• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.7 Rancangan Percobaan

Berikut ini adalah rancangan percobaan pada penelitian ini pada Tabel 3.2 No Jenis

Polutan

ESDD (mg/cm2)

Kondisi Kering Kondisi Basah

VFOV ILC VFOV ILC

1 KNO3 Rendah

Sedang Berat

... ... ... ...

2 ZnSO4 Rendah

Sedang Berat

... ... ... ...

3 CaCO3 Rendah

Sedang Berat

... ... ... ...

4 KCl Rendah

Sedang Berat

... ... ... ...

5 S Rendah

Sedang Berat

... ... ... ...

Tabel 3.2 Rancangan Percobaan Nb : Dimana masing-masing percobaan dilakukan 3 kali.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tujuan dari pengujian ini adalah untuk mengetahui pengaruh polutan berupa buatan KNO3, ZnSO4, Sulfur (S), CaCO3, dan KCl dengan tingkat polusi yang berbeda-beda terhadap arus bocor dan tegangan flashover pada isolator porselen dan gelas dalam kondisi kering dan basah.

4.1 Perhitungan ESDD

Data hasil pengukuran konduktivitas larutan dibawah ini digunakan untuk menghitung nilai ESDD dengan menggunakan persamaan 2.3: ESDD = G D2−D1

S

Hasil pengukuran konduktivitas larutan dapat dilihat pada lampiran. Hasil yang diperoleh seperti pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1 Hasil pengukuran ESDD larutan

Jenis

larutan Bahan Isolator Berat polutan (gr)

ESDD (mg/cm2)

Jenis

larutan Bahan Isolator Berat polutan (gr)

4.2 Hasil Pengujian Arus Bocor pada Isolator

Pada bagian ini menyajikan hasil pengujian arus bocor pada isolator kondisi bersih, terpolutan ringan, sedang, dan berat, menggunakan persamaan 2.6:

I

bocor

=

V

R; dimana R = 43 kΩ.

4.2.1 Hasil Pengujian Arus Bocor pada Isolator Kondisi Bersih

Hasil pengujian arus bocor pada isolator kondisi bersih dapat dilihat seperti pada Tabel 4.2 dan digambarkan secara grafik seperti Gambar 4.1.

Tabel 4.2 Arus bocor isolator kondisi bersih

Jenis

Gambar 4.1 Grafik hubungan arus bocor terhadap tegangan untuk kondisi kering dan basah pada isolator kondisi bersih

Gambar 4.1 menunjukkan dimana nilai arus bocor semakin besar dari kondisi kering ke basah. Dimana persentase kenaikan arus bocor paling besar yaitu terjadi pada isolator gelas kondisi kering, yaitu sebesar 55,814% dan paling kecil kenaikannya terjadi pada isolator gelas basah, yaitu sebesar 33,929%.

0

4.2.2 Hasil Pengujian Arus Bocor pada Isolator Kondisi Terpolutan Ringan Isolator diberi polutan dengan lima jenis polutan dengan intensitas ringan yaitu KNO3, ZnSO4, Sulfur (S), CaCO3, dan KCl, untuk nilai arus bocor dapat dilihat seperti pada Tabel 4.3 dan Tabel 4.4 dan digambarkan secara grafik seperti Gambar 4.2 sampai Gambar 4.9. Hasil diperoleh menggunakan persamaan 2.6:

I

bocor

=

V

R

dimana R = 43 kΩ.

a. Isolator Porselen Terpolutan Ringan

Tabel 4.3 menyajikan data hasil pengujian arus bocor isolator porselen terpolutan ringan.

Tabel 4.3 Arus bocor isolator porselen terpolutan ringan

Jenis

25 12,90 0,30 20,93 0,49

Gambar 4.2 Grafik hubungan arus bocor terhadap tegangan untuk kondisi kering pada isolator terpolutan ringan 150gr

Gambar 4.2 menunjukkan dimana nilai arus bocor semakin besar seiring bertambahnya tegangan. Persentase kenaikan arus bocor pada kondisi kering dengan bobot 150gr paling besar yaitu terjadi pada isolator terpolutan S, yaitu sebesar 61,54% dan paling kecil persentase kenaikannya terjadi pada isolator terpolutan KCl, yaitu sebesar 29,51%.

0

Gambar 4.3 Grafik hubungan arus bocor terhadap tegangan untuk kondisi basah pada isolator terpolutan ringan 150gr

Gambar 4.3 menunjukkan persentase kenaikan arus bocor paling besar pada kondisi basah dengan bobot 150gr terjadi pada isolator terpolutan CaCO3, yaitu sebesar 55,03% dan paling kecil persentase kenaikannya terjadi pada isolator terpolutan KCl, yaitu sebesar 32,14%.

Gambar 4.4 Grafik hubungan arus bocor terhadap tegangan untuk kondisi kering pada isolator terpolutan ringan 250gr

Gambar 4.4 menunjukkan dimana persentase kenaikan arus bocor paling besar pada kondisi basah dengan bobot 250gr terjadi pada isolator terpolutan S, yaitu sebesar 56,09% sedangkan paling kecil persentase kenaikannya terjadi pada isolator terpolutan KCl, yaitu sebesar 28,99%.

0

Gambar 4.5 Grafik hubungan arus bocor terhadap tegangan untuk kondisi basah pada isolator terpolutan ringan 250gr

Gambar 4.5 menunjukkan dimana persentase kenaikan arus bocor paling besar pada konidis basah dengan bobot 250gr terjadi pada isolator terpolutan S, yaitu sebesar 55,36% dan paling kecil persentase kenaikannya terjadi pada isolator terpolutan KCl, yaitu sebesar 24,36%.

b. Isolator Gelas Terpolutan Ringan

Tabel 4.4 menyajikan data hasil pengujian arus bocor pada isolator gelas terpolutan ringan.

Tabel 4.4 Arus bocor isolator gelas terpolutan ringan

Jenis

KCl

Gambar 4.6 Grafik hubungan arus bocor terhadap tegangan untuk kondisi kering pada isolator terpolutan ringan 150gr

Persentase kenaikan arus bocor paling besar pada Gambar 4.6 kondisi kering bobot 150gr terjadi pada isolator terpolutan CaCO3, yaitu sebesar 55,6% dan paling kecil persentase kenaikannya terjadi pada isolator terpolutan ZnSO4, yaitu sebesar 30,16%.

Gambar 4.7 Grafik hubungan arus bocor terhadap tegangan untuk kondisi basah pada isolator terpolutan ringan 150gr

Persentase kenaikan arus bocor pada kondisi basah bobot 150gr paling besar pada Gambar 4.7 terlihat pada isolator terpolutan KNO3, yaitu sebesar 46,04% dan persentase kenaikan paling kecil terjadi pada isolator terpolutan ZnSO4, yaitu sebesar 26,99%.

Gambar 4.8 Grafik hubungan arus bocor terhadap tegangan untuk kondisi kering pada isolator terpolutan ringan 250gr

Pada kondisi kering bobot 250gr, isolator terpolutan S pada Gambar 4.8 mengalami persentase kenaikan arus bocor paling besar yaitu sebesar 45,07% dan persentase kenaikan paling kecil terjadi pada isolator terpolutan ZnSO4, yaitu sebesar 28,24%.

Gambar 4.9 Grafik hubungan arus bocor terhadap tegangan untuk kondisi basah pada isolator terpolutan ringan 250gr

Persentase kenaikan arus bocor kondisi basah bobot 250gr paling besar pada Gambar 4.9 terjadi pada isolator terpolutan S, yaitu sebesar 36,81% dan persentase kenaikan paling kecil terjadi pada isolator terpolutan KCl, yaitu sebesar 29,63%.

4.2.3 Hasil Pengujian Arus Bocor pada Isolator Kondisi Terpolutan Sedang Isolator diberi polutan dengan lima jenis polutan dengan intensitas sedang yaitu KNO3, ZnSO4, Sulfur (S), CaCO3, dan KCl, untuk nilai arus bocor dapat dilihat seperti pada Tabel 4.5 dan Tabel 4.6 dan digambarkan secara grafik seperti Gambar 4.10 sampai Gambar 4.17. Hasil diperoleh menggunakan persamaan 2.6:

I

bocor

=

V

R

;

dimana R = 43 kΩ.

a. Isolator Porselen Terpolutan Sedang

Tabel 4.5 menyajikan data hasil pengujian arus bocor pada isolator porselen terpolutan sedang.

Tabel 4.5 Arus bocor isolator porselen terpolutan sedang

Jenis

25 26,83 0,62 31,57 0,734

Gambar 4.10 Grafik hubungan arus bocor terhadap tegangan untuk kondisi kering pada isolator terpolutan sedang 500gr

0,2

Gambar 4.10 menunjukkan persentase kenaikan arus bocor paling besar pada kondisi kering 500gr terjadi pada isolator terpolutan ZnSO4, yaitu sebesar 42,38% dan persentase kenaikan terkecil terjadi pada isolator terpolutan CaCO3, yaitu sebesar 27,08%.

Gambar 4.11 Grafik hubungan arus bocor terhadap tegangan untuk kondisi basah pada isolator terpolutan sedang 500gr

Kenaikan arus bocor kondisi basah bobot 500gr pada Gambar 4.11 paling besar terjadi pada isolator terpolutan S, yaitu sebesar 46,96% dan persentase kenaikan terkecil terjadi pada isolator terpolutan KCl, yaitu sebesar 26,51%.

Gambar 4.12 Grafik hubungan arus bocor terhadap tegangan untuk kondisi kering pada isolator terpolutan sedang 600gr

0,2

Bila dilihat pada Gambar 4.12 persentase kenaikan arus bocor paling besar kondisi kering bobot 600gr terjadi pada isolator terpolutan ZnSO4, yaitu sebesar 45,35% dan persentase kenaikan paling kecil terjadi pada isolator terpolutan KCl, yaitu sebesar 29,89%.

Gambar 4.13 Grafik hubungan arus bocor terhadap tegangan untuk kondisi basah pada isolator kondisi terpolutan sedang 600gr

Ditunjukkan pada Gambar 4.13 persentase kenaikan arus bocor pada kondisi basah bobot 600gr paling besar terjadi pada isolator yang terpolutan KNO3, yaitu sebesar 49,73% dan persentase kenaikan paling kecil terjadi pada isolator terpolutan KCl, yaitu sebesar 24,49%.

b. Isolator Gelas Terpolutan Sedang

Tabel 4.6 menyajikan data hasil pengujian arus bocor pada isolator gelas terpolutan sedang.

Tabel 4.6 Arus bocor isolator gelas terpolutan sedang

Jenis

25 34,47 0,80 42,77 0,995

Gambar 4.14 Grafik hubungan arus bocor terhadap tegangan untuk kondisi kering pada isolator terpolutan sedang 500gr

0,3

Dapat dilihat pada Gambar 4.14 persentasekenaikan arus bocor kondisi kering bobot 500gr paling besar terjadi pada isolator terpolutan S, yaitu sebesar 50,6% dan persentase kenaikan terkecil terjadi pada isolator terpolutan KCl, yaitu sebesar 28,26%.

Gambar 4.15 Grafik hubungan arus bocor terhadap tegangan untuk kondisi basah pada isolator terpolutan sedang 500gr

Gambar 4.15 menunjukkan bahwa kenaikan arus bocor kondisi basah bobot 500gr paling besar pada isolator terpolutan CaCO3, yaitu sebesar 45,57% dan persentase kenaikan paling kecil terjadi pada isolator terpolutan ZnSO4, yaitu sebesar 27,83%.

Gambar 4.16 Grafik hubungan arus bocor terhadap tegangan untuk kondisi kering pada isolator terpolutan sedang 600gr

0,4

Dapat dilihat pada Gambar 4.16 menunjukkan bahwa persentase kenaikan arus bocor kondisi kering bobot 600gr paling besar terjadi pada isolator terpolutan S, yaitu sebesar 46,59% dan persentase kenaikan yang terkecil terjadi pada isolator terpolutan KNO3, yaitu sebesar 33,7%.

Gambar 4.17 Grafik hubungan arus bocor terhadap tegangan untuk kondisi basah pada isolator kondisi sedang 600gr

Dapat dilihat pada Gambar 4.17 bahwa persentase kenaikan arus bocor paling besar terjadi pada isolator terpolutan KCl, yaitu sebesar 38,16% dan persentase kenaikan paling kecil terjadi pada isolator terpolutan S, yaitu sebesar 34,87%.

4.2.4 Hasil Pengujian Arus Bocor pada Isolator Kondisi Terpolutan Berat Pada penelitian ini isolator diberi polutan oleh lima jenis polutan buatan dengan intensitas berat yaitu KNO3, ZnSO4, Sulfur (S), CaCO3, dan KCl, untuk nilai arus bocor dapat dilihat seperti pada Tabel 4.7 dan Tabel 4.8 dan digambarkan secara grafik seperti Gambar 4.18 sampai Gambar 4.25. Hasil diperoleh menggunakan persamaan 2.6:

I

bocor

=

V

R

;

dimana R = 43 kΩ.

a. Isolator Porselen Terpolutan Berat

Tabel 4.7 menyajikan hasil pengujian arus bocor pada isolator porselen terpolutan berat.

Tabel 4.7 Arus bocor isolator porselen terpolutan berat

Gambar 4.18 Grafik hubungan arus bocor terhadap tegangan untuk kondisi kering pada isolator terpolutan berat 900gr

Gambar 4.18 menunjukkan bahwa persentase kenaikan arus bocor kondisi kering bobot 900gr paling besar terjadi pada isolator terpolutan KNO3, yaitu sebesar 48,38% dan persentase kenaikan terkecil terjadi pada isolator terpolutan S, yaitu sebesar 30,19%.

Gambar 4.19 Grafik hubungan arus bocor terhadap tegangan untuk kondisi basah pada isolator terpolutan berat 900gr

Gambar 4.19 menunjukkan bahwa persentase kenaikan arus bocor kondisi basah bobot 900gr paling besar terjadi pada isolator terpolutan S, yaitu sebesar 46,41% dan persentase kenaikan paling kecil terjadi pada isolator terpolutan KCl, yaitu sebesar 25,11%.

0,2

Gambar 4.20 Grafik hubungan arus bocor terhadap tegangan untuk kondisi kering pada isolator terpolutan berat 1000gr

Pada Gambar 4.20 menunjukkan bahwa persentase kenaikan arus bocor kondisi kerng bobot 1000gr yang paling besar terjadi pada isolator terpolutan KNO3, yaitu sebesar 46,73% dan persentase kenaikan paling kecil terjadi pada isolator terpolutan S, yaitu sebesar 26,32%.

Gambar 4.21 Grafik hubungan arus bocor terhadap tegangan untuk kondisi basah pada isolator kondisi berat 1000gr

Kenaikan arus bocor pada Gambar 4.21 paling besar kondisi basah bobot 1000gr terjadi pada isolator terpolutan KNO3, yaitu sebesar 47,93% dan persentase kenaikan paling kecil terjadi pada isolator terpolutan KCl, yaitu sebesar 29,32%.

0,3

b. Isolator Gelas Terpolutan Berat

Tabel 4.8 menyajikan hasil pengujian arus bocor pada isolator gelas terpolutan berat.

Tabel 4.8 Arus Bocor Isolator Gelas Terpolutan Berat

Jenis

Gambar 4.22 Grafik hubungan arus bocor terhadap tegangan untuk kondisi kering pada isolator terpolutan berat 900gr

Gambar 4.22 menunjukkan persentase kenaikan arus bocor kondisi kering pada bobot 900gr paling besar terjadi pada isolator terpolutan S, yaitu sebesar 46,74% dan persentase kenaikan arus bocor paling kecil terjadi pada isolator terpolutan CaCO3, yaitu sebesar 32,53%.

Gambar 4.23 Grafik hubungan arus bocor terhadap tegangan untuk kondisi basah pada isolator terpolutan berat 900gr

Gambar 4.23 menunjukkan persentase kenaikan arus bocor kondisi basah bobot 900gr yang paling besar terjadi pada isolator terpolutan S, yaitu sebesar 42,2% dan persentase kenaikan paling kecil terjadi pada isolator terpolutan ZnSO4, yaitu sebesar 25,32%.

0,4

Gambar 4.24 Grafik hubungan arus bocor terhadap tegangan untuk kondisi kering pada isolator terpolutan berat 1000gr

Gambar 4.24 menunjukkan persentase kenaikan arus bocor kondisi kering 1000gr paling besar terjadi pada isolator terpolutan ZnSO4, yaitu sebesar 42,46%

dan persentase kenaikan paling kecil terjadi pada isolator terpolutan CaCO3, yaitu sebesar 29,03%.

Gambar 4.25 Grafik hubungan arus bocor terhadap tegangan untuk kondisi basah pada isolator terpolutan berat 1000gr

Gambar 4.25 menunjukkan persentase kenaikan arus bocor kondisi basah pada bobot 1000gr paling besar terjadi pada isolator terpolutan KCl, yaitu sebesar 41,18% , sedangkan sebaliknya persentase kenaikan yang paling kecil terjadi pada isolator terpolutan ZnSO4, yaitu sebesar 23,08%.

0,4

4.3 Hasil Pengujian Tegangan Flashover pada Isolator

Pada bagian ini menyajikan hasil pengujian tegangan flashover pada isolator kondisi bersih, terpolutan ringan, sedang, dan berat.

4.3.1 Hasil Pengujian Tegangan Flashover pada Isolator Kondisi Bersih Data hasil pengujian tegangan flashover pada isolator kondisi bersih (tanpa polutan) seperti pada Tabel 4.9 dan digambarkan secara grafik seperti Gambar 4.26.

Tabel 4.9 Tegangan flashover isolator kondisi bersih

Jenis Isolator

Tegangan Flashover (kV) Persentase

penurunan

Kering Basah (%)

V1 V2 V3 Vrata-rata V1 V2 V3 Vrata-rata

Porselen 68,5 68,2 67,6 68,1 51,6 52,4 52,6 52,2 23,34 Gelas 70,7 71,3 72,3 71,43 54,5 53,8 53,6 53,97 24,44

Gambar 4.26 Grafik pengaruh kondisi kering dan basah terhadap tegangan flashover isolator kondisi bersih

Dapat dilihat pada Gambar 4.26 tegangan flashover pada isolator mengalami penurunan saat kondisi kering ke basah. Penurunan tegangan flashover lebih besar pada isolator gelas, yang mana pada isolator porselen sebesar 23,34%

dan pada isolator gelas sebesar 24,44%.

4.3.2 Hasil Pengujian Tegangan Flashover pada Isolator Kondisi Terpolutan Ringan

Isolator diberi polutan dengan lima jenis polutan dengan intensitas ringan yaitu KNO3, ZnSO4, Sulfur (S), CaCO3, dan KCl, untuk nilai tegangan flashovernya dapat dilihat seperti pada Tabel 4.10 dan 4.11.

40

a. Isolator Porselen Terpolutan Ringan

Tabel 4.10 menyajikan data hasil pengujian arus bocor isolator porselen terpolutan ringan dan digambarkan secara grafik seperti Gambar 4.27 dan Gambar 4.28.

Tabel 4.10 Tegangan flashover isolator porselen terpolutan ringan

Jenis Polutan

Berat polutan

(gr)

Tegangan Flashover (kV) Persentase penurunan terhadap Tegangan Flashover Terpolutan Ringan 150gr

Gambar 4.27 menunjukkan penurunan nilai tegangan flashover dari kering ke basah. Sehingga, dapat dilihat penurunan yang paling besar terjadi pada isolator yang terpolutan ZnSO4 yaitu sebesar 44,610% sedangkan penurunan terkecil tegangan flashover terjadi pada isolator terpolutan CaCO3 sebesar 12,456%.

30

Gambar 4.28 Grafik Pengaruh berbagai Polutan Kondisi Kering dan Basah terhadap Tegangan Flashover Terpolutan Ringan 250gr

Gambar 4.28 dapat dilihat penurunan nilai tegangan flashover paling besar terjadi pada isolator yang terpolutan KCl yaitu sebesar 59,456% sedangkan penurunan paling kecil terjadi pada isolator terpolutan CaCO3 sebesar 12,577%.

b. Isolator Gelas Terpolutan Ringan

Tabel 4.11 menyajikan data hasil pengujian arus bocor isolator gelas terpolutan ringan dan digambarkan secara grafik seperti Gambar 4.29 dan Gambar 4.30.

Tabel 4. 11 Tegangan flashover isolator gelas terpolutan ringan

Jenis Polutan

Berat polutan

(gr)

Tegangan Flashover (kV) Persentase penurunan

TEGANGAN FLASHOVER (kV)

JENIS POLUTAN

Kering Basah

Gambar 4.29 Grafik Pengaruh berbagai Polutan Kondisi Kering dan Basah terhadap Tegangan Flashover Terpolutan Ringan 150gr

Bilamana dilihat Gambar 4.29 penurunan nilai tegangan flashover paling besar terjadi pada isolator terpolutan ZnSO4 sebesar 35,93 sedangkan penurunan nilai tegangan flashover paling kecil terjadi pada isolator terpolutan S sebesar 17,744%.

Gambar 4.30 Grafik Pengaruh berbagai Polutan Kondisi Kering dan Basah terhadap Tegangan Flashover Terpolutan Ringan 250gr

Penurunan tegangan flashover dari kering ke basah pada Gambar 4.30 paling besar terjadi pada isolator terpolutan KNO3 sebesar 49,225% sedangkan penurunan tegangan flashover paling kecil terjadi pada isolator terpolutan CaCO3 sebesar 5,503%.

4.3.3 Hasil Pengujian Tegangan Flashover pada Isolator Kondisi Terpolutan Sedang

Isolator diberi polutan dengan lima jenis polutan dengan intensitas sedang yaitu KNO3, ZnSO4, Sulfur (S), CaCO3, dan KCl, untuk nilai tegangan flashovernya dapat dilihat seperti pada Tabel 4.12 dan Tabel 4.13.

a. Isolator Porselen Terpolutan Sedang

Tabel 4.12 menyajikan data hasil pengujian arus bocor isolator porselen terpolutan sedang dan digambarkan secara grafik seperti Gambar 4.31 dan Gambar 4.32.

Tabel 4.12 Tegangan flashover isolator porselen terpolutan sedang

Jenis Polutan

Berat polutan

(gr)

Tegangan Flashover (kV) Persentase penurunan terhadap Tegangan Flashover Terpolutan Sedang 500gr

20

Gambar 4.31 dapat dilihat penurunan nilai tegangan flashover paling besar terjadi pada isolator terpolutan KNO3 sebesar 38,607% sedangkan penurunan tegangan flashover paling kecil terjadi pada isolator terpolutan ZnSO4 yaitu sebesar 12,473%.

Gambar 4.32 Grafik Pengaruh berbagai Polutan Kondisi Kering dan Basah terhadap Tegangan Flashover Terpolutan Sedang 600gr

Gambar 4.32 memaparkan bahwa penurunan nilai tegangan flashover paling besar terjadi pada isolator terpolutan KCl sebesar 44,32% sedangkan penurunan tegangan flashover paling kecil pada isolator terpolutan CaCO3 sebesar 14,76%.

b. Isolator Gelas Terpolutan Sedang

Tabel 4.13 menyajikan data hasil pengujian arus bocor isolator porselen terpolutan sedang dan digambarkan secara grafik seperti Gambar 4.33 dan Gambar 4.34.

Tabel 4.13 Tegangan flashover isolator gelas terpolutan sedang

Jenis Polutan

Berat polutan

(gr)

Tegangan Flashover (kV) Persentase penurunan

Gambar 4.33 Grafik Pengaruh berbagai Polutan Kondisi Kering dan Basah terhadap Tegangan Flashover Terpolutan Sedang 500gr

Penurunan paling besar nilai tegangan flashover pada Gambar 4.33 saat isolator terpolutan KNO3 yaitu sebesar 47,77% sedangkan penurunan tegangan flashover paling kecil terjadi pada isolator terpolutan KCl sebesar 26,710%.

Gambar 4.34 Grafik Pengaruh berbagai Polutan Kondisi Kering dan Basah terhadap Tegangan Flashover Terpolutan Sedang 600gr

Gambar 4.34 menunjukkan penurunan nilai tegangan flashover paling besar terjadi pada isolator terpolutan S yaitu sebesar 45,06% sedangkan penurunan tegangan flashover paling kecil terjadi pada isolator terpolutan CaCO3 sebesar 23,075%.

4.3.4 Hasil Pengujian Tegangan Flashover pada Isolator Kondisi Terpolutan Berat

Isolator diberi polutan dengan lima jenis polutan dengan intensitas ringan yaitu KNO3, ZnSO4, Sulfur (S), CaCO3, dan KCl, untuk nilai tegangan flashovernya dapat dilihat seperti pada Tabel 4.14 dan Tabel 4.15.

a. Isolator Porselen Terpolutan Berat

Tabel 4.14 menyajikan data hasil pengujian tegangan flashover pada isolator porselen terpolutan berat dan digambarkan secara grafik seperti Gambar 4.35 dan Gambar 4.36.

Tabel 4.14 Tegangan flashover isolator porselen terpolutan berat

Jenis Polutan

Berat polutan

(gr)

Tegangan Flashover (kV) Persentase penurunan terhadap Tegangan Flashover Terpolutan Berat 900gr

15

Gambar 4.35 dapat dilihat penurunan nilai tegangan flashover paling signifikan terjadi pada isolator terpolutan KCl sebesar 58,113% sedangkan penurunan nilai tegangan flashover paling kecil terjadi pada isolator terpolutan ZnSO4 sebesar 11,638%.

Gambar 4.36 Grafik Pengaruh berbagai Polutan Kondisi Kering dan Basah terhadap Tegangan Flashover Terpolutan Berat 1000gr

Gambar 4.36 menunjukkan penurunan nilai tegangan flashover paling signifikan terjadi pada isolator terpolutan KCl yaitu sebesar 59,085% sedangkan penurunan nilai tegangan flashover paling kecil terjadi pada isolator terpolutan ZnSO4 sebesar 15%.

b. Isolator Gelas Terpolutan Berat

Tabel 4.15 menyajikan data hasil pengujian tegangan flashover pada isolator gelas terpolutan berat dan digambarkan secara grafik seperti Gambar 4.37 dan Gambar 4.38.

Tabel 4.15 Tegangan flashover isolator gelas terpolutan berat

Jenis Polutan

Berat polutan

(gr)

Tegangan Flashover (kV) Persentase

penurunan

Gambar 4.37 Grafik Pengaruh berbagai Polutan Kondisi Kering dan Basah terhadap Tegangan Flashover Terpolutan Berat 900gr

Gambar 4.37 menunjukkan penurunan nilai tegangan flashover paling besar terjadi pada isolator terpolutan S yaitu sebesar 48,53% sedangkan penurunan nilai tegangan flashover paling kecil terjadi pada isolator terpolutan CaCO3 sebesar 22,097%.

Gambar 4.38 Grafik Pengaruh berbagai Polutan Kondisi Kering dan Basah terhadap Tegangan Flashover Terpolutan Berat 1000gr

Gambar 4.38 dapat dilihat penurunan nilai tegangan flashover paling besar terjadi pada isolator terpolutan KN03 yaitu sebesar 51,138% sedangkan penurunan nilai tegangan flashover paling kecil terjadi pada isolator terpolutan CaCO3 sebesar 26,823%.

4.4 Analisa Grafik Pengaruh Polutan terhadap Arus Bocor

Pengaruh polutan terhadap arus bocor pada isolator dapat dilihat pada grafik berikut.

a. Isolator Porselen

Gambar 4.39 sampai Gambar 4.46 merupakan grafik tiga polutan yang paling besar mengalami kenaikan arus bocor pada isolator porselen berdasarkan data dari Tabel 4.3 sampai Tabel 4.8.

Gambar 4.39 Grafik pengaruh berbagai bobot polutan terhadap arus bocor kondisi kering dan tegangan 15kV

Keterangan:

(79,848%) Persentase kenaikan arus bocor dari bersih ke KCl 900gr

(80,725%) Persentase kenaikan arus bocor dari bersih ke KCl 1000gr / ZnSO4 1000gr

Persentase kenaikan arus bocor pada tiga polutan pada Gambar 4.39 merupakan paling besar dibanding dengan intensitas polutan KNO3, Sulfur (S), dan CaCO3. Ditunjukkan kenaikan paling besar terjadi pada kondisi bersih ke kondisi isolator porselen terpolutan KCl bobot berat (1000gr) dan ZnSO4 bobot berat (1000gr) dengan perubahan sebesar 80,725%. Sedangkan, isolator terpolutan KCl bobot ringan (900gr) merupakan ketiga paling besar mengalami kenaikan arus bocor yaitu sebesar 79,848%.

0,66 0,69 0,69

Arus Bocor (mA)

K e r i n g ; 1 5 k V

KCl 900gr KCl 1000gr ZnSO4 1000gr

(79,848%)

(80,725%) (80,725%)

Gambar 4.40 Grafik pengaruh berbagai bobot polutan terhadap arus bocor kondisi kering dan tegangan 20kV

Keterangan:

(75,41%) Persentase kenaikan arus bocor dari bersih ke KCl 900gr (76,05%) Persentase kenaikan arus bocor dari bersih ke KCl 1000gr (78,072%) Persentase kenaikan arus bocor dari bersih ke ZnSO4 1000gr

Gambar 4.40 menunjukkan tiga polutan paling besar persentase kenaikan arus bocornya, pertama yang paling besar terdapat pada ZnSO4 bobot berat (1000gr) dengan perubahan sebesar 78,072%. Sedangkan, kedua paling besar terjadi pada isolator terpolutan KCl bobot berat (1000gr) dengan perubahan sebesar 76,05%. Dan ketiga paling besar pada isolator terpolutan KCl bobot berat (900gr) dengan perubahan sebesar 75,41%.

Gambar 4.41 Grafik pengaruh berbagai bobot polutan terhadap arus bocor kondisi kering dan tegangan 25kV

0,74 0,76 0,83

Arus Bocor (mA)

K e r i n g ; V = 2 0 k V

KCl 900gr KCl 1000gr ZnSO4 1000gr

0,85 0,85 0,87

Arus Bocor (mA)

K e r i n g ; V = 2 5 k v

KNO3 1000gr KCl 1000gr ZnSO4 1000gr (75,41%)

(78,072%)

(76,05%)

(72,824%) (72,824%)

(73,448%)

Keterangan:

(72,824%) Persentase kenaikan arus bocor dari bersih ke KCl 1000gr / KNO3 1000gr

(73,448%) Persentase kenaikan arus bocor dari bersih ke ZnSO4 1000gr

Gambar 4.41 menunjukkan isolator yang terpolutan ZnSO4 bobot berat (1000gr) yang paling besar mengalami perubahan arus bocor yaitu sebesar 73,448%

sedangkan paling besar lainnya terjadi pada isolator terpolutan KCl bobot berat (1000gr) dan KNO3 bobot berat (1000gr) mengalami perubahan kenaikan arus bocor yang sama yaitu sebesar 72,824%.

Gambar 4.42 Grafik pengaruh berbagai bobot polutan terhadap arus bocor kondisi kering dan tegangan 30kV

Keterangan:

(71,414%) Persentase kenaikan arus bocor dari bersih ke KCl 1000gr / ZnSO4 1000gr

(73,511%) Persentase kenaikan arus bocor dari bersih ke KNO3 1000gr

Isolator terpolutan KCl 1000gr dan ZnSO4 1000gr pada Gambar 4.42

Isolator terpolutan KCl 1000gr dan ZnSO4 1000gr pada Gambar 4.42

Dokumen terkait