• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.3.3 Klasifikasi Halitosis .1 Genuine Halitosis .1 Genuine Halitosis

2.3.3.2 Pseudo Halitosis

Pada individu yang sehat, yang tidak memiliki halitosis dengan faktor lokal atau sistemik, tetapi terus mengeluhkan bau mulut dapat dikategorikan pseudo halitosis. Sebenarnya kebanyakan individu tersebut tidak merasakan bau dari nafasnya, mereka mengira memiliki halitosis karena keliru dari sikap orang lain saat berkomunikasi dengannya.29 Pasien dengan pseudo halitosis sering menunjukkan gejala-gejala depresi.31

2.3.3.3 Halitophobia

Halitophobia adalah kondisi apabila setelah pasien melakukan perawatan baik untuk genuine halitosis ataupun pseudo halitosis, tetapi masih mengeluhkan adanya halitosis.31 Kondisi ini disebabkan oleh rasa takut memiliki bau mulut yang mungkin dikarenakan pengalaman pernah memiliki genuine halitosis.32

2.3.4 Diagnosa

Pemeriksaan rongga mulut harus dengan teliti dan terfokus pada penyebab umum halitosis. Termasuk pemeriksaan rongga mulut, jaringan faring, tambalan gigi, restorasi mahkota dan jembatan gigi. Pemeriksaan periodontal dan kebersihan mulut juga dievaluasi dengan seksama.11,12 Keluhan dari bau mulut harus ditangani dengan serius oleh pelaksana kesehatan gigi, apakah mereka benar memiliki halitosis atau tidak. Halitosis memiliki bau yang dapat dibedakan tergantung sumbernya, seperti bau telur busuk, manis, apel busuk atau bau ikan.13

Beberapa hal yang perlu ditanyakan kepada pasien, tentang siapa yang mengeluhkan bau nafas tersebut, apakah diri sendiri atau orang lain, pada keadaan seperti apa bau tersebut muncul dan semua harus dievaluasi.22 Pengukuran tingkat halitosis memiliki dua metode utama yang direkomendasikan oleh international consensus group; yaitu organoleptic measurement dan instrumental measurements.6,12

1. Organoleptic Measurement

Hidung manusia dianggap standar terbaik untuk mengukur halitosis. Sebagian besar menggunakan sistem penilaian skor organoleptik yang dipopulerkan oleh Rosenberg dan McCulloch. Alasan skor organoleptik menjadi gold standard dikarenakan hidung manusia dapat mencium dan mendefinisikan bau, tidak hanya VSCs tetapi juga senyawa organik lain yang berasal dari pernafasan. Pengukuran organoleptik bergantung pada pemeriksa yang sudah terlatih.22

Pengukuran halitosis dengan menggunakan metode organoleptik dilakukan dengan cara mencium nafas pasien. Sekat privasi sering digunakan untuk memisahkan pemeriksa dengan pasien untuk menghindari pasien melihat pemeriksa mengendus nafasnya. Pipa transparan dengan panjang 10cm dan diameter 2,5cm masuk ke dalam mulut pasien dan menginstruksikan untuk menghembuskan nafas secara perlahan kedalam tabung. Setelah itu di evaluasi dan di berikan skor sesuai dengan skala pengukuran organoleptik.11,34 (Tabel 1)

Tabel 1. Skala pengukuran organoleptik35

Kategori Deskripsi

0 : Tidak ada halitosis Bau tidak terdeteksi 1 : Ada sedikit halitosis yang sulit

terdeteksi

Bau terdeteksi, meskipun pemeriksa tidak mengenalinya sebagai halitosis 2 : Ada sedikit halitosis Bau terdeteksi sebagai sedikit halitosis 3 : Halitosis sedang Bau terdeteksi sebagai halitosis pasti 4 : Halitosis kuat (bau mulut yang

menyengat)

Bau dapat terdeteksi jelas tetapi masih dapat ditoleransi oleh pemeriksa

5 : Halitosis ekstrim (bau mulut yang sangat menyengat)

Bau terdeteksi dengan sangat jelas dan tidak dapat ditoleransi oleh pemeriksa

2. Instrumental Measurements

Dibutuhkan suatu alat yang objektif untuk mengukur VSCs, mudah digunakan, hasil segera terlihat dan data lebih produktif dalam mengukur tingkat halitosis, yaitu:4,6

a. Halimeter

Halimeter adalah monitor gas portable inovatif yang menggunakan sensor elektrokimia untuk mendeteksi keberadaan VSCs di dalam rongga mulut.36 Alat ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1991 untuk pengukuran dari gas sulfur.

Beberapa jenis sulfur, seperti hydrogen sulfide dan methyl mercaptan yang didalam literatur kesehatan gigi dikenal sebagai volatile sulfur compounds atau VSCs dan diketahui menjadi penyebab halitosis. Tingginya nilai yang ditampilkan di Halimeter menunjukkan tingginya tingkat sulfur pada nafas seseorang.36 Halimeter memiliki sensitivitas tinggi terhadap hidrogen sulfida, tetapi sensitivitas rendah terhadap metil mercaptan yang merupakan kontributor yang signifikan untuk halitosis yang disebabkan oleh penyakit periodontal.10,14 (Gambar 1)

Gambar 1. Portable Sulphide Monitor35 b. Breath Checker

Breath Checker adalahsalah satu alat inovatif yang mendeteksi dan mengukur tingkat VSCs pada udara yang ada di dalam rongga mulut. Alat portable ini bertenaga baterai yang tahan sampai 6 bulan jika dipakai sekali sehari atau rata-rata 180 kali pengukuran. Suhu optimal penggunaan alat ini dari 5ºC-35ºC. Namun, keadaan lembab, lingkungan berangin, dan tingkat polusi udara yang tinggi dapat merusak alat

tersebut. Monitor akan menampilkan tingkat bau dalam 6 tingkatan tergantung pada jumlah VSCs yang diukur dalam rongga mulut.37 (Gambar 2)

Gambar 2. Breath Checker37 Gambar 3. Bagian-bagian Breath Checker38

Tata cara pemakaian Breath Checker yaitu sebagai berikut:37,38

1. Tarik penutup ke atas dan sensor akan menyala. Nomor pada layar akan menghitung mundur 5 sampai 1. Kocok alat perlahan 4 sampai 5 kali untuk menghapus bau atau uap air yang tersisa di alat tersebut. (Gambar 3)

2. Sensor harus sekitar 1 cm dari mulut pasien. Ibu jari menyentuh ke dagu pasien sehingga sensor tepat berada di depan mulut pasien. Ketika “start” di tampilkan, pasien mulai menghembuskan nafas ke arah sensor sampai terdengar bunyi “bip” atau sekitar 4 detik.

3. Jika pasien berhenti menghembuskan nafas sebelum terdengar bunyi “bip”

atau tidak menghembuskan nafas selama 6 detik, maka alat akan mati secara otomatis.

4. Tingkat pengukuran akan muncul pada monitor. Setelah selesai sensor ditutup kembali, maka alat tersebut akan mati secara otomatis. (Tabel 2)

Tabel 2. Skala pengukuran Breath Checker38

Kode Kriteria

0 Tidak ada bau mulut

1 Ada sedikit bau mulut

2 Bau mulut yang sedang

3 Bau mulut yang kuat

4 Bau mulut yang sangat kuat

5 Bau mulut yang sangat pekat

E Error (coba kembali)

Pengukuran halitosis menggunakan Breath Checker menunjukkan seseorang benar memiliki halitosis apabila pada monitor Breath Checker menunjukkan skor ≥2, yang berarti orang tersebut memiliki halitosis yang terdeteksi jelas.15

Mahasiswa Kepaniteraan

Klinik Fakultas Kedokteran

Gigi USU

Persepsi Halitosis

1. Merasa memiliki bau mulut.

2. Saat paling merasakan bau mulut.

3. Lama pengalaman memiliki bau mulut.

4. Diberitahu jika memiliki bau mulut.

5. Merasa memiliki bau mulut karena reaksi orang lain.

Pengetahuan Tentang Halitosis

1. Karies dapat menyebabkan halitosis.

2. Penyakit ginjal dapat menyebabkan halitosis.

3. Penyakit paru dan hidung dapat menyebabkan halitosis.

4. Penyakit hati dapat menyebabkan halitosis.

5. Obat kumur dapat mengurangi halitosis.

6. Sumber utama dari halitosis.

7. Senyawa yang paling berhubungan dengan halitosis.

8. Kondisi rongga mulut yang paling mendukung produksi volatile compound.

9. Cara atau alat yang menjadi standar terbaik dalam menegakkan diagnosa halitosis.

10. Bahan aktif di dalam obat kumur yang dapat mengurangi halitosis.

Prevalensi Halitosis

Persentase responden yang memiliki halitosis.

Dokumen terkait