BAB 2 PERUBAHAN ASUMSI DASAR EKONOMI MAKRO DAN
2.2 Proyeksi Asumsi Dasar Ekonomi Makro Jangka Menengah
Dinamika ekonomi global dan domestik turut memengaruhi pergerakan dan prospek ekonomi nasional ke depan. Di samping itu, dimulainya masa pemerintahan yang baru dengan arah dan
program-program pembangunannya, turut menyebabkan pergeseran target-target dan asumsi
dasar ekonomi lima tahun mendatang. Dalam kaitan ini, asumsi dasar ekonomi makro yang telah ditetapkan dalam APBN 2015 mengalami penyesuaian agar lebih sesuai dengan kondisi terkini dan juga arah kebijakan pembangunan pemerintah baru.
Pertumbuhan ekonomi selama periode 2016 hingga 2018 diperkirakan bergerak pada kisaran 6,3 persen hingga 7,8 persen dengan kecenderungan terus meningkat. Faktor-faktor eksternal dan domestik yang lebih kondusif akan menjadi pendorong kinerja pertumbuhan ekonomi. Dari sisi eksternal, semakin membaiknya pertumbuhan ekonomi global yang mulai tumbuh di
atas 4,0 persen dan disertai peningkatan volume perdagangan berdampak pada membaiknya
neraca perdagangan Indonesia. Dari sisi domestik, berbagai pelaksanaan program pembangunan
infrastruktur yang antara lain terfokus pada perbaikan dan pembangunan infrastruktur pertanian, pelabuhan dan prasarana transportasi, dan infrastruktur ekonomi lainnya akan
mendorong peningkatan kegiatan investasi. Langkah-langkah tersebut juga akan mendorong
perbaikan iklim usaha dan aktivitas investasi oleh pihak swasta dan pada gilirannya kapasitas
a. Pertumbuhan ekonomi (%, yoy) 5,8 5,8
b. Inflasi (%, yoy) 4,4 5,0
c. Tingkat bunga SPN 3 bulan (%) 6,0 6,2
d. Nilai tukar (Rp/USD) 11.900 12.200
e. Harga Minyak Mentah Indonesia (USD/barel) 105 70
f. Lifting Minyak (ribu barel per hari) 900 849
g. Lifting Gas (ribu barel setara minyak per hari) 1.248 1.177
TABEL 2.4
ASUMSI DASAR EKONOMI MAKRO APBN DAN RAPBNP TAHUN 2015
Indikator
2015
produksi nasional. Dari sisi konsumsi, struktur demografi masih menjadi modal dasar kuatnya konsumsi domestik. Selain itu, berbagai program sosial, antara lain Kartu Indonesia Sehat (KIS), Kartu Indonesia Pintar (KIP), dan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) yang akan dilaksanakan oleh pemerintahan baru diharapkan akan mendorong naiknya daya beli masyarakat. Pada saat yang sama, semakin terjaga dan menurunnya laju inflasi juga turut memberikan dampak positif bagi peningkatan permintaan agregat.
Sesuai dengan inflation targeting framework, tingkat inflasi terus dijaga pada tingkat yang rendah dengan kecenderungan menurun. Tingkat inflasi pada periode 2016-2017 ditetapkan pada kisaran 4,0 ± 1 persen menurun menjadi 3,5 ± 1 persen pada periode 2018. Pencapaian sasaran inflasi tersebut didukung oleh program-program pembangunan untuk perbaikan infrastruktur dan kapasitas produksi nasional, serta program kemandirian pangan. Di samping itu, tren inflasi global yang juga menurun akan mengurangi tekanan gejolak inflasi di dalam negeri.
Perkembangan nilai tukar rata rata selama periode 2016-2018 diperkirakan bergerak pada kisaran Rp12.150 hingga Rp11.650 per USD, dengan kecenderungan menguat bertahap.
Pergerakan tersebut antara lain didorong oleh semakin membaiknya neraca perdagangan Indonesia, masuknya arus modal, baik Foreign Direct Investment (FDI) maupun portofolio, serta semakin menguatnya sumber-sumber pembiayaan domestik seiring pelaksanaan kebijakan financial inclusion and deepening. Namun di sisi lain, peningkatan aktivitas investasi dan
produksi masih mendorong peningkatan kebutuhan barang modal dan bahan baku impor. Kombinasi faktor-faktor tersebut menyebabkan apresiasi nilai tukar selama periode 2016-2018 tidak terlalu signifikan.
Seiring dengan menurunnya tekanan inflasi dan perbaikan sumber-sumber pembiayaan dalam negeri, serta sentimen positif terhadap posisi fiskal yang semakin sehat telah menyebabkan minat investor terhadap instrumen obligasi pemerintah semakin baik. Selain itu, berkurangnya tekanan dari sisi global terkait perkiraan berakhirnya normalisasi kebijakan moneter di AS serta
kebijakan moneter yang longgar di negara industri utama seperti Eropa dan Jepang menjadi faktor yang memengaruhi penurunan yield obligasi pemerintah, termasuk suku bunga SPN 3
bulan. Suku bunga SPN 3 bulan dalam periode 2016-2018 diperkirakan bergerak pada kisaran 7,0 sampai dengan 4,5 persen dengan kecenderungan menurun.
Perkembangan harga ICP masih tetap dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak mentah dunia secara umum. Di tahun 2014, harga minyak dunia telah mengalami penurunan yang tajam antara
lain dipengaruhi melemahnya permintaan global, serta peningkatan pasokan sumber energi minyak dan sumber energi alternatif lainnya, seperti shale oil and gas dan biodiesel. Seiring
dengan mulai membaiknya permintaan global, maka pergerakan harga minyak dunia dan ICP diperkirakan relatif lebih stabil. Pada periode 2016-2018, harga ICP diperkirakan bergerak pada kisaran USD65 hingga USD100 per barel.
Di sisi lain, perkembangan lifting minyak mentah dan gas bumi diperkirakan cenderung
menurun. Kecenderungan penurunan tersebut disebabkan oleh usia sumur-sumur migas yang semakin tua, serta belum adanya kepastian beroperasinya sumur-sumur baru. Untuk sumur Blok Cepu, diperkirakan akan mencapai usia produktif puncak di tahun 2016 dan mulai menurun di tahun-tahun berikutnya. Secara umum lifting minyak mentah pada periode 2016-2018 diperkirakan bergerak pada kisaran 900 hingga 700 ribu barel per hari dengan kecenderungan
hingga 1.300 ribu barel setara minyak per hari dengan kecenderungan meningkat. Terkait
dengan hal tersebut, Pemerintah akan terus mengurangi ketergantungan sumber penerimaan dari sumber daya alam dan terus mengupayakan penerimaan negara dari sumber-sumber yang lebih sustainable. Tabel 2.5 berikut merangkum angka asumsi dasar ekonomi makro jangka
menengah 2016-2018.
Indikator Ekonomi 2016 2017 2018
a. Pertumbuhan ekonomi (%, yoy) 6,3 - 6,9 6,8 - 7,4 7,2 - 7,8
b. Inflasi (%, yoy) 3,0 - 5,0 3,0 - 5,0 2,5 - 4,5
c. Tingkat bunga SPN 3 bulan (%) 5,0 - 7,0 5,0 - 7,0 4,5 - 6,5
d. Nilai tukar (Rp/USD) 11.750 - 12.150 11.700 - 12.100 11.650 - 12.050
e. Harga Minyak Mentah Indonesia (USD/barel) 65 - 85 75 - 100 75 - 100
f. Lifting Minyak (ribu barel per hari) 850 - 900 750 - 800 700 - 750
g. Lifting Gas (ribu barel setara minyak per hari) 1.100 - 1.200 1.100 - 1.200 1.100 - 1.300
Sumber: Kementerian Keuangan
TABEL 2.5
BOKS 2.1
PERUBAHAN TAHUN DASAR PDB
Pada penyusunan dokumen APBN tahun 2015 klasifikasi data PDB baik menurut pengeluaran maupun
lapangan usaha menggunakan tahun dasar 2000 atau disebut dengan seri 2000. Pada seri ini klasifikasi PDB menurut pengeluaran terpecah menjadi 5 bagian sedangkan klasifikasi menurut lapangan usaha sebesar 9 sektor (lihat Tabel 2.6). Namun pada penyusunan RAPBNP tahun 2015, klasifikasi PDB disesuaikan dengan perhitungan tahun dasar 2010 (seri 2010) dimana klasifikasi menurut lapangan usaha menggunakan basis data 17 sektor. Sementara itu, klasifikasi PDB berdasarkan pengeluaran atau penggunaan pada seri 2010 ini tidak memiliki perbedaan secara signifikan. Penggunaan klasifikasi PDB Seri 2010 pada dokumen RAPBNP tahun 2015 bertujuan untuk menyesuaikan dengan dokumen RPJMN tahun 2015-2019.
Selain perubahan dari sisi klasifikasi baik penggunaan maupun lapangan usaha, PDB Seri 2010 juga
dimaksudkan untuk mencakup perubahan struktur ekonomi selama 10 tahun terakhir khususnya terkait sektor teknologi dan informasi serta transportasi yang berpengaruh terhadap pola distribusi
dan munculnya produk-produk baru (ada tambahan coverage). Sebagai konsekuensinya, terdapat
perbedaan hasil perhitungan PDB, baik secara nilai maupun pertumbuhan, misalnya PDB nominal, PDB konstan dan pertumbuhan PDB (lihat Tabel 2.7).
Pengeluaran Pengeluaran
1. Konsumsi RT 1. Konsumsi Rumah Tangga
2. Konsumsi pemerintah 2. Konsumsi Lembaga Non-Profit Rumah Tangga
3. PMTB 3. Konsumsi pemerintah
4. Ekspor barang dan jasa 4. PMTB
5. Impor barang dan jasa 5. Ekspor barang dan jasa
6. Impor barang dan jasa
Sektoral Sektoral
1. Pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan 1. Pertanian, kehutanan, dan perikanan
2. Pertambangan dan penggalian 2. Pertambangan dan penggalian
3. Industri pengolahan 3. Industri pengolahan
4. Listrik, gas, dan air bersih 4. Pengadaan listrik dan gas
5. Konstruksi 5. Pengadaan air
6. Perdagangan, hotel dan restoran 6. Konstruksi
7. Pengangkutan dan komunikasi 7. Perdagangan besar dan eceran, reparasi perawatan mobil dan sepeda motor 8. Keuangan, real estat & jasa persh. 8. Transportasi dan pergudangan
9. Jasa - jasa 9. Penyediaan akomodasi dan makan minum
10. Informasi dan komunikasi 11. Jasa keuangan
12. Real estat 13. Jasa perusahaan
14. Administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib 15. Jasa pendidikan
16. Jasa kesehatan dan kegiatan sosial 17. Jasa lainnya
Sumber: BPS
TABEL 2.6
PERBANDINGAN KLASIFIKASI PDB SERI 2000 DAN 2010
Seri 2000 Seri 2010
2010 2011 2012 2013
PDB Nominal Tahun Dasar 2000 (Rp T) 6.446,9 7.419,2 8.229,4 9.084,0
PDB Nominal Tahun Dasar 2010 (Rp T) 6.864,1 7.843,7 8.662,6 9.578,4
PDB Riil Tahun Dasar 2000 (Rp T) 2.314,5 2.464,6 2.618,9 2.770,3
PDB Riil Tahun Dasar 2010 (Rp T) 6.864,1 7.287,3 7.726,5 8.152,9
Pertumbuhan PDB Tahun Dasar 2000 (%) 6,2 6,5 6,3 5,8
Pertumbuhan PDB Tahun Dasar 2010 (%) 6,4 6,2 6,0 5,5
TABEL 2.7