• Tidak ada hasil yang ditemukan

Putusan Tingkat Kasasi Terhadap Perkara Nomor 1022 K/Pdt.Sus-PHI/2016

B. Hasil Penelitian

2. Putusan Tingkat Kasasi Terhadap Perkara Nomor 1022 K/Pdt.Sus-PHI/2016

a. Kasus Posisi

Mahkamah Agung memeriksa perkara perdata khusus perselisihan hubungan industrial antara PT. Blue Sea Industry Pekalongan yang mewakilkan kuasa kepada H. Arif N.S., S.H.,M.H sebagai pemohon kasasi yang dahulu tergugat, melawan para termohon kasasi yang dahuu penggugat antara lain; Tri Mulyanto, Slamet Rahyono, M. Arifudin, Irfan Dwi Mahendra, dan Roni Indrajaya memberi kuasa kepada M.A. Tholib ketua DPC PPMI (Dewan Pengurus Cabang Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia).

Para termohon kasasi dahulu sebagai para penggugat telah mengajukan gugatan terhadap permohon kasasi dahulu tergugat pada pengadilan hubungan industial Pengadilan Negeri Semarang yang pada pokoknya

53 adalah sebagai berikut, bahwa para penggugat merupakan karyawan tetap yang bekerja pada tergugat. Bahwa para penggugat dengan surat gugatan tanggal 28 Maret 2016 telah melampirkan Risalah Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial melalui mediasi tanggal 19 Januari 2015, 26 Januari 2015, 30 januari 2015 dan 3 Maret 2015 yang dilakukan oleh Mediator Hubungan Industrial Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Pekalongan pada tanggal 9 April 2015 mengajukan gugatan dengan No Registrasi 17/Pdt.Sus-PHI/G/2016/PN.Smg kepada Pengadilan Negeri Semarang. Dengan pokok gugatan adalah bahwa para penggugat pada tanggal 5 November 2014 mengajukan tuntutan hak-hak normatif kepada tergugat karena sampai dengan tanggal 5 November 2014 tidak ada kesepakatan. Oleh karena itu para penggugat melakukan aksi kogok kerja dengan resmi melalui prosedur hukum yang berlaku. Para tanggal 8 November 2014 diadakan perundingan yang menghasilkan kesepakatan Perjanjian Bersama (PB) antara penggugat dan tergugat. Kemudian pada tanggal 3 Januari 2015 para penggugat menanyakan realisasi Perjanjian Bersama yang telah disepakati oleh para pihak pada tanggal 8 November 2014. Namun pihak tergugat tidak bisa memenuhi permintaan para penggugat tersebut. Bahwa selanjutnya pada tanggal 6 Januari 2015 ada lembaran pengumuman yang ditempelkan di perusahaan berisi tentang PHK 22 orang pekerja/buruh yang dalam hal ini termasuk para penggugat. Para penggugat untuk kemudian mengajukan surat kepada tergugat yang berisi tntang permintaan perundingan bipartit, namun pihak

54 tergugat melalui surat menjawab tidak bisa memenuhi permintaan berunding.

Atas sikap yang di tunjukkan tergugat maka para penggugat melakukan aksi unjuk rasa, namun pihak tergugat melakukan PHK kembali terhadap beberapa orang lainnya, yang kemudian jumlah pekerja/buruh yang di PHK sebanyak 41 orang yang semuanya adalah anggota PPA.PPMI PT.Blue Sea Industry. Bahwa pemutusan hubungan kerja (PHK) secara sepihak yang dilakukan tergugat terhadap penggugat jelas bertentangan dengan ketentuan Pasal 151 Undang-undang No.13 Tahun 2003. Para penggugat telah pula mengupayakan perundingan dengan tergugat atas PHK sepihak tersebut, namun terguguat tidak beritikad baik untuk mengupayakan penyelesaian perselisihan PHK secara damai dan kekeluargaan. Pihak penggugat telah pula mengajukan Permohonan Perselisihan Hubungan Industrial pada Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Pekalongan, yang mana tidak mencapai kesepakatan antara penggugat dan tergugat.

Atas hasil Permohonan Perselisihan Hubungan Industrial yang tidak mencapai kesepakatan maka Mediator menganjurkan kepada pihak tergugat PT.Blue Sea Industry untuk memberikan kepada sebagian pekerja/buruh berupa pesangon sesuai dengan ketentuan Pasal 156 ayat (2), ayat (3) dan ayat (4) dengan keseluruhan sebesar Rp 218.626.645,-. Dan agar PT.Blue Sea Industry memberikan uang tali asih kepada sebagian pekerja/buruh lainnya masing-masing sebesar Rp 28.402.000,-.

55 Bahwa atas anjuran tersebut para penggugat dalam gugatan ini yang berjumlah 5 orang menyatakan tidak menerima anjuran tersebut, maka penggugat mengajukan gugatan a quo melalui Pengadilan Negeri Semarang guna mendapatkan penyelesaian dan kepastian hukum sebagaimana diatur dalam Pasal 14 juncto Pasal 13 ayat (2) huruf a Undang-undang No.2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisian Hubungan Industrial. Bahwa para penggugat telah di PHK oleh tergugat karena memperjuangkan hak-hak pekerja, maka hak-hak normatif yang harus di dapat para penggugat adalah sebesar 2 kali uang pesangon, 2 kali uang penghargaan masa kerja, dan 2 kali uang penggantian hak.

b. Dalam Rekonvensi

1) Bahwa yang telah tercantum dalam eksepsi dan dalam pokok perkara mohon secara mutatis mutandis tercantum kembali dalam rekonvensi.

2) Pada tanggal 20 Oktober 2014 Persaudaraan Pekerja Anggota Serikat Pekerja PT. Blue Sea Industry telah mengirim surat kepadatergugat perihal tuntutan pekerja dan mogok kerja.

3) Bahwa pada tanggal 3 November 2014 telah dilakukan mediasi antara PT. Blue Sea Industry dengan perwakilan PPA PPMI dengan difasilitasi Dinas Sosial Tenaga kerja dan Transmigrasi kota Pekalongan disepakati bahwa tidak akan mogok kerja.

4) Selanjutnya pada tanggal 4 November 2014 pihak manajemen kembali menghubungi DPC PPMI kota Pekalongan yang mana dari komunikasi tersebut ketua PPMI menjamin bahwa pada tanggal 5

56 November 2014 pekerja tidak akan melakukan mogok kerja maka manajemen melakukan order bahan baku ikan.

5) Bahwa pada tanggal 5 November 2014 para pekerja mogok kerja pekerja ditinggal begitu saja sehingga ikan mengalami pembusukan, dan akhirnya manajemen mengeluarkan dana ekstra untuk membersihkan ikan yang busuk dari dalam mesin. Sehingga jelas para terugat rekonvensi terbukti melakukan kesalahan berat berdasarkan Pasal 7 ayat (9) huruf a sampai huruf l Surat Perjanjian Kerja dan berdasarkan Pasal 158 ayat (1) huruf f dan g Undang-undang No.13 Tahun 2003.

6) Bahwa akibat ulah dan tindakan para pekerja perusahaan mengalami kerugian kurang lebih Rp 400.000.000,-.

7) Bahwa oleh karenanya cukup berdasar dan beralasan hukum apabila para penggugat dalam konvensi/para tergugat rekonvensi dihukum untuk mengganti kerugian PT. Blue Sea Industry.

c. Pertimbangan Majelis Hakim Mahkamah Agung Nomor 1022 K/Pdr.Sus-PHI/2016

Bahwa dari keberatan kasasi tersebut tidak dapat dibenarkan oleh karena setelah meneliti secara seksama memori kasasi tanggal 10 Oktober 2016 dan kontra memori kasasi tanggal 17 Oktober 2016 dihubungkan dengan Judex Facti, Pengadilan hubungan industrial Pengadilan Negeri Semarang tidak salah dengan menerapkan hukum dengan pertimbangan berikut:

57 • Bahwa gugatan para termohon kasasi bukan alasan pemutusan hubungan kerja sebagaimana dalam Pasal 171 Undang-undang No.13 Tahun 2003 juncto Pasal 82 Undang-undang No.2 Tahun 2004 yang kadaluarsa paling lama 1 tahun sejak adanya pemutusan hubungan kerja, melainkan akibat dari perjanjian bersama tanggal 8 November 2014 yang tidak dilaksanakan.

• Bahwa namun demikian upah proses dari Januari 2015 sampai putusan berkekuatan hukum tetap harus diperbaiki karena bertentangan dengan Surat Edaran Mahkamah Agung No.3 Tahun 2015 sehingga upah proses adalah 6 bulan upah.

Bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut diatas ternyata bahwa putusan pengadilan hubungan industrial pada Pengadilan Negeri Semarang dalam perkara ini tidak bertentangan dengan hukum dan/atau undang-undang, sehingga permohonan kasasi yang diajukan pemohon kasasi PT. Blue Sea Industry tersebut harus ditolak dengan perbaikan amar putusan. Dengan ini mengadili untuk menolak permohonan kasasi dari pemohon kasasi PT. Blue Sea Industry.

Jika mengacu pada Surat Edaran Mahkamah Agung No.3 Tahun 2015 maka hak-hak normatif yang harus di dapat para penggugat konvensi berupa penggantian hak atas upah proses selama penyelesaian perselisihan adalah sebagai berikut:

i. Upah Proses Penggugat I

6 bulan x upah sebulan = 6 x Rp 1.578.000,- = Rp 9.468.000,- ii. Upah Proses Penggugat II

58 6 bulan x upah sebulan = 6 x Rp 1.665.000,- = Rp 9.990.000,- iii. Upah Proses Penggugat III

6 bulan x upah sebulan = 6 x Rp 1.560.000,- = Rp 9.360.000,- iv. Upah Proses Penggugat IV

6 bulan x upah sebulan = 6 x Rp 1.578.000,- = Rp 9.468.000,- v. Upah Proses Penggugat V

6 bulan x upah sebulan = 6 x Rp 1.560.000,- = Rp 9.360.000,-

Dalam Pokok Perkara

1) Mengabulkan gugatan penggugat konvensi seluruhnya.

2) Menyatakan hubungan kerja antara para penggugat dan tergugat telah berakhir/putus sejak putusan diucapkan.

3) Menghukum tergugat untuk membayar hak PHK para penggugat sebesar Rp 120.745.209,-.

4) Menghukum tergugat untuk membayar upah roses kepada para penggugat masing-masing 6 bulan upah dengan jumlah sebesar Rp 47.646.000,-

5) Menghukum tergugat untuk membayar tunjangan hari raya tahun 2015 dan 2016 kepada para penggugat sebesar Rp 15.882.000,-.

59

B. Analisis

Penerapan Asas Keadilan, Kemanfaatan, dan Kepastian Hukum