KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH 3.1 Arah Kebijakan Ekonomi Daerah
3.2 Arah Kebijakan Keuangan Daerah
3.2.1 Proyeksi Keuangan Daerah dan Kerangka Pendanaan
a. Realisasi dan Target Pendapatan Daerah Provinsi Gorontalo Tahun 2013-2015
Pada tahun 2013 realisasi pendapatan daerah sebesar
Rp1,052,555,928,696.13, tahun 2014 (sebelum audit BPK RI) sebesar Rp1,207,338,807,294.53 dan tahun 2015 ditargetkan sebesar
Rp1,419,850,510,742.25 yang terdiri dari PAD sebesar Rp. 280.209.528.070,53, Dana Perimbangan sebesar Rp. 800.313.828.654,00, dan komponen lainnya yang bersumber dari Lain-lain Pendapatan Daerah yang sah dengan realisasi sebesar Rp. 126.815.450.570,00.
Perkembangan realisasi pendapatan daerah dari PAD, Dana Perimbangan dan Lain-lain Pendapatan Daerah yang sah dapat dilihat pada Tabel 3.13 berikut.
III-17
Tabel 3.13Realisasi dan Target Pendapatan Daerah Provinsi Gorontalo Tahun 2013 S/D 2015
Sumber : LRA Tahun 2013-2015 (Tahun 2014 sebelum audit BPK)
Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa, meskipun pada tahun 2015 pendapatan daerah mengalami peningkatan cukup signifikan dibanding tahun 2013 dan tahun 2014 yaitu sebesar 17,60% dengan kenaikan rata-rata
sebesar 16,15%, namun peningkatan tersebut lebih banyak
dipengaruhi/disumbangkan oleh dana transfer pemerintah pusat yaitu dana perimbangan dan dana BOS. Hal tersebut dapat dilihat dari peningkatan dana perimbangan pada tahun 2015 sebesar 16,99% sedangkan dana BOS tahun 2015 meningkat sebesar 30,66%.
Hal sebaliknya terjadi pada pendapatan asli daerah, dimana pada tahun 2015 ditargetkan naik sebesar 13,55% dibanding realisasi tahun 2014 (sebelum audit BPK-RI) atau lebih kecil dibandingkan dengan kenaikan realisasi antara tahun 2013 ke tahun 2014 sebesar 30,56%. Hal tersebut disebabkan antara lain oleh prosentase realisasi tahun 2014 yaitu sebesar 96,26%, situasi perekonomian daerah, perekonomian nasional, adanya kenaikan harga BBM, pengalihan wajib pajak kendaraan bermotor khususnya kerndaraan truck/ pick up, dari kendaraan pribadi menjadi kendaraan umum (plat hitam ke plat kuning) dan beberapa penyebab lain yang tidak dapat diperkirakan pada waktu penetapan target pendapatan. Selengkapnya realisasi pendapatan daerah tahun 2014 (sebelum audit BPK-RI) dapat dilihat pada Tabel 3.14 dibawah ini.
Realisasi 2013 Realisasi 2014 (sebelum Audit BPK) % Target 2015 % Rata2
(RP) (RP) + (RP) + Kenaikan 1 PENDAPATAN 1.052.555.928.696,13 1.207.338.807.294,53 14,71 1.419.850.510.742,25 17,60 16,15 1.1 PAD 214.614.527.481,13 280.209.528.070,53 30,56 318.172.267.527,25 13,55 22,06 1.1.1 Pajak Daerah 200.883.464.795,00 246.727.108.410,00 22,82 298.220.945.780,25 20,87 21,85 1.1.2 Retribusi Daerah 571.212.007,00 1.064.721.893,00 86,40 2.175.000.000,00 104,28 95,34 1.1.3 Hasil Pengelolaan Keuangan Daerah yg dipisahkan - 1.946.292.181,00 - 4.000.000.000,00 - -1.1.4 Lain-lain PAD yang sah 13.159.850.679,13 30.471.405.586,53 131,55 13.776.321.747,00 (54,79) 38,38 1.2 Dana Perimbangan 722.098.488.898,00 800.313.828.654,00 10,83 936.274.443.215,00 16,99 13,91 1.2.1
Dana Bagi Hasil Pajak /
bagi hasil bukan pajak 26.800.697.898,00 23.660.330.654,00 (11,72) 30.535.792.215,00 29,06 8,67 1.2.2 DAU 652.284.261.000,00 734.279.438.000,00 12,57 845.395.651.000,00 15,13 13,85 1.2.3 DAK 43.013.530.000,00 42.374.060.000,00 (1,49) 60.343.000.000,00 42,41 20,46 1.3 Lain-lain Pendapatan Daerah yg Sah 115.842.912.317,00 126.815.450.570,00 9,47 165.403.800.000,00 30,43 19,95 1.3.1 Hibah 453.872.317,00 513.944.633,00 13,24 375.000.000,00 (27,03) (6,90) 1.3.2
Dana penyesuaian dan
otonomi khusus 115.389.040.000,00 126.301.505.937,00 9,46 165.028.800.000,00 30,66 20,06 1.3.3
Bantuan keuangan dari provinsi atau Pemda Lainnya
-
-1.3.4
Dana penguatan infrastruktur dan prasana daerah
-
-1.3.5
Dana tambahan penghasilan bagi GURU PNSD
- -1.3.6 Pendapatan dana darurat - -
III-18
Tabel 3.14Realisasi Pendapatan Daerah Tahun 2014 (Sebelum Pemeriksaan BPK RI)
ANGGARAN REALISASI % s/d PERIODE LALU PERIODE INI TOTAL LEBIH/ (KURANG) PENDAPATAN 1.218.762.778.436,41 0,00 1.207.338.807.294,53 11.423.971.141,88 99,06
PENDAPATAN ASLI DAERAH 291.096.154.035,41 0,00 280.209.528.070,53 10.886.625.964,88 96,26
Pajak Daerah 259.943.069.515,65 0,00 246.727.108.410,00 13.215.961.105,65 94,92 Retribusi Daerah 1.629.000.000,00 0,00 1.064.721.893,00 564.278.107,00 65,36 Hasil Pengelolaan Daerah yang Dipisahkan 4.000.000.000,00 0,00 1.946.292.181,00 2.053.707.819,00 48,66 Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah 25.524.084.519,76 0,00 30.471.405.586,53 4.947.321.066,77 119,38
Dana Perimbangan 800.445.594.401,00 0,00 800.313.828.654,00 131.765.747,00 99,98
Bagi Hasil Pajak/ Bagi Hasil Bukan Pajak 23.792.096.401,00 0,00 23.660.330.654,00 131.765.747,00 99,45 Dana Alokasi Umum 734.279.438.000,00 0,00 734.279.438.000,00 0,00 100,00 Dana Alokasi Khusus 42.374.060.000,00 0,00 42.374.060.000,00 0,00 100,00
Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah 127.221.030.000,00 0,00 126.815.450.570,00 405.579.430,00 99,68
Pendapatan Hibah 375.000.000,00 0,00 513.944.633,00 138.944.633,00 137,05 Dana Penyesuaian dan Otomatis Khusus 126.846.030.000,00 0,00 126.301.505.937,00 544.524.063,00 99,57
Sumber : LRA tahun 2014 (sebelum audit BPK-RI)
b. Kapasitas Riil (Proyeksi) Kemampuan Keuangan Daerah Untuk Pendanaan Pembangunan Daerah Provinsi Gorontalo Tahun 2016-2017
Penghitungan kerangka pendanaan tetap berlandaskan pada Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah, Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah Permendagri Nomor 54 Tahun 2010.
Pada bagian ini akan dikemukakan kerangka pendanaan, khususnya kapasitas riil untuk menentukan arah kebijakan umum pendapatan dan belanja daerah tahun 2016 dan 2017 berdasarkan proyeksi/target yang telah direncanakan pada RPJMD Tahun 2012-2017. Kapasitas rill Kemampuan Keuangan Daerah Provinsi Gorontalo dapat dilihat pada Tabel 3.15 dibawah ini.
Tabel 3.15
Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah
Untuk Mendanai Pembangunan Daerah Provinsi Gorontalo 2016-2017 (Sesuai RPJMD)
Sumber: RPJMD Provinsi Gorontalo 2012 – 2017
2016 2017
1 Pendapatan 1.402.315.291.454,31 1.537.181.549.971,56 2 Pencairan Dana Cadangan (sesuai
Perda)
- -
3 Sisa Lebih Riil Perhitungan
Anggaran 21.328.190.318,56 17.062.552.254,85 Total Penerimaan 1.423.643.481.772,87 1.554.244.102.226,41 Dikurangi
4
Belanja dan Pengeluaran Pembiayaan yang Wajib dan Mengikat serta Prioritas Utama
711.369.766.635,79 792.681.108.217,22
7 Kapasitas Riil 712.273.715.137,07 761.562.994.009,19
III-19
Berdasarkan tabel tersebut, pendapatan daerah Tahun 2016 diprediksi sebesar
Rp1.402.315.291.454,31 dan pada tahun 2017 diharapkan menjadi sebesar Rp1.537.181.549.971,56. Pendapatan tersebut ditambah dengan sisa lebih
riil perhitungan anggaran, sehingga menghasilkan total penerimaan daerah Tahun 2016 sebesar Rp1.423.643.481.772,87 dan diharapkan mencapai
sebesar Rp1.554.244.102.226,41 pada Tahun 2017.
Realisasi dan prediksi total penerimaan ini sebagian akan digunakan untuk belanja dan pengeluaran pembiayaan yang wajib dan mengikat serta prioritas utama. Selisihnya akan menjadi kapasitas riil kemampuan keuangan daerah, dimana pada Tahun 2016 sebesar Rp712.273.715.137,07 dan diharapkan mencapai sebesar Rp761.562.994.009,19 pada Tahun 2017. Rincian Belanja dan Pengeluaran Pembiayaan yang Wajib dan Mengikat serta Prioritas
Utama akan diuraikan pada Tabel 3.16 berikut.
Tabel 3.16
Proyeksi Belanja dan Pengeluaran Pembiayaan yang Wajib dan Mengikat serta Prioritas Utama
No Uraian Proyeksi
2016 (Rp) 2017 (Rp) A Belanja Tidak Langsung 667,347,672,934.47 745,333,016,662,73 1 Belanja Pegawai 336,770,583,197.41 377,183,053,181,10
2 Belanja Subsidi 1,528,818,014.05 1,534,408,248,97
3 Belanja Hibah (data diolah) 156,916,551,128.47 158,956,466,293,14
4 Belanja Bansos 2,678,551,520.79 4,075,045,894,20
5 Belanja bagi hasil Kab/Kota 116,488,523,272.69 135,558,016,752,91 6 Bantuan Keuangan (data diolah) 47,964,645,801.07 63,026,026,292,42 7 Belanja Tidak Terduga (antisipasi bencana) 5,000,000,000.00 5,000,000,000,00
B Belanja Langsung 34,022,093,701.33 37,348,091,554,49 1 Belanja honorarium PNS khusus untuk guru dan tenaga medis. (hanya Guru) 6,194,371,391.64 7,260,422,708,14 2 Belanja Beasiswa Pendidikan PNS 5,137,779,348.64 5,841,565,061,40 3
Belanja Jasa Kantor (khusus tagihan bulanan kantor seperti listrik, air, telepon dan sejenisnya )
22,689,942,961.05 24,246,103,784,96
4 Belanja sewa gedung kantor( yang telah ada
kontrak jangka panjangnya) - -
5
Belanja sewa perlengkapan dan peralatan kantor ( yang telah ada kontrak jangka panjangnya)
- -
C Pengeluaran Pembiayaan 10,000,000,000.00 10,000,000,000,00
1 Pembentukan Dana Cadangan - -
2 Pembayaran pokok utang - -
3 Penyertaan Modal Pada PT bank Sulut 10,000,000,000.00 10,000,000,000,00
TOTAL BELANJA WAJIB DAN PENGELUARAN YANG WAJIB MENGIKAT SERTA PRIORITAS UTAMA
711,369,766,635.80 792,681,108,217,22 Sumber : Dinas Keuangan dan Aset Daerah
Dari tabel tersebut dapat dijelaskan bahwa, belanja periodik yang wajib dan mengikat adalah pengeluaran yang wajib dibayar serta tidak dapat ditunda pembayarannya dan dibayar setiap tahun oleh Pemerintah Daerah seperti gaji dan tunjangan pegawai serta anggota dewan, bunga, belanja jasa kantor,
III-20
sewa kantor yang telah ada kontrak jangka panjang atau belanja sejenis lainnya.
Belanja periodik prioritas utama adalah pengeluaran yang harus dibayar setiap periodik oleh Pemerintah Daerah dalam rangka keberlangsungan pelayanan dasar prioritas Pemerintah Daerah yaitu pelayanan pendidikan dan kesehatan, seperti honorarium guru dan tenaga medis serta belanja sejenis lainnya. Selengkapnya rencana penggunaan kapasitas riil Kemampuan keuangan Daerah Provinsi Gorontalo Tahun 2016-2017 dapat dilihat pada Tabel 3.17 berikut.
Tabel 3.17
Rencana penggunaan Kapasitas Riil Kemampuan keuangan Daerah Provinsi Gorontalo, 2016-2017
No Uraian 2016 Proyeksi 2017
(Rp) (Rp)
I Kapasitas riil kemampuan keuangan 712.273.715.137,07 761.562.994.009,19 Rencana alokasi pengeluaran prioritas I
II.a Belanja Langsung 690.467.088.659,84 753.808.389.579,81 II.b Pembentukan dana cadangan
Dikurangi:
II.c Belanja Langsung yang wajib dan mengikat serta prioritas utama 34.022.093.701,33 37.348.091.554,49 II.d Pengeluaran pembiayaan yang wajib mengikat serta prioritas utama 10.000.000.000,00 10.000.000.000,00 II Total Rencana Pengeluaran Prioritas I (II.a+II.b-II.c-II.d) 646.444.994.958,51 706.460.298.025,32
Sisa kapasitas riil kemampuan keuangan daerah setelah menghitung alokasi pengeluaran prioritas I
(I-II) 65.828.720.178,56 55.102.695.983,87
Rencana alokasi pengeluaran prioritas II
III.a Belanja Tidak Langsung 733.176.393.113,03 800.435.712.646,60 Dikurangi:
III.b Belanja tidak langsung yang wajib dan mengikat serta prioritas utama 667.347.672.934,47 745.333.016.662,73 III Total rencana pengeluaran prioritas II (III.a-III.b) 65.828.720.178,56 55.102.695.983,87 Surplus anggaran riil atau Berimbang (I-II-III)* - - Sumber : Dinas Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Gorontalo (RPJMD 2012-2017)
Sesuai tabel tersebut penggunaan kapasitas riil kemampuan keuangan daerah akan dialokasikan kepada rencana alokasi prioritas I dan II yang terdiri dari belanja langsung dan pembentukan dana cadangan (Provinsi Gorontalo belum ada kebijakan tentang pembentukan dana cadangan), seperti disajikan pada tabel diatas.
Di perkirakan bahwa total belanja langsung tahun 2016 sebesar
Rp690.467.088.659,84 dan diharapkan menjadi sebesar
Rp753.808.389.579,81 pada tahun 2017. Belanja langsung tersebut,
selanjutnya akan dikurangi dengan belanja langsung yang wajib dan mengikat serta prioritas utama, sehingga menghasilkan total rencana pengeluaran prioritas I yang akan dialokasikan pada program/ kegiatan prioritas I, dimana
III-21
pada tahun 2016 diprediksi sebesar Rp646.444.994.958,51 dan
direncanakan menjadi sebesar Rp.706.460.298.025,32 tahun 2017.
Total rencana pengeluaran prioritas I tersebut, akan menjadi dasar bagi Pemerintah provinsi Gorontalo dalam melaksanakan program prioritas I yang merupakan prioritas dalam rangka pembangunan daerah dengan tema atau
program unggulan (dedicated) Kepala daerah sebagaimana diamanatkan
dalam RPJMN dan amanat/kebijakan nasional yang definitif harus dilaksanakan oleh daerah pada tahun rencana, termasuk untuk prioritas bidang pendidikan 20% (dua puluh persen).
Program prioritas I harus berhubungan langsung dengan kepentingan publik, bersifat monumental, berskala besar, dan memiliki kepentingan dan nilai manfaat yang tinggi, memberikan dampak luas pada masyarakat dengan daya ungkit yang tinggi pada capaian visi/misi daerah. Di samping itu, prioritas I juga diperuntukkan bagi prioritas belanja yang wajib sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Program prioritas I ini antara lain (terutama), diarahkan untuk mendukung pembangunan infrastruktur jalan yaitu Gorontalo Outer Ring Road (GORR), Program Jamkesta dan Prodira serta pembangunan sarana dan prasarana pelayanan kesehatan masyarakat berupa, Rumah Sakit Provinsi.
Sementara total belanja tidak langsung tahun 2016 diprediksi sebesar
Rp733.176.393.113,03 dan diharapkan menjadi sebesar
Rp800.435.712.646,60 tahun 2017. Belanja tidak langsung tersebut
kemudian dikurangi dengan belanja tidak langsung yang wajib dan mengikat
serta prioritas utama, dimana tahun 2016 diprediksi sebesar
Rp667.347.672.934,47 dan direncanakan menjadi sebesar
Rp745.333.016.662,73 pada tahun 2017, sehingga total rencana
pengeluaran prioritas II tahun 2016 yang akan dialokasikan pada program prioritas II sebesar Rp65.828.720.178,56 tahun 2016 dan direncanakan menjadi sebesar Rp55.102.695.983,87 pada tahun 2017.
Program prioritas II, merupakan program prioritas ditingkat SKPD sebagai penjabaran dari analisis per urusan. Suatu prioritas II berhubungan dengan program/kegiatan unggulan SKPD yang paling berdampak luas pada masing-masing segementasi masyarakat yang dilayani sesuai dengan prioritas dan permasalahan yang dihadapi berhubungan dengan layanan dasar serta tugas dan fungsi SKPD termasuk peningkatan kapasitas kelembagaan yang berhubungan dengan itu.
Berdasarkan Proyeksi RPJMD tersebut dan dengan melihat realisasi tahun 2013, tahun 2014 serta target tahun 2015, maka pada RKPD tahun 2016 ini pendapatan daerah diprediksi sebesar Rp1.434.761.558.031,26 atau telah melampau target RPJMD Tahun 2012-2017, sedangkan Sisa Lebih Riil
III-22
Perhitungan Anggaran diprediksi sebesar Rp21.328.190.318,56 sehingga
total penerimaan daerah tahun 2016 diprediksi sebesar
Rp1.456.089.748.349,82 kemudian dikurangi dengan Belanja dan
Pengeluaran Pembiayaan yang Wajib dan Mengikat serta Prioritas Utama sebagaimana telah direncanakan dalam RPJMD 2012-2017 yaitu sebesar
Rp711.369.766.635,79, maka kapasitas rill kemampuan keuangan daerah
tahun 2016 diprediksi sebesar Rp744.719.981.714,03.
Untuk tahun 2017 kapasitas rill kemampuan keuangan daerah disesuaikan dengan realisasi tahun-tahun sebelumnya, RPJMD Tahun 2012-2017 sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya dan proyeksi tahun 2016, sehingga diperoleh prediksi kapasitas rill kemampuan keuangan daerah tahun 2017 sebesar Rp794.803.703.691,87 yang dapat dilihat pada tabel 3.18 berikut.
Tabel 3.18
Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah Untuk Mendanai Pembangunan Daerah Provinsi Gorontalo 2016-2017
Sumber : Dinas Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Gorontalo (RPJMD 2012-2017)
Berdasarkan tabel 3.18 tersebut kapasitas riil kemampuan keuangan daerah tahun 2016 sebesar Rp744.71.981.714,03 akan ditambah dengan Belanja langsung yang Wajib dan Mengikat serta Prioritas Utama sebesar
Rp34.022.093.701,33 (sesuai RPJMD Tahun 2012-2017/ tabel 3.17),
sehingga total belanja langsung diprediksi sebesar Rp778.742.075.415.362. Dengan proyeksi tersebut, penggunaan kapasitas rill kemampuan keuangan Provinsi Gorontalo relatif lebih kecil bila dibandingkan dengan Provinsi lain, baik secara regional maupun Nasional, Namun dalam kerangka pendanaan
2016 2017
Pendapatan 1.434.761.558.031,26 1.570.422.259.654,23 Dana Perimbangan 936.274.443.215,00 1.050.022.653.697,16 Lain-Lain Pendapatan Daerah
Yang Sah
165.403.800.000,00 170.862.125.400,00
PAD 333.083.314.816,26 349.537.480.557,08
Pajak Daerah 313.131.993.069,26 328.788.592.722,73 Retribusi Daerah 2.175.000.000,00 2.283.750.000,00 Kekayaan Daereah Yang
Dipisahkan
4.000.000.000,00 4.000.000.000,00 Lain-Lain PAD Yang Sah 13.776.321.747,00 14.465.137.834,35
Pencairan Dana Cadangan (sesuai Perda)
- - Sisa Lebih Riil Perhitungan
Anggaran 21.328.190.318,56 17.062.552.254,85 Total Penerimaan 1.456.089.748.349,82 1.587.484.811.909,08 Dikurangi
Belanja dan Pengeluaran Pembiayaan yang Wajib dan Mengikat serta Prioritas Utama
711.369.766.635,79 792.681.108.217,22
Kapasitas Riil 744.719.981.714,03 794.803.703.691,87 Uraian
III-23
tersebut yang paling utama adalah sejauh mana kapasitas riil tersebut mampu menggerakkan sektor-sektor penunjang pertumbuhan ekonomi daerah dan menggali seluruh sumber daya yang ada di Provinsi Gorontalo sehingga dapat meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat Provinsi Gorontalo. Dalam menentukan besaran belanja yang dianggarkan senantiasa akan berlandaskan pada prinsip disiplin anggaran, yaitu prinsip kemandirian yang selalu mengupayakan peningkatan sumber-sumber pendapatan sesuai dengan potensi daerah, prinsip prioritas yang diartikan bahwa pelaksanaan anggaran selalu mengacu pada prioritas utama pembangunan daerah, prinsip efisiensi dan efektifitas anggaran yang mengarahkan bahwa penyediaan anggaran dan
penghematan sesuai dengan skala prioritas.
Agar pemanfaatan dana efisien dan efektif, dalam perencanaan anggaran perlu memperhatikan dua hal yaitu: (1) tujuan, sasaran, hasil, manfaat dan indikator kinerja perlu ditetapkan secara jelas, (2) Penetapan prioritas kegiatan, perhitungan beban kerja dan penetapan harga satuan harus dilakukan secara efektif.
3.3 Arah Kebijakan Pembiayaan Daerah
Arah kebijakan pembiayaan, sebagaimana ketentuan yang telah diatur pada penjelasan pasal 17 ayat 3 dalam Undang-undang Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan pasal 83 ayat 2 berikut penjelasannya dalam Undang-undang Nomor33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, maka jumlah kumulatif defisit anggaran tidak diperkenankan melebihi 3 persen dari Produk Domestik Regional Bruto tahun bersangkutan.
Pembiayaan adalah setiap penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran bersangkutan maupun tahun-tahun anggaran berikutnya, yang dalam penganggaran pemerintah terutama dimaksudkan untuk ”menutup defisit” atau ”memanfaatkan surplus” anggaran. Pembiayaan untuk menutup defisit anggaran sering disebut sebagai penerimaan pembiayaan. Sebaliknya, pembiayaan yang dilakukan untuk memanfaatkan surplus disebut dengan pengeluaran pembiayaan. Dengan kata lain pembiayaan menunjukkan penerimaan maupun
pengeluaran kas yang akan dibayar kembali atau diterima kembali.
Dalam kondisi terjadi surplus maupun defisit sebagai hasil perhitungan total pendapatan dibandingkan dengan total belanja maka pemerintah akan dihadapkan pada kebijakan:
1) untuk memanfaatkan surplus dalam pengeluaran pembiayaan untuk menghasilkan manfaat yang optimal dan atau
2) untuk mencarikan sumber penerimaan pembiayaan untuk menutupi defisit.
Selanjutnya dalam keadaan surplus kebijakan pengeluaran pembiayaan yang ditempuh dapat berupa :