2.3. Analisa Laporan Keuangan
2.3.3 Rasio Keuangan
perbedaan antar pos dan mencari apa yang menyebabkan perbedaan itu terjadi. Selanjutnya dilakukan analisa lebih mendalam tentang perbedaan-perbedaan tersebut untuk mengetahui penyebabnya dan mencari solusinya.
c) Perlu pemahaman yang mendalam dan prinsip kehati-hatian
dalam proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh manajer keuangan. Jika analisis yang dilakukan memberikan suatu gambaran pola perusahaan yang menyimpang dari norma industri maka hal ini merupakan gejala adanya masalah dan perlu dilakukan analisis dan penelitian lebih lanjut. Contoh sederhana seperti jika suatu rasio perputaran persediaan tinggi maka menunjukkan adanya kekurangan persediaan yang serius dan besar kemungkinan terjadi kehabisan persediaan.
2.3.3 Rasio Keuangan
Ada empat kelompok analisis rasio keuangan yang dijadikan rujukan untuk melihat kondisi kinerja suatu perusahaan, yaitu :
1. Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas adalah kemampuan suatu perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya secara tepat waktu (Fahmi 2011). Contoh membayar listrik, telepon, air PDAM, gaji dan lain-lain. Rasio likuiditas ini penting karena kegagalan dalam membayar kewajiban dapat menyebabkan kebangkrutan perusahaan. Rasio ini mengukur pada kemampuan likuiditas jangka pendek perusahaan dengan melihat aktiva lancar perusahaan relatif terhadap utang lancarnya.
a) Rasio Lancar (Current Ratio)
Rasio lancar menunjukkan likuiditas perusahaan yang diukur dengan membandingkan aktiva lancar terhadap hutang lancar atau hutang jangka pendek.
23
Rasio lancar dapat dirumuskan sebagai berikut :
b) Rasio Cepat (Quick Ratio)
Rasio cepat menunjukkan kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya dengan tidak memperhitungkan persediaan. Menurut Sawir (2010) persediaan merupakan unsur aktiva lancar yang tingkat likuiditasnya rendah sehingga sulit untuk direalisasikan menjadi uang kas dalam waktu yang singkat. Jadi rasio ini dinilai lebih baik dalam mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Rasio cepat dapat dirumuskan sebagai berikut :
2. Rasio Solvabilitas
Analisis solvabilitas menunjukkan kemampuan suatu perusahaan dalam memenuhi segala kewajiban finansialnya baik jangka pendek maupun jangka panjang. Rasio-rasio yang umum digunakan dalam analisis solvabilitas antara lain :
a) Rasio Utang (Debt to Total Asset Ratio)
Rasio ini menunjukkan proporsi antara total kewajiban perusahaan dengan total kekayaan perusahaan yang dimiliki. Semakin tinggi nilai persentase rasio utang maka semakin tinggi pula resiko perusahaan yang harus ditanggung perusahaan (Sawir 2010). Rasio utang dapat dirumuskan sebagai berikut :
b) Rasio Utang terhadap Ekuitas (Debt to Equity Ratio)
Rasio ini menunjukkan perbandingan antara utang dan ekuitas (modal) yang digunakan dalam mendanai aktiva dan menunjukkan kemampuan modal sendiri perusahaan untuk
24
memenuhi seluruh kewajibannya (Sawir 2010). Rasio utang terhadap ekuitas dirumuskan sebagai berikut :
c) Rasio Ekuitas terhadap Total Aktiva (Equity to Total Asset Ratio)
Rasio ini menunjukkan besarnya modal sendiri yang digunakan untuk mendanai seluruh aktiva perusahaan. Semakin tinggi nilai rasio maka semakin kecil jumlah pinjaman perusahaan yang digunakan untuk mendanai seluruh aktiva perusahaan. Rasio ekuitas terhadap total aktiva dirumuskan sebagai berikut :
d) Rasio Ekuitas terhadap Aktiva Tetap (Equity to Fixed Asset Ratio)
Rasio ini menunjukkan besarnya proporsi modal sendiri yang digunakan untuk mendanai aktiva tetap perusahaan. Jika aktiva tetap perusahaan didanai dari modal sendiri maka keadaan ini akan lebih menguntungkan mengingat aktiva tetap berjangka panjang. Maka sudah sewajarnya jika aktiva tetap didanai dari modal sendiri supaya tidak mengganggu likuiditas perusahaan jika sewaktu-waktu pembayaran utang harus dilaksanakan. Rasio ini dirumuskan sebagai berikut :
e) Rasio Akiva Tetap terhadap Utang Jangka Panjang (Fixed
Asset to Long Term Debt Ratio)
Rasio menunjukkan besarnya proporsi aktiva tetap terhadap seluruh kewajiban jangka panjang perusahaan. Rasio ini merupakan ukuran tingkat keamanan kreditur jangka panjang terhadap pinjaman yang diberikan kepada perusahaan. Semakin tinggi nilai rasio ini maka semakin besar jaminan
25
keamanan kreditur dari perusahaan. Rasio ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
3. Rasio Profitabilitas
Rasio ini mengukur efektivitas manajemen secara keseluruhan yang ditujukan oleh besar kecilnya tingkat keuntungan yang diperoleh dalam hubungannya dengan penjualan maupun investasi. Semakin baik rasio profitabilitas maka semakin baik menggambarkan kemampuan tingginya perolehan keuntungan perusahaan. Rasio Profitabilitas secara umum ada enam yaitu :
a) Rasio Marjin Laba Kotor (Gross Profit Margin)
Rasio ini menunjukkan berapa persen keuntungan perusahaan yang diperoleh melalui penjualan. Semakin besar nilai rasio maka semakin besar pula perusahaan memperoleh laba kotor. Rasio ini diumuskan sebagai berikut :
b) Rasio Marjin Laba Bersih (Net Profit Margin)
Rasio ini mengukur laba bersih setelah pajak terhadap penjualan. Rasio ini dirumuskan sebagai berikut :
c) Rasio Marjin Operasi (Operating Margin Ratio)
Rasio ini menunjukkan tingkat efisiensi perusahaan dalam memperoleh laba. Semakin besar nilai rasio ini maka kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba operasi semakin besar pula. Rasio ini dirumuskan sebagai berikut :
d) Rasio Tingkat Pengembalian Ekuitas (Return of Equity) Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba atas modal yang ditanam oleh pemilik modal. Nilai rasio
26
yang tinggi menunjukkan keberhasilan dari manajemen perusahaan dalam mengelola modal yang ditanam oleh pemilik perusahaan, ditunjukkan dari laba yang diperoleh tinggi. Rasio ini dirumuskan sebagai berikut :
e) Rasio Tingkat Pengembalian Investasi (Return of Investment) Rasio ini menunjukkan hasil yang dicapai dari investasi-investasi yang ditanam dalam perusahaan oleh para investor. Manajemen dapat menggunakan ROI sebagai peringatan dini atas tindakan yang perlu diambil agar perusahaan dapat tetap berjalan lancar dan terus menghasilkan keuntungan (profit). Rasio ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
f) Rasio Tingkat Pengembalian atas Total Aktiva (Return of
Asset)
Rasio ini mencerminkan keuntungan yang diperoleh perusahaan tanpa mempermasalahkan sumber modal dan
menunjukkan tingkat efisiensi perusahaan dalam
melaksanakan operasinya. Rasio ini dirumuskan sebagai berikut :
4. Rasio Aktivitas
Rasio aktivitas adalah rasio yang menggambarkan sejauh mana suatu perusahaan mempergunakan sumber daya yang dimilikinya guna menunjang aktivitas perusahaan. Analisis aktivitas dapat dihitung dengan menggunakan rasio-rasio sebagai berikut :
27
a) Rasio Perputaran Total Aktiva (Total Asset Turn Over Ratio) Rasio ini menunjukkan sejauh mana tingkat efektivitas penggunaan seluruh aset perusahaan dalam rangka menghasilkan penjualan dan memperoleh laba (profit). Nilai rasio ini menunjukkan banyaknya penjualan bersih yang dapat diperoleh untuk setiap rupiah total aktiva yang dimiliki perusahaan. Rasio ini memiliki rumus sebagai berikut :
b) Rasio Perputaran Aktiva Tetap (Fixed Asset Turn over Ratio) Rasio ini menunjukkan efisiensi penggunaan aktiva tetap dalam kegiatan yang menghasilkan pendapatan penjualan. Rasio ini berguna untuk mengevaluasi kemampuan perusahaan dalam menggunakan aktivanya secara efektif untuk meningkatkan pendapatan. Rasio ini dapat dirumuskan:
c) Rasio Perputaran Modal Kerja (Working Capital Turn Over
Ratio)
Rasio ini digunakan untuk menguji tingkat efisiensi penggunaan modal kerja, yakni berapa banyaknya penjualan (dalam rupiah) yang dapat diperoleh perusahaan untuk tiap rupiah modal kerja. Rumus dari rasio ini adalah :
d) Rasio Perputaran Persediaan (Inventory Turn Over Ratio) Rasio perputaran persediaan mengukur efisiensi pengelolaan persediaan barang datang. Rasio ini mencerminkan besarnya nilai penjualan yang dilakukan perusahaan untuk setiap persediaan. Rasio ini dirumuskan sebagai berikut :