Pasal 18 ayat (1) huruf b Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 jo.Undang undang Nomor 20 Tahun 2001.
C. Putusan Nomor 94/Pid.Sus.K/2013/PN.Mdn 1 Kasus Posis
a. Kronologis
Pengadaan Flame Tube PLTGU DG 10530 semula adanya usulan dari Ir.Ermawan Arif Budiman selaku Kepala sektor Pembangkitan Belawan perihal Pengadaan material kebutuhan GT 12 untuk LTE GT 12 kemudian atas usulan tersebut General Manager Ir Albert Pangaribuan mendisposisi kannya kepada terdakwa sesuai dengan tugas, fungsi ,dan wewenangnya selaku Manager Produksi untuk membuat syarat teknis untuk pekerjaan Pengadaan Flame Tube
PLTGU GT 12 PT PLN (Persero) KITSBU Sektor Pembangkit Belawan Tahun 2007 selanjutnya terdakwa langsung membuat syarat Teknis berdasarkan buku petunjuk yang dikeluarkan oleh PT Siemens tanpa dilakukan survey terlebih dahulu ke PT. Siemens Indonesia tentang apakah barang yang diusulkan oleh sektor Pembangkitan Belawan berupa Flame Tube PLTGU GT 12 masih diproduksi oleh PT Simens Indonesia.
Setelah Syarat teknis dibuat oleh terdakwa pada tanggal 11 Desember 2006 selanjutnya Syarat Teknis diteruskan kepada Manager Perencanaan Edward Silitonga untuk dianalisa dan dievaluasi dan usulan dari Terdakwa tersebut diambil alih seluruhnya oleh Edward Slitonga tanpa melakukan survey dan mengkaji secara detail tentang usulan tersebut dan usulan tersebut dinyatakan telah memenuhi syarat sesuai dengan Rencana Kerja Anggaran Perusahaan dan atas syarat teknis tersebut maka Edward Siolitonga membuat Rencana Anggaran Biaya.dengan besaran Rp.24.323.251.000 (Dua puluh empat milyar tiga ratus dua puluh tiga juta dua ratus lima puluh satu ribu rupiah) termasuk PPN 10% (sepuluh persen).
Berdasarkan usulan dari Terdakwa berupa Syarat Teknis Pengadaaan Flame Tube PLTGU GT 12 PT PLN (Persero) KITSBU-Sektor Pembangkitan Belawan berserta spesifikasinya tanggal 11 Desember 2006 dan Evaluasi dari Manajer Perencana Edward Silitonga mengenai ketersediaan Dana dalam Rencana Kerja Anggaran Perusahaan ( RKAP ) dengan syarat teknis yang dibuat dan ditandatangani oleh terdakwa dan Rencana Anggaran Biaya yang dibuat dan ditandatangani oleh Edward Silitonga selanjutnya dibuat Surat Kuasa Kerja
(SKK) Nomor : INV/07/BIKEU/PROD/PLTGU/001 tanggal 13 Maret 2007 dengan nilai sebesar Rp. 24.323.251.000 (Dua puluh empat milyar tiga ratus dua puluh tiga juta dua ratus lima puluh satu ribu rupiah) termasuk PPN 10% (sepuluh persen). Selanjutnya Surat Kuasa Kerja Nomor : INV/07/ BIKEU/PROD/PLTGU/001 tanggal 13 Maret 2007 Pengadaan Flame Tube PLTGU GT-12 dengan nilai sebesar Rp. 24.323.251.000 (Dua puluh empat milyar tiga ratus dua puluh tiga juta dua ratus lima puluh satu ribu rupiah) tersebut ditandatangani oleh masing-masing Manager yang terkait dan disetujui oleh Ir Albert Pangaribuan selaku General Manager untuk melaksanakan Pengadaan Flame Tube PLTGU GT 12 PT PLN (Persero) KITSBU.
Berdasarkan informasi harga dari PT. SIEMENS INDONESIA maka pada tanggal 7 Mei 2007 Panitia Pengadaan barang/jasa tahun anggaran 2007 PT PLN (Persero) KITSBU menyusun HPS dan membuat Berita Acara HPS Nomor : 006.BAHPS/610/PAT-PBJ/2007 atas Pengadaan Flame Tube PLTU GT-12 PT PLN (Persero) KITSBU adapun harga satuan menurut perhitungan sendiri (HPS) Flame Tube DG ; 10530, detail material sesuai catalogue 3.6-0175 Belawan 2 Gas Turbin adalah Rp.23.980.000.000,00 (Dua puluh tiga Milyar sembilan ratus delapan puluh juta rupiah) termasuk PPNN dan HPS dihitung oleh Panitian pengadaan berdasarkan referensi faksimili PT. SIEMENS INDONESIA tanggal 27 Maret 2007 dengan franco gudang PT PLN (Perseso) sektor Pembangkitan Belawan.
Pada tanggal 19 Desember 2007 CV. SRI MAKMUR menyerahkan Flame Tube kepada kepada PT PLN (Persero) KITSBU yang tertuang dalam Berita
Acara Serah Terima Barang Nomor : 799.BA/620/KITSU/2007 yang ditandatangani oleh Ir Albert Pangaribuan selaku General Manager PT PLN (Persero) dan selaku Pengguna Barang/jasa dengan YUNI selaku Direktur CV. SRI MAKMUR sebagai Penyedia barang/jasa. Setelah diterimanya barang di gudang PT PLN (Persero) KITSBU sektor Pembangkitan Belawan, ROKHMAD RIYADI yang ditunjuk selaku Pelaksana Harian Manager Sektor Pembangkitan Belawan melakukan pemeriksaan terhadap Flame Tube Kontrak Nomor 120.Pj/61/KITSU/2007 tanggal 07 Juni 2007 dan Nomor : 011/SM-CV/PLN- VI/2007 tanggal 07 Juni 2007, dan dari hasil pemeriksaan ditemukan adanya perbedaan spesifikasi Flame Tube yang disupply oleh YUNI selaku Direktur CV. SRI MAKMUR dengan Flame Tube Existing, selanjutnya ROKHMAD RIYADI memberitahukan permasalahan tersebut kepada Terdakwa, Ir Albert Pangaribuan dan Ir Robert Manyuzar serta mengirimlan surat Nomor : 003/61/ SBLW/2008 tanggal 22 Januari 2008 kepada CV. SRI MAKMUR perihal penjelasan RKS Nomor : 006.RKS-Ea/610/PAT-Pb-7/2007 tanggal 25 April 2007 dengan tembusan surat kepada Terdakwa selaku Manager Produksi, Ir Albert Pangaribuan selaku General Manager dan Ir Robert Manyuzar. Atas perbedaan Flame Tube yang ditemukan tersebut maka pada tanggal 22 Pebruari 2008 dilakukan rapat pembahasan Flame Tube Eks Kontrak yang dihadiri oleh Ferdinand Ritonga selaku Ketua Panitia Pemeriksa Mutu Barang, Ir Ermawan Arief Budiman selaku Manager PT PLN (Persero) Kepala sektor Rokhmad Riyadi melaporkan hal tersebut kepada Ir.Albert Pangaribuan selaku General,
Lando Hutabarat dari CV. SRI MAKMUR dan Chris Silalahi selaku General Manager PT. Siemens Indonesia.
Bahwa dengan adanya perbedaan Flame Tube yang diserahkan /disuplai oleh YUNI selaku Direktur CV. SRI MAKMUR telah dilakukan rapat pembahasan suplay Flame Tube Ex Kontrak Nomor 120.Pj/61/KITSU/2007 tanggal 07 Juni 2007 dan Nomor : 011/SM-CV/PLN-VI/2007 tanggal 07 Juni 2007 pada tanggal 22 Pebruari 2008 yang dihadiri oleh H.F Ritonga selaku Ketua Panitia Pemeriksa Mutu barang, Ir Ermawan Arif budiman selaku Manager sektor Pembangkitan Belawan, Lando Hutabarat mewakili CV. SRI MAKMUR, CHRIS SILALAHI General Manager PT. SIEMENS INDONESIA dan dilanjutkan dengan rapat pada tanggal 14 Maret 2008 bertempat dikantor PT PLN (Persero) pembangkitan Sumbagut dengan agenda pembahasan pengadaan Flame Tube PLTGU GT 12 Belawan yang dihadiri oleh terdakwa selaku Manager Produksi, Edward Silitonga selaku Manager Perencanaan, Ferdinand Ritonga Ketua Tim Pengawas Mutu Barang, Ir Ermawan Arief Budiman selaku Manager Sektor KIT Belawan, Petrus Suhartono dari PT. SIEMENS INDONESIA, Lando Hutabarat dari CV. SRI MAKMUR dengan kesepakatan yaitu :
a) PT. SIEMENS INDONESIA akan memberikan jaminan dan mensuvervisi proses pemasangan Flame Tube di GT 12 Belawan dengan Free oh Charge dan segera menmgirimkan service buletin atau enginering service ship yang berisi gambar dimensi/asbuilt drawing dan spesifikasi material paling lambat tanggal 31 Maret 2008
b) Sambil Menunggu kedatangan service buletin sebagaimana dimaksud pada butir a diatas dari PT. Siemens Indonesia, pihak suplier diminta agar segera mengurus proses administrasi penerimaan Flame Tube sesuai tanggal penyerahan Flame Tube di PLN Sektor Pembangkitan Belawan.
Akibat penetapan paket pengadaan Flame Tube GT 12 yang tidak benar oleh Ir Albert Pangaribuan berdasarkan usulan dari Terdakwa selaku Manager Produksi dan Edward Silitonga selaku Manager Perencanaan mengakibatkan terjadinya perbedaan Flame Tube GT 12 yang disuplai oleh Yuni selaku direktur CV. Sri Makmur sebagai Penyedia Barang/ Rekanan dan juga Ir Albert Pangaribuan tidak seharusnya menetapkan dan mengesahkan Harga Perkiraan Sendiri (HPS) yang disusun oleh Panitia Pengadaan Barang/Jasa yaitu Ir. Robert Manyuzar dimana Panitia Pengadaan dalam membuat HPS tidak melakukan analisis yang mendalam terhadap lingkup Pengadaan barang dan jasa dengan cara tidak melakukan survey terlebih dahulu kepada pabrikan PT. Siemens Indonesia dan hal ini sesuai dengan penjelasan PT. Siemens Indonesia bahwa Flame Tube dalam RKS Nomor 006.RKS-Ea/610/PATPb7/ 2007 sudah supperseded (tidak diproduksi) sejak 5 tahun yang lalu, sehingga dengan adanya perbedaan Flame Tube GT 12 yang disuplai oleh Yuni. Akibat perbuatan Ir Albert Pangaribuan menerima dan menandatangani Berita Acara Serah Terima Barang dari Yuni selaku Penyedia Barang/Rekanan maka dokumen tersebut digunakan oleh Penyedia barang dalam hal ini Yuni selaku Penyedia Jasa sebagai salah satu persyaratan pencairan dana dalam pengadaan Flame Tube GT 12 sektor Belawan
No.101.BA/543/KITSU/2008 tanggal 5 Mei 2008, dan Yuni selaku direktur CV. Sri Makmur sebagai Penyedia Barang/Rekanan seharusnya tidak berhak menerima pembayaran sebesar nilai kontrak Rp.23.942.460.000,00 (dua puluh tiga milyar sembilan ratus empat puluh dua juta empat ratus enam puluh ribu rupiah).
Dalam perkara ini Terdakwa telah mebuat Syarat Teknis dengan tidak melakukan survey terlebih dahulu kepada PT. Siemens Indonesia apakah Flame Tube DG 10530 masih diproduksi oleh PT. Siemens Indonesia dan ternyata Syarat Teknis yang dibuat oleh terdakwa atas barang Flame Tube DG 10530 tidak diproduksi lagi dan atas penjelasan dari PT. Siemens Indonesia bahwa Flame Tube dalam RKS No.006.RKSEa/ 610/PAT-Pb7/2007 sudah superseded (sudah tidak diproduksi) sejak 5 tahun yang lalu sehingga barang yang disuplai oleh Yuni selaku Direktur CV. Sri Makmur tidak sesuai dengan Lampiran Surat Kuasa Kerja (SKK) Nomor: INV/07/BIKEU/PROD/PLTGU/001 tanggal 13 Maret 2007 dan Kontrak Kerja Nomor: 120.PJ/61/KITSU/2007 tanggal 07 Juni 2007 tentang Pengadaan Flame Tube PLTUG GT-12, sehingga Terdakwa dengan sengaja dan sadar telah melakukan perbuatan untuk mencapai tujuan dalam memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi berupa keuntungan materiil yang dapat berbentuk uang atau barang, baik barang bergerak atau tidak bergerak yang mempunyai nilai ekonomis atau fasilitas lainnya.
Sesuai dengan hasil Laporan Audit Perhitungan Kerugian Keuangan Negara yang dilakukan oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Deputi Bidang Investigasi Nomor : SR-610/D6/02/2013 tanggal 24 Agustus 2013
akibat perbuatan terdakwa FAHMI RIZAL LUBUS bersama dengan saksi Ir.Albert Pangaribuan, Edward Silitonga, Ir. Robert Manyuzar, Ir Drs Ferdinand Ritonga MSi,Mdiv, Ir. Ermawan Arief Budiman S.Si dan Yuni telah menimbulkan kerugian keuangan Negara dalam hal ini PT PLN (persero) Pembangkitan Sumatera bagian utara sektor Pembangkitan Belawan sebesar Rp.23.616.001.500,00 (Dua Puluh Tiga Milyar enam ratus enam belas juta seribu lima ratus rupiah) atau setidaktidaknya sekitar jumlah itu.
b. Dakwaan
Penuntut Umum menyusun dakwaan secara subsidair: PRIMAIR
Bahwa perbuatan Terdakwa sebagaimana diancam pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 2 ayat (1) Jo Pasal 18 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang telah diubah menjadi UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
SUBSIDAIR
Bahwa perbuatan Terdakwa telah melanggar ketentuan sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 3 Jo Pasal 18 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang telah diubah menjadi UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
c. Tuntutan
1) Menyatakan Terdakwa Ir. FAHMI RIZAL LUBIS secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diatur dan diancam Pidana dalam Pasal 2 Ayat (1) Jo. pasal 18 Undang-undang No. 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-undang No. 20 Tahun 2001 sebagaimana dalam Dakwaan Primair; 2) Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa Ir. FAHMI RIZAL LUBIS berupa
Pidana Penjara selama 9 (sembilan) tahun dikurangi selama terdakwa berada dalam tahanan sementara dengan perintah agar terdakwa tetap ditahan, dan ditambah dengan denda sebesar Rp. 700.000.000,- (tujuh ratus juta rupiah) subsidair 6 (enam) bulan kurungan.
3) Menyatakan barang bukti diserahkan kepada Pengadilan Negeri.
4) Menetapkan agar terdakwa membayar biaya perkara sebesar Rp. 5.000,- (lima ribu rupiah).
d. Fakta-Fakta Hukum 1) Keterangan Saksi
a) Saksi: Efendi Butar-Butar, saksi menerangkan bahwa:
Saksi tidak ikut membuat HPS, namun setelah dibuat saksi ada menandatangani HPS untuk disahkan oleh General Manager. Panitia pengadaan tidak dibebas tugaskan dari pekerjaan untuk melaksanakan pekerjaan sebagai panitia pengadaan, maka tidak mungkin menyusun HPS secara bersama-sama.
Panitia Pengadaan memilih referensi Fax dari PT. Siemens Indonesia Nomor : 105/PGS/III/2007, tanggal 27 Maret 2007. Ada pemotongan harga Rock Bottom Price sebesar 3,75% dari referensi harga penawaran PT. Siemens Indonesia. Besar HPS adalah Rp. 23.980.000.000, termasuk PPN 10%. Saksi ada menandatangani HPS, selanjutnya disetujui dan disahkan oleh General Manager.
Pelelangan pengadaan flame tube dilaksanakan dengan cara pelelangan umum. Saksi tidak tahu menahu apa peranan terdakwa Fahmi Rizal Lubis. Saksi tidak bertemu dengan Direktur atau wakil dari perusahaan yang mendaftar. Panitia mengusulkan CV. Sri Makmur sebagai calon pemenang lelang dengan harga penawaran sebesar Rp.23.942.490.000,- (dua puluh tiga miliar sembilan ratus empat puluh dua juta empat ratus sembilan puluh ribu rupiah).
Saksi tidak tahu apakah barang yang diadakan oleh Penyedia barang sudah sesuai atau tidak. Saksi tidak ada dipaksa Ir. Robert Manyuzar selaku Ketua Panitia untuk menandatangani HPS maupun lainnya.
b) Saksi:Syarifudin Damanik, saksi menerangkan bahwa:
Panitia pengadaan tidak dibebas tugaskan dari pekerjaan untuk melaksanakan pekerjaan sebagai panitia pengadaan, maka tidak mungkin menyusun HPS secara bersama-sama. Besar HPS adalah Rp. 23.980.000.000, termasuk PPN 10% dan usulan HPS dari Panitia disetujui.
Saksi tidak ikut pada saat menyusun jadwal lelang tetapi saksi ikut hadir pada kegiatan aanwizjing. Saksi tidak tahu apakah barang yang diadakan oleh
Penyedia barang sudah sesuai atau tidak. Saksi tidak ada dipaksa Ir. Robert Manyuzar selaku Ketua Panitia untuk menandatangani HPS maupun lainnya. Tidak ada rapat panitia pengadaan untuk memutuskan siapa calon pemenang lelang.
c) Saksi:Ir. Jonni Hutajulu, saksi menerangkan bahwa:
Pada tahun 2007, saksi diangkat sebagai supervisor kesejahteraan pegawai bagian administrasi SDM. Benar pada tahun 2007, PT. PLN ada melakukan kegiatan pengadaan barang flame tube GT.1.2 Belawan. Pada kegiatan pengadaan barang tersebut saksi diangkat sebagai Sekretaris Panitia Pemeriksa Mutu Barang berdasarkan Surat Keputusan General Manager. Saksi melakukan pemeriksaan pada tanggal 19 Desember 2007, bertempat di Belawan, bersama regu pemeliharaan PLTGU hasil pemeriksaan secara visual kondisi baik dan tidak cacat dilengkapi sertifikat keaslian barang. Saksi melihat fisik dan jumlahnya dengan acuan kontrak. Secara tehnik saksi tidak memahami tentang spesifikasi barang karena saksi hanya sebagai kepegawaian, saksi hanya memeriksa keaslian barang, bebas dari cacat dan dapat dipasang serta dapat digunakan. Saksi tidak paham tentang tugas pemeriksaan barang dan saksi tidak tahu menahu tentang design, tentang adanya perbedaan design.
Saksi tidak tahu ada laporan pemberitahuan adanya perbedaan flame tube/perubahan design. Berita Acara Penerimaan Barang tidak ditandatangani pada tanggal 19 Desember 2007, akan tetapi saksi tandatangani setelah tanggal
19 Desember dan saksi tidak ingat lagi tanggalnya. Atas kemauan sendiri saksi menandatangani Berita Acara dan Bon Penerimaan Barang.
d) Saksi:Zainal Arifin saksi menerangkan bahwa:
Saksi mengatakan benar pada tahun 2007, PT. PLN ada melakukan kegiatan pengadaan barang flame tube GT.1.2 Belawan. Pada kegiatan pengadaan barang tersebut saksi diangkat sebagai Anggota Tim Pemeriksa Mutu Barang berdasarkan Surat Keputusan General Manager. Saksi melakukan pemeriksaan pada tanggal 19 Desember 2007, bertempat di Belawan, bersama regu pemeliharaan PLTGU hasil pemeriksaan secara visual kondisi baik dan tidak cacat dilengkapi sertifikat keaslian barang. Secara tehnik saksi tidak memahami tentang spesifikasi barang karena saksi hanya sebagai kepegawaian, saksi hanya memeriksa keaslian barang, bebas dari cacat dan dapat dipasang serta dapat digunakan. Saksi tidak tahu ada laporan pemberitahuan adanya perbedaan flame tube/perubahan design.
Berita Acara Penerimaan Barang tidak ditandatangani pada tanggal 19 Desember 2007, akan tetapi saksi tandatangani setelah tanggal 19 Desember dan saksi tidak ingat lagi tanggalnya atas kemauan sendiri saksi menandatanganinya.
e) Saksi : Risman Tambunan, saksi menerangkan bahwa:
Saksi tidak ikut melakukan pemeriksaan bersama dengan Panitia Pemeriksa Mutu Barang, karena ada pekerjaan penting yang tidak dapat ditinggalkan.
Pada tanggal 19 Desember 2007, ada pemeriksaan barang berupa flame tube di Belawan, akan tetapi saksi tidak ingat berapa orang yang datang untuk melakukan pemeriksaan. Setahu saksi rekanan yang melaksanakan pekerjaan pengadaan flame tube adalah CV. Sri Makmur. Pada tanggal saksi ingat lagi akan tetapi dalam bulan Desember 2007, saksi memerintahkan Zulkarnain D. Husain untuk memeriksa kembali material flame tube GT 10530. Hasil pemeriksaan Zulkarnain D. Husain dilaporkan secara lisan kepada saksi, yang menyatakan bahwa flame tube yang datang tidak sesuai dengan flame tube yang lama, tidak sesuai dengan existing dan ada perubahan design. Saksi tidak ingat rincian perbedaan flame tube salah satunya adalah adanya perubahan design pada batu penahan api, batu penahan api yang baru datang lebih kecil daripada batu penahan api yang lama.
Selanjutnya saksi membuat surat ditujukan kepada PT. Siemens Indonesia, CV. Sri Makmur dan Panitia Pemeriksa Mutu Barang untuk rapat mengenai adanya perubahan design/perbedaan flame tube. Ada upaya saksi untuk menolak barang yang diterima karena tidak sesuai dengan spesifikasi yang diinginkan dan saksi tidak tahu menahu lagi mengenai pemasangan flame tube karena saksi sudah dimutasikan.
f) Saksi : Syafi’i, saksi menerangkan bahwa:
Saksi mengatakan benar pada tanggal 19 Desember 2007, ada diserahkan 2 (dua) unit flame tube di Gudang Sektor Belawan dan Ferdinand Ritonga belum ada digudang. setelah barang masuk, saksi hanya mencocokkan DG- nya dan selanjutnya saksi memberitahukan kepada Milvan selaku Supervisor
untuk diperiksa. Saksi tidak tahu adanya perbedaan flame tube. Setahu dan seingat saksi IRC 2 (BeritaAcara Penerimaan Barang) ditandatangani bulan Maret 2008.
Saksi mengatakan benar pada tanggal 7 Desember 2009, flame tube dikeluarkan untuk dipakai.
g) Saksi : Zulkarnean Dt. Husen, saksi menerangkan bahwa:
Saksi tidak tahu menahu mengenai pengadaan flame tube dan saksi tidak tahu pengusulan flame tube. Saksi hanya mengetahui bahwa flame tube dipasang sekitar bulan Oktober 2009. Pada Nopember 2010, dilakukan pemeriksaan flame tube dan setahu saksi masih bagus. Saksi mengetahuinya setelah pindah tugas.
h) Saksi : Ir. Ermawan Arief Budiman, saksi menerangkan bahwa:
Saksi yang mengusulkan agar diadakan pergantian Flame Tube GT.1.2 ke Manager Kitsbu Sumut, dan selanjutnya ditindak lanjuti. Saksi mengatakan tidak ikut dalam pelelangan dan anweizing sehubungan dengan flame tube tersebut. Saksi mengetahui setelah saya masuk kerja ada menerima laporan dari asistennya, bahwa terdapat perbedaan dengan barang yang lama yaitu pada Brick, protection sheet dan brik holder. Pada awalnya saksi menyatakan menolak atas perbedaan desain flame tube GT.12 tersebut tetapi pada akhirnya saksi menerima flame tube tersebut oleh karena ada jaminan dari Siemens, bahwa barang itu dapat dipakai dimana-mana.
i) Saksi : Suwarno, saksi menerangkan bahwa:
Saksi mengatakan benar kalau dia mengecek adanya permintaan tertulis dari Manager Sektor Belawan yang ditujukan kepada General Manager, setelah didisposisi lalu turun ke Manager Produksi dan usulan diteruskan ke Manager Perencanaan dan saksi ikut membahas surat permintaan akan tetapi saksi tidak ingat lagi flame tube nomor berapa. Bahwa sektor belawan mengusulkan goor yang lama ada 11 lingkaran sedangkan yang baru ada 12 lingkaran panjangnya sama akan tetapi dimensinya berbeda dan akan ada potensi yang mungkin terjadi dengan adanya perbedaan design apabila dipasangkan akan menimbulkan dampak. Setahu saksi ada surat dari Sektor Belawan tentang adanya perbedaan design barang yang lama dengan yang baru, dengan surat tembusan tertanggal 22 Januari 2008, yang ditujukan kepada Manager Produksi, Ketua Panitia Pemeriksa Mutu Barang. Flame tube yang berbeda design, akan menimbulkan adanya 4 kemungkinan yang di khawatirkan akan menimbulkan kerusakan mesin.
j) Saksi : Ir. Misbachul Muni, saksi menerangkan bahwa:
Saksi mengatakan benar ada pengadaan flame tube di PT. PLN (Persero) Sektor Belawan tahun 2007 dan flame tube tersebut telah terpasang di sektor Belawan. Sebelum pemasangan flame tube selesai, saksi sudah dimutasi (pindah) tugas pada bulan Januari 2010.
Saksi mengatakan benar bahwa saksi yang menyetujui pembayaran atas pekerjaan pengadaan flame tube tetapi setahu saksi yang mengajukan permohonan pembayaran adalah Yuni selaku Direktur CV. Sri Makmur dan
saksi tidak bertemu dengan Yuni. Jumlah uang yang saksi setujui untuk dibayarkan kepada rekanan adalah sebesar Rp. 23.616.001.500,- (dua puluh tiga miliar enam ratus enam belas juta seribu lima ratus rupiah).
Saksi tidak tahu mengenai adanya rapat, karena saksi baru mulai bertugas tanggal 4 April 2008 dan tidak ada pihak baik dari Sektor Belawan, dari Tim Panitia maupun dari Manager Produksi, Manager Perencanaan yang memberitahukan kepada saksi tentang adanya rapat dan tentang apa isi rapat. Setahu dan seingat saksi biaya pemasangan flame tube adalah sebesar Rp. 4 miliar lebih.
k) Saksi : Ir. Rodi Cahyawan, saksi menerangkan bahwa:
Pada waktu saksi menjabat, flame tube sudah terpasang sebanyak 2 (dua) buah. Saksi tidak tahu kapan flame tube dipasang. Saksi menerima laporan dari Engineering yang menyatakan bahwa ada vibrasi (getaran) di flame tube GT 12 Sektor Belawan, tidak tahu apa penyebab vibrasi (getaran) tersebut dan penghentian operasi harus ada izin dari otoritas yaitu General Manager. Akan tetapi ketika saksi meminta izin, untuk mematikan mesin vibrasi pada flame tube, tidak ada jawaban dari General Manager. Setahu saksi jika flame tube baru, maka umurnya berkisar 8 sampai 10 tahun.
Sejak tanggal 12 Oktober 2012, flame tube tidak dapat beroperasi. Ada dibuat Berita Acara Pembongkaran GT 12 tertanggal 14 Oktober 2012. Setelah flame tube diturunkan, saksi ada melihat ada 2 (dua) lubang sebesar kepalan tangan pada flame tube.
l) Saksi : Ir. Drs. Ferdinand Ritonga, Msi.Mdiv, saksi menerangkan bahwa: Pada tahun 2007, ada kegiatan pengadaan flame tube GT 12 Sektor Belawan yang didalam pengadaan tersebut, saksi diangkat sebagai Ketua Panitia Pemeriksa Mutu Barang, berdasarkan Surat Keputusan General Manager. Bahwa hasil pemeriksaan saksi bersama tim terhadap flame tube tersebut : kondisi fisik baik, jumlah fisik cukup, spesifikasi teknik sesuai