TESIS
Oleh
MINCE SETIAWATY GINTING
057011058/M.Kn
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
TESIS
Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Magister Kenotariatan Pada Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara
Oleh
MINCE SETIAWATY GINTING
057011058/M.Kn
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Menyetujui Komisi Pembimbing
(Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN) Ketua
(Notaris Syahril Sofyan, SH, MKn) (Prof. Dr. Budiman Ginting, SH, MHum)
Anggota Anggota
Ketua Program Studi, Direktur
(Prof.Dr.Muhammad Yamin,SH,MS,CN) (Prof.Dr.Ir.T.Chairun Nisa B, MSc)
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN
Anggota : 1. Notaris Dr. Syahril Sofyan, SH, MKn
2. Prof. Dr. Budiman Ginting, SH, MHum
3. Dr. Faisal Akbar Nasution, SH, MHum
Undang-undang Jabatan Notaris Nomor 30 Tahun 2004 tentang kewajiban Notaris, mewajibkan Notaris untuk tidak berbicara, sekalipun di muka pengadiln, artinya tidak dibolehkan untuk memberikan kesaksian mengenai apa yang dimuat dalam aktanya. Notaris tidak hanya berhak untuk bicara, akan tetapi mempunyai kewajiban untuk tidak bicara. Jabatan yang di pangku oleh Notars adalah jabatan kepercayaan dan justru oleh karena itu seorang bersedia mempercayakan sesuatu kepadanya. Notaris tidaklah bebas memberitahukan apa yang diberitahukan kepadanya selaku Notaris oleh kliennya pada waktu diadakan pembicaraan-pembicaraan sebagai persiapan untuk pembuatan suatu akta, sekalipun ada sebagian yang tidak dicantumkan dalam akta. Namun dalam prakteknya, seorang Notaris sering dijadikan sebagai saksi dalam suatu perkara baik perdata maupun pidana, dimana Notaris diminta untuk mengungkapkan isi dari akta-akta yang dibuatnya dengan alasan demi kepentingan penyidikan. Hal ini sering menimbulkan dilemma bagi seorang Notaris, disatu sisi dia harus menjagakerahasiaan isi dari akta-akta tersebut tetapi disisi lain ia dipaksa harus mengungkapkan isi dari akta tersebut. Dengan demikian terjadi pertentangan antara hukum positif khusus nya UUJN dengan hukum acara baik perdata maupun pidana.
Untuk permasalahan di atas maka penelitian ini bersifat deskriptif analisis dengan pendekatan yuridis normative. Untuk diperlukannya suatu data baik primer,sekkunder dan tertier. Dengan teknik pengumpulan dat library research dengan alat pengumpulan data yatu studi dokumen. Data yang diperoleh kemudian dianalisis sehngga didapatkan kesimpulan yang bersifat dedukatif-induktif.
Kesimpulan untuk penulisan ini adalah Hubungan tugas notaris dengan aspek pidana yaitu Perumusan perbuatan pidana dalam peraturan perundan-undang hukum pidana di indonesia memiliki dua bentuk, yaitu tindak pidana yang dirumuskan secara formil dan tindak pidana yan dirumuskan secara materiil. Tindakan pemanggilan terhadap notaris harus dilakukan secara tertulis dan ditandatangani oleh penyidik. Namun, pemanggilan itu dilakukan setelah penyidik memperoleh persetujuan dari majelis pengawas yang merupakan suatu badan yang mempunyai kewenangan dan kewajiban untuk melaksanakan pembinaan dan pengawasan. Kedudukan rahasia Jabatan Notaris dalam pemeriksaan persidangan yaitu dalam Undang-undang Jabatan Notaris tidak memuat ketentuan yang secara tegas melarang Notaris untuk tidak bicara mengenai dimuka persidangan. Dengan demikian dalam hal ini tidak dapat dituntut untuk memperlakukan pasal 4 ayat (2) dan pasal 16 ayat (e) Undang-undang jabatan Notaris Nomor.
penghadap dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan sebanyak mungkin dan mengajaknya berbicara tentang surat/akta yang akan dibuat oleh notaris. Selain itu perlu mengunakan feeling /perasaan notaris itu sendiri untuk mempertajam keyakinan.
Notary not to speak, even before the Court which means that he is prohibited to testify what he has written in the deeds. A Notary does not only have the right to speak but also has the obligation not to speak. His position is a trust which is entrusted it to him. He does not freely tell what has been told by his clients before he draws up a deed although some of it is not mentioned in the deed. In practice, however, a Notary is usually used as a witness either in criminal case or in civil case to reveal the content of the deed for the sake of investigation. This is a dilemma for a Notary. On one hand, he is required to the secret of the deed; on the other hand, he is forced to disclose it. Therefore, there is a contradiction between positive law, particularly Notarial Act, and law of procedure, either law of civil procedure or law of criminal procedure.
The research was descriptive analytic with judicial normative method. The data consisted of primary, secondary, and tertiary legal materials. They were gathered by conducting library research and documentation study and analyzed deductively and inductively.
The conclusion of the research was that there was the correlation between a Notary’s duty and criminal aspect; that is, the formulation of criminal action criminal law in Indonesia has two forms: criminal act which formulated formally and criminal act which formulated materially. Summoning a Notary should be in a written form and signed by an investigator, and it is done after the investigator gets approval from Supervising Council that has the authority and responsibility in supervision. The position of a Notary’s professional confidentiality in the Notarial Act does not explicitly prohibit a Notary to keep silent in the hearing. In this case, Article 4, paragraph 2 and Article 16, point e of the Notarial Act cannot be enacted.
It is recommended that law enforcement agency understand a Notary’s profession so that summon for a Notary will be proportional. A Notary, in doing his profession, should be guided by the prevailing regulations, be very careful and alert in studying and examining dossiers given by the persons appearing. Besides that, he should take care of the attitude and what has been said by the persons appearing by asking many questions about the deeds which are going to draw up. He should also use his feeling in order to sharpen his confidence.
RAHASIA JABATAN NOTARIS DALAM PEMERIKSAAN PIDANA” .
Dalam penulisan tesis ini banyak pihak yang telah memberikan bantuan
dorongan moril, masukan dan saran, sehingga tesis ini dapat diselesaikan. Penulis
mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat Bapak Pembimbing,Bapak Prof.
Dr. Muhammad Yamin , SH, MS, CN, Bapak Notaris Syahril Sofyan, SH, MKn,
Bapak Prof. Dr. Budiman Ginting, SH, M.Humatas kesediaannya membantu dan
memberikan bimbingan dan arahan untuk kesempurnaan penulisan tesis ini sehingga
diperoleh hasil yang maksimal.
Penulis juga mengucapkan terima kasih banyak kepada Ibu Hj. Chairani
Bustami, SH, SpN, MKndan BapakDr. Faisal Akbar Nasution, SH, MHumyang
telah banyak memberikan masukan-masukan terhadap penyempurnaan tesis ini sejak
tahap kolokium, seminar hasil dan sampai pada ujian tertutup, sehingga penulisan
tesis ini menjadi lebih jelas dan terarah.
Selanjutnya Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Chairuddin P. Lubis, DTM&H, Sp.A(K), selaku Rektor
Universitas Sumatera Utara.
2. Ibu Prof. Dr. Ir. T. Chairun Nisa B, M.Sc, selaku Direktur sekolah
Pascasarjana Universitas Sumatera Utara dan para Wakil Direktris seluruh Staf
atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan kepada penulis sehingga dapat
menyelesaikan pendidikan.
3. BapakProf. Dr. Muhammad Yamin SH, MS, CN selaku Ketua Program Studi
Kenotariatan Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.
4. IbuDr. T. Keizerina Dewi Azwar, SH, CN, M.Humselaku Sekretaris Program
Utara yang telah banyak membantu dalam memberikan saran dalam penulisan
tesis.
7. Secara tulus ucupan terima kasih yang tak terhingga, penulis sampaikan kepada
Ayah, Bunda dan mertua, serta suami tercinta Teddy Arifianta Purba, SE,
anak-anakku tersayang Osvaldo Sonof Dimmie Purba dan Pricessa Arista
Purbayang penuh kesabaran dan kasih sayang kepada Penulis disertai doa dan
dukungannya sehingga Penulis dapat menyelesaikan kuliah S2 (Strata dua) dan
khususnya dalam penulisan tesis ini. Begitu juga kepada Abang, Kakak serta
Adik-adikku yang kusayangi yang penuh perhatian selalu memberikan dorongan
kepada penulis.
Penulis banyak menyadari bahwa tesis ini tidak luput dari kekurangan dan
kelemahan, baik dari sudut isi maupun dari era pengajuannya. Oleh karena itu saran
dan masukan yang membangun sangat dibutuhkan demi kesempurnaan tesis ini.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua.
Amin
Medan, September 2009 Penulis
Nama : MINCE SETIAWATY GINTING, SH
Tempat/Tgl Lahir : Tanjung Balai, 17 Juni 1982
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Kristen
Kebangsaan : Indonesia
Pekerjaan : Hakim
Alamat : Jl. Pasar II Tanjung Sari Perumahan Setia Budi
Gardenia B-10
Nama Suami : TEDDY ARIFIANTA PURBA, SE
Nama Anak : - OSVALDO SONOF DIMMIE PURBA
- PRINCESSA ARISTA PURBA
Status : Menikah
II. ORANG TUA
Ayah : Jamin Ginting
Ibu : Rosita Panjaitan
Alamat : Jl. IR. H. Juanda No. 112 Tanjung Balai
III. RIWAYAT PENDIDIKAN
SD : SDN. 132413 Tanjung Balai (1988-1994)
SMP : SMPN 2 Tanjung Balai (1994-1997)
SMA : SMA TritunggalTanjung Balai(1997-2000)
S1 Universitas : NOMENSEN (2000-2004)
S2 Universitas : Program Studi Magister Kenotariatan
ABSTRACT ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... vi
DAFTAR ISI ... vii
BAB 1 PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Permasalahan ... 11
C. Tujuan Penelitian ... 11
D. Manfaat Penelitian ... 12
E. Keaslian Penelitian ... 12
F. Kerangka Teori dan Konsepsional ... 13
1. Kerangka Teori ... 13
2. Konsepsional ... 16
G. Metode Penelitian ... 23
BAB II HUBUNGAN TUGAS DAN RAHASIA JABATAN NOTARIS DENGAN ASPEK PIDANA ... 26
A. Tugas dan Fungsi Notaris Berdasarkan Undang-undang Jabatan Notaris ... 26
B. Rahasia Jabatan Notaris dan Keterkaitan Dengan Aspek Pidana ... 28
C. Sistem Pertanggung Jawaban Notaris ... 36
BAB III RAHASIA JABATAN NOTARIS DALAM PEMERIKSAAN PERKARA PIDANA ... 51
A. Tanggung Jawab Notaris ... 51
B. Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Akta Bermasalah ... 81
C. Upaya Mempertahankan Rahasia Jabatan Notaris Terhadap Akta Yang Bermasalah ... 86
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 99
A. Kesimpulan ... 99
B. Saran ... 100
Undang-undang Jabatan Notaris Nomor 30 Tahun 2004 tentang kewajiban Notaris, mewajibkan Notaris untuk tidak berbicara, sekalipun di muka pengadiln, artinya tidak dibolehkan untuk memberikan kesaksian mengenai apa yang dimuat dalam aktanya. Notaris tidak hanya berhak untuk bicara, akan tetapi mempunyai kewajiban untuk tidak bicara. Jabatan yang di pangku oleh Notars adalah jabatan kepercayaan dan justru oleh karena itu seorang bersedia mempercayakan sesuatu kepadanya. Notaris tidaklah bebas memberitahukan apa yang diberitahukan kepadanya selaku Notaris oleh kliennya pada waktu diadakan pembicaraan-pembicaraan sebagai persiapan untuk pembuatan suatu akta, sekalipun ada sebagian yang tidak dicantumkan dalam akta. Namun dalam prakteknya, seorang Notaris sering dijadikan sebagai saksi dalam suatu perkara baik perdata maupun pidana, dimana Notaris diminta untuk mengungkapkan isi dari akta-akta yang dibuatnya dengan alasan demi kepentingan penyidikan. Hal ini sering menimbulkan dilemma bagi seorang Notaris, disatu sisi dia harus menjagakerahasiaan isi dari akta-akta tersebut tetapi disisi lain ia dipaksa harus mengungkapkan isi dari akta tersebut. Dengan demikian terjadi pertentangan antara hukum positif khusus nya UUJN dengan hukum acara baik perdata maupun pidana.
Untuk permasalahan di atas maka penelitian ini bersifat deskriptif analisis dengan pendekatan yuridis normative. Untuk diperlukannya suatu data baik primer,sekkunder dan tertier. Dengan teknik pengumpulan dat library research dengan alat pengumpulan data yatu studi dokumen. Data yang diperoleh kemudian dianalisis sehngga didapatkan kesimpulan yang bersifat dedukatif-induktif.
Kesimpulan untuk penulisan ini adalah Hubungan tugas notaris dengan aspek pidana yaitu Perumusan perbuatan pidana dalam peraturan perundan-undang hukum pidana di indonesia memiliki dua bentuk, yaitu tindak pidana yang dirumuskan secara formil dan tindak pidana yan dirumuskan secara materiil. Tindakan pemanggilan terhadap notaris harus dilakukan secara tertulis dan ditandatangani oleh penyidik. Namun, pemanggilan itu dilakukan setelah penyidik memperoleh persetujuan dari majelis pengawas yang merupakan suatu badan yang mempunyai kewenangan dan kewajiban untuk melaksanakan pembinaan dan pengawasan. Kedudukan rahasia Jabatan Notaris dalam pemeriksaan persidangan yaitu dalam Undang-undang Jabatan Notaris tidak memuat ketentuan yang secara tegas melarang Notaris untuk tidak bicara mengenai dimuka persidangan. Dengan demikian dalam hal ini tidak dapat dituntut untuk memperlakukan pasal 4 ayat (2) dan pasal 16 ayat (e) Undang-undang jabatan Notaris Nomor.
penghadap dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan sebanyak mungkin dan mengajaknya berbicara tentang surat/akta yang akan dibuat oleh notaris. Selain itu perlu mengunakan feeling /perasaan notaris itu sendiri untuk mempertajam keyakinan.
Notary not to speak, even before the Court which means that he is prohibited to testify what he has written in the deeds. A Notary does not only have the right to speak but also has the obligation not to speak. His position is a trust which is entrusted it to him. He does not freely tell what has been told by his clients before he draws up a deed although some of it is not mentioned in the deed. In practice, however, a Notary is usually used as a witness either in criminal case or in civil case to reveal the content of the deed for the sake of investigation. This is a dilemma for a Notary. On one hand, he is required to the secret of the deed; on the other hand, he is forced to disclose it. Therefore, there is a contradiction between positive law, particularly Notarial Act, and law of procedure, either law of civil procedure or law of criminal procedure.
The research was descriptive analytic with judicial normative method. The data consisted of primary, secondary, and tertiary legal materials. They were gathered by conducting library research and documentation study and analyzed deductively and inductively.
The conclusion of the research was that there was the correlation between a Notary’s duty and criminal aspect; that is, the formulation of criminal action criminal law in Indonesia has two forms: criminal act which formulated formally and criminal act which formulated materially. Summoning a Notary should be in a written form and signed by an investigator, and it is done after the investigator gets approval from Supervising Council that has the authority and responsibility in supervision. The position of a Notary’s professional confidentiality in the Notarial Act does not explicitly prohibit a Notary to keep silent in the hearing. In this case, Article 4, paragraph 2 and Article 16, point e of the Notarial Act cannot be enacted.
It is recommended that law enforcement agency understand a Notary’s profession so that summon for a Notary will be proportional. A Notary, in doing his profession, should be guided by the prevailing regulations, be very careful and alert in studying and examining dossiers given by the persons appearing. Besides that, he should take care of the attitude and what has been said by the persons appearing by asking many questions about the deeds which are going to draw up. He should also use his feeling in order to sharpen his confidence.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam Negara yang beerdasarkan hukum seperti Indonesia, peranan dan
fungsi hukum amatlah penting dalam mengembangkan kehidupan bermasyarakat,
bebangsa dan bernegara. Dalam hubungan ini maka peranan, fungsi dan tanggung
jawab aparatur hukum dan penyandang profesi di bidang hukum memegang peranan
yang sangat stategis dalam rangka menjaga dan menegakkan citra negara hukum itu,
yang di dalamnya tercermin suasana keadilan, ketertiban dan kepastian hukum.
Pemerintah dan masyarakat berharap agar jasa yang diberikan dan produk
hukum yang dihasilkan oleh Notaris benar-benar memiliki bobot dan nilai-nilai
hukum yang dapat diandalkan, yang bukan saja memenuhi ketertiban dan kepastian
hukum yang berlaku, tetapi juga memperlancar dan mengamankan jalannya
pembangunan.
Tidak dapat dipungkiri bahwa keberadaan dan kehadiran seorang Notaris
selalu diperlukan oleh masyarakat, terlebih masyarakat yang sedang membangun.
Bahkan dapat dikatakan bahwa jasa seorang Notaris diperlukan oleh masyarakat yang
telah dewasa atau telah menikah hingga meninggal dunia. Orang yang akan
melangsungkan perkawinan dapat mempergunakan jasa Notaris dengan meminta
untuk dibuatkan akta perjanjian kawin, demikian pula dengan kehidupan/kegiatan
sehari-hari, misalnya suatu badan usaha, perjanjian jual beli, tukar-menukar,
Menuangkan kehendak terakhirnya dalam akta wasiat yang dibuat dihadapan Notaris.
Jika seorang meninggal dunia, maka para ahli waris dapat menyelesikan pembagian
hak warisnya dengan akta pemisahan dan pembagian warisan dihadapan Notaris.
Pembangunan dilaksanakan untuk menunjang dan mempercepat proses
perkembangan dan kemajuan suatu negara. “pembangunan yang sedang berlangsung
di negara-negara berkembang tidak hanya menyangkutpembangunan ekonomi
semata-mata, melinkan juga melibatkan bidang-bidang lain di dalam masyarakat,
termasuk pembangunan di bidang hukum.”1 Pembangunan di bidang hukum sangat
penting dilakukan karena Indonesia adalah negara hukum berdasarkan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (sekarang Undang-Undang-Undang-Undang
Dasar 1945 amademen keempat tahun 2002). Prinsip negara hukum menjamin
kepastian, ketertiban, dan perlindungan hukum yang berintikan kebenaran dan
keadilan.
Dalam perkembangannya, untuk membuat perjanjian seperti perjanjian sewa
menyewa, perjanjian kerjasama dan lain sebagainya, hams dirumuskan dan ditulis
sebagai bukti yang dapat dipercaya bagi para pihak. Hal inilah yang menyebabkan
dalam suatu perundang-undangan untuk melakukan perbuatan hukum dalam
melakukan suatu perikatan perjanjian sebaiknya dilakukan dengan membuat akta
otentik.
Kepastian, ketertiban, dan perlindungan hukum menuntut, antara lain, bahwa
1Mulyana W. Kusumah,Pranan dan Pendayagunaan Hukum Dalam Pembangunan,Penerbit
lalu lintas hukum yang memerlukan adanya alat bukti dalam menentukan hak dan
kewajiban seseorang sebagai subyek hukum dalam kehidupan masyarakat: Oleh
karena itu “keterlibatan hukum yang semakin aktif ke dalam persoalan-persoalan
yang menyangkut perubahan sosial, justru memunculkan permasalahan yang
mengarahkan pada penggunaan hukum secara sadar dan aktif sebagai sarana untuk
turut menyusun tata kehidupan yang baru tersebut.”2
“Sebagai homo-sapiens dan sebagai homo-econmicu menusia senantiasa berfikir untuk melakukan perbuatan hukum dengan memanfaatkan informasi yang diperolehnya yang diharapkannya akan memberikan manfaat atau keuntungan baginya dan bagi lingkungannya. Perubatan hukum yang dimaksudkan selain dilakukan terhadap alam dan lingkungannya juga
dilakukannya terhadap sesama manusia yang merupakan anggota
masyarakatnya.”3
Akta otentik sebagai alat bukti terkuat dan terpenuh mempunyai peranan
penting dalam setiap hubungan hukum dalam kehidupan masyarakat, antara lain
hubungan bisnis, kegiatan di bidang perbankan, pertanahan, kegiatan sosial.
Kebutuhan akan pembuktian tertulis berupa akta otentik makin meningkat sejalan
dengan berkembangnya tuntutan akan kepastian hukum.
“Dengan adanya suatu amanah yang menyangkut tentang perlindungan nasib
seseorang, maka tanggung jawab diletakkan di atas bahu anggota pelaku hukum itu
sendiri, hal ini bukan saja dalam kepentingan pribadi namun juga kepentingan
umum.”4
2Bambang Sunggono,Hukum Dan Kebijaksanaan Publik,Sinar grafika, Jakarta, Cet-1, 1994 3 Bandingkan dengan adegium yang berbunyi Ubi Societas, Ibis Ius, artinya dimana ada
masyarakat, disana ada hukum, lebih lanjut lihat Lili Rasyidi, hukum sebagai Suatu sistem, Penerbitan CV.Mandar Maju, Bandung, 2003, Hal. 145, Bandingkan dengan Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum, Suatu Pengantar, Penerbit Liberty, Yogyakarta, 1996, Hal.27
4 Niko, Tanggung Jawab Notaris selaku Pejabat Umum, Center for Documentation and
Segala perbuatan yang dilakukan oleh seseorang, baik secara sadar maupun
tidak sadar akan mempertanggungjawabkan perbuatan tersebut, terlebih lagi
pertanggungjawaban yang berkaitan dengan profesi hukum. Notaris adalah salah satu
profesi hukum yaitu pejabat umum yang berwewenang untuk membuat akta otentik
sejauh perbuatan akta otentik tertentu tidak dikhususkan bagi pejabat umum lainnya.
Menurut Pasal 1 angka (1) UUJN jo. Pasal 1 Peraturan Jabatan Notaris (selanjutnya
disingkat PIN) menyatakan Notaris adalah satu-satunya yang mempunyai wewenang
umum itu, artinya tidak turut para pejabat lainnya.” 5 “wewenang Notaris adalah
bersifat umum, sedangkan weenang pejabat lain adalah pengecualian.”6
Pasal 1866 Kitab Undang Undang Hukum Perdata (selanjutnya ditulis
KUHPerdata) dan pasal 164 HIR (Herziene Indonesische Reglement), yang
merumuskan macam-macam alat bukti yang dapat dipergunakan dalam perkara
perdata dan juga dipergunakan dalam sidang majelis pemeriksaan Notaris yaitu bukti
tulisan, bukti saksi, persangkaan-persangkaan, pengakuan dan sumpah.
Dalam hal pertanggungjawaban Notaris terhadap akta yang dibuatnya di
dalam hukum pidana sering Notaris beranggapan bahwa pemanggilan penyidik Polisi
terlalu proaktif, namun dasar pemanggilan baik sebagai saksi maupun sebagai
tersangka telah dituangkan dalam aturan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana
(selanjutnya disingkat KUHAP) maupun Undang-undang Kepolisian (selanjutnya
disingkat UU Kepolisian).
Dalam Pasal 14 ayat 1 huruf (g) Undang Undang Nomor 2 Tahun 2002,
tentang Polri menyatakan: Kalau ada pelanggaran, Polri berwenang melakukan
penyelidikan dan penyidikan terhadap semua tindak pidana sesuai dengan hukum
acara pidana dan peraturan perundang-undang lainnya. Dalam hal proses pelaksanaan
pidana mengacu kepala pasal 16 (1) yaitu memanggil orang untuk didengar dan
diperiksa sebagai tersangka dan saksi.7
Seorang Notaris yang melakukan kesalahan atau kelalaian dalam
melaksanakan profesi jabatannya dapat dikenakan saksi,8berupa pidana, perdata, dan
sanksi administrative yang dikenakan oleh Majelis Pengawas Daerah (selanjutnya
disingkat MPD) maupun Majelis Pengawasan Wilayah (selanjutnya disingkat MPW),
dan majelis pengawas pusat (selajutnya disingkat MPP) berdasarkan ketentuan
hukum dan kode etik Notaris.
“Hukum acara yang berlaku dalam sidang pemeriksaan oleh majelis pemeriksaan Notaris, adalah sebagian diatur dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris ( selanjutnya disingkat UUJN), juga diatur dalam Peraturan Menteri Hukum dan HAM.RI No. M.02.PR.08.10 Tahun 2004 tanggal 7 Desember 2004, serta hukum acara perdata dalam lingkungan peradilan umum, khususnya ketentuan tentang alat bukti dan kekuatan bukti.”9
Dalam menjalankan jabatannya Notaris membutuhkan ketelitian, untuk itu
seorang Notaris harus handal mengatur hukum perjanjian dan perikatan yang semakin
7 Direskrim, Polda Jawa Barat, Kombes Pol. Djaswardana dalam seminar (MPW), Renvoi,
November, 2005
8 Pelanggaran Pasal 39 dan Pasal 40 UUJN mengatakan akta tersebut hanya mempunyai
kekuatan pembuktian sebagai akta dibawah tangan jika akta tersebut telah ditanda tangani oleh penghadap dan akibat lainnya adalah notaris yang bersangkutan berkewajiban untuk membayar biaya, ganti kerugian dan bunga kepada yang berkepentingan yang dalam UUJN dalam Pasal 85 mengatur pengenaan sanksi terhadap notaris dapat berupa teguran lisan, teguran tertulis, pemberhentian sementara, pemberhentian dengan hormat atau pemberhentian dengan tidak hormat.
berkembang mengikuti zaman, termasuk juga hukum bisnis. Pada era globalisasi dan
demokratisasi tanggung jawab seorang Notaris bukan hanya sebagai pembuatan akta
tetapi juga figur sebagai penasehat hukum, pertemuan hukum dalam arti luas,
pelindung, serta menjamin kebenaran atas akta yang dibuatnya.
Dalam Pasal 15 ayat (1)UUJN mengatakan bahwa:
“Notaris berwewenang membuat akta otentik, mengenai semua perbuatan, perjanjian dan penetapan yang diharuskan oleh suatu peraturan perundang-undangan dan/atau yang di kehendaki oleh yang berkepentingan untuk dinyatakan dalam akta otentik, menjamin kepastian tanggal pembuatan akta, menyimpan akta, memberikan groosse, salinan dan kutipan akta, semuanya itu sepanjang pembuatan akta-akta itu tidak juga ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat lain atau orang lain yang ditetapkan oleh undang-undang.”
Dengan diberikannya wewenang kepada Notaris untuk membuat akta otentik,
diharapkan bahwa akta otentik yang dibuat olehnya mampu menjamin kepastian
hukum, ketertiban dan perlindungan hukum kepada pihak yang berkepentingan atas
akta tersebut.
“Setiap akta yang dibuat oleh Notaris merupakan alat bukti yang kuat apabila terjadi suatu sengketa di antara pihak. Dalam persengketaan tersebut tidak jarang seorang Notaris juga hams ikut bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya. Hal ini sangat berpotensi menjadikan Notaris sebagai tergugat, turut tergugat, saksi, sebagai tersangka. Seperti halnya dalam kasus antara warga kelurahan Ceger, Cipayung, Jakarta Timur, dengan pihak TNI AD dalam hal pembebasan tanah guna pembangunan jalan tol Jakarta Outer Ring Road (JORR) TMII Cikunir pada bulan mei 2003.”10
Dalam proses pembuatan akta pelepasan tanah tersebut menyalahi prosedur, di
mana kesalahan prosedur dimaksud ialah karna Notaris tersebut tidak menghadirkan
pihak warga yang mengklaim tanah tersebut dan pihak TNI, tetapi hanya diwakili
kuasa khususnya, yaitu Hamid Giman. Perkaranya di gelar dalam kasus pidana
maupun perdata, ini merupakan salah satu contoh ketidaktelitian seorang Notaris
yang mengakibatkan akte diterbitkannya menimbulkan masalah hukum.
Notaris sebagai pejabat umum harus dapat mengikuti perkembangan hukum
sehingga dapat memberikan jasanya terhadap masyarakat guna membantu mengatasi
dan memenuhi kebutuhan hukum dn persoalan hukum yang timbul dalam masyarakat
itu sendiri.
Pesatnya pembangunan dalam hubungan hukum antara sesama manusia atau
dengan badan hukum lainnya akan memotivasi Notaris untuk melakukan pekerjaan
secara profesional dan menguasai hukum secara luas dan pengetahuan hukum yang
memadai.
Dalam perkembangan globalisasi11 tersebut Notaris harus memilih
kepribadian yang luhur yang senantiasa menjalankan undang-undang serta
menjunjung tinggi kode etik profesinya sebagai pejabat publik ; yitu dengan mengacu
kepada kode etik Notaris untuk kepentingan umum.
Dalam menjalankan fungsi dan tanggung jawabnya sebagai pejabat umum.
Tidak jarang Notaris berurusan dengan proses hukum, baik ditahap penyelidikan,
penyidikan maupun persidangan. Pada proses hukum ini Notaris harus memberikan
keterangan dan kesaksian menyangkut isi akta yang dibuatnya. Hal ini akan
bertentangan dengan sumpah jabatan Notaris, dimana Notaris berkewajiban untuk
merahasiakan isi akta yang dibuatnya.
Pada prinsipnya, akta yang dibuat oleh Notaris, mempunyai kepastian isi,
11Gobalisasi adlah proses masuknya ruang lingkip dunia, Umi Chulsum dan Windy Novia,
kepastian tanggal dan kepastian orangnya. Akta tersebut merupakan suatu bukti yang
mengikat dan sempurna, harus dipercaya oleh Hakim, yaitu hams dianggap sebagai
benar (selama kebenarannya tidak dibuktikan lain) dan tidak memerlukan tambahan
pembuktian. Pada proses hukum yang terjadi perlu dilihat sejauh mana kekuatan
pembuktian ini dilaksanakan.
Notaris berkewajiban untuk merahasiakan isi aktanya, bahkan Notaris wajib
merahasiakan semua keterangan mulai dari persiapan, pembuatan, hingga selesainya
pembuatan suatu akta. Seperti dokter yang hams merahasiakan pekerjaannya kepada
pasien. Apabila dijadikan saksi dalam perkara, dapat menggunakan haknya untuk
mengundurkan diri sebagai saksi.
Dalam persidangan, hakim sangat memerlukan adanya alat-alat bukti untuk
dapat mencari suatu putusan dan penyelesaian perkara secara pasti menurut hukum
berdasarkan pembuktian yang dilakukan. Dengan pembuktian, diharapkan dapat
dicapai kebenaran menurut hukum serta dapat menjamin perlindungan terhadap
hak-hak para pihak-hak yang berperkara, seraca seimbang.
Pasal 4 UUJN tentang sumpah jabatan Notaris dan Pasal 16 ayat (1) huruf (e)
UUJN tentang kewajiban Notaris, mewajibkan Notaris untuk tidak bicara, sekalipun
di muka pengadilan, artinya tidak dibolehkan untuk memberikan kesaksian mengenai
apa yang dibuat dalam aktanya. Notaris tidak hanya berhak untuk bicara, akan tetapi
mempunyai kewajiban untuk tidak bicara.
Kewajiban ini mengesampingkan kewajiban umum untuk memberikan
kesaksian yang dimaksud dalam Pasal 1909 ayat (3e) KUHP Perdata yang
menurut undang-undang diwajibkan merahasiakan sesuatu,namun hanyalah
semata-mata mengenai hal-hal yang pengetahuannya dipercayakan kepadanya sebagai
demikian
Hak ingkar Notaris bukan hanya merupakan hak saja,tetapi juga merupakan
kewajiban karena apabila dilanggar. Akan terkena sanksi menurut undang-undang.
Notaris dalam menjalankan jabatannya, merahasiakan bukan hanya pada yang
tercantum dan tertuang dalam akta yang dibuat dihadapannya, tetapi juga
merahasiakan yang diketahui dan diberitahukan dlam rangka pembuatan akta. Sanksi
tersebut sebagaimana Pasal 322 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
(selanjutnya ditulis KUHP Pidana) yang menyatakan: “ barang siapa dengan sengaja
membuka rahasia yang wajib disimpannya karena jabatan atau pencariannya, baik
yang sekarang maupun yang dahulu, diancam dengan pidana penjara paling lama
sembilan bulan atau pidana denda paling banyak sembilan ribu rupiah.” Untuk itu
Notaris dalam menjalankan tugasnya sehari-hari harus hati-hati dan teliti sehingga
melanggar ketentuan Pasal 263, 264, 266 KUHP Pidana.
Sebagaiman profesi lain yang berhimpun dalam suatu organisasi profesi dan
mempunyai kode etik tertentu, Notarispun sebagai jabatan kepercayaan menghimpun
dirinya dalam suatu organisasi Notaris dan tidak luput dari ketentuan-ketentuan Kode
Etik disamping ketentuan Undang-Undang yang berlaku. Ketentuan Undang-Undang
dan Kode Etik Notaris terhadap klien antara lain harus menjaga kerahasiaan yang
sudah dipercayakan klien kepadanya.
Begitu pentingnya Notaris menjaga kerahasian ini hingga Undang-Undang
pun mengaturnya yakni dalam pasal 17 Stb.1860-3 tentang Peraturan Jabatan Notaris
Undang-Undang Nomor 30 tahun 2004 tentang Jabatan Notaris (selanjutnya cukup
disebut dengan UUJN) yang diatur dalam pasal 4 mengenai sumpah jabatan yang
harus diucapkan dan benar-benar dipegang sebagai janji oleh seorang Notaris antara
lain bahwa Notaris akan merahasiakan serapat-rapatnya isi akta dan keterangan yang
diperoleh dalam melaksanakan jabatannya.
Jabatan yang dipangku oleh Notaris adalah jabatan kepercayaan dan justru
oleh karena itu seorang bersedia mempercayakan sesuatu kepadanya. Notaris tidaklah
bebas memberitahukan apa yang diberitahukan kepadanya selaku Notaris oleh
kliennya pada waktu diadakan pembicaraan-pembicaraan sebagai persiapan untuk
pembuatan suatu akta, sekalipun ada sebagian yang tidak dicantumkan dalam akta.12
Namun dalam prakteknya, seorang Notaris sering dijadikan sebagai saksi dalam suatu
perkara baik perdata maupun pidana, dimana Notaris diminta untuk mengungkapkan
isi dari akta-akta yang dibuatnya dengan alasan demi kepentingan penyidikan. Hal ini
sering menimbulkan dilemma bagi seorang Notaris, disatu sisi dia harus menjaga
kerahasiaan isi dari akta-akta tersebut tetapi disisi lain ia dipaksa harus
mengungkapkan isi dari akta tersebut. Dengan demikian terjadi pertentangan antara
hukum positif khususnya UUJN dengan hukum acara baik perdata maupun pidana.
Di dalam praktek para Notaris sering terjadi perlakuan-perlakuan yang kurang
wajar teradap para Notaris dalam hubungannya dengan hak ingkar atau kewajiban
ingkar, apabila seorang Notaris dipanggil untuk diminta keterangannya atau dipanggil
sebagai saksi dalam hubungan dengan suatu perjanjian yang dibuat dengan akta
dihadapan Notaris yang bersangkutan. Bagi pihak-pihak tertentu, apakah itu oleh
Karena sengaja atau karena tidak mengetahui tentang adanya peraturan
perundang-undangan mengenai itu, seolah-olah dianggap tidak ada rahasia jabatan Notaris,
demikian juga tidak ada hak ingkar dari Notaris.13
Hal inilah yang menjadi latar belakang dan menarik perhatian penulis dalam
mengangkat dan membahas judul “ RAHASIA JABATAN NOTARIS DALAM
PEMERIKSAAN PERKARA PIDANA “.
B. Permasalahan
Bertitik tolak pada uraian latar belakang tersebut di atas maka yang menjadi
pokok permasalahan di dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimana hubungan tugas dan rahasia jabatan Notaris dengan aspek pidana ?
2. Bagaimana kedudukan rahasia jabatan Notaris dalam pemeriksaan perkara
pidana ?
3. Bagaimana upaya mempertahankan rahasia jabatan Notaris dalam
pemeriksaan perkara pidana ?
C. Tujuan Penelitian
Mengacu kepada judul dan permasalahan dalam Penelitian ini, maka dapat
dikemukakan bahwa tujuan yang hendak dicapai dalam Penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui hubungan tugas dan rahasia notaris dengan aspek pidana.
2. Untuk mengetahui kedudukan rahasia jabatan Notaris dalam pemeriksaan
perkara pidana.
3. Untuk mengetahui upaya mempertahankan rahasia jabatan Notaris dalam
pemeriksaan perkara pidana.
D. Manfaat Penelitian
Kegiatan penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat baik secara teoritis
maupun secara praktis.
1. Secara teoritis
Hasil penelitian ini dihapkan dapat memberikan sumbang saran dalam ilmu
Pengetahuan Hukum. Khususnya bidang kenotariatan yaitu mengenai
pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Notaris dalam menjalankan profesi.
2. Secara Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada para praktisi
hukum khususnya Notaris dalam melaksanakan profesinya sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan, sehingga tidak menimbulkan
konflik hukum di kemudian hari.
E. Keaslian Penelitian
Dari hasil penelusuran kepustakaan, diketahui bahwa penelitian tentang
Rahasia Jabatan Notaris Dalam Pemeriksaan Perkara Pidana belum pernah dilakukan.
Namun pada tahun 2005 Lindawati, mahasiswa Magister Kenotariatan Sekolah
Pascasarjana Univeritas Sumatera Utara Medan pernah melakukan penelitian
Dengan Aspek Pidana (Studi di Pengadilan Negeri Kisaran). Adapun yang
menjadi permasalahan yang dibahs adalah:
1. Bagaimanakah tata cara Pembuatan Akta Otentik Dalam Profesi Notaris
Sehari-hari?
2. Bagaimanakah Pemahaman Notaris terhadap Kode etik Profesi sebagai
pedoman dalam manjalankan jabatannya?
3. Bagaimankah kaitan antara pelaksanaan kode etik notaris dengan aspek
pidana?
Namun, penelitian ini membahas megenai tata cara akta otentik oleh notaris,
pemahaman Notaris terhadap Kode Etik Profesi sebagai pedoman dalam menjalankan
jabatannya dan kaitan antara pelaksanaan tugas Notaris dengan aspek pidana. Maka
penelitian ini adalah asli dan hasilnya akan beda.
F. Kerangka Teori dan Konsepsional
1. Kerangka Teori
Teori adalah “untuk menerangkan atau menjelaskan mengapa gejala spesifik
atau proses tertentu terjadi”14, dan “satu teori harus diuji dengan menghadapkannya
pada fakta-fakta yang dapat menunjukkan ketidakbenarannya.”15 “kerangka teori
adalah kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, teori, tesis mengenai sesuatu
kasus atau permasalahan (problem) yang terjadi bahan perbandingan, pegangan
14 J.J.J.M Wuisman, dengan menyunting M. Hisyam, Penelitian Ilmu-ilmu Sosial, Jilid 1,
FEUI, Jakarta, 1996, Hal 203
teoritis”16 bagi penelitian tentang tanggung jawab Notaris secara pidana atas akta
yang bermasalah.
Dalam penelitian ini adalah penelitian yang menyangkut masalah tanggung
jawab Notaris dengan aspek pidana serta penjabarannya dapat menjadi suatu
penelitian hukum, sebab di dalam penelitian hukum ini berdasarkan masalah
pembuatan akta otentik yang dibuat oleh Notaris yang mengacu kepada
Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris dan ketentuan hukum
lainnya.
Notaris merupakan salah satu pekerjaan yang dibuat profesi, “namun tidak
semua pekerjaan disebut profesi, beberapa syarat yang harus dipenuhi (yang
merupakan kriteria formal) adalah sebagai berikut :
1. Adanya spesialisasi pekerjaan,
2. Berdasarkan keahlian dan keterampilan,
3. Bersifat tetap dan terus menerus,
4. Lebih mendahulukan pelayanan daripada imbalan/pendapatan,
5. Mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi,
6. Terkelompok dalam suatu organisasi profesi.”17
Dari kriteria tersebut di atas dapat dikatakan bahwa Notaris sebagai suatu
profesi karena kreteria yang sangat menonjol dalam profesi Notaris menuntut
keahlian tertentu. Notaris salah satu profesi hukum di samping hakim, jaksa dan
advokat juga sebagai profesi terhormat, terhadap nilai-nilai moral profesi yang harus
di taati, yaitu:
16M. Solly Lubis, Filsafat Ilmu dan Penelitian, Mandar Maju, Bandung, 1994, Hal. 80
17
1. Kejujuran,
2. Otentik,
3. Bertanggung jawab,
4. Kemandirian Moral,
5. Keberanian Moral.
Suatu profesi berlaku kaidah-kaidah etika di mana setiap anggota profesi
tersebut tunduk dan taat dengan Kode Etik, dalam hal ini untuk profesi Notaris
disebut Kode Etik Notaris. Berdasarkan pasal 83 Undang-Undang Nomor 30 Tahun
2004 tentang Jabatan Notaris menyebutkan bahwa Organisasi Notaris menetapkan
dan menegakkan Kode Etik Notaris. Dalam kerangka konsepsionalnya adalah
merupakan kerangka menggambarkan hubungan antara konsep-konsep khusus yang
akan diteliti yakni mengenai profesi Notaris, prosedur pembuatan akta dan sanksi
hukum. Menurut Soerjono Soekanto: “Suatu Kerangka konsepsional, merupakan
kerangka yang menggambarkan hubungan antara konsep-konsep khusus yang ingin
atau yang akan diteliti”.18
Akta otentik sebagai alat bukti terkuat dan terpenuh mempunyai peranan
penting dalam perbuatan hukum dalam masyarakat. Akta otentik pada hakekatnya
memuat kebenaran formal sesuai dengan apa yang diberitahukan para pihak kepala
Notaris. Namun, Notaris mempunyai kewajiban untuk memasukkannya bahwa apa
yang termuat dalam akta notaris sungguh-sungguh telah dimengerti dan sesuai
dengan kehendak para pihak.
18Soejono Soekant, Pengatar Penelitian Hukum, Penerbit Universitas Indonesia (UIPress),
Menurut Pasal 1 ayat (7) UUJN bahwa akta Notarisadalah akta otentik yang
dibuat oleh atau di hadapan Notaris menurut bentuk dan tata cara ditetapkan dalam
undang-undang jabatan Notaris.
Berdasarkan hasil inventarsasi terhadap peraturan perundang-undangan yang
berlaku Saat ini, yang terkait dengan profesi Notaris. Diantaranya adalah:
a. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris
b. Peraturan Jabatan Notaris
c. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
d. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
e. Peraturan perundang-undangan lainnya
2. Konsepsional
Konsepsi adalah salah satu bagian terpenting dari teori konsepsiyang
diterjemahkan sebagai usaha membawa sesuatu dari abstrak menjadi suatu yang
konkrit, yang disebut dengan operational definition.Pentingnya definisi operasional
adalah “untuk menghindarkan perbedaan pengertian atau penafsiran mendua (du bius)
dari suatu istilah yang dipakai dan dapat ditemukan suatu kebenaran”.19
Agar tidak terjadi perbedaan pengertian tentang konsep-konsep yang
dipergunakan dalam penelitian ini, maka perlu diuraikan pengertian-pengertian
konsep dalam penelitian ini. Notaris adalah pejabat umum yang tanpa diberi gaji oleh
pemerintah, Notaris dipensiunkan oleh pemerintah tanpa mendapat uang pensiun dari
pemerintah. Pejabat umum yang dimaksud di sini adalah pejabat yang dimaksudkan
19 Rusdi Malik, Penemu Agama Dalam Hukum Indonesia, Pejabat Universitas Trisakti,
dalam Pasal 1868 Kitab Undang-undang Hukum Perdata.
Dari bunyi Pasal 1 UUJN maka sangat jelas dikatakan bahwa Notaris adalah
satu-satunya pejabat umum20 yang berwenang untuk membuat akta otentik dan
kewenangan lainnya. Di luar Notaris sebagai pejabat umum ini masih dikenal lagi
pejabat-pejabat lain yang juga tugasnya membuat alat bukti yang bersifat otentik,
seperti Pejabat Kantor Catatan Sipil, Pejabat Kantor Lelang Negara, Pejabat Pembuat
Akta Tanah, Kepala Kantor Urusan Agama, Panitera di Pengadilan yang bertugas
membuat exploit atau pemberitahuan dari Juru Sita, dan lain sebagainya.
Bentuk atau corak Notaris dapat dibagi menjadi 2(dua) kelompok utama yaitu:
a. Notariat Functional, dalam mana wewenang-wewenang pemerintah
didelegasiakan (gedelegeerd), dan demikian diduga mempunyai kebenaran
isinya, mempunyai kekuatan bukti formal dan mempunyai daya kekuatan
eksekusi. Di negara-negara yang menganut macam/bentuk notariat seperti ini
terdapat pemisahan yang keras antara “wettelijke” dan “niet wettelijke”,
“werkzaamheden” yaitu pekerjaan-pekerjaan yang berdasarkan
Undang-20Istilah “Pejabat Umum” merupakan terjemahan dari teks asli Stb. 1860 No.3 dalam bahsa
undang/ hukum dan yang tidak/bukan dalam notariat.
b. Notariat profesionel, dalam kelompok ini walaupun pemerintah mengatur
tentang organisasinya, tetapi akta-akta Notaris itu tidak mempunyai
akibat-akibat khusus tentang kebenarannya, kekuatan bukti, demikian pula kekuatan
eksekutorialnya.21
Profesi Notaris merupakan profesi yang lijdeljik, yaitu berjalan mengikuti rel
yang telah digariskan. Ia hanya mengikuti apa yang telah ditentukan oleh peraturan
perundang-undangan. Karenanya, dalam praktek Notariat kejelasan peraturan
perundang-undangan sangatlah menentukan. Dibanding dengan tugas Notaris di
negara-negara yang hukumnya telah diunifikasi dan dikodifikasikan dalam
Undang-undang atau peraturan perUndang-undang-Undang-undangan yang serba lengkap dan jelas, tugas
Notaris di Indonesia memang lebih berat. Sebabnya adalah belum seluruhnya aturan
hukum yang berlaku yang telah diunifikasi dan dikodifikasiakan. Hukum
perekonomian dan perdagangan misalnya, yang sedang berkembang dengat pesat
dewasa ini. Demikian pula hukum perjanjian dan hukum keluarga dan acara perdata
yang masih dibenahi. Misalnya dalam membuat perjanjian-perjanjian yang
menyangkut tanah dalam kaitan dengan hukum waris yang masih bersifat pluralistis,
kewaspadaan Notaris sangatlah diperlukan.22
21Kumar Andasasmitha,Notaris I,Sumur Bandung, 1981, Hal.12
22Pusat Pengkajian Hukum Nomor 10/tahun II/September/1992, Hal.23, kata “lijdelijk”itu
sendiri bermakna : 1. Sabar
Notaris sebelum menjalankan jabatannya sebagai pejabat umum wajib
mengucapkan sumpah/atau janji menurut agamanya dihadapan Menteri atau pejabat
yang ditunjuk, demikian juga halnya pemberhentian Notaris dilakukan oleh Menteri.
Adapun syarat-syarat untuk diangkat menjadi Notaris dalam Pasal 4
Undang-undang Jabatan Notaris, yang menyebutkan:
1. Warga negara indonesia;
2. Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
3. Berumur serendah-rendahnya 27 (dua puluh tujuh) tahun;
4. Berijazah sarjana Hukum dan pendidikan kenotariatan;
5. Telah menjalani magang atau nyata-nyata telah bekerja sebagai karyawan
sekurang-kurangnya 1 (satu) tahun berturut-turut pada kantor Notaris setelah
lulus pendidikan kenotariatan; dan
6. Mendapat rekomendasi dari Organisasi Profesi notaris.23
Setelah memenuhi syarat untuk diangkat menjadi Notaris maka Notaris
tersebut berkewajiban mengucapkan sumpah atau janji sebagaiman yang dimaksud
dalam 6 ayat (2) UUJN. Apabila pelaksanaan pengangkatan Notaris telah selesai
dilakukan maka Notaris juga tidak terlepas dari kode etik jabatannya yaitu Kode Etik
Notaris.
Kode Etik Notaris adalah suatu sikap Notaris yang merupakan suatu
kepribadian yang mencakup sikap dan moral terhadap organisasi profesi, terhadap
3. Tanpa tindakan 4. Tanpa protes
5. Tanpa menentang, lihat kamus Umum Belanda-Indonesia, oleh S.Wojowasito, PT. Ictiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 2003, hal.374
23 Pasal 3 huruf (1) UUJN menyebutkan bahwa syarat dapat diangkat menjadi Notaris adalah
sesama rekan dan terhadap pelaksanaan tugas jabatan.24
Pasal 16 ayat (1) Undang-undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang jabatan
Notaris menyebutkan :
Notaris berwenang mengenai semua perbuatan, perjanjian dan ketetapan yang
diharuskan oleh sesuatu peraturan perundang-undangan atau yang dikehendaki yang
berkepentingan untuk dinyatakan dalam suatu akta otentik, menjamin kepastian
tanggal pembuatannya, menyimpan aktanya, dan memberikan grosse, salinan dan
kutipannya, sepanjang pembuatan akta-akta itu tidak juga ditugaskan atau
dikecualikan kepada pejabat yang lain atau orang lain yang ditetapkan oleh
Undang-undang.
Sedangkan pada ayat (2) menyebutkan kewenangan Notaris yang lain, yakni :
a. Membuat surat keterangan tentang masih hidupnya seseorang.
b. Membuat akta keterangan hak waris
c. Membuat akta risalah lelang
d. Mengesahkan tanda tangan dan menetapkan kepastian tanggal surat di bawah
tangan dengan mendaftar dalam buku yang harus disediakan untuk itu.
e. Membukukan surat-surat di bawah tangan dengan mendaftar dalam buku yang
disediakan khusus
f. Membuat kopi asli surat-surat di bawah tangan berupa salinan yang memuat
uraian sebagai mana ditulis dan digambarkan dalam surat yang bersangkutan.
g. Melakukan pengesahan kecocokan foto copi dengan surat aslinya.
24 Rapat Pleno Pengurus Pusat Ikatan Notaris Indonesia, Tanggal 29-30 Agustus 1998, di
h. Melakukan kewenangan lain yang diatur claim peraturan
perundang-undangan.
Dalam Pasal 1 Peraturan Jabatan Notaris juga menegaskan bahwa Notaris
dibatasi wewenangnya untuk akta otentik, hanya apabila hal itu dikehendaki atau
diminta oleh yang berkepentingan hal mana berarti bahwa Notaris tidak berwenang
membuat akta otentik secara jabatan. Dengan demikian Notaris tidak berwenang
untuk membuat akta dibidang hukum publik, wewenangnya terbatas pada pembuatan
akta-akta di bidang hukum perdata. Pembatasan lainnya dari wewenang Notaris
dinyatakan dengan perkataan-perkataan “ mengatasi semua perbuatan, perjanjian dan
penetapan”. Sehingga tidak semua akta dapat dibuat oleh Notaris, akan tetapi hanya
yang mengenai “perbuatan, perjanjian dan ketetapan”.25
Penegasan bunyi pasal tersebut memberi arti bahwa kewenangan yang
diberikan kepada Notaris untuk membuat akta otentik tidak boleh keluar atau
menyimpang dari kewenangan yang ada dalam UUJN dan Kode Etik Notaris itu
sendiri. Dengan tidak ditaatinya UUJN dan Kode Etik Noraris maka Notaris tersebit
dapat disangka sebagai salah satu penyebab terjadinya pelanggaran hukum yang
menyebabkan akta tersebut berpotensi konflik.
Wewenag Notaris meliputi 4(empat) hal yaitu :
a. Notaris harus berwenang sepanjang yang menyangkut akta yang dibuatnya
itu; artinya tidak setiap pejabat umum dapat membuat semua akta, akan tetapi
seorang pejabat umum hanya dapat membuat akta-akta tertentu, yakni yang
ditugaskan atau dikecualikan kepadanya berdasarkan peraturan
undangan.
b. Notaris harus berwenang sepanjang mengenai orang-orang, untuk kpentingan
siapa akta itu dibuat; artinya Notaris tidak berwenang untuk membuat akta
untuk kepentingan setiap orang. Di dalam paal 20 ayat (1) Peraturan Jabatan
Notaris misalnya ditentukan, bahwa Notaris tidak diperbolehkan membuat
akta, di dalam mana Notaris sendiri, istrinya, keluarga sedarah atau keluarga
semenda dari Notaris itu dalam garis lurus tanpa pembatasan derajat dan
dalam garis kesamping sampai dengan derajat ketiga, baik secara pribadi
maupun melalui kuasa, menjadi pihak. Maksud dan tujun dari ketentuan ini
ialah untuk mencegah terjadinya tindakan memihak dan penyalahgunaan
jabatan.
c. Notaris harus berwenang sepanjang mengenai tempat, dimana akta itu dibuat;
artinya bagi setiap Notaris ditentukan daerah hukumnya (daerah jabatanya)
dan hanya di dalam daerah yanf ditentukan baginya itu ia berwenang untuk
membuat akta otentik. Akta yang dibuatnya di luar daerahnya jabatannya
adalah tidak sah.
d. Notaris harus berwenang sepanjang mengenai waktu pembuatan akta itu;
artinya Notaris tidak boleh membuat akta selama ia masih cuti atau dipecat
dari jabatannya, demikian juga Notaris tidak boleh membuat akta sebelum ia
memangku jabatannya (sebelum diambil sumpahnya).
Apabila salah satu persyaratan di atas, tidak dipenuhi, maka akta yang dibuat
menjadi akta yang mempunyai kekuatan seperti akta di bawah tangan, apabila akta itu
Undang-undang untuk sesuatu “perbuatan, perjanjian dan ketetapan” diharuskan
suatu akta otentik maka dalam hal salah satu persyaratan di atas tidak dipenuh,
perbuatan, perjanjian dan ketetapan itu dan karenanya juga akta itu adalah tidak sah.
Suatu akta adalah otentik, bukan karena penetapan Undang-undang, akan tetapi
karena dibuat oleh atau di hadapan seorang pejabat umum.
G. Metode Penelitian
1. Spesifikasi Penelitian
“Penelitian hukum merupakan suatu kegiatan ilmiah yang didasarkan pada
metode, sistematika dan pemikiran tertentu yang bertujuan untuk mempelajari satu
atau beberapa gelaja hukum tertentu, dengan jalan menganalisanya.”26 Untuk
tercapainya penelitian ini, sangt ditentukan dengan metode yang dipergunakan dalam
memberikan gambaran dan jawaban atas masalah yang dibahas.
Ditinjau dari segi sifatnya, penelitian ini bersifat deskriptif analitis27.
Deskriptif berarti menggambarkan serta menjelaskan tanggung jawab Notaris atas
aktanya yang berpotensi konflik, fungsi kode etik profesi sebagai pedoman bagi
Notaris dalam menjalankan profesinya sekarang ini masih cukup memadai atau tidak,
dan kaitan antara Rahasia Jabatan Notaris dengan aspek pidana.
Metode pendekatan dalam penelitian ini adalahyuridis normatif,28dimana
26Soerjono Soekanto, Op. Cit, Hal. 43
27Bambang Soenggono, Metode Penelitian Hukum, Suatu Pengantar, PT. Raja Grafindo
Persada, Jakarta, 2001, Hal. 36 : Penelitian Deskripsi Pada Umumnya bertujuan untuk
mendeskripsikan secara sistematis, factual dan akurat terhadap suatu populasi atau daerah tertentu, mengenai sifat-sifat, karakteristik-karakteristik atau faktor-faktor tertentu.
28Ronny Hamitijo Soemotrao, Metodologi Penelitian Hukum dan Jurumetri, Ghalia Indonesia,
dilakukan pendekatan terhadap permasalahan yang telah dirumuskan dengan
mempelajari ketentuan perundang-undangan yang berkaitan dengan permasalahan
yang dibaha. Metode pendekatan normatif dipergunakan dengan titik tolak penelitian
dan analisis terhadap peraturan perundang-undangan di bidang kenotariatan
khususnya tentang cara pembuatan akta, kode etik profesi, juga menerangkan
parsoalan-persoalan hukum pidana yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas notaris.
2. Lokasi Penelitian dan Sumber Data
a. Lokasi penelitian; lokasi penelitain adalah dilakukan dan ditetapkan di PN
medan
b. Sumber Data; adapun yang menjadi sumber data dalam penelitian ini adalah
data sekunder yaitu data yang diperoleh dari pengadilan dan wawancara
langsung kepada para informasi yaitu Notaris.
3. Teknik Pengumpulan Data
a. Penelitian kepustakaan (library research), yaitu dengan membaca,
mempelajari dan menganalisa literatur/buku-buku, peraturan
perundang-undangan dan sumber buku lainnya seperti majalah dan yang berkaitan
dengan penelitian ini.
b. Penelitian lapangan(field research),yaitu dengan menghimpun data sekunder
dan wawancara, dilakukan secra langsung kepda informa, dengan
mempergunakan daftar pertanyaan sebagai pedoman wawancara dan
dilakukan secara bebas terstruktur, agar lebih mendapatkan informasi yang
4. Analisis Data
Sebelum dilakukan analisis data, terlebih dahulu setelah data sekunder
diperoleh dilakukan pemeriksaan dan evaluasi untuk mengetahui validitasnya.
Selanjutnya data itu dikelompokkan atas data itu yang sejenis untuk kepentingan
analisis dalam penulisan tesis ini. Sedangkan evaluasi dan penafsiran data dilakukan
secara kualitatif. Oleh karena itu data yang suadah dikumpulkan dipilah-pilah dan
dilakukan pengolahannya, kemudian dianalisis dan di tafsirkan secara logis dan
sistematis dengan menggunakan metode deduktif dan induktif atas dasar pembahasan
dan analisis ini diperoleh suatu kesimpilan terhadap penelitian, yang merupkan
BAB II
HUBUNGAN TUGAS DAN RAHASIA JABATAN NOTARIS DENGAN ASPEK PIDANA
A. Tugas dan Fungsi Notaris Berdasarkan Undang-undang Jabatan Notaris.
Sejarah panjang Notariat dimualai sejak abad ke sebelas di Italia, berkembang
keseluruh daratan eropa sampai Amerika latin, hanya Inggris yang tidak ambil bagian
sehingga kini lebih dikenal menganut fahamanglo saxon/common law. Nama notariat
berasal dari notarius menunjuk suatu kerjaan tulis menulis pada waktu itu beberapa
sebutan lain untuk pekerjan yang sama antara lainnotariil, tablionesdantabularii.
Kedudukan seorang Notaris sebagai suatu fungsionataris dalam masyarakat
dianggap sebagai seorang pejabat tempat seseorang dapat memperolh nasihat yang
boleh diandalkan. Segala sesuatu yang ditulis serta ditetapkannya (konstatir) adalah
benar, ia adalah pembuat dokumen yang kuat dalam suatu proses hukum.29
Undang-undang Nomor 30 Republik Indonesia tahun 2004 Tentang Jabatan
Notaris pada Bab I di dalam ketentun umum palas 1 ayat (1) yang berbunyi, Notaris
adalah pejabat umum yang berwenng untuk membuat akta otentik dan kewenangan
lainnya sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini.
undang tentang Jabatan Notaris merupakan penyempurnaan
Undang-undang peninggalan jaman kolonia dan unifikasi sebagian besar Undang-Undang-undang yang
29http://www.blogster.com/komparta/analisis-hukum-tentang , diakses pada tanggal 7 agustus
mengatur mengenai kenotarisan yang sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan
hukum dan kebutuhan masyarakat.30
Demikian pula, Notaris sebagai Pejabat Umum ditegaskan juga dalam bab I
pasal 1 Peraturan Jabatan Notaris Di Indonesia (Ord. Stbl. 1860 no.3, mulai berlaku
tanggal 1 juli 1860), yang menyebutkan : Notaris adalah pejabat umum yang
satu-satunya berwenang untuk membuat akta otentik mengenai semua perbuatan,
perjanjian dan penetapan yang diharuskan oleh suatu peraturan umum atau oleh yang
berkepentingan dikehendaki untuk dinyatakan dalam suatu akta otentik, menjamin
kepastian tanggalnya, menyimpan aktanya dan memberikan grosse, ssalinan dan
kutipannya, semuanya sepanjang pembuatan akta itu oleh suatu peraturan umum tidak
juga ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat atau orang lain.
Dengan memperhatikan beberapa pasal dari Undang-undang jabatan notaris
No. 30 Tahun 2004 yang melegitimasikan keberadaan Notaris sebagai Pejabat
Umum, dan melihat tugas dan pekerjaan notaris memberikan pelayanan publik
(pelayanan pada masyarakat) untuk membuat akta-akta otntik, notaris juga ditegaskan
untuk melakukan pendaftaran dan mansyahkan (waarmeking dan legalisasi)
surat-surat / akta-akta yang dibuat dibawah tangaan. Notaris juga memberikan nasihat dan
penjelasan mengenai undang-undang kepada pihak-pihak yang bersangkutan, serta
pengangkatan dan pemberhentian seorang Notaris yang dilakukan oleh pemerintah
dalam hal ini Menteri yang bidang tugas dan tanggung jawabnya meliputi bidang
kenotariatan, maka persyaratan Pejbat Umum adalah seorang yang diangkat oleh
pemerintah dengan tugas kewenangan memberikan pelayanan publik di bidang
tertentu, terpenuhi oleh Jabatan Notaris.
Setiap masyarakat membutuhkan seseorang (figur) yang
keterang-keterangannya dapat diandalkan, dapat dipercayai, yang tanda tangannya serta
segelnya (capnya) memberikan jaminan dan bukti kuat, seorang ahli yang tidak
memihak dan penasihat yang tidak ada cacatnya(onkreukbaar atau unimpeachable),
yang tutup mulut, dan membuat suatu perjanjian yang dapat melindunginya di
hari-hari yang akan datang. Kalau seorang advokat membela hakm-hak sessorang ketika
timbul suatu kesulitan, maka seorang Notaris harus berusaha mencegah terjadinya
kesulitan itu.
B. Rahasia Jabatan Notaris dan Keterkaitan Dengan Aspek Pidana
Sumpah jabatan dalam pasal 4 ayat (2) UUJN yang mewajibkan notaris
merahasiakan isi akta, “saya akan merahasiakan isi akta dan keterangan yang
diperoleh dalam pelaksanaan jabatan saya”. Pasal 16 ayat (1) huruf e UUJN jug
mengatur kewajiban serupa, yaitu: “Dalam menjalankan jabatannya, Ntaris
berkewajibaan : Merahasiakan segala sesuatu mengenai akta yang dibuatnya dan
segala keterangan yang diperoleh guna pembuatan akta sesuai dengan sumpah/janji
jabatan, kecuali undang-undang menentukan lain”. Dari rumusan sumpah jabatan
tersebut, terdapat kewajiban bagi Notaris untuk merahasiakan isi akta.
Pada tanggal 6 mei 2006 Ikatan Notaris Indonesia (INI) juga menindak lanjuti
ketentuan Pasal 66 ayat (1) Undang-undang Jabatan Notaris dengan menandatangani
nota kesepahaman dengan Kepolisian Republik Indonesia No.Pol:B/1056/V/2006 dan
Nomor:01/MoU/PP-INI/V/2006 tentang pembinaan dan peningkatan profesionalisme
di bidang penegakan hukum. Nota kesepahaman tersebut memuat ketentuan bahwa
ditandatangani oleh penyidik. Namun, pemanggilan itu dilakukan setelah pen yidik
memperoleh persetujuan dari Majelis Pengawas yang merupakan suatu badan yang
mempunyai kewenangan dan kewajiban untuk melaksanakan pembinaan dan
pengaawasan. Lebih lanjut isi kesepahaman itu mengatur notaris yang akan diperiksa
atau dimintai keterangan harus jelas kedudukan dan perannya, apakah sebagai saksi
atau tersangka terhadap akta-akta yang dibuatnya dan/atau selau pemegang protool.31
Pada dasarnya ada 9 aspek yang dapat menjerat Notaris menjadi terdakwa di
depan sidang pengadilan dan diminta pertanggungjawaban pidananya. Aspek-aspek
tersebut adalah:
1. Tanggal dalam akta tidak sesuai dengan kehadiran para pihak;
2. Para pihak tidak hadir tetapi ditulis hadir;
3. Para pihak tidak ada yang membubuhi tanda tangan tetapi ditulis atau ada
tandatangannya;
4. Akta sebenarnya tidak dibaca akan tetapi diterangkan telah dibacakan;
5. Kebenaran objek berbeda dengan yang diterangkan oleh para pihak;
6. Bahwa notaris ikut campur tangan terhadap syarat-syarat perjanjian;
7. Pencantuman dalam akta bahwa pihak-pihak telah membayar’ lunas apa yang
diperjanjikan padahal sebenarnya belum lunas atau bahkan belum ada
pembayaranyang riil;
8. Pencantuman pembacaan akta yang harus dilakukan oleh Notaris sendiri
padahal sebenarny tidak;
9. Pencantuman mengenal orang yang menghadap padahal sebenarnya tidak
mengenal.
Kedudukan Notaris sebagai fungsinoris dalam masyarakat hingga sekarang
masih dirasakan dan disegani. Seorang Notaris biasanya dianggap sebagai seorang
pejabat tempat seseorang mendapat nasehat yang boleh diandalkan, segala sesuatu
yang ditulis dan yang ditetapkan (konstatir) adalah benar, ia adalah pembuat
dokumen yang kuat dalam suatu proses hukum. Notaris mempunyai jabatan ganda, di
satu pihak ia pemangku jabatan negaraa di pihak lain ia pelaksana profesi. Namun
demikian dasarnya adalah sama bahwa Notaris mengatur hubungan hukum ecra
tertulis antara berbagai pihak yang dituangkan dalam suatu akta otentik.
Notaris yang melakukan kesalahan maupun kelalaian dalam melaksanakan
tugas jabatannya, dapat dimintakan pertanggungjawabannya baik itu dituntut secara
perdata maupun pidana dalam persidangan di pengadilan. Dasar dari penuntutan atas
tanggung jawab secara perdata adalah adanya pihak yang merasa dirugikan atas akta
otentik yang dibuat oleh Notaris, sehingga terhadap Notaris itu dapat diminta ganti
rugi.
Salah satu ketentuan yang dapat diterapkan terhadap profesi Notaris adalah
penegakan hukum pidana, hukum pidana dapat diterapkan apabila Notaris yang
bersangkutan telah melakukan perbuatan pidana. Perbuatan pidana adalah perbuatan
yang dilarang oleh suatu aturan hukum, larangan itu disertai ancaman atau sanksi
yang berupa pidana tertentu bagi yang melanggar larangan tersebut.
Menurut Pasal 1 ayat (1) KUH Pidana menyebutkan bahwa suatu perbuatan
perundang-undangan. Dalam bahasa latin dikenal dengan asas “nullum
delictum,mulla puna sine praevia lege punali” (tiada kejahatan, tiada hukuman
pidana tanpa UU Hukum Pidana terlebih dahulu).
Maka untuk dapat dikatakan sebagai perbuatan pidana harus memenuhi
beberapa unsur sebagai berikut:
1. Subjek tindak pidana.
2. Perbuatan dari tindak pidana.
3. Hubungan sebab akibat.
4. Sifat melanggar hukum,
5. Kesalahan pelaku tindak pidana,
6. Kesengajaan.32
Perumusan perbuatan pidana dalam peraturan perundang-undangan hukum
pidana di indonesia memiliki dua bentuk, yaitu tindak pidana yang dirumuskan secara
formil dan tindak pidana yang dirumuskan secara materiil. Perumusan secara formil
yaitu, apabila yang disebut atau yang menjadi pokok dalam perumusannya adalah
kelakuannya. Sedangkan perumusan secara materiil yaitu, apabila yang disebut atau
yang menjadi pokok dalam perumusannya adalah akibatnya. Penerapan pidana
terhadap Notaris melihat dari perumusan materilnya, yaitu dilihat akibat apa yang
ditimbulkan dari suatu akta otentik yang dibuatnya.
Tanggung jawab pidana Notaris bertanggungjawab atas masalah yang timbul
dari akta yang dibuatnya, kebiasaan yang sering terjadi adalah seorang Notaris
32 Wirjono Prodjodikoro, Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia, PT. Eresco, Jakarta, 1981,
dituntut tanggung jawab pidananya dengan dijerat atas tuduhan pemalsuan (Pasal 263
9 KUHPidana). Dalam hal seorang Notaris dituntut tanggung jawabnya secara pidana
dan terbukti bersalah, maka terhadap Notaris tersebut dapat diberhentikan dengan
tidak hormat dari jabatannya, hal ini diatur dalam Pasal 12 dan 13 UUJN.
Dalam pembahasan ini diuraikan sekilas tentang tanggung jawab Notaris
secara perdata. Notaris dalam kepasitasnya sebagai pejabat umum adalah seorang
manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan-kesalahan baik yang disengaja maupun
yang tidak disengaja yang akhirnya menuntut pertanggungjawabannya, dengan kata
lain bukan berarti seorang Notaris tidak pernah atau tidak mungkin melakukan
perbuatan yang bertentangan dengan hukum, dan Notaris juga bukanlah merupakan
seseorang yang kebal hukum.
Adakalanya Notaris dapat terlibat dalam proses operadilan pidana, baik
sebagai saksi, sebagai saksi ahli maupun sebagai terdakwa, sepanjang perbuatannya
memenuhi unsur-unsur tindak pidana atau berhubungan erat dengan terjadinya tindak
pidana. Dalam kondisi masyarakat yang semakin kompleks dan moderen.
Kemungkinan keterlibatan Notaris dalam peradilan pidana semakin besar. Hal ini
disebabkan tuntutan akan kebutuhan yang semakin meningkat akan perlunya alat-alat
bukti yang sah, antara lain akta otentik. Kebutuhan yang semakin meningkat akan
perlunya akta otentik, tidak menutup kemungkinan adanya manipulasi kepentingan
atau niat tidak baik yang bersembunyi di balik pembuatan akta otentik itu.
Pertanggungjawaban Notaris secara perdata dilakukan dengan dasar suatu
gugatan timbul dari suatu akta otentik. Gugatan timbul karena ada sengketa atau
Pertanggungjawaban merupakan konsekuensi logis yang dpat dibedakan kepada
profesi hukum dalam menjalankan jabatannya, baik berdasarkan hukum maupun
moral.
Tuntutan tanggung jawab seorang pengembang profesi pada dasarnya dapat
dibedakan sebagai berikut:
1. Intern, yaitu tanggung jawab yang dikaji berdasarkan kode etik organisasi
profesi (kode etik yang dihasilkan oleh Ikatan Notaris Indonesia);
2. Eksterm, yaitu tanggung jawab berdasarkan hukum yang berlaku (yaitu
hukum perdata, pidana atau administrasi negara)
Dasar dari perbebanan tanggung jawab terhadap Notaris adalah apabila tibul
masalah terhadap akta otentik yang dibuatnya. Masalah yang timbul adalah adanya
pembatalan akta otentik yang dibuat oleh seorang Notaris oleh pengadilan, pemalsuan
akta oleh Notaris atau Notaris terlibat dalam pemalsuan itu (tanggung jawab pidana),
dan yang terakhir adalah suatu akta kehilangna sifat keotentikannya, yang disebabkan
tidak terpenuhinya syarat dalam pembuatan akta itu sebagaiman yang ditentukan
dalam UUJN.
Selain tuntutan pidana, Notaris juga tidak lepas dari tuntutan perdata, terhadap
kerugian yang dialami para pihak atas permasalahan yang timbul dari akta otentik
yang dibuatnya. Dalam hal terjadi pembatalan terhadap suatu akta oleh hakim, maka
para pihak yang merasa dirugikan ats pembatalan akta itu dapat meminta
pertanggungjawaban kepada Notaris yang membuat akta itu, yang biasnya dalam
bentuk ganti rugi atas kerugian yang dialami oleh para pihak yang berkepentingan
terhadap akta yang dibatalkan tersebut.
Setiap orang yang mempunyai suatu kepentingan atau hak dan merasa
gugatannya, ia harus mampu mengemukakan bukti-bukti dari sesuatu yang telah
didalilkannya. Hal ini sejalan dengan ketentuan dalam Pasal 1865 KUH Perdata, yang
menyatakan: “setiap orang yang mendalilkan bahwa ia mempunyai sesuatu hak, atau
guna meneguhkan haknya sendiri maupun membantah suatu hak orang lain,
menunjuk pada suatu peristiwa, diwajibkan untuk membuktikan adanya hak atau
peristiwa tersbut”.
Dari ketentuan pasal tersebut diatas, seorang klien yang dirugikan oleh
Notaris dapat mengajukan gugatan ganti rugi kepada Notaris, baik berdasarkan
wanprestasi maupun perbuatan melawan hukum, asalkan dapat membuktikan
dalildalil yang dikemukakannya.
Pertanggungjawaban Notaris secara perdata dapat dilihat dalam Pasal 84
UUJN, yang menyatakan:”tindakan pelanggaranyang dilakukan Notaris terhadap
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) huruf I, Pasal 16 ayat (I)
huruf k. Pasal 51, Pasal 44, Pasal 48, Pasal 49, Pasal 50, Pasal 51 atau Pasal 52 yang
mengakibatkan suatu akta hanya mempunyai kekuatan pembuktian sebagai akta
dibawah tangan atau suatu akta menjadi batal demi hukum dapat menjadi alasan bagi
pihak yang menderita kerugian untuk menuntut penggantian biaya, ganti rugi, dan
bunga kepada Notaris”.
Dari ketentuan yang terdapat dalam pasal 84 UUJN dapat diketahui bahwa
Notaris bertanggung jawab terhadap para pihak yang berkepentingan pada akta yang
dibuatnya, yakni: