• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR PUSTAKA

3. Provider Rujukan Jaminan Kesehatan Nasional

a. Benarkah, di instansi ini bekerja sama dengan BPJS untuk Jaminan Kesehatan?

b. Apakah di Rumah Sakit ini menerima rujukan dari fasilitas kesehatan dasar?

1) Untuk prosedur rujukan seperti apa yang harus dilalui pasien? c. Prosedur seperti apa yang harus dilalui peserta Jaminan Kesehatan

untuk bisa dirawat di sini?

1) Seberapa perlu peserta dalam melakukan prosedur yang ada? 2) Apa saja kelengkapan yang harus dibawa?

3) Bagaimana bila pasien tidak membawa kartu pengenal sebagai peserta?

4) Apa yang membedakan mengenai peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dengan peserta biasa dan umum?

5) Lalu apa kebijakan yang diambil dari fasilitas kesehatan ini? d. Apa di fasilitas ini juga sering melakukan rujukan balik?

1) Dalam bentuk seperti apa rujukan balik yang dilakukan? 2) Siapa saja yang berhak melakukan rujukan balik?

e. Apakah di fasilitas ini melaporkan semua data ke kantor BPJS?

1) Apakah di fasilitas ini menggunakan fasilitas software atau program tertentu?

2) Bisa diceritakan mengenai penyimpanan atau perekaman yang dilakukan disini?

f. Seberapa penting fasilitas ini mengedukasi kepada masyarakat tentang Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)?

1) Apa saja yang sudah pernah dilakukan?

104

Coding Kategorisasi

Kategori Sub-Kategori Wawncara / Coding

Hak Peserta Mendapatkan Kartu Peserta sebagai Bukti Kepesertaan

“Kartu pesertanya ya ASKES itu telah diganti sama BPJS, gitu tok mas” (Sy 50 – 51)

“Untuk kalau misalkan kita sakit kitakan bisa menggunakan BPJSnya” (F42 – 43) ”Dapat. Ya fungsinya buat berobat” (E 39 – E 42)

“Sering Buat control ke dokter itu” (S33 34)

”Dipegang ibu jadi satu dari keluarga” (G 43)

“Sudah. Ya untuk anu, kalau kita ada sakit sewaktu, waktu bisa langsung masukkan ya? Langsung masuk Rumah Sakit, sambil bawa rujukan itu” (D 34 – 40)

“Sudah sudah” (SA 31) “Sudah dapat” (M 28) Memperoleh manfaat dan

informasi tentang hak dan kewajiban serta prosedur pelayanan kesehatan

“Ya pertama berobat tadi ya mas. Yang kedua itu masalah apa namanya, iuran saya rasa terjangkaulah “ (Sy 180 - 182)

“Kalau misalkan kita sakit, atau

berobatkan nggak usah bayar. Maksudnya nggak usah bayar tunai, tinggal

menggunakan kartunya. Dengan itu tadi dengan bayar perbulan. Pas sakitkan nggak

105

usah bayar tunai” (F 114 – 119)

”Gak ada ya cuma berobat itu setahunya, Cuma berobat itu saja, gak tahu buat yang lainnya belum tahu, belum paham” (E 93 – 95)

“Baru berobat” (S 54)

“ee…kalau menurut saya ya kalau ada keluhan misalnya seperti uneg-uneg itu ya ke bpjs nya“ (G 108 – 110)

”Belum, belum. Memang belum merasakan” (G 131 - 132)

“Selama inikan belum masuk Rumah Sakit. Waktu Cuma ini, waktu suami saya masuk Rumah Sakit itu ya gratis itu” (D 86 – 88)

“Ya kalau selama ini ya dikasi obat ya pokok baik sekali pelayanannya gratis enak pelayanannya” (SA 98 – 100) “Saya rasa untuk hak dan kewajiban itu nggak beda jauh ya dengan ASKES yang pernah saya jalani itu ya. Ya kalau haknyakan saya sebagai peserta BPJS kalau sekarang itu punya hak dan hak itu bisa saya gunakan untuk berobat. Iyakan? Terus dari segi kewajiban, automatis saya punya kewajiban saya harus membayar tiap bulan, automatis sesuai kelas yang

106

saya pilih mas. Kalau saya dari awalkan di kelas 2, jadi saya automatis saya

dipotongan gaji di kelas 2” (Sy 26 - 37) “Untuk haknya biasanyakan kita

dipermudah oleh BPJS dengan bayarnya yang perbulan itu. Nah terus kalau

kewajibannya ya bayar perbulan itu” (F 15 – 18)

”O …haknya setahu nya itu ya bisa untuk berobat kalau kewajibannya kurang tahu…he.. ” (E 20 - 22)

“Untuk berobat” (S 30)

”Tidak tahu. Kewajibannya yang jelas yang saya tahu,tiap bulan itu harus bayar kan, kebetulan saya pegawai negeri jadi langsung dipotong kan gitu” (G 21 - 26) “Iya bisa berobat, bawa kartu, nggak usah bayarkan?” (D 20 – 21)

“Belum tahu persis. Masih tanya – Tanya. Bayar tiap bulan. Kalau kewajiban bayar tiap bulan tahu” (SA 16 – 22)

“Belum tahu” (M 22)

“Oooo sayakan menggunakan rujukannya Dokter Keluarga, jadi kitakan bisa kalau pas membutuhkan kita bisa minta sewaktu-waktu. Kalau dari rujukannya puskesmas kita bisa jam kerja. Sedangkan saya

107

sendirikan kalau pagi saya kerja jadi saya menilai, menilai ini Dokter Keluarg saja. Jadi saya kalau seandainya pas sakit sore atau pas apa bisa langsung ke Dokter Keluarga tersebut” (Sy 96 - 108)

“Harus photo copy BPJSnya, photo copy KK sama KTP” (F 51 - 53)

”KK, KTP sama itu apa….. Ya pokoknya itu intine sama KTP” (E 56 - 57)

“Bawa kartu aja” (S 40) ”yang tahu Ibunya” (G 65) “Belum” (D 54)

“Surat rujukan dari dokter keluarga terus ke rumah sakit RSI” (SA 64 – 65) “Belum” (M 39)

Mendapatkan pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan

“Paling sering ya ke Rumah Sakit itu mas. Soalnya barusan ini juga saya barusan sakit kena apa namanya, gigi. Jadi saya minta surat rujukan ke Dokter Keluarga terus ke Rumah Sakit kebetulan gigi saya harus di apa namanya, di tembel ya pokoknya gitu itulah. Saya ndak tahu ya, harus di tembel. La kebetulan Dokter Keluarga ndak ada fasilitasnya buat nembel. Jadi saya di rujuk ke puskesmas” (Sy 114 - 123)

“Bisa di Puskesmas” (F 69)

108

Sakit-Rumah Sakit yang menerima” (G 78 - 79)

“Ke Rumah Sakit Islam Gondanglegi. Ya memang dokter keluarga,” (SA 49 – 52) “Pertamakan ke puskesmas. Ke Rumah Sakit RSUD itu” (M 48 -50)

Menyampaikan

keluhan/pengaduan, kritik dan saran secara lisan atau tertulis

“Oooo ya kalau itu nggak langsung ke BPJS dulu. Harusnya... Ke Rumah Sakit yang saya pernah opname di situ. Syukur syukur di situ ada seperti apa namanya, Humsar atau gimanakan kita langsung bisa berkonsultasi ke situ” (Sy 153 - 165) “Anu apa ke dokternya langsung ya?” (D 73)

Kewajiban Peserta

Mendaftarkan diri dan membayar iuran

“Oh kalau sayakan PNS mas, jadi langsung di potong gaji” (Sy 204)

“Iya sampai tanggal 10” (F 124) ”Awal bulan sebelum tgl 10 jatuh temponya tgl 10” (E 106 - 107)

“Pernah Mbak U, gak tahu saya mbak U yang tahu semua” (S 58 - 59)

”Setahu saya gitu apa bener apa ndak saya dak tahu.bener mungkin, bener” (G 159 – 160)

“Nggak ngerti, kan nggak ikut mbayar “ (D 100)

109

“Nggak tahu juga nggak pernah

Sebelum tgl 10 sudah saya bayar” (SA 120 – 121)

Melaporkan Perubahan Data “Oh iya, gini gini. Iya iya iya. Ada sayakan punya anakkan sudah lulus kuliah, iya betul mas itu. Itukan harus BPJSnyakan mandiri. Terus sudah saya laksanakan BPJS mandiri, akhirnya sudah diputus dari tanggungan saya mas. Jadi anak saya yang lulus kuliah tadi sudah ikut BPJS mandiri dan sudah daftar mas, iya sudah daftar. Ke BPJS mas” (Sy 234 – 246)

“Ke pihak BPJS, ke kantor BPJS,

mungkin. Bisa tanya ke situ” (F145 – 146) ”Ke kantor BPJS” (E 134)

“Belum pernah. Saya takut periksa wedi diarani werna werni wedi tambah wedi” (S 65 - 67)

”Ya …biasanya gini mas, dilingkup pegawai negeri yang apa itu pemerintahan yang saya anu ini… Itu… anak umur…. 22, kalau sudah dak kuliah, itu harusnya lepas dari tunjangan-tunjangan, nah itu. Itu lapornya ke sana ke bagian keuangan. Ke bagian keuangan Kabuapaten maksud saya. Gitu, itu baru dilepas. Nah

110

Pengurusan BPJSnya, ngurus sendiri, terus nah itu bayar yo ma? Anu yo mbaya, tiap bulan e mbayar yo Aris dewe? (bertanya ke istri)” (G 187 – 199)

“Belom” (D 116)

“Nggak mungkin karena saya menetap disini dokter. Kecuali dokter keluarga saya sudah nggak ada tapi selama dokter

keluarga saya masih ada saya minta ke dokter keluarga mau dirujuk kemana, terserah” (SA 140 – 145)

“Belum” M (86)

Menjaga Kartu Peserta “Belum, dulu sih mas saya dapat informasi kalau nanti rusak atau gimana langsung aja ke BPJS. Mungkin

persyarat-persyaratannya saya juga belum tahu. Apa sama persyaratannya harus bawa foto atau bagaimana, belum itu” (Sy 267 – 272) “Konfirmasi lagi ke kantornya BPJS. Itu enaknya gimana. Ngurusnya dari awal lagi atau meminta surat kehilangan atau

gimana. Jadi ke kantor BPJS dulu buat nanya” (F 165 – 170)

”Belum, belum pernah. Belum pernah hilang soalnya kartunya” (E 147 – 148) “Yang bawa U. Berarti mbah juga gak bawa” (S 74 - 75)

111

”Belum tahu” (G 228)

“Ya anu, lapor ke dokternya “ (D 126) “Ngurusnya mestinya saya konsultasi dg dokter keluarga setelah itu saya ngurus ke kepanjen” (SA 162 – 164)

“Belum tahu” (M 125) Mentaati semua ketentuan dan

tata cara pelayanan kesehatan

“Oh iya mas, kalau itu saya nggak masalah sih mas. Itu juga sudah enak kok mas” (Sy 286 – 289)

“Iya mas” (F 185)

“Anu ya kalau aku sih nggak ada masalah sih mas” (G 239)

“Iya, mengikuti saya tanda tangannya” (M 113) Hak Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (PPK I)

Mendapatkan data dan informasi tentang pelayanan

“Sebagian besar masyarakat itukan sudah pinter ya. sehingga dia akan me.. datang itu sangat ee selektif dalam hal ee

memberikan informasi. Mereka akan memberikan sesuatu yang ee apa namanya yang lengkap sekali. Sehingga kadang-kadang membingungkan. Apalagi bila datang dengan mengeluhkan saya sakit asam urat. Nah begitu kitakan menggalinya lebih dalam lagi” (Sh 52 - 61)

“Kalau untuk informasi itu pasien langsung menanyakan langsung kita beri infonya, kita informasikan apa yang

112

dikeluhkan, apa yang dia ingin dapatkan informasi langsung kita berikan informasi” (DI 38 – 48)

“Pasti mas, kalau misalnya keluhannya nggak disamapaikan ya, kan dia ke sini juga ada perlunya toh, maksudnya apa ke sinikan, iya nggak sih” (Y 59 – 61) Menerima informasi tentang

tata cara atau pedoman pelayanan

“Ada ada itu. Petunjuknya itu ada. Memang buku petunjuk dari BPJS, terutama yang penyakit kronis dengan prolanis itu, program prolanis itu ada ee panduan bukunya. Sehingga kita hanya hanya ee apa mengikuti kita mengikuti, sehingga menguntungkan bagi dokter keluarga dalam penanganan pasien” (Sh 77 – 84)

“Kalau untuk penyakit, itukan penyakit tidak menular dan itukan kronis, kronis, kalau kita langsung di pelayanan di poli umumnya. Ee dan ini nanti kita ada rencana di prolanisnya ada” (DI 65 – 69) “Ada, ada, ada, ada he’e. Tapi memang kita nggak khusus BPJS SOPnya. Jadi untuk seluruh tindakan yang kita, he’e kita lakukan” (Y 68 – 71)

Memperoleh daftar Fasilitas Kesehatan Rujukan

“Ada jadi kalau kita misalnya ke FKTP, FKTL, kalau FKTL lanjutan kan kalau FKTPkan dokter keluarga ini termasuk

113

FKTPnya. Kalau FKTLnya misalnya Rumah Sakit. Di dalam p-care, di dalam

softwarenya sudah ada jadi kita mau

merujuk kemana sudah ada sudah lengkap. Jadi kita mengikuti p-care yang ada, program di dari yang ada linknya dengan BPJS di Malang itu” (Sh 108 – 117) “Sudah, kita sudah . untuk Rumah Sakitnya sudah” (DI 88-89)

“Kalau yang saya tahu sih, secara tertulis kayanya belum ada e mas. Tapi kurang tahu lagi saya kalau administratifkan ada di ruang Tata Usaha ya, sayakanada di

pelayanan jadi saya kurang paham. Nanti coba ditanyakan aja ke sana” (Y 78 – 83) Menerima imbalan jasa atau

pembayaran biaya atas pelayanan kesehatan

“Alhamdulillah kalau sampai saat ini tepat waktu ya, jadi sesuai dengan kontrak kemudian sesuai dengan waktunya. Tidak melebihi tanggal 15” (Sh 124 – 127)

“Claim aman tidak ada masalah. Kalau

sudah dapat acc dari bendahara BPJS pusat ya claim-nya di Diinas kesehatan kita sudah bisa terima” (DI 140 – 143) “Yang mengurusi itu memang dari bendahara, ada sendiri mas. Cuma kalau lihat, gimana ya? Akukan nggak tahu pastinya ini turun bulannya sesuai atau ndak nggak tahu ya” (Y 115 – 119)

114 Kewajiban Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (PPK I)

Memberikan data dan

informasi sebagai pembanding

“Iya ada. Jadi kita setiap sa, setiap bulan itu akan memberikan paling tidak penyakit ini loh yang terbanyak. Jadi trendnya pada bulan ini apa, bulan kemaren apa itu adalah untuk saya sendiri. Yang diserahkan ke sana tidak dirinci, yang diserahkan ke BPJS pusat yang di Malang tidak, tidak 10 besar penyakit tidak. Tetapi hanya untuk penyakit DM dan penyakit hipertensi yang dilaporkan” (Sh 180 – 190)

Memberikan pelayanan sesuai dengan Standar Kompetensi Profesi

“In Syaa Allah seperti itu. Karena dari BPJS kan ada. Standar pelayanannya itu begini kalau ee penanganannya penyakit ini demikian harus, obatnya seperti ini ka nada itu” (Sh 200 – 204)

“Iya kita upayakan sesuai dengan SOPnya. Kita upayakan” (DI 244 – 245)

Melakukan fungsi gate keeper “Ee dengan sendirinya kita paling tidak ee memberikan pelayanan itu yang optimal ya. Sehingga kalau yang optimal dengan kita sebagai penerima pertama itu ee pelayanan terbaik untuk mereka. Jadi yang, paling tidak yang bisa dimengerti oleh pasien. Kita memberikan edukasi yang baik. Kemudian ee sikap kita juga kita jaga

115

terutama ya itu. Sehingga kalau didalam pelayanan kita sudah ee karena mot, motto kita itu adalah ee Pelayanan Dengan Hati ya, Melayani Dengan Hati sehingga kita paling tidak kita bagaimana sih kita harus memberikan yang terbaik untuk pasien” (Sh 228 – 242)

“Iya jadi ee kita ini adalah pintu pertama,pintu pertama untuk me,

mengatasi ya melayani pasien. Jadi pasien itu pertama kunjungannya harus ke PPK I. kalau kita tidak bisa menangani dan itu memang sudah kewenangannya dokter spesialis kita rujuk ke Rumah Sakit. Atau yang diatas kita gitu. Jadi ya memang yang pertama harus ke puskesmas. Tidak, karena memang BPJS ini layanan berjenjang ya, jadi ke PPK I dulu. Kalau PPK I tidak dapat melayani berarti ya... Iya di Rumah Sakit” (DI 268 – 282)

Merekam seluruh data pelayanan kesehatan yang telah diberikan

“Ee memang ada. Jadi untuk pencatatan rekam medisnya itu memang ada. Jadi selain dari buku registernya itu juga ada dari p-carenya itu. P-care itu sudah menyangkut rekam medisnya. Jadi dari pemeriksaannya sampai ee apa

pengobatannya jadi di, sebetulnya di

116

nanti pas trouble gitu kita dengan manual dengan sendirinya. Apalagi kita sekarang ada banyak maintenance sehingga trouble itu ada” (Sh 139 – 150)

“Kalau hardcopy-nya kita ada. Jadi manual, bukan bukan dari dari hardcopy dari softwarenya ada. Kita print-kan ada kemudian yang manual juga ada. Kan ada dua, ada yang dari aplikasi p-care-nya, dari

p-care-nya kita print habis itu kita

arsipkan. Yang dari manual juga ada. Nantikan di syncrone-kan” (DI 16 – 167) “Iya rekam medis, terus kalau di perpoli ya ada sendiri juga mas, kaya regisster gitu gitu” (Y 142 – 44)

Melaksanakan dan mendukung seluruh program pelayanan

“Ya dengan sendirinya mendukung sekali ya mas ya. Karena disitu ee bukannya kita dapat, kita dapat uang kemudian kita memberikan pelayanan tadi dengan hati kita menyatakan program itu bagus. Sehingga perlu ditingkatkan dan kerja sama dengan FKTL itu lebih baik lagi. Kemudian program itu dengan sendirinya aka nee sesuatu yang terbaik untuk masyarakat” (Sh 269 – 278)

“Program BPJS yang sudah dijalankan ya itu rawat jalan, rawat inap, kemudian Prolanis, kemudian apa ya untuk BPJSnya,

117

itu rawat jalankan ada KB, ANC, apa namanya, KB, ANC, kegawatdaruratan” (DI 21 – 26)

“Iya mendukung, kita menyesuaikan. Jadi misalkan BPJSnya, kan ada permintaan pasien-pasien kronis gitu ya, misalkan laboratnyakan harus sekian-sekian. Nah itu kita berusaha untuk ini, iniin juga” (Y 29 – 33) Hak Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjutan (PPK II) Memperoleh informasi Pemberian Pelayanan Kesehatan kepada Peserta (Rujukan )

“Iya, kalau PPK II-kan memang menerima rujukan dari PPK I. Jalurnyakan kalau BPJSkan harus melewati PPK I dulu, baru PPK II. Kecuali untuk kasus gawat darurat, bisa langsung PPK II” (DK 16 – 21) “Prosedur rujukan ya biasa seperti PPK I ngasih rujukan, ya kita terima, kalau ada pasien yang tidak bawa rujukan tetapi dalam kondisi gawat darurat, ya langsung. Bisa langsung masuk tanpa membawa rujukan nanti kita bikinkan surat

keterangan gawat darurat bisa.” (N 22 – 28)

Mengetahui Prosedur Pelayanan

“Yang pasti kalau sesuai dengan aturannya dari BPJS, jadinya awal pasien harus berobat di PPK I, jika PPK I memang tidak bisa menangani baru dirujuk disini. Jadi pasien membawa surat rujukan dari PPK I dengan membawa persyaratan lainnya.

118

Jadi persyaratannya ada photo copy kartu BPJSnya, photo copy rujukan, photo copy surat identitas yang lain, misalkan KTP bisa, KK bisa, SIM bisa. Sing penting surat identitas yang lain, itu aja udah cukup” (DK 30 – 42)

“Ada, ada! Biasanya ini, photo copy KTP, KK, terus kartukan? Kartu Kepesertaan. Tidak membawa rujukan dalam kondisi tidak gawat darurat tidak bisa. Harus bawa rujukan. Kalau sudah bawa surat rujukan tetapi tidak membawa photo copy KTP misalkan, bisa disusulkan. Yang penting surat rujukannya” N 37 – 53)

Memperoleh pembayaran sesuai dengan ketentuan

“Kendalanya ya yang pasti, terkadang

claim-nya ndak sesuai, hehehe itu yang

pasti. Akhirnyakan kalau Rumah Sakit Swasta juga memikirkan itu juga, pasti. Pasti seperti itu. Kadangkala claim-nya terlalu rendah. Jadi menyulitkan pelayana juga” (DK 260 – 266)

“Iya tidak menunggu sampai BPJS membayar. Kadangkan memang karena suatu dana lain hal ee, BPJS pencairannya, he’eh, tidak sesuai tanggal yang disepakati itu kalau Rumah Sakit, kalau di sini itu kebetulan,ya pokoknya waktunya jasa medis keluar ya dibagikan” (N 233 – 240)

119 Kewajiban Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjutan (PPK II)

Melakukan Rujukan Balik “Kalau yang rujuk balik, automatis pasien yang sudah stabil. Jadi yang sudah stabil dan bisa dilayani di layani di PPK I baru kita rujuk balik. Kalau memang masih, biasanya kan yang pakai SKDP itukan yang kasus-kasus kronis itu masih memerlukan perawatan disini. Jadi itu kalau rujukankan biasanya berlakunya satu bulan. Jadi surat rujukan dari PPK I, kalau selama satu bulan perawatan masih

memerlukan perawatan disini, kita

menerbitkan SKDP. Jadi surat Keterangan Dalam Perawatan, nah itu bisa dipakai di Rumah Sakit selama 3 bulan. Jadi SKDP 1, SKDP 2, SKDP 3. Setelah SKDP 3 wajib rujuk balik ke PPK I. Tapi jika selama 1 bulan itu pasien sudah stabil, tidak perlu dirawat di sini, baru kita rujuk ke PPK I” (DK 143 – 161)

“Ada formnyakan dari PPK I sudah lengkap. Form rujuk baliknya sudah lengkap, nanti kita isi. Biasanya disitu ada tertera diagnose ada sama obat-obatan yang harus dikonsumsi kita nanti tinggal neruskan” (N 88 – 93)

Mendokumentasi data pasien “Iya menggunakan software-nya juga” (DK 199)

“Kalau khusus BPJS nggak ada. Seperti pada umumnya ke Dinas Kesehatan. Kalau

120

ke Dinas Kesehatankan lengkap tu berapa jumlah pasien, 10 penyakit terbanyak gitukan, kalau BPJS nggak. Dia hanya untuk urusan claim saja. Untuk urusan

claim tiap bulan kita harus melengkapi

status pasien berikut dokumennya. Baru

verificator datang untuk memverifikasi. Kalau sudah di final, ya sudah bisa dicairkan claim-nya. Jadi laporan ee yang seperti ke Dinas Kesehatan itu nggak ada.” (N 121 – 133)

Pelaporan Pelayanan “Jadi dari BPJS itukan kita setiap satu bulan sekali kita ada verifikasi data. Jadi

verifikasi data itu nanti yang menentukan claim kita ke BPJS. Jadi nanti data yang

kita, kan ada software-nya disini, sotware INACBC itu nanti datanya kita masukkan disini terus data rekam medisnya itu nanti ada yang kita lampirkan dengan data

claim. Jadi nanti ada data resume, jadi photo copy aja ya. Jadi photo copy resume,

kemudian lab, penunjang laboratnya dan kopian laporan operasi kalau ada operasi” (DK 179 – 191)

Pelayanan Edukasi “Iya, itu pasti ada. Jadi setiap pasien rawat inap pasti ada edukasinya. Pasien

BPJS,pasien Umum pasti ada. Dan ada juga tempat-tempat umum pemberian

121

informasi itu ya dan tercantum di rekam medisnya juga ada” (DK 216 – 221) “Isinya rencana pengobatan, rencana tindakan, kejadian tidak diharapkan yang mungkin terjadi. Nanti di sini ditulis oleh dokter yang bertanggungjawab kemudian pasien atau keluarganya tanda tangan yang telah menerima informasi itu. Ini kalau pas rawat inap ya. Kalau pas pulang, ini ada form petunjuk pasien pulang. Petunjuk pasien pulang ini diisi oleh perawat. Perawat. Ini macam-macam kondisi pasien saat keluar Rumah Sakit, Vital Sign, terus perawatan dirumah makan, pantangan makan, mobilisasi, kemudian hasil

pemeriksaan yang dibawa waktu pulang ini dicentang apa foto apa USG, atau EKG. Obat-obatan yang masih diminumkan dan jumlahnya ada. Terus control kemana disini disebutkan. Edukasi yang diberikan di sini di isi. Terus nanti, pasien atau keluarga pasien yang menerima itu tanda tangan” (N 179 – 180)

123