• Tidak ada hasil yang ditemukan

E. Tinjauan Kepustakaan

2. Putusan dan Bentuk-bentuk Putusan Menurut Hukum

pernyataan Hakim yang diucapkan didalam acara persidangan Pengadilan terbuka, yang dapat berupa pemidanaan atau bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.

Apabila Hakim memandang pemeriksaan persidangan sudah selesai, maka penuntut umum dipersilakan untuk membaca tuntutannya dan setelah itu giliran Terdakwa dan Penasihat Hukumnya membacakan pembelaannya yang dapat dijawab oleh Penuntut Umum, dengan ketentuan bahwa terdakwa atau penasihat hukumnya mendapat giliran terakhir, hal ini berdasarkan pada Pasal 182 ayat (1) KUHAP. Tuntutan serta jawaban atas pembelaannya dilakukan secara tertulis dan setelah siap dibacakan tuntutan serta jawaban atas pembelaan tersebut harus

segara diserahkan kepada Hakim Ketua sidang dan turunnya kepada pihak yang berkepentingan.12

Jika cara tersebut sudah selesai maka Hakim Ketua menyatakan bahwa pemeriksaan dinyatakan perkara tersebut ditutup. Putusan Pengadilan Negeri dapat dijatuhkan dan diumumkan pada hari dimana Hakim Ketua menyatakan perkara tersebut telah ditutup, atau juga pada hari lain yang sebelumnya harus diberitahukan pada Penuntut Umum, Terdakwa, atau Penasihat Hukumnya, dan penundaan penjatuhan putusan Hakim tersebut paling lama 14 hari.13

Sesudah pemeriksaan perkara tersebut dinyatakan tutup, Majelis Hakim akan mengadakan musyawarah terakhir untuk mengambil keputusan, dan musyawarah itu dilakukan saat Terdakwa, Saksi, Penasihat Hukum, dan Penuntut Umum serta hadiran telah meninggalkan ruangan sidang, ataupun dapat dilakukan secara tertutup ditempat lain. Dan jika musyawarah itu tidak menghasilkan kemufakatan yang bulat maka dapat ditempuh dengan dua cara yaitu:14

a. Putusandengan cara voting yaitu dengan mengambil suara terbanyak dari ketiga orang majelis hakim tersebut.

b. Jika voting tersebut tidak berhasil maka putusan akan diperoleh dari pendapat hakim yang paling menguntungkan terdakwa.

Pelaksanaan pengambilan keputusan didasarkan kepada surat dakwaan dan segala hal yang terbukti didalam persidangan diPengadilan. Putusan Pengadilan hanya sah dan mempunyai kekuatan hukum yang tetap apabila diucapkan disidang

12Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, 2010. Hlm 282.

terbuka untuk umum. Penjatuhan putusan Hakim dinyatakan dengan hadirnya terdakwa kecuali dalam hal KUHAP dan undang-undang lain menentukan hal lain. Pengucualian didalam KUHAP ialah dalam acara pemeriksaan cepat, dimana putusan dapat dijatuhkan tanpa hadirnya terdakwa dan juga terdakwa dapat menunjuk orang lain untuk mewakilinya disidang Pengadilan. Pengeculian di dalam Undang-Undang contohnya ialah didalam Undang-Undang Pidana Khusus yang dikenal pula dengan peradilan in absentia pada orang yang tidak dikenal, tetapi terbatas pada penjatuhan pidana perampasan barang-barang yang telah disita yaitu pada delik ekonomi (Pasal 16 UUPTPE). Begitu pula pada delik korupsi yaitu dapat dijatuhkannya pidana tanpa hadirnya terdakwa (Pasal 23 UUPTPK). Hal yang sama juga berlaku dalam delik subversi (Pasal 11 ayat (1) UUPKS).15

Begitu pula dengan halnya orang telah meninggal dunia menurut Pasal 16 UUTPE dan Pasal 23 ayat (5) UUPTPK, atas tuntutan Penuntut Umum dengan putusan Pengadilan dapat dijatuhkan pidana perampasan barang barang yang telah disita, hal ini berbeda dengan ketentuan umum yang berada didalam KUHP, dengan kematian terdakwa maka perkaranya menjadi selesai.16

Setelah putusan pemidanaan diucapkan maka Hakim Ketua sidang wajib memberitahu kepada terdakwa apa yang menjadi haknya, yaitu:17

a. Hak untuk segera menerima atau segera menolak putusan perkara tersebut;

15Ibid.

16Ibid., hlm. 284

b. Hak untuk dapat memahami isi putusan tersebut sebelum Terdakwa menyatakan menerima atau menolak putusan, dalam tegang waktu tujuh hari sesudah putusan itu dijatuhkan atau setelah putusan itu diberitahukan kepada Terdakwa yang tidak hadir;

c. Hak untuk meminta penangguhan pelaksanaan putusan dalam tenggang waktu yang ditentuka oleh undang-undang untuk dapa mengajukan grasi, dalam hal ia menerima putusan;

d. Hak banding dalam tegang waktu tujuh hari setelah putusan tersebut dijatuhkan atau diberitahukan kepada Terdakwa yang tidak hadir didalam persidangan tersebut;

e. Hak untuk mencabut pernyataan sebagaimana yang dimaksud pada butir a (menolak putusan) sebagaimana ditentukan dalam Pasal 235 ayat (1) KUHAP yang menyatakan bahwa selama perkara banding belum diputus oleh Pengadilan Tinggi, permintaan banding dapat dicabut sewaktu-waktu dan dalam hal sudah dicabut, maka permintaan banding dalam perkara itu tidak boleh diajukan lagi (Pasal 196 ayat (3) KUHAP).

Pasal 197 ayat (1) diatur formalitas yang harus dipenuhi suatu putusan Hakim, dan jika kententuan formalitas tersebut tidak dipenuhi maka putusan tersebut akan batal demi hukum. Ketentuan tersebut adalah:

a. Kepala putusan tersebut harus berbunyi: DEMI KEADILAN

BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA;

b. Terlampirnya identitas terdakwa yaitu nama lengkap, tempat tanggal lahir, umur, jenis kelamin, kebangsaan, agama, dan pekerjaan;

c. Dakwaan, sebagaimana yang terdapat disurat dakwaan;

d. Penentuan kesalahan terdakwa harus berdasarkan pertimbangan dari fakta dan keadaan beserta alat pembuktian yang disusun secara ringkas dan diperoleh pada saat pemeriksaan didalam persidangan;

e. Tuntutan pidana, sebagaimana yang tedapat didalam surat tuntutan;

f. Pasal peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar pemidanaan dan dasar hukum dari putusan yang disertai keadaan yang memberatkan dan meringankan terdakwa;

g. Hari dan tanggal diadakannya musyawarah oleh majelis hakim, namun jika pada perkara yang diperiksa menggunakan hakim tunggal, hal ini dapat dikecualikan;

h. Pernyataan kesalahan terdakwa telah memenuhi semua unsur dalam rumusan delik dan disertai dengan kualifikasinya dan pemidanaan atau tindakan yang dijatuhkan;

i. Menentukan kepada siapa biaya perkara akan dibebankan dan harus menyebutkan jumlah yang pasti dan juga mengenai ketentuan barang bukti; j. Jika terdapat surat autentik palsu maka dalam hal tersebut hakim harus

memberikan keterangan dimana letak kepalsuan surat tersebut;

k. Perintah supaya terdakwa ditahan atau tetap dalam tahanan ataupun terdakwa dibebaskan;

l. Hari dan tanggal putusan, nama penuntut umum, nama hakim yang memutus, dan nama panitera.

Suatu proses peradilan berakhir dengan putusan akhir atau vonnis. Putusan akhir tersebut merupakan pendapat tentang apa yang dipertimbangkan oleh Majelis Hakim. Hukum Acara Pidana mampunyai macam-macam bentuk putusan, yaitu:

1. Putusan Bebas

Pasal 191 ayat (1) KUHAP mengatakan bahwa jika pengadilan berpendapat bahwa dari hasil pemeriksaan di sidang, kesalahan terdakwa atas perbuatan yang didakwakan kepadanya tidak terbukti secara sah dan meyakinkan, maka terdakwa diputus bebas.

Kesalahan yang didakwakan kepada terdakwa sama sekali tidak terbukti, semua alat bukti yang diajukan dipersidangan baik berupa keterangan Saksi, keterangan Ahli, surat dan petunjuk maupun keterangan Terdakwa, tidak dapat membuktikan kesalahan yang didakwakan, berarti perbuatan yang didakwakan tidak terbukti secara sah dan meyakinkan.18Ataupun putusan bebas tersebut dapat juga didasarkan atas penilaian, kesalahan yang terbukti itu tidak didukung oleh keyakinan hakim. Penilaian yang demikian sesuai dengan Pasal 183 KUHAP yang menganut pembuktian menurut Undang-Undang secara negatif yaitu keterbukaan kesalahan yang didakwakan dengan alat bukti yang sah, harus sekaligus didukung oleh keyakinan hakim.19

18Mohammad Taufik Makarao, dan Suhasril, Hukum Acara Pidana dalam Teori dan

2. Putusan Lepas dari Segala Tuntutan Hukum

Pasal 191 ayat (2) KUHAP berbunyi, jika Pengadilan berpendapat bahwa perbuatan yang didakwakan kepada terdakwa terbukti, tetapi perbuatan itu tidak merujuk suatu tindak pidana, maka terdakwa diputus lepas dari segala tuntutan hukum(onslag van recht vervolging) . Perbedaan antara putusan bebas dengan putusan lepas dari segala tuntutan hukum antara lain:20

a) Ditinjau dari segi Pembuktian

Pada putusan bebas, terdakwa yang diputus bebas dikarenakan tidak terpenuhinya asas pembuktian menurut undang-undang secara negatif serta tidak memenuhi asas batas minimum pembuktian yang diatur dalam Pasal 183 KUHAP.

Pada putusan lepas dari segala tuntutan hukum, perbuatan yang didakwakan cukup terbukti secara sah, namun perbuatan tersebut tidak diatur didalam ruang hukum asuransi, hukum dagang, ataupun hukum adat.

b) Ditinjau dari segi Penuntutan

Pada Putusan bebas, perbuatan yang dilakukan dan didakwakan kepada terdakwa benar-benar perbuatan tindak pidana yang harus dituntut dan diperiksa disidang “pengadilan pidana”. Cuma dari segi penilaian pembuktian, pembuktian yang ada tidak cukup mendukung keterbukaan kesalahan terdakwa. Oleh karena itu kesalahan terdakwa tidak terbukti.

Pada putusan lepas dari segala tuntutan, pada hakekatnya apa yang didakwakan kepadanya bukan merupakan perbuatan tindak pidana. Barangkali hanya berupa quasi tidak pidana, seolah-olah penyidik dan penuntut umum melihatnya sebagai perbuatan tindak pidana.

3. Putusan Pemidanaan

Putusan pemidanaan dalam hal ini berarti Terdakwa secara sah dan meyakinkan telah terbukti melakukan tindak pidana yang didakwakan kepadanya, oleh karena itu terdakwa dijatuhi hukuman pidana sesuai dengan ancaman pasal pidana yang didakwakan kepada Terdakwa.

F. Metode Penelitian

Dokumen terkait