• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II MEMAHAMI GLOBALISASI BUDAYA DAN SENI TARI

3.2 Dampak Positif dan Negatif Gobalisasi Budaya terhadap Seni Tari

3.2.2 Dampak Negatif

3.2.2.3 Pudarnya Nilai Budaya Lokal

Proses perkembangan seni tari hegong dalam bentuk hegong kreasi, secara tidak langsung memberikan pengaruh yang tidak diharapkan oleh masyarakat Sikka secara keseluruhan. Secara khusus nilai-nilai filosofis yang hendak disampaikan dalam seni tari hegong, baik nilai yang terkandung dalam tema tarian hegong maupun nilai filosofis dari warisan material tarian hegong itu sendiri.

Dalam kehidupan seni tari hegong masyarakat Sikka, terdapat beberapa nilai dari seni tari hegong yang menjadi pedoman yang harus ditaati oleh masyarakat Sikka. Namun, dalam proses perkembangan seni tari hegong, nilai-nilai warisan nenek moyang tersebut semakin pudar. Nilai-nilai yang diyakini telah mengalami perubahan antara lain:

Pertama, nilai spiritual.192 Pudarnya nilai spiritual akibat gobalisasi budaya dapat ditemukan dalam upacara-upacara adat tarian hegong. Tarian hegong merupakan tarian adat yang tidak terlepas dari ekspresi atau pengungkapan akan makna dan nilai-nilai yang terkandung dalam upacara adat. Hampir semua jenis maupun fungsi dari tarian hegong selalu berkaitan dengan ritual adat. Penyajian seni tari hegong dalam bentuknya yang asli dan sederhana sangat dirasakan dalam situasi atau proses dari ritual adat tersebut.

Seni tari hegong yang semakin populer saat ini sudah mengalami berbagai interpretasi yang beragam dari seniman-seniman sanggar tari. Pandangan terhadap nilai spiritual dalam seni tari hegong pun dimaknai secara berbeda dan disajikan dalam bentuk yang berbeda pula.193 Oleh karena itu, sebagai akibat yang tidak diharapkan adalah semakin kaburnya nilai spiritualitas yang terkandung dalam tarian

191

Hasil wawancara dengan bapak Thomas Aquino, Kepala Seksi Olahraga Bidang Kepemudaan dan Olahraga Dinas PKO Kabupaten Sikka, pada 15 April 2020 di Maumere.

192

Hasil wawancara dengan bapak Philipus Pina Poin, Seniman Lokal, pada 24 Januari 2020 di Mage Sayang, Kecamatan Waigete.

193

Hasil wawancara per telepon seluler dengan bapak Rafael Rapa, Seniman Lokal, pada 18 April 2020 di Waigete.

72

hegong, karena penekanan secara berlebihan terhadap variasi dan koreografi tarian,

misalnya, nyanyian adat dalam tarian togo dan sejenisnya. Nyanyian-nyanyian adat dalam tarian togo sebagai ungkapan syukur dan permohonan kepada para leluhur maupun Wujud Tertinggi sudah sulit untuk ditemukan dalam pementasan seni tari

hegong saat ini.

Selain itu, penekanan yang berlebihan terhadap ekspresi tarian mengabaikan hal-hal kecil dari sorakan tertentu dalam tarian hegong yang sebenarnya mengandung nilai spiritual. Para penari pria dan penari wanita dalam tarian hegong biasanya mengeluarkan suara yang disebut dengan toa dan kerik. Toa dan kerik merupakan seruan yang diyakini oleh masyarakat Sikka Krowe mempunyai kekuatan gaib untuk mendekatkan mereka dengan para leluhur.194

Kedua, pudarnya nilai filosofis dari benda-benda kesenian masa lalu.195

Filosofis dalam kaitannya dengan kesenian diartikan sebagai pemahaman seseorang terhadap hakikat dari benda maupun tradisi yang terdapat dalam suatu kebudayaan seni. Sementara itu, nilai sangat berkaitan dengan pedoman hidup individu dalam kehidupan bersama. Nilai dalam suatu budaya masyarakat ditunjukkan lewat fungsinya sebagai pedoman tingkah laku manusia yang meliputi aturan-aturan khusus berdasarkan hasil kesepakatan bersama.196 Dalam bidang kesenian nilai ditunjukkan kepada pengungkapan solidaritas dalam komunitas.197 Nilai-nilai yang terkandung dalam kesenian, dipahami sebagai pedoman yang sangat berkaitan dengan nilai solidaritas dalam suatu komunitas masyarakat, misalnya nilai-nilai solidaritas yang diwariskan oleh nenek moyang masyarakat Sikka dapat ditemukan dalam berbagai aktivitas, seperti aktivitas bercocok tanam, berperang dan sebagainya dalam tarian

hegong.

Namun, nilai solidaritas dalam seni tari sedikit berbeda dengan nilai filosofis benda-benda kesenian. Nilai-nilai dari benda kesenian masa lalu, seperti alat musik,

194

Hasil wawancara dengan bapak Polikarpus Moa, Tokoh Adat, pada 14 Februari 2020 di Kolibuluk, Kecamatan Waigete.

195

Hasil wawancara per telepon seluler dengan ibu Bernadeta Virgin, Penari dan Desainer Busana Tarian Hegong, pada 19 April 2020 di Waigete.

196

Koentjaraningrat, Budaya Mentalitas dan Pembangunan (Jakarta: PT Gramedia, 1985), hlm. 25.

73

pakaian adat, properti, dan sebagainya merupakan cerminan identitas diri dan harkat suatu budaya masyarakat. Nilai filosofis yang terkandung dalam warisan benda-benda kesenian sangat menentukan kemajuan atau bahkan kemunduran suatu budaya seni masyarakat. Salah satu persoalan yang tidak diharapkan tetapi terjadi dalam seni tari

hegong dalam proses perkembangannya saat ini adalah pudarnya nilai filosofis dari

beberapa warisan material seni tari hegong.

Kecenderungan masyarakat untuk lebih mengkonsumsi budaya populer mengabaikan nilai filosofis di balik warisan benda seni tari hegong.198 Ketertarikan masyarakat lebih tertuju kepada desain kostum tarian yang modern sesuai perkembangan zaman, maupun terhadap beberapa alat musik dalam instrumen musik tradisional gong waning, misalnya daun lontar atau koli ‘roun sebagai salah satu bagian dari busana tarian hegong.199 Daun lontar merupakan salah satu bagian dari busana tarian hegong yang dipakai sebagai pengikat kepala dan lengan dalam tarian

hegong. Busana tarian yang sangat sederhana ini pun sudah ada jauh sebelum nenek

moyang masyarakat Sikka Krowe mengenal tarian hegong. Daun lontar disimbolkan sebagai sistem penanggalan dalam tradisi masyarakat Sikka Krowe masa lalu untuk menghitung hari.

Menurut bapak Polikarpus Moa, penggunaan daun lontar sebagai atribut tarian berawal dari pengalaman hidup masyarakat Sikka Krowe dalam berperang.200 Pada zaman dahulu, sebelum berperang nenek moyang masyarakat Sikka Krowe membuat kesepakan untuk menentukan hari dimulainya peperangan. Maka, setiap ruas dari daun lontar berfungsi sebagai penghitung hari menjelang terjadinya peperangan tersebut. Selain itu, keberadaan daun lontar juga menjadi kebutuhan bagi masyarakat Sikka Krowe sebagai bahan yang sering digunakan dalam upacara-upacara adat

198

Hasil wawancara dengan ibu Bernadeta Virgin, Penari dan Desainer Busana Tarian Hegong, pada 19 April 2020 di Waigete.

199

Hasil wawancara dengan bapak Polikarpus Moa, Tokoh Adat, pada 14 Februari 2020 di Koli Buluk, Kecamatan Waigete.

200

Hasil wawancara dengan bapak Polikarpus Moa, Tokoh Adat, pada 14 Februari 2020 di Koli Buluk, Kecamatan Waigete.

74

tertentu.201 Penggunan daun lontar sebagai salah satu kebutuhan mendasar dalam berbagai ritual adat tersebut, turut mempengaruhi identitas dari masyarakat Sikka dalam memilih dan menggunakan pakaian adat.

Akan tetapi, pengaruh globalisasi budaya melalui berbagai modifikasi kostum tarian turut menggeser keberadaan daun lontar sebagai atribut tarian hegong. Perkembangan atribut tarian hegong yang lazim ditemukan saat ini adalah lado atau topi berhiaskan bulu ayam.202 Lado biasanya hanya digunakan oleh seorang pemimpin perang. Namun, seiring perkembangan zaman lado tidak hanya digunakan oleh pemimpin perang, melainkan juga para prajurit perang lainnya dalam tarian

hegong. Selain itu, bentuknya yang nampak indah sering dimodifikasi sedemikian

rupa sehingga dapat digunakan oleh penari pria maupun wanita dalam tarian hegong. Kenyataan ini sangat berdampak negatif bagi nilai filosofis dari daun lontar. Kecenderungan untuk lebih tertarik pada modifikasi atribut lado berakibat pada pudarnya nilai filosofis dari daun lontar sebagai salah satu bagian dari busana tarian

hegong. Busana tarian yang dipakai cenderung hanya dinilai berdasarkan ukuran

keindahan, tetapi nilai filosofis yang terkandung di dalamnya kurang mendapat perhatian. Akibatnya, nilai filosofis dari daun lontar sebagai sistem penanggalan dalam tradisi berperang masyarakat Sikka perlahan-lahan semakin ditinggalkan.

3.3 Upaya-upaya Masyarakat Sikka dalam Mempertahankan Eksistensi Seni

Dokumen terkait