• Tidak ada hasil yang ditemukan

II TINJAUAN PUSTAKA

3.2 Rancangan Penelitian dan Analisis Data 1 Rancangan Penelitian

Desain penelitian ini merupakan model eksperimental laboratoris, dengan kondisi lingkungan homogen. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang dilakukan dalam dua tahap, yaitu tahap I dan tahap II.

3.2.2 Percobaan Tahap I

Percobaan tahap satu dimaksud untuk menentukan padat tebar dan berapa banyak amoniak hasil ekskresi yang dikeluarkan oleh udang vaname setelah mengkonsumsi pakan.

3.2.2.1 Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam percobaan tahap satu yaitu enam buah akuarium berukuran 60 x 40 x 50 cm. Empat buah toples berukuran 2,5 liter sebagai wadah tempat perlakuan ekskresi amoniak. Botol sampel bervolume 100 ml sebanyak 24 buah.

Untuk mengukur bobot digunakan timbangan digital. Untuk mengukur kandungan total amoniak nitrogen (TAN) dari ekskresi digunakan alat spektrofotometer. Adapun bahan yang digunakan adalah 60 ekor udang vaname berukuran 6-7 gram yang berasal dari Lampung. Untuk pakan udang digunakan pakan komersil dengan kandungan protein 40%.

3.2.2.2 Pelaksanaan Percobaan

Untuk mengetahui kepadatan udang yang paling baik yang akan digunakan pada pemeliharaan udang dan rumput laut di tahap 2 dilakukan pemeliharaan dalam enam buah akuarium dengan kepadatan 5, 10 dan 15 ekor udang/100 liter air dengan dua ulangan selama satu minggu. Akuarium diisi air laut sebanyak 100 liter dan diberi aerasi. Suhu dipertahankan 27-30 oC dan salinitas 25-28 ppt. Pada malam hari wadah ditutup dengan plastik hitam untuk membuat kondisi media 12 jam terang dan 12 jam gelap. Pakan diberikan empat kali sehari yaitu pukul 07.00, 12.00, 17.00 dan 21.00 WIB. Pakan diberikan 3-4% dari biomassa udang per hari. Pakan buatan yang diberikan berupa pelet komersil dengan kandungan protein 40%. Selama masa pemeliharaan tidak dilakukan penyiponan dan pergantian air. Dilakukan pengukuran bobot udang diawal sebelum ditebar dan di akhir masa pemeliharaan. Skema penelitian tahap I dapat dilihat pada Lampiran 3.

Setelah penelitian diatas dilanjutkan dengan pengamatan ekskresi. Pengamatan ekskresi amoniak dilakukan untuk menganalisis berapa banyak amoniak yang dikeluarkan oleh udang uji setelah mengkonsumsi pakan yang diberikan. Oleh sebab itu, sebelum dilakukan pengamatan ini udang dipuasakan terlebih dahulu selama 1 (satu) hari, kemudian ditimbang bobotnya. Setelah itu, udang diberi pakan sampai kenyang dan dibiarkan selama 1 jam agar udang beradaptasi. Udang yang telah diberi pakan ditimbang kembali dan selanjutnya siap dimasukkan ke dalam wadah.

Sementara itu, empat buah wadah berupa toples bervolume 2,5 liter diisi air sebanyak 1 liter, diberi aerasi kuat, ditutup plastik dan disinari cahaya ultraviolet (UV) selama 8 jam bertujuan untuk meminimalisasi kontaminasi bakteri yang memproduksi amoniak di wadah. Dua wadah tersebut diisi 2 ekor udang setiap toples, sedangkan dua wadah lainnya tidak dimasukkan udang yang digunakan sebagai kontrol (K1 dan K2) .

Sebanyak 24 buah botol sampel bervolume 100 ml disiapkan untuk pengambilan air sampel (75 ml/botol sampel). Pengambilan air sampel dilakukan sebanyak 6 kali di setiap wadah, yaitu pada jam ke- 0, 1, 2, 3, 4 dan 5. Pengambilan sampel pada jam ke 0 dilakukan sebelum udang uji dimasukkan ke dalam wadah. Kemudian untuk mengukur kandungan total amoniak nitrogen

(TAN) digunakan metode APHA. Pengukuran total amoniak nitrogen (TAN) dilakukan di Laboratorium Lingkungan Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

3.2.3 Percobaan Tahap II

Percobaan tahap II dimaksud untuk menganalisis kemampuan rumput laut Gracilaria verrucosa dalam memanfaatkan nitrogen dari limbah budidaya udang vaname yang dipelihara secara polikultur. Pada percobaan tahap II ini, padat tebar udang digunakan dari hasil terbaik pada percobaan tahap satu. Sedangkan penetapan kepadatan rumput laut berdasarkan hasil penelitian terbaik dari Sukmarumaeti (2002). Percobaan tahap dua terdiri dari empat perlakuan dengan tiga ulangan sebagai berikut :

Perlakuan A : padat tebar 0 gram rumput laut/liter air Perlakuan B : padat tebar 3,125 gram rumput laut/liter air Perlakuan C : padat tebar 6,250 gram rumput laut/liter air Perlakuan D : padat tebar 9,375 gram rumput laut/liter air

Pada setiap perlakuan tersebut ditambahkan udang vaname dengan kepadatan 5 ekor per 100 liter air.

3.2.3.1 Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam percobaan tahap kedua yaitu empat buah bak beton berukuran 1 x 3 x 1 m. Tiap bak dibagi tiga, disekat dengan papan dan dilapisi plastik agar air tidak saling mempengaruhi. Botol sampel bervolume 100 ml. Untuk menimbang udang vaname dan rumput laut Gracilaria verrucosa digunakan timbangan digital.

Pengamatan kualitas air meliputi suhu, salinitas, pH, oksigen terlarut, amoniak, nitrat dan nitrit. Suhu diukur dengan termometer batang dan salinitas diukur dengan hand refraktometer, yang masing-masing diamati setiap hari. Oksigen terlarut, pH, amoniak, nitrat dan nitrit diukur seminggu sekali dengan menggunakan DO-meter dan pH-meter sedangkan untuk mengukur kandungan amoniak, nitrat dan nitrit digunakan alat spektrofotometer.

Bahan yang digunakan adalah udang vaname (Litopenaeus vannamei) dengan bobot 10-11 gram yang berasal dari Lampung. Rumput laut Gracilaria verrucosa yang berasal dari Balai Pengembangan Budidaya Perikanan Laut, Payau dan Udang (BPBPLAPU) Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Sebelum diberi perlakuan, udang dan rumput laut diadaptasikan terlebih dahulu terhadap kondisi laboratorium selama sebulan. Selama proses adaptasi, lingkungan wadah pemeliharaan dibuat optimal dengan suhu air dipertahankan pada kisaran 27-30 oC dan salinitas 25-28 ppt. Untuk pakan udang digunakan pakan komersial dengan kandungan protein 40%.

3.2.3.2 Pelaksanaan Percobaan

Penelitian ini dilaksanakan di luar ruangan (out door). Wadah pemeliharaan diberi naungan atap fiber (fiberglass) agar air hujan tidak mempengaruhi percobaan. Bak diisi air setinggi 50 cm dan diberi aerasi. Air media sebelum ditanami rumput laut di ukur kualitas air dan di analisis kandungan amoniak, nitrat dan nitrit. Penebaran atau penanaman bibit rumput laut ke dalam setiap petak bak dengan cara mengikat bibit pada tali ris (ropeline) berjarak 20 cm dengan ketinggian 30 cm dari dasar. Penanaman bibit dilakukan pada saat keadaan cuaca teduh yaitu pagi hari sebelum matahari meninggi. Setelah rumput laut ditebar baru dimasukkan udang.

Pemberian pakan dilakukan dengan frekuensi empat kali sehari, yaitu pukul 07.00, 12.00, 17.00 dan 21.00 WIB. Pakan yang diberikan sebanyak 3-4% dari biomassa udang per hari. Pakan buatan yang diberikan berupa pelet komersil dengan kandungan protein 40%. Pada penelitian ini tidak dilakukan penyiponan dan pergantian air agar sisa metabolisme udang tetap didalam wadah budidaya.

Penelitian ini dilaksanakan selama 4 minggu dan dilakukan pengamatan terhadap kelangsungan hidup udang, pertumbuhan udang, pertumbuhan rumput laut dan pengamatan kualitas air, yaitu: pH, salinitas, suhu, oksigen terlarut, nitrat, nitrit dan amoniak. Untuk mengetahui kandungan nitrogen didalam pakan, tubuh udang vaname dan rumput laut Gracilaria verrucosa, maka dilakukan analisis proksimat pakan sebelum penelitian, serta analisis proksimat pada udang dan rumput laut di awal dan akhir penelitian. Skema penelitian tahap II dapat dilihat pada Lampiran 4) .

Dokumen terkait