BAB II KAJIAN PUSTAKA
B. Do’a
4. Do’a dalam Perspektif Islam
Menurut Ibrahim Muhammad Hasan al-Jamal, dengan berdo’a orang akan merasakan kehadiran Allah SWT, kedamaian, ketenangan, meninggikan
spiritual, dan memperkuat motivasi yang positif. Dalam bukunya Al-Istisfa’bi ad do’a sebagai berikut:
Mereka juga mengatakan, “kalau kita melihat do’a secara medis dan dampak positifnya terhadap jiwa, maka kita akan mengetahui bahwa do’a sesungguhnya berfungsi untuk mempersiapkan seorang mukmin yang selalu bisa merasakan kehadiran Yang Maha Tinggi lagi Kuasa di hadapannya. Sehingga dengan do’anya dia akan merasa sedang melakukan kontak dengan Dzat yang apabila menghendaki segala sesuatu hanya mengatakan, “jadilah” (kamu) maka jadilah ia (kun fayakun).”
“Selain itu, dia akan dapat merasakan kedamaian dan ketenangan. Dia juga akan dapat merasakan betapa berharganya suatu kenikmatan ketika ia sudah tidak lagi mampu merasakan kenikmatan yang ada di dunia ini.
Kesemuanya itu akan dapat memicu meningginya kekuatan nilai-nilai spiritualnya, memperkuat motivasinya dan menjadikan sebab segala jenis penyakit jiwa dan syaraf tidak menghinggapinya. “sungguh, ucapan adalah modal dasar pengobatan modern untuk menguatkan nilai-nilai mental pengidap penyakit kejiwaan. Sedangkan do’a adalah sarana terpenting untuk itu. Hal itu disebabkan karena do’a mampu memberikan ilham kepada jiwanya dan karenanya pendo’a bisa memperoleh makanan sekaligus obat bagi roh dan jiwanya. Selain itu, do’a juga sebagai penguat dan pengokoh motivasinya yang positif, sehingga do’a dapat menjadikan roh dan jiwa mampu mengalahkan segala apa yang menimbulkan dampak negatif terhadapnya. Pada gilirannya nanti, roh dan jiwa tersebut tidak bisa ditembus oleh sifat putus asa dan tidak pula bisa dicengkram oleh sifat lemah atau mudah patah semangat” (Al-jamal, 2003).
Ada beberapa macam keistimewaan dalam do’a. Keistimewaan adalah nilai lebih yang dimiliki oleh suatu hal. Keistimewaan do’a berarti menjelaskan tentang nilai lebih yang terkandung dalam do’a, mengenai hal ini Rasulullah SAW telah bersabda:
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra., dari Nabi SAW sabdanya: “tidak ada sesuatu yang lebih mulia bagi Allah dari pada do’a.” (HR. Tirmidzi, Al-Hakim, Ahmad, dan Thabrani).
Menurut Mahmudin, di dalam do’a terkandung banyak sekali hikmah dan pengetahuan Ilahiyah (ketuhanan). Dimana hikmah dan pengetahuan yang
terpendam dalam do’a tidak akan diketahui dan dirasakan kecuali oleh mereka yang telah melakukan dan menyelami do’a.
Apabila seorang hamba berdo’a dan ia tidak putus asa dan terus berdo’a, maka Allah akan membukakan pintu-pintu hikmah dan pengetahuan dalam hatinya, sehingga ia akan menjadi manusia yang memperoleh kebaikan, kemuliaan serta keberuntungan dari sisi-Nya.
Masih menurut mahmudin lagi, do’a memiliki kedudukan dan nilai kebaikan yang jauh lebih tinggi dari pada suatu pemberian yang diharapkan dalam do’a. Ibnu ‘Uyainah pernah berkata, “Apa yang dibenci seorang hamba lebih baik baginya dari pada apa yang disukainya. Hal itu karena apa yang dibencinya akan menggerakkannya untuk berdo, sedangkan apa yang disukainya akan melalaikan dirinya dari do’a.”
Seperti sabda Rasulullah SAW:
Apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan menimpakan bala’ kepadanya hingga dia mendengar kerendahan hatinya.” (HR.
Baihaqi dan Daelami).
Umar ra. berkata, “Aku tidak memperhatikan sepenuhnya pada ijabah, namun perhatianku tertuju pada do’a. Jika aku diilhami do’a, pasti ijabah akan menyertainya.”
Perkataan ini adalah ungkapan hati yang benar-benar mengenal Allah, mengetahui bahwa Allah menakdirkan ijabah, maka Dia juga menakdirkan do’a yang akan selalu menyertainya.
Menurut Mahmudin, “Do’a itu memberi konsekuensi kehadiran sesuatu, sedangkan pemberian itu memberi konsekuensi hilangnya sesuatu. Berada pada pintu kehadiran itu lebih sempurna dari pada berhadapan dengan sesuatu yang akan hilang.”
Karena itulah, menghadapkan diri kepada Allah untuk berdo’a hanya berharap kepada Allah adalah sebuah pertolongan dan anugrah besar yang harus disyukuri, sedangkan ijabah atau terkabulnya do’a adalah karunia yang lain.
Ada beberapa manfaat yang bisa didapat ketika seseorang bersungguh-sunguh dalam berdo’a, antara lain:
a. Do’a sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah
Dalam hal ini do’a mampu menghadirkan hati dan mengingat Allah saat berdo’a. Kebanyakan manusia akan sanggup memfokuskan hati dan mengikhlaskan niatnya kepada Allah saat ia sedang terdesak dalam do’anya. Ketika seorang hamba mendekat kepada Allah dengan do’a, maka Dia pun akan mendekat kepadanya dengan rahmat-Nya.
Seperti dalam hadist berikut:
“Aku sesuai dengan dugaan hamba-Ku kepada Aku dan Aku bersama ketika ia dzikir kepada-Ku. Jika ia dzikir kepada-Ku di dalam hatinya, Aku pun ingat di dalam hati-Ku. Dan jika ia ingat dalam khlayak ramai, niscaya Aku pun ingat dalam khalayak ramai dengan lebih baik. Dan jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Akupun mendekati pula sehasta. Dan jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, niscaya Aku
mendekat kepadanya sedepa. Dan jika ia mendekat kepada-Ku berjalan, maka Aku mendatanginya sambil berlari.” (HR. Syaikhoni, Tirmidzi dari Abu Hurairah)
b. Do’a sebagai pintu menuju ma’rifatullah
Asal dari makna ibadah adalah kerendahan dan kehinaan. Dengan demikian, beribadah berarti merendahkan diri dan merasa hina dihadapan Allah. Apabila do’a adalah inti dan otak ibadah, maka do’a untuk memberi manfaat untuk mengetahui kehinaan seorang hamba dan memahami keagungan Allah, dan ini adalah dasr dari penyembuhan dan pengenalan diri tarhadap Allah SWT. Dengan demikian, do’a merupakan kunci yang membuka pintu ma’rifatullah.
c. Do’a sebagai sarana memperbaiki prasangka kepada Allah
Dalam do’a terdapat harapan dan cita-cita. Orang yang berdo’a kepada Allah berarti ia menaruh harapan dan cita-citanya kepada Allah. Dia percaya bahwa Allah-lah yang sanggup memenuhi harapannya.
Oleh karenanya, ketika seorang hamba sedang berdo’a, maka orang tersebut haruslah memiliki prasangka-prasangka yang baik kepada yang dimintai harapan, bahwa Dia sanggup dan pasti akan memenuhi harapannya. Dengan demikian, otomatis do’a akan mendorong seseorang untuk berprasangka baik terhadap Allah.
Dengan berbekal prasangka baik itulah orang tersebut akan mampu mengambil pelajaran dan memetik hikmah dari setiap kejadian yang menimpanya.
d. Do’a sebagai wujud tawakkal kepada Allah
Do’a merupakan manifestasi atau perwujudan sikap tawakkal kepada Allah, karena didalam do’a terdapat ikhtiar manusia, ketergantungan hati terhadap Allah, penyerahan diri, kepercayaan, dan keyakinan kepada janji Allah.
e. Do’a sebagai pintu keridhaan terhadap Allah
Do’a tidak bertentangan dengan sikap ridhaterhadap ketentuan Alah.
Hal ini karena do’a seorang hamba yang benar justru akan memberikan konsekuensi ridha, yaitu ridha terhadap segala keputusan dan ketetapan yang akan datang pada diri orang yang meminta tersebut.
f. Menurut Su’dan, penyimpangan seks seperti hiperseks, lesbian, homoseks, masokisme, dan lain sebagainya dapat sembuh dengan dzikrullah (mengingat Allah). Juga penyimpangan-penyimpangan jiwa lainnya seperti psychopatia semacam kleptomania atau suka mencuri, penyakit jiwa karena stress atau ketegangan hidup yang berlebihan.
Apalagi kalau hanya penyakit psikosomatik, mudah sekali ditanggulangi dengan dzikrulloh. Bahkan penyakit jiwa yang sebenarnya seperti psychosis pun dapat diselesaikan dengan dzikrulloh pula.
g. Dadang Hawari, Psikiater (Guru Besar Tetap Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Doktor di bidang NAZA) : "Selain terapi medis, sholat, berdo’a dan berdzikir dapat meningkatkan kekebalan tubuh terhadap virus HIV/AIDS".
(http://islamic.xtgem.com/ibnuisafiles/list/nov08/islam_therapy/0021.h tm).
h. Handrawan Nadesul, dalam salah satu artikel yang ada di buku berjudul “Memahami Otak” (diterbitkan oleh Penerbit Kompas), menulis : Hidup kita sudah begini susah, maka jangan lagi ditambah susah. Pilihan untuk lebih banyak melakukan perenungan sungguh bijaksana. Kini agaknya kita perlu lebih banyak melakukan kegiatan spiritualitas. Kita perlu meningkatkan intelegensia spiritualitas (Spiritual Quotient, SQ, Danah Zohar & Ian Marshal), antara lain lewat pencarian ke dalam diri dengan perjuangan ke luar.
Orang-orang yang banyak melakukan do’a, meditasi, bersembahyang, berzikir, tahajud, akan mampu menjinakkan sistem saraf otonom tubuhnya. Tabiat saraf otonom kita, lantaran kehidupan serba modern sekarang ini, rata-rata kian liar dan binal. Secara sadar kita sendiri tak mampu mengendalikannya. Aktivitas saraf otonom, yang bikin kita garang dan pemberang selama ini, ada di luar pengaruh alam sadar kemauan kita. Satu cara menjinakkannya, katanya, dengan lebih banyak melakukan kegiatan spiritual.
Orang yang tinggi spiritualitasnya tinggi pula gelombang alfa di otaknya. Ini yang membuat hidup menjadi lebih tenang, sekali pun badai kecemasan, ketakutan, dan kepanikan terus menerjang tanpa perlu minum obat atau minta bantuan dukun. Dengan demikian risiko kena stroke, jantung koroner, sakit jiwa, dan kanker menjadi lebih kecil.
Kebanyakan stres dan berperasaan negatif yang mengguyur orang modern sekarang ini mencetuskan banyak sekali penyakit. Gerak spiritualitas akan bisa meredamnya.
(http://islamic.xtgem.com/ibnuisafiles/list/nov08/islam_therapy/0021.h tm).
i. Carrel Aulia (1980 : 19,20) mengemukakan bahwa: Apabila do’a itu dibiasakan dan bersungguh-sungguh, maka pengaruhnya menjadi sangat jelas. Ia merupakan semacam perubahan kejiwaan dan kebadanan. Ketentraman ditimbulkan oleh do’a itu merupakan pertolongan yang besar pada pengobatan. Mengenai tidak dikabulkannya do’a, selanjutnya Carrel mengemukakan: Do’a itu sering tidak berhasil, karena kebanyakan yang memanjatkan do’a itu masuk golongan orang-orang yang hanya mementingkan diri sendiri, pembohong, penyombong, bermuka dua, tidak beriman dan mengasihi.
j. Majalah terkenal Newsweek terbitan tanggal 10 November 2003 mengangkat pengaruh agama dalam penyembuhan penyakit sebagai bahasan utamanya. Majalah tersebut melaporkan bahwa keimanan
kepada Tuhan meningkatkan harapan pasien dan membantu pemulihan mereka dengan mudah, dan bahwa ilmu pengetahuan mulai meyakini bahwa pasien dengan keimanan agama akan pulih lebih cepat dan lebih mudah. Menurut pendataan oleh Newsweek, 72% masyarakat Amerika mengatakan mereka percaya bahwa berdo’a dapat menyembuhkan seseorang dan berdo’a membantu kesembuhan. Penelitian di Inggris dan Amerika Serikat juga telah menyimpulkan bahwa do’a dapat mengurangi gejala-gejala penyakit pada pasien dan mempercepat proses penyembuhannya.
(http://islamic.xtgem.com/ibnuisafiles/list/nov08/islam_therapy/0021.h tm)
k. Menurut penelitian yang dilakukan di Universitas Michigan, depresi dan stres teramati pada orang-orang yang taat beragama dengan tingkat rendah. Dan, menurut penemuan di Universitas Rush di Chicago, tingkat kematian dini di kalangan orang-orang yang beribadah dan berdo’a secara teratur adalah sekitar 25% lebih rendah dibandingkan pada mereka yang tidak memiliki keyakinan agama. Penelitian lain yang dilakukan terhadap 750 orang, yang menjalani pemeriksaan angiocardiography (jantung dan pembuluh darah), membuktikan secara ilmiah "kekuatan penyembuhan dari do’a." Telah diakui bahwa tingkat kematian di kalangan pasien penyakit jantung yang berdo’a menurun 30% dalam satu tahun pasca operasi yang mereka jalani.
l. Menurut Al-Thabathabai, do’a dan dzikir dapat mengembalikan kesadaran seseorang yang hilang, sebab aktivitas zikir mendorong seseorang untuk mengingat, menyebut kembali hal-hal yang tersembunyi dalam hatinya. Do’a dan dzikir juga mampu mengingatkan seseorang bahwa yang membuat dan menyembuhkan penyakit hanyalah Allah SWT. semata, sehingga dzikir mampu memberi sugesti penyembuhannya. Karena itulah maka Allah SWT.
menyerukan kepada hamba-Nya agar bertanya kepada orang-orang ahl al-dzikr jika tidak mengetahui penyakit dan cara penyembuhannya (QS. Al-Nahl : 43):
E : 7:=> :? ; "14 . < F @ ,6 6"5, : %</)
Artinya: ”Dan kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang kami beri wahyu kepada mereka; Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”
Banyak dari kalangan psikologsufistik memiliki ketenangan dan kedamaian jiwa yang luar biasa. Hidup bagi mereka terasa tanpa beban, bahkan dengan musibah pun mereka dapat menikmatinya.
Kunci utama keadaan jiwa mereka itu adalah melakukan dzikir.
Firman Allah SWT. dalam QS. Al-R’ad: 28, yang berbunyi :
0 " - = !GH@ 6#' ,A' ) > : ?*A' ) = !G @ I %.')
Artinya: ”(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”
Dzikir memiliki efek yang sama dengan terapi relaksasi, yaitu suatu betuk terapi dengan menekankan upaya menghantarkan pasien bagaimana cara ia harus beristirahat dan bersantai-santai melalui pengurangan ketegangan atau tekanan psikologis. Banyak dari kalangan psikologsufistik memiliki ketenangan dan kedamaian jiwa yang luar biasa. Hidup bagi mereka terasa tanpa beban, bahkan dengan musibah pun mereka dapat menikmatinya.
m. Sementara itu Dadang Hawari, dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menyatakan bahwa berdo’a dan berdzikir merupakan bentuk komitmen keagamaan seseorang yang merupakan unsur penyembuh penyakit atau sebagai psikoterapeutik yang mendalam. Do’a dan dzikir merupakan terapi psikoreligius yang dapat membangkitkan rasa percaya diri dan optimisme yang paling penting selain obat dan tindakan medis.
C. Definisi dan Etiologi Skizofrenia