• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dua Puluh Produsen Cabai Kering Dunia

No Negara Produksi (Juta Ton)

1 India 1.30 2 China 0.26 3 Pakistan 0.19 4 Thailand 0.17 5 Peru 0.14 6 Ethiopia 0.12 7 Myanmar 0.12 8 Viet Nam 0.11 9 Bangladesh 0.11 10 Ghana 0.09 11 Mexico 0.05 12 Nigeria 0.05 13 Egypt 0.05 14 Romania 0.04

15 Democratic Republic of the Congo 0.03

16 Benin 0.03

17 Bosnia and Herzegovina 0.02

18 Côte d'Ivoire 0.02

19 Hungary 0.02

20 Morocco 0.02

Hari Uraian Keterangan

H-30

• Pilih lahan bekas jagung atau padi dan tidak banyak naungan BUKAN bekas tomat, terong atau cabai

• Bajak 2x dan di rotary

H-21 • Persiapan persemaian

Persemaian dilakukan dalam kelambu yang kedap serangga kecil. Benih direndam dalam Actigrow atau BenPrima (10 cc atau 10 g/liter air) selama 30 menit. Bekas rendaman dapat disiramkan ke media semai.

H-7

• Pembuatan bedengan, L = 110-120cm, P = 15- 20m, T = 30-50cm, jarak antar bedengan = 60- 70cm, jarak antar tanaman = 60-70cm

• Pembuatan lubang tanam dan pemasangan ajir dengan jarak 60x70 cm, serta pembuatan lubang pupuk dengan jarak 20 cm

• Pemberian kompos dengan cara

MENYEBARKAN dan DIADUK MERATA sebanyak 7 ton/Ha

• Pemberian pupuk dasar

a. NPK (16:16:16) 100 kg/Ha b. ZA 150 kg/ha

c. KCl 100 kg/ha atau arang sekam 200 kg/ha H-3 • SANITASI GULMA SAMPAI BERSIH DI

LAHAN MILIK

H-1 Tanah diairi setinggi batas mulsa

H-0 Tanam pagi hari sebelum pukul 10 atau sore hari

H+15

• Semprot FITPLANTA 5cc/liter air

• Kocoran

a) 10 kg NPK (16:16:16) b) 5 kg ZA

c) 5 kg KCl

• Vol. larutan semprot 100 lt/ha

• Vol. kocor 100 ml/tnmn

H+30

• Semprot FITPLANTA 5ml + 1 cc sabun cair /liter air • Kocoran a) 10 kg NPK (16:16:16) b) 5 kg ZA c) 5 kg KCl d) 700 ml ACTIGROW

• Vol. larutan semprot 200 lt/ha

• Vol. kocor 200 ml/tnmn

H+45

• Semprot FITPLANTA 5ml + 1 cc sabun cair /liter

air • Vol. larutan semprot 400 lt/ha

Vol. kocor 200 ml/tnmn Dicampur 150

liter air

Dicampur 300 liter air

b) 5 kg ZA c) 5 kg KCl

H+60 • Kocor 1,4 liter ACTIGROW dengan 140 liter air

• Semprot FITPLANTA 5ml/liter air

• Vol. larutan semprot 400 lt/ha

• Vol. kocor 200 ml/tnmn H+60,

74, 88, 102

Semprot BIOGARD 5ml/liter air + sabun cair 1

cc/liter Vol. larutan semprot 400 lt/ha

H+60 dst

Sanitasi dan pemusnahan buah cabai terserang antraknosa secara berkala (maksimal 2 hari sekali)

CATATAN

- Persemaian dibuat dalam kelambu yang tidak memungkinkan serangga kecil (kutu kebul dan kutu daun masuk). Sebelum disemai benih direndam dalam Acti grow atau BenPrima (10 cc/liter) selama 30 menit, kemudian air bekas rendaman dsiramkan pada media semai

- Pada kondisi lahan yang mendatar, jika tetangga lahan sudah menanam cabai atau tomat, perbatasan lahan ditanami tanaman jagung 3 lapis secara zig zag 1 bulan sebelum penanaman cabai atau dipagari dengan plastik dengan ketinggian minimal 1.0 m.

- Jika menggunakan arang sekam sebagai pengganti pupuk KCl dalam pupuk kocoran, arang sekam harus direndam minimal selama 1 hari 1 malam, sebelum airnya digunakan untuk pengocoran.

Dicampur 300 liter air

Widodo, Suryo Wiyono, dan Hermanu Triwidodo Departemen Proteksi Tanaman

Tanaman cabai, sebagaimana tanaman lain dalam proses produksinya banyak mengalami gangguan, diantaranya hama dan penyakit. Untuk mencapai hasil pengendalian yang optimal diperlukan strategi yang baik yang berkaitan pemahaman terhadap komponen- komponen penyusun terjadinya gangguan tersebut. Pemahaman ini sangat penting dalam menyusun strategi pengendalian berdasarkan konsep pengendalian hama terpadu yang diharapkan memberikan hasil optimal dan ramah terhadap lingkungan ekosistem sehingga produksi cabai dapat berkelanjutan.

Langkah awal dalam pengendalian terhadap gangguan pada tanaman adalah pengenalan penyebabnya, karena pengenalan tersebut dapat memahami lebih baik terhadap sifat-sifatnya. Buku panduan ini disusun dengan harapan setiap pembacanya yang berasal dari berbagai kalangan dapat memahami dengan mudah, terutama dalam mengindentifikasi penyebab gangguan tersebut dengan mudah. Dalam buku ini juga diberikan secara sederhana tentang berbagai faktor yang mempengaruhi perkembangan gangguan tersebut, sehingga pemakai dapat menentukan cara pengendalian yang lebih strategis. Dalam identifikasi penyebab gangguan tersebut, lebih ditekankan pada pengenalan gejala di lapang dengan cara yang sangat sederhana. Untuk identifikasi penyebab-penyebab tertentu tidak dapat dilakukan secara tepat dengan menggunakan buku ini.

A. Kecambah yang muncul Keadaan tanah pesemaian normal Benih tidak berkecambah, - Benih terlalu lama

hanya sedikit membusuk, gagal muncul - Ditamam terlalu dalam/dangkal - Tanah memadat/retak-retak

- Terkena pupuk anorganik

- Benih dimakanburung/ serangga tanah

Tanah pesemaian basah Tanah terendam lebih dari 1 hari Benih kekurangan oksigen Cuaca dingin atau cahaya kurang Benih tampak Masalah cuaca atau normal naungan

Benih busuk patogen tular tanah Kecambah serangan belatung muncul tidak lalat bibit

merata

Kecambah muncul dan terlihat cendawan seperti kapas Rebah kecambah oleh cendawan cepat membusuk ; terutama di pagi hari Pythium atau Sclerotium

cuaca lembab

busuk kering berwarna kecoklatan Rebah kecambah oleh cendawan Rhizoctonia atau Fusarium (Gambar 1A, B)

tidak terlihat penampakan apapun Kerusakan karena pupuk (anorganik) atau kandungan garam tanah tinggi

pertumbuhan terhambat seluruh bedeng daun belang warna hijau muda; - penempatan pupuk (anorganik)/pestsida daun memutih; pangkal kecambah pada kedalaman yang tidak sesuai

membengkak - penanaman benih dengan kedalaman yang tidak sesuai

daun berbintik, terlihat berbercak; - polusi udara

pinggiran daun seperti terbakar - keracunan bahan kimia

pinggiran dan ujung daun seperti pupuk anorganik yang terlalu banyak atau terbakar ; perakaran kecoklatan kandungan garam tanah yang terlalu tinggi dan sedikit membusuk

tanaman kerdil; terdapat belatung kerusakan karena serangga (lalat bibit) pada perakaran

gejala berkelompok

kecambah terpotong di permukaan serangan ulat tanah tanah

perakaran berbintil nematoda bintil akar

perakaran busuk cendawan tanah atau kandungan garam tanah tinggi batang mengecil pada

bagian dekat tanah

terlihat cendawan seperti kapas cendawan Pythium

busuk kering berwarna kecoklatan Fusarium atau Rhizoctonia tidak terlihat penampakan apapun residu pestisida, pupuk, kandungan garam tinggi

A. Tanaman bergejala pangkal batang warna coklat tua atau hitam ; benang- busuk batang , cendawan Phytophthora berkelompok membusuk benang cendawan tidak tampak jelas capsici (Gambar 2A, B )

warna coklat ; batang di atas dan di busuk pangkal batang,

bawah garis tanah rusak ; terlihat cendawan Sclerotium rolfsii (Gambar 3A,B) benang-benang cendawan berwarna

putih dan butiran-butiran berwarna putih sampai coklat di sekitar pangkal batang

pembusukan menggelangi di dekat di daerah berhawa sejuk cendawan permukaan tanah ; warna coklat Pythium di daerah berhawa panas cendawan Rhizoctonia / Fusarium cabang atau warna coklat tua – hitam; cendawan Phytophthora

ranting mati agak kebasahan; terlihat lapisan tipis capsici berwarna putih terutama pada pagi hari

bercak warna putih di bagian tengah dan cendawan Stemphylium solani atau dikelilingi warna yang lebih gelap ; terlihat Colletotrichum capsici atau C. bintik-bintik hitam atau merah jambu gloeosporioides (Gambar 4 A,B ) gejala dimulai dari pucuk atau bunga; penyakit sentik disebabkan cendawan warna coklat sampai hitam ; koloni cendawan Choanephora cucurbitarum

bergejala atau warna tajuk pada awal gejala ; jika pangkal batang Pseudomonas

berkelompok berubah jika batang dibelah dipotong dan dicelupkan solanacearum berwarna coklat ke dalam air bening (Gambar 6 A, B) keluar lendir

kelayuan pelan-pelan

didahului penguningan Layu Fusarium daun bawah ; jika pangkal cendawan Fusarium batang dipotong dan oxysporum atau dicelupkan ke air bening F. solani

tidak keluar lendir (Gambar 7 A, B )

kondisi perakaran jelek ; tempat ditemukan tanaman akar kekurangan jika batang dibelah sakit tanahnya tergenang / oksigen karena

tidak terlihat warna coklat sangat becek lebih dari tanah terlalu

1 hari banyak air

akar terpotong drainase tanah nematoda perusak akar;

atau membusuk baik kerusakan karena pupuk; kadar garam tanah tinggi

drainase tanah cendawan dalam tanah; jelek kadar garam tanah tinggi

terlihat bintil-bintil nematoda puru akar pada akar Meloidogyne (Gambar 8 A,B )

No. Jenis gangguan Faktor-faktor yang memperparah Kemungkinan cara pengendalian 1.

2.

3.

Benih busuk, tidak banyak yang muncul

Rebah kecambah

Busuk batang / buah Phytophthora

- tanah pesemaian terlalu padat

- penggunaan pupuk anorganik atau pestisida ke tanah yang terlalu banyak

- tanah terlalu becek/tergenang atau terlalu kering - kedalaman penanaman benih yang tidak tepat - tanah pesemaian terlalu becek

- benih tidak sehat dan disimpan terlalu lama pada suhu kamar

- naungan pesemaian terlalu rapat sehingga aliran udara kurang baik

- penggunaan pupuk organik yang belum matang

- drainase lahan kurang bagus

- banyak terjadi pada musim hujan atau dilakukan penyiraman dari atas

- pemupukan nitrat (urea) terlalu banyak

- penanaman cabe terus menerus, atau dirotasi dengan terong, timun-timunan atau tomat

- pengolahan tanah yang cukup dan penambahan bahan organik yang matang agar tanah gembur - drainase tanah pesemaian diperhatikan agar tidak terjadi penggenangan atau terlalu becek

- bedengan pesemaian dibuat agak tinggi

- memilih lokasi pesemaian yang baik drainasenya - menggunakan benih yang terjamin kualitasnya, jika membenihkan sendiri dipilih dari tanaman yang tumbuhnya terbaik dan dari buah yang tidak bergejala penyakit

- membuat bedengan yang lebih tinggi dari tanah - menyimpan benih pada suhu dingin (di kulkas) - pupuk organik yang digunakan sudah matang - menjaga bedengan pesemaian jangan terlalu lembab - bedengan pesemaian ditutup dengan plastik bening selama 2 – 3 minggu dan dibiarkan terkena sinar matahari sebelumbenih ditebar (solarisasi tanah) - jika diperlukan benih dapat diberi perlakuan fungisida berbahan aktif mancozeb, benomyl atau metalaxyl

- menghindari tanah tergenang atau terlalu becek - menanam pada bedengan yang lebih tinggi - tidak terlalu banyak menggunakan pupuk nitrat jika kondisi tanah tidak terlalu masam dapat digunakan pupuk ammonium sulfat (ZA)

4.

5.

Busuk pangkal batang Sclerotium

Layu Fusarium

- banyak terjadi di daerah berudara hangat dan lembab - kandungan air tanah yang terlalu tinggi

- sisa-sisa tanaman yang banyak tertinggal menjadi sumber makanan untuk bertahan

- penyakit banyak terjadi pada tanah yang kandungan airnya tinggi (drainase jelek) dan suhu udara panas

- bedengan ditutup dengan jerami atau mulsa plastik untuk menghidari cipratan tanah oleh air hujan atau penyiraman

- penggunaan pupuk kandang yang sudah matang - rotasi dengan tanaman famili graminae (jagung sorghum, rumput gajah dll) dapat membantu mengurangi penyakit

- pengolahan tanah yang dalam sehingga sklerotia cendawan dan sisa tanaman terkubur untuk mengurangi serangan, karena hanya sklerotia yang terletak di permukaan yang dapat menyerang

- penutupan bedengan dengan jerami untuk mencegah kontaknya sklerotia dengan batang

- jika memungkinkan, sebelum penanaman bedengan dapat ditutup dengan plastik bening (ketebalan 0.5 mm) selama 3 minggu dan dibiarkan terkena sinar matahari (solarisasi tanah)

- perbaikan drainase tanah

- penggunaan pupuk kandang yang matang untuk memperkaya mikroba antagonis tanah

- penambahan sisa-sisa kulit udang, kulit kerang yang dicampur dengan pupuk kandang ke dalam lubang tanam dan dibiarkan selama 1-2 minggu - jika memungkinan dapat dilakukan solarisasi tanah

5.

6.

7.

Layu bakteri Pseudomonas Solanacearum

Busuk buah Erwinia

Nematoda

- banyak terjadi di daerah dengan curah hujan tinggi atau pada musim hujan

- serangan berat jika pemupukan N (nitrat), mis. urea terlalu tinggi

- drainase tanah jelek

- penanaman cabai terus menerus atau rotasi dengan famili solanaceae (terong, kentang, tomat, dll.)

- penyakit ini lebih banyak terjadi pada pasca panen, walaupun dapat juga menyerang di lapang terutama kondisi lembab dan hangat atau curah hujan tinggi - kerusakan oleh serangga di lapang mempercepat infeksi

- pencucian buah setelah panen akan memperbesar terjadinya serangan dalam pengangkutan

- banyak terjadi di daerah dengan suhu hangat dengan kondisi tanah yang gembur (berpasir tinggi)

- penanaman cabai terus menerus atau rotasi dengan tanaman solanaceae lainnya (tomat, terung)

- menghindari pemupukan nitrat yang terlalu tinggi; penggunaan mulsa plastik perak mempertinggi kemampuan serap nitrogen oleh tanaman menjadi lebih tinggi, oleh karena itu jika menggunakan mulsa ini, dosis nitrogen perlu dikurangi (kurang lebih 30 persen dari anjuran untuk setiap lokasi) - penggunaan pupuk ammonium sulfat (ZA) dilaporkan dapat mengurangi penyakit ini - rotasi tanaman dengan famili graminae (jagung, sorgum, dll.)

- jika memungkinkan, solarisasi tanah dapat dipertimbangkan sebagai alternatif pengendalian - menghindari kerusakan buah oleh serangga di lapang

- memperkecil pelukaan pada saat pemanenan - jika perlu dicuci, sebaiknya air ditambah dengan klorin (pemutih) dengan konsentrasi 0.5 % kemudian dikering anginkan

- rotasi dengan tanaman rumput-rumputan (jagung, sorgum, atau padi gogo)

- jika tanah dapat disawahkan, rotasi dengan padi sawah

- jika diperlukan penggunaan nematisida dapat

8.

9.

Penyakit oleh virus

Antraknosa

- umumnya banyak terjadi pada musim kemarau, karena terkait dengan populasi vektornya

- menanam tanaman inangnya secara terus menerus - menanam di dekat lahan yang terserang berat

- menanam benih yang telah terinfeksi, beberapa virus dapat terbawa benih (misal tobacco mosaic virus /TMV)

- banyak terjadi pada musim hujan, atau kondisi lahan yang terlalu lembab

- dapat bertahan pada sisa tanaman yang jatuh di tanah dan akan menjadi sumber infeksi, oleh karena itu penanaman terus menerus akan meberi peluang semakin besar untuk terserang bagi tanaman berikutnya

- penggunaan benih yang tidak sehat (penyebabnya dapat terbawa benih)

Pengendalian virus lebih banyak diarahkan kepada penggunaan varietas tahan (sedang dikembangkan) dan pencegahan terjadinya kontak dengan vektor - menanam tanaman penahan (barier) seperti jagung sebelum penanaman dapat mengurangi peluang terserang oleh penyakit ini

- eradikasi terhadap tanaman bergejala akan mengurangi sumber infeksi

- untuk virus yang dapat terbawa benih, benih dapat direndam dengan larutan 10 % trisodium fosfat selama 2 jam

- untuk virus yang dapat ditularkan secara mekanis (sepertii TMV), sebaiknya pemangkasan tunas tidak dilakukan pada tanaman yang sakit dahulu, atau setelah memangkas tanaman sakit tangan dicuci dahulu dengan dterjen atau alkohol 70 % - menghindari lahan yang terlalu lembab

- buah sakit yang jatuh sebaiknya tidak dibiarkan berada di lapang

- tidak menanam terus menerus di satu lahan (perlu rotasi)

- menggunakan benih yang terjamin kesehatannya, jika membenihkan sendiri pilih buah yang sehat (misal mengambil benih dari tanaman pada musim kemarau akan memperkecil peluang benih membawa penyebab penyakit)

- jika diperlukan dapat digunakan fungisida yang dianjurkan, dengan menggilir jenis bahan aktifnya

10. Tungau, Thrips, Kutu Daun, Kutu Kebul

- Banyak terjadi pada musim kemarau /curah hujan, tanaman terlindung

- Menanam di sekitar lahan yang terserang berat oleh hama-hama tersebut

- Khusus untuk kutu daun, ledakan sering terjadi karena aplikasi insektisida yang intensif untuk mengendalikan hama lainnya yang dapat membunuh predator kutu daun

- Jika tidak banyak hujan, tungau dan thrips dapat dikendalikan dengan penyemprotan tajuk tanaman dengan air dari arah bawah

- Untuk kutu kebul, penyemprotan dengan sabun mandi (bukan deterjen)

- Tumpang sari dengan bawang-bawangan dapat membantu mencegah kutu daun dan tungau - Penanaman bunga Tagetes (jawer kotok) di sekitar pertanaman membantu mencegah serangan Thrips dan kutu kebul

- Penyemprotan dengan cairan bawang putih diketahui dapat mengendalikan tungau dan kutu daun

- Pemasangan papan/plastik berwarna kuning dan diolesi perekat untuk menjebak kutu daun dan kutu kebul, sedangkan yang berwarna biru muda untuk menjebak thrips

- Jika diperlukan penggunaan pestisida, digunakan secara tepat dan pastikan bahan aktifnya tidak membunuh predator kutu daun

Gambar 1 A. Gejala rebah kecambah Gambar 1B. Gejala rebah kecambah

Gambar 2 A. Busuk batang Phytophthora

Gambar 2B. Gejala pada pangkal batang

Gambar 3A. Busuk pangkal batang Sclerotium

Gambar 3B. Cendawan Sclerotium Pada pangkal batang

Gambar 4A. Gejala mati ranting

oleh Colletotrichum

Gambar 4B. Gejala bercak Stemphylium pada cabang

Gambar 5A. Gejala penyakit sentik pada cabang /ranting

Gambar 5B. Cendawan penyebab sentik Choanephora cucurbitarum

Gambar 6A. Gejala layu bakteri

Pseudomonas solanacearum

Gambar 6B. Lendir bakteri yang keluar air bening

Gambar 7A. Gejala layu Fusarium di lapang (terlihat penguningan tajuk)

Gambar 7B. Warna coklat pada pembuluh akibat serangan Fusarium

Gambar 8A. Gejala serangan nematoda (tanaman merana seperti kekurangan hara)

Gambar 8B. Sistem perakaran yang terserang nematoda (akar berbintil-bintil kecil)

Gambar 11. Gejala virus Gambar 12. Gejala oleh TMV

Gambar 13. Busuk buah oleh

Phytophthora capsici

Gambar 14. Busuk lunak pada buah oleh bakteri Erwinia

Gambar 15. Busuk buah oleh cendawan Botrytis cinerea (daun sakit yang menempel adalah sumber infeksi)

Gambar 16. Busuk ujung buah karena kekurangan kalsium (Ca)

Gambar 17A. Kerusakan oleh kutu daun Gambar 17B. Penampakan tanaman Terserang kutu daun

Gambar 18. Gejala serangan tungau pada daun (daun

melengkung ke bawah)

Gambar 19. Gejala serangan Thrips pada daun (daun melengkung ke atas

Gambar 22. Gejala awal embun tepung Gambar 23. Gejala lanjut embun tepung

Gambar 24. Antraknosa Gambar 25. Serangan tungau pada buah

1

Guide

1Plant Breeder, Plant Pathologist, Entomologist, Plant Pathologist, Plant Breeder, Plant Pathologist, Plant Patholo-

gist, and Soil Scientist at AVRDC. Edited by T. Kalb. For more information, contact Dr. Gniffke at <[email protected]>. AVRDC—The World Vegetable Center; P.O. Box 42, Shanhua; Taiwan 74199; ROC

tel: (886-6) 583-7801 fax: (886-6) 583-0009 email: [email protected] www: avrdc.org

Suggested Cultural Practices

for Chili Pepper

by T. Berke1, L.L. Black, N.S. Talekar, J.F. Wang, P. Gniffke, S.K. Green, T.C. Wang, and R. Morris

Introduction

Chili pepper (Capsicum annuum) is a popular veg- etable valued around the world for the color, flavor, spice, and nutritional value it contributes to many meals (Fig. 1). Pepper varieties display a wide range of plant and fruit traits, and production practices vary greatly from region to region.

The following recommendations were developed at AVRDC in the Taiwan lowlands. Modifications may be needed to take into account different soils, weather, pests and diseases.

Climate and soil requirements

Chili pepper is better adapted to hot weather than is sweet pepper, but it does not set fruit well when night temperatures are greater than 24°C. Optimum day temperatures for chili pepper growth range from 20 to 30°C. When the temperature falls below 15°C or exceeds 32°C for extended periods, growth and yield are usually reduced. Peppers are photoperiod-insen- sitive (daylength does not affect flowering or fruit set). Chili pepper grows best in a loam or silt loam soil with good water-holding capacity, but can grow on many soil types, as long as the soil is well drained. Soil pH should be between 5.5 and 6.8. Choosing a cultivar

Chili pepper yields vary widely depending on cultivar and season. It's important to consider fruit quality,

especially consumer preferences for the shape, color and degree of pungency of fruits. Also consider lo- cal pest and disease pressures, genetic resistance to these local diseases, heat and drought tolerance, vine vigor, and seed costs.

Growing peppers in a different season or under a different rotation system might provide higher yields and/or higher prices. Relay or intercropping might provide extra income from the same piece of land, and reduce insect and disease problems. Growers should calculate potential returns, and choose the cultivar and cropping system that serves them best.

Guide

Guide

International

Cooperators’

AV RDC

World Ve ge t a ble Ce nt e r February 2005 AVRDC pub # 05-620

2

Field preparation

The soil where chili peppers are to be grown should be carefully selected and prepared for the crop. Crop rotations should avoid sequences in which peppers are planted immediately following another Solana- spp., Rhizoctonia solani, and Colletotrichum spp.

To minimize seed transmission, soak seeds in warm water (50°C) for 30 minutes, rinse them in cold wa- ter, and dry them before sowing. Apply a fungicide seed coating, such as 1 g of Benomyl 20% active ingredient (a.i.) wettable powder (WP) and 1 g Thiram 20% a.i. WP (or 0.8 g of Benlate [a mixture of Benomyl and Thiram] 50% a.i. WP) in 400 ml of water, so that the final concentration is 0.1% a.i.. Coat the seeds thoroughly by mixing 1 g of seeds with 1 ml of the fungicide suspension. Seeds may be dried at 20°C and 40% relative humidity or sown immediately.

The primary seed-borne viral pathogens are tobamoviruses, including tobacco mosaic virus (TMV), tomato mosaic virus (ToMV), and pepper mild mottle virus (PMMV). To minimize seed transmis- sion, soak 2 g of seeds in 10 ml of 10% (w/v) triso- dium phosphate (TSP) (Na3PO4 • 12 H2O) for 30 min, transfer them to a fresh 10% TSP solution for 2 hours, then rinse in running water for 45 minutes. This treat- ment can be done on freshly harvested or dry seeds. Or soak seeds for 4–6 hours in 5% (v/v) hydrochloric acid, then rinse in running water for 1 hour. Dry them for storage, or sow immediately.

The primary seed-borne bacterial pathogen is Xanthomonas campestris pv. vesicatoria (Xcv). To minimize Xcv infection, soak 2 g of seeds in 10 ml of 1.3% (v/v) acetic acid (shake occasionally) for 4 hours, rinse the seeds with water three times, soak the seeds in 1.25% (v/v) Clorox for 5 minutes, and rinse under running water for 15 minutes. Or soak seeds in warm water (50°C) for 30 minutes, then dry or sow immediately. Pathogen-free seeds sown in sterile soil require no treatment.

Raising transplants

Germination varies depending on variety, seed qual- ity, and soil mixture. For optimum germination, sow seeds in a well-drained, sterile soilless mix at 25– 28°C, and water daily. Under these conditions, seeds will germinate in about eight days. Seeds will germi- nate in 13 days at 20°C and 25 days at 15°C; they may not germinate at all if temperatures are below 15 or above 35°C.

One gram contains approximately 220 seeds. Ap- proximately 150 g may be needed to transplant 1 ha

as peat moss, commercial potting soil, or a potting

Dokumen terkait