• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ragam Desain Produk

Dalam dokumen STUDI TENTANG KERAJINAN KUNINGAN (Halaman 68-83)

PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN

A. Ragam Desain Produk

Sebelum menciptakan desain baru, pengrajin tidak bisa asal-asalan membuat bentuk baru. Pengrajin perlu memikirkan adanya perencanaan teknis yaitu, kegiatan merencanakan atau mendesain produk, yakni tentang bentuk dan ukuran, fungsi, dan cara pembuatan. Jadi ada berbagai macam permasalahan yang perlu untuk diselesaikan di dalam penyusunan perencanaan teknis dalam suatu perusahaan, beberapa hal yang penting diantaranya adalah ragam desain bentuk dan ukuran produk, desain fungsi produk, dan desain pembuatan produk

Dalam penciptaan ide-ide baru tak jarang seniman kerajinan meniru bentuk alam. Karena sebenarnya alam adalah sumber inspirasi. Dalam seni

kerajinan tradisional, desain banyak mengambil dari bentuk-bentuk tiruan alam yang meliputi: bentuk tumbuhan, binatang, serta bentuk lain yang dapat

digunakan sebagai adopsi desain dalam membuat suatu bentuk benda seni kerajinan.

Berdasarkan analisis yang dilakukan peneliti, maka dapat disimpulkan bahwa fungsi desain produk kerajinan di Central of Bronzes ada dua jenis yaitu: benda yang berfungsi sebagai benda hias saja dan benda yang berfungsi sebagai benda pakai tetapi di dalamnya terkandung unsur hias. Benda yang hanya berfungsi sebagai benda hias saja dapat dilihat pada produk seperti patung ganesya, patung binatang, patung abstrak dan lain sebagainya. Semua benda kerajinan tersebut masing-masing memiliki fungsi sebagai benda hias saja tanpa ada unsur fungsi pakai di dalamnya. Benda yang berfungsi sebagai benda pakai dapat dilihat pada produk seperti patung kodok membawa ember, gajah duduk membawa gelas untuk tempat lilin, monyet yang bergelantung sambil membawa gelas juga untuk tempat lilin, gantungan lampu, tempat abu dan lain sebagainya. Benda-benda kerajinan tersebut mempunyai fungsi utama sebagai benda pakai, tetapi juga berfungsi sebagai benda hias yang mempunyai nilai estetik.

Menurut Rasjoyo, (1991:100) Dalam seni kerajinan seorang seniman harus mampu menghubungkan bentuk dengan fungsi, sehingga karya yang dihasilkan dapat memenuhi fungsi, sementara bentuknya tetap indah. Dalam menggarap benda seni kerajinan ini pencipta harus benar-benar memperhatikan aspek kenyamanan. Di dalam seni kerajinan terdapat 2 macam fungsi, di antaranya:

2. Benda yang berfungsi sebagai benda pakai tetapi mengandung unsur hias di dalamnya.

Sedangkan bentuk adalah susunan bagian-bagian atau elemen-elemen dari aspek visual, sedangkan wujud dari suatu hasil karya seni adalah bentuknya. Kalau ada bentuk terdapatlah wujud. Demikian pula apabila terdapat dua atau lebih bagian yang tergabung menjadi satu bentuk susunan terjadilah wujud (Soedarso SP, 1975), jadi bentuk dalam seni adalah susunan dari bagian-bagian seperti bidang datar, cekung, dan cembung yang harmonis.

Bentuk dalam seni kerajinan juga berarti wujud fisik (Rasjoyo, 1991:99). Bentuk ini selalu bergantung pada sentuhan keindahan, karena itu pula dalam proses penciptaannya seorang seniman seni kerajinan harus menguasai unsur-unsur seni rupa seperti garis, tekstur, warna, ruang, dan bidang. Selain itu ia juga harus menguasai prinsip-prinsip seni rupa seperti: irama, keseimbangan, kesatuan, keselarasan, dan proporsi.

Dalam desain produk, kita juga akan menjumpai yang disebut dengan komposisi. Di dalam seni kerajinan, komposisi berarti gabungan unsur-unsur seni rupa menjadi satu kesatuan yang harmonis. Dengan definisi tersebut, maka di dalam suatu komposisi, kita tidak akan dapat memisahkan unsur-unsurnya. Karena semua unsur telah menjadi satu kesatuan dalam komposisi itu tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi bagian-bagian yang berdiri sendiri.

Di dalam menyusun sebuah komposisi harus selalu memperhatikan

prinsip-prinsip desain yang meliputi: kesatuan, keseimbangan, irama, keselarasan, dan proporsi.

Prinsip-prinsip desain menurut Murtihadi (1982:59) meliputi:

a. Kesatuan

Kesatuan adalah adanya saling berhubungan antara bagian-bagian sehingga tidak tampak adanya bagian-bagian itu. Dalam karya desain yang baik, unsur-unsur yang membentuk tampil dalam suatu kesatuan dimana unsur akan mendukung penampilan unsur yang lain dan saling melengkapi.

Di dalam komposisi, kesatuan tidak sekedar menjumlah nilai-nilai

unsurnya. Lebih dari itu kesatuan dalam komposisi adalah kerjasama antar unsur. Kerjasama itu bisa terjadi dalam hal warna, garis, bentuk, shape, atau yang lainnya (Rasjoyo, 1993:16).

Pada produk kerajinan kuningan di Central of Bronzes, kesatuan terwujud dari susunan warna dan bentuk yang terlihat saling berhubungan dalam satu bentuk struktural yang membangun keseluruhan bentuk yang unik.

b. Keseimbangan

Pada umumnya keseimbangan selalu dihubungkan dengan bobot massa suatu benda dan neraca ukur sebagai penimbangnya. Keseimbangan di dalam seni rupa tidak selalu demikian. Keseimbangan menurut Rasjoyo (1993:16) ada dua macam, yaitu:

Yaitu keseimbangan karena bobot massa suatu benda. Keseimbangan ini mutlak digunakan dalam seni rupa tiga matra. Tanpa menggunakan hukum keseimbangan ini karya seni rupa tiga dimensi tidak akan mampu bertumpu dengan kokoh.

2) Keseimbangan Semu

Yaitu keseimbangan berdasarkan kesadaran perasaan estetis. Keseimbangan ini bersifat psikologis.

Keseimbangan semu dapat diperoleh dengan cara:

 Objek yang mempunyai bentuk dan ukuran yang lebih besar diberi bobot lebih berat.

 Warna yang lebih tua diberi bobot yang lebih berat.

 Objek yang mempunyai tekstur kasar diberi bobot lebih berat.

 Objek yang diletakkan menjauhi titik pusat diberi bobot lebih berat. Pada produk kerajinan kuningan di Central of Bronzes sebagian besar menggunakan keseimbangan nyata. Keseimbangan pada produk terwujud dari banyak unsur di antaranya peletakan objek, warna, dan bobot dari suatu benda di dalam suatu komposisi.

c. Irama

Adalah perubahan bunyi, warna, bentuk, atau gerak tertentu secara teratur yang membawakan perasaan hanyut di dalam perubahan-perubahan yang terjadi.

Adanya perubahan-perubahan tersebut meniadakan perasaan bosan dan menuntun perasaan ke arah kenikmatan. Irama pada benda-benda seni kerajinan

diusahakan dengan perubahan bentuk dan warna. Dalam karya desain, irama dapat dibentuk melalui pengulangan dan gerakan dari unsur-unsur yang bersifat visual. Berdasarkan hal tersebut maka didapatkan kemungkinan-kemungkinan

pembentuk irama.

d. Keselarasan

Selaras berarti sesuai, serasi, dan cocok. Keselarasan selalu berada di antara keserupaan yang absolut dengan kontras yang tajam. Jadi keselarasan ada di tengah antara dua kutub tersebut. Keserupaan yang terlalu besar menimbulkan kebosanan. Sebaliknya, kontras yang mencolok juga akan menimbulkan

pemberontakan sehingga tidak tercapai keselarasan.

Pada produk kerajinan kuningan di Central of Bronzes keselarasan terwujud dari susunan warna yang dipadu dengan bentuk serta arah yang sesuai peletakannya. Keselarasan tersebut mendukung serta membangun suatu keadaan dimana adanya suatu komposisi yang terlihat membentuk suatu komposisi yang selaras, serasi, dan seimbang.

e. Proporsi

Menurut Edmund Burke Feldman (dalam Bastomi 1986:99) diungkapkan bahwa proporsi adalah suatu perbandingan antara bagian-bagiannya sehingga secara keseluruhannya merupakan suatu kesatuan yang harmonis.

Pada produk kerajinan kuningan di Central of Bronzes, proporsi terwujud dari ukuran dan bentuk-bentuknya yang unik. Prinsip proporsi yang ada pada

karya-karya seni kerajinan kuningan ini sangat diperlukan agar karya tersebut tampak lebih indah. Meskipun benda-benda dalam satu komposisi memiliki ukuran yang berbeda dan bahkan berwujud abstrak, kita harus mampu menatanya menjadi satu komposisi yang menarik.

f. Emphasis/kontras

Menurut Rasjoyo (1991:95) mengatakan emphasis adalah merupakan pusat perhatian dari seluruh gambar dalam komposisi. Dengan kata lain dapat disebut centra od interst. Untuk mewujudkan ini, dapat dilakukan dengan jalan memberi warna yang mencolok atau kontras atau juga membagi garis arah berlawanan serta dapat juga dengan arsiran yang intensitasnya tinggi. Kontras diperlukan untuk memunculkan kekuatan visual pada suatu benda kerajinan atau benda terapan lainnya, kontras muncul karena adanya perbedaan yang tajam antara elemen yang lain. kontras adalah perbandingan antara satu dengan yang lainnya yang sangat berbeda sekali (Sumarna, 2002:121). Perbedaan ini dapat diciptakan dengan penggunaan warna komplementer, vertikal horizontal, perbedaan tekstur, perbedaan besar kecilnya elemen atau bahan baku yang digunakan, dan sebagainya. Pada produk kerajinan kuningan di Central of

Bronzes ini dapat dilihat adanya kontras pada setiap produk kerajinan yang

dihasilkan. Misalnya, pada produk patung budha duduk bersila dapat dilihat adanya elemen-elemen baik geometris ataupun non geometris, tekstur, warna, serta ornamen-ornamen kecil yang menghiasi patung tersebut.

Secara garis besar, konsep-konsep desain yang digunakan di Central of

Bronzes sangat beraneka ragam dan bermacam-macam bentuk. Mulai dari

fungsinya sebagai benda hias maupun benda multi fungsi. Meski berbahan dasar limbah kuningan, dan pembuatannya masih menggunakan cara lama, tapi

kerajinan kuningan ini masih sanggup bertahan hingga saat ini dan tak kalah bersaing dengan produk-produk yang lebih modern. mengambil bentuk dan motif antik jaman kerajaan ternyata banyak diminati kalangan pembeli, pecinta seni dan kolektor barang-barang antik dari dalam dan luar negeri. Tentu saja hal itu

menjadi potensi bisnis tersendiri yang sangat menjanjikan bagi mereka-mereka yang mampu menghadirkan kembali nilai-nilai seni budaya tradisional akan tetap membeli barang-barang antik bernilai seni tinggi walaupun kehidupan masyarakat sudah berkembang lebih maju.

Disini juga menerima pesanan desain bentuk dari hasil ide ciptaan sendiri dan juga ada beberapa benda kerajinan yang jumlah produksinya terbatas

membuat benda kerajinan ini semakin banyak diminati. Berikut ini akan

dijelaskan tentang macam-macam bentuk produk kerajinan kuningan di Central

of Bronzes mulai dari yang berfungsi untuk pelengkap interior, hingga yang

mempunyai multi fungsi : a. Patung dewa ganesya

Gambar 4.1 Patung dewa ganesya (sumber: dokumentasi pribadi, 28 mei 2011)

Jika dilihat dari segi proporsi, warna, ukuran, dan bentuk, patung ini memang dirancang untuk pelengkap interior yang fungsinya adalah menambah nilai estetik ruangan. Patung ganesya ini dibuat dengan 2 macam posisi, ada yang sedang duduk di atas bunga teratai dan ada yang berdiri. Terlihat jelas pengrajin juga mempertimbangkan unsur keseimbangan. Karena jika tidak menerapkan unsur itu, maka patung tidak akan bisa berdiri kokoh dengan ditopang satu kaki. Warna yang ditampilkan adalah coklat dan biru gelap. Permainan warna coklat ke warna kuning keemasan menampilkan keselarasan yang menarik dan berirama sehingga terkesan seperti patung peninggalan jaman dahulu. Patung tersebut dibuat dengan teknik cetak cor yang terlebih dahulu memakai cetakan lilin. Sedangkan finishing dengan dihaluskan menggunakan gerinda, dan kikir. Patung ini kebanyakan dikirim ke luar negeri, terutama Australia. Karena selain desain yang antik, banyak dipakai untuk menghiasi interior di dalam hotel.

b. Patung realis

Gambar 4.2 Patung realis

(sumber: dokumentasi pribadi, 28 mei 2011)

Patung ini adalah salah satu produk yang dihasilkan dengan jumlah banyak. Selain banyak diminati, patung realis juga banyak jenis dan bentuknya. Seperti contohnya patung kerbau dan penggembala, patung gajah, patung kucing, sapi, siput, burung dan banyak yang lainnya. Pengrajin sendiri sengaja meniru bentuk hewan dibandingkan patung manusia karena patung berbentuk hewan banyak diminati. Selain itu cocok untuk dibuat pelengkap interior dalam rumah. Dengan proporsi dan ukuran yang sedang, patung ini bisa diletakkan di sudut ruangan maupun di meja. Warnanya memakai warna coklat kehitaman dan warna bronzes look karena dianggap lebih berkesan mewah dan lebih kontras daripada

warna lain. Kekuatan visual sengaja ditonjolkan dan diimbangi dengan proporsi yang seimbang semakin menambah daya tarik tersendiri. Cara perawatannya juga mudah, kita bisa menggunakan kain lap yang lembut dan autosol dengan

menggosokkannya ke patung hingga mengkilap.

c. Patung semi abstrak

Gambar 4.3 Patung semi abstrak (sumber: dokumentasi pribadi, 28 mei 2011)

Sesuai dengan namanya, patung ini di memang berwujud semi abstrak. Berbeda dengan patung realis, patung ini lebih menonjolkan nilai estetis dari wujud, proporsi, tekstur, keseimbangan dan warna. Hampir seluruh unsur-unsur desain sudah diterapkan ke dalamnya. Diperkuat dengan unsur keseimbangan dan proporsi yang saling berhubungan menjadi kesatuan yang benar-benar unik. Desain ini sering dipesan konsumen untuk koleksi pribadinya sendiri karena nilai estetis pada tiap-tiap karya berbeda-beda. Kadang ada juga konsumen yang memesan untuk dibuatkan sesuai dengan desainnya sendiri. Patung semi abstrak ini bisa untuk elemen estetik interior maupun karya seni patung 3 dimensi. Patung

semi abstrak bisa jadi hasil ide unik dan kreatif dari penciptanya. Sehingga tidak terkesan selalu meniru bentuk yang sudah ada. Dalam proses mendesainnya, perlu di perhitungkan dan dipelajari seluruh unsur-unsur desain dalam penciptaan karya. Dengan begitu, hasilnya bisa memuaskan.

d. Patung multi fungsional

Gambar 4.4 Patung multi fungsional (sumber: dokumentasi pribadi, 28 mei 2011)

Seiring perkembangan zaman yang semakin modern, selalu ada bentuk-bentuk baru yang diciptakan. Agar tetap mampu bersaing dalam pemasaran, untuk itu diciptakan patung yang bisa dipakai sebagai elemen estetik interior sekaligus bisa berfungsi untuk kegunaan lain seperti tempat lilin, asbak, atau pegangan lampu hias. Salah satu karyanya adalah patung gajah duduk sedang mengangkat gelas di atas belalainya. Sesuai dengan konsep desain awalnya,

fungsi utama patung ini adalah sebagai benda pakai/fungsional yang memiliki elemen hias didalamnya. Meskipun sebagai benda pakai, tapi patung ini mampu menampilkan fungsi sebagai benda hias dengan wujud yang unik. Adanya unsur keseimbangan dan kesatuan dalam wujudnya yang tidak tampil sendiri-sendiri melainkan saling mendukung antar elemen dari wujud tersebut. Sehingga memunculkan keselarasan bentuk yang serasi dari produk tersebut. Konsumen juga diberikan pilihan macam-macam bentuk seperti patung monyet, gajah, kodok yang membawa tempat air. Patung monyet juga berfungsi sebagai tempat lilin tapi penempatannya dengan di tempelkan di tembok sedangkan patung kodok

membawa ember air untuk tempat cuci tangan.

Keragaman bentuk dan fungsi yang meniru dari alam maupun desain kontemporer membuat daya tarik tersendiri dari konsumen. Karena seni terapan memang mengutamakan segi fungsi dan harus memiliki nilai komersil. Selain itu, desain tetap tidak lepas dari unsur-unsur seni dalam setiap desain agar tiap-tiap karya yang dihasilkan memiliki nilai estetis disamping nilai guna.

B. Perkembangan Desain Kerajinan Kuningan di Central of Bronzes Milik H. Istono

Kerajinan kuningan yang dikenal sejak dahulu, bahkan diseluruh dunia menganggap hanya sebagai tempat atau wadah untuk menyimpan makanan atau alat memasak apabila bentuknya tidak dapat mencenninkan nilai estetis. Nilai estetis dimaksud adalah nilai yang dipengaruhi oleh unsur kesenirupaan yang

berlaku dalam lingkungan budaya setempat. Kerajinan kuningan di Central of

Bronzes pada awalnya berfungsi sebagai hiasan pakaian kuda, lonceng

(klintingan), disamping sebagai sarana kegiatan rumah tangga khususnya

peralatan dapur. Mengamati kerajinan kuningan bukan berarti melihat wujud atau bentuknya secara realitas, namun berusaha mengamati secara saksama terhadap hakikat nilai seni yang terkandung dalam kerajinan itu sendiri. Bastomi (1992) menyatakan bahwa pengamatan terhadap seni tidak terbatas pada penglihatan indrawi saja, namun juga penglihatan intuitif. Oleh karena itu wawasan dalam menilai sebuah karya seni di dalamnya termasuk kegiatan mengamati,

mengetahui, cara pandang serta merasakan karya tersebut lewat panca indera. Demikian halnya dalam menilai karya kerajinan kuningan di Central of Bronzes yang dibuat secara bersamaan, proses penciptaan dan perkembangan bentuknya hampir merata pada setiap kelompok pengrajin. Penerapan unsur-unsur desain tidak sedikit yang saling tiru meniru sehingga melahirkan karya kuningan yang bernapaskan kebersamaan. Peranan konsumen menjadikan fungsi kuningan itu bergeser sedikit demi sedikit sesuai dengan permintaan dan perkembangan pasar. Fungsi estetik kerajinan kuningan dapat dijadikan sarana oleh pengrajin untuk menuangkan idenya, secara perlahan mulai melepaskan keterikatan pada bentuk kuningan dengan nilai guna.

Pengrajin juga menerima pesanan desain dari konsumen, baik itu bentuk patung fungsional maupun untuk karya seni murni. Cara ini memang sangat efektif untuk mempertahankan kerajinan kuningan ini tetap ada. Karena selera konsumen mudah berubah-ubah, maka pengrajin juga harus berupaya

menciptakan ide-ide baru lagi dan saran dari konsumen harus tetap diperhatian untuk menjaga kualitas barang.

Berkaitan dengan fungsi dan kegunaan berkembanglah bentuk-bentuk baru dengan membubuhi beberapa hiasan sebagai aksen keindahan untuk menunjang struktur kerajinan kuningan itu sendiri. Perubahan dimaksud akhirnya melahirkan fungsi yang beraneka macam seperti kerajinan kuningan sebagai elemen estetika taman, bentuk-bentuk patung, hiasan dinding lampu taman maupun tempat buah. Perubahan fungsi kerajinan kuningan dengan membubuhi sedikit dekorasi atau dengan mengembangkan bentuk awalnya akan mengarah pada kreativitas dan memotivasi daya hayal para pengrajin dalam berkarya dan mencipta.

Penempatan pada ruang dalam (interior) difungsikan sebagai wadah, sedangkan pada ruang luar (eksterior) dimunculkan pada momen tertentu sebagai elemen estetika taman. Sistem pewarisan keterampilan dan keahlian yang dimiliki masyarakat Dukuh Sanan Kidul akhirnya membentuk komunitas masyarakat industri yang menekuni bidang keahlian membuat kerajinan kuningan secara profesional, dilandasi oleh keinginan kuat untuk meningkatkan kehidupan yang lebih baik dan bermakna.

Selain perubahan desain dan fungsi, bahan baku dari limbah kuningan juga mengalami kelangkaan. Penyebabnya yaitu karena barang bekas itu diburu

sejumlah perusahaan besar untuk diekspor. Sehingga kalaupun ada, limbah kuningan yang dijual dari pengepul akan mengalami kenaikan harga yang mahal. Guna melindungi industri kerajinan kuningan, seharusnya pemerintah membatasi ekspor kuningan ini, lebih-lebih jika dalam bentuk asalan. Karena itu bisa

merugikan para pengrajin yang lainnya. Selain itu, pemerintah juga harus

berusaha membantu mencarikan solusi untuk mengatasi kelangkaan dan mahalnya bahan baku kuningan ini.

Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa perkembangan desain dipengaruhi oleh konsumen, perkembangan zaman, dan fungsi dari produk itu sendiri. Karena desain akan selalu mengikuti selera konsumen seiring

perkembangan zaman yang semakin maju. Selain itu, pengrajin juga melayani pembuatan benda kerajinan dari desain yang dibuat oleh konsumen dan

menciptakan produk-produk yang kontemporer.

C. Proses Pengolahan dan Pembuatan Kerajinan Kuningan di Central of

Dalam dokumen STUDI TENTANG KERAJINAN KUNINGAN (Halaman 68-83)

Dokumen terkait