• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rangkaian kegiatan TP PKK Kota Tebing Tingg

Dalam dokumen MEDIA PEMERINTAH KOTA TEBING TINGGI (Halaman 39-41)

dalam berbagai kegiatan

terkait dengan aktifi-

tas kaum ibu di berbagai

Kelurahan Kota Tebing

Tinggi. Wakil Ketua TP

PPK Ny.Hj.Elyuna Irham

Taufik beserta rombogan di

abadikan dalam beberapa

kegiatan. (Foto Sinergi/

.Namum bukan berarti setiap daerahnya bisa mengikuti kemam- puan yang diperoleh di setiap daerah. Tergantung kemampuan orang-orang yang menjalankan organisasinya.

Begitulah, Aisyiyah sebagai or- ganisasi wanita islam yang merupakan pelengkap organisasi Muhammadiyah secara umum, namun ia mempunyai hak dan kewajiban yang tertera dalam Anggaran Dasar dan Rumah Tangga. Itulah Aisyiyah yang saya kenal sejak tahun 1964.Ketika kami sebagai pemuda yang aktif di Pemuda Muhammadiah.

Banyak ibu-ibu Aisyi- yah itu membantu kami, mulai dari kegiatan sampai kepada keper- luan yang kami perlukan lainnya. Bersama Nasyiatul Aisyiyah, putrinya Ai- syiyah kami sering mengadakan kegiatan bersama. Sehingga hubungan antar organ- isasi begitu dekat dan saling memberikan memberikan bantuan diantara kami> ini berjalan dalam waktu yang tidak sedikit.

Kedekatan kami dengan ibu- ibu aisyiyah juga tidak pernah renggang malah sudah merupakan sebagai satu ke-

luarga. Pada peristiwa terjadinya apa yang disebut dengan pengkh- ianatan partai komunis yang lebih dikenal dengan nama G-30 S/PKI, peran ibu-ibu aisyiyah itu sangat menonjol sekali dalam membantu pemudanya dengan memberikan nasi bungkus, ketika para pemu- da itu mengadakan demonstrasi. Apabila ketika beberapa pemuda ditahan, kiriman berupa nasi dan rokok mereka berikan dengan se- cara ikhlas. Dan ini menjadi inga- tan pada para pemuda yang masih ingat akan peristiwa tersebut. Apapun yang terjadi, tulisan bukan merupakan sejarah ten- tang Aisyiah secara resmi.Namun hanya merupakan sekedar suatu ingatan yang dialami penulis keti- ka bersama kawan-kawan lainnya mengikuti kegiatan yang terjadi di kalangan organisasi Muhammadi- yah pada waktu di tahun 60-an. Sebenarnya kami sebelum itu, telah pula mengadakan kegiatan sesuai keputusan pimpinan pusat agar di setiap daerah didirikan kegiatan kesenian dan ke- budayaannya. Itulah lahirnya ikatan seni- man Budayawan Muhammadiyah (ISBM) Mulailah kegiatan itu dijalan- kan dengan mengundang bebera- pa pemuda dan pemudi dalam ke- luarga besar muhammadiyah.Dan mereka semuanya sangat menerimanya. Ada seorang kawan yang me- mang telah mempelajari tentang teater di Medan namanya Suhaimi B. Guy, kami mintakan kesediaannya untuk mel- atih kami dan ia bersedia dan ini me- mungkinkan kami bertambah gairan untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Disamping itu ada kegiatan membaca puisi dan gurunya juga tersedia dan yang paling menggemburakan ketika diadakan kegiatan koor lagu perjuan- gan tentu saja sudah ada guru sebagai pelatihnya.Kelangkapan nilai mem- buat kami berani tampil ke tengah masyarakat untuk menunjukkan hasil kerja anak-anak sekolah dalam kegia-

tan seni dan budaya.Dan ini berlang- sung entah berapa tahun ke depannya. Hingga pada suatu waktu kami mendapat undangan dari pimpinan Mu- hammadiyah dan Aisyiyah.Kami hadiri bersama Ketua ISBM Usman Tanjung dan saya sebagai pendamping menden- gar keputusan mereka tentang kegia- tan yang kami adakan telah melang- gar dan harus dihentikan secara total. Dengan beralasan hokum dan putu- san tarjik, katanya itu telah menyalahi. Mendengar keputusan tersebut kami mengadakan perlawanan dengan menga- takan, kenapa selama ini kami dibiarkan dan tanpa sedikitpun laranganbahkan pimpinan wilayah juga pernah melihat apa yang kami adakan. Dan bapak-bapak tersebut juga menyambutnya dengan gembira.Terkaitnya ketika kami mengada- kan pertunjukan di Bioskop Ria Tebing Tinggi kami juga undang ISBM wilayah Sumut dan mereka juga mementaskan drama sebabak berjudul Fajar Siddik dan dari Tebing juga tidak ketinggalan den- gan drama sebabak langit hitam karya Taufik Ismail. Hal ini menjadi alasan kami melawan keputusan yang diambil pimpi- nan Muhammadiyah di bawah pimpinan AR. DT.Tumenggung Aisyiyah di bawah pimpinan Ibnu Azimah. Dua kepala yang lain paling kami hormati selama ini.

Dengan demikian, segala kegia- tan yang kami lakukan selama ini harus dihentikan alias bubar.Dan kami sangat kecewa dengan keputusan tersebut.Apa yang harus kami lakukan. Jelas harus bubar dan anak-anak sekolah dan pemuda itu akan berlari keluar rumah yang selama ini telah menjamin tempat kediaman mere- ka untuk bermain dan kemajuan mereka. Itulah yang kami rasakan sampai kini, keti- ka masih ada yang bertanya tentang itu.It- ulah sekedar ingatan kami tentang aisyah yang kami kenal. Mereka begitu familiar, namun bisa juga bertindak keras demi masa depan anak-anaknya kelak. Dan berakhir pulalah kegiatan segala macam bentuk seni dan budaya di keluarga Mu- hammadiyah Tebing Tinggi. (Rizal Syam)

Sejak lama kota Tebingtinggi be- lum memiliki motif dan ornamen batik khas daerah. Padahal, motif itu sangat penting bagi membangun identitas kota, karena selama ini justru yang seringkali dijadikan buah tangan adalah batik dari daerah lain khususnya daerah tetang- ga. Ke depan sudah harus ditemukana motif batik khas Tebingtinggi sebagai ciri budaya perpaduan etnis yang ada. Pesan itu disampaikan Wakil Wali Kota Tebingtinggi H. Irham Taufik, SH, MAP, saat membuka kegiatan ‘Pelati- han Batik Dan Kegiatan Pembinaan Ke- mampuan Teknologi Industri,’ belum lama ini, dilaksanakan Diskoperindag dan UKM. Pelatihan berlangsung se- lama 25 hari diikuti 25 peserta dengan tutor Yayasan Baitul Hikmah, Medan.

Dikatakan, kota Tebingtinggi se- benarnya memiliki sejarah budaya yang panjang sebagai sumber inspirasi untuk menemukan batik khas daerah. Namun, selama ini hal demikian belum digali se- cara serius. Daerah-daerah tetangga sep- erti Sergai dan Batubara sudah memiliki batik khas daerah yang dijadikan pakaian

resmi daerah pada acara-acara tertentu. “Pemko Tebingtinggi sangat berharap ada tangan trampil yang bisa melahirkan motif batik khas daerah. Bila perlu mela- lui sayembara,” pesan Wakil Wali Kota. Tutor pelatihan Evi Amroeni Dra- jat, disela kegiatan, mengatakan pelatihan membatik itu akan mampu melahirkan

pembatik yang bisa menguasai dasar- dasar teknik membuat batik. Pengakuan Evi, ada peserta yang memang sudah me- miliki taltent untuk menjadi pembatik, sehingga diharapkan pelatihan itu akan membuat mereka terpacu dalam men- emukan motif batik khas Tebingtinggi. “Kita sudah membawa sejumlah contoh batik khas etnik di Sumut,” ungkap Evi. Kadis Koperindag dan UKM Drs.H.Asmali, mengatakan kegiatan ini nantinya akan ditindakan lanjuti dengan memuat pilot project ‘kampung batik’ yang diharapkan bisa berkembang seba- gai salah satu ciri khas UMKM di kota itu.

Tercipta

Pelatihan membatik yang dilak- sanakan Dinas Koperasi Perdagangan dan Industri kota Tebingtinggi, selama 25 hari, akhirnya berhasil mendesain motif dasar batik khas Tebingtinggi. Mo- tif dasar batik kreasi 25 peserta serta puluhan motif batik lainnya, diperk- enalkan dan mendapat respon positif. Wali Kota Tebingtinggi Ir. H. Umar Z Hasibuan, MM bersama Wakil

Wali Kota H. Irham Taufik, SH, MAP, pada saat penutupan kegiatan pelati- han, terlihat, membeli sejumlah batik hasil pekerjaan tangan peserta. Be- berapa undangan lain, seperti Sekdako, Kadis Kesehatan dan beberapa rekannya juga membeli batik desain peserta den- gan aneka motif, saat kegiatan penu-

tupan di gedung Hj. Sawiyah Nasution. Wakil Wali Kota, mengata- kan dalam pelatihan membatik, pe- serta yang memiliki latar belakang de- sain, mampu menciptakan pola batik khas bercirikan aneka budaya, etnisitas serta keunikan kota Tebingtinggi. “Dari pelatihan ini motif dasar batik khas Tebingtinggi sudah muncul, tinggal pe- nyempurnaan saja,” imbuh Irham Taufik. Instruktur batik dari Yayasan Bait Al Hikmah Medan Evi Amroeni, S.Ag, mengungkapkan kemampuan pe- serta latihan sudah di atas rata-rata, sehingga mudah megarahkan. “Kita terangkan kepada mereka dasar-dasar batik kha daerah, mereka kemudian ber- kreasi. Hasilnya ada 50 motif batik khas yang bisa mereka ciptakan,” ujar Evi.

Wali Kota Tebingtinggi Ir. H. Umar Z Hasibuan, MM, disela acara, menunjukkan kegembiraannya atas upaya membuat batik has Tebingtinggi yang dilakukan peserta pelatihan. Wali Kota berjanji akan menyiapkan saran dan prasarana yang sifatnya mendukungnya sepenuhnya upaya pengembangan desai batik itu ke depan. “Nanti kita siapkan sanggar untuk produksi, pameran dan penjualan, biar mereka serius menangan- inya,” kata Wali Kota. Bila tak ada di APBD akan didahulukan dengan dana pribadi, tambah Umar Zunaidi antusias.

Kadis UKM dan Perindagkop Drs.H. Asmali, MBA, dalam laporannya, tujuan dari pelatihan membatik menam- bah kemampuan peserta dalam pengeta- huan dan ketramplan membatik. Selain itu, hasil pelatiha batik akan melahirkan tenaga trampil yang mampu berwirau- saha serta siap mengembangkan desain batik has Tebingtinggi. “Kita berharap pe- serta yang ada, bisa bergerak lebih jauh membuka lapangan kerja,” harap Asmali.

Pada kesempatan itu, sekira 50 potong batik hasil karya peserta di- jual kepada undangan. Harga setiap potong batik bervariasi mulai dari Rp300 ribu hingga Rp500 ribu/potong. Sejumlah motif batik, terlihat menon- jolkan ciri khas kota, etnis dan budaya serta ciri berbagai kampung dan kelu- rahan di kota Tebingtinggi. *Al Khalik

MERANCANG MOTIF BATIK

Dalam dokumen MEDIA PEMERINTAH KOTA TEBING TINGGI (Halaman 39-41)