• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pusat Pelatihan Nuklir (Nuclear Training Center, NTC) dan Jejaring

C. Pelatihan dan Sertifikasi bagi Pekerja di Daerah Nuklir PLTN

4. Pusat Pelatihan Nuklir (Nuclear Training Center, NTC) dan Jejaring

2. Seleksi administrasi untuk menilai prestasi akademik atau prestasi kerja/kinerja calon;

3. Uji kompetensi untuk mengukur pengetahuan dan keterampilan calon; dan

4. Asesmen untuk menguji kesesuaian soft-competency calon dengan yang dipersyaratkan pada posisi-posisi tersebut.

Setelah semua tahapan perekrutan dilakukan, diselenggarakan penetapan SDM terpilih dan pembinaan SDM terpilih tersebut sampai yang bersangkutan alih tugas ke PLTN.

Tujuan pelaksanaan perekrutan dan seleksi ini adalah untuk memenuhi kebutuhan SDM baik pada saat/fase komisioning maupun pada saat PLTN beroperasi. Dua fase ini bukanlah merupakan dua kegiatan yang terpisah sama sekali sehingga SDM yang sudah terlibat pada fase komisioning sebaiknya juga berlanjut sebagai tenaga inti pada saat fase pengoperasian PLTN.

4. Pusat Pelatihan Nuklir (Nuclear Training Center, NTC) dan Jejaring Kerjasama

Hampir setiap negara yang memiliki program PLTN telah mendirikan pusat pelatihan nuklir untuk mengimplementasikan program pengembangan SDM PLTN demi keberhasilan penyiapan SDM PLTN. NTC dimaksudkan untuk

melakukan pelatihan khusus tenaga teknis untuk para profesional, teknisi dan tukang yang dibutuhkan untuk program tenaga nuklir.

Pada umumnya, NTC dibangun dekat dengan pembangkit listrik tenaga nuklir atau industri untuk mempertahankan kesinambungan pertukaran antara personil pusat pelatihan nuklir, pembangkit listrik tenaga nuklir dan industri, serta memastikan bahwa pelatihan tetap berorientasi pada praktik dengan standar tinggi yang diperlukan. Staf pengajar dari pusat pelatihan sebaiknya dipilih dari personil dengan pengalaman di kegiatan program ketenaganukliran. Jika SDM tidak tersedia, instruktur inti harus dilatih dengan kelompok peserta pelatihan pertama, dan kemudian diberikan tanggung jawab untuk mendidik personil di NTC. Untuk mempertahankan kompetensi sebagai instruktur perlu disusun dan dilaksanakan prosedur penugasan instruktur secara berkala ke PLTN.

Sesuai dengan skema pelatihan personil PLTN, pelatihan dasar dapat dilakukan di dalam negeri dengan memanfaatkan fasilitas pelatihan pengembangan IPTEK nuklir yang dimiliki BATAN, BAPETEN dan pembangkit konvensional yang dimiliki Kementerian ESDM maupun perguruan tinggi di dalam negeri. Untuk pelatihan spesialisasi, akan dilakukan di luar negeri baik melalui kerjasama multirateral dan bilateral.

Pelatihan di luar negeri tersedia di IAEA dan negara pemasok teknologi nuklir. Pelatihan biasanya dikelompokkan berdasarkan materi dan institusi penyedianya. Materi pelatihan dikelompokkan sebagai berikut:

- Rancang-bangun Pembangkit Tenaga Nuklir; - Keselamatan Nuklir;

- Jaminan mutu;

- Operasi dan pemeliharaan PLTN; - Instrumentasi dan konterol PLTN; - Manajemen Bahan Bakar Nuklir; dan - Kontrol Materials Nuklir.

Pada setiap materi pelatihan masih digolongkan berdasarkan sumber penyedianya bisa berupa:

- Institusi Akademis; - Institusi Pemerintah;

- Konsultan atau Kontraktor;

- Pemasok Reaktor atau Fabrikasi; dan - Institusi-institusi yang lain.

Banyak tersedia pendidikan dan pelatihan baik dengan gelar dan non gelar di perguruan tinggi pada negara yang mempunyai program PLTN yang berjalan dan berkelanjutan. Terdapat perbedaan besar antar sistem perguruan tinggi antara lain berupa kurikulum, standar akademis, bahasa, orientasi (riset atau aplikasi-aplikasi industri), peralatan dan fasilitas pengajaran, peluang kerja praktek, biaya. Sehingga perlu dipertimbangkan faktor tersebut di atas secara tepat.

Kebanyakan negara dengan program PLTN mapan telah memiliki pengembangan spesialisasi yang baik pada institusi penelitian dan atau pelatihan nuklir milik pemerintah. Peluang pelatihan pada institusi seperti ini biasanya tersedia untuk jumlah terbatas melalui perjanjian bilateral. Institusi ini biasanya menyelenggarakan pelatihan reguler untuk berbagai topik terkait IPTEK nuklir dan sesekali melaksanakan pelatihan khusus sesuai kebutuhan.

Sebagian besar program pelatihan industri telah ditersedia pada organisasi pelatihan komersil, konsultan, perusahan disain dan fabrikasi. Pelatihan spesialisasi untuk semua tingkatan baik manager maupun tukang pada topik apapun umumnya telah tersedia dan dipasarkan.

Sebagai bagian dari kontrak penyedian PLTN pemasok Sistem Penyedia Uap Nuklir (SPUN) atau turbin generator umumnya menyediakan sejumlah pelatihan personel yang bertanggung jawab terhadap operasi dan pemeliharaan peralatan PLTN. Pelatihan ini sangat berharga dan dilaksanakan didekat fasilitas fabrikasi seperti halnya didekat fasilitas PLTN selama pembangunan dan komisioning. Pelatihan bersifat praktek dan terkait peralatan spesifik dengan pengajar dengan komptensi yang terbaik.

Pelatihan untuk personel operasi dan pemeliharaan PLTN oleh pemasok akan melibatkan penggunaan simulator sangat canggih untuk memberikan pengalaman mengoperasikan secara nyata yang tidak dapat disediakan oleh pihak lain. Pemasok dapat juga menyusun pelatihan operator OJT/ kerja paraktek pada PLTN yang menjadi acuan.

Secara umum, peluang pelatihan asing berlimpah dan siap tersedia dari banyak sumber pada semua topik/materi yang relevan pada institusi pelatihan walaupun akan ada sedikit keterbatasan apabila dilakukan OJT pada PLTN acuan.

Program Fellowship IAEA setiap tahun menyediakan peluang pelatihan untuk lebih seratus orang untuk program terkait dengan PLTN yang biasanya berupa kerja paraktek/OJT pada institusi pemerintah, industri dan perusahaan rancang-bangun dan utilitas pembangkit listrik. Selain itu IAEA juga menyusun kunjungan ilmiah, menyediakan tenaga ahli dan koordinasi yang diurus oleh UNDP program untuk pengembangan SDM.

Untuk program PLTN, pelatihan asing umumnya diatur dengan persetujuan kerjasama bilateral atau multilateral:

- Kerjasama multilateral dapat diatur lewat organisasi intemasional seperti IAEA.

- Kerjasama bilateral melibatkan pengaturan antara negara terkait dan biasanya melalui tiga tahapan sebagai berikut:

Tahap 1. Persetujuan umum antar pemerintah untuk kerjasama di dalam

riset ilmiah dan pengembangan teknologi. Kerjasama ini memungkinkan peserta kedua negara untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan teknologi dan yang ada (terkecuali informasi dan teknologi sensitif tertentui) dan untuk terbiasa dengan praktek manajemen yang digunakan di negara yang lain.

Tahap 2. Di dalam kerangka umum dari persetujuan kerjasama antar

pemerintah, persetujuan khusus dibuat antara institusi dimiliki pemerintah baik pusat riset nuklir, komisi tenaga atom, universitas, badan pengawas nuklir, dll. untuk kerjasama penggunaan energi nuklir untuk maksud damai. Biasanya tujuan pokok dari kerjasama adalah implementasi dari pelatihan, penelitian dan pengembangan berorientasi aplikasi untuk mempromosikan dan memperkuat infrastruktur IPTEK di negara berkembang.

Tahap 3. Persetujuan kerjasama komersil seperti diwujudkan dalam:

 Kontrak penyediaan PLTN atau fasilitas, bahan, komponen, sistem, jasa dan pelatihan.

 Pengaturan industri termasuk transfer teknologi melalui persejuan perijinan dan usaha patungan. Kerjasama industri akan termasuk konstruksi PLTN atau fasilitas, termasuk pelatihan personil selama desain, konstruksi dan tahap komisioning.

 Pengaturan utilitas untuk kerjasama dalam perencanaan, operasi, manajemen dan pemeliharaan PLTN.

 persetujuan transfer teknologi khusus dan pelatihan terkait kontak penyediaan dan peningkatan partisipasi nasional.

Sampai saat ini, kebanyakan pengembangan SDM nuklir yang menggunakan pelatihan asing dicapai melalui kerjasama bilateral, terutama melaui tiga tahapan di atas.

Pelatihan di luar negeri memiliki kondisi dan keterbatasan jadi harus direncanakan dan dilaksanakan secara hati-hati dan beberapa hal perlu dipertimbangkan antara lain:

 Persyaratan bahasa;  Adaptasi budaya;  Ambisi personil;

 Lamanya penugasan pelatihan;  Pembatasan informasi; dan  Biaya pelatihan.

Penyiapan dan ketersediaan infrastruktur pelatihan dan jejaring kerjasama baik didalam maupun di luar negeri merupakan sarana penting dalam penyiapan SDM PLTN di Indonesia.

Dokumen terkait