• Tidak ada hasil yang ditemukan

RAGAM PLURALIS

Dalam dokumen SEGERA KELOLA DAS KITA (Halaman 55-58)

Sepanjang perjalanan, kami selalu mendiskusikan pesan yang disampaikan perempuan tua di warung itu. Apa benar, masyarakat Barus masih memeg- ang tradisi buruk itu? Atau, cuma stigma yang terus dihidupkan guna mengisolasi Barus dari dunia luar. Ada beberapa pandangan yang kami simpulkan dari diskusi di perjalanan itu. Pertama, pesan itu cuma stigma yang terus dihidupkan untuk memberikan citra buruk keberadaan Barus. Kedua, pesan itu salah satu bagian dari proses iso- lasi terhadap Barus, dan; Ketiga, bisa jadi pesan itu merupakan penggambaran tentang sikap tertutup masyarakat Barus terhadap orang luar.

Siang Lengang, Malam Gelap

Rombongan kami menyentuhkan kaki di Bandar tua itu ketika jam menunjukkan pukul 11.00. Siang itu, jalanan Barus terlihat lengang membuat mobil kami melintas kencang. Yang terlihat cuma gerombolan anak sekolah berjalan kaki atau para pegawai yang menaiki sepeda motor. Sulit melihat mobil pribadi, yang ada hanya mobil angkutan antar desa dan kota yang menghubungkan Barus dengan daerah lain.

Lengangnya Barus tidak hanya di jalanan, tapi juga dipusat perekonomian, seperti Pasar Barus. Tidak banyak kedai dan warung yang buka, entah kegiatan ekonomi menggeliat ketika pekanan tiba atau kondisinya memang demikian. Begitu pun untuk mengisi perut, kami tidak kesulitan karena ada rumah makan “Pangeran” di pasar Barus. Hidangan yang tersaji menggoda selera. Ganjalan, tentang Barus sebagai daerah racun yang diterima dari inang-inang di Sibolga, sirna sama sekali. “Itu mungkin dulu, tapi sekarang tak ada lagi,” terang pemilik rumah makan, ketika ganjalan itu disam- paikan pada pemilik rumah makan itu.

Di Kantor Camat Barus, kami diterima Sekcam Barus Dalles Simanjuntak. Dari Sekcam kami mendapatkan informasi kependudukan, bahwa Kecamatan Barus luasnya mencapai 84,83 km dengan 16 desa dan dua kelurahan, dihuni 19.781 jiwa terdiri dari 9.881 pria dan 9.939 wanita. Dari jumlah itu, warga beragama Islam sekira 47,85 persen, selebihnya Kristen Protestan 32,98 persen, Katholik 17,20 persen. Lain-lain (Budha, Hindu, Ugamo Parmalim), 1,07 persen.

Kami juga bertemu tak sengaja dengan seorang wartawan yang juga Ketua Lembaga Pengemban- gan Barus Drs. Zuardi Mustafa Simanullang alias Jurlang. Pertemuan dengannya, begitu berarti, karena menjadi guide yang mengarahkan kami memahami sejarah Barus. Jurlang juga, mem- pertemukan kami dengan nara sumber penting lainnya, Ustadz Djamaluddin Batubara, 59, di Desa Sigambo-gambo. Dari tokoh masyarakat itu, bejibun informasi dan data diperoleh. Bahkan, pertemuan melengkapi data dengan dia, berlanjut malam harinya di Hotel Fansuri. Kami juga me- nyempatkan sholat Zhuhur di masjid tertua kota itu, Masjid Jamik Sigambo-gambo namanya, yang diperkirakan berusia 350 tahun.

Siang hingga sore hari, kami menghabiskan waktu untuk melihat langsung beberapa situs terkenal, yakni makam Papan Tinggi yang punya tangga hingga 740 tapak dengan ketinggian 200 meter di atas permukaan laut, dan makam Mahligai yang merupakan komplek pemakaman para penyebar Islam. Menjelang Maghrib, kami baru tiba di Hotel Fansuri untuk mengaso. Hotel itu merupakan satu-satunya penginapan di Barus yang sewanya Rp40 ribu/malam.

Malam hari, kami mengira Barus akan meny- enangkan. Namun dugaan itu salah, karena Barus bak kota mati tanpa aktifitas. Total, seluruh Barus hanya diterangi kelap kelip lampu dari beranda rumah penduduk. Tak ada lampu penerangan jalan, tak juga ada aktifitas ekonomi malam. Seba- gian besar warga sudah mengurung diri di rumah, padahal jam baru menunjukkan pukul 20.00. Isolasi Sistemik

Keesokan harinya, sekira jam 10.30, kami men- inggalkan Barus via Pakkat, Kabupaten Humbang Hasundutan. Di banding lintas Barus-Sibolga dengan Barus-Pakkat, untuk menuju ke Medan , ada pemotongan jarak sekira 100 km. Tapi tahukah anda, kedua jalan lintas provinsi yang menghubungkan Barus dengan daerah luar, tidak layak disebut sebagai jalan melainkan “kubangan kerbau.”

Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah dipimpin Drs. Tuani Lumbantobing yang sudah dua periode memimpin daerah itu, terkesan tidak peduli dengan kondisi jalur keluar-masuk Barus. Kondisi jalanan yang sempit dan penuh “kubangan kerbau” itu, secara langsung maupun tidak langsung,

menyebabkan orang enggan untuk kedua kalinya mendatangi Barus, jika tidak perlu sekali. “Sejak lama, memang ada kesan Barus ini diisolasi secara sestematis,” ujar seorang tokoh masyarakat yang minta namanya tidak dimuat. Dan, isolasi itu diperkirakan tentu saja untuk berbagai tujuan, bermotif politik, ekonomi, maupun kultural. Isolasi bermotif politik, agaknya baru terjadi beberapa tahun belakangan, ketika suara-suara pemekaran mulai menggema. Tahun 2003, mencuat kehendak sejumlah tokoh masyarakat Barus di perantauan untuk membentuk kabupaten pemekaran Barus Raya. Berdasarkan informasi, kehendak politik itu mendapat tantangan keras dari elit politik di Tapteng, khususnya Bupati Drs. Tuani Lumbantobing. Tantangan keras itu, ditunjukkan beberapa tahun belakangan ini, di mana Kecamatan Barus terkesan dianak tirikan secara adminsitratif maupun pembangunan fisik. Misalnya dengan mengecilnya porsi pembangunan Barus di APBD Tapteng. Secara prbadi tantangan itu juga ditunjukkan sang bupati, di mana pada periode kedua kepemimpinannya, tak pernah lagi mengunjungi Barus, padahal sebelumnya dia acap kali datang ke sana .

Konsekwensi lain, terjadi pembelahan tajam di kalangan PNS, antara pendukung pemekaran dan tidak mendukung. Banyak PNS yang dicurigai mendukung pemekaran di mutasi dari Barus. Kini upaya pemekaran itu mati suri, namun muncul dalam wacana baru, dengan nama pemekaran Tapanuli Barat. Klaim daerah pemekarannya sama dengan Barus Raya. Hanya saja para pemrakar- sanya sudah berbeda jauh dari sebelumnya. Jika pemekaran

Barus Raya didominasi warga Muslim, tapi wa- cana pemekaran Tapanuli Barat didominasi warga Kristiani.

Konsekwensi terberat, Pemkab Tapteng akan me- mekarkan Kecamatan Barus, dengan memecahnya jadi dua, yakni Kecamatan Barus Utara dan Barus Selatan. Kedua kecamatan pemekaran itu berbeda secara agama, satu didominasi Muslim yang lain Kristiani. Di Barus Utara, jika pemekaran terjadi hanya ada tiga KK beragama Islam, selebihnya non-muslim.

Secara ekonomi dan kultural, isolasi sistemik terhadap Barus sudah lama berlangsung. Sumber- sumber ekonomi Barus yang mengandalkan per- tanian, perkebunan dan perikanan, tidak mampu berkembang secara wajar. Lahan kebun dan sawah seluas lebih dari 17 ribu Ha hanya mencukupi ke- butuhan local karena pengolahan yang tradisionil. Sedangkan hasil laut yang melimpah tak mampu dibawa keluar, karena kondisi jalan raya yang bu- ruk. Pelabuhan Barus (Lobu Tua) sudah puluhan tahun mati, sehingga tidak memiliki arti penting bagi perdagangan dan pariwisata.

Tidak mengherankan, jika Barus kemudian kian kehilangan arti penting bagi daerah sekitarnya. Isolasi itu semakin diperparah dengan sikap masyarakat asli Barus yang susah menerima kehadiran orang luar. “Masyarakat di sini susah menerima kehadiran orang luar. Itu sebabnya tak ada orang yang berminat menanamkan modal di sini,” terang seorang PNS dari Dinas Pertanian yang menemani kami selama di sana . Pemandu kami bermarga Matondang itu juga mengungkapkan untuk mendapatkan lahan di Barus sangat susah, karena warga di sana tidak lagi mudah menjualnya. Perilaku demikian ter- bentuk, karena pengalaman berinteraksi dengan orang luar yang bersikap “bagai Belanda minta tanah.” Semula masyarakat begitu welcome, tapi sikap itu dimanfaatkan untuk mengusai aset lokal. Akibatnya, kini aset dan populasi pendatang yang berbeda secara adat istiadat dengan warga asli, justru lebih besar dari masyarakat setempat. Identitas Yang Sekarat

Jika mau jujur, Barus sekarang ini tidak lagi identik dengan daerah Islam. Populasi Muslim di daerah itu hanya menempati sebagian kecil wilayah Kecamatan Barus terutama di inti kota kecamatan. Sedangkan kalangan Kristiani (Prot- estan/Katholik) dan Ugamo Permalim menguasai lahan pertanian di pinggiran. Dengan jumlah 47, 85 persen dari total penduduk sekira 19.781 jiwa, identitas muslim dalam keadaan sekarat dan daya tawar politik serta ekonomi mereka kian mengecil. Bahkan, untuk mempertahankan identitas kemus- liman saja terasakan susah.

Perbedaan populasi itu bisa dirasakan dari ban- gunan rumah ibadah. Persis di lapangan depan Kantor Camat, berdiri megah bangunan gereja bertingkat dua. Sedangkan Masjid Raya Barus berdekatan dengan Hotel Fansuri yang jauh lebih kecil dari bangunan gereja.

Banyak situs-situs Islam yang mulai terancam. Misalnya makam Papan Tinggi tempat bersemay- amnya salah satu penyebar Islam dari abad 1 H yang diduga sahabat dan kerabat Rasulullah Mu- hammad SAW. Lahan di pintu masuk ke lokasi itu sudah dikuasai warga Kristiani. Tanpa perasaan sungkan terhadap keberadaan situs dan perasaan pengunjung muslim, warga Kristiani membuat kandang babi yang menyebarkan aroma menyen- gat hidung, hingga mengganggu peziarah. Demikian pula di makam Mahligai. Jika kita masuk, pertama terlihat adalah bangunan gereja. Tidak diketahui kapan rumah ibadah Kristiani itu ada, tapi kesan yang muncul adalah, kemurnian komplek pemakaman para penyebar Islam itu, secara substansial terkotori.

ketidak pedulian pemerintah terhadap situs-situs bersejarah di daerah itu. Dari puluhan situs yang ada, berdasarkan hitungan hanya sekira lima situs bersejarah yang sudah dalam perlindungan Nega- ra sesuai UU No.5 Tahun 1992 tentang Peningga- lan Bersejarah. Sedangkan situs-situs selebihnya, belum dilindungi. Kondisi itu, mengakibatkan banyak situs bersejarah yang hilang akibat tangan- tangan tak bertanggung jawab atau akibat peruba- han alam. Padahal, berdasarkan penuturan Ustadz Djamaluddin Batubara, dari penelitian terhadap kekayaan sejarah Barus, sudah lahir tiga akademisi Perancis yang mendapat gelar Doktor (S3). Selamatkan Segera

Memprihatinkan. Itulah kata yang pas dialamat- kan kepada Barus, sekarang ini. Bandar tua Inter- nasional yang menjadi warisan peradaban dunia sejak 3000 tahun sebelum Masehi itu, kini dalam keadaan merana.

Keberadaan Barus yang penting untuk mengambil pelajaran dari masa lalu kian tak terurus. Tangan- tangan jahil dan para missionaris yang punya kepentingan tertentu menghapus identitas lokal yang substansinya muslim, ternyata sudah bekerja puluhan tahun untuk mengisolasi kota tua itu. Atas dasar itu, sudah saatnya Barus dan situs peradaban (Islam) yang ada di daerah itu dis- elamatkan dari kehancuran. Karena bagaimana pun juga, keberadaan situs-situs itu sangat penting untuk menjaga kesinambungan historisitas Islam di Nusantara. Tanggung jawab itu tidaknya hanya kepada warga muslim Barus, tapi tanggung jawab semua Muslim, di mana pun berada.

Apa jadinya jika situs-situs Barus itu hilang. Sama artinya Islam di Indonesia berproses menuju kehilangan identitas. Ungkapan itu bukan tanpa alasan dogmatis; “Allah SWT menjamin, Islam takkan hilang di bumi ini. Tapi siapa yang berani menjamin Islam takkan hilang dari negeri ini. Ayoo.. Selamatkan segera Barus. Abdul Khalik

RAGAM PLURALIS

Potret Lain Barus : Barus dikenal sebagai daerah per- tama masuknya Islam di Nusantara.Tapi siapa sangka saat ini kondisi Islam di sana, merana. Sedangkan kalangan non-muslim justru memperlihatkan perkem- bangan. Terlihat gereja HKBP Barus berdiri megah sebagai ungkapan bahwa pemeluk agama itu, kini mendominasi bandar tua itu. Sinergi/Abdul Khalik

JANGAN TAKUT MENGEJAR IMPIAN

Dalam dokumen SEGERA KELOLA DAS KITA (Halaman 55-58)

Dokumen terkait