(SKORS DICABUT PADA PUKUL 21.55 WIB) Bapak/Ibu anggota Panja,
Pak Dirjen, serta Ibu dan Bapak dari Kementerian Hukum dan HAM,
Selama hampir 20 menit, kami sesuai dengan mandat amanah dari Bapak dan Ibu sekalian bersama Pak Dirjen berkonsultasi, bertemu dengan Pak Menteri, dan alhamdulillah telah dicapai rumusan yang bisa disepakati dan kami laporkan kepada forum yang terhormat ini. Untuk itu kami persilakan Pak Dirjen ya karena yang mencatat tadi Pak Dirjen, saya semua tidak mencatat.
Silakan Pak Dirjen.
DIRJEN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KEMENTERIAN HUKUM DAN HAM RI:
Terima kasih.
Pak Pimpinan,
Anggota Panja yang kami hormati,
Dari konsultasi dan pembicaraan yang dilakukan dengan Pak Menteri dengan dihadiri oleh Pak Pimpinan, Pak Deding, Pak Sutjipto, Pak Mulyono dan Pak Soenman disepakati rumusan yang dimaksud dengan menjalankan undang-undang sebagaimana mestinya adalah penetapan peraturan pemerintah untuk melaksanakan perintah undang-undang atau untuk menjalankan undang-undang sepanjang diperlukan dan tidak boleh menyimpang dari materi yang diatur dalam undang-undang yang bersangkutan.
Demikian, Bapak Ketua.
Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Terima kasih Pak Dirjen yang telah menyampaikan rumusan kesepakatan tentu dengan berbagai kontribusi pemikiran termasuk dari unsur Pimpinan dan Pak Ketua Baleg, Pak Mulyono, jadi kalau ini sudah bisa disepakati saya selaku Ketua Panja akan meminta persetujuan forum Panja ini untuk menyetujui rumusan dimaksud. Bisa disetujui.
(RAPAT : SETUJU)
F-PKS (BUKHORI YUSUF, Lc., M.A.):
Sebentar Pimpinan.
KETUA RAPAT:
Silakan Pak ya.
F-PKS (BUKHORI YUSUF, Lc., M.A.):
Mohon maaf karena masih ngomong yang tadi.
KETUA RAPAT:
Oh, ya silakan.
F-PKS (BUKHORI YUSUF, Lc., M.A.):
Tanpa harus mengurangi rasa percaya kepada delegasi dan hasil negosiasi, sebelum kita ketuk, saya pikir dibaca dan kemudian dijelaskan apa perbedaan dengan rumusan yang kedua dengan rumusan yang ketiga ini supaya menjadi lebih clear, karena rasa-rasanya sekilas saya mendengar begitu, tadi memang masih ada irisan-irisan dengan rumusan yang kedua tadi.
Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Selain Pak Bukhori ada juga?
Silakan Pak Arif.
Jadi saya cabut dulu ya ketok ya.
Baik.
(RAPAT : SETUJU) Tidak apa-apa, biasa.
F-PDIP (ARIF WIBOWO):
Terima kasih.
Pimpinan, terima kasih.
Yang terhormat Pak Menteri dan jajarannya,
Jadi saya melihat ada anu saja supaya tafsirnya lebih pasti, karena di situ disebutkan yang dimaksud dengan menjalankan undang-undang sebagaimana mestinya adalah penetapan peraturan pemerintah untuk melaksanakan perintah undang-undang dan terus atau tidak perlu lagi untuk menjalankan undang-undang tetapi atau sepanjang diperlukan dan tidak boleh menyimpang dari materi yang diatur dalam undang-undang yang bersangkutan. Jadi karena soal menjalankan undang-undang sebenarnya sudah ditegaskan di atas, jadi tidak perlu diulang.
Itu saja. Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Sebetulnya secara substansi sepakat.
Terus Pak Rusli.
F-PAN (Drs. H. RUSLI RIDWAN, M.Si):
Sama dengan Pak Arif untuk diberikan penjelasan yang dimaksud untuk menjalankan undang-undang itu apa saja yang dimaksud dengan itu.
KETUA RAPAT:
Baik.
Jadi dari Pak Kyai Bukhori dan Pak Rusli ini memerlukan penjelasan, jadi sungguh merupakan kehormatan begitu apabila Pak Menteri bisa memberikan penjelasan. Belum.
Pak Mul, ada?
Baik.
F-PD (IGNATIUS MULYONO):
Maksud saya begini, untuk Pak Menteri kan nanti kita tutup dulu Panja, kita buka Raker dengan Pak Menteri, kan itu. Jadi ini biar tingkat Panja dulu kan. Jadi untuk membantu itu barangkali yang bisa saya tangkap dari hasil konsultasi tadi kalau di alternatif 1 yang ditanyakan oleh kita memang sebenarnya untuk menjalankan undang itu, itu bisa melalui atas perintah dari, PP itu atas perintah dari undang-undang, jadi di dalam undang-undang itu termuat perintah akan dilaksanakan melalui PP, itu ada perintah.
Tetapi di sini juga tercantum bahwa atau tidak berdasarkan perintah secara tegas sepanjang diperlukan, ini maksudnya adalah Pemerintah meskipun tidak ada perintah dari undang-undang dapat mengeluarkan peraturan pemerintah sepanjang diperlukan untuk menjalankan undang-undang itu. Jadi pembuatan peraturan perundang-undangan itu bisa ada dua pola, pola atas perintah yang termuat di undang-undang atau Pemerintah bisa membuat peraturan pemerintah berdasarkan dari penilaian Pemerintah untuk menjalankan undang-undang dibutuhkan adanya peraturan pemerintah.
Ini yang sebetulnya yang tiga ini hampir sama dengan yang satu, tetapi dengan dikawinkan dengan yang kedua, kita masih perlu memberikan penekanan bahwa tidak boleh menyimpang dari materi yang diatur dalam undang-undang yang bersangkutan. Jadi meskipun Pemerintah itu bisa membikin peraturan pemerintah meskipun tidak diperintah dari undang-undang, tetapi tidak boleh menyimpang dari materi yang diatur dalam undang-undang, maka dirumuskan menjadi rumusan yang ketiga yang dimaksud dengan menjalankan undang-undang sebagaimana mestinya adalah penetapan peraturan pemerintah untuk melaksanakan perintah undang. Itu yang termuat di undang, perintah undang-undang itu, melaksanakan perintah undang-undang-undang-undang atau, ini Mas Tjipto agak anu, atau untuk menjalankan undang sepanjang diperlukan, itu tadi yang dibikin bahwa Pemerintah bisa membikin undang-undang walaupun tidak ada perintah dari undang-undang-undang-undang, bisa membikin peraturan pemerintah walaupun tidak ada perintah dari undang-undang sepanjang diperlukan tetapi tidak boleh menyimpang dari materi
yang diatur dalam undang-undang yang bersangkutan. Itu, Pak, maksudnya. Jadi dari 1 dan 2 dikawinkan jadi yang ketiga ini.
Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Terima kasih.
Sudah sangat jelas, Pak, ya?
Cukup jelas, karena tidak boleh bertentangan yang bersangkutan ini justru koridor yang kita masukan tadi dalam rumusan kita ya.
KETUA TIMSIN (H. T.B. SOENMANDJAJA SD./F-PKS):
Pak Ketua, sedikit, Pak.
KETUA RAPAT:
Pak Bukhori, sudah cukup?
F-PKS (BUKHORI YUSUF, Lc., M.A.):
Terima kasih.
Jadi memang ada perbedaan, perbedaan antara alternatif 1 dengan alternatif 2 itu adalah ada kalau di alternatif pertama itu ada pendelegasian untuk membuat peraturan pemerintah melalui dua kran atau dua sisi ekplisit yang diperintahkan oleh undang-undang yang bersangkutan atau sisi yang terkandung, jadi yang tersurat dan tersirat gitu. Itu di alternatif pertama, Pak. Jadi, Pak Ketua, yang pertama itu sebenarnya memberikan kewenangan untuk membentuk peraturan pemerintah atas dasar perintah yang tersurat dan atas dasar tersirat begitu. Nah, sementara, sedangkan alternatif dua ituhanya membenarnya atas dasar tersurat ya dan kemudian masih diikat lagi atas dasar tersurat pun tidak boleh menyimpang terhadap materi yang ada di dalam undang-undang yang bersangkutan. Nah, alternatif 3 itu sebenarnya hakikatnya menurut saya adalah alternatif 1 tetapi dengan bahasa yang berbeda. Jadi alternatif 3 itu menurut saya bukanlah kawinan dari alternatif pertama dan kedua, tetapi alternatif 1 yang dibahasakan lain begitu. Jadi kalau alternatif pertama, sekali lagi saya tegaskan, alternatif 1 itu memberikan ruang pembentukan peraturan pemerintah atas dasar tersurat dan tersirat, sedangkan alternatif 2 itu hanya atas dasar tersurat itupun masih diikat tidak boleh melanggar terhadap ketentuan undang-undang yang berlaku. Kenapa demikian? Karena betapa banyak peraturan pemerintah meskipun itu merupakan turunan dari perintah langsung undang-undang masih banyak materinya yang bertentangan, itu latar belakangnya. Nah, alternatif ketiga ini sebenarnya adalah bahasa lain daripada alternatif pertama, kalau itu yang terjadi sebenarnya saya masih membutuhkan penjelasan lebih lanjut.
Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Tadi ada Pak Soenman, silakan Pak Soenman ya.
KETUA TIMSIN (H. T.B. SOENMANDJAJA SD./F-PKS):
Terima kasih Pak.
Prinsipnya sama, Pak, cuma agak berbeda. Sama dengan yang disampaikan beliau, cuma dalam nada yang berbeda, beliaukan F ya, saya di C, lebih rendah.
KETUA RAPAT:
Pak Rahadi.
KETUA TIMUS (RAHADI ZAKARIA/F-PDIP):
Ya, saya tadi ikut lobi ya, tetapi memang setelah saya renung-renungkan yang namanya kalau kita melihat dari teori perundang-undangan itu memang sudah semestinya bahwa undang-undang di bawahnya itu tidak boleh bertentangan dengan undang-undang di atasnya. Konsekwensinya kalau bertentangan ya undang-undang di bawahnya otomatis gugur dengan sendirinya atau digugurkan.
Itu, Pak, jadi menurut hemat saya memang apa yang dikatakan oleh Ustad Bukhori itu betul pada dasarnya cukup banyak PP itu, undang-undang, PP, kemudian Perda ketika diuji Perda ini ada yang menyimpang dari PP, ketika diuji itu ternyata PP-nya menyimpang dari undang-undang dan digugurkan. Itu banyak kejadian seperti itu Pak Bukhori. Praktek di lapangan seperti itu banyak terjadi. Menurut saya ya artinya ya sudah secara alamiah, secara yuridis bahwa undang-undang di bawahnya itu tidak boleh bertentangan dengan undang-undang di atasnya itu sudah rumus baku saya kira. Ini sudah teori perundang-undangan seperti itu. Saya baru ingat tadi, begitu keluar ruangan baru ingat kok begitu, tetapi mau usul ya sudah karena sudah disepakati, tetapi ini sebagai koreksi saja.
Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Baik. Jadi, Pak Rahadi bagaimana? Masih ini ya dengan rumusan ini ya.
KETUA TIMUS (RAHADI ZAKARIA/F-PDIP):
Artinya kata-kata menyimpang tidak baik, artinya undang-undang itu mesti yang di bawahnya tidak boleh bertentangan dengan di atasnya, itu sudah rumus dari teori perundang-undangan, lapis-lapis undang-undang seperti itu kira-kira.
Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Struktur hirarkis ya.
Baik. Tetapi kan ini penegasan. Jadi sebetulnya ada dua kebutuhan beginilah mungkin nanti Pemerintah bisa menjelaskan, oleh karenanya nanti apakah ini karena forum Panja tentu Pak Dirjen, tetapi Pak Menteri sudah di sini ya, jadi bagaimana forumlah. Tetapi paling tidak begini, jadi ada dua kebutuhan pada praktek pelaksanaan sebuah undang-undang yang ditindaklanjuti oleh PP, yang pertama PP ini dibuat untuk menjalankan undang atas perintah yang secara eksplisit ditegaskan dalam undang-undang tersebut, harus dibuat PP, begitu. Tetapi juga Pemerintah, makanya dikunci sepanjang diperlukan, tentu bukan utama sebetulnya, tetapi kalau diperlukan ada ruang begitu, tetapi ruang ini diberikan tidak boleh menyimpang, meskipun tadi secara struktur hirarkis tentu ini tidak boleh bertentangan undang-undang di bawah di atas, tetapi ini ditegaskan, sehingga kalau misalkan Pemerintah memerlukan, tentu ini bukan utama begitu ya, tetapi yang utama ini harus berdasarkan perintah yang didelegasikan oleh undang-undang. Nah, seandainya begitu mungkin dari sekian PP ini, sekian undang-undang ini ada 80% mungkin ada mungkin berapa persen begitu yang ada keperluan, karena situasi tertentu begitu dibuat PP. Nah, dibuat PP ini tidak boleh bertentangan dengan materi muatan yang diatur dalam undang-undang yang bersangkutan, tetap harus mengacu ke situ.
Ini barangkali tadi penjelasan Pemerintah kalau tidak salah saya tangkap sehingga di situlah dirumuskan begitu. Itu rumusannya kebetulan ditulis oleh Pak Dirjen begitu.
Silakan Pak Ketua, barangkali bisa memberikan penjelasan.
KETUA PANSUS (SUTJIPTO, S.H., M.Kn./F-PD):
Ya saya kira sudah banyak penjelasannya, tetapi bahwa maksud dari pada penjelasan ini bahwa peraturan pemerintah itu kan memang yang utama perintah daripada undang-undang, tetapi kan dalam menjalankan roda pemerintahan, kekuasaan pemerintahan negara itu kan memang bisa saja kan begitu, artinya bahwa yang mandiri tetapi kan sepanjang memang tidak bertentangan dengan undang-undang.
Jadi oleh karena itu, saya kira ini perdebatan pada waktu Raker itu bahwa Pemerintah kan boleh, artinya membuat gitu ya, artinya peraturan dalam menjalankan kekuasaan pemerintahan itu. Itu kan memang domain daripada Pemerintah, itu sebenarnya saya kira waktu itu kita pada waktu Raker dibicarakan itu.
Lah apakah dari penjelasan dari Ketua Panja tambah dulu yang keputusan Raker itu apakah masih belum cukup. Jadi memang ada dua hal itu tadi, jadi pertama perintah undang-undang, kedua kan yang utama, yang kedua kan ada yang peraturan pemerintah yang mandiri, karena kebutuhan tertentu Pemerintah itu kalau tingkat undang-undang kan punya hak mengeluarkan Perppu, tetapi kan kadang-kadang peraturan itu kan tidak harus Perppu tetapi bisa tingkat di bawah undang-undang, itulah sebenarnya yang di sini dimaksudkan itu. Jadi kalau tingkat undang-undang berhak mengeluarkan Perppu, tetapi yang tertentu bukan Perppu, tetapi peraturan pemerintah atau peraturan presiden. Itu yang dimaksudkan adalah turutan daripada hal itu untuk menjalankan kekuasaan negara, kekuasaan pemerintahan, itu kan domain Pemerintah.
Mungkin itu, Pak Ustad mungkin kalau boleh saya tambahkan penjelasan apakah itu masih kurang cukup.
Terima kasih.
F-PD (IGNATIUS MULYONO):
Ya, Pak Ketua.
Terima kasih.
Barangkali untuk afdolnya kan kita harus mendengar langsung saja dari kyainya ini. Kyainya ini sudah ada sekarang. Jadi usul saya, usul konkrit Panjanya ditutup, terus berubah kita masuk ke Raker.
Panja melaporkan masih ada satu yang ketinggalan, iya kan? Kalau ini nanti kan yang menjelaskan kyainya kan itu lebih afdol. Jadi diselesaikan, diputuskan di Raker.
Terima kasih Pak.
KETUA RAPAT:
Baik ini, supaya ada pembagian, saya sudah menyelesaikan beberapa pasal dan penjelasan begitu dari Timus dan Timsin, ini satu ini supaya mantap begitu, Pak Ketua Pansus dengan Pak Menteri, jadi rapat diskors dulu. Jadi kita tutup dulu Panja.
KETUA TIMSIN (H. T.B. SOENMANDJAJA SD./F-PKS):
Pak Ketua,
Sedikit, Pak. Mohon izin, Pak.
Baik. Sebelum Ketua Panja mengesahkan keseluruhan laporan Timus/Timsin dan menerima laporan kerjanya, tadi kami, Pak Menteri mohon maaf, ke Pak Dirjen ya, tadi kami mencoba menyisir, Pak, beberapa hal yang berkenaan dengan perencanaan dan penyusunan, khusus untuk Perda provinsi dan kabupaten/kota setelah coba ditelaah ternyata di sana ada yang digabungkan dalam penyusunan dan perencanaannya, padahal dalam hirarkinya berbeda begitu. Seperti kita maklumi bahwa Pasal 7 huruf f dan g, tidak hafal maaf saya lupa, tadi sudah ditulis tadi mohon maaf, Bab III, Pasal 7 tentang Hirarki huruf f dan g itu memang hirarki yang dipisahkan, Bapak/Ibu sekalian, antara Perda provinsi dan Perda kabupaten/kota, demikian juga pada bagian keempat yang perencanaan. Kami berharap ini mohon pertimbangan Pemerintah ya, dari kita semua, apakah akan kita biarkan begitu saja begitu atau kita urai, kita pisahkan, walaupun nanti ada pagian dari mutatis mutandisnya dalam hal tertentu. Naskah tadi sudah kami serahkan kepada Pak Dirjen, mungkin belum sempat mendalami tetapi mudah-mudahan dalam waktu cepat bisa.
Karena itu kami mohon dengan hormat, Pimpinan Panja dapat menskors dulu barang beberapa saat kita bicarakan sedikit ini, Pak, yang soal ini gitu sehingga tidak begitu tajam di sini, karena ini tinggal sinkronisasi saja, Pak. Jadi mohon diskors dulu barang 10 menit biar nanti kita Ketua Timus/Timsin ini coba bicara dulu Pak Dirjen, seumpama tidak menghalangi ya, tidak mengacaukan begitu maksud saya ya kita kompromikan begitu, Pak. Jadi sekali lagi kita berangkatnya dari hirarki, Pak.
Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Jadi permintaan dari Pak Ketua Timus dan Timsin ini bisa diterima kita skors 10 menit, karena ini materinya penting.
Baik.
(RAPAT DISKORS PADA PUKUL 22.15 WIB) (SKORS DICABUT PADA PUKUL 22.50 WIB) Bapak/bapak, Ibu, Pimpinan dan anggota Panja yang saya hormati,
Terima kasih dan mohon maaf atas kesabarannya menunggu.
Pak Dirjen,
Ada beberapa substansi materi yang penting yang masih memerlukan pendalaman begitu dan diharapkan besok pagi sampai siang itu bisa diselesaikan, kalau selesai, Insya Allah. Oleh karenanya, tadi kami bersepakat untuk menunda Raker dengan Pak Menteri ya dijadwalkan, direncanakan besok malam Pukul 19.00 WIB. Oleh karenanya pada malam ini, ini juga mohon persetujuan apa terus lebih lanjut ya sampai pukul berapa Panja?
KETUA TIMUS (RAHADI ZAKARIA/F-PDIP):
Pimpinan,
Jadi perlu ini secara konstitusi supaya jelas bahwa laporan Timsin dan Timus itu diterima oleh Panja terlebih dahulu, masuk ke Panja. Jadi supaya ini konstitusional begitu loh.
Ya oke, terima kasih.
KETUA RAPAT:
Sekarang dilanjut untuk mempersilahkan Pimpinan Timsin dan Timus menyerahkan hasil kerjannya yang sangat aduhai ini, sangat maksimal ini, silakan.
KETUA TIMSIN (H. T.B. SOENMANDJAJA SD./F-PKS):
Terima kasih Pak Ketua.
Jadi ini mohon maaf, anggota Panja yang terhormat, Pemerintah, serta hadirin sekalian yang saya hormati. Sesungguhnya masih ada empat hal yang memerlukan pengesahan di sini, Pak Ketua, pertama kita sepertinya tidak ingin membawa hal-hal yang tidak diselesaikan dalam Panja ke Raker, misalnya rumusan penjelasan tadi itu. Itu satu. Belum didok yang mana sebetulnya yang kita sepakati.
Yang kedua dalam catatan kami juga ada tiga hal besar yang memerlukan persetujuan bersama walaupun dengan Pemerintah tadi sudah tidak ada masalah, misalnya saja untuk sequence untuk Prolegda, perencanaan Perda provinsi, kabupaten dan penyusunan Raperda provinsi, kabupaten/kota.
Kemudian yang kedua kita juga belum menyediakan pasal yang cukup untuk menindaklanjuti konsekwensi putusan Mahkamah Agung terhadap peraturan daerah. Di sini belum. Padahal ada pasal yang dalam hal begitu, dalam hal peraturan berlawanan dengan undang-undang gitu, kan dibatalkan oleh Mahkamah Agung itu belum ada tindak lanjutnya di RUU ini. Kemudian yang ketiga, juga kan kerja sama antar daerah belum kita atur juga di sini. Pasal seperti ini, Ibu/Bapak sekalian, kami kira ya sangat baiklah kalaupun misalnya kita menyediakan waktu yang cukup untuk melakukan sinkronisasinya, Pak, ya. Karena kalau kita sepakat untuk merestorasi semua ini, Pak, itu ada tambahan pasal-pasal, paling tidak ada empat pasal tambahan itu, walaupun tidak mengganggu ya dengan pasal lainnya, dia …(tidak jelas).
Mungkin itu, Pak Ketua. Kalaupun misalnya ini akan dianggap sebagai laporan gitu, Pemerintah, setelah kesetujuan Pemerintah, mohon maaf, berarti besok tetap harus dikerjakan juga ini. Artinya bagian yang tidak terpisahkan sebelum kita memasuki Raker. Ini mohon perhatian kita semua. Karena bagaimanapun juga RUU ini ingin lebih baik daripada Undang-undang Nomor 10 Tahun 2004 yang digantikan ya. Dan yang kedua juga Undang-undang Nomor 10 Tahun 2004 faktanya masih efektif begitu loh. Nah, oleh karena itu, kami mohon dengan hormat supaya tidak mengurangilah kesalahan dalam
hal-hal yang sederhana, dalam hal-hal teknis, maka penyempurnaan kerja kami harapkan lebih baik dari kita sekalian.
Terima kasih Pak Ketua.
KETUA RAPAT:
Silakan tambahan dari Pak Zakaria.
KETUA TIMUS (RAHADI ZAKARIA/F-PDIP):
Melengkapi apa yang dikatakan Pak Soenman, ternyata banyak hal peraturan-peraturan daerah yang mesti kita perhatikan. Tadi sudah disinggung belum, Pak, soal pemekaran kecamatan misalnya?
Pemekaran kecamatan itu menjadi kewenangan untuk pemerintah kabupaten/kota, kemudian pemekaran desa juga ini juga menjadi penting itu menjadi peraturan daerah kabupaten. Kebetulan yang ini kadang-kadang lupa, Pak, peralihan status itu juga diperdakan antara desa menjadi kelurahan. Nah, ini banyak sekali yang harus kita cermati agar tidak menimbulkan persoalan, Pak.
Itu tambahan dari saya, Pak.
Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Jadi ada beberapa poin setidaknya ada empat poin yang dianggap penting, substansial sebagai implikasi dari pasal-pasal yang tadi kita sepakati, kan begitu, umpamanya soal Prolegnas, implikasinya bagaimana di Prolgeda begitu, Pak, kira-kira. Nah, terhadap poin-poin tersebut selain penjelasan Pasal 12 yang tadi Pak Bukhori meminta pendalaman dan kemudian kita bersepakat ditarik ke Raker begitu, tetapi ada permintaan dari Pak Menteri bisa diputus juga di Panja tetapi tentu kami sebagai Pimpinan kami tidak memaksakan begitu ya. Tetapi terhadap tiga hal yang disampaikan oleh Pak Soenman begitu kalau Bapak-bapak dan Ibu setuju dan Pemerintah setuju itu bisa disepakati dalam Panja ini karena ini berlaku mutatis-mutandis begitu ya. Ya yang kayak tadi kami sarankan kumulatif terbukanya di tingkat Prolegda ini, di tingkat daerah itu apa, begitu ya? Umpamanya APBD begitu kan? Tetapi juga harus ada klausul, ada ayat yang memberikan ruang dalam keadaan tertentu kepada gubernur dan DPRD, begitu kan, Pak, ya, mengenai Perda sebagaimana yang disampaikan oleh Pak Mul. Dan ini nampaknya bisa disepakati secara materinya, kemudian itu nanti akan dirumuskan oleh Tim dari kita dan Tim dari Pemerintah dengan pemantauan dari Pimpinan begitu ya, Pimpinan Timsin dan Panja begitu, Timsin, Timus dan Panja. Iya begitu, serah terima ke Panja tetapi dibantulah, menjalankan sama-sama Pimpinan ini ya. Belum lengkap kalau saya sendiri begitu, Pak.
Jadi diterima dengan syarat tetap Pak Soenman dengan Pak Rahadi ikut ini, karena justru banyaknya substansi usulan-usulan dari Bapak-bapak ini begitu.
Kalau begitu kita bisa ketok ya terhadap yang sifatnya mutatis-mutandis begitu ya. Bisa?
Diserahkan dulu kan, Pak? Diserahkan dulu ya? Ya, Pak?
DIRJEN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KEMENTERIAN HUKUM DAN HAM RI:
Sedikit.
KETUA RAPAT:
Ya maksudnya Pemerintah, silakan.
DIRJEN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KEMENTERIAN HUKUM DAN HAM RI:
Catatan untuk mutatis-mutandis tetap kita cermati betul, karena ada hal antara Perda provinsi dan
Catatan untuk mutatis-mutandis tetap kita cermati betul, karena ada hal antara Perda provinsi dan