang yang terjadi adalah persoalan yang rumit terhadap manusia
dan lingkungan. Untuk mengukur temperatur ozon digunakan alat yang disebut sebagai Dobson Unit (DU). Ozon dalam kondisi standar jika berada dalam kondisi standar jika berada pada kondisi temperature 300 DU setara dengan 3 milimeter atau 0,12 inchi. Sementara jika berada di kisaran dibawah 300 DU, maka terjadi persoalan dengan ozon. Warna hijau dan kuning menunjukkan ozon dalam kondisi standard atau berlimpah sementara warna biru dan ungu ozon dalam kondisi sedikit.25
Ketika ozon dalam jumlah yang standar maka lapisan ozon akan berfungsi secara optimal. Ozon akan melindungi alam semesta dari beragam kerusakan baik yang terjadi dalam tubuh manusia maupun lingkungan. Kerusakan alam yang melanda dunia saat ini serta munculnya banyak penyakit yang menimpa masyarakat dunia representasi dari lemahnya pengawasan dan regulasi terhadap lapisan ozon. Lapisan ozon yang fungsinya sebagai filter terhadap sinar ultra violet telah mengalami kerusakan akibat munculnya zat radikal bebas seperti CFC (chlorofluorocarbon). Untuk mengamankan kondisi lapisan ozom maka perlu dibentuk regim internasional untuk mengatur jumlah zat-zat yang dapat meipiskan lapisan ozon yang banyak diproduksi oleh negara-negara besar. Sebelum fase pengaturan zat-zat
yang dapat menipiskan lapisan ozon maka negara-negara yang perduli terhadap masalah ozon, sepakat untuk membuat regulasi terhadap perlindungan lapisan ozon yang dikenal sebagai Konvensi Wina (Vienna Convention for the Protection of the Ozone Layer).
Konvensi Wina (Vienna Convention)
Konvensi Wina merupakan bentuk keprihatinan masyarakat internasional terhadap persoalan menipisnya lapisan ozon yang terjadi pada tahun 1985. Untuk menyikapi persoalan lingkungan khususnya masalah ozon, maka pada tanggal 22 Maret 1985 dibentuklah konvensi Wina (Vienna Convention for the Protection of the Ozone Layer) di Wina, Austria. Tujuan dari konvensi Wina ini adalah bahwa para negara sepakat untuk melindungi manusia dan lingkungan dari bahaya penipisan ozon (ozone deletion layer) melalui penelitian, observasi, dan bahkan pertukaran informasi. Pada tahun 1985, negara-negara yang telah meratifikasi Konvensi Wina berjumlah 184 negara dam pada tanggal 13 maret 2007, anggota Konvensi Wina yang telah meratifikasi adalah 191
negara.26
Regulasi yang komprehensif dalam protokol montreal memiliki pengaruh yang sangat signifikan dalam mengatur jalannya
Amerika Serikat sendiri telah menandatangani Konvensi Wina yang yang telah meratifikasi Konvensi Wina pada tanggal 27 Agustus 1986.
Amerika Serikat sebagai negara besar mempunyai peran yang sangat signifikan dalam proses perlindungan lapisan ozon. Hal ini mengingat bahwa pengaruh Amerika Serikat terhadap sekutu- sekutunya begitu sangat besar. Keputusan Amerika Serikat untuk menandatangani dan meratifikasi Konvensi Wina secara tidak langsung diikuti oleh negara-negara dunia internasional yang meratifikasi Konvensi Wina tentunya merupakan sebuah langkah maju dalam program perlindungan lingkungan khususnya ozon yang digalakkan oleh PBB. Kemudian sebagai langkah konkret dalam perlindungan lapisan ozon dari zat-zat yang dapat menipiskan lapisan ozon maka dibuat sebuah protokol. Protokol adalah aturan-aturan khusus secara detail yang menjelaskan isi dari sebuah konvensi. Maka untuk menindaklanjuti dari program perlindungan lapisan ozon dibentuklah Protokol Montreal.
produksi zat-zat yang dapat menipiskan lapisan ozon. Hal ini sangat penting karena gas klorin yang terkandung dalam senyawa CFC mampu menipiskan lapisan ozonKetika gas klorin tidak dikendalikan secara terukur maka bahaya besar akan mengancam mahluk hidup yang ada di muka bumi ini. Untuk itu pemahaman dan pengetahuan tentang Protokol Montreal merupakan hal yang wajib diketahui oleh banyak pihak baik kalangan akademisi, pemerhati lingkungan, masyarakat awam, dan bahkan para pengambil kebijakan-kebijakan strategis terkait dengan lingkungan.
Protokol Montreal (Montreal Protocol)
Protokol Montreal (Montreal Protocol on Substnaces that Deplete the Ozone Layer) dideklarasikan oleh negara-negara Pihak pada tanggal Protokol Montreal pada tahun 1987, para Pihak yang meratifikasi Protokol Montreal sangatlah sedikit, yakni berkisar 31 negara Pihak. Tetapi, seiring dengan perjalanan waktu dan desakan dunia internasional dan kelompok-kelompok pemerhati masalah lingkungan khususnya masalah menipisnya lapisan ozon di atas benua Antartika maka jumlah negara yang sudah meratifikasi
Protokol Montreal sampai dengan tanggal 13 maret 2007 mencapai angka kisaran yang sangat menakjubkan yakni 191 negara. dan hanya lima negara yang belum meratifikasi Protokol Montreal. Kelima negara tersebut adalah Irak, Andora, Timor leste, Holy Sea, San Marino.27
Berpijak pada kerangka hipotesa Rowland dan Molina, tentang gas klorin dari senyawa CFC (chlorofluorocarbon) yang mamu merusak lapisan ozon, maka di awal pembentukan Protokol Untuk merespon Protokol Montreal ini, Amerika Serikat telah mengirimkan delegasinya (full powers) untuk menandatanganinya Protokol Montreal pada tanggal 16 September 1987 dan di level domestik Amerika Serikat, Amerika Serikat telah meratfikasi Protokol Montreal pada tanggal 21 April 1988. Tujuan dari Protokol Montreal ini adalah untuk mengendalikan lebih lanjut terhadap menipisnya lapisan ozon yang kemudian menyebabkan lubang ozon (ozon hole) diatas benua Antartika yang mencapai 27 kilometer persegi dengan cara mengendalikan lebih dan bahkan meminimalisasikan zat-zat yang dapat menipiskan lapisan ozon (ozon depletion substances)
Montreal, Protokol Montreal mengajak negara-negara untuk segera mempunyai perhatian yang besar terhadap “bencana atmosfer” yang mengancam kehidupan manusia dan lingkungan di masa yang akan datang. Perhatian terhadap persoalan ozon sedikit menampakkan bentuknya pada beberapa tahun pasca dideklarasikannya Protokol Montreal. Hal ini bisa dilihat dari tiga. fakta berikut.
Pertama, masuknya 12 anggota masyarakat Eropa, yang tnetunya sangat mempunyai pengaruh yang sangat signifikan bagi oengurangan zat-zat yang dapat menipiskan lapisan ozon dan negara-negara Eropa tersebut mempunyai kepedulian yang serius terhadap pengurangan ODS (ozon depletion substances). Selain itu juga, menjelang bukan maret 1989, pihak yang meratifikasi Protokol Montreal semakin bertambah banyak menjadi 40 negara.
Kedua, negara-negara pihak yang telah meratifikasi Protokol Montreal sudah mulai menunjukkan keseriusan terhadap Protokol Montreal dengan membuat regulasi di level domestic. Tidak terkecuali pula, negara-negara Eropa yang memiliki beban 768.400 ton CFC juga berjanji unutk meminimalisasikan atau melakukan pengurangan secara bertahap (phase out) terhadap jumlah CFC
yang dimilikinya. Negara-negara Eropa tersebut berjanji untuk menuntaskan phase out di negaranya masing-masing pada tahun 2000, yang kemudian dijadwal ulang lebih cepat pada tahun 1997. Pihak Amerika Serikat yang mempunyai predikat the most producer of CFC yakni 694.600 ton juga berjanji untuk melakukan phase out di level domestik Amerika Serikat dengan membuat regulasi terhadap CFC dan melakukan pengawasan terhadap produksi, konsumsi, ekspor, dan impor CFC.
Ketiga, munculnya pembahasan-pembahasan mengenai keinginan untuk memperluas adanya ketentuan-ketentuan dari badan pengawas Montreal yang diselenggarakan di Helsinki pada musim semi pada tahun 1989. ketentuan-ketentuan tersebut menyangkut pembatasan-pembatasan terhadap produksi metal klorofom dan karbon tetaklorida, karena dua zat ini ternyata memiliki kans yang cukup memadai yakni sekitar 13 persen dalam merusak lapisan ozon. 28
Setelah mendapatkan perhatian yang cukup besar dari banyak pihak, maka diharapkan Protokol Montreal akan mamou berjalan efektif dalam mengawal regulasi dalam rangka mengurangi kadar
CFC dan zat-zat lain yang merupakan zat yang menipiskan lapisan ozon. Untuk itu perlu dibuat sebuah regulasi berupa pengaturan dan amandemen-amandemen dalam Protokol Montreal. Dalam sejarahnya, Protokol Monteal telah mengalami satu kali pengaturan yakni di Wina pada tahun 1995 dan empat kali amandemen. Pegaturan dan amandemen ini dilakukan atas kerangka dasar bahwa untuk melaksanakan dan mengefektifkan tujuan dari Protokol Montreal diperlukan perubahan dan pengaturan yang disesuaikan dengan dinamika zat-zat yang menipiskan lapisan ozon dan kondisi domestic di masing-masing negara pihak.
Amandemen pertama dalam Protokol Montreal terjadi pada tanggal 29 Juni 1990. Amandemen ini disebut Amandemen London, Inggris. Amandemen London ini telah diratifikasi oleh 185 negara Pihak dan Amerika Serikat telah meratifikasi amandemen London pada tanggal 18 Desember 1991. Tujuan dari amandemen ini adalah untuk memperkuat prosedur-prosedur – prosedur pengawasan substansi-substansi yang mengurangi lapisan ozon termasuk dalam Protokol Montreal, serta memperluas lingkup Protokol dengan menambah 12 ODS baru dan membentuk mekanisme keuangan untuk Protokol Montreal.
b. Negara-Negara Peratifikasi Protokol Montreal
Paska dideklerasikannya Protokol Montreal pada tahun 1987 sebagai media pelaksana dari konvensi Wina pada tahun 1985, maka banyak negara yang tertarik unutk bergabung pada tahun 1987 adalah 31 negara Pihak. Seperti Arab Saudi, Mesir, Inggris, Belanda, Jerman, Jepang, Uni Soviet dan lain-lain. diantara banyak negara yang menandatangani dan meratifikasi Protokol Montreal, negara-negara Eropa merupakan negara yang sangat peduli terhadap persoalan lingkungan. Negara yang sangat menonjol dalam perlindungan terhadap lingkungan adalah Jerman, khususnya Jerman Barat. Ketika fenomena lubang ozon menjadi perbincangan yang hangat di kalangan akademisi, praktisi, dan epistemic community, maka saat itu pula banyak negara yang apatis dan tidak sedikit pula yang hanya menganggapnya sebagai isu politik. Jerman Barat, sebelum terjadinya unifikasi dengan Jerman Timur, memiliki sikap yang berbeda dengan negara-negara lain. Maksudnya adalah Jerman memiliki perhatian yang relative besar terhadap persoalan penipisan lapisan ozon di atas benua Antartika. Keseriusan Jerman Barat atas persoalan ozon, dapat dilihat dari dibentuknya departemen lingkungan hidup yang secara khusus menangani regulasi zat-zat yang menipiskan lapisan ozon.
Konsen negara-negara di dunia internasional untuk persoalan lingkungan tentu tidak bisa dilepaskan begitu saja dengan leran dari kelompok-kelompok yang mempunyai perhatian yang sangat besar terhadap persoalan lingkungan khususnya mengenai penipisan lapisan ozon. Penipisan lapisan stratosfir yang berdampak pada kerugian yang sangat besar bagi kehidupan mahluk hidup yang ada di muka bumi adalah hal yang sangat urgen untuk segera mendapatkan perhatian yang besar.
Gebrakan politil di lingkaran kekuasaan dan tekanan yang dilakukan pleh para pemerhati dan aktivis lingkungan untuk menekan pemerintahannya masing-masing memberikan efek yang luar biasa bagi terwujudnya sistem rejim yang kuat untuk menjadi regulator bagi stabilisasi permasalahan lingkungan yang terkait dengan lubang ozon. Hal ini tentunya menjadi kabar baik bagi terwujudnya fenomena alam yang bebas dari ketakutan bencana dunia ke depan. Kelompok- kelompok yang perduli terhadap permasalahan lingkungan memiliki peran yang sangat penting dalam menyadarkan negara yang acuh-tak acuh terhadap persoalan lingkungan.
Data terakhir yang memuat jumlah protokol Montreal tanggal 13 maret 2007 ada sekitar 191 negara yang telah meratifikasi Protokol
Montreal. Amerika Serikat sendiri menandatangani Protokol Montreal pada tanggal 16 september 1987 dan meratifikasi Protokol Montreal pada tanggal 21 April 1988. Pada sesi sebelumnya, Amerika Serikat juga menandatangani Konvensi Wina yang merupakan cikal bakal terbentuknya Protokol Montreal pada tanggal 22 Maret 1985 dan meratifikasinya pada tanggal 27 agustus 1985.