• Tidak ada hasil yang ditemukan

Putusan Serta Merta Dalam Pandangan Mahkamah Agung

BAB III TINJAUAN UMUM TENTANG PUTUSAN SERTA

C. Putusan Serta Merta Dalam Pandangan Mahkamah Agung

Putusan serta merta dalam prakteknya ternyata menimbulkan banyak kesulitan dan penyimpangan. Mahkamah Agung sebagai puncak peradilan yang berwenang melakukan pengawasan tertinggi atas perbuatan Pengadilan dalam lingkungan peradilan yang ada dibawahnya telah menaruh perhatian serius terkait putusan serta merta. Mahkamah Agung telah mengeluarkan instruksi dan beberapa surat edaran terkait permasalahan putusan serta merta.

Instruksi Mahkamah Agung No. 348/K/5216/M tanggal 13 Februari 1958 merupakan langkah awal Mahkamah Agung mengenai putusan serta merta yang ditujukan kepada Hakim/Ketua Pengadilan Negeri dalam wilayah Pengadilan Tinggi Makasar.

Butir (1) dan (2) Instruksi Mahkamah Agung No. 348/K/5216/M tanggal 13 Februari 1958 sedikit banyak merupakan penjelasan tentang penerapan Pasal 180 HIR atau Pasal 191 Rbg yang mengandung arti bahwa:

1. Pengadilan Negeri berwenang menjatuhkan putusan serta merta jika syarat dalam Pasal 180 HIR atau Pasal 191 Rbg terpenuhi ;

2. tetapi walaupun syarat tersebut telah dipenuhi, perintah tersebut bersifat fakultatif, karena itu diserahkan kepada kebijaksanaan Hakim.

Isi pokok dari Instruksi Mahkamah Agung No. 348/K/5216/M tanggal 13 Februari 1958 dapat dilihat dalam butir (3) instrumen tersebut, yakni:

1. Jangan secara mudah menjatuhkan uitvoerbaar bij voorraad ;

2. Dalam hal ada sita conservatoir, maka pelaksanaan dari executie bij voorraad itu hendaknya hanya dilakukan, bila harga barang-barang yang disita tidak mencukupi ;

3. Jika dapat dibayangkan, kalau executie bij voorraad itu dilaksanakan akan menimbulkan kerugian pada yang kalah yang sukar untuk diperbaiki, maka kepada yang menang itu supaya diminta uang jaminan yang setimpal.

Isi Instruksi Mahkamah Agung No. 348/K/5216/M tanggal 13 Februari 1958 mengandung nada melarang dengan maksud agar Hakim tidak menjatuhkan putusan serta merta. Kalaupun putusan serta merta dijatuhkan, Mahkamah Agung menginstruksikan agar diadakan langkah-langkah preventif untuk mencegah akibat yang dikuatirkan akan timbul yang sukar diperbaiki. Dari instruksi tersebut juga dapat dilihat adanya ketidakyakinan Mahkamah Agung terhadap putusan Hakim Pengadilan Negeri pada waktu itu, terutama terhadap putusan-putusan yang dijatuhkan oleh Hakim Pengadilan Negeri di daerah kepada siapa instruksi itu ditujukan.

Menyambung Instruksi Mahkamah Agung No. 348/K/5216/M tanggal 13 Februari 1958, Mahkamah Agung mengeluarkan SEMA RI No. 13 Tahun 1964 tentang Putusan yang Dapat Dijalankan Lebih Dahulu (Uitvoerbaar Bij Voorraad) yang ditujukan kepada Ketua Pengadilan Negeri di seluruh Indonesia. Melalui SEMA RI No. 13 Tahun 1964 Mahkamah Agung menginstruksikan agar jangan secara mudah memberi putusan yang dapat dijalankan lebih dahulu (uitvoerbaar bij voorraad), walaupun Tergugat naik banding atau memajukan perlawanan. Hal ini dihubungkan dengan nasihat Ketua Mahkamah Agung yang diberikan dalam beberapa pertemuan antara Beliau dengan para Hakim di berbagai kota. Menurut Beliau, putusan serta merta sedapat mungkin jangan diberikan. Apabila putusan serta merta sudah terlanjur dijatuhkan, maka janganlah putusan itu dilaksanakan apabila ada permintaan banding, sebab dengan adanya permintaan banding maka perkara itu menjadi mentah kembali. Disamping itu, apabila putusan serta merta terlanjur dilaksanakan untuk kepentingan Penggugat yang menang atas perkara tersebut, dan kemudian Pengadilan Tinggi mengalahkan Penggugat, maka akan ditemukan banyak sekali kesulitan untuk mengembalikan keadaannya seperti semula.

SEMA RI No. 13 Tahun 1964 dikeluarkan dengan mengingat pula kenyataan bahwa Instruksi Mahkamah Agung dan nasihat Ketua Mahkamah Agung tersebut kurang diindahkan. Terbukti bahwa masih banyak Pengadilan Negeri yang memberikan putusan serta merta dan bahkan melaksanakan putusan tersebut walaupun terhadap putusan tersebut dimintakan banding.

Dalam SEMA RI No. 13 Tahun 1964, Mahkamah Agung memperkeras sikapnya dengan melarang pelaksanaan putusan serta merta jika tidak mendapatkan persetujuan Mahkamah Agung. Adanya larangan tersebut praktis menutup kemungkinan adanya putusan serta merta, karena putusan serta merta tanpa eksekusi hanya berarti di atas kertas saja.

Menyambung SEMA RI No. 13 Tahun 1964, Mahkamah Agung mengeluarkan SEMA RI No. 5 Tahun 1969 tanggal 2 Juni 1969. Melalui surat edaran ini, Mahkamah Agung mendelegasikan wewenang pemberian izin eksekusi putusan serta merta itu kepada Pengadilan Tinggi yang bersangkutan. Delegasi wewenang tersebut didasarkan pada anggapan bahwa Pengadilan Tinggi harus melakukan pengawasan dan pimpinan tertinggi kepada Pengadilan-Pengadilan Negeri di daerah hukumnya.

Dikeluarkannya SEMA RI No. 5 Tahun 1969 hanyalah memiliki efek teoritis yakni bahwa jarak permohonan izin diperpendek. Izin tidak lagi dari Mahkamah Agung, tetapi dari Pengadilan Tinggi setempat. Namun tidak ada efek praktis dikeluarkannya SEMA RI No. 5 Tahun 1969, karena dalam praktek, Pengadilan Tinggi tidak akan memberikan izin tersebut sebelum Pengadilan Tinggi membaca berkas perkaranya. Biasanya, Pengadilan Tinggi tidak pernah mengeluarkan persetujuan atau penolakan terhadap permohonan tersebut sebelum ada keputusan di tingkat banding. Pengadilan Tinggi biasanya mengeluarkan izin atau penolakan atas permohonan eksekusi putusan serta merta bersama-sama dengan keputusan di tingkat banding. Padahal inti pokok dari putusan serta merta

adalah pelaksanaan putusan secepat mungkin tanpa perlu menunggu keluarnya putusan banding.

Mahkamah Agung kemudian mengeluarkan SEMA RI No. 3 Tahun 1971 tanggal 17 Mei 197 dan mencabut SEMA RI No. 13 Tahun 1964 serta SEMA RI No. 5 Tahun 1969. Mahkamah Agung berpendapat bahwa sudah tiba saatnya bagi Mahkamah Agung untuk mempercayakan penerapan lembaga uitvoerbaar bij voorraad kepada Pengadilan Negeri sebagaimana ditentukan oleh undang-undang.

Melalui surat edaran tersebut, Mahkamah Agung kembali memperingatkan para Ketua dan Hakim Pengadilan Negeri agar sungguh-sungguh mengindahkan syarat-syarat yang diperlukan untuk dapat menjatuhkan putusan serta merta sebagaimana diuraikan dalam Pasal 180 ayat (1) HIR atau Pasal 191 ayat (1) Rbg, yakni:

1. Ada surat autentik atau tulisan tangan (handschrift) yang menurut undang-undang mempunyai kekuatan bukti ;

2. Adanya keputusan yang sudah mempunyai kekuatan pasti (in kracht van gewijsde) sebelumnya yang menguntungkan pihak Penggugat dan ada hubungannya dengan gugatan yang bersangkutan ;

3. Adanya gugatan provisionil yang dikabulkan ; 4. Dalam sengketa mengenai bezitsrecht.

Putusan serta merta hanya dapat dijatuhkan apabila salah satu dari syarat di atas dipenuhi. Sedangkan dalam hal-hal lain di luar sebagaimana disebut dalam Pasal 180 ayat (1) HIR atau Pasal 191 ayat (1) Rbg tidak boleh dijatuhkan putusan serta merta.

Dalam butir (4) SEMA RI No. 3 Tahun 1971, Mahkamah Agung menekankan kewenangannya untuk memerintahkan penundaan eksekusi apabila terdapat kekeliruan atau kekhilafan yang mencolok. Namun, SEMA RI No. 3 Tahun 1971 tidak memberikan pedoman mengenai penilaian kekeliruan dan kekhilafan yang mencolok sebagaimana disebut dalam butir (4) surat edaran tersebut. Hal tersebut justru menimbulkan multi tafsir. Jika menyolok tidaknya kekeliruan atau kekhilafan tersebut didasarkan pada dipenuhi tidaknya syarat yang diharuskan oleh Pasal 180 ayat (1) HIR atau Pasal 191 ayat (1) HIR, maka penilaian terhadapnya baru tepat kalau sudah diadakan penilaian terhadap pembuktian yang telah dilakukan dalam perkara itu. Hal mana adalah sama dengan keharusan untuk memeriksa perkara itu terlebih dahulu sebelum menentukan terdapat tidaknya suatu kekeliruan atau kekhilafan yang menyolok dalam mengambil keputusan executie bij voorraad tersebut.82

Kemudian Mahkamah Agung mengeluarkan SEMA RI No. 6 Tahun 1975 tanggal 1 Desember 1975 yang ditujukan kepada semua Ketua Pengadilan Tinggi dan semua Ketua Pengadilan Negeri di seluruh Indonesia. Dalam SEMA RI No. 6 Tahun 1975 dikatakan bahwa Pasal 180 ayat (1) HIR atau Pasal 191 ayat (1) Rbg memberikan suatu kewenangan diskretioner kepada Hakim yang tidak imperatif sifatnya. Oleh karena itu, Mahkamah Agung melalui surat edaran ini meminta kepada para Hakim agar tidak menjatuhkan putusan serta merta walaupun syarat-syarat dalam Pasal 180 ayat (1) HIR atau Pasal 191 ayat (1) Rbg telah dipenuhi.

Hanya dalam hal-hal yang tidak dapat dihindarkan, putusan serta merta yang

82 Ibid, h. 101.

sangat eksepsionil sifatnya dapat dijatuhi. Dalam hal itu pun hendaknya diingat bahwa putusan itu diberikan:

1. Apabila ada conservatoir beslag yang harga barang-barang yang disita tidak akan mencukupi untuk menutup jumlah yang digugat.

2. Jika dipandang perlu dengan jaminan oleh pihak Pemohon eksekusi yang seimbang, dengan catatan:

a. Bahwa benda-benda jaminan hendaknya yang mudah disimpan dan mudah digunakan untuk mengganti pelaksanaan jika putusan yang bersangkutan tidak dibenarkan nanti oleh Hakim banding atau dalam kasasi.

b. Jangan menerima penjaminan orang (borg) untuk menghindarkan pemasukan pihak ketiga dalam proses.

c. Penentuan benda serta jumlahnya terserah kepada Ketua Pengadilan Negeri.

d. Benda-benda jaminan dicatat dalam daftar tersendiri seperti daftar benda-benda sitaan dalam perkara perdata.

Selanjutnya dalam SEMA RI No. 6 Tahun 1975 dikatakan bahwa pada saat mengucap putusan yang bersangkutan, putusan atau setidak-tidaknya konsepnya sudah harus selesai, dengan menyebut pula dasar-dasar apa yang menjadi pertimbangan dikabulkannya uitvoerbaar bij voorraad tersebut. Jika ada permohonan penundaan eksekusi maka 2 (dua) minggu setelah putusan diucapkan, salinan putusan harus sudah dikirim ke Pengadilan Tinggi, sedapat-dapat disertai berkas perkaranya yang sudah diminutir. Dalam waktu 2 (dua)

minggu setelah menerima permohonan tersebut Pengadilan Tinggi memberikan keputusan tentang penundaan.

Sebagaimana dicantumkan dalam Pasal 4 SEMA RI No. 3 Tahun 1971, Mahkamah Agung mengingatkan akan wewenangnya untuk mengawasi peradilan yang baik berdasarkan kekuasaan yang ada padanya. Wewenang tersebut dimiliki pula oleh Pengadilan Tinggi berdasarkan pelimpahan dan dapat memerintahkan penundaan pelaksanaan putusan Pengadilan Negeri jika tidak dipenuhi syarat-syarat seperti tercantum dalam Pasal 180 ayat (1) HIR atau Pasal 191 ayat (1) Rbg dan penundaan tersebut diperintahkan dengan surat.

Pada tanggal 1 April 1978 Mahkamah Agung mengeluarkan SEMA RI No. 3 Tahun 1978 yang ditujukan kepada Ketua/Hakim Pengadilan Negeri di seluruh Indonesia. SEMA RI No. 3 Tahun 1978 kembali menegaskan agar Hakim tidak menjatuhkan putusan serta merta walaupun syarat-syarat dalam Pasal 180 ayat (1) HIR atau 191 ayat (1) Rbg telah dipenuhi. Hanya dalam hal-hal yang tidak dapat dihindari, keputusan demikian yang sangat eksepsional sifatnya dapat dijatuhi, dengan mengingat syarat-syarat yang tercantum dalam SEMA RI No. 6 Tahun 1975.

Dalam rangka pengawasan oleh Mahkamah Agung dan Pengadilan Tinggi terhadap putusan serta merta yang dijatuhkan oleh Hakim Pengadilan Negeri, maka dalam waktu 2 (dua) minggu setelah putusan tersebut diucapkan, Pengadilan Negeri yang bersangkutan harus mengirimkan salinan keputusannya kepada Pengadilan Tinggi dan tembusannya kepada Mahkamah Agung.

Pada tanggal 21 Juli 2000 Mahkamah Agung mengeluarkan SEMA RI No.

3 Tahun 2000 tentang putusan serta merta (uitvoerbaar bij voorraad) dan provisionil. Surat edaran ini dikeluarkan berdasarkan hasil pengamatan dan pengkajian secara teliti dan cermat oleh Mahkamah Agung tentang putusan serta merta (uitvoerbaar bij voorraad) dan putusan provisionil. Berdasarkan penelitian dan pengkajian tersebut Mahkamah Agung memperoleh fakta-fakta sebagai berikut:

1. Putusan serta merta dikabulkan berdasarkan bukti-bukti yang keautentikannya dibantah oleh pihak Tergugat dengan bukti yang juga autentik ;

2. Hakim tidak cukup mempertimbangkan atau tidak memberikan pertimbangan hukum yang jelas dalam hal mengabulkan petitum tentang putusan yang dapat dilaksanakan terlebih dahulu (serta merta) dan tuntutan provisionil ;

3. Hampir terhadap setiap jenis perkara dijatuhkan putusan serta merta oleh Hakim, sehingga menyimpang dari ketentuan Pasal 180 ayat (1) HIR dan Pasal 191 ayat (1) Rbg ;

4. Untuk melaksanakan putusan serta merta dan putusan provisionil, Ketua Pengadilan Negeri dan Ketua Pengadilan Agama meminta persetujuan ke Pengadilan Tinggi dan Pengadilan Tinggi Agama tanpa disertai dokumen surat-surat pendukung ;

5. Pengadilan Tinggi dan Pengadilan Tinggi Agama tanpa meneliti secara cermat dan sungguh-sungguh faktor ethos, pathos, logos serta dampak sosialnya mengabulkan permohonan Ketua Pengadilan Negeri dan Ketua Pengadilan Agama untuk melaksanakan putusan serta merta yang dijatuhkan ;

6. Ketua Pengadilan Negeri dan Ketua Pengadilan Agama serta para Hakim mengabaikan sikap hati-hati dan tidak mengindahkan SEMA RI No. 16 Tahun 1969, SEMA RI No. 3 Tahun 1971, SEMA RI No. 3 Tahun 1978, dan Buku II tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Administrasi Pengadilan serta Pasal 54 Rv sebelum menjatuhkan putusan serta merta dan mengajukan permohonan izin untuk melaksanakan putusan serta-merta.

Berdasarkan hal-hal tersebut, Mahkamah Agung memandang perlu untuk mengatur kembali tentang penggunaan lembaga uitvoerbaar bij voorraad berdasarkan 180 ayat (1) HIR dan Pasal 191 ayat (1) Rbg. Sehubungan dengan itu, Mahkamah Agung memerintahkan kepada para Ketua Pengadilan Negeri dan Ketua Pengadilan Agama serta para Hakim Pengadilan Negeri dan Hakim Pengadilan Agama untuk mempertimbangkan, memperhatikan, dan menaati dengan sungguh-sungguh syarat-syarat yang harus dipenuhi sebelum mengabulkan tuntutan putusan serta merta (uitvoerbaar bij voorraad) dan tuntutan provisionil sebagaimana diuraikan dalam Pasal 180 ayat (1) HIR dan Pasal 191 ayat (1) Rbg serta Pasal 332 Rv.

Selanjutnya, Mahkamah Agung memberikan petunjuk, yaitu Ketua Pengadilan Negeri, Ketua Pengadilan Agama, para Hakim Pengadilan Negeri dan Hakim Pengadilan Agama tidak menjatuhkan putusan serta merta, kecuali dalam hal-hal sebagai berikut:83

83 Surat Edaran Mahkamah Agung Republik Indonesia No. 3 Tahun 2000, butir (4).

1. Gugatan didasarkan pada bukti surat autentik atau surat tulisan tangan (handschrift) yang tidak dibantah kebenarannya tentang isi dan tanda tangannya, yang menurut undang-undang tidak mempunyai kekuatan bukti ; 2. Gugatan tentang hutang-piutang yang jumlahnya sudah pasti dan tidak

dibantah ;

3. Gugatan tentang sewa-menyewa tanah, rumah, gudang, dan lain-lain, dimana hubungan sewa-menyewa sudah habis/lampau, atau penyewa terbukti melalaikan kewajibannya sebagai penyewa yang beritikad baik ;

4. Pokok gugatan mengenai tuntutan pembagian harta perkawinan (gono-gini) setelah putusan mengenai gugatan cerai mempunyai kekuatan hukum tetap ; 5. Dikabulkannya gugatan provisionil, dengan pertimbangan yang tegas dan jelas

serta memenuhi Pasal 332 Rv ;

6. Gugatan berdasarkan putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap (in kracht van gewijsde) dan mempunyai hubungan dengan pokok gugatan yang diajukan ;

7. Pokok sengketa mengenai bezitsrecht.

Setelah putusan serta merta dijatuhkan oleh Hakim Pengadilan Negeri atau Hakim Pengadilan Agama, maka selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari setelah diucapkan, turunan putusan yang sah dikirimkan ke Pengadilan Tinggi dan Pengadilan Tinggi Agama.84

Jika Penggugat mengajukan permohonan kepada Ketua Pengadilan Negeri dan Ketua Pengadilan Agama agar putusan serta merta dan putusan provisionil

84 Ibid, butir (5).

dilaksanakan, maka permohonan tersebut beserta berkas perkara selengkapnya dikirim ke Pengadilan Tinggi dan Pengadilan Tinggi Agama disertai pendapat dari Ketua Pengadilan Negeri dan Ketua Pengadilan Agama yang bersangkutan.

SEMA RI No. 3 Tahun 2000 mengharuskan adanya pemberian jaminan yang nilainya sama dengan nilai barang/objek eksekusi, sehingga tidak menimbulkan kerugian pada pihak lain, apabila ternyata dikemudian hari dijatuhkan putusan yang membatalkan putusan Pengadilan tingkat pertama.85

Terhitung sejak diterbitkannya surat edaran ini, maka SEMA RI No. 16 Tahun 1969, SEMA RI No. 3 Tahun 1971, SEMA RI No. 3 Tahun 1978 serta SEMA RI yang terkait dinyatakan tidak berlaku lagi.86

85 Ibid, butir (7).

86 Ibid, butir (8).

Selanjutnya, Mahkamah Agung mengeluarkan SEMA RI No. 4 Tahun 2001. Surat edaran tersebut dikeluarkan dalam rangka memenuhi tuntutan reformasi dimana Pimpinan Mahkamah Agung memandang perlu menegaskan kepada para Ketua Pengadilan Negeri dan Ketua Pengadilan Agama di seluruh Indonesia agar lebih meningkatkan tanggung jawab dan tanggap terhadap tuntutan dan perkembangan masyarakat yang menginginkan hal-hal seperti pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) atau kejahatan yang menyangkut kepentingan publik pada umumnya. Surat Edaran ini dikeluarkan juga karena Pimpinan Mahkamah Agung semakin banyak menerima tuntutan, keluhan mengenai keputusan atau eksekusi serta merta (uitvoerbaar bij voorraad) dan provisionil.

Berhubung dengan masalah tersebut, Mahkamah Agung melalui SEMA RI No. 4 Tahun 2001 menegaskan kembali agar Majelis Hakim yang memutus perkara serta merta hendaknya berhati-hati dan dengan sungguh-sungguh memperhatikan dan berpedoman pada SEMA RI No. 3 Tahun 2000 tentang putusan serta merta (uitvoerbaar bij voorraad) dan provisionil terutama yang berkaitan dengan pelaksanaan putusan serta merta (uitvoerbaar bij voorraad) tersebut.

Mahkamah Agung juga menegaskan agar setiap kali melaksanakan putusan serta merta (uitvoerbaar bij voorraad) harus disertai penetapan sebagaimana diatur dalam butir (7) SEMA RI No. 3 Tahun 2000, yang menyebutkan:

“Adanya pemberian jaminan yang nilainya sama dengan nilai barang/objek eksekusi, sehingga tidak menimbulkan kerugian pada pihak lain apabila ternyata di kemudian hari dijatuhkan putusan yang membatalkan putusan Pengadilan tingkat pertama.”

Tanpa jaminan tersebut, tidak boleh ada pelaksanaan putusan serta merta. Lebih lanjut, apabila Majelis akan mengabulkan permohonan putusan serta merta harus memberitahukan kepada Ketua Pengadilan.

D. Syarat-syarat Putusan Serta Merta

Tahap pembuktian merupakan tahap spesifik dan menentukan dalam tahap persidangan perkara perdata. Dikatakan spesifik oleh karena pada tahap pembuktian ini para pihak diberi kesempatan untuk menunjukkan kebenaran

terhadap fakta-fakta hukum yang menjadi titik pokok sengketa. Sedangkan disebut sebagai tahap menentukan oleh karena Hakim dalam proses mengadili dan memutus perkara tergantung terhadap pembuktian para pihak di persidangan.87

1. Bukti tulisan

Oleh karena itu, ada baiknya dijelaskan terlebih dahulu mengenai pembuktian sebelum membicarakan syarat-syarat putusan serta merta.

Berdasarkan Pasal 1866 KUHPerdata, Pasal 164 HIR atau Pasal 284 Rbg, dikenal 5 (lima) macam alat bukti dalam perkara perdata, yaitu:

Alat bukti surat atau alat bukti tulisan adalah alat bukti pertama dan utama.88

a. surat biasa, yaitu surat yang dibuat tidak dengan maksud dijadikan alat bukti.

Akan tetapi, apabila kemudian hari surat tersebut dijadikan alat bukti di persidangan maka hal ini bersifat insidental (kebetulan) saja. Contoh surat biasa adalah surat-surat cinta, surat-surat sehubungan dengan korespondensi dagang, buku catatan penggunaan uang, dan sebagainya.

Dalam praktik, Alat bukti surat dapat diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) macam, yaitu:

89

b. akta autentik, yaitu akta yang sengaja dibuat untuk pembuktian oleh atau di hadapan pejabat umum yang berwenang.

c. akta di bawah tangan, yaitu akta yang sengaja dibuat untuk pembuktian oleh para pihak tanpa bantuan dari seorang pejabat.

87 Lilik mulyadi, Op. Cit, h. 150.

88 Dikatakan pertama karena gradasinya atau urutannya sebagaimana disebutkan dalam Pasal 164 HIR, Pasal 284 Rbg, atau Pasal 1866 KUHPerdata adalah yang pertama dibandingkan alat bukti lainnya. Dikatakan utama karena dalam hukum acara perdata yang dicari adalah kebenaran formal.

89 Lilik Mulyadi, Op. Cit, h. 160.

Selama ini bentuk tertulis identik dengan informasi dan/atau dokumen yang tertuang di atas kertas semata, padahal pada hakikatnya informasi dan/atau dokumen dapat dituangkan ke dalam media apa saja, termasuk media elektronik.90 Sehubungan dengan hal tersebut, dewasa ini dikenal informasi elektronik91 dan dokumen elektronik92

a. surat yang menurut undang-undang harus dibuat dalam bentuk tertulis; dan .

Menurut ketentuan Pasal 5 ayat (1) Undang-undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik dan/atau hasil cetaknya merupakan alat bukti hukum yang sah. Ketentuan ini merupakan perluasan dari alat bukti yang sah sesuai dengan hukum acara yang berlaku di Indonesia. Selanjutnya, dalam Pasal 5 ayat (4) ditentukan bahwa ketentuan tersebut tidak berlaku untuk:

b. surat beserta dokumennya yang menurut undang-undang harus dibuat dalam bentuk akta notaril atau akta yang dibuat oleh pejabat pembuat akta.

90 Penjelasan Pasal 6 Undang-undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

91 Informasi elektronik adalah satu atau sekumpulan data elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, electronic data interchange (EDI), surat elektronik (electronic mail), telegram, teleks, telecopy atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, kode akses, simbol, atau perforasi yang telah diolah yang memiliki arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya. komputer, jaringan komputer, dan/atau media elektronik lainnya (Pasal 1 ayat (1) Undang-undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik).

92 Dokumen elektronik adalah setiap informasi elektronik yang dibuat, diteruskan, dikirimkan, diterima, atau disimpan dalam bentuk analog, digital, elektromagnetik, optikal, atau sejenisnya, yang dapat dilihat, ditampilkan, dan/atau didengar melalui komputer atau sistem elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, kode akses, simbol atau perforasi yang memiliki makna atau arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya (Pasal 1 ayat (4) Undang-undang No.

11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik).

2. Bukti saksi

Saksi adalah orang yang memberikan keterangan di muka persidangan dengan memenuhi syarat-syarat tertentu tentang suatu peristiwa atau keadaan yang ia lihat, dengar, atau alami sendiri sebagai bukti terjadinya peristiwa atau keadaan tersebut.

3. Persangkaan

Persangkaan adalah kesimpulan yang ditarik dari suatu peristiwa yang telah jelas ke arah peristiwa yang belum jelas. Adapun yang menarik kesimpulan tersebut adalah Hakim atau undang-undang. Jika yang menarik kesimpulan tersebut adalah Hakim, maka persangkaan tersebut dinamakan “persangkaan Hakim”. Namun jika persangkaan tersebut ditarik oleh undang-undang, maka persangkaan tersebut dinamakan “persangkaan undang-undang”.

4. Pengakuan

Pengakuan adalah suatu pernyataan dalam bentuk tertulis maupun lisan dari salah seorang pihak yang berperkara dimana isinya membenarkan dalil pihak lawan baik sebagian maupun seluruhnya. Konkretnya, pengakuan adalah keterangan sepihak yang tidak memerlukan persetujuan dari pihak lainnya.

Ada dua jenis pengakuan, yaitu:

a. pengakuan di muka Hakim (gerechtelijke bekentenis). Pengakuan ini mempunyai kekuatan pembuktian sempurna (volledig bewijs) dan mengikat.

“Sempurna” berarti bahwa di samping pengakuan tersebut tidak diperlukan lagi adanya alat bukti lain untuk menganggap benar dalil-dalil yang diakui.

“Mengikat” berarti bahwa dalil-dalil tersebut wajib dianggap benar dengan

adanya pengakuan.93

b. pengakuan di luar persidangan. Pengakuan ini dapat dilakukan dalam bentuk lisan maupun tertulis. Kekuatan bukti pengakuan lisan di luar sidang Pengadilan diserahkan kepada kebijaksanaan Hakim. Karena Hakim tidak mendengar sendiri pengakuan tersebut, maka diperlukan alat bukti lain yaitu alat bukti saksi.

Pengakuan di muka Hakim tidak boleh ditarik kembali kecuali apabila dapat dibuktikan adanya kekeliruan mengenai kenyataan

Pengakuan di muka Hakim tidak boleh ditarik kembali kecuali apabila dapat dibuktikan adanya kekeliruan mengenai kenyataan

Dokumen terkait