• Tidak ada hasil yang ditemukan

Putusan Pemyataan pailit mengnbah status huk•un seseorang

Dalam dokumen PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBA YARAN UTANG (Halaman 92-97)

· menjadi tidak cakap untuk melakukan perbuatan hukum, menguasai, dan mengurus harta kekayaannya sejak putusan pemyataan pailit diucapkan.

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

Syarat utama Wltuk dapat dinyatakan pailit adalah bahwa seorang debitor mempunyai paling sedikit 2 (dua) kreditor dan tidak membayar lunas salah satu utangnya yang sudah jatuh waktu. Dalam pengaturan pembayaran ini, tersangkut baik kepentingan debitor sendiri, maupun kepentingati para kredi-tomya. Dengan adanya putusan pemyataan pailit tersebut, diharapkan agar harta pailit debitor dapat digunakan untuk membayar kembali seluruh utang debitor secara adil dan merata serta berimbang.

Pemyataan pailit dapat dimohon oleh salah seorang. at~tt lebih kreditor, debitor, atau jaksa penuntut umum untuk kepentingan umwn. Kepailitan tidak membebaskan seorang yang dinyatakan pailit dari kewajiban untuk membayar utang·utangnya.

Ada beberapa faktor perlunya pengaturan mengenai kepailitan dan penundaan kewajiban pembayaran utang :

Pertama, untuk menghindari perebutan harta debitor apabila dalam waktu yang sama ada beberapa kreditor yang menagih·

piutangnya dari debitor.

Kedua, untuk menghindari adanya kreditor pemegang hak jaminan kebendaan yang menw1tut haknya dengan cara menjual barang milik debitor tanpa m~mperhatikan kepentingan debitor atau para kreditor lainnya.

Ketiga, Wltuk menghindari adanya kecurangan·kecurangan yang dilakukan oleh salah seorang kreditor atau debitor sendiri.

Misalnya, debitor berusaha Wltuk memberi kelUltWlgan kepada seorang atau beberapa orang kreditor tertentu sehingga kreditor lainnya dirugikan, atau adanya perbuatan curang dari debitor unttik melarikan semua harta kekayaannya dengan maksud untuk melepaskan tanggungjawabnya terhadap para kreditor.

Bertitik tolak dari dasar pemikiran tersebut di atas, perlu dibentuk Und.ang-undang baru tentang Kepailitan dan PenUndaan Kewajiban Pembayaran Utang, yang merupakan produk hukum nasional, yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan hukum masyarakat

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

..

Undang-undang tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang

ini

didasarkan pada beberapa asas . .f\sas-asas tersebut antara lain adalah :

1. Asas Keseimbangan

2.

Undang-undang ini mengatur beberapa ketentuan yang merupakan petwqjudan dari ·asas keseimbangan, yaitu di satu pihak, terdapat ketentuan yang dapat mencegah terjadinya penyalagunaan pranata dan lembaga kepailitan . oleh debitor yang tidak jujur, di lain pihak, terdapat ketentuan yang dapat mencegah tetjadinya penyalagunaan pranata

dan

lembaga kepaiiitan oleh kreditor yang tidak beritikad baik.

Asas Kelangsungan Usaha

Dalam Undang-undang ini. terdapat ketentuan yang memungkinkan perusahaaQ. debitor yang prospektif tetap dilangsungkan .

3. Asas Keadilan

Dalam kepailitan asas keadilan mengandung pengertian, bahwa ketentuan mengenai kepailitan dapat memenuhi rasa keadilan bagi para pihak yang berkepentingan. Asas keadiJan 1m untuk mencegah terjadinya kesewenang-wenangan pihak penagih yang mengusahakan pembayaran atas tagihan mat..ing-masing terhadap debitor, dengan tidak mempedulikan kreditor lainnya.

4. Asas lntegrasi

Asas lntegrasi dalam Undang-undang ini mengandung . . pengertian bahwa sistem hukwn fonnil dan hukwn materiilnya merupakan satu kesatuan yang utuh · dari sistem hukum perdata dan hukut;n aeara perdata nasional.

Undang-undang baru tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran U tang mempunyai cakupan yang lebih Juas baik dari segi nonna, ruang Jingkup materi, maupun proses penyelesaian utang-pi utang.

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

Cakupan yang lebih luas tersebut diperlukan, karena adanya perketnbangan dan kebutuhan hukwn dalam masyarakat sedangkan ketentuan yang selama ini berlaku belwn memadai

~ebag~i sarana hukwn untuk menyelesaikan masalah utang-piutang secara adil, cepat, terbuka, dan efektif.

Beberapa pokok materi baru dalam Undang-wulang tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang ini antara lain:

Pertama, agar tidak menimbulkan berbagai penafsir~ dalam Undang-undang ini pengertian utang diberikan batasan secara tegas. Demikian juga pengertian jatuh waktu.

Kedua, mengenai syarat-syarat dan prosedur pennohonan pernyataan pailit dan permohonan penundaan kewajiban pembayaran utang termasuk di dalamnya pemberian kerangka waktu secara pasti bagi pengambilan putusan pemyataan palit dan atau penundaan kewajiban pembayarar. utang.

Ketiga, materi baru mengenai Pengadib n Niaga tidak diatur dalam Undang-undang ini, tetapi tetap diatur dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor l Tahun J 998 tentang Perubahan Atas Undang-undang tentang Kepailitan yang ditetapkan menjadi Undang-undang berdasarkan Undang-undang Nomor 4 Tahun 1998.

II. PASAL DEMI PASAL Pasal I

CukupjeJas Pasal2

Ayat (1)

Yang dimaksud dengan "kreditor" dalam ayat ini adafah baik kreditor konkuren, kreditor separatis maupun kreditor preferen. Khusus mengenai kreditor separatis dan kreditor preferen, mereka dapat mengajukan permohonan pemyataan pailit tanpa kehilangan hak agunan atas

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

Bilamana terdapat sindikasi kreditor~ maka masing-masing kreditor adalah kreditor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 butir 1 .

· Yang dimaksud dengan "utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih" adalah kewajiban Wltuk membayar utang yang telah jatuh waktu, baik karena telah diperjanjikan, karena percepatan waktu penagihannya sebagaimana diperjanjikan, karena pengenaan sanksi ata~ denda oleh instansi yang berwenang, maupun karena putusan pengadilan, arbiter, atau majelis arbitrase ..

Ayat (2)

Kejaksaan dapat mengajukan pennohonan pailit dengan alasan untuk kepentingan ·Uinwn, dalam hal persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat ( l) telah dipenuhi dan tidak ada pihak yang mengajukan p }nnohonan pailit.

\' ang dimaksud dengan '4kepentingan wnum'' adalah kepentingan bangsa dan negara dan atau kepentingan masyarakat luas, misalnya :

a. debitor melarikan diri~

b. debitor menggelapkan bagian dari harta kekayaan;

c. debitor mempunyai utang kepada Badan Usaha M ilik N egara a tau badan usaha lain yang menghimpun dana dari masyarakat;

d. debitor mempunyai utang yang berasal dari penghimpunan dana dari masyarakat luas;

e. debitor tidak beritikad baik atau tidak kooperatif dalam menyelesaikan masalah utang piutang yang telah jatuh waktu; atau

f. dalam hal lainnya menurut Kejaksaan merupakan kepentingan tunum.

Ada pun tata cara pengaj uan permohonan pailit adalah sama dengan pennohonan pailit yang diajukan oleh debitor atau kreditor, dengan ketentuan bahwa pennohonan pailit dapat diajukan oleh kejaksaan tanpa menggunakan jasa advokat, pengaeara praktek, atau penasihat hukum yang mempunyai izin praktek.

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

7

Ayat (3)

Yang dimaksud dengan "bankn adalah badan us aha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan, dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak sebagimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 7 TahWl

1992

tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Wldang Nomor

10 Tahun 1998.

Pengajuan permohonan pemyataan pailit bagi bank,

sepe~ubnya merupakan kewenangan Bank Indonesia dan oleh

karena

itu

tidak

perlu dipertanggun.gjawabkan.

Ayat(4)

Permohonan pailit sebagaimana dimaksud dalam ayat ini hanya dapat diajukan oleh Badan Pengawas Pasar Modal, karena lembaga tersebut melakukan kegiatan yang

berltubungan dengan dana masyarakat yang diinvestasikan

dalam efek dtbawah pengawasan

Badan

Pengawas Pasar

Modal.

Badan. Pengawas Pasar Modal juga mempunyai kewenangan penuh dalam hal pengajuan permohonan pemyataan pailit untuk instansi·instansi yang

berada

di bawah pengawasannya, seperti halnya kewenangan Bank Indonesia terhadap bank.

Ayat (5)

Yang

dimaksud

dengan "Perusahaan

Asuransi" adaJah

Dalam dokumen PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBA YARAN UTANG (Halaman 92-97)

Dokumen terkait