SUATU TINJAUAN MENGENAI EKSEKUSI AMAR PUTUSAN SERTA MERTA (UITVOERBAAR BIJ VOORRAAD) DALAM PERKARA
PERDATA DI PENGADILAN NEGERI KABANJAHE
SKRIPSI
Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas Dan Memenuhi Syarat-Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum
OLEH:
ARIES SHANDY PASCA GINTING NIM: 070200088
DEPARTEMEN HUKUM KEPERDATAAN PROGRAM KEKHUSUSAN HUKUM PERDATA BW
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2011
SUATU TINJAUAN MENGENAI EKSEKUSI AMAR PUTUSAN SERTA MERTA (UITVOERBAAR BIJ VOORRAAD) DALAM PERKARA
PERDATA DI PENGADILAN NEGERI KABANJAHE
SKRIPSI
Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas Dan Memenuhi Syarat-Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum
OLEH:
ARIES SHANDY PASCA GINTING NIM: 070200088
DEPARTEMEN HUKUM KEPERDATAAN PROGRAM KEKHUSUSAN HUKUM PERDATA BW
Disetujui Oleh:
Ketua Departemen Hukum Keperdataan
NIP. 196603031985081001 Dr. Hasim Purba, S.H., M.Hum.
PEMBIMBING I PEMBIMBING II
Muhammad Hayat, S.H.
NIP. 195008081980021002 NIP. 195707151983031002 Malem Ginting, S.H., M.Hum.
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2011
ABSTRAK
Aries Shandy Pasca Ginting
1Muhammad Hayat, S.H.
2*** Malem Ginting, S.H., M.Hum.
31 Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
2 Pembimbing I Dosen Departemen Hukum Perdata Fakultas Hukum USU
3 Pembimbing II Dosen Departemen Hukum Perdata Fakultas Hukum USU
Putusan serta merta (uitvoerbaar bij voorraad) merupakan terobosan terhadap proses peradilan yang lambat. Melalui lembaga uitvoerbaar bij voorraad, putusan Pengadilan dapat dieksekusi meskipun putusan tersebut belum memperoleh kekuatan hukum tetap. Namun, uitvoerbaar bij voorraad ini ternyata menimbulkan banyak masalah dalam praktek pelaksanaannya. Salah satu masalah yang sering terjadi adalah proses eksekusi putusan serta merta. Pengadilan Negeri sebagai ujung tombak pelaksana eksekusi putusan serta merta (uitvoerbaar bij voorraad) tak jarang menemui hambatan-hambatan dalam mengeksekusi putusan tersebut. Pengadilan Negeri harus menanggulangi terhambatnya eksekusi putusan serta merta (uitvoerbaar bij voorraad) agar eksekusi terhadap putusan tersebut dapat dilaksanakan.
Penelitian dalam penulisan skripsi ini bersifat normatif dan sosiologis.
Penelitian normatif dilakukan dengan meneliti peraturan perudang-undangan, bahan hukum, dan bahan lainnya yang terkait dengan penulisan skripsi ini.
Penelitian sosiologis dilakukan dengan melakukan penelitian di Pengadilan Negeri Kabanjahe. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder yang terdiri atas bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier.
Adanya pemberian jaminan oleh Pemohon eksekusi merupakan salah satu
syarat pelaksanaan eksekusi putusan serta merta. Tanpa adanya jaminan tersebut,
maka eksekusi terhadap putusan serta merta tidak dapat dilaksanakan. Hambatan
eksekusi putusan serta merta (uitvoerbaar bij voorraad) di Pengadilan Negeri
Kabanjahe adalah tidak dikeluarkannya izin eksekusi serta merta oleh Ketua
Pengadilan Tinggi Medan, Pemohon eksekusi tidak mampu menyerahkan
jaminan, dan hambatan di lapangan berupa pengerahan massa oleh Termohon
eksekusi. Jika eksekusi putusan serta merta (uitvoerbaar bij voorraad) terhambat,
Pengadilan Negeri Kabanjahe mengambil upaya-upaya untuk menanggulangi
terhambatnya eksekusi tersebut. Dalam hal eksekusi putusan serta merta
terhambat karena tidak dikeluarkannya izin eksekusi serta merta oleh Ketua
Pengadilan Tinggi Medan, maka satu-satunya cara untuk melaksanakan isi
putusan tersebut adalah dengan menunggu hingga putusan tersebut memperoleh
kekuatan hukum yang tetap. Jika terhambatnya eksekusi disebabkan
ketidakmampuan Pemohon eksekusi dalam memberi jaminan, maka Ketua
Pengadilan Negeri Kabanjahe akan menyarankan Pemohon eksekusi untuk
meminjam uang kepada keluarga atau kerabat, teman, atau pihak bank. Dalam hal
eksekusi terhambat karena hambatan di lapangan, maka Jurusita Pengadilan
beserta Polisi akan melakukan upaya-upaya persuasif.
KATA PENGANTAR
Puji syukur Penulis sampaikan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan kasih karuniaNya, Penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini pada waktunya.
Skripsi yang berjudul “Suatu Tinjauan Mengenai Eksekusi Amar Putusan Serta Merta (Uitvoerbaar Bij Voorraad) dalam Perkara Perdata di Pengadilan Negeri Kabanjahe” ini disusun dalam rangka memenuhi dan melengkapi syarat- syarat untuk memperoleh gelar sarjana hukum dari Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
Penulis menyadari bahwa selesainya skripsi ini tidak luput dari bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, baik dukungan yang bersifat moril maupun materiil. Oleh karena itu, pada kesempatan ini Penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada:
1. Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M. Sc.(CTM), Sp. A (K), selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Prof. Dr. Runtung, SH, M.Hum selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Dr. Hasim Purba, S.H., M.Hum., selaku Ketua Departemen Hukum Keperdataan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
4. Bapak Muhammad Hayat, S.H., selaku Dosen Pembimbing I yang telah
banyak membantu dalam membimbing, mengarahkan, serta memberikan saran
kepada Penulis.
5. Bapak Malem Ginting, S.H., M.Hum., selaku Dosen Pembimbing II yang telah banyak membantu dalam membimbing, mengarahkan, serta memberikan saran kepada Penulis.
6. Ibu Suria Ningsih, SH, M. Hum, selaku dosen pembimbing akademik yang telah mendidik Penulis selama masa kuliah.
7. Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah banyak memberi ilmu dan motivasi kepada Penulis.
8. Staf dan Pegawai Administratif Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
9. Bapak Yohanes Priyana, S.H., M.H., selaku Ketua Pengadilan Negeri Kabanjahe, Bapak Nirwan Sembiring, S.H., selaku Panitera/Sekretaris Pengadilan Negeri Kabanjahe, Perdamenta Purba selaku Jurusita di Pengadilan Negeri Kabanjahe, dan Tira Tirtona, S.H., M.Hum. selaku Hakim di Pengadilan Negeri Kabanjahe, serta Staf Pengadilan Negeri Kabanjahe yang telah banyak membantu Penulis dalam menyusun skripsi ini.
10. Teristimewa kepada motivator terbesar dalam hidup saya, Ayahanda tercinta dan tersayang W. Ginting, dan Ibunda L. Br Sembiring. Terimakasih atas kesabaran dan ketulusannya dalam mendidik dan membantu Penulis selama ini, baik secara materil, doa, maupun nasihat-nasihatnya.
11. Teristimewa juga kepada adikku Ignasius Nico Estrada Ginting, sepupuku Rio Suranta Milala, Nehemia Hawan Milala, dan Nia Debora Milala, Kak Eva, dan keponakanku Melgia Varesa Brahmana.
12. Buat nenekku tersayang, S. M. Br Sebayang dan R. Br Karo, terimakasih atas
nasihat-nasihatnya, dukungan dan bimbingannya selama ini.
13. Buat Keluarga Besar Ginting Mergana dan Sembiring Mergana, terimakasih atas perhatian dan bimbingannya selama ini.
14. Buat teman-teman seperjuanganku: Ismed Tampubolon, Beni Sarumaha, Andryanto P. Pasaribu, Christanti Silaban, Daulat Sianturi, Cory Sinaga, Satra Lumbantoruan, dan Mika Lestari Silitonga. Spesial buat Ismed Tampubolon dan Beni Sarumaha yang telah banyak memberi masukan, saran dan nasihat dalam penulisan skripsi ini.
15. Buat teman-teman di kelompok belajar GEMBEL yang pernah menjadi tempatku mencari ilmu. Salam Persahabatan, HIDUP GEMBEL!!!
16. Buat teman-teman Stb’07, terkhusus buat anak-anak Perdata BW.
17. Semua pihak yang telah banyak membantu dalam penyusunan skripsi ini yang tidak dapat disebutkan namanya satu-persatu.
Penulis juga menyadari segala kekurangan dalam penulisan tulisan ini.
Oleh karena itu, Penulis minta maaf sebesar-besarnya. Penulis juga sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun agar penulisan selanjutnya bisa lebih baik lagi.
Akhir kata Penulis mengharapkan skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan Penulis khususnya.
Medan, Januari 2011 Penulis
Aries Shandy Pasca Ginting
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
KATA PENGANTAR... ii
DAFTAR ISI ... v
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ……….…….. 1
B. Perumusan Masalah……… 10
C. Tujuan dan Manfaat Penulisan ... 11
D. Keaslian Penulisan... 12
E. Tinjauan Kepustakaan... 12
F. Metode Penelitian... 15
G. Sistematika Penulisan ... 17
BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG EKSEKUSI A. Pengertian dan Landasan Hukum Eksekusi ……… .. 19
B. Asas-Asas Eksekusi ……… 22
C. Jenis-Jenis Eksekusi ……….………..…… 30
D. Tata Cara Eksekusi ………. 37
E. Hambatan-Hambatan Eksekusi ………... 43
BAB III TINJAUAN UMUM TENTANG PUTUSAN SERTA MERTA (UITVOERBAAR BIJ VOORRAAD) A. Pengertian Putusan Pengadilan ... 48
B. Pengertian dan Landasan Hukum Putusan Serta Merta ... 56
C. Putusan Serta Merta Dalam Pandangan Mahkamah Agung ... 60
D. Syarat-Syarat Putusan Serta Merta ... 72 E. Penilaian Hakim Dalam Menjatuhkan Putusan Serta Merta ... 86 BAB IV PELAKSANAAN EKSEKUSI PUTUSAN SERTA MERTA
(UITVOERBAAR BIJ VOORRAAD) DALAM PERKARA PERDATA DI PENGADILAN NEGERI KABANJAHE
A. Gambaran Umum Tentang Pengadilan Negeri Kabanjahe ... 90 B. Prosedur Eksekusi Putusan Serta Merta di Pengadilan
Negeri Kabanjahe ... 97 C. Hubungan Jaminan Dengan Pelaksanaan Eksekusi Putusan
Serta Merta... 105 D. Hambatan-Hambatan Dalam Eksekusi Putusan Serta Merta
di Pengadilan Negeri Kabanjahe ... 109 E. Upaya yang Ditempuh Pengadilan Negeri Kabanjahe Dalam
Menanggulangi Terhambatnya Eksekusi Putusan Serta Merta .. 114 F. Tanggapan Terhadap Putusan Pengadilan Negeri Kabanjahe
No.65/Pdt.G/2007/PN.Kbj
1. Kasus Posisi ... 117 2. Tanggapan ... 123 BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ... 128
B. Saran ... 130
DAFTAR PUSTAKA ... 131
LAMPIRAN
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Aristoteles (384 – 322 SM), seorang ahli pikir Yunani kuno mengatakan dalam ajarannya, bahwa manusia itu adalah zoon politicon, artinya bahwa manusia itu sebagai makhluk sosial pada dasarnya selalu ingin bergaul dan berkumpul dengan manusia lainnya, jadi makhluk yang suka bermasyarakat. Oleh karena sifatnya yang suka bergaul satu sama lain, maka manusia disebut sebagai makhluk sosial.
4Interaksi kehidupan manusia dalam masyarakat sepanjang perjalanan hidup tidak ada yang berjalan mulus dan aman-aman saja.
Sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain. Manusia sejak lahir hingga meninggalnya selalu hidup di dalam pergaulan dengan manusia lainnya dan tidak dapat melepaskan dirinya dari kehidupan bermasyarakat.
5
Mengingat potensi munculnya konflik dalam hubungan antara manusia, dibentuklah norma-norma hukum yang bertujuan menjaga ketentraman, keadilan dan perlindungan hak dalam suatu masyarakat. Menurut Satjipto Rahardjo, kehadiran hukum dalam masyarakat diantaranya adalah untuk mengintegrasikan Dalam hubungan interaksi tersebut, sering sekali terjadi benturan kepentingan antara manusia yang satu dengan manusia lainnya yang akhirnya menimbulkan konflik.
4 C.S.T Kansil, Pengantar Ilmu Hukum, Balai Pustaka, Jakarta, 1992, h. 3.
5 Saifullah, Refleksi Sosiologi Hukum, Refika Aditama, Bandung, 2007, h. 25.
dan mengkoordinasikan kepentingan-kepentingan yang bisa bertubrukan satu sama lain itu, oleh hukum diintegrasikan sedemikian rupa sehingga tubrukan- tubrukan itu bisa ditekan sekecil-kecilnya.
6Gangguan kepentingan atau konflik haruslah dicegah dan tidak dibiarkan berlangsung terus karena akan mengganggu keseimbangan tatanan masyarakat.
7Sengketa perdata dapat diselesaikan melalui jalur litigasi maupun non litigasi
Konflik yang tidak diselesaikan atau dibiarkan berlangsung terus-menerus akan meningkat menjadi sengketa.
8
. Penyelesaian sengketa perdata melalui jalur litigasi dilakukan dengan menyerahkan sengketa kepada Pengadilan, sedangkan penyelesaian sengketa melalui jalur non litigasi dilakukan di luar Pengadilan dengan cara konsultasi
9, negosiasi
10, mediasi
11, konsiliasi
12, atau penilaian ahli
136 Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2006, h. 53.
7 Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum (Suatu Pengantar), Liberty, Yogyakarta, 1999, h. 3.
8 Penyelesaian sengketa perdata melalui jalur non litigasi diatur dalam Undang-undang No. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa.
9 Konsultasi adalah upaya penyelesaian sengketa dengan cara meminta masukan dari pihak yang diyakini sebagai narasumber berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang ia punya dalam memfasilitasi penyelesaian sengketa.
10 Negosiasi adalah komunikasi dua arah yang dirancang untuk mencapai kesepakatan pada saat kedua belah pihak memiliki kepentingan yang sama maupun berbeda, tanpa keterlibatan pihak ketiga penengah, baik pihak ketiga yang tidak berwenang mengambil keputusan (mediator) ataupun pihak ketiga yang tidak berwenang mengambil keputusan (ajudikator).
11 Mediasi adalah proses penyelesaian sengketa melalui perundingan atau mufakat para pihak dengan dibantu oleh mediator yang tidak memiliki kewenangan memutus atau memaksakan sebuah penyelesaian. Mengenai mediasi selanjutnya diatur dalam Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2008 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan.
12 Konsiliasi merupakan usaha untuk mempertemukan para pihak untuk mencapai persetujuan dalam rangka penyelesaian sengketa dengan dibantu oleh konsiliator atau tim konsiliator yang yang berfungsi menjelaskan fakta-fakta dan membuat usulan-usulan penyelesaian, tetapi sifatnya tidak mengikat.
13 Penilaian ahli adalah upaya mempertemukan para pihak yang berselisih dengan cara menilai pokok sengketa yang dilakukan oleh seorang atau beberapa ahli di bidang yang terkait pokok sengketa untuk mencapai persetujuan. Penilaian ahli berupa keterangan tertulis yang merupakan hasil telaah ilmiah sesuai keahlian yang dimiliki para ahli tersebut bertujuan untuk membuat terang pokok sengketa.
.
Dalam kehidupan suatu negara modern, Pengadilan formal hadir bersama- sama perkembangan masyarakat hukum modern. Pengadilan formal memegang kekuasaan kehakiman menurut konstitusi negara, untuk menjadi penegak hukum dan keadilan.
1414 Runtung, Penyelesaian Sengketa Alternatif, Pustaka Bangsa Press, Medan, 2004, h. 2.
Lembaga peradilan memainkan peranan yang penting, karena ia merupakan satu-satunya institusi formal yang diberi mandat untuk mengelola segala permasalahan hukum dari setiap warga negara yang mengalami kesulitan dalam mencari keadilan.
Setiap orang yang merasa dirugikan atau merasa kepentingannya terganggu dapat mengajukan gugatan terhadap pihak yang dianggap merugikannya lewat Pengadilan. Surat gugatan, secara formil harus ditujukan dan dialamatkan kepada Pengadilan Negeri sesuai dengan kompetensi relatif.
Kompetensi relatif adalah kewenangan suatu badan peradilan untuk
memeriksa, mengadili, dan memutus suatu perkara berdasarkan wilayah
hukumnya. Jika surat gugatan dialamatkan ke Pengadilan yang tidak sesuai
dengan kompetensi relatifnya, maka surat gugatan tersebut mengandung cacat
formil karena gugatan disampaikan dan dialamatkan kepada Pengadilan Negeri
yang berada di luar wilayah Pengadilan Negeri yang berwenang memeriksa dan
mengadili perkara tersebut. Dengan demikian, gugatan akan dinyatakan tidak
dapat diterima (niet onvankelijke verklaard) dengan alasan Hakim tidak
berwenang mengadili.
Mengenai persyaratan tentang isi dari pada surat gugatan tidak ada ketentuannya, tetapi kita dapat melihat dalam Rv
15Pasal 8 No. 3 yang mengharuskan adanya pokok gugatan yang meliputi:
161. identitas dari para pihak ;
2. dalil-dalil konkret tentang adanya hubungan hukum yang merupakan dasar serta alasan-alasan dari tuntutan. Dalil-dalil ini dikenal dengan istilah fundamentum patendi ;
3. tuntutan atau petitum.
HIR
17dan Rbg
18Identitas dalam surat gugatan merupakan syarat formil keabsahan gugatan.
Jika dalam surat gugatan tidak disebutkan identitas para pihak, hal tersebut akan menyebabkan gugatan tersebut tidak sah dan dianggap tidak ada. Identitas yang wajib disebut adalah nama lengkap dan alamat atau tempat tinggal. Identitas lain
sendiri hanya mengatur mengenai cara mengajukan gugatan.
15 Rv (Reglement op de burgerlijke rechtsvordering voorde raden van Justitie opa Java en het hoogerechtshof van Indonesie, alsmede voor de risidentiegerechten op Java en Madura) yang lazim disebut Reglemen Hukum Acara Perdata untuk Golongan Eropa (Stb. 1847 Nomor: 52 Jo. Stb. 1849 Nomor: 63) merupakan reglemen yang berisi ketentuan-ketentuan hukum acara perdata yang berlaku khusus bagi golongan Eropa dan bagi mereka yang dipersamakan dengan mereka untuk berperkara di muka Raad van Justitie dan risidentiegerecht. Menurut Supomo, Rv sudah tidak berlaku lagi akan tetap dalam praktek peradilan masih dipergunakan dan dipertahankan.
16 R. Soeroso, Praktik Hukum Acara Perdata: Tata Cara dan Proses Persidangan, Sinar Grafika, Jakarta, 2009, h. 56.
17 HIR (Herziene Indonesische Reglement) berasal dari IR (Inlandsche Reglement). IR yang diundangkan pada tahun 1848 telah mengalami berbagai perubahan. Perubahan terakhir pada tahun 1941 telah merubah IR menjadi HIR. HIR dapat dibagi menjadi dua, yaitu bagian acara pidana dan acara perdata yang diperuntukkan bagi golongan Bumiputera dan Timur Asing di Jawa dan Madura untuk berperkara di muka landraad (sekarang: Pengadilan Negeri). Dengan diberlakukannya Undang-undang No. 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana maka sebagian ketentuan HIR khusus untuk acara pidana telah dihapus.
18 Rbg (Rechtsreglement voor de Buitengewesten) yang ditetapkan dalam Pasal 2 Ordonansi 11 Mei 1927 Stb. 1927 Nomor: 227 dan mulai berlaku pada tanggal 1 Juli 1927adalah pengganti berbagai peraturan berupa reglemen yang tersebar dan berlaku hanya dalam suatu daerah tertentu seperti reglemen bagi daerah Ambon, Aceh, Sumatera Barat, Palembang, Bali, Kalimantan, Minahasa, dan lain-lain. Intinya, Rbg merupakan hukum acara perdata yang berlaku di luar Jawa dan Madura.
seperti umur, pekerjaan, agama, jenis kelamin, dan suku bangsa tidak dilarang penyebutannya. Lebih lengkap tentunya lebih baik dan lebih pasti.
Fundamentum patendi yang dikenal pula dengan positum (bentuk jamaknya disebut posita) gugatan, atau dalam bahasa Indonesia disebut dalil gugatan adalah dasar gugatan atau dasar tuntutan. Fundamentum patendi memuat dua unsur, yaitu:
191. Dasar hukum (rechtelijke grond) memuat penegasan atau penjelasan mengenai hubungan hukum antara Penggugat dengan materi dan/atau objek yang disengketakan, dan antara Penggugat dengan Tergugat berkaitan dengan materi atau objek sengketa.
2. Dasar Fakta (Feitelijke grond) memuat penjelasan pernyataan mengenai fakta atau peristiwa yang berkaitan langsung dengan atau di sekitar hubungan hukum yang terjadi antara Penggugat dengan materi atau objek perkara maupun pihak Tergugat, atau penjelasan fakta-fakta yang langsung berkaitan dengan dasar hukum atau hubungan hukum yang didalilkan Penggugat.
Petitum atau tuntutan adalah apa yang diminta atau diharapkan Penggugat agar diputuskan oleh Hakim. Jadi, tuntutan itu akan terjawab di dalam amar atau diktum putusan.
20Ada beberapa istilah yang sama maknanya dengan petitum, seperti petita atau petitory maupun conclusum. Akan tetapi, istilah yang baku dan paling sering dipergunakan dalam praktik peradilan adalah petitum atau pokok tuntutan.
21Sebuah tuntutan dapat dibagi 3 (tiga), yaitu:
2219 R. Soeroso, Op. Cit, h. 58.
20 Ibid
21 M. Yahya Harahap, Hukum Acara Perdata, Sinar Grafika, Jakarta, 2005, h. 63.
22 R. Soeroso, Loc. Cit.
1. tuntutan primer atau tuntutan pokok yang langsung berhubungan dengan pokok perkara ;
2. tuntutan tambahan, bukan tuntutan pokok tetapi masih ada hubungannya dengan pokok perkara ;
3. tuntutan subsidair atau tuntutan pengganti.
Tuntutan subsidair selalu diajukan sebagai pengganti apabila Hakim berpendapat lain. Biasanya tuntutan subsidair berbunyi ex aequo et bono (mohon keadilan). Sedangkan, tuntutan tambahan sering diajukan disamping tuntutan pokok sebagai pelengkap dari tuntutan pokok. Biasanya sebagai tuntutan tambahan berwujud:
231. tuntutan agar Tergugat dihukum untuk membayar biaya perkara ; 2. tuntutan uitvoerbaar bij voorraad ;
3. tuntutan agar Tergugat membayar bunga (moratoir) apabila tuntutan yang dimintakan oleh Penggugat berupa sejumlah uang tertentu ;
4. tuntutan agar Tergugat dihukum untuk membayar uang paksa (dwangsom) apabila hukuman itu tidak berupa pembayaran sejumlah uang selama ia tidak memenuhi isi putusan ;
5. dalam hal gugatan cerai sering disertai juga dengan tuntutan nafkah bagi istri.
Dalam praktek, tuntutan tambahan berupa tuntutan uitvoerbaar bij voorraad (permohonan menjalankan putusan serta merta) sering kali ditemukan dalam gugatan. Adapun maksud dan tujuan pihak Penggugat memasukkan tuntutan uitvoerbaar bij voorraad dalam petitum gugatannya adalah agar apa yang
23 Ibid, h. 58-59.
menjadi putusan Hakim dapat segera dilaksanakan tanpa harus menunggu sampai putusan tersebut memperoleh kekuatan hukum yang tetap (inkracht van gewijsde).
Dengan demikian, pihak Penggugat selaku pihak yang dimenangkan dapat segera menikmati hasil kemenangannya tersebut tanpa harus lama menunggu.
Faktor lain yang menjadi alasan Penggugat memasukkan tuntutan uitvoerbaar bij voorraad dalam petitum gugatannya adalah untuk melindungi kepentingan kreditur sebagai Penggugat dari sikap debitur (Tergugat) yang beritikad tidak baik. Proses peradilan yang memakan waktu lama akan membuat debitur (Tergugat) merasa terlindungi. Debitur (Tergugat) yang kalah bisa saja mengajukan berbagai upaya hukum dengan maksud untuk menunda pemenuhan kewajibannya dalam jangka waktu yang cukup lama. Karena itulah, Penggugat dalam petitumnya sering meminta agar putusan dapat dilaksanakan dengan serta merta.
Permohonan agar putusan dapat dijalankan secara serta merta dalam petitum gugatan sebagaimana sering ditemui dalam praktek sejalan dengan keinginan masyarakat dan para pencari keadilan yang menuntut agar penyelesaian perkara melalui Pengadilan berjalan sesuai dengan asas peradilan yang sederhana, cepat dan biaya ringan.
Proses peradilan yang sederhana berarti proses beracara yang tidak rumit
(complicated). Kesederhanaan beracara berarti kesederhanaan proses peradilan
yang tidak menggunakan prosedur yang berbelit-belit atau bertele-tele dan terlalu
banyak menggunakan formalitas-formalitas. Sudikno Mertoksumo mengatakan
bahwa semakin sedikit dan sederhana formalitas-formalitas yang diwajibkan atau
diperlukan dalam beracara di muka Pengadilan, maka semakin baik pula proses beracaranya.
24Peradilan yang cepat berarti peradilan yang tidak memakan waktu lama sehingga pihak yang menang dapat segera menikmati kemenangannya. Terlalu banyak formalitas merupakan hambatan bagi jalannya peradilan. Cepatnya jalannya peradilan akan meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada Pengadilan.
25Peradilan dengan biaya ringan maksudnya adalah peradilan yang tidak memakan banyak biaya sehingga dapat dijangkau oleh masyarakat. Biaya perkara yang tinggi menyebabkan pihak yang berkepentingan enggan mengajukan tuntutan hak kepada Pengadilan.
26Putusan yang diambil oleh Hakim belum menyelesaikan perkara secara tuntas jika putusan tersebut tidak dilaksanakan atau dieksekusi. Pihak yang menang tentu tidak menghendaki kemenangannya itu hanya di atas kertas belaka, Jika tuntutan uitvoerbaar bji voorraad dikabulkan, maka Hakim akan menjatuhkan putusan yang dapat dijalankan meskipun putusan tersebut belum berkekuatan hukum tetap. Seperti yang diketahui, tujuan akhir dari proses pemeriksaan perkara di Pengadilan Negeri adalah pengambilan suatu putusan oleh Hakim yang berisi penyelesaian atas perkara yang disengketakan. Dalam putusan tersebut ditentukan dengan pasti hak maupun hubungan hukum para pihak dengan objek yang disengketakan.
24 Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia, Liberty, Yogyakarta, 2002, h. 36.
25 Ibid.
26 Ibid.
tetapi harus ada pelaksanaan dari putusan tersebut. Bagi pihak yang menang, tujuan akhir yang ingin dicapai belum terlaksana apabila pelaksanaan dari putusan tersebut belum dijalankan.
Pada prinsipnya, hanya putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap yang dapat dieksekusi. Suatu putusan memperoleh kekuatan hukum tetap ketika tidak ada lagi upaya hukum biasa yang tersedia, seperti perlawanan (verzet), banding, dan kasasi. Putusan yang telah berkekuatan hukum tetap tidak dapat diubah lagi, dimana hubungan hukum antara para pihak yang berperkara telah tetap dan pasti (fixed and certain).
Prinsip tersebut di atas merupakan salah satu asas yang harus diperhatikan dalam rangka mengeksekusi suatu putusan. Namun undang-undang memberikan pengecualian terhadap asas tersebut. Undang-undang memperbolehkan eksekusi terhadap putusan yang belum memperoleh kekuatan hukum tetap dalam hal-hal tertentu. Salah satu bentuk pengecualian yang ditentukan undang-undang terhadap asas tersebut adalah eksekusi putusan serta merta (uitvoerbaar bij voorraad).
Putusan serta merta (uitvoerbaar bij voorraad) dapat dieksekusi meskipun putusan tersebut belum berkekuatan hukum tetap.
Pasal 180 ayat (1) HIR atau Pasal 191 ayat (1) Rbg menentukan sebagai berikut:
“Pengadilan Negeri dapat memerintahkan supaya putusan dijalankan lebih
dahulu walaupun ada perlawanan atau banding, jika ada surat yang sah atau
sehelai tulisan yang menurut aturan tentang hal itu berkekuatan sebagai alat
bukti, atau jika ada hukuman yang lebih dahulu dengan suatu putusan yang
telah mempunyai kekuatan hukum tetap, demikian juga jika dikabulkan
gugatan yang didahulukan, lagi pula dalam perselisihan tentang hak milik.”
Pasal tersebut di atas memperbolehkan Hakim menjatuhkan putusan dengan ketentuan dapat dijalankan terlebih dahulu meskipun putusan tersebut belum berkekuatan hukum tetap. Namun, penjatuhan putusan serta merta tersebut disertai dengan syarat yang ketat.
Lembaga uitvoerbaar bij voorraad ini ternyata menimbulkan banyak masalah dalam praktek pelaksanaannya. Proses eksekusi putusan serta merta berbeda dengan proses eksekusi putusan yang telah berkekuatan hukum tetap.
Salah satu perbedaannya adalah adanya jaminan eksekusi. Masalah lain yang sering timbul dalam praktek adalah adanya hambatan-hambatan dalam eksekusi putusan serta merta. Pengadilan Negeri Kabanjahe sebagai salah satu ujung tombak pelaksana eksekusi putusan serta merta (uitvoerbaar bij voorraad) juga tak jarang menemui hambatan-hambatan dalam mengeksekusi putusan tersebut.
B. Perumusan Masalah
Eksekusi putusan serta merta (uitvoerbaar bij voorraad) dalam pelaksanaannya kerap menemui berbagai masalah. Pengadilan Negeri Kabanjahe sebagai salah pelaksana kekuasaan kehakiman yang mandiri, tidak memihak dan transparan, juga menemui masalah-masalah sehubungan dengan eksekusi putusan serta merta (uitvoerbaar bij voorraad) tersebut sebagaimana dialami oleh Pengadilan Negeri lainnya.
Bertolak dari hal tersebut, maka yang diketengahkan sebagai permasalahan
dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana hubungan jaminan dengan pelaksanaan eksekusi putusan serta merta (uitvoerbaar bij voorraad)?
2. Apakah yang menjadi hambatan dalam eksekusi putusan serta merta (uitvoerbaar bij voorraad) di Pengadilan Negeri Kabanjahe?
3. Bagaimana Pengadilan Negeri Kabanjahe menanggulangi terhambatnya eksekusi putusan serta merta (uitvoerbaar bij voorraad)?
C. Tujuan dan Manfaat Penulisan
Sesuai dengan permasalahan yang ditentukan di atas, yang menjadi tujuan penulis dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui dan menjelaskan hubungan jaminan dengan pelaksanaan eksekusi putusan serta merta (uitvoerbaar bij voorraad).
2. Untuk mengetahui dan menjelaskan hambatan-hambatan yang ditemui dalam eksekusi putusan serta merta (uitvoerbaar bij voorraad) di Pengadilan Negeri Kabanjahe.
3. Untuk mengetahui dan menjelaskan upaya-upaya yang ditempuh Pengadilan Negeri Kabanjahe dalam menanggulangi terhambatnya eksekusi putusan serta merta (uitvoerbaar bij voorraad).
Adapun manfaat penulisan skripsi ini dapat dibagi menjadi manfaat
teoritis dan manfaat praktis, yaitu:
1. Manfaat teoritis
Secara teoritis, penulisan skripsi ini diharap dapat menambah pengetahuan di bidang hukum, khususnya di bidang hukum acara perdata dalam hal putusan serta merta (uitvoerbaar bij voorraad).
2. Manfaat praktis
Secara praktis, penulisan skripsi ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi mahasiswa, praktisi hukum, pemerintah, serta masyarakat yang bersengketa dalam rangka memberdayakan lembaga uitvoerbaar bij voorraad dengan mengetahui segala kebaikan dan kelemahannya.
D. Keaslian Penulisan
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan penulis dengan melakukan penelusuran di kepustakaan di lingkungan Universitas Sumatera Utara, belum ditemukan penulisan skripsi yang membahas eksekusi putusan serta merta (uitoerbaar bij voorraad) yang disertai dengan penelitian langsung di lapangan, baik yang dilakukan di Pengadilan Negeri Kabanjahe maupun di Pengadilan Negeri lainnya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa isi tulisan ini adalah asli dan dapat dipertanggungjawabkan penulis.
E. Tinjauan Kepustakaan
Skripsi ini berjudul: SUATU TINJAUAN MENGENAI EKSEKUSI
AMAR PUTUSAN SERTA MERTA (UITVOERBAAR BIJ VOORRAAD)
DALAM PERKARA PERDATA DI PENGADILAN NEGERI KABANJAHE.
Suatu karya ilmiah harus memiliki judul karena judul dapat menggambarkan inti dari karya ilmiah tersebut, demikian pula halnya dalam penulisan skripsi ini. Untuk memahami dan mengerti akan maksud dari judul skripsi tersebut, maka dalam suatu skripsi dibuat satu sub bab khusus yang membahas tinjauan kepustakaan.
Tinjauan kepustakaan dalam skripsi ini menguraikan istilah-istilah atau kata-kata yang berkaitan erat dengan judul skripsi ini. Istilah-istilah yang akan diuraikan ini sangat erat hubungannya dengan pembahasan dan isi skripsi ini sendiri.
Berikut merupakan uraian dari beberapa istilah atau kata yang erat kaitannya dengan judul skripsi ini:
1. Eksekusi secara sederhana dapat diartikan dengan pelaksanaan putusan Hakim.
27Subekti memberikan defenisi eksekusi sebagai pelaksanaan putusan Pengadilan.
28Sedangkan Sudarsono memberikan pengertian eksekusi sebagai pelaksanaan putusan Pengadilan; pelaksanaan putusan Hakim atau pelaksanaan putusan hukuman badan Pengadilan (khususnya hukuman mati);
penyitaan dan penjualan seseorang atau lainnya karena berutang.
29Dalam skripsi ini, eksekusi yang dimaksud adalah eksekusi dalam perkara perdata. Eksekusi putusan perdata berarti melaksanakan putusan dalam perkara perdata secara paksa sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku karena pihak Tereksekusi tidak bersedia melaksanakan secara sukarela. Dengan pengertian di atas, pada prinsipnya eksekusi merupakan
27 M. Nasir, Hukum Acara Perdata, Djambatan, Jakarta, 2003, h. 234.
28 R. Subekti dan Tjitrosoedibio, Kamus Hukum, Pradnya Paramita, Jakarta, 2008, h. 38.
29 Sudarsono, Kamus Hukum (Edisi Baru), Asdi Mahasatya, Jakarta, 2007, h. 114.
realisasi kewajiban pihak yang dikalahkan dalam putusan Hakim, untuk memenuhi prestasi yang tercantum di dalam putusan Hakim.
302. Putusan serta merta (uitvoerbaar bij voorraad) adalah putusan Hakim yang dapat dilaksanakan terlebih dahulu walaupun ada banding atau perlawanan.
31“Pada asasnya suatu putusan Pengadilan baru dapat dilaksanakan apabila putusan itu sudah memperoleh kekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde). Namun Pengadilan Negeri dapat menyatakan putusan
“uitvoerbaar bij voorraad” yang berarti bahwa putusan itu dapat dijalankan lebih dahulu meskipun ada perlawanan, banding atau kasasi (Pasal 180 HIR).”
Dengan kata lain, putusan serta merta adalah putusan yang dapat dijalankan terlebih dahulu meskipun belum memperoleh kekuatan hukum tetap. Subekti memberikan pengertian putusan serta merta (uitvoerbaar bij voorraad) sebagai berikut:
32
3. Perkara adalah persoalan atau perkara yang perlu diselesaikan atau dibereskan.
334. Pengadilan Negeri adalah Pengadilan tingkat pertama bagi perkara perdata maupun pidana.
Perkara yang dimaksud dalam skripsi ini adalah perkara perdata yang diselesaikan melalui jalur litigasi, yakni dengan mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri yang berwenang memeriksa perkara tersebut.
34
30 Wildan Sayuthi, Sita dan Eksekusi: Praktek KeJurusitaan Pengadilan, Tatanusa, Jakarta, 2004, h. 60.
31 Sudarsono, Op. Cit, h. 524.
32 R. Subekti dan Tjitrosoedibio, Op. Cit, h. 107.
33 Sudarsono, Op. Cit, h. 355.
34 J.C.T. Simorangkir dan Rudy T. Erwin, Kamus Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, 2009, h.
124.
Menurut Pasal 4 ayat (1) Undang-undang Nomor 8 Tahun
2004 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 2 Tahun 1986 tentang
Peradilan Umum Jo. Undang-undang Nomor. 49 Tahun 2009 tentang
Perubahan Kedua atas Undang-undang Nomor 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum, Pengadilan Negeri berkedudukan di ibukota kabupaten/kota dan daerah hukumnya meliputi wilayah kabupaten/kota.
Pengadilan Negeri Kabanjahe merupakan salah satu pelaksana kekuasaan kehakiman yang mandiri, tidak memihak dan transparan. Pengadilan Negeri Kabanjahe terletak di Kabanjahe yang merupakan ibukota Kabupaten Karo.
F. Metode Penelitian
1. Sifat atau Bentuk Penelitian
Penelitian yang akan dilakukan penulis dalam rangka penyusunan skripsi ini adalah penelitian normatif dan penelitian sosiologis. Penelitian normatif dilakukan dengan meneliti peraturan perudang-undangan, bahan hukum, dan bahan lainnya yang terkait dengan penulisan skripsi ini.
Penelitian sosiologis penulis lakukan dengan melakukan penelitian di Pengadilan Negeri Kabanjahe sebagai salah satu pelaksana kekuasaan kehakiman di Indonesia.
2. Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di Pengadilan Negeri Kabanjahe, dengan pertimbangan bahwa Pengadilan Negeri tersebut sudah pernah menjalankan eksekusi putusan serta merta (uitvoerbaar bij voorraad).
3. Sumber Data
Data yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah data primer dan
data sekunder. Data primer yang dipergunakan adalah data yang diperoleh
langsung dari hasil wawancara dengan Ketua Pengadilan Negeri Kabanjahe, Panitera, Jurusita, dan Hakim di Pengadilan Negeri Kabanjahe.
Sedangkan data sekunder dibagi atas:
a. Bahan hukum primer, yaitu aturan hukum yang terdapat pada berbagai perangkat hukum atau aturan perundang-undangan antara lain:
Herziene Indonesische Reglement (HIR), Rechtsreglement voor de Buitengewesten (Rbg), Surat Edaran Mahkamah Agung Republik Indonesia (selajutnya disebut SEMA RI), dan lain-lain.
b. Bahan hukum sekunder, yaitu bahan hukum yang diperoleh dari buku teks, pendapat sarjana, media internet, dan lain-lain.
c. Bahan hukum tersier, yaitu bahan hukum yang memberikan petunjuk atau penjelasan bermakna terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder seperti kamus bahasa indonesia dan kamus hukum.
4. Metode Pengumpulan Data
a. Penelitian Kepustakaan (Library Research)
Yaitu mempelajari dan menganalisis secara sistematis berbagai sumber bacaan seperti buku-buku, majalah, surat kabar, internet, peraturan perundang-undangan, dan bahan-bahan lain yang berhubungan dengan materi yang dibahas dalam skripsi ini.
b. Wawancara atau interview
Yaitu melakukan penelitian langsung ke lapangan dengan mengadakan
tatap muka dan wawancara dengan Ketua Pengadilan Negeri
Kabanjahe, Panitera, Jurusita, dan Hakim di Pengadilan Negeri Kabanjahe
c. Observasi
Yaitu mengumpulkan data dari lokasi penelitian dengan cara menghimpun data dari berkas putusan serta-merta yang diputuskan oleh Pengadilan Negeri Kabanjahe.
G. Sistematika Penulisan
Suatu karya ilmiah yang baik harus disusun secara sistematis guna mempermudah uraian pembahasan karya ilmiah yang bersangkutan. Sistematika penulisan skripsi ini dibagi menjadi beberapa bab yang saling berhubungan satu sama lain. Penulis membagi skripsi ini dalam lima bab, yaitu sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini terdiri dari beberapa sub bab yaitu latar belakang, perumusan masalah, tujuan dan manfaat penulisan, keaslian penulisan, tinjauan kepustakaan, metode penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG EKSEKUSI
Dalam bab ini dijelaskan mengenai pengertian dan landasan hukum eksekusi, asas-asas eksekusi, jenis-jenis eksekusi, tata cara eksekusi, dan hambatan-hambatan eksekusi.
BAB III TINJAUAN UMUM TENTANG PUTUSAN SERTA MERTA
(UITVOERBAAR BIJ VOORRAAD)
Dalam bab ini dijelaskan mengenai pengertian putusan Pengadilan, pengertian dan landasan hukum putusan serta merta, putusan serta merta dalam pandangan Mahkamah Agung, syarat-syarat putusan serta merta, serta penilaian Hakim dalam menjatuhkan putusan serta merta.
BAB IV PELAKSANAAN EKSEKUSI PUTUSAN SERTA MERTA
(UITVOERBAAR BIJ VOORRAAD) DALAM PERKARA PERDATA DI PENGADILAN NEGERI KABANJAHE
Dalam bab ini dijelaskan mengenai gambaran umum Pengadilan Negeri Kabanjahe, prosedur eksekusi putusan serta merta di Pengadilan Negeri Kabanjahe, hubungan jaminan dengan pelaksanaan eksekusi putusan serta merta, hambatan-hambatan dalam eksekusi putusan serta merta di Pengadilan Negeri Kabanjahe, upaya yang ditempuh Pengadilan Negeri Kabanjahe dalam menanggulangi terhambatnya eksekusi putusan serta merta, serta tanggapan atas Putusan Pengadilan Negeri Kabanjahe No.65/Pdt.G/2007/PN.Kbj.
BAB V PENUTUP
Yang berisi kesimpulan berdasarkan pembahasan permasalahan
dalam skripsi ini, dan saran-saran yang menjadi harapan penulis
terkait eksekusi putusan serta merta di Pengadilan Negeri
Kabanjahe.
BAB II
TINJAUAN UMUM TENTANG EKSEKUSI
A. Pengertian dan Landasan Hukum Eksekusi
Tujuan pihak-pihak yang berperkara menyerahkan perkara perdatanya kepada Pengadilan adalah untuk menyelesaikan perkara mereka secara tuntas dengan putusan Pengadilan. Akan tetapi, adanya putusan Pengadilan saja belum berarti sudah menyelesaikan perkara mereka secara tuntas, melainkan kalau putusan tersebut telah dilaksanakan.
35“Esensi terpenting serta aktual dan merupakan puncak dari perkara perdata adalah putusan Hakim yang telah berkekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde) dapat dilaksanakan.”
Lilik Mulyadi menyatakan sebagai berikut:
36
Banyak penulis telah membakukan istilah “pelaksanaan putusan” sebagai kata ganti eksekusi (executie). Menurut Yahya Harahap, pembakuan istilah tersebut dianggap sudah tepat sebab jika bertitik tolak dari ketentuan bab ke sepuluh bagian ke lima HIR atau titel ke empat bagian ke empat Rbg, pengertian eksekusi sama dengan tindakan “menjalankan putusan” (ten uitvoer legging van vonnissen). Menjalankan putusan Pengadilan, tiada lain dari pada melaksanakan isi putusan Pengadilan, yakni melaksanakan “secara paksa” putusan Pengadilan
35 Riduan Syahrani, Buku Materi Dasar Hukum Acara Perdata, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2004, h. 161.
36 Lilik Mulyadi, Hukum Acara Perdata Menurut Teori dan Praktek Peradilan Indonesia, Djambatan, Jakarta, 1999, h. 276.
dengan bantuan kekuatan umum apabila pihak yang kalah (Tereksekusi atau Tergugat) tidak mau menjalankannya secara sukarela (vrijwillig, voluntary).
37Darwan Prinst berpendapat bahwa eksekusi adalah menjalankan keputusan Pengadilan atas perintah dan dengan dipimpin oleh Ketua Pengadilan Negeri yang pada tingkat pertama memeriksa perkara itu menurut cara yang diatur oleh hukum.
38R. Soeroso mengatakan bahwa pelaksanaan putusan Hakim lazimnya disebut eksekusi yang pada hakikatnya merupakan penyelesaian suatu perkara.
39Menurut Subekti, eksekusi atau pelaksanaan putusan sudah mengandung arti bahwa pihak yang dikalahkan tidak mau mentaati putusan itu secara sukarela, sehingga putusan itu harus dipaksakan kepadanya dengan bantuan “kekuatan umum”. Dengan “kekuatan umum” ini dimaksudkan Polisi, kalau perlu Militer (Angkatan Bersenjata).
40Soepomo berpendapat bahwa hukum eksekusi mengatur cara dan syarat- syarat yang dipakai oleh alat-alat negara guna membantu pihak yang berkepentingan untuk menjalankan putusan Hakim, apabila pihak yang kalah tidak bersedia memenuhi bunyinya putusan dalam waktu yang ditentukan.
4137 M. Yahya Harahap, Ruang Lingkup Permasalahan Eksekusi Bidang Perdata, Sinar Grafika, Jakarta, 2006, h. 6.
38 Darwan Prinst, Strategi Menyusun dan Menangani Gugatan Perdata, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1996, h. 227.
39 R. Soeroso, Op. Cit, h. 133.
40 R. Subekti, Hukum Acara Perdata, Bina Cipta, Bandung, 1997, h. 128
41 R. Soepomo, Hukum Acara Perdata Pengadilan Negeri, Pradnya Paramita, Jakarta, 1989, h. 119.
Sementara itu, Sudikno Mertokusumo memberikan definisi eksekusi
sebagai berikut:
“Pelaksanaan putusan Hakim atau eksekusi pada hakekatnya tidak lain ialah realisasi dari pada kewajiban pihak yang bersangkutan untuk memenuhi prestasi yang tercantum dalam putusan tersebut.
”42Dari definisi eksekusi di atas, dapat disimpulkan adanya beberapa unsur eksekusi sebagaimana dikemukakan oleh Mochammad Dja’is, yaitu :
43a. pelaksanaan secara paksa ;
b. objek pelaksanaan adalah putusan Hakim ;
c. pihak yang dikalahkan tidak mau secara sukarela memenuhi kewajibannya ; d. dengan bantuan kekuatan umum.
Hukum yang mengatur tentang eksekusi terdapat dalam HIR dan Rbg, yaitu mulai dari Pasal 195 sampai Pasal 224 HIR atau Pasal 206 sampai Pasal 258 Rbg. Namun yang masih berlaku efektif saat ini adalah Pasal 195 sampai dengan 208 dan Pasal 224 HIR atau Pasal 206 sampai dengan Pasal 240 dan Pasal 258 Rbg.
Selain pasal-pasal tersebut, masih terdapat pasal lain yang juga mengatur pelaksanaan eksekusi yaitu Pasal 225 HIR atau Pasal 259 Rbg. Kedua pasal ini mengatur eksekusi tentang putusan Pengadilan yang menghukum Tergugat untuk melakukan suatu ”perbuatan tertentu”. Di samping itu terdapat pula Pasal 180 HIR atau Pasal 191 Rbg, yang mengatur pelaksanaan putusan secara “serta merta”
(uitoverbaar bij voorraad) atau provisionally enforceable (to have immediate
42 Sudikno Mertokusumo, Op. Cit, h. 240.
43 Mochammad Dja’is, Pikiran Dasar Hukum Eksekusi, Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, Semarang, 2004, h. 12
effect), yaitu pelaksanaan putusan segera dapat dijalankan lebih dahulu meskipun putusan yang bersangkutan belum memperoleh kekuatan hukum yang tetap.
441. Menjalankan putusan yang telah berkekuatan hukum tetap.
B. Asas-Asas Eksekusi
Ada beberapa asas atau prinsip eksekusi, yaitu:
Salah satu asas yang harus diperhatikan dalam eksekusi adalah bahwa ekeskusi hanya dapat dijalankan terhadap putusan yang telah berkekuatan hukum tetap. Dalam putusan yang telah berkekuatan hukum tetap telah terkandung wujud hubungan hukum yang tetap dan pasti antara pihak yang berperkara. Karena adanya hubungan hukum yang tetap dan pasti itu maka hubungan hukum tersebut mesti ditaati dan dipenuhi oleh pihak yang dihukum.
Selama putusan belum mempunyai kekuatan hukum tetap, putusan belum dapat dijalankan. Dengan kata lain, selama putusan belum memperoleh kekuatan hukum tetap, upaya dan tindakan eksekusi belum berfungsi. Eksekusi baru berfungsi sebagai tindakan hukum yang sah dan memaksa terhitung sejak tanggal putusan memperoleh kekuatan hukum tetap dan pihak Tergugat (yang kalah) tidak mau menaati dan mematuhi putusan secara sukarela.
45Meskipun pada prinsipnya eksekusi hanya dapat dijalankan terhadap putusan yang telah berkekuatan hukum tetap, namun undang-undang memperbolehkan eksekusi terhadap putusan yang belum berkekuatan hukum tetap
44 M. Yahya Harahap, Op. Cit, h. 4.
45 Ibid, h. 8.
dalam hal-hal tertentu. Adapun bentuk pengecualian yang diatur dalam undang- undang adalah sebagai berikut:
a. Pelaksanaan putusan yang dapat dijalankan terlebih dahulu (putusan serta merta)
Pelaksanaan putusan lebih dahulu atau dikenal dengan uitvoerbaar bij voorraad merupakan salah satu pengecualian terhadap prinsip yang dibicarakan di atas.
Menurut Pasal 180 ayat (1) HIR atau Pasal 191 ayat (1) Rbg, Pengadilan dapat menjalankan eksekusi terhadap putusan Pengadilan sekalipun terhadap putusan tersebut diajukan upaya hukum perlawanan (verzet) atau banding.
Dengan kata lain, Pengadilan dapat menjalankan eksekusi terhadap putusan Pengadilan sekalipun putusan tersebut belum berkekuatan hukum tetap.
Mengenai putusan serta merta (uitvoerbaar bij voorraad) ini akan dibahas lebih rinci dalam bab berikutnya.
b. Pelaksanaan putusan provisionil
Pelaksanaan putusan provisi juga merupakan pengecualian eksekusi terhadap
putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap. Kalimat terakhir
dari Pasal 180 ayat (1) HIR atau Pasal 191 Rbg mengenal gugatan provisi
(gugatan yang didahulukan) yang bersifat sementara mendahului putusan
pokok perkara. Apabila Hakim mengabulkan gugatan provisi tersebut, maka
putusan provisi yang dijatuhkan Hakim dapat dilaksanakan (dieksekusi)
sekalipun pokok perkaranya belum diputus. Kebolehan menjalankan eksekusi
terhadap putusan provisi mendahului pemeriksaan pokok perkara diatur dalam Pasal 180 ayat (1) HIR atau Pasal 191 ayat (1) Rbg serta Pasal 54 dan 55 RV.
c. Akta Perdamaian
Akta perdamaian juga merupakan salah satu bentuk pengecualian terhadap prinsip yang dibicarakan di atas. Menurut Pasal 130 HIR atau Pasal 154 Rbg, selama persidangan berlangsung, kedua belah pihak yang berperkara dapat berdamai, baik atas anjuran Hakim maupun atas inisiatif dan kehendak kedua belah pihak. Adapun tujuan perdamaian tersebut adalah untuk mencegah timbulnya perselisihan di kemudian hari di antara para pihak, menghindari biaya yang mahal, dan untuk menghindari proses perkara yang memakan waktu lama.
Perdamaian sebagaimana dimaksud di atas dituangkan dalam akta perdamaian yang dibuat oleh Hakim. Akta perdamaian tersebut berisi penghukuman kepada para pihak dalam perkara untuk memenuhi isi akta perdamaian tersebut. Jika salah satu pihak tidak bersedia menjalankan isi akta perdamaian tersebut, maka pihak yang lain dapat mengajukan permohonan eksekusi kepada Ketua Pengadilan.
Akta perdamaian mempunyai kekuatan yang sama dengan putusan Hakim.
Oleh karena itu, eksekusi terhadap akta perdamaian dapat dijalankan layaknya eksekusi terhadap putusan Pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap.
Bahkan menurut Pasal 130 ayat (3) HIR atau Pasal 154 ayat (3) Rbg, terhadap
akta perdamaian tidak dimohonkan upaya hukum banding.
d. Eksekusi Terhadap Grosse Akta
Menurut Pasal 224 HIR atau Pasal 258 Rbg terdapat dua macam grosse akta, yaitu grosse akta pengakuan utang dan grosse akta hipotek. Yang dimaksud dengan grosse akta adalah salinan pertama dari akta autentik yang diberikan kepada kreditur. Grosse akta memiliki kepala atau irah-irah “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” sehingga dalam grosse akta dengan sendirinya melekat kekuatan eksekutorial. Kepala atau irah-irah tersebut tidak dicantumkan dalam minit (aslinya yang disimpan oleh notaris dalam arsip) maupun dalam salinan yang diberikan kepada pihak debitur.
Apabila pihak debitur tidak memenuhi pelaksanaan perjanjian secara sukarela, maka pihak kreditor dapat mengajukan permohonan eksekusi terhadap perjanjian tersebut kepada Pengadilan. Berdasarkan permohonan tersebut, Ketua Pengadilan memerintahkan pelaksanaan eksekusi terhadap grosse akta yang dimohonkan eksekusinya layaknya eksekusi terhadap putusan yang telah berkekuatan hukum tetap. Dengan demikian dapat diketahui bahwa eksekusi terhadap grosse akta, baik grosse akta hipotek maupun grosse akta pengakuan utang, juga merupakan pengecualian dari asas yang dibicarakan di atas.
2. Putusan tidak dijalankan secara sukarela
Suatu putusan Hakim tidak memiliki makna secara realistis bila tidak
dilaksanakan atau dieksekusi. Oleh karena itu putusan Hakim harus mempunyai
kekuatan eksekutorial. Dengan adanya kekuatan eksekutorial, putusan Hakim
dapat dilaksanakan secara paksa dengan melibatkan aparat negara, bila salah satu pihak tidak berkenan dieksekusi secara sukarela.
463. Putusan yang dieksekusi bersifat condemnatoir
Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa salah satu asas eksekusi adalah bahwa eksekusi hanya dapat dijalankan jika pihak yang kalah dalam suatu perkara tidak berkenan menjalankan isi putusan tersebut secara sukarela. Dalam hal pihak yang kalah bersedia menaati dan menjalankan putusan secara sukarela, maka tindakan paksa berupa eksekusi tidak diperlukan karena isi putusan tersebut telah dipenuhi sendiri dengan sempurna. Namun jika pihak yang kalah tidak bersedia melaksanakan isi putusan secara sukarela, maka pihak yang menang dapat mengajukan permohonan eksekusi kepada Ketua Pengadilan. Dengan kata lain, eksekusi baru menjadi pilihan hukum jika pihak yang kalah tidak berkenan melaksanakan isi putusan secara sukarela.
Asas eksekusi berikutnya adalah bahwa hanya putusan yang bersifat condemnatoir yang dapat dieksekusi. Putusan yang bersifat condemnatoir adalah putusan yang mengandung tindakan “penghukuman” terhadap diri Tergugat.
Mengenai ciri putusan condemnatoir, di dalamnya tercantum amar atau diktum yang berisi kalimat:
47a. menghukum untuk membayar, menyerahkan, membongkar, membagi, dan sebagainya ; atau
b. memerintahkan untuk membayar, menyerahkan, membongkar, membagi, dan sebagainya.
46 M. Nasir, Loc. Cit.
47 M. Yahya Harahap, Op. Cit, h. 879.
R. Soeparmono mengatakan bahwa hanya putusan yang bersifat condemnatoir yang dilaksanakan secara paksa, sedang yang bersifat declaratoir dan constitutief tidak perlu sarana ada upaya paksa, karena tidak memuat hak-hak atas suatu prestasi tertentu.
48Sedangkan, akibat hukum dari putusan Pengadilan yang bersifat declaratoir dan constitutief terjadi dengan sendirinya pada saat putusan tersebut diucapkan oleh Hakim dalam persidangan. Misalnya, Hakim dalam putusannya menyatakan bahwa perjanjian jual beli antara Penggugat dan Tergugat adalah sah di mata hukum. Dalam hal ini, hubungan jual beli tersebut menjadi sah pada saat putusan dibacakan. Jadi, terhadap putusan tersebut tidak diperlukan tindakan eksekusi karena akibat hukum dari putusan tersebut telah terjadi dengan sendirinya pada saat putusan tersebut diucapkan. Dengan kata lain, akibat hukum atau pelaksanaan putusan tersebut tidak memerlukan bantuan pihak lawan yang dikalahkan sehingga tidak memerlukan tindakan eksekusi.
Akibat hukum dari putusan Pengadilan yang bersifat condemnatoir tidak dengan sendirinya terjadi pada saat pembacaan putusan oleh Hakim. Pelaksanaan dari isi putusan tersebut membutuhkan bantuan pihak lawan. Misalnya, Hakim dalam putusannya menghukum Tergugat untuk menyerahkan sebidang tanah kepada Penggugat . Dalam hal ini, isi putusan baru terlaksana jika Tergugat secara nyata menyerahkan sebidang tanah yang dimaksud kepada Penggugat. Jika Tergugat tidak bersedia menyerahkan sebidang tanah tersebut, maka diperlukan tindakan eksekusi.
48 R. Soeparmono, Hukum Acara Perdata dan Yurisprudensi, Mandar Maju, Bandung, 2005, h. 195.
4. Eksekusi atas perintah dan di bawah pimpinan Ketua Pengadilan Negeri Eksekusi harus dijalankan atas perintah dan di bawah pimpinan Ketua Pengadilan Negeri. Ketua Pengadilan Negeri yang dimaksud adalah Ketua Pengadilan Negeri yang dulu memeriksa dan memutuskan perkara tersebut pada tingkat pertama.
Asas ini diatur dalam Pasal 195 ayat (1) HIR atau Pasal 206 ayat (1) Rbg yang berbunyi sebagai berikut:
“Tentang menjalankan putusan dalam perkara yang ada pada tingkat pertama diperiksa oleh Pengadilan Negeri adalah atas perintah dan dengan pimpinan Ketua Pengadilan Negeri yang pada tingkat pertama memeriksa perkara itu menurut cara yang diatur dalam pasal-pasal berikut ini.”
Dari pasal tersebut diketahui bahwa wewenang memerintahkan dan memimpin jalannya eksekusi ada di tangan Ketua Pengadilan Negeri. Yahya Harahap memberi gambaran konstruksi hukum kewenangan Ketua Pengadilan Negeri dalam menjalankan eksekusi sebagai berikut:
49a. Ketua Pengadilan Negeri memerintahkan dan memimpin jalannya eksekusi ; b. kewenangan memerintahkan dan memimpin eksekusi yang ada pada Ketua
Pengadilan Negeri adalah secara ex officio ;
c. perintah eksekusi dikeluarkan Ketua Pengadilan Negeri berbentuk ”surat penetapan” (beschikking) atau decree (order) ;
d. yang diperintahkan menjalankan eksekusi ialah Panitera atau Jurusita Pengadilan Negeri.
49 M. Yahya Harahap, Op. Cit, h. 21
Dari apa yang di sebut di atas dapat dilihat bahwa Ketua Pengadilan Negeri memerintahkan Panitera atau Jurusita Pengadilan Negeri untuk menjalankan eksekusi melalui surat penetapan. Melalui surat penetapan tersebut, Ketua Pengadilan Negeri melimpahkan perintah menjalankan eksekusi kepada Panitera atau Jurusita Pengadilan Negeri. Meskipun demikian, jalannya eksekusi tetap berada di bawah pimpinan Ketua Pengadilan Negeri. Artinya, meskipun eksekusi secara nyata dijalankan oleh Panitera atau Jurusita Pengadilan Negeri, namun Ketua Pengadilan Negeri tetap bertanggung jawab atas eksekusi tersebut.
Jika terdapat penyimpangan atau penyelewengan eksekusi yang dilakukan oleh Panitera atau Jurusita Pengadilan Negeri, Ketua Pengadilan Negeri tetap bertanggung jawab karena Ketua Pengadilan Negeri adalah pimpinan eksekusi.
Dengan demikian, Ketua Pengadilan Negeri tidak dapat melempar tanggung jawab atas eksekusi kepada Panitera atau Jurusita Pengadilan Negeri.
5. Eksekusi harus sesuai dengan amar putusan
Asas eksekusi yang terakhir adalah bahwa eksekusi harus sesuai dengan amar putusan. Amar putusan merupakan landasan eksekusi. Eksekusi yang hendak dijalankan Pengadilan tidak boleh menyimpang dari amar putusan. Asas ini merupakan patokan yang harus ditaati supaya eksekusi yang dijalankan tidak melampaui batas kewenangan.
Jika eksekusi dijalankan dengan tidak merujuk pada amar putusan, maka
dapat terjadi kesewenangan dan pemerkosaan terhadap para pihak. Kesewenangan
dan pemerkosaan hak yang dimaksud dapat terjadi pada pihak Termohon
Eksekusi. Misalnya, eksekusi dilakukan terhadap semua harta kekayaan
Termohon eksekusi, padahal dalam amar putusan ditentukan bahwa hanya sebagian saja dari harta kekayaan tersebut yang seharusnya dieksekusi. Hal ini tentu merugikan Termohon eksekusi karena harta kekayaan yang seharusnya tidak dieksekusi ikut dieksekusi oleh pelaksana eksekusi. Disisi lain, eksekusi yang tidak sesuai dengan amar putusan juga bisa merugikan Pemohon eksekusi.
Misalnya, yang dieksekusi kurang dari apa yang ditentukan dalam amar putusan.
C. Jenis-Jenis Eksekusi
Ditinjau dari segi sasaran yang hendak dicapai oleh hubungan hukum yang tercantum dalam putusan Pengadilan, eksekusi dapat dibedakan dalam dua jenis, yaitu:
1. Eksekusi riil, yaitu eksekusi yang dilaksanakan secara nyata (riil) seperti menyerahkan sesuatu barang, mengosongkan sebidang tanah atau rumah, melakukan suatu perbuatan tertentu, serta menghentikan suatu perbuatan atau keadaan. Jadi dalam eksekusi riil ini, sasaran hubungan hukum yang hendak dipenuhi sesuai dengan amar atau diktum putusan adalah untuk melakukan suatu tindakan nyata (riil).
2. Eksekusi pembayaran sejumlah uang yaitu eksekusi yang menghukum pihak yang dikalahkan untuk membayar sejumlah uang.
Sudikno Mertokusumo membagi jenis eksekusi dalam tiga kelompok, yaitu:
5050 Sudikno Mertokusumo, Op. Cit, h. 248.
1. Eksekusi putusan yang menghukum pihak yang dikalahkan untuk membayar sejumlah uang. Prestasi yang diwajibkan adalah pembayaran sejumlah uang.
Eksekusi ini diatur dalam Pasal 196 HIR dan Pasal 208 Rbg.
2. Eksekusi putusan yang menghukum orang untuk melakukan suatu perbuatan.
Hal ini diatur dalam Pasal 225 HIR dan Pasal 259 Rbg. Orang tidak dapat dipaksakan untuk memenuhi prestasi yang berupa perbuatan. Akan tetapi pihak yang dimenangkan dapat minta kepada Hakim agar kepentingan yang diperolehnya dinilai dengan uang.
3. Eksekusi riil. Eksekusi riil merupakan pelaksanaan prestasi yang dibebankan kepada debitur oleh putusan Hakim secara langsung. Jadi eksekusi riil itu adalah pelaksanaan putusan yang menuju kepada hasil yang sama seperti apabila dilaksanakan secara sukarela oleh pihak yang bersangkutan. Dengan eksekusi riil, maka yang berhaklah yang menerima prestasi.
Menurut Yahya Harahap, eksekusi melakukan sesuatu pada dasarnya sama dengan eksekusi riil.
5151 M. Yahya Harahap, Op. Cit, h. 23.
Karena itu dapat dikatakan hampir tidak ada perbedaan antara pembagian eksekusi sebagaimana telah disebut diatas dengan pembagian eksekusi menurut Sudikno Mertokusumo.
Sejalan dengan pendapat tersebut, maka cukuplah dibahas mengenai eksekusi riil dan eksekusi pembayaran sejumlah uang.Seperti yang telah disebutkan di atas, eksekusi riil adalah eksekusi yang
dilaksanakan secara nyata (riil) seperti menyerahkan sesuatu barang,
mengosongkan sebidang tanah atau rumah, melakukan suatu perbuatan tertentu,
serta mengehentikan suatu perbuatan atau keadaan.
Penghukuman menyerahkan sesuatu barang merupakan bentuk eksekusi riil karena tindakan hukuman menyerahkan barang tersebut dilakukan dari pihak Tergugat kepada Penggugat secara langsung tanpa mengubah bentuk dan keadaan barang.
Penghukuman pengosongan sebidang tanah atau rumah juga merupakan bentuk eksekusi riil karena Tergugat secara nyata dan langsung harus mengosongkan dan meninggalkan tanah atau rumah tersebut untuk kemudian ditempati dan dikuasai oleh pihak Penggugat.
Penghukuman melakukan suatu perbuatan pada hakikatnya merupakan bentuk eksekusi riil karena Tergugat secara nyata harus melaksanakan perbuatan tersebut. Hanya saja, penghukuman ini ada kalanya dapat dinilai dengan uang tunai sebagaimana diatur dalam Pasal 225 HIR atau Pasal 259 Rbg.
52Eksekusi pembayaran sejumlah uang adalah eksekusi yang menghukum pihak yang dikalahkan untuk membayar sejumlah uang. Eksekusi ini berbeda Jika penghukuman tersebut kemudian dinilai dengan uang tunai, maka eksekusi yang semula berbentuk eksekusi riil berubah menjadi eksekusi sejumlah uang.
Sementara itu, penghukuman berupa menghentikan sesuatu perbuatan juga merupakan bentuk eksekusi riil karena Tergugat harus menghentikan perbuatan tersebut secara langsung dan nyata. Misalnya Tergugat dihukum untuk menghentikan penggalian atas tanah terperkara. Dalam hal ini, Tergugat secara langsung dan nyata harus menghentikan penggalian di atas tanah terperkara.
52 Menurut Pasal 225 HIR atau Pasal 259 Rbg, apabila seoarang yang dihukum melakukan suatu perbuatan tertentu tidak melakukan perbuatan tersebut dalam jangka waktu yang ditentukan oleh Hakim, maka pihak Penggugat dapat meminta kepada Ketua Pengadilan Negeri supaya pemenuhan putusan tersebut dinilai dengan sejumlah uang.
dengan eksekusi riil. Berikut akan dijelaskan tiga perbedaan antara eksekusi riil dengan eksekusi pembayaran sejumlah uang.
1. Eksekusi riil mudah dan sederhana, sedang eksekusi pembayaran uang memerlukan tahap sita eksekusi dan penjualan eksekusi.
Eksekusi riil pada dasarnya sangat mudah dan sederhana secara teoritis.
53Karena prosedurnya yang mudah dan sederhana, eksekusi riil ini tidak diatur secara rinci dalam undang-undang. Eksekusi riil ini tidak diatur secara baik dalam HIR, tetapi sudah lazim dilakukan karena dalam praktek sangat diperlukan keberadaannya.
Sebagai contoh, eksekusi putusan yang dalam amarnya memuat penghukuman pengosongan tanah dilakukan dengan mudah yaitu dengan jalan memaksa Tergugat untuk keluar meninggalkan tanah tersebut.
Dalam eksekusi riil, Ketua Pengadilan Negeri cukup mengeluarkan surat penetapan yang berisi perintah kepada Panitera atau Jurusita Pengadilan untuk melaksanakan eksekusi. Berdasarkan surat penetapan tersebut, Panitera atau Jurusita yang ditunjuk pergi ke lapangan untuk melaksanakan eksekusi secara nyata.
54
53 Meskipun secara teoritis eksekusi riil sifatnya mudah dan sederhana, bukan berarti terlepas sama sekali dari berbagai masalah. Banyak kesulitan dan hambatan yang dijumpai dalam praktik, sebagaimana halnya yang dalam eksekusi pembayaran sejumlah uang.
54 M. Nur Rasaid, Hukum Acara Perdata, Sinar Grafika, Jakarta, 1999, h. 59.
Jika diperhatikan, ketentuan menjalankan putusan yang diatur
dalam Pasal 195 sampai 208 HIR atau Pasal 206 Rbg sampai Pasal 240 Rbg,
adalah aturan tata tertib eksekusi pembayaran sejumlah uang. Di situ diatur tata
cara, mulai dari somasi (peringatan), executoriaal beslag, pengumuman lelang, dan penjualan lelang (executoriaal verkoop, sale under execution).
55a. melalui tahap proses executoriaal beslag ; dan
Berbeda halnya dengan eksekusi rill yang mudah dan sederhana, eksekusi pembayaran sejumlah uang pada dasarnya tidak semudah dan sesederhana eksekusi riil. Eksekusi pembayaran sejumlah uang memerlukan syarat dan tata cara yang tertib dan terperinci, agar jangan sampai merugikan pihak Tergugat maupun kepentingan pihak Penggugat. Dalam praktik, eksekusi pembayaran sejumlah uang pada umumnya dilakukan melalui proses penjualan lelang terhadap harta benda kekayaan Tergugat. Karena itu, diperlukan tata cara yang cermat yang secara garis besar dilakukan melalui dua tahap, yaitu:
b. dilanjutkan dengan penjualan lelang yang melibatkan jawatan lelang.
2. Eksekusi riil terbatas putusan Pengadilan, sedang eksekusi pembayaran uang meliputi akta yang disamakan dengan putusan Pengadilan.
Eksekusi riil hanya mungkin terjadi dan diterapkan berdasarkan putusan Pengadilan yang:
56a. telah memperoleh kekuatan hukum tetap (res judicata) ;
b. bersifat dijalankan terlebih dahulu (uitvoerbaar bij voorraad, provisionally enforceable) ;
c. berbentuk provisi (interlocutory injunction) ; d. berbentuk akta perdamaian di sidang Pengadilan.
55 M. Yahya Harahap, Op. Cit, h. 26.
56 Ibid.
Sedangkan eksekusi pembayaran sejumlah uang tidak hanya didasarkan atas putusan Pengadilan, tetapi dapat juga didasarkan atas bentuk akta tertentu yang oleh undang-undang disamakan nilainya dengan putusan yang memperoleh kekuatan hukum tetap antara lain terdiri dari:
57a. grosse akta pengakuan utang ; b. grosse akta hipotek ;
c. crediet verband ; d. hak tanggungan ; e. jaminan fidusia.
Eksekusi riil tidak mungkin dilaksanakan terhadap grosse akta. Sebab grosse akta pengakuan utang, hipotek, hak tanggungan, dan jaminan fidusia adalah ikatan hubungan hukum utang-piutang yang mesti diselesaikan dengan jalan pembayaran sejumlah uang. Jadi, bentuk kelahiran terjadinya grosse akta itu sendiri sudah menggolongkannya kepada bentuk eksekusi pembayaran sejumlah uang.
583. Sumber hubungan hukum yang disengketakan.
Sumber hubungan hukum yang disengketakan antara eksekusi riil dengan eksekusi pembayaran sejumlah uang adalah berbeda satu sama lain. Sumber hubungan hukum dalam eksekusi riil pada umumnya adalah persengketaan hak milik atau persengketaan hubungan hukum yang didasarkan atas perjanjian jual beli, sewa menyewa, atau perjanjian melaksanakan suatu perbuatan. Sedangkan sumber hubungan hukum yang disengketakan dalam eksekusi pembayaran
57 Ibid.
58 Ibid, h. 26-27.