• Tidak ada hasil yang ditemukan

Putusan Hakim Dalam Sengketa Perdata Terkait dengan Anggapan Pelepasan Hak Setelah Lahirnya UUPA dan PP No. 10 Tahun 1961

PRINSIP ANGGAPAN PELEPASAN HAK (RECHTSVERWERKING) DALAM PUTUSAN PERADILAN PERDATA

C. Putusan Hakim Dalam Sengketa Perdata Terkait dengan Anggapan Pelepasan Hak Setelah Lahirnya UUPA dan PP No. 10 Tahun 1961

saat pengajuan gugatan telah lewat 18 tahun, maka gugatan itu tidak dapat dianggap diajukan dengan itikad baik. (Putusan MA No. 499 K/Sip/1970 (4 Pebruari 1970);

b. Dalam hukum adat tindakan yang menyebabkan pemindahan hak bersifat contant, sedangkan pendaftaran menurut UUPA dan peraturan pelaksanaannya bersifat administratif (MA 29 Agustus 1970 No. 123 K/Sip/1970).

c. Menurut ketentuan yang berlaku dalam BW suatu gugatan menjadi kadaluwasa dalam waktu 30 tahun (Ps 835 BW). (MA 19 April 1972 No. 26 K/Sip/1972);

a. Bahwa sekalipun penghibahan tanah-tanah sengketa oleh tergugat I adalah tanpa ijin penggugat, namun karena Ia membiarkan tanah tersebut dalam keadaan sekian lama, mulai 23 Oktober 1962 sampai gugatan diajukan yakni 18 Juni 1971 (9 tahun), sikap penggugat harus dianggap membenarkan keadaan tersebut. (MA 21-1-1974 No. 695 K/Sip/1973).

b. “..., mereka telah membiarkannya berlalu sampai tidak kurang dari 20 tahun semasa hidupnya Daeng Patappu tersebut, suatu masa yang cukup lama sehingg mereka dapat dianggap telah meninggalkan haknya yang mungkin ada atas sawah sengketa, sedang tergugat pembanding dapat dianggap telah memperolehcommit to user commit to user

hak milik atas sawah sengketa. (MA 9-12-1975: No. 295 K/Sip/1973).

c. Keberatan yang diajukan penggugat untuk kasasi bahwa hukum adat tidak mengenal daluwarsa dalam hal warisan tidak dapat dibenarkan, karena gugatan telah ditolak bukan atas alasan daluwarsanya gugatan, tetapi karena dengan berdiam diri selama 30 tahun lebih penggugat asal dianggap telah melepaskan haknya (rechtsverwerking). (MA 11-12-1975 No. 200 K/Sip/ 1974).

d. Bahwa seandainya memang penggugat terbanding tidak berhak atas tanah tersebut, kenyataan bahwa tergugat-tergugat sampai sekian lama (27 tahun) menunggu untuk menuntut pengembalian tanah tersebut menimbulkan anggapan hukum bahwa mereka telah melepaskan hak mereka (rechtsverwerking) (MA: 29-1- 1976 No. 783 K/Sip/1973).

Pembeli tidak bertikad baik tidak akan mendapatkan perlindungan.

Putusan Mahkamah Agung No. 1816 K/Pdt/1989381

Hakim mempertimbangkan bahwa pembeli tidak beriktikad baik, karena pembeli dianggap tidak melakukan perbuatan apapun untuk meneliti obyek jual beli. Putusan ini pada dasarnya mewajibkan pembeli untuk

bertindak responsif dalam meneliti fakta material terkait pembelian yang dilakukannya. Jika pembeli buta huruf sehingga tidak mungkin membaca data yuridis, pembeli juga dapat memeriksa data fisik, misalnya dengan bertanya kepada tetangga yang berbatasan dengan obyek tanah, atau bertanya kepada kepala kampung.

Artinya, putusan dalam perkara ini mengembangkan iktikad baik tidak hanya digantungkan tahu tidaknya pembeli terhadap adanya cacat cela dalam peralihan hak atas tanah yang dibelinya, tetapi juga harus dibuktikan bahwa apakah pembeli telah benar-benar secara responsif mencermati dan meneliti baik data yuridis, maupun data fisik, sebelum dan saat jual beli terkait dilakukan.

Kasus ini bermula ketika pada tanggal 2 September 1974, Penggugat membeli sebidang tanah berikut rumah di atasnya (obyek sengketa) dari Mohamad Ali dan H. Abdul Hamid dengan Akta Jual Beli (AJB) dan pelepasan hak yang dibuat di hadapan Notaris/PPAT, serta didaftarkan ke kantor pendaftaran tanah Palembang. Sertipikat Hak Milik kemudian dikeluarkan, tertanggal 24 April 1976, Nomor 169/18 Ilir.

Terhadap obyek sengketa tersebut, ternyata dikeluarkan pula SK Mendagri atas permohonan Tergugat I, tertanggal 13 September 1986, yang membatalkan Sertipikat Hak Milik Penggugat. Tergugat II selanjutnya mengumumkan di surat kabar, menyatakan batalnya Sertipikat Nomor 169/18 Ilir tersebut. Pada tanggal 8 November 1986, Penggugat membantah pengumuman tersebut dan mengajukan surat kepada Gubernur Sumatera

commit to user commit to user

Selatan mengenai pokok keberatan terhadap pengumuman tentang pembatalan sertipikat tadi, serta disusul dengan surat kedua yang juga dimuat dalam surat kabar.

Penggugat kemudian mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri Palembang dan diantaranya meminta untuk mengesahkan obyek sengketa sebagai milik Penggugat, serta meminta Tergugat II untuk membatalkan SK yang dikeluarkan atas nama Tergugat I. Sementara Tergugat I sendiri mengajukan eksepsi, dengan menyatakan bahwa terdapat putusan Pidana No.

684/1976/PN.Plg tertanggal 10 Oktober 1976 dengan terpidana Ali Nurdin dan Haji Abdul Hamid yang dinyatakan bersalah dan dihukum karena menjual tanah sengketa milik waris Baba kepada Penggugat, sehingga Penggugat adalah penadah sesuai Pasal 480 KUHP serta mendalilkan bahwa perkara ini dikategorikan nebis in idem. Tergugat I mengajukan gugatan rekonpensi, menyatakan pada pokoknya bahwa dengan adanya putusan pidana tersebut, tanah dan rumah sengketa adalah milik para Tergugat.

Pada tanggal 24 Mei 1988, Pengadilan Negeri (PN) Palembang dalam putusannya No. 39/Pts.Pdt.G/1987/PN.Plg, memutuskan untuk menolak gugatan Penggugat untuk seluruhnya, menolak eksepsi Tergugat I, dan menyatakan gugatan rekonpensi tidak dapat diterima. Penggugat mengajukan banding terhadap putusan tersebut ke Pengadilan Tinggi (PT) Palembang – yang membatalkan putusan PN Palembang melalui Putusan No.

83/Pdt/1988/PT.Plg, tanggal 27 Februari 1989. Penggugat lalu mengajukan

salah menerapkan hukum dalam pertimbangannya, dengan menyebutkan bahwa:

tepat dan benar menurut hukum, karena dilakukan di hadapan Notaris/PPAT.

Mahkamah Agung dalam pertimbangan dan menyatakan bahwa mereka sependapat dengan pertimbangan PN Palemang yang menyatakan pembeli tidak dapat dikualifikasikan sebagai pembeli yang beriktikad baik, karena pada saat pembeli (Penggugat) sama sekali tidak secara cermat meneliti dan menyelidiki hak dan status para penjual atas tanah terperkara. Menurut majelis kasasi, pembelian dilakukan dengan ceroboh, karena pada saat pembelian pembeli sama sekali tidak meneliti hak dan status para penjual atas tanah berperkara. Oleh karena itu, ia tidak pantas dilindungi dalam jual-beli tersebut.

Pembeli beriktikad buruk ( Bad Faith ) yang tidak pantas dilindungi sesuai dengan Yuriprudensi MA – RI No 1816 K/Pdt/1989 tanggal 22 Oktober 1992 yang berbunyi “ bahwa pembeli yang tidak secara cermat meneliti hak- hak serta status penjual tanah, dapat diartikan ceroboh sehingga pembeli tersebut dapat dinilai sebagai pembeli tanah yang beriktikad buruk ( bad faith ) dan tidak pantas untuk mendapat perlindungan hukum dalam transaksi jual beli- tanah”

Ada putusan MA yang lain, membeli tanah yang masih dalam penguasaan dan pemilikan pihak lain sejak dahulu hingga sekarang ini adalah

commit to user commit to user

pembeli yang beriktikad tidak baik sehingga tidak perlu mendapat perlindungan hukum” (putusan Mahkamah Agung RI No. 598 K/Sip/1971 tanggal 18-12-1971)

Putusan Mahkamah Agung No. 4340 K/Pdt/1986382

Kriteria pembeli beriktikad buruk, jual beli dibatalkan karena pembeli tidak beriktikad buruk, seharusnya mengetahui pihak penjual bukanlah pemilik obyek jual beli oleh karena itu tidak mempunyai kewenagan untuk menjual:

H. Ahmad menikah dengan Habibah dan memiliki seorang anak laki- laki bernama M. Saleh (Tergugat I). H. Ahmad kemudian menikah lagi dengan Mariyam dan memiliki anak 3 orang anak (Para Penggugat). Sewaktu masih hidup, H. Ahmad menghibahkan kepada Tergugat I, rumah dan tanah sawah di desa Sambina E. Lalu, sepuluh hari menjelang wafat, H. Ahmad menghibahkan tanah pertaniannya di desa Situ (obyek sengketa) kepada Para Penggugat. Oleh karena pada saat itu Para Penggugat masih belum dewasa, maka obyek sengketa untuk sementara dipegang dan dipelihara oleh Tergugat I sebagai anak tertua, untuk kemudian diserahkan, jika Para Penggugat nantinya sudah dewasa.

Oleh Tergugat I, obyek sengketa dijual-gadaikan kepada Mansyur Samiun (Tergugat III) dan sebagian lagi dijual-gadaikan kepada Abd. Wahab Samiun (Tergugat IV). Tanah sawah yang semula dijual-gadaikan itu, dijual-

lepas (jual beli) oleh Tergugat I pada tahun 1974, dengan dibuat surat jual beli bawah tangan – yang juga ditandatangani oleh lurah (kepala desa). Pihak Pembeli tanah sawah itu adalah H. Abd Rahman Abu Landa (Tergugat II), sedangkan tanahnya tetap dikuasai dan digarap oleh pemegang gadai semula, yakni Tergugat III dan Tergugat IV.

Pada tahun 1974 itu pula, Para Penggugat telah dewasa dan mereka secara bersama-sama meminta kembali tanah sawah tersebut. Namun, Tergugat I menolaknya, karena obyek sengketa telah dikuasai oleh orang lain. Karena musyawarah tidak berhasil, maka Para Penggugat mengajukan gugatan perdata ke Pengadilan Negeri dengan meminta penegasan bahwa tanah sengketa adalah hak Para Penggugat.

Pengadilan Negeri (PN) mempertimbangkan bahwa ternyata Tergugat I tidak berani menebus kembali tanah sengketa yang dijual-gadaikan kepada Tergugat II, sehingga memberikan petunjuk bahwa tanah sengketa bukan lagi dijual-gadai, tetapi telah dijual-lepas kepada Tergugat II. Di dalam persidangan, ditemukan pula fakta bahwa transaksi jual beli tanah sengketa ini dilakukan secara „terang‟. Di samping itu, pihak Tergugat II, selaku Pembeli, tidak pernah diberitahu bahwa tanah yang dibelinya itu adalah hak milik orang lain, bukan haknya Penjual (Tergugat I).

Hakim PN kemudian berkesimpulan: pihak pembeli (Tergugat II) pada saat membeli tanah sengketa adalah beriktikad baik, sehingga menurut hukum ia harus dilindungi. Oleh karenanya, tuntutan Para Penggugat agar pihak Tergugat diwajibkan menyerahkan tanah sengketa kepada Penggugat

commit to user commit to user

menjadi tidak berdasar. Gugatan Penggugat hanya diterima sebagian, sebatas terkait pengakuan bahwa para Penggugat dan Tergugat I adalah ahli waris dari almarhum H. Ahmad.

Atas putusan tersebut, Penggugat mengajukan permohonan banding ke Pengadilan Tinggi (PT) Nusa Tenggara Barat. Pada tingkat ini, Hakim banding pada PT Nusa Tenggara Barat di Mataram menilai bahwa putusan Pengadilan Negeri sudah tepat dan benar.

Penggugat menilai bahwa Judex-Facti telah salah menerapkan hukum, sehingga putusannya harus dibatalkan, kemudian Penggugat mengajukan permohonan kasasi ke Mahkamah Agung, dengan alasan-alasan berikut ini:

Majelis Hakim meneliti surat bukti berupa Surat Jual Beli tanah sengketa, yang di dalamnya terdapat keterangan bahwa Tergugat I bertindak untuk atas nama ayahnya, namun ternyata tidak ada kuasa dari ayahnya;

Dalam surat tersebut terdapat keterangan yang menyebutkan – tanah sengketa yang dijual adalah hak milik Penjual (Tergugat I).

Hal ini tidak sesuai bahwa penjual bertindak atas atas nama ayahnya;

Dengan adanya keterangan yang saling bertentangan satu sama lain, seharusnya menimbulkan kecurigaan atau keraguan bagi pihak Pembeli (Tergugat II) tentang masalah siapakah yang sebenarnya menjadi pemilik tanah yang sah.

Menurut penilaian majelis kasasi, Pembeli/Tergugat II/Pihak-ketiga memang seharusnya meneliti terlebih dahulu siapa sebenarnya pemilik tanah ini dan, oleh karenanya, pihak pembeli di sini dinilai sebagai pembeli yang beriktikad buruk (bad faith), sehingga menurut hukum, pembeli tanah yang demikian tidak mendapat perlindungan hukum. Majelis hakim juga berpendapat bahwa Tergugat I tidak mempunyai hak untuk mengasingkan (vervreemden) tanah sengketa kepada pihak ketiga, karena sebagaimana telah terbukti dalam persidangan, tanah sengketa adalah haknya Para Penggugat yang berasal dari hibah. Oleh karenanya, menurut majelis kasasi, transaksi jual beli tanah sengketa antara Tergugat I dengan Tergugat II menurut hukum haruslah dibatalkan. Sementara Pembeli yang dianggap tidak melakukan perbuatan apapun untuk meneliti obyek jual beli, tidak akan dilindungi hukum.

Menurut Mahkamah Agung ketika itu, dalam menentukan apakah pihak pembeli beriktikad baik (good faith) ataukah beriktikad buruk (bad faith) dalam transaksi jual-beli tanah, dapat memakai kriteria:

menemukan keterangan di dalamnya yang isinya saling bertentangan satu sama lain, sehingga menimbulkan kecurigaan atau keragu-raguan, siapakah sebenarnya pemilik tanah yang menjadi objek jual-beli ini;

Pihak pembeli seharusnya diharapkan meneliti terlebih dahulu siapakah sebenarnya pemilik tanah;

commit to user commit to user

Jika tidak, atau bahkan transaksi terus dilanjutkan, padahal di kemudian hari ternyata tanah tersebut bukan milik Penjual, maka pembeli yang demikian tersebut termasuk Pembeli yang beriktikad buruk (bad faith) dan tidak akan dilindungi hukum.

Berdasarkan kriteria tersebut, Mahkamah Agung menilai bahwa Pembeli dalam kasus ini tidak melakukan perbuatan yang diperlukan untuk meneliti keabsahan obyek jual beli.

D. Putusan Hakim Dalam Sengketa Perdata Terkait dengan Anggapan