BAB II HUBUNGAN TUGAS DAN RAHASIA JABATAN
B. Rahasia Jabatan Notaris dan Keterkaitan Dengan Aspek
Sumpah jabatan dalam pasal 4 ayat (2) UUJN yang mewajibkan notaris merahasiakan isi akta, “saya akan merahasiakan isi akta dan keterangan yang diperoleh dalam pelaksanaan jabatan saya”. Pasal 16 ayat (1) huruf e UUJN jug mengatur kewajiban serupa, yaitu: “Dalam menjalankan jabatannya, Ntaris berkewajibaan : Merahasiakan segala sesuatu mengenai akta yang dibuatnya dan segala keterangan yang diperoleh guna pembuatan akta sesuai dengan sumpah/janji jabatan, kecuali undang-undang menentukan lain”. Dari rumusan sumpah jabatan tersebut, terdapat kewajiban bagi Notaris untuk merahasiakan isi akta.
Pada tanggal 6 mei 2006 Ikatan Notaris Indonesia (INI) juga menindak lanjuti ketentuan Pasal 66 ayat (1) Undang-undang Jabatan Notaris dengan menandatangani nota kesepahaman dengan Kepolisian Republik Indonesia No.Pol:B/1056/V/2006 dan Nomor:01/MoU/PP-INI/V/2006 tentang pembinaan dan peningkatan profesionalisme di bidang penegakan hukum. Nota kesepahaman tersebut memuat ketentuan bahwa tindakan pemanggilan terhadap notaris harus dilakukan secara tertulis dan
ditandatangani oleh penyidik. Namun, pemanggilan itu dilakukan setelah pen yidik memperoleh persetujuan dari Majelis Pengawas yang merupakan suatu badan yang mempunyai kewenangan dan kewajiban untuk melaksanakan pembinaan dan pengaawasan. Lebih lanjut isi kesepahaman itu mengatur notaris yang akan diperiksa atau dimintai keterangan harus jelas kedudukan dan perannya, apakah sebagai saksi atau tersangka terhadap akta-akta yang dibuatnya dan/atau selau pemegang protool.31
Pada dasarnya ada 9 aspek yang dapat menjerat Notaris menjadi terdakwa di depan sidang pengadilan dan diminta pertanggungjawaban pidananya. Aspek-aspek tersebut adalah:
1. Tanggal dalam akta tidak sesuai dengan kehadiran para pihak; 2. Para pihak tidak hadir tetapi ditulis hadir;
3. Para pihak tidak ada yang membubuhi tanda tangan tetapi ditulis atau ada tandatangannya;
4. Akta sebenarnya tidak dibaca akan tetapi diterangkan telah dibacakan; 5. Kebenaran objek berbeda dengan yang diterangkan oleh para pihak; 6. Bahwa notaris ikut campur tangan terhadap syarat-syarat perjanjian;
7. Pencantuman dalam akta bahwa pihak-pihak telah membayar’ lunas apa yang diperjanjikan padahal sebenarnya belum lunas atau bahkan belum ada pembayaranyang riil;
8. Pencantuman pembacaan akta yang harus dilakukan oleh Notaris sendiri padahal sebenarny tidak;
9. Pencantuman mengenal orang yang menghadap padahal sebenarnya tidak mengenal.
Kedudukan Notaris sebagai fungsinoris dalam masyarakat hingga sekarang masih dirasakan dan disegani. Seorang Notaris biasanya dianggap sebagai seorang pejabat tempat seseorang mendapat nasehat yang boleh diandalkan, segala sesuatu yang ditulis dan yang ditetapkan (konstatir) adalah benar, ia adalah pembuat dokumen yang kuat dalam suatu proses hukum. Notaris mempunyai jabatan ganda, di satu pihak ia pemangku jabatan negaraa di pihak lain ia pelaksana profesi. Namun demikian dasarnya adalah sama bahwa Notaris mengatur hubungan hukum ecra tertulis antara berbagai pihak yang dituangkan dalam suatu akta otentik.
Notaris yang melakukan kesalahan maupun kelalaian dalam melaksanakan tugas jabatannya, dapat dimintakan pertanggungjawabannya baik itu dituntut secara perdata maupun pidana dalam persidangan di pengadilan. Dasar dari penuntutan atas tanggung jawab secara perdata adalah adanya pihak yang merasa dirugikan atas akta otentik yang dibuat oleh Notaris, sehingga terhadap Notaris itu dapat diminta ganti rugi.
Salah satu ketentuan yang dapat diterapkan terhadap profesi Notaris adalah penegakan hukum pidana, hukum pidana dapat diterapkan apabila Notaris yang bersangkutan telah melakukan perbuatan pidana. Perbuatan pidana adalah perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum, larangan itu disertai ancaman atau sanksi yang berupa pidana tertentu bagi yang melanggar larangan tersebut.
Menurut Pasal 1 ayat (1) KUH Pidana menyebutkan bahwa suatu perbuatan hanya merupakan tindak pidana, jika ditentukan lebih dahulu dalam suatu ketentuan
perundang-undangan. Dalam bahasa latin dikenal dengan asas “nullum delictum,mulla puna sine praevia lege punali” (tiada kejahatan, tiada hukuman pidana tanpa UU Hukum Pidana terlebih dahulu).
Maka untuk dapat dikatakan sebagai perbuatan pidana harus memenuhi beberapa unsur sebagai berikut:
1. Subjek tindak pidana.
2. Perbuatan dari tindak pidana. 3. Hubungan sebab akibat. 4. Sifat melanggar hukum,
5. Kesalahan pelaku tindak pidana, 6. Kesengajaan.32
Perumusan perbuatan pidana dalam peraturan perundang-undangan hukum pidana di indonesia memiliki dua bentuk, yaitu tindak pidana yang dirumuskan secara formil dan tindak pidana yang dirumuskan secara materiil. Perumusan secara formil yaitu, apabila yang disebut atau yang menjadi pokok dalam perumusannya adalah kelakuannya. Sedangkan perumusan secara materiil yaitu, apabila yang disebut atau yang menjadi pokok dalam perumusannya adalah akibatnya. Penerapan pidana terhadap Notaris melihat dari perumusan materilnya, yaitu dilihat akibat apa yang ditimbulkan dari suatu akta otentik yang dibuatnya.
Tanggung jawab pidana Notaris bertanggungjawab atas masalah yang timbul dari akta yang dibuatnya, kebiasaan yang sering terjadi adalah seorang Notaris
32 Wirjono Prodjodikoro, Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia, PT. Eresco, Jakarta, 1981,
dituntut tanggung jawab pidananya dengan dijerat atas tuduhan pemalsuan (Pasal 263 9 KUHPidana). Dalam hal seorang Notaris dituntut tanggung jawabnya secara pidana dan terbukti bersalah, maka terhadap Notaris tersebut dapat diberhentikan dengan tidak hormat dari jabatannya, hal ini diatur dalam Pasal 12 dan 13 UUJN.
Dalam pembahasan ini diuraikan sekilas tentang tanggung jawab Notaris secara perdata. Notaris dalam kepasitasnya sebagai pejabat umum adalah seorang manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan-kesalahan baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja yang akhirnya menuntut pertanggungjawabannya, dengan kata lain bukan berarti seorang Notaris tidak pernah atau tidak mungkin melakukan perbuatan yang bertentangan dengan hukum, dan Notaris juga bukanlah merupakan seseorang yang kebal hukum.
Adakalanya Notaris dapat terlibat dalam proses operadilan pidana, baik sebagai saksi, sebagai saksi ahli maupun sebagai terdakwa, sepanjang perbuatannya memenuhi unsur-unsur tindak pidana atau berhubungan erat dengan terjadinya tindak pidana. Dalam kondisi masyarakat yang semakin kompleks dan moderen. Kemungkinan keterlibatan Notaris dalam peradilan pidana semakin besar. Hal ini disebabkan tuntutan akan kebutuhan yang semakin meningkat akan perlunya alat-alat bukti yang sah, antara lain akta otentik. Kebutuhan yang semakin meningkat akan perlunya akta otentik, tidak menutup kemungkinan adanya manipulasi kepentingan atau niat tidak baik yang bersembunyi di balik pembuatan akta otentik itu.
Pertanggungjawaban Notaris secara perdata dilakukan dengan dasar suatu gugatan timbul dari suatu akta otentik. Gugatan timbul karena ada sengketa atau
Pertanggungjawaban merupakan konsekuensi logis yang dpat dibedakan kepada profesi hukum dalam menjalankan jabatannya, baik berdasarkan hukum maupun moral.
Tuntutan tanggung jawab seorang pengembang profesi pada dasarnya dapat dibedakan sebagai berikut:
1. Intern, yaitu tanggung jawab yang dikaji berdasarkan kode etik organisasi profesi (kode etik yang dihasilkan oleh Ikatan Notaris Indonesia);
2. Eksterm, yaitu tanggung jawab berdasarkan hukum yang berlaku (yaitu hukum perdata, pidana atau administrasi negara)
Dasar dari perbebanan tanggung jawab terhadap Notaris adalah apabila tibul masalah terhadap akta otentik yang dibuatnya. Masalah yang timbul adalah adanya pembatalan akta otentik yang dibuat oleh seorang Notaris oleh pengadilan, pemalsuan akta oleh Notaris atau Notaris terlibat dalam pemalsuan itu (tanggung jawab pidana), dan yang terakhir adalah suatu akta kehilangna sifat keotentikannya, yang disebabkan tidak terpenuhinya syarat dalam pembuatan akta itu sebagaiman yang ditentukan dalam UUJN.
Selain tuntutan pidana, Notaris juga tidak lepas dari tuntutan perdata, terhadap kerugian yang dialami para pihak atas permasalahan yang timbul dari akta otentik yang dibuatnya. Dalam hal terjadi pembatalan terhadap suatu akta oleh hakim, maka para pihak yang merasa dirugikan ats pembatalan akta itu dapat meminta pertanggungjawaban kepada Notaris yang membuat akta itu, yang biasnya dalam bentuk ganti rugi atas kerugian yang dialami oleh para pihak yang berkepentingan terhadap akta yang dibatalkan tersebut.
Setiap orang yang mempunyai suatu kepentingan atau hak dan merasa dirugikan, maka dapat mengajukan gugatn ke pengadilan dan untuk memenangkan
gugatannya, ia harus mampu mengemukakan bukti-bukti dari sesuatu yang telah didalilkannya. Hal ini sejalan dengan ketentuan dalam Pasal 1865 KUH Perdata, yang menyatakan: “setiap orang yang mendalilkan bahwa ia mempunyai sesuatu hak, atau guna meneguhkan haknya sendiri maupun membantah suatu hak orang lain, menunjuk pada suatu peristiwa, diwajibkan untuk membuktikan adanya hak atau peristiwa tersbut”.
Dari ketentuan pasal tersebut diatas, seorang klien yang dirugikan oleh Notaris dapat mengajukan gugatan ganti rugi kepada Notaris, baik berdasarkan wanprestasi maupun perbuatan melawan hukum, asalkan dapat membuktikan dalildalil yang dikemukakannya.
Pertanggungjawaban Notaris secara perdata dapat dilihat dalam Pasal 84 UUJN, yang menyatakan:”tindakan pelanggaranyang dilakukan Notaris terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) huruf I, Pasal 16 ayat (I) huruf k. Pasal 51, Pasal 44, Pasal 48, Pasal 49, Pasal 50, Pasal 51 atau Pasal 52 yang mengakibatkan suatu akta hanya mempunyai kekuatan pembuktian sebagai akta dibawah tangan atau suatu akta menjadi batal demi hukum dapat menjadi alasan bagi pihak yang menderita kerugian untuk menuntut penggantian biaya, ganti rugi, dan bunga kepada Notaris”.
Dari ketentuan yang terdapat dalam pasal 84 UUJN dapat diketahui bahwa Notaris bertanggung jawab terhadap para pihak yang berkepentingan pada akta yang dibuatnya, yakni:
2. Jika suatu akta tidak memenuhi syarat-syarat mengenai bentuk, yang mengakibatkan suatu akta hanya mempunyai kekuatan pembuktian sebagai akta bawah tangan atau suatu akta menjadi batal demi hukum;
3. Dalam segala hal, dimana menurut ketentuan dalam Pasal 1365, Pasal 1366 dan Pasal 1367 KUHPerdata terdapat kewajiban untuk membayar ganti rugi. Jadi sepanjang menyangkut hal-hal yang dimaksudkan di atas, sebelum Notaris yang bersangkutan dihukum untuk mengganti kerugian yang diderita para pihak, maka terlebih dahulu harus dapat dibuktikan:
1. Adanya kerugian yang diderita;
2. Bahwa antara kerugian yang diderita akibat pelanggaran atau kelalaian Notaris terdapat hubungan kausal;
3. Bahwa pelanggaran atau kelalaian itu disebabkan kesalahan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada Notaris yang bersangkutan.
Dalam membuktikan adanya kerugian yang diderita para pihak, pada umumnya tidak begitu sulit, sekalipun besarnya kerugian yang diderita itu tidak selalu dapat ditetapkan secara pasti.untuk dibuktikan adalah ke-2 dan ke-3 karena kerugian yang diderita itu harus sebagai akibat dari perbuatan atas kelalaian atau kesalaahn harus dapat dipertanggungjawabkan kepada Notaris dalam arti luas, yang meliputi unsur kesengajaan (dolus) di kelalaian (culpa).
Kesengajaan (dolus) tidak begitu menimbulkan kesulitan, di mana seorang Notaris dengan sengaja atau direncanakan melakukan kesalaahan dalam membuat akta otentik, sehingga menimbulkan keuntungan bagi dirinya sendiri dan merugikan pihak yang berkepentingan terhadap akta itu.
Sepanjang mengenai kelalaian (culpa), dalam hal ini harus dianut pendirian bahwa bukanlah keadaan subyektif dari Notaris yang bersangkutan yang menentukan sampai sejauh mana tanggung jawabnya, tetapi harus berdasarkan suatu pertimbangan obyektif. Dalam hal ini harus diketahui apakah seorang Notaris yang bermoral, jujur dan baik, tidak menyadari akibat yang tidak dikehendaki.
Dengan adanya pembatalan terhadap akta tersebut akan menimbulkan kerugian pada para pihak lain yang berkepentingan terhadap akta yag dibatalkan tersebut. Hal ini memungkinkan bagi pihak yang merasa dirugikan untuk menuntut ganti rugi atas kerugian yang timbul jika akta tersebut dibatalkan oleh hakim. Permintaan ganti rugi didasarkan pada ketentuan dalam Pasal 84 UUJN.
Pertanggungjawaban seorang Notaris atas permasalhan yang timbul dari akta otentik yang dibuatnya, harus terlebih dahulu ada keputusan hakim yang mempunyai kekuatuan hukum tetap. Baik berupa putusan yang menyatakan pembatalan akta maupun akta otentik hanya mempunyai kekuatan sebagai akta dibawah tangan. Bentuk tanggung jawab perdata yang dapat dibedakan kepada Notaris terhadap pembatalan akta otentik yang dibuatnya sebagai mana yang terdapat dalam ketentuan Pasal 84 UUJN adalah dalam bentuk pengantian biaya, ganti rugi dan bunga atas kerugian yang dialami oleh salah satu pihak.