• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II MEMAHAMI GLOBALISASI BUDAYA DAN SENI TARI

4.2 Saran

Proses perkembangan dan kemajuan seni tari hegong merupakan suatu pengalaman konkret dari pengaruh globalisasi budaya yang memberikan banyak perubahan dalam seni tari hegong masyarakat Sikka. Dalam proses globalisasi budaya, gagasan-gagasan tentang budaya populer, media massa, prinsip pemasaran dan sebagainya akan terus berlangsung dalam proses perkembangan seni tari hegong masyarakat Sikka. Oleh karena itu, berdasarkan kenyataan tersebut penulis merekomendasikan beberapa saran sebagai berikut:

Pertama, bagi para seniman lokal tarian hegong. Arah dan tujuan dari proses

perkembangan seni tari hegong saat ini sangat ditentukan oleh peran para seniman lokal. Kreativitas dari para seniman lokal merupakan bagian dari upaya melestarikan dan mempertahankan eksistensi seni tari hegong agar tetap eksis dalam proses globalisasi. Sejauh ini, peran seniman lokal dalam menciptakan suatu karya seni atau garapan tari pada umumnya berproses secara autodidak. Pembekalan secara ilmu dalam pertunjukan seni masih kurang, begitu juga dengan pendalaman terhadap tradisi lokal. Sumber-sumber yang dibutuhkan untuk keperluan dalam proses garapan tari biasanya diperoleh dari sumber umum atau kebudayaan Indonesia secara

89

keseluruhan. Hal ini tentunya dapat menyebabkan banyak kekeliruan dalam proses pengarapan atau menciptakan suatu karya seni tari yang bersumber dari tradisi.

Maka, berdasarkan kenyataan di atas, keberadaan seniman lokal diharapkan agar dalam mengembangkan ragam gerak maupun unsur-unsur lain dari tarian

hegong harus tetap memperhatikan tradisi lokal dari tarian hegong. Dengan demikian,

improvisasi yang bebas dalam proses penggarapan seni tari hegong mampu dipertangungjawabkan oleh seniman lokal sebagai bagian dari upaya pelestarian terhadap seni tari hegong.

Kedua, bagi masyarakat Sikka. Masyarakat Sikka sangat diharapkan ikut serta

dalam melestarikan seni tari hegong melalui berbagai aktivitas tradisional dalam kelompok-kelompok sanggar. Kehadiran kelompok sanggar tari yang dibentuk merupakan wadah yang bertujuan untuk menarik minat masyarakat Sikka secara keseluruhan terhadap seni tari hegong. Seorang seniman tidak dapat menunjukkan hasil imajinasi atau kreativitas dalam penyajian tarian hegong tanpa adanya partisipasi dan apresiasi dari masyarakatnya.

Oleh karena itu, apresiasi dan partisipasi aktif dari masyarakat Sikka terhadap budayanya sendiri, sangat dibutuhkan dalam melestarikan dan memeperkenalkan seni tari hegong. Masyarakat Sikka diharapkan mampu menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan yang dihasilkan oleh seniman lokal dalam tarian hegong. Sikap atau tindakan yang tidak perlu, seperti takut dalam menerima perubahan dan salah menafsirkan perubahan, harus dihindari ketika terlibat langsung dalam arus globalisasi budaya. Dengan demikian, proses perkembangan seni tari hegong yang menghasilkan berbagai perubahan tidak selalu menjadi persoalan baru bagi masyarakat Sikka.

Ketiga, bagi pemerintah daerah. Sejauh ini program pemerintah belum

dikoordinasi dengan baik. Hal ini disebabkan oleh nomenklatur yang dikeluarkan oleh pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten berkaitan dengan keberadaan bidang pendidikan dan kebudayaan diterapkan secara berbeda. Nomenklatur yang dikeluarkan oleh pemerintah provinsi berkaitan dengan penanganan terhadap pendidikan kesenian adalah bidang pendidikan dan kebudayaan. Sementara dari

90

pemerintah kabupaten itu sendiri, kebudayaan dan pendidikan bekerja secara terpisah. Maksudnya, nomenklatur yang dikeluarkan oleh pemerintah kabupaten adalah pariwisata dan kebudayaan, bukan pendidikan dan kebudayaan. Akibatnya, hal-hal yang berkaitan dengan kesenian, termasuk seni tari ditangani oleh dua pihak yang berbeda. Misalnya, Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N), seharusnya ditangani oleh bidang pendidikan dan kebudayaan, tetapi di kabupaten Sikka, festival ini ditangani oleh Dinas Pendidikan, karena kebudayaan sudah termasuk dalam Dinas Pariwisata.

Kenyataan demikian, secara tidak langsung menyebabkan banyak kebingungan dalam penanganan terhadap kesenian termasuk upaya pelestarian seni tari hegong. Seniman lokal, maupun guru-guru kesenian mengalami kesulitan dalam memperoleh kepastian sumber tradisi yang berkaitan dengan tarian hegong. Kurangnya sinkronisasi program kerja pemerintah Dinas Pendidikan dan Dinas Kebudayaan, menyebabkan penanganan terhadap pembekalan seni bagi seniman lokal dan guru kesenian tidak berjalan lancar.

Maka dialog kebudayaan dari pihak pemerintah yang selama ini sudah melibatkan partisipasi dari seniman lokal, guru-guru kesenian maupun guru-guru bidang lainnya, diharapkan mampu menjawabi berbagai persoalan dalam upaya melestarikan seni tari hegong. Salah satu persoalan yang berkaitan langsung dengan upaya pelestarian seni tari hegong dalam dialog kebudayaan tersebut adalah bidang teknis yang secara khusus menangani kebudayaan. Oleh karena itu, pemerintah diharapkan mampu membentuk bidang teknis yang secara khusus menangani kebudayaan, sehingga tidak membingungkan seniman lokal dan para guru dalam memperoleh sumber untuk proses penggarapan tari hegong yang sesuai dengan tradisi lokal.

Keempat, bagi kaum muda. Kaum muda adalah kalangan yang sangat cepat

dalam menerima pengaruh globalisasi budaya. Tren dan keseragaman dalam globalisasi budaya menjadi daya tarik yang tinggi bagi kaum muda. Hal yang sama juga terjadi dalam tingkat ketertarikan kaum muda terhadap seni tari hegong. Sebagai salah satu kesenian yang sudah populer dalam masyarakat Sikka, kaum muda sangat

91

diharapkan untuk tidak hanya tertarik dan berpartisipasi aktif dalam tarian hegong karena pencitraan yang semakin modern. Akan tetapi, melalui berbagai perkembangan dalam tarian hegong kreasi, kaum muda sangat diharapkan mampu mengembangkan kreativitasnya dalam mengekspresikan seni tari, khususnya tarian

hegong.

Kehadiran globalisasi budaya dengan berbagai pilihan dan kemudahan, harus dimanfaatkan secara positif oleh kaum muda sebagai kesempatan untuk meningkatkan daya kreativitasnya. Dengan demikian, interpretasi kaum muda terhadap seni tari semakin dipacu untuk tidak hanya bergantung pada peran seniman lokal melainkan juga mampu dalam menghasilkan karya seni sendiri.

92

DAFTAR PUSTAKA

Kamus

Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa. Edisi Keempat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2008.

Buku-buku

Abdullah, Irwan. Kontruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006.

Andewi, Keni. Mengenal Seni Tari. Semarang: Mutiara Aksara, 2019.

Bungin, H. M. Burhan. Konstruksi Sosial Media Massa. Jakarta: Kencana, 2008. Budi Kleden, Paulus. Teologi Terlibat. Maumere: Penerbit Ledalero, 2012.

Dihe, Laurensius. Sakramen Tobat Di Tengah Globalisasi. Yogyakarta: Kanisius, 2013.

Dinas Pariwisata Kabupaten Sikka. Pesona Sikka 2 Deskripsi 5 Objek Wisata Budaya Maumere: Puslitbang STFK Ledalero, 2007.

Gintoro. Kesenian Indonesia pada Era Global. Yogyakarta: Cempaka Putih, 2009. Giddens, Anthony. Run A Way: Bagaimana Globalisasi Merombak Kehidupan Kita.

Terj. Andry Kristiawan S. dan Yustina Koen S. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2003.

Hariyono, P. Pemahaman Kontekstual Tentang Ilmu Budaya Dasar. Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1996.

Hartoko, Dick. Manusia dan Seni. Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1984.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Seni dan Budaya SMP/MTs Kelas VII. Semester 1. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Pembukuan, 2014.

Koentjaraningrat. Budaya Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: PT Gramedia, 1985.

93

Piliang, Yasraf Amir. Dunia Yang Dilipat. Bandung: Matahari, 2011.

Poerwanto, Hari. Kebudayaan Dan Lingkungan Dalam Perspektif Antropologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000.

Rede Blolong, Raymundus. Dasar-Dasar Antropologi. Ende: Nusa Indah, 2012. Sedyawati, Edi. Pertumbuhan Seni Pertunjukan. Jakarta: Penerbit Sinar Harapan,

1981.

Setiawati, Rahmida dkk. Seni Tari Untuk Sekolah Menengah Kejuruan. Jilid 2. Jakarta: Direktorat Peminaan Sekolah Menengah Kejuruan, 2008.

Soejatmoko. Etika Pembebasan. Jakarta: P enerbit LP3ES, 1984.

Subekti, Ari dan Budiawan. Seni Tari Untuk SMA/MA Kelas X-XII. Jakarta: Pusat Pembukuan, 2010.

Sutrisno, Mudji. Oase Estetis. Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2006.

Sutrisno, Mudji dan Christ Verhaak. Estetika Filsafat Keindahan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1993.

Sutrisno, Mudji dan Hendar Putranto, ed. Teori-Teori Kebudayaan. Yogyakarta, 2005.

Suryana, Yaya dan A. Rusdiana. Pendidikan Multikultural. Bandung: Penerbit Pustaka Setia, 2015.

Waspodo TS, Suhanadji. Modernisasi dan Globalisasi. Malang: Insan Cendekia, 2004.

Artikel dalam Buku

Bambang Murtiyoso, “Tanda-Tanda Kematian Pertunjukkan Wayang”, dalam Phillip Yampolsky. ed. Perjalanan Kesenian Indonesia Sejak Kemerdekaan:

Perubahan Dalam Pelaksanaan, Isi Dan Profesi. Jakarta: PT Equinox

Publishing Indonesia, 2006.

Jatman, Darmanto. “Kebudayaan Sebagai Perlawanan Terhadap Kemiskinan”, dalam Nurdin HK, ed. Perubahan Nilai-Nilai Di Indonesia. Bandung: Penerbit Alumni, 1983.

94

Kayam, Umar. “Dialog Antara Ilmu dan Seni”, dalam Nurdin HK. ed. Perubahan

Nilai-Nilai Di Indonesia. Bandung: Penerbit Alumni, 1983.

Kee-Fook Chia, Edmund. “Dasar-Dasar Hakiki Kebudayaan”, dalam Paul Budi Kleden dan Robert Mirsel, ed. Menerobos Batas-Merobohkan Prasangka. Maumere: Penerbit Ledalero, 2011.

Sartojo, Moempoeni. “Perbenturan Nilai Dan Masalahnya”, dalam Nurdien HK. ed.

Perubahan Nilai-Nilai Di Indonesia (Bandung: Penerbit Alumni, 1983.

Sedyawati, Edi. “Tari”, dalam Dr. Fx. Mudji Sutrisno SJ dan Prof. Dr. Christ Verhaak SJ. ed. Estetika Filsafat Keindahan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1993. Supangkat, Jim A. “Sekitar Bangkit dan Runtuhnya Gerakan Seni Rupa Baru

Indonesia”, dalam Edi Sedyawati dan Sapardi Djoko Damono. ed. Seni dalam

Masyarakat Indonesia. Jakarta: Penerbit PT Gramedia, 1983.

Artikel dalam Jurnal

Djuhara, Utang. “Pergeseran Fungsi Seni Tari sebagai Upaya Pengembangan dan Pelestarian Kebudayaan”. Jurnal Seni Makalangan, Vol. 1, No. 2, Juni 2014. DM, Jaja. “Pengaruh Kebijakan Pemerintah dan Kreativitas Seniman terhadap

Kesenian Tradisional Jawa Barat”. Jurnal Seni Makalangan, Vol. 1, No. 2, Juni 2014.

Dua, Mikhael. “Globalisasi Ekonomi, Budaya Kapitalis, dan Demokrasi”. Jurnal

Ledalero, Vol. 12, No. 2, Desember 2013.

Heatubun, Fabianus Sebastian. “Humanisasi dan Divinisiasi dalam Seni dan Ritual”.

Jurnal Melintas, Vol. 32, No. 2, Agustus 2016.

Hujatnika, Agung. “Negara dan Pasar: Globalisasi dan Dua Dasawarsa Seni Rupa Kontemporer Indonesia”. Jurnal Melintas, Vol. 27, No. 2, Agustus 2011. Mirsel, Robert. “Berpastoral di Tengah Badai Globalisasi”. Jurnal Ledalero, Vol. 5,

No. 1, Juni 2016.

Piliang, Yasraf Amir. “Seni dalam Perspektif Keilmuan: Berbagai Cara Kerja dan Pengetahuan Seni”. Jurnal Melintas, Vol. 27, No. 1, April 2011.

Ruzali, Ronaldo dan Alfiyanto. “Takana Gagasan Tradisi dalam Kemasan Kekinian”.

Jurnal Seni Makalangan, Vol. 5, No. 2, Desember 2018.

Surahman, Sigit. “Dampak Globalisasi Media terhadap Seni dan Budaya Indonesia”.

95 Wawancara

Aquino, Thomas. Wawancara, 15 April 2020 di Maumere.

Ildefonsia Agopyanta, Maria. Wawancara, 26 Januari 2020 di Maumere. _______________________. Wawancara, 05 Februari 2020 di Maumere.

_______________________. Wawancara per telepon seluler, 06 Maret 2020 di Maumere.

_______________________. Wawancara per telepon seluler, 17 April 2020 di Maumere.

I. Noonika, Phropylata. Wawancara per telepon seluler, 20 April 2020 di Maumere. Koli, Polikarpus. Wawancara per telepon seluler, 22 April 2020 di Munerana,

kecamatan Hewokloang.

Maria Elvina, Marietny. Wawancara per telepon seluler, 19 April 2020 di Maumere. Miniatrix Pareira, Indah. Wawancara, 27 April 2020 di Maumere.

Moa, Polikarpus. Wawancara, 14 Februari 2020 di Koli Buluk, Kecamatan Waigete. Pina Poin, Philipus. Wawancara, 24 Januari 2020 di Mage Sayang, Kecamatan

Waigete.

Raga Sato, Romanus. Wawancara, 08 Maret 2020 di Dusun Wairbleler, Kecamatan Waigete.

Rapa, Rafael. Wawancara per telepon seluler, 18 April 2020 di Waigete.

Regitha, Virgina. Wawancara, 08 Maret 2020, di Dusun Wairbleler, Kecamatan Waigete.

96 Internet

Hong Xue dan Anita Chan. “The Global Value Chain”. Critical Asian Studies, Januari 2013. http://www.tandfonline.com/loi/rcra20, diakses pada 28 April 2020.

http://www.google.com/amp/s/sosiologibudaya.wordpress.com/2013/04/25/budaya-populer-2/amp/ diakses pada 28 Mei 2020.

Roger M. Keesing, “Teori-Teori Tentang Budaya”, dalam Jurnal Antropologi

Indonesia, April-Juni, 1997,

http://journal.ui.ac.id/index.php/jai/issue/view/476/showToc, diakses pada 20 Februari 2020.

Setyono, “Seni Tardisional Dalam Arus Globalisasi Ekonomi” dalam Jurnal

Cakrawala Pendidikan,

http://journal.uny.ac.id/index.php/cp/article/view/9132, diakses pada 31 januari 2020.

Storck, Michael Hector. “Arts and Artifacts: An Aristotelian Approach”.

International Philosophical Quarterly, Juni 2013.

https:www.pdcnet.org/collection-anonymous/browse?fp=ipq%2fvolume%2f8947%7c53%2f8998%7CIssue%3 A+2%2F, diakses pada 28 April 2020.

Wikipedia Bahasa Indonesia. “Ensiklopedia bebas”.

https://id.m.wikipedia.org/wiki/globalisasi_budaya, diakses pada 28 Mei 2020.

97 LAMPIRAN

Lampiran 1

Panduan pertanyaan wawancara

Pertanyaan kepada Tokoh adat, seniman lokal dan guru kesenian: 1. Bagaimana sejarah tentang tarian hegong?

2. Apa saja jenis-jenis tarian hegong dalam masyarakat Sikka pada umumnya? 3. Apa makna dan fungsi tarian hegong bagi masyarakat Sikka?

4. Ragam gerak apa sajakah yang ada pada tarian hegong? 5. Apa arti dan fungsi gerakan dalam tarian hegong?

6. Instrumen musik apakah yang digunakan dalam tarian hegong? 7. Busana apakah yang digunakan oleh para penari hegong?

8. Kenyataan saat ini menunjukkan bahwa banyak perubahan terjadi dalam seni tari hegong karena tuntutan globalisasi budaya atau perkembangan zaman. Bagaimana proses perubahan yang terjadi dalam gerak, iringan dan busana dari tarian hegong?

9. Bagaimana perubahan yang terjadi dalam proses penyajian tari hegong dan fungsi dari tarian hegong bagi masyarakat Sikka saat ini?

10. Apa pengaruh positif dan negatif dari globalisasi budaya terhadap berbagai perubahan dalam seni tari hegong?

11. Bagaimana upaya masyarakat dalam melestarikan seni tari hegong terhadap berbagai perubahan akibat pengaruh dari globalisasi budaya?

98

Pertanyaan wawancara kepada pemerintah:

1. Keberadaan seni tari hegong dari dulu hingga sekarang hanya diwariskan melalui komunikasi verbal secara turun temurun. Apakah dari pihak pemerintah, khususnya Dinas Kebudayaan dan Priwisata kabupaten Sikka tahu tentang sejarah dari tarian ini?

2. Bagaimana upaya pemerintah dalam melestarikan seni tari hegong terhadap berbagai perubahan yang terjadi akibat pengaruh dari globalisasi budaya? 3. Apakah ada kendala yang dihadapi oleh pihak pemerintah dalam upaya

99 Lampiran 2

Foto 1: Tarian hegong kreasi Edo 1992

Tarian ini adalah tarian hegong kreasi berpasangan yang mengisahkan tentang tragedi gempa bumi dan tsunami yang dialami oleh masyarakat Sikka pada tahun 1992. Tarian ini dibawakan oleh SMA Yohanes Paulus II pada pementasan Seni dan

Budaya menyongsong pesta emas STFK Ledalero, 04 September 2019, di STFK Ledalero.

Sumber: Yohanis Sepu Soba.

Foto 2: Tarian hegong kreasi Jarang Kumak Bura

Tarian ini adalah tarian hegong kreasi berkelompok yang mengisahkan tentang kuda kesayangan milik salah seorang raja di Sikka. Tarian ini dibawakan oleh Sanggar Tari

Sigo Siang Seminari Bunda Segala Bangsa Maumere pada Festival Kesenian Daerah

Tingkat Provinsi Nusa Tenggara Timur, 05 September 2019 di Kupang. Sumber: Maria Ildefonsia Agopyanta.

100

Foto 3: Tarian hegong kreasi Tota Seu Lape Pitu Kota Lape Walu

Tarian ini mengisahkan tentang usaha masyarakat Sikka untuk mendekatkan diri dengan Tuhan melalui doa dan nyanyian. Tarian ini dipentaskan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kabupaten Sikka pada malam Seni dan Budaya menyongsong pesta emas STFK Ledalero, 04 September 2019 di STFK Ledalero.

Sumber: Yohanis Sepu Soba.

Foto 4: Tarian hegong kreasi Opa Bura

Opa bura adalah makhluk gaib yang melindungi anak-anak dari gangguan roh jahat.

Tarian ini digarap berdasarkan cerita dari nenek moyang dahulu tentang keberadaan

opa bura dalam kehidupan masyarakat Sikka. Tarian ini dibawakan oleh SMAS

Katolik Bhaktyarsa Maumere pada malam Seni dan Budaya menyongsong pesta emas STFK Ledalero, 04 September 2019, di STFK Ledalero.

Dokumen terkait