HASIL PENELITIAN
A. NILAI-NILAI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM Q.S AN-NISA’ AYAT 36
1. AL-Quran Surat An-Nisa’ ayat 36
Artinya: Sembahlah Allah SWT janganlah kamu menyekutukannya dengan sesuatupun, danberbuat baiklah kepada kedua orang tuamu, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu.sesungguhnya Allah SWTtidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri (Q.S.An-Nisa‟:36)63
2. Nilai-nilai Pendidikan Agama Islam dalam Q.S An-Nisa’ ayat 36 menurut Tafsir Al-Mishbah, Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Al-Maraghi
Nilai-nilai pendidikan agama islam yang terkandung dalam Q.S An-Nisa‟
ayat 36 adalah:
a.) Nilai pendidikan aqidah
Nilai aqidah merupakan nilai yang berhubungan antara individu dengan tuhannya yang didalamnya terdapat nilai-nilai ketuhanan. Kemudian
63Q.S An-Nisa‟: 36
54
penjelasan Tafsir Al-Mishbah, Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Al-Maraghi tentang nilai pendidikan aqidah adalah sebagai berikut:
1.) Menurut Tafsir Al-Mishbah
Al-Biqa‟I menilai ayat ini sebagai penekanan terhadap tuntunan dan bimbingan terhadap ayat-ayat yang lalu. Dia menulis bahwa cukup banyak nasehat yang dikandung surat ini sejak awak, yang kesemuanya mengarahkan kepada ketakwaan, keutamaan, serta anjuran meraih kebajikan dan ancaman mengabaikannya. Ia diakhiri dengan petunjuk tentang kehidupan rumah tangga, yang ditutup dengan penutup yang sangat indah, yaitu dua sifat allah SWT al-„Alim dan al-Khair . penutup ini sama maknanya dengan penutup ayat pertama yang memerintahkan takwa kepada allah yang menciptakan manusia dari satu jiwa dan menciptakan pasangannya, dan penutupnya adalah “sesungguhnya allah maha pengawas atas kamu.”
Maka menjadi sangat wajar jika nasehat pertama pada awal surat itu diulangi lagi disini untuk memulai petunjuk-petunjuk baru. Nasehat tersebut tidak hanya ditujukan kepada orang-orang muknin, maka ayat ini tidak dimulai dengan memanggil mereka. Ayat ini juga ditujukan kepada semua manusia walaupun dalam ayat ini tidak disebutkan, karena pada ayat pertama surat ini telah disebutkan yaitu”wahai sekalian manusia, sembahlah allah yang maha esa dan menciptakan kamu serta pasangan
55
kamu, dan janganlah kamu mempersekutukannya dengan sesuatupun selainnya, serta jangan juga mempersekutukannya dengan sedikit persekutuanpun.64
2.) Menurut Tafir Ibnu-Katsir
Imam ibnu katsir menjelaskan bahwa Allah swt memerintahkan untuk beribadah hanya kepadanya yang tidak ada sekutu baginya, sebab dialah yang pencipta, pemberi rezeki, pemberi nikmat dan pemberi karunia terhadap makhluknya didalam seluruh keadaan. Maka dialah yang berhak agar mereka mengesakan dan tidak menyekutukannya dengan sesuatupun dengan makhluknya, sebagai mana sabda nabi saw kepada Mu‟azd Bin Jabal: “tahuka hengkau apa hak allah atas hambanya? Mu‟azd menjawab allah dan rasulnya yang tahu, kemudian rasulullah saw bersabda hendaknya mereka beribadah hanya kepadanya dan tidak menyekutukannya dengan sesuatupun, kemudian rasulullah saw bertanya lagi, tahukah engkau apa hak hamba atas allah jika mereka melakukannya? Rasulullah saw menjawab yaitu dia tidak akan mengazab mereka.” 65
3. Menurut Tafsir Al-Maraghi
64 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah (Lentera Hati, Jakarta:2002), Hal. 435-4376
65 Dr. Abdullah Bin Muhammad Bin Abdurrahman Bin Ishaq Alu Syaikh, Tafsir Ibnu Katsir jilid 2, (Jakarta: Pustaka Imam Syafi‟I, 2008) Hal. 303
56
Dalam tafsir al-maraghi dijelaskan bahwa Beribadah kepada allah swt ialah tunduk kepadanya menetapkan kewibawaan dan keagungannya didalam jiwa, takhluk kepada kekuaannya diwaktu sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, mengerjakan apa yang diperintahkannya dan meninggalkan apa yang dilarangnya, dengan demikian seluruh amal baik berupa perkataan maupun perbuatan akan menjadi baik. Ibadah ialah ketaklukan kepada suatu kekuatan gaib di balik sebab-sebab yang kita ketahui , yang kebaikannya kita harapkan dan kejahatannya ditakuti.
Kekuasaan ini tidak lain adalah milik allah. Oleh karena itu selain Dia tidak ada yang diharapkan dan ditakuti. Barangsiapa berkeyakinan bahwa selain dia bersekutu dengannya dia dalam kekuasaan itu, berarti orang itu telah menyekutukannya. Jika allah swt melarang mempersekutukan sesuatu dengannya, maka larangan mengingkari adanya dan ketuhanan lebih utama, kemudian macam-macam syirik adalah:
a. syirik yang dilakukan oleh kaum musyrikin arab berupa menyembah berhala-berhala dengan menjadikan mereka sebagai para penolong dan member syafaat disisi allah. Dengan berhala-berhala itu mereka mendekatkan diri dan menunaikan hajat disisi allah swt. Syirik seperti ini banyak disebut didalam ayat-ayat, seperti didalam firman allah dalam QS. Yunus: 18:
57
Artinya: dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: "Mereka itu adalah pemberi syafa'at kepada Kami di sisi Allah". Katakanlah: "Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi?"Maha suci Allah dan Maha Tinggi dan apa yang mereka mempersekutukan (itu). (Q.S Yunus: 18)66
b. syirik yang dilakukan oleh orang-orang nasrani yaitu menyembah Isa al-masih as allah swt berfirman daLam QS. At-Taubah: 31.
Artinya: Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah[639] dan (juga mereka mempertuhankan) Al masih putera Maryam, Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak
58
Macam syirik yang paling kuat adalah apa yang dinamakan allah dengan doa dan istisyfa‟ (permohonan syafaat )yaitu menjadikan selain allah sebagai perantara antara dia dengan allah. Orang seperti ini tidak akan dapat mengambil manfaat dari sholat, saum dan ibadah apapun yang dilakukannya. Syirik seperti ini sudah tersebar luas dikalangan kaum muslimin. Mereka memohon syafaat dan berkata ya syaikhal arab, ya sayyid al badawi, ya sayyidi Ibrahim ad-dasuqyi, dan lain sebagainya. Orang-orang yang melakukan syirik seperti itu mengemukakan alasan, alasan yang paling puncak mereka mengubah syirik jalili (yang jelas) menjadi syirik yang kurang jelas. Akan tetapi walau bagaimanapun ia tetap syirik.68
Dari penjelasan ketiga tafsir tersebut dapat kita uraikan nilai pendidikan aqidah dalam ayat tersebut adalah seperti:
1.) Perintah untuk menyembah hanya kepada allah
Seperti yang disampaikan dalam tafsir al-mishbah bahwa ayat ini tidak hanya ditujukan kepada orang-orang mukmin saja tetapi juga ditujukan kepada seluruh manusia untuk menyembah hanya kepada allah swt. Kemudian hal yang sama juga disampaikan dalam tafsir ibnu katsir bahwa allah swt memerintahkan kita untuk menyembah hanya kepada
68 Ahmad Mushthafa Al-Maraghi, Terjemah Tafsir Al-Maraghi juz V, (Semarang: PT. Karya Toha Putra Semarang, 1993), Hal. 52-53
59
allah swt, karena allah telah maha pencipta, memberi rezki, pemberi nikmat dan pemberi karunia bagi seluruh makhluknya.
2.) Larangan menyekutukan allah SWT
Kemudian nilai aqidah selanjutnya adalah larangan menyekutukan allah SWT atau perbuatan syirik, seperti yang dijelaskan dalam tafsir al-maraghi yaitu Barangsiapa berkeyakinan bahwa selain dia bersekutu dengannya dia dalam kekuasaan itu, berarti orang itu telah menyekutukannya
b.) Nilai pendidikan amaliyah
Nilai amaliyah terdiri dari 2 hal, yaitu nilai yang berhubungan dengan rukun islam seperti syahadat, sholat zakat, puasadan nilai yang berhubungan dengan sesama manusia seperti muamalah. seperti yang disampaikan dalam tafsir al-mishbah, tafsir ibnu katsir dan tafsir al-maraghi sebagai berikut:
1.) Tafsir Al-Mishbah
Menurut tafsir ibnu katsir nilai pendidikan amaliyah dalam ayat ini adalah melakukan ibadah karena bentuk dari menyembah allah itu adalah melakukan ibadah. Ibadah sebagaimana dikemukakan ketika menafsirkan alfatihah bukan hany sekedar ketaatan dan ketundukan tetapi suatu bentuk ketundukan dan ketaatan yang mencapai puncdaknya karena adanya rasa keagungan dalam jiwa seseorang terhadap siapa yang kepadanya dia mengabdi, serta sebagai dampak dari keyakinan bahwa pengabdian itu
60
tertuju kepada yang memiliki kekuasaan yang arti hakikatnya tidak terjangkau, begitu lebih kurang yang ditulis oleh Muhammad Abduh.
Perintah beribadah dalam ayat ini bukan hanya ibadah ritual atau juga yang dikenal dengan ibadah mahdhah, yaitu ibadah yang cara, kadar, waktunya telah ditentukan oleh allah swt. Atau rasul, seperti sholat, zakat, puasa dan haji, tetapi mencakup segala macam aktivitas yang hendaknya dilakukan demi karena allah swt. Ibadah yang dimaksud adalah perwujudan dari perintahnya,
Artinya: “katakanlah, sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk allah swt, tuhan semesta alam” (QS. Al-An-„Am:
162).69
Sementara ulama memahami perintah ibadah dalam ayat ini adalah tauhid praktis, dimana amal-amal kebajnikan merupakan buah dari keyakinan kalbu atas keesaan allah swt. Buktinya kata penganut poendapat ini adalah, penutup ayat ini menyatakan bahwa, “sesungguhnya allah tidak menyukai orang-orang yang sombong membangga-banggakan diri, yang kemudian dilanjutkan oleh ayat berikut yang menjelaskan bahwa mereka itu adalah kikir, dan bila menafkahklan hartanya ia pamrih. Maka mereka ituylah yang mempersekutukan allah dan karena itu pula mereka dikecam
69QS. Al-An-„Am: 162
61
oleh ayat selanjutnya yang menyatakan, “apakah rugi bagi mereka seandaionya mereka beriman kepada allah swt dan hari kemudian dan menafkahkan sebagian reski yang telah diberikan allah kepada mereka?
Dan menyangkut mereka allah maha mengetahui.70 2.) Tafsir ibnu Katsir
Menurut tafsir ibnu katsir kata menyembah hanya kepada allah mengandung mana Allah swt memerintahkan untuk beribadah hanya kepadanya yang tidak ada sekutu baginya, sebab dialah yang pencipta, pemberi rezeki, pemberi nikmat dan pemberi karunia terhadap makhluknya didalam seluruh keadaan.71
3.) Tafsir Al-Maraghi
Menurut tafsir al-maraghi kata menyembah hanya kepada allah itu juga bermakna sebagai Beribadah kepada allah swt ialah tunduk kepadanya menetapkan kewibawaan dan keagungannya didalam jiwa, takhluk kepada kekuaannya diwaktu sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, mengerjakan apa yang diperintahkannya dan meninggalkan apa yang dilarangnya, dengan demikian seluruh amal baik berupa perkataan maupun perbuatan akan menjadi baik. Ibadah ialah ketaklukan kepada suatu kekuatan gaib di balik sebab-sebab yang kita ketahui , yang kebaikannya
70 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah...., Hal. 435-437
71 Dr. Abdullah Bin Muhammad Bin Abdurrahman Bin Ishaq Alu Syaikh, Tafsir Ibnu Katsir jilid 2...., Hal, 303
62
kita harapkan dan kejahatannya ditakuti. Kekuasaan ini tidak lain adalah milik allah.72
dari penjelasan tafsir diatas dapat diapahamai bahwa nilai amaliyah yang terkandung dalam ayat itu dijelaskan secara umum seperti beribadah hanya kepada allah. Dan ibadah yang dimaksud bukan hanya ibadah ritual seperti sholat, zakat puasa, dll. Tapi mencakup segala macam aktivitas yang hendaknya dilakukan karena Allah swt. Bahkah dalam tafsir Al-Margahi menjelaskan bentuk ibadah kepada allah swt itu adalah mejalankan apa yang diperintahkan allah swt dan menjauhi segala yang dilarang allah swt.
c.) Nilai Pendidikan akhlak
Nilai khuluqiyah berkaitan dengan kesusilaan, budi pekerti, adap, sopan santun yang menjadi perhiasan bagi seseorang dalam rangka mencapai keutamaan. Nilai nilai khuluqiyah seperti Sdiddiq (jujur), nilai amanah (terpercaya), adil, sabar, syukur, pemaaf tidak tergantung pada materi atau zuhud, menerima apa adanya (qana‟ah), berserah diri kepada allah (tawakkal), malu berbuat buruk (haya‟), persaudaraan (ukhuwah), toleransi (tasamuh) tolong menolong (ta‟awun), saling menanggung (takaful).73 Kemudian sebagaimana yang telah disampaikan oleh tafsir al-mishbah, tafsir
72 Ahmad Mushthafa Al-Maraghi, Terjemah Tafsir Al-Maraghi juz V...., Hal. 52
73 Dr. Abdul Mujib, M. Ag dan Dr. Jusuf Mudzakkir, M.Si, Ilmu Pendidikan Islam...., Hal.
Xii-Xvi
63
ibnu katsir dan tafsir al-maraghi tentang nilai akhlak dalam surat An-Nisa‟
ayat 36 yaitu:
1.) Tafsir Al-Mishbah
Nilai-nilai pendidikan agama islam dalam ayat ini menurut tafsir al-mishbah adalah perintah berikutnya adalah berbakti kepada kedua orangtua. Istilah yang dipakai untuk menunjuk kedua orangtua adalah kata نيدلولاal-walidain. Kata ini adalah bentuk dual dari kata دلو waalid yang biasa diterjemahkan bapak atau ayah, yakni kata ( با ) ab ayah dan ( ما) umm adalah ibu. Akan tetapi sepanjang penelusuran penulis, kata walid digunakan secara khusus kepada ayah atau bapak kandung, demikian pula kata ( تادلولا ) al-walidati untuk makna ibu kandung.
Berbeda halnya dengan ab dan umm yang digunakan baik untuk ayah dan ibu kandung maupun bukan, sehingga dengan demikian bila kita membaca misalnya firman allah swt
Artinya: “para ibu menyusukan anak-anak mereka dua tahun sempurna bagi yang berkehendak menyempurnakan penyusuan” (QS. Al-Bagaqarah: 233).74
Bila membaca ayat diatas ibu yang dimaksud adalah ibu kandung, karena ia menggunakan kata al-walidat. Sedangkan firman-Nya adalah QS. Al-Ahzab: 6, “ nabi itu (Muhammad saw hendaknya ) lebih utama dari orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri, dan
74 QS. Al-Bagaqarah: 233
64
istri-istri beliau adalah ibu-ibu mereka.” Yang dimaksud dengan ibu mereka bukanlah ibu kandung, karena itu digunakan kata ( مكتاهما ) ummahatukum. Persamaan antara ( نينمؤملاتاهما ) ummahat al-mukminin dengan ibu kandung adalah dalam kewajiban menghormati mereka, bukan dalam kebolehan dalam bergaul sebagaimana pergaulan dengan ibu kandung.
Al-quran menggunakan kata ( انسحا ) ihsanan sebanyak enam kali lima diantaranya dalam konteks berbakti kepada kedua orang tua.
Kata ( نسح ) husn mencakup segala sesuatu yang menggembirakan dan disenangi. “hasanah” digunakan untuk menggambarkan apa yang menggembirakan manusia karena perolehan nikmat menyangkut diri, jasmani, dan keadaanya. Demikian dirumuskan oleh pakar kosakata al-Quran, ar-raghib al-ashfahani.
Selanjutnya, menurut pakar tersebut, kata ihsan digunakan untuk dua hal pertama, memberi nikmat kapada pihak lain dan yang kedua perbuatan baik. Karena itu kata ihsan lebih luas dari sekedar member nikmat atau nafkah, maknanya bahkan lebih tinggi dan dalam dari kandungan makna adil, karena adil adalah “memperlakukan orang lain sama dengan memperlakukannya kepada anda”, sedangkan ihsan adalah memeperlakukannya lebih baik dai perlakuannya kepada anda.” Adil adsalah mengambil semua hak anda dan atau memberikan semua hak orang lain. Sedangkan ihsan adalah member lebih banyak dari pada
65
yang harus anda berikan dan mengambil lebih sedikit dari yang seharusnya anda ambil.” Karena itu pula rasulullah saw berpesan kepada seseorang. “engkau dan hartamu adalah untuk atau milik ayahmu, orangtuamu, diriwayatkan oleh abu daud. Ketika menafsirkan QS. Al-Baqarah: 59, penulis telah kemukakan pendapat al-Harrali tentang makna lain dari kata ini.
Al-quran menggunakan kiata penghubung “bi” ketika berbicara tentang berbakti kepada ibu bapak, (انسحا نيدلولا ابو ) wa bil walidaini ihsanan padahal bahasa juga membenarkan penggunaan ىل li yang berarti untuk danىلا ila yang berarti kepada untuk menghubungkan kata ihsan.
Menurut pakar-pakar bahasa, kata ( ىلا ) ila mengandung makna jarak, sedangkan allah swt tidak menghendaki adanya jarak walau sedikitpun dalam hubungan antara anak dan orang tuanya. Anak harus selalu mendekat dan selalu merasa dekat kepada ibu bapaknya, bahkan kalau dapat dia melekat kepadanya, karena itu digunakan kata bi yang mengandung arti ( قسلا ) ilshaq yang artinya kelekatan. Karena itulah maka bakti yang dipersembahkan oleh anak kepada orangtuanya pada hakikatnya bukan untuk ibu bapaknya, tetapi untuk diri mereka sendiri. Itu pul;a sebabnya tidak dipilih kata penghubung lam (li) yang mengandung makna peruntukkan.
66
Syekh Muhammad thahir ibnu „Asyur mempunyai pandangan lain. Menurutnya bila kata ihsan menggunakan kata ba (bi) maka yang dimaksudkan adalah pengormatan dan pengagungan yang berkaitan dengan pribadi, seperti firmannya yang mengabadikan ucapan nai yusuf as,” wa qad ahsana idz akhrajani min as-sijn (allah telah berbuat baik kepadaku ketika dia membebaskan aku dari penjara”) QS. Yusuf:
100.75 Sedangkan bila dimaksudkan member manfaat material, maka partikel yang digunakan adalah li, dan dengan demikian ayat ini lebih menekankan pada kebaktian pada penghormatan dan pengagungan pribadi pada kedua orang tua. Betapapun berbeda. Tatpi pada akhirnya harus dipahami bahwa “ihsan” bakti kepada orang tua yang diperintahkan agama fitrah (islam), adalah bersikap sopan santun kepada keduanya dalam ucapan dan perbuatan sesuai dengan adat kebiasaan masyarakatnya, sehingga merasa senang terhadsap kita, dan mencukupi kebutuhan-kebutuhan mereka yang sah dan wajar sesuai dengan kemampuan kita (sebagai anak). Tidak termasuk sedikitpun (dalam kewajiban berbuat baik atau berbakti kepada keduanya) sesuatu yang mencabut kemerdekaan dan kebebasan pribadi atau rumah tangga atau jenis-jenis pekerjaan yang bersangkut paut dengan pribadi anak, agama, atau negaranya. Jadi apabila keduanya atau salah seorang bermaksud memaksa pendapatnya menyangkut kegiatan-kegiatan anak, maka
75QS. Yusuf: 100
67
meninggalkan apa yang kita (anak) nilai kemaslahatan umum ataupun khusus dengan mengikuti pendapat dan keinginan mereka, atau melakukan sesuatu yang mengandung mudharat umum atau khusus dengan mengikuti pendapat atau keinginan mereka bukanlah bagian dari berbuat baik atau kebaktian menurut sayarak dan agama. Siapa yang bepergian untuk menuntut ilmu yang dinilainya wajib untuk mengembangkan dirinya atau untuk berbakti kerpada agama dan negaranya, atau bepergian untuk memperoleh pekerjaan yang bermanfaat bagi dirinya, atau umatnya sedangkan keduanya atau salahj satu dari kedua orangtuanya tidak setuju karena dia tidak mewngetahui nilai pekerjaan itu maka sang anak tidak dinilai durhaka, tidak pula dinilai tidak berbakti Dari segi pandangan akal dan syara‟ karena kebaktian dan kewajiban tidak mengharuskan tercabutnya hak-hak pribadi.”
As-sya‟rawi dalam tafsirnya menulis perbedaan antara perintah mempersembahkan ihsan atau kebajikan kepada kedua orang tua dengan perintah memperlakukan mereka dengan makruf sebagaimana dinyatakan dalam QS. Luqman: 15, “dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekuitukan aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya didunia dengan makruf.
68
Menurut ulama mesir kontemporer itu perintah memperlakukan kedua orang tua dengan makruf adalah jika keduanya bukan penganuit islam dan perintahn ya bertentangan dengan nilai-nilai islam. Ketika itu hati anak tidak boleh merestui dan tidak boleh juga senang dengan sikap orang tua, tetapi ketidak senangan hati itu tidak boleh mengantarnya mengabaikan kemashlahatan mereka menyangkut kehidupan duniawi.
Memang tulis Asy-sya‟rawi lebih jauh kita bisa melakukan berbuatan makruf yang kita senangi dan juga tidak disenangi. Adapun perintah berbuat ihsan adalah buat orangtua yang menganut agama islam.
Diatas telah dikemukakan makna tentangga yang dekat dan tetangga yang jauh. Sementara ulama menetapkan bahwa tetangga adalah penghuni yang tinggal disekitar rumah kita, sejak dari rumahy pertama hingga rumah ke empat puluh. Ada juga ulama yang tidak memberi batas tertentu dan mengembalikannya kepada situasi dan kondisi setiap masyarakat. Betapapuin dia dapat berkata bahwa dewasa ini seringkali ada tetangga yang tidak ada yang kenal namanya, atau bisa jadi juga yang tidak seagama denga kita, meskipun demikian semua adalah tentangga yang wajib mendapat perlakuan baik. Ikut gembira dengan kegembiraannya, menyampaikan belasungkawa karena kesedihannya, serta membantunya ketika mengalami kesulitan.
Rasululklah saw bersabda kepada sahabat beliau abu dzar, “wahai abu
69
dzar apabila engakau (kelurgamu) memasak daging maka perbanyaklah kuahnya, dan berilah tetanggamu, “ (HR. Muslim).
Dalam sebuah hadist, walaupun hadist itu dinilai lemah atau dhaif bahwa tetangga itu terdiri dari tiga tingga tingakatan, pertama, mempunyai satu hak, kedua, mempunyai dua hak, ketiga, mempunyai tiga hak. Tentangga yang mempunyai satu hak adalah orang musyrik yang tidak mempunyai kerabat dengan kita, tetapi karena dia tentangga dengan kita maka dia mempunyai satu hak ytaitu kebertetanggaan itu, sedang yang mempunyai dua hak adalah tetangga yang muslim dan tetangga yang memiliki tiga hak adalah tetangga yang muslim dan mempunyai hubungan kerabat dengan kita ( HR. al-Bazzar, Abu syekh dan Abu Nu‟aim, melalui sahabat nabi saw Jabir Ibnu Abdillah ra).
Kemudian nilai selanjutnya adalah ( بنجلاب بحصلاو ) wash-shahibi bil jhanbi disamping maknanya yang disampaikan sebelum ini dapat juga dipahami dalam artian istri, bahwa siapa saja yang selalu menyertai seseorang dirumahnya, termasuk para pembantu rumah tangga. Maka ini perlu ditekankan terutama karena sementara orang baik sebelum turunnya al-Quran, maupun sesudahnya hingga kini, memperlakukan istri dan atau para pembantunya secara tidak wajar.
Nilai selanjutnya adalah ( روخف لاتخم ) mukhtalan fakhuran, kata ( لاتخم ) mukhtalan yang diatas diterjemahkan dengan sombong, terampil dari akar kata yang sama dengan khayal, karenanya pada
70
mulanya berarti orang yang tingkah lakunya diarahkan oleh khayalannya, bukan oleh kenyataan yang ada pada dirinya. Biasanya orang yang semacam ini berjalan dengan angkuh dan merasa diri memiliki kelebihan dibandingkan dengan orang lain. Dengan demikian, keangkuhannya tampak secar nyata dalam kesehariannya. Kuda dinamai ( لهاك ) kahil karena cara jalannya mengesankan keangkuhan. Seorang yang mukhtal mengantarnya untuk membanggakan apa yang dimilikinya, bahkan tidak jarang membanggakan apa yang pada hakikatnya tidak dia milikli, dan inilah yang ditunjuk oleh kata ( روخف ) fakhuran, yakni seringkali membangga-bangakan diri. Memang, kedua kata ( لاتخم ) mukhtal dan kata ( روخف ) fakhur mengandung makna kesombongan, pertama kesombongan yang terlihat pada tingkah laku, sedangkan yang kedua adalah kesombongan yang terdengar dari ucapan-ucapannya.76
2.) Tafsir ibnu Katsir
Nilai pendidikan akhlak dalam ayat ini menurut tafsir ibnu kastir adalah Allah mewasiatkan untuk berbuat baik kepada kedua orangtua, karena allah swt menjadikan keduanya sebagai sebab yang
Nilai pendidikan akhlak dalam ayat ini menurut tafsir ibnu kastir adalah Allah mewasiatkan untuk berbuat baik kepada kedua orangtua, karena allah swt menjadikan keduanya sebagai sebab yang