BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN
Lampiran 9. Pseudocode Jaringan Syaraf Tiruan
load('Data_JST.mat'); input = Data_JST;
net = newff(minmax(input(:, 1:8)'), [60 30 1], {'tansig', 'tansig',
'purelin'}, 'trainlm', 'learngdm', 'mse'); net.trainParam.show = 5; net.trainParam.epochs = 1000; net.trainParam.goal = 0.0000005; net.trainParam.lr = 0.005; net.trainParam.mc = 0.005; net = init(net); p = input(:, 1:8); t = input(:, 9); [net, tr] = train(net, p', t'); save net net;
SISTEM DETEKSI DINI UNTUK MANAJEMEN KRISIS
PENYEDIAAN PUPUK BERSUBSIDI BAGI PETANI PADI
(Studi Kasus di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah)
SKRIPSI
Oleh:
YOGA REGANTORO AGRARISTA
F34062398
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2011
Sistem Deteksi Dini Untuk Manajemen Krisis Penyediaan Pupuk Bersubsidi Bagi Petani Padi (Studi Kasus di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah)
Early Warning System for Supply Crisis Management of Subsidized Fertilizers Distribution For Rice Farmers (Case Study in Banyumas, Central Java)
Yoga Regantoro Agrarista
Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Kampus IPB Darmaga, PO BOX 220, Bogor, Jawa Barat
ABSTRACT
Fertilizer supply crisis in Indonesia occur almost every year. This crisis can be prevented by early detection before the crisis situation occurred. Preventive action would be much better than remedial action. In this research, an Artificial Neural Network (ANN) based decision support for supply crisis of subsidized fertilizer distribution was developed. The Early Warning detection was developed with backpropagation (BP) learning’s methods. The constructing of the data’s input for ANN based on the fundamental parameters of supply crisis of subsidized fertilizer by using Exponential Comparation Method (ECM) and expert’s judgments with Analytical Hierarchy Process
(AHP), consisting of the critical factor causing supply crisis of subsidized fertilizer, so this system be able to assess of intensity of the crisis with more fast, effective and efficient.Based on the “trial and error” test of ANN’s training process, the best network performance for BP learning’s method was obtained. The best network performance for BP was showed by the Mean Square Error (MSE) score of 0.00000000531 (5.31.10-9) at the 38th epoch, when the system used sigmoid bipolar for hidden
layer and linear’s activation function for output neuron, Levenberg-Marquadt’s algorithm training, the momentum score was 0.05, the learning rate score was 0.05, and the minimum error was 0.0000005 with the network architecture of [9 60 30 1], that is, 9 neurons in an input layer, 60 neurons in a first hidden layer, 30 neurons in a second hidden layer and 1 neuron in an output layer. The BP was trained with 66 actual data and tested with 15 actual data, with 87% accuracy rate. From the test shows that the network has been able to recognize patterns of crisis. To get the improved accuracy of detection it is recommended for additional training with the latest data.
Keywords : Backpropagation, artificial neural network, supply crisis management, subsidized fertilizer distribution
Yoga Regantoro Agrarista. F34062398. Sistem Deteksi Dini untuk Manajemen Krisis Penyediaan Pupuk Bersubsidi Bagi Petani Padi (Studi Kasus di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah)Di bawah bimbingan Marimin : 2010
RINGKASAN
Kasus kelangkaan pupuk terutama jenis urea merupakan fenomena yang terjadi hampir berulang-ulang setiap tahun. Fenomena ini ditandai oleh melonjaknya harga pupuk di tingkat petani jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Padahal produksi pupuk dari lima pabrik pupuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) selalu berada di atas kebutuhan domestik. Kondisi di lapang menunjukan bahwa penanganan kelangkaan pupuk biasanya dilakukan setelah krisis kelangkaan terjadi. Hal ini berpengaruh terhadap nasib petani yang berhubungan langsung dengan komoditi pupuk tersebut, sehingga dalam kasus ini bisa dikatakan bahwa petanilah yang menanggung beban kelangkaan pupuk yang terjadi.
Jaringan syaraf tiruan merupakan salah satu metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk memecahkan banyak masalah, terutama masalah yang kompleks dan sulit dimodelkan. Salah satu masalah yang dapat dipecahkan menggunakan jaringan syaraf tiruan adalah klasifikasi data. Tujuan penelitian ini adalah melakukan kalasifikasi intensitas krisis kelangkaan pupuk di Kabupaten Banyumas.
Ruang lingkup dari penelitian ini adalah menyusun model kualitatif sistem deteksi dini berbasis jaringan syaraf propagasi balik untuk mengidentifikasi kelangkaan pupuk urea. Data yang digunakan pada penelitian ini merupakan data pertanian dari Dinas Tanaman Pangan, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Data yang digunakan untuk melakukan deteksi dini merupakan data-data dari faktor kritis penyebab kelangkaan pupuk yang telah ditentukan oleh pakar dari hasil wawancara seperti harga pupuk urea, curah hujan, besarnya subsidi, dosis pemakaian pupuk, jumlah pupuk yang hilang dan sebagainya. Indikator yang digunakan untuk mengukur dan mendeteksi kelangkaan ini hanya ditekankan pada parameter tepat jumlah, tepat waktu dan tepat harga. Selain hal tersebut, data yang digunakan untuk melakukan deteksi dini dibatasi hanya pada data tahun 2006 hingga tahun 2008.
Data yang diperoleh nantinya akan dibagi menjadi dua bagian, yaitu data yang digunakan sebagai data pelatihan dan juga data yang digunakan sebagai data percobaan atau simulasi. Pembagian data ini dilakukan dengan Rasio 80:20. Artinya 80% untuk data yang digunakan sebagai data pelatihan dan 20% untuk data yang digunakan sebagai data penelitian atau simulasi.
Tahapan penelitian terdiri dari lima tahapan, yaitu identifikasi masalah, pengumpulan data dan informasi lapang, identifikasi faktor krisis, modeling dan pelatihan jaringan syaraf, dan pengujian dan validasi jaringan. Model jaringan syaraf yang digunakan adalah JST tipe backpropagation neural network dengan dua hidden layer dan satu output. Backpropagation merupakan model jaringan syaraf tiruan dengan layar jamak, backpropagation melatih jaringan untuk mendapatkan keseimbangan antara kemampuan jaringan untuk mengenali pola yang digunakan selama pelatihan serta kemampuan jaringan untuk memberikan respon yang benar terhadap pola masukan yang serupa dengan pola yang dipakai selama pelatihan.
Berdasarkan hasil "trial and error" uji proses pelatihan JST, kinerja jaringan terbaik untuk metode pembelajaran Backpropagation telah diperoleh. Kinerja jaringan terbaik untuk BP ditunjukkan dengan nilai MSE 0,00000000531 (5.31.10-9) pada iterasi ke-38. Arsitektur yang digunakan ketika sistem dilatih adalah fungsi aktivasi sigmoid bipolar untuk lapisan tersembunyi dan fungsi aktivasi linear untuk neuron output, algoritma pelatihan Levenbergs-Marquadt, skor momentum adalah 0,05, skor tingkat belajar adalah 0,05, dan toleransi kesalahan minimum 0,0000005 dengan arsitektur jaringan [9 60 30 1], yaitu 9 neuron pada lapisan input, 60 neuron dalam lapisan tersembunyi pertama, 30 neuron dalam lapisan tersembunyi kedua dan 1 neuron pada lapisan output.
Penerapan sistem ini dilakukan dengan menggunakan data aktual yang diperoleh dari instansi terkait seperti BPS dan kantor Dinas Tanaman Pangan Kabupaten Banyumas. BP dilatih dengan 66 data aktual dan diuji dengan 15 data aktual, hasilnya BP menunjukan tingkat akurasi 84%. Salah satu hasil penilaian prototipe sistem peringatan dini berdasarkan prediksi BP menunjukkan
bahwa intensitas krisis di Baturaden berada dalam tingkat bahaya. Tingkat krisis ini sesuai dengan data aktual yang tersedia, yang menyatakan Baturaden dalam kondisi rentan.
Dengan adanya sistem desain JST Deteksi Dini ini diharapkan dapat mendukung pemberlakuan kebijakan yang lebih baik dalam penentuan tindakan sebelum masa kelangkaan pupuk terjadi. Selain itu penggunaan sistem deteksi dini ini diharapkan dapat menentukan level krisis kelangkaan pupuk secara lebih akurat, efisien dan efektif sehingga kebijakan pemerintah tentang tindakan penanganan kelangkaan pupuk dapat segera terwujud. Selain itu, petani juga lebih terbantu dalam menjalankan tugasnya untuk meningkatkan produktivitas mereka tanpa harus khawatir tentang kebutuhan pupuk untuk musim tanam selanjunya, sehingga beban petani yang harus mereka tanggung karena harga pupuk yang berada jauh di atas HET dapat dikurangi. Bagi distributor dan pengecer tentunya mereka harus segera memperbaiki diri untuk meningkatkan kualitas proses pengadaan dan penyaluran pupuk secara nyata dalam memenuhi kriteria dan kewajiban yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
Sebagai saran perlu adanya pelatihan tambahan untuk menilai ulang dan mengukur kinerja jaringan dengan data-data yang lebih baik dan lebih baru agar bisa mengenali pola-pola yang terjadi pada masa ini, karena data yang digunakan pada penelitian ini tergolong data yang kurang up-date
yaitu data tahun 2006-2008. Pelatihan tambahan dengan data yang lebih banyak atau data baru untuk meningkatkan akurasi penilaianya dan untuk mendapatkan sistem peringatan yang lebih baik, pintar, dan lebih efisien.
Jika dimungkinkan perlu adanya pengembangan Sistem Deteksi Dini untuk manajemen krisis pupuk ini dalam cakupan yang lebih luas, yaitu cakupan nasional bukan hanya untuk kabupaten. Karena kelangkaan pupuk tidak hanya terjadi pada tingkat kabupaten tetapi juga terjadi pada tingkat provinsi dan juga merupakan permasalah nasional yang hampir terjadi setiap tahunnya.
1
I. PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Kasus kelangkaan pupuk terutama jenis urea merupakan fenomena yang terjadi hampir berulang-ulang setiap tahun. Fenomena ini ditandai oleh melonjaknya harga pupuk di tingkat petani jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Padahal produksi pupuk dari lima pabrik pupuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) selalu berada di atas kebutuhan domestik. Sehingga tanpa mengurangi pasokan untuk pasar bersubsidi domestik, masih ada kelebihan pasokan pupuk sekitar 1.3 juta ton baik pada tahun 2009 untuk memenuhi pasar pupuk non subsidi domestik yang diperkirakan relatif kecil maupun untuk pasar ekspor. Namun fakta di lapangan sering terjadi kelangkaan dan lonjakan harga yang dibayar petani di atas HET (Yusdja et al. 2005).
Pupuk sendiri merupakan salah satu faktor produksi yang bernilai penting dalam budidaya pertanian. Berbagai kebijakan dalam pendistribusian pupuk telah dilakukan untuk menangani kelangkaan. Kebijakan tersebut mempengaruhi kinerja ekonomi pupuk yang meliputi produksi, ketersediaan, tingkat harga dan tingkat penggunaan oleh petani. (Darwis et al. 2004). Sedangkan menurut Deptan (2009), padi merupakan tanaman pangan pokok yang ada di Indonesia dan tanaman pangan mendapatkan 61% kebutuhan pupuk urea yang diproduksi oleh pemerintah setiap tahunnya. Hal inilah yang membuat pupuk urea sangat bernilai strategis bagi petani padi.
Secara umum persoalan kelangkaan (yang merefleksikan ketidaktepatan dosis, jenis, mutu, waktu dan tempat) dan harga yang dibayar petani atas HET, lebih banyak disebabkan pada sistem distribusi yang berjalan tidak efektif dan efisien (Yusdja et al. 2005). Permasalahan kelangkaan pupuk bersubsidi pada dasarnya disebabkan oleh kekurang tepatan pupuk dalam hal jumlah dan waktu dengan berbagai penyebab, diantaranya adalah persoalan kurangnya alokasi, kurang tepatnya perencanaan, adanya perembesan dan belum lancarnya infrastruktur distribusi. Kajian sebelumnya merekomendasikan berbagai hal dalam peningkatan kinerja distribusi pupuk bersubsidi diantaranya adalah perlunya dikembangkan sistem peringatan dini (Early Warning System) dalam sistem distribusi pupuk bersubsidi (Maksi-PPKS-BPTP 2009). Menurut Eriyatno (1989) Peringatan dini sendiri merupakan kegiatan pendugaan untuk suatu keadaan di masa mendatang, dengan mengadakan taksiran terhadap berbagai kemungkinan yang terjadi sebelum suatu rencana yang lebih pasti dilakukan.
Penyediaan pupuk nasional dipengaruhi oleh faktor-faktor yang terlibat dalam produksi dan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat permintaan. Keterkaitan faktor yang berhubungan dengan penyediaan pupuk bersifat kompleks, dinamis, dan probabilistik. Kompleksitas tersebut disebabkan oleh faktor yang berpengaruh dan bersifat multi aspek dan multi dimensi. Perubahan nilai, tingkat keterkaitan antar faktor tersebut berubah menurut waktu dan sulit untuk diprediksi. Walaupun demikian, pemahaman hubungan dan sifat kedinamisan faktor penentu krisis pasokan pupuk akan sangat bermanfaat dalam merumuskan model sistem yang mampu memberikan peringatan, menyediakan protokol manajemen krisis dan penanggulangan dampak jika terjadi kelangkaan pasokan pupuk bersubsidi untuk petani padi. Informasi yang lebih dini akan terjadinya krisis pasokan pupuk akan sangat bermanfaat dalam rangka merumuskan program aksi atau langkah operasional untuk menghindari dan menanggulangi terjadinya krisis atau mengurangi dampak yang lebih besar akibat terjadinya krisis pasokan pupuk. Krisis yang berlarut-larut yang tidak segera ditangani akan mengakibatkan chaos yang merupakan puncak dari sebuah krisis yang akan sangat sulit untuk ditangani dan dikembalikan kekondisi semula (Fink 1986).
2 Selama ini pemerintah lebih bersifat pragmatis terhadap kasus kelangkaan pupuk yang terjadi di Indonesia. Pemerintah lebih cenderung melakukan tindakan penanganan setelah kasus kelangkaan terjadi bukan sebelum krisis terjadi. Hal ini diharapkan dapat diperbaiki secara perlahan- lahan. Oleh karena itu, diperlukan suatu analisis faktor kritis penyebab kelangkaan secara mendalam untuk melakukan deteksi dini terhadap kondisi kelangkaan pupuk yang terjadi di pasar agar pemerintah atau pihak terkait dapat mengambil kebijakan lebih awal. Hal ini berjutuan agar petani tidak terlalu terbebani dengan kasus kelangkaan pupuk tersebut. Salah satu langkah penerapan tindakan preventif ini adalah pembuatan prototipe Sistem Deteksi Dini menggunakan Jaringan Syaraf Tiruan (Yu, Chen dan Wang 2009).
Penggunaan jaringan syaraf tiruan ini dilakukan karena jaringan syaraf tiruan memiliki kelebihan dalam mengolah variabel input yang jumlahnya banyak baik linear maupun nonlinear tanpa mengetahui persamaan matematisnya.
1.2 Tujuan
Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan prototipe model deteksi dini untuk manajemen krisis penyediaan pupuk khusunya bagi petani padi. Sedangkan tujuan antara dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Mengidentifikasi faktor-faktor penyebab kelangkaan yang paling berpengaruh terhadap kondisi kelangkaan pupuk yang terjadi.
2. Mengidentifikasi kinerja jaringan syaraf tiruan yang telah dibuat sebagai prototipe sistem deteksi dini.
1.3 Ruang Lingkup
Ruang lingkup penelitian ini adalah menyusun model kualitatif sistem deteksi dini berbasis jaringan syaraf propagasi balik untuk mengidentifikasi kelangkaan pupuk urea. Penggunaan jaringan syaraf propagasi balik sebagai sistem deteksi dini disebabkan jaringan syaraf propagasi balik mampu menyelesaikan permasalahan yang sulit dimodelkan dan didefinisikan jika menggunakan metode deteksi dini lainnya seperti regresi linier dengan time series. Data yang digunakan pada penelitian ini berasal dari data pertanian dari Dinas Tanaman Pangan, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Data yang digunakan untuk malakukan deteksi dini merupakan data-data dari faktor kritis penyebab kelangkaan pupuk yang telah ditentukan oleh pakar dari hasil wawancara. Hasil deteksi ini diharapkan dapat digunakan oleh pihak pemerintah dalam melakukan antisipasi kelangkaan pupuk di kecamatan Banyumas dengan melakukan tindakan sebelum kelangkaan itu benar-benar terjadi.
Selain ruang lingkup geografis, indikator yang digunakan untuk mengukur dan mendeteksi kelangkaan ini hanya ditekankan pada 3 tepat yaitu : Tepat Jumlah, Tepat Waktu dan Tepat Harga. Selain hal tersebut data yang digunakan untuk melakukan deteksi dini dibatasi hanya pada data tahun 2006 hingga tahun 2008 karena adanya keterbatasan data.
Prototipe sistem deteksi dini ini juga memiliki keterbatasan, yaitu belum memperhatikan permasalahan mendetail yang terjadi pada ketepatan peramalan pupuk yang terjadi dalam penyusunan RDKK Pupuk oleh petani ataupun pemerintah. Hanya sebatas faktor kelangkaan hasil studi turun lapang seperti harga pupuk urea, curah hujan, besarnya subsidi, dosis pemakaian pupuk, jumlah pupuk yang hilang dan sebagainya.
3
1.4 Hasil dan Manfaat Penelitian
Dari penelitian ini diharapkan dapat menyediakan model sistem deteksi dini yang diharapkan dapat mencegah atau menghindari krisis pasokan yang akan terjadi dalam jangka pendek dan menengah dalam distribusi pupuk bersubsidi khususnya bagi para petani padi.
4
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1Kajian Pupuk Bersubsidi
2.1.1 Pupuk
Pupuk merupakan salah satu faktor produksi yang penting dalam usaha tani, terutama dalam rangka meningkatkan produksi tanaman pangan. Dari beberapa hasil penelitian dapat diketahui adanya korelasi yang nyata antara tingkat pemakaian pupuk dengan tingkat produksi padi. Pupuk sendiri dapat diartikan sebagai bahan yang diberikan ke dalam tanah sebagai penyedia unsur yang diperlukan oleh tanah agar produktivitas tanah meningkat (Pertiwi 2005). Sedangkan menurut Puspita (2002) pupuk adalah bahan yang diberikan kepada tanaman baik langsung maupun tidak langsung guna mendorong pertumbuhan tanaman, meningkatkan produktivitas atau memperbaiki kualitasnya sebagai akibat perbaikan nutrisi tanaman. Pupuk merupakan senyawa yang mengandung unsur hara yang diberikan pada tanaman.
Pupuk sendiri dapat dikelompokan menjadi pupuk organik dan anorganik. Pupuk UREA, KCL, TSP merupakan contoh pupuk anorganik. Sedangkan kompos, pupuk kandang dan pupuk hijau merupakan contoh pupuk organik.
Berdasarkan hasil penelitian Deptan (1995) ada lima aspek yang dipertimbangkan petani dalam mengkonsumsi pupuk, yaitu :
1. Aspek teknis (jenis tanaman, pola tanam, keadaan lahan)
2. Aspek ekonomis (harga pupuk, harga output, luas lahan, produksi dan modal)
3. Aspek sosial (pengalaman dan pengetahuan usaha tani, saran sesama kelompok tani, dan saran PPL)
4. Aspek kelembagaan (kebijakan penyaluran pupuk, penyaluran kredit usaha tani, efisiensi pemupukan, ketepatan waktu penyaluran pupuk)
5. Aspek ekologis (iklim/cuaca, ketersediaan irigasi)
Di Indonesia telah banyak diperdagangkan berbagai macam jenis pupuk. Sebagian besar jenis pupuk yang diproduksi di Indonesia merupakan hasil produksi 5 perusahaan pupuk BUMN Indonesia. Perusahaan tersebut antara lain PT. Pupuk Iskandar Muda, PT. Pupuk Sriwijaya, PT. Pupuk Kujang, PT. Petrokimia Gresik, dan Pupuk Kalimantan Timur. Dari kelima perusahaan pupuk BUMN itulah di produksi pupuk bersubdi. Adapun jenis pupuk yang disubsidi oleh pemerintah adalah Urea, SP-36, ZA, NPK dan Pupuk Organik.
2.1.2 Sistem Distribusi Pupuk Bersubsidi
Subsidi adalah bantuan yang diberikan pemerintah kepada produsen. Subsidi pada dasarnya adalah penambahan pendapatan bagi produsen, oleh karena itu disebut pajak tak langsung negatif (BPS 2000). Subsidi juga dapat berarti sebuah pembayaran yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengkompensasi produsen agar harga barang atas jasa yang diproduksinya berada di bawah harga pasar (Horner dan Liebster 1980 dalam Ardi 2005).
Sebuah industri dapat menerima subsidi disebabkan industri tersebut mempunyai peranan yang penting dalam perekonomian suatu negara. Bagaimanapun juga seperti pajak, subsidi dapat menimbulkan efek yang kurang menguntungkan. Subsidi dapat membuat sebuah perusahaan menjadi
5 terlalu bergantung kepada pemerintah, sehingga menghabiskan sumberdaya yang seharusnya dapat lebih berguna di tempat lain (Chishelm dan Marilu 1978 dalam Ardi 2005).
Distribusi adalah proses penyaluran suatu barang dari produsen kepada konsumen dengan tahapan tertentu. Sedangkan menurut SK Menperindag No. 70/2003 distribusi pupuk atau penyaluran pupuk adalah proses penyampaian pupuk dari tingkat produsen sampai ke tingkat konsumen. Distribusi sendiri dapat diartikan sebagai kegiatan penyaluran suatu barang dari produsen ke konsumen.
Kebijakan pemerintah tentang distribusi pupuk bersubsidi dilakukan dengan pola tertutup. Pelaksanaan pola tertutup yang mulai dilaksanakan pada Januari 2009 ditujukan menghindari terjadinya kelangkaan pupuk dan penyimpangan pendistribusian pupuk ke sektor lain selain pertanian.
Secara umum, teknis distribusi pupuk bersubsidi dengan pola tertutup sesuai Permendag dan Permentan itu cukup tegas mengatur tanggung jawab produsen (Lini I-II), distributor (Lini III), dan penyalur (Lini IV). Dalam hal ini, tanggung jawab produsen yakni menetapkan wilayah tanggung jawab pengadaan dan penyaluran pupuk ke masing-masing distributor yang dicantumkan dalam Surat Perjanjian Jual Beli (SPJB) atau kontrak. Produsen juga berkewajiban menjamin kelancaran arus barang melalui penyederhanaan prosedur penebusan pupuk, dan dalam penyaluran pupuk bersubsidi itu harus mempertimbangkan Harga Eceran Tertinggi (HET).
Sementara itu, distributor berkewajiban melaksanakan pengadaan dan penyaluran pupuk bersubsidi sesuai ketentuan yang ditetapkan produsen berdasarkan prinsip enam tepat yakni tepat waktu, jumlah, jenis, tempat, mutu dan harga yang layak. Distributor juga wajib menyampaikan daftar pengecer di wilayah tanggung jawabnya kepada produsen yang ditembuskan kepada kepala dinas provinsi/kabupaten dan tim pengawas pupuk provinsi/kabupaten.
Sedangkan tanggung jawab penyalur yakni dalam melaksanakan pengadaan dan penyaluran pupuk bersubsidi harus sesuai ketentuan distributor berdasarkan prinsip enam tepat kepada petani atau kelompok tani. Penyalur wajib melakukan pencatatan dan penyusunan daftar seluruh petani yang akan dilayani di wilayah tanggung jawabnya yang disahkan oleh kepala desa atau Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) setempat. Penyalur hanya dapat melakukan penebusan pupuk bersubsidi dari satu distributor yang ditunjuk, dan hubungan kerja antara distributor dan penyalur juga diatur dengan SPJB (Permendag Nomor 21/M-DAG/PER/6/2008).
2.1.3 Kriteria Pendistribusian Pupuk
Agar pupuk selalu tersedia di tingkat petani, distributor maupun produsen mendapatkan margin sesuai jasa yang diberikan kepada pihak lain, diperlukan suatu sistem tataniaga pupuk yang berkeadilan (Darwis et al. 2004). Untuk bisa mencapai hal itu, Memperindag mengaturnya dalam Surat Keputusan (SK) Menperindag No 70/MPP/Kep/2/2003 tanggal 11 Februari 2003 yang mengatur kembali pola Pengadaan dan Penyaluran Pupuk Bersubsidi untuk Sektor Pertanian dengan mekanisme sebagai berikut :
1. Rayonisasi Wilayah Pemasaran
Rayonisasi wilayah pemasaran selain dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi distribusi pupuk, juga untuk memberikan tanggung jawab pengamanan pengadaan pupuk kepada anggota holding agar tidak menjadi monopoli unit niaga tertentu. Penetapan rayonisasi pemasaran dilakukan dengan perimbangan kemampuan produksi masing-masing anggota holding company. Atas dasar ini, pembagian wilayah dan tanggung jawab adalah sebagai berikut : PT. Pupuk Iskandar Muda (Aceh, Sumatra Utara, dan Riau), PT. Pupuk Sriwijaya (Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, DKI Jakarta, Jawa Barat, DIY, Jawa Tengah, Bali, NTB, NTT, Kalimantan Barat,
6 Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku dan Irian Jaya) , PT. Pupuk Kujang, (Jawa Barat), PT. Petrokimia Gresik (Jawa Timur), dan PT.Pupuk Kalimantan Timur (Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan).
Sehingga untuk daerah Banyumas sendiri ketersediaan pupuk menjadi tanggung jawab PT. Pupuk Sriwijaya karena Banyumas terletak di Propinsi Jawa Tengah.
Gambar 1. Rayonisasi Penyaluran Pupuk Urea Bersubsidi (Pusri 2009)
2. Penjualan Pupuk mulai di Lini III (kabupaten)
Pemberlakuan penjualan pupuk mulai dari lini III (kabupaten), selain dimaksudkan untuk mendekatkan dengan konsumen juga untuk membatasi gerak distributor yang dulunya sangat leluasa. Dengan adanya pengaturan tersebut, baik unit niaga PT. Pusri maupun