Rancangan untuk perakitan (design for assembly /DFA) adalah bagian dari sistem rancangan untuk manufaktur (design for manufacturing /DFM). Perakitan (assembly) memegang peranan penting dalam suatu proses manufaktur suatu produk. Dalam perakitan semua komponen datang bersama dan semua kesalahan ataupun kekurangan yang ditimbulkan pada awal proses menjadi tampak. Misalnya, jika rancangan tidak baik maka dalam perakitan terjadi kesulitan, apalagi jika ditambah adanya kesalahan toleransi, maka komponen/part tidak dapat dirakit dengan baik. Oleh karena itu level performansi dalam perakitan dapat dilihat sebagai indikator yang bagus bagi cara-cara pembuatan produk. Untuk itu juga, dalam pendekatan terhadap rancangan produk dan rancangan
proses direkomendasi untuk membentuk analisa DFA sebagai langkah pertama sebelum DFM sebab DFA mempunyai pengaruh yang paling penting pada rancangan ulang produk (lihat gambar 2.2 )
Secara umum di kenal tiga macam operasi perakitan: a. Perakitan manual (manual assembly)
b. Mesin-mesin perakit khusus (fixed automation) c. Perakit robot (robotic assembly , flexible automation)
2.2.2 Langkah – langkah DFMA
Langkah – langkah yang digunakan dalam pengaplikasian prinsip DFMA selama proses perancangan adalah sebagai berikut :
Konsep Design
Design For Assembly ( DFA)
Seleksi material dan proses dan estimasi biaya DFM
Design konsep terbaik
Design for manufacturing
(DFM )
Prototipe
Produksi
Detail design untuk meminimumkan biaya Saran untuk penyederhanaan
struktur produk
Saran untuk material dan proses yang lebih ekonomis
Gambar 2.2 Flow chart DFMA
Analisa DFA yang pertama kali dikonduksikan untuk menyederhanakan struktur dari produk. Lalu dengan menggunakan prinsip DFM, estimasi biaya untuk semua komponen dapat dihasilkan. Selama proses ini material dan proses yang terbaik digunakan untuk bermacam - macam komponen ditetapkan. Ketika seleksi akhir dari material dan proses telah terjadi, analisa yang lebih jauh untuk DFM dapat dilakukan pada detil desain semua komponen.
2.2.3 Metoda r ancangan perakitan manual (DFA)
Metoda ini didasarkan pada studi yang mendalam dari operasi perakitan dengan tujuan untuk menentukan parameter operasional yang menyelesaikan atau menjawab pada persoalan biaya dan waktu perakitan. Studi-studi percobaan telah dilakukan untuk mengukur pengaruh dari simetri, ukuran, berat, ketebalan, dan fleksibilitas pada waktu angkat manual. Tambahan percobaan juga dilakukan untuk memperhitungkan pengaruh dari ketebalan pada pemegangan dan manipulasi komponen yang menggunakan penjepit, pengaruh geometri pegas, dan pengaruh dari berat pada waktu pembawaan untuk komponen yang membutuhkan dua tangan bagi pemegangan dan manipulasi.
Dengan memperhatikan rancangan komponen bagi kenyamanan pemasukan atau
penyisipan secara manual, percobaan dan analisa-analisa teori telah dibuat pada pengaruhnya terhadap rancangan pegangan pada waktu pemasukan manual, rancangan komponen untuk menghindari ‘jamming’ selama perakitan, pengaruh
dari geometri komponen pada waktu pemasukan, dan pengaruh penghalang jalan masuk dan keterbatasan penglihatan pada operasi-operasi perakitan.
Sebagai hasil, suatu klasifikasi dan sistem pengkodean bagi pembawaan(handling) manual, pemasukan atau penyisipan (insertion) dan proses pengikatan (fastening) dihadirkan dalam bentuk suatu sistem standard waktu bagi perancang untuk menggunakanya dalam penghitungan waktu perakitan manual. (http//www.jurnalDFMA.com)
2.2.4 Analisis DFA
Tabel 2.1 Tabel DFA
No Bagian Jumlah riel Jumlah teoritis Waktu perakitan (menit) 1.
2. dst
Pada tabel ini berisi tentang spesifikasi bagian-bagian produk, jumlah bagian-bagian produk, serta waktu perakitan tiap part. Tabel ini digunakan dalam menghitung efisiensi perakitan.
2.2.5 Efisiensi Perakitan
Disini ada 2 faktor utama yang mempengaruhi biaya perakitan dari suatu produk atau sub perakitan, yaitu : jumlah total dari part dalam suatu produk, kenyamanan pembawaan, pemasukan, dan pengikatan rakitan dari produk.
Tujuan dari metodologi DFA adalah untuk mencari suatu pengukuran yang mengungkapkan ke dua faktor tersebut diatas. Pengukuran ini disebut efisiensi perakitan
(Assembly Efficiency) untuk perakitan manual yaitu :
E = NM x ta / TM Dimana :
E = Design efisiensi
NM = Jumlah part minimum secara theoritis
ta = Waktu perakitan dasar tiap part ( rata – rata diambil 5Menit) TM = Jumlah waktu perakitan seluruh part
Jadi efisiensi perakitan adalah rasio dari waktu perakitan ideal terhadap waktu perakitan yang sebenarnya. Acuan untuk pengukuran ini diberikan berdasarkan pada jumlah minimum dari komponen, yang menghadirkan suatu situasi yang ideal.
2.2.6 Klasifikasi system untuk pembawaan manual (CLASSIFICATION SYSTEM FOR MANUAL HANDLING):
Klasifikasi sistem adalah pengelompokan dari waktu-waktu standard perakitan, dengan kriteria pengelompokan yang mempengaruhi waktu perakitan ini, proses perakitan dibagi menjadi 2 kategori operasi: pembawaan manual (manual handling), dan pemasukan dan pengikatan manual (manual insertion and fastening).
Kriteria dari klasifikasi pembawaan manual ini adalah: ukuran, ketebalan, berat, sarangan, kekusutan, mudah pecah, fleksibilitas, kelicinan, kelengketan,
kebutuhan penggunaan 2 tangan, kebutuhan penggunaan alat pegang, kebutuhan peralatan optik, kebutuhan bantuan mekanik. Selain kriteria - kriteria itersebut, perlu diperhitungkan pula masalah pengaruh simetrikal komponen pada waktu pembawaan (effect of part symmetry on handling time) yang mempunyai pengaruh sangat penting pada hampir seluruh operasi perakitan.
2.3 Panas yang ditimbulkan arus listrik
Listrik dimisalkan seperti panas, hanya secara berbeda mempunyai juga suatu sifat kehadiran-di-mana-mana tertentu. Nyaris tiada perubahan yang dapat terjadi di atas bumi tanpa dibarengi oleh gejala elektrikal. Apabila air menguap, apabila api menyala, apabila dua jenis logam, atau dua logam yang bersuhu berbeda, bersentuhan, atau apabila besi bersentuhan dengan suatu larutan sulfat tembaga, dan begitu selanjutnya, maka proses-proses elektrikal serentak terjadi dengan gejala-gejala fisikal dan kimiawi yang lebih tampak.
Kalor merupakan salah satu bentuk energi yang mempunyai banyak kegunaan bagi manusia. Kalor juga dapat diartikan sebagai suatu bentuk energi yang diterima oleh suatu benda yang menyebabkan benda tersebut berubah suhu atau wujud bentuknya. Kalor tidak dapat disamakan dengan suhu, karena suhu adalah ukuran dalam satuan derajat panas. Kalor merupakan suatu kuantitas atau jumlah panas baik yang diserap maupun dilepaskan oleh suatubenda. Kalor (panas) berpindah dari benda yang suhunya lebih tinggi ke benda yang suhunya lebih rendah jika kedua benda disentuhkan (dicampurkan). Secara alamiah tidak akan terjadi perpindahan kalor dari benda yang suhunya lebih
rendah kepada benda yang suhunya lebih tinggi, kecuali ada perlakuan khusus, yakni denganmenggunakan bantuan mesin atau alat khusus. Teori-teori kalor dasar yang dicetuskan oleh beberapa peneliti antara lain : ”Kalor yang diterima sama dengan kalor yang dilepaskan” (Asas Black) ditemukan oleh Joseph Black (1720-1799) dari Inggris, ”Kalor dapat terjadi akibat adanya suatu gesekan” penemunya adalah Benyamin Thompson (1753- 1814) dari Amerika, ”Kalor adalah satu bentuk energi” ditemukan oleh Robert Mayer (1814-1878), dan ” Kesetaraan antara satuan kalor dan satuan energi disebut kalor mekanik” digagas oleh James Prescott (1818- 1889). Kalor (Q) yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu suatu benda tergantung padatigahal,yakni:
1. Perubahan suhu benda (∆t) “ Besar kalor Q yang diberikan pada suatu benda sebanding dengan kenaikan suhu benda itu (∆t).”
2. Mass benda (m) “ Besar kalor yang diserap satu benda untuk menaikkan suhu yang sama sebanding dengan massa benda itu. “
3. Jenis benda(c) “Besar kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu
benda/zat bergantung pada jenis zat tersebut.” Setiap benda memiliki nilai tetapan “kalor jenis (c)” yang menentukan banyaknya kalor yang dibutuhkan untuk
menaikkan suhu benda setiap derajatnya.
Kumparan panas suatu kalorimeter dialiri arus listrik, maka panas yang ditimbulkan oleh kumparan akan diterima oleh air, thermometer, dan tabung calorimeter. Beda suhu yang diperlukan untuk pengaliran panas diberikan oleh
arus listrik ( I ) yang mengalir dalam suatu kumparan kawat tahanan ( pemanas ) yang biasanya dililitkan pada beban yang hendak diteliti. Sejarah awal ditemukannya listrik adalah oleh seorang cendikiawan Yunani yang bernama Thales, yang mengemungkakan fenomena batu ambar yang bila digosok - gosokkan akan dapat menarik bulu sebagai fenomena listrik. Kemudian setelah bertahun - tahun semenjak ide Thales dikemukakan, baru kemudian muncul lagi pendapat - pendapat serta teori -teori baru mengenai listrik seperti yang diteliti dan dikemukakan oleh William Gilbert, Joseph priestley, Charles De Coulomb, AmpereMichael Farraday Oersted, dll.
Energi listrik W digunakan oleh suatu alat dengan beda potensial V dan kuat arus I selama selang waktu t tertentu dapat dituliskan dalam persamaanmatematissebagaiberikut:
Dengan:
W = usaha dalam (joule⊇) V = tegangan dalam (volt⊇) I⊇ = kuat arus dalam (ampere) t⊇ = lama waktu dalam (sekon)
Sedangkan panas H yang ditimbulkan dapat pula dituliskan secara matematis sebaga berikut:
- Na = nilai air kalorimeter - m = massa air
- C = kalorjenisair
Dengan satuan H adalah besar kecilnya kalor yang dibutuhkan suatu benda(zat) bergantung pada 3 faktor, yaitu massa zat, jenis zat, dan perubahan suhu.
Sehingga secara matematis dapat dirumuskan : Dimana :
Q = kalor yang dibutuhkan (J) m = massa benda (kg)
c = kalor jenis (J/kgC)
(t2-t1 atau ∆t) = perubahan suhu (oC)
Kalor dapat dibagi menjadi 2 jenis
1. Kalor yang digunakan untuk menaikkan suhu
2. Kalor yang digunakan untuk mengubah wujud (kalor laten), persamaan yang digunakan dalam kalor laten ada dua macam Q = m.U dan Q = m.L. Dengan U
adalah kalor uap (J/kg) dan L adalah kalor lebur (J/kg) Dalam pembahasan kalor ada dua kosep yang hampir sama tetapi berbeda yaitu kapasitas kalor (H) dan kalor jenis (c). Kapasitas kalor adalah banyaknya kalor yang diperlukan untuk menaikkan suhu benda sebesar 1 derajat celcius.
Kalor jenis adalah banyaknya kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu 1 kg zat sebesar 1 derajat celcius. Alat yang digunakan untuk menentukan besar kalor jenis adalah kalorimeter. c = Q/m.(t2-t1) Bila kedua persamaan tersebut dihubungkan maka terbentukpersamaan baru.
Kalor merupakan bentuk energi maka dapat berubah dari satu bentuk kebentuk yang lain. Berdasarkan Hukum Kekekalan Energi maka energi listrik dapat berubah menjadi energi kalor dan juga sebaliknya energi kalor dapat berubah menjadi energi listrik. Dalam pembahasan ini hanya akan diulas tentang hubungan energi listrik dengan energi kalor. Alat yang digunakan mengubah energi listrik menjadi energi kalor adalah ketel listrik, pemanas listrik, dll. Besarnya energi listrik yang diubah atau diserap sama dengan besar kalor yang dihasilkan. Sehingga secara matematis dapat dirumuskan. W = Q Untuk menghitung energi listrik digunakan persamaan sebagai berikut :
Keterangan :
W = energi listrik (J) P = daya listrik (W)
t = waktu yang diperlukan (s)
Bila rumus kalor yang digunakan adalah Q = m.c.(t2 - t1) maka diperoleh persamaan ; P.t = m.c.(t2 - t1)
Menurut asas Black apabila ada dua benda yang suhunya berbeda kemudian disatukan atau dicampur maka akan terjadi aliran kalor dari benda yang bersuhu tinggi menuju benda yang bersuhu rendah. Aliran ini akan berhenti sampai terjadi keseimbangan termal (suhu kedua benda sama). Secara matematis dapat
dirumuskan : Q lepas = Q terima
Catatan yang harus selalu diingat jika menggunakan asasa Black adalah pada W = P.t
benda yang bersuhu tinggi digunakan (t1 - ta) dan untuk benda yang bersuhu rendah digunakan (ta-t2). Dan rumus kalor yang digunakan tidak selalu yang ada diatas bergantung pada soal yang dikerjakan.
Hukum Ohm menyatakan bahwa besar arus yang mengalir pada suatu konduktor pada suhu tetap sebanding dengan beda potensial antara kedua ujung konduktor ( V = R.I ) http//www.fisikapanasaliranlistrik.com
2.4 Produk elektronik
2.4.2 Macam-macam produk pemanas elektronik
Di jaman yang moderen dan canggih saat ini banyak Perkembangan industri manufaktur baik industri jasa maupun yang menghasilkan produk, contohnya produk setrika dan kompor listrik yang berkembang sangat pesat, perusahaan saling bersaing dari segi keunggulan produk, inovasi produk, dan kenyamanan produk guna untuk mencari pasar konsumen yang tepat.
Dengan adanya persaingan perkembangan produk tersebut, maka dilakukan penelitian perancangan pemanas multifungsi, gambaran produk ini diambil dari produk strika dan, kompor listrik yang di amati di supermarket dan toko elektronik. dengan dilakukanya penelitian tersbut maka timbulah ide untuk mengembangkan ke dua produk tersebut dengan cara meringkas dan menjadikan produk tersebut menjadi satu produk yang berinovasi dengan menggunakan metode Design For Manufacture and Assembly (DFMA) dan prinsip pendekatan ergonomi yang dibaeri nama pemanas multifungsi. Pemanas multi fungsi ialah suatu produk yang dirancang untuk kebutuhan sehari-hari.
Dengan dirancangnya produk ini untuk konsumen janganlah takut, karena untuk spesifikasi produk pemanas multi fungsi ini sangat aman, nyaman dan hemat listrik. untuk spesifikasi komponen mekanik keamananya di lengkapi dengan isolator atau penyekat panas pada pegangan dan untuk komponen elektriknya diberi pengaman sekring. Dengan menggunakan produk pemanas multi fungsi ini dapat memberikan kenyamanan dalam penggunaanya, selain itu produk ini sangat efisien dan praktis.contoh beberapa elektronik dengan sistem elemen atau heater :
Gambar 2.4. strika
Gambar 2.5. Kompor listrik (Http//www.Tokobagus.com
2.4.3 Komponen dan Bahan baku Pemanas Multifungsi 1. Aluminium
Aluminium adalah logam yang berwaarna putih perak dan tergolong ringan yang mempunyai massa jenis 2,7 gr cm– 3 .Sifat-sifat yang dimilki aluminium antara lain :
1. Ringan, tahan korosi dan tidak beracun maka banyak digunakan untuk alat rumah tangga seperti panci, wajan dan lain-lain.
2. Reflektif, dalam bentuk aluminium foil digunakan sebagai pembungkus makanan, obat, dan rokok.
3. Daya hantar listrik dua kali lebih besar dari Cu maka Al digunakan sebagai kabel tiang listrik.
4. Paduan Al dengan logam lainnya menghasilkan logam yang kuat seperti Duralium (campuran Al, Cu, mg) untuk pembuatan badan peswat. 5. Al sebagai zat reduktor untuk oksida MnO22O3 dan Cr
Aluminium terdapat melimpah dalam kulit bumi, yaitu sekitar 7,6 %. Dengan kelimpahan sebesar itu, aluminium merupakan unsur ketiga terbanyak setelah oksigen dan silikon, serta merupakan unsur logam yang paling melimpah. Namun, Aluminium tetap merupakan logam yang mahal karena pengolahannya sukar.( http//:heriutkimia.blogspot.com )
2. Heater atau elemen pemanas
Heater yaitu benda yang terbuat dari kawat nikelin yang mempunyai resistansi yang tinggi yang terdiri dari beberapa campuran nikel dan crom. jadi heater
atau elemen pemanas ini sering digunakan pada elektronik seperti sterika, alat pijat bantal infra red, teko pemanas, magic com, water solar pool, sauna, dll. .( http//:heriutkimia.blogspot.com )
3. Isolator asbes
Asbes adalah istilah pasar untuk bermacam-macam mineral yang dapat dipisah-pisahkan hingga menjadi serabut yang fleksibel. Berdasarkan komposisi mineralnya, asbes dapat digolongkan menjadi dua bagian. Golongan serpentin; yaitu mineral krisotil yang merupakan hidroksida magnesium silikat dengan komposisi Mg6(OH)6(Si4O11) H2O, Golongan amfibol; yaitu mineral krosidolit, antofilit, amosit, aktinolit dan tremolit.Walaupun sudah jelas mineral asbes terdiri dari silikat-silikat kompleks, tetapi dalam menulis komposisi mineral asbes terdapat perbedaan. Semula dianggap bahwa silikatnya terdiri dari molekul Si11O12. Akan tetapi berdasarkan hasil penyelidikan sinar-X, sebenarnya silikat-silikat itu terdiri dari molekul-molekulSi4O11. Yang banyak digunakan dalam industri adalah asbes jenis krisotil. Perbedaan dalam serat asbes selain karena panjang seratnya berlainan, juga karena sifatnya yang berbeda. Satu jenis serat asbes pada umumnya dapat dimanfaatkan untuk beberapa penggunaan yaitu dari serat yang berukuran panjang hingga yang halus. http//:heriutkimia.blogspot.com )
4. Plate penjepit panas yaitu plat ini berfungsi agar panas yang dihasilkan nikelin atau elemen terserap rata oleh plate alumunium
5. Handle wire atau tiang penyangga yaitu berfungsi sebagai penyangga dan pegangan saat alat digunakan, handel wire terbuat dari besi yang berdiameter 5mm dan di beri isolator nylon untuk pelindung panas.
6. Clamp penjepit yaitu berfungsi untuk menahan atau mengunci handle wire (penyangga) saat digunakan dalam pemakaian alat, dan clam ini terbuat dari besi plat stainliss yang berukuran tebal 3 mm.
7. Key bolt atau baut pengunci yaitu berfungsi sebagai pengunci clamp untuk menahan tiang penyangga.
8. Electric conektor yaitu sambungan jek kabel untuk mengalirkan arus listrik. 9. Pillot lamp atau lampu indikator yang berfungsi untuk mengetahui adanya
arus listrik dan juga untuk mengetahui sistem otomatis. Electrik konektor yaitu sejenis lampu kecil dengan daya listrik minimum dan awet yang sering disebut lampu LED .
10.Adjustable temprature adalah alat yang berfungsi mengatur daya panas pada alat.
2.4.4 Rancangan Pemanas Multifungsi
Dari hasi survei di supermarket dan bisnis online kami melihat beberapa alat elektronik yang di jual dengan harga murah dan fungsi yang individual dari masing-masing produk seperti strika untuk merapikan pakaian, dan kompor listrik yang dibutuhkan masing masing rumah tangga untuk memasak air. Maka dari beberapa elektronik di atas timbulah ide untuk merancangnya dengan konsep meringkas ke tiga produk tersebut menjadi satu produk yaitu pemanas multifungsi yang berinovasi dan nyaman dalam penggunaanya. Sistem produk pemanas multifungsi sama dengan komponen strika yang menggunakan sistem pemanas elemen atau heater. dibawah ini gambar rancangan produk pemanas multifungsi :
Gambar 2.6. Pemanas Multifungsi
gambar 2.6. Alas setr ika Th e image part with relation ship I D rI d15 w as no t foun d in the file.
2.4.5 Langkah-langkah teknik pembuatan pemanas multifungsi 1. Menyiapkan bahan-bahan pemanas multifungsi
2. Melakukan proses pengukuran, pemotongan dan pembentukan plat alumunium lalu membentuk plat menjadi lingkaran
denganjari-jari100 mm dan tinggi 50 mm
3. Pertama memasukkan heater atau kawat nikel kedalam plat yang telah dibentuk lalu memasukkan asbes yang berfunsi sebagai isolator dan kemudian dijepit plat penjepit.
4. Memasang penyangga dan plat clamp (Penjepit) yang berfungsi sebagai penahan alumunium.
2.5 Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu diambil dari teori – teori atau dari data skripsi terdahulu yang menggunakan metode DFMA atau Design for Manufacture and Assembly.
1. Oki Agung Setiyanto /Teknik Industri FTI-ITS /2007
Judul : PENERAPAN DESIGN FOR MANUFACTURE AND ASSEMBLY (DFMA) PADA PRODUK MESIN GILAS TYPE MGD-4 DI PT BARATA INDONESIA (PERSERO)
Faktor design berpengaruh besar pada industri Mesin Gilas, karena didalamnya juga dipertimbangkan proses manufaktur dan perakitan dalam pembuatan produk. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengevaluasi design produk yang ada dengan menggunkanan konsep DFMA (Design for Manufacture and Assembly). DFMA adalah suatu metode yang dikembangkan untuk merancang sebuah produk agar memiliki proses manufaktur dan proses perakitan yang paling tepat. Penelitian diawali dengan identifikasi pada design awal Mesin Gilas. Kemudian dilakukan analisa dengan menggunakan software DFMA untuk mengetahui waktu perakitan serta biaya komponen pembentuk produk awal. Selanjtnya dilakukan redesign pada produk untuk mereduksi waktu perakitan serta biaya komponen pembentuk produk. Redesign dilakukan dengan mengurangi ataumenghilangjkan komponen yang tidak memberikan nilai tambah pada produk seperti fasteners atau connectors. Selanjutnya dari hasil redesign dicari urutan perakitan yang paling optimal (Assembly Sequence).
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa waktu perakitan berkurang hingga 0,23%,jumlah komponen berkurang hingga 13,35%, serta biaya total manufaktur berkurang hingga 0,61 %.
2. Brianti Satrianti Utami / Teknik Mesin – FTI / UI / 2008-2009
Judul : PENGEMBANGAN PROTOTIPE SISTEM PENDETEKSI GAYA MULTI AXIS UNTUK PEMBUATAN LINTASAN GERAK ROBOT ARTIKULASI 5 DERAJAT KEBEBASAN
Kebutuhan dalam dunia manufaktur yang tinggi dalam hal ekonomi dan kualitas produk mendorong peneliti dan industriawan untuk terus mengembangkan teknologi manufaktur. Robot memungkinkan proses manufaktur berjalan cepat, dengan tingkat kesalahan yang rendah. Akan tetapi robot manufaktur yang umum digunakan saat ini, yakni robot artikulasi dengan kontrol posisi numerik, masih memiliki kelemahan tidak mampu mengindentifikasi perubahan gaya-gaya disekitarnya. Optimasi dari system pendeteksi gaya multi axis ini adalah implementasi dari prinsip DFMA, yaitu gabungan dari DFA dan DFM. Dengan karakteristik seperti ini, robot tidak dapat diaplikasikan untuk proses produksi yang memerlukan indera peraba manusia seperti deburring, polishing, dan proses perakitan yang presisi.
Peranti Sistem Pendeteksi Gaya Multi Axis memungkinkan robot artikulasi untuk mendeteksi gaya yang terjadi pada end effector dalam arah x, y, dan z relatif terhadap koordinat end effector. Sistem Pendeteksi Gaya Multi Axis dalam penelitian ini dirancang khusus untuk Robot Artikulasi 5 Derajat Kebebasan RV-M1 yang tersedia di Laboratorium Departemen Teknik Mesin FTUI. Peranti utama yang digunakan untuk pendeteksi gaya adalah strain gage.
Penelitian ini terfokus pada perancangan mekanik sebagai tranducer, perancangan konfigurasi jembatan Wheatstone sebagai rangkaian elektrikal strain gage,pengkondisian sinyal dan akuisisi data Sistem Pendeteksi Gaya Multi Axis. Dalam penelitian ini juga dilakukan pengujian prototipe alat untuk meninjau persamaan konversi tegangan keluaran terhadap gaya yang diterima di titik asal koordinat end effector pada arah x, y, dan z, dengan bantuan anak timbangan yang terkalibrasi nasional.
Dengan penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan Sistem Pendeteksi Gaya Multi Axis dengan jangkauan pengukuran, keakuratan dan resolusi pengukuran yang tepat; karakteristik histerisis pengukuran yang baik; dan displacement tranducer yang memadai untuk digunakan dalam rangkaian penelitian lebih lanjut yakni pembuatan lintasan gerak robot artikulasi 5 derajat kebebasan
METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Lab Sistem Manufaktur dan lab Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa timur 2012
3.2 Identifikasi Variabel
Dalam pemecahan masalah membuat alat inovasi dengan desain inovasi yang lebih tinggi, penulis menggunakan konsep DFA sebagai model pemecahan masalah. Adapun variabel – variabel yang dibutuhkan.
1. Variabel Terikat
Yaitu variabel yang nilainya di pengaruhi dari variabel bebas. Variabel terikat yang diteliti adalah effisiensi waktu proses dan waktu perakitan.
2. Variabel Bebas
Yaitu variabel yang mempengaruhi nilai variabel terikat. Variabel bebas yang digunakan terdiri dari :
a. Gambar desain
Gambar desain adalah gambar rancangan alat inovasi dengan desain Auto Cad.
b. Waktu perakitan
Waktu perakitan adalah waktu yang digunakan dalam proses perakitan. c. Jumlah komponen
Studi Pustaka Perumusan Masalah
Pengumpulan Data :
1. Gambar desain alat pemanas multifungsi 2.. Waktu perakitan tiap part
3. Jumlah komponen penyusun Identifikasi Variabel
Penetapan Tujuan