1
TREN DAN PROYEKSI KINERJA KEUANGAN
PADA MINIMARKET XYZ
CABANG CIMAHI
Oleh
ROSA MAHARANI
H24096050
PROGRAM SARJANA ALIH JENIS MANAJEMEN
DEPARTEMEN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2
TREN DAN PROYEKSI KINERJA KEUANGAN
PADA MINIMARKET XYZ
CABANG CIMAHI
SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
SARJANA EKONOMI
pada Program Sarjana Alih Jenis Manajemen
Departemen Manajemen
Fakultas Ekonomi dan Manajemen
Institut Pertanian Bogor
Oleh
ROSA MAHARANI
H24096050
PROGRAM SARJANA ALIH JENIS MANAJEMEN
DEPARTEMEN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
i
RINGKASAN
ROSA MAHARANI (H24096050). Tren dan Proyeksi Kinerja Keuangan pada
Minimarket XYZ Cabang Cimahi. Di bawah bimbingan ABDUL KOHAR
IRWANTO.
Manusia semakin dihadapkan pada pemenuhan kebutuhan-kebutuhan hidup yang serba instan. Peluang-peluang bisnis yang menjanjikan keuntungan besar dalam rangka memberikan kepuasan dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat ini mulai banyak dimanfaatkan oleh para pengusaha. Saat ini jumlah ritel makanan modern telah mencapai hampir 13.000 gerai. Penyesuaian masyarakat akan perubahan gaya hidup saat ini banyak membuat masyarakat lebih condong memilih ritel modern seperti minimarket atau supermarket dibandingkan ritel tradisional seperti toko-toko atau pasar tradisional.
Investor yang berminat mengembangkan pasar minimarket ini pasti akan melihat kinerja minimarket tersebut sebelum menentukan pilihan pada minimarket mana mereka akan berinvestasi, khususnya kinerja keuangan. Kinerja keuangan sangat penting untuk mengetahui kondisi keuangan dan omset minimarket yang selanjutnya dapat dijadikan dasar dalam melakukan proyeksi dan menentukan strategi ke depan untuk meningkatkan keuntungan dan menghadapi persaingan global yang terjadi. Metode analisis yang digunakan untuk menilai kinerja keuangan minimarket XYZ adalah analisis rasio, pengukuran tren dengan analisis
trend dengan metode time series dan peramalan dengan model Double Exponential Smoothing menggunakan Software Minitab 16.
Hasil analisis trend menunjukkan bahwa kondisi keuangan minimarket
iii
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Bogor pada tanggal 23 Agustus 1986 sebagai anak pertama dari dua bersaudara dari pasangan Sumarjo dan Suharsih. Pada tahun 1992 penulis memulai pendidikan dasar di SDN Cimandala 1 Sukaraja dan melanjutkan pendidikan menengah pertama di SMPN 5 Bogor pada tahun 1998 sampai dengan 2001, kemudian melanjutkan pendidikan menengah atas di SMAKBO (Sekolah Menengah Analis Kimia Bogor) pada tahun 2001 sampai dengan tahun 2005. Setelah lulus, penulis bekerja di PT. Serena Indopangan Industri sebagai Quality Control (QC) Field selama 8 bulan. Masih di tahun 2005
penulis diterima oleh Direktorat Program Diploma, di Program Keahlian Supervisor Jaminan Mutu Pangan Institut Pertanian Bogor dan lulus pada tahun 2008.
iv
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmatNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul, “Tren dan Proyeksi Kinerja Keuangan pada Minimarket XYZ Cabang Cimahi”. Skripsi ini sebagai salah satu syarat meraih gelar Sarjana Ekonomi pada Program Sarjana Alih Jenis Manajemen, Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.
Penulis berterima kasih kepada Dr. Ir. Abdul Kohar Irwanto, MSc. selaku dosen pembimbing yang telah memberikan motivasi, bimbingan dan masukan yang bermanfaat bagi penulisan skripsi ini. Penulis juga berterima kasih kepada semua pihak yang sudah banyak membantu dalam penyusunan skripsi ini, yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun atas segala kekurangan yang terdapat dalam penyusunan skripsi ini karena penulis menyadari usulan penelitian ini jauh dari sempurna. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat, khususnya untuk penulis dan umumnya untuk para pembaca.
Bogor, Oktober 2014
v
UCAPAN TERIMA KASIH
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan berkat dan rahmatNya sehingga penyusunan skripsi yang berjudul “Tren dan Proyeksi Kinerja Keuangan pada Minimarket XYZ Cabang Cimahi” ini dapat diselesaikan. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penulisan dan penyusunan skripsi ini, terutama kepada:
1. Dr. Ir. Abdul Kohar Irwanto, M.Sc.selaku dosen pembimbing yang telah memberikan motivasi dan bimbingan untuk penulis.
2. Drs. Edward H. Siregar SE, MM dan Ali Mutasowifin, SE, M.Ak. yang
sudah bersedia menjadi penguji penulis dan telah memberi saran serta kritik yang membangun dalam proses penyelesaian skripsi ini.
3. Seluruh staff dan dosen Program Sarjana Alih Jenis Manajemen yang telah membantu penulis selama perkuliahan sampai pada saat penyelesaian skripsi ini.
4. Bapak Djumadi Rustam selaku pemilik dari minimarket XYZ yang
mengizinkan minimarketnya dijadikan sebagai tempat penelitian saya. 5. Kedua orang tua saya yang sangat saya cintai, mertua, tante, suami, anak,
kakak, adik serta seluruh keluarga atas doa, semangat, dorongan yang selalu diberikan selama penulisan skripsi ini.
6. Seluruh teman-teman di Program Sarjana Alih Jenis Manajemen yang
sudah menjadi teman yang baik selama masa perkuliahan khususnya Vinha, Yusri, Dian, Rury dan Rahmat.
vi
DAFTAR ISI
Halaman
RIWAYAT HIDUP ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
UCAPAN TERIMA KASIH ... v
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL ... viii
DAFTAR GAMBAR ... ix
DAFTAR LAMPIRAN ... x
I. PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Perumusan Masalah ... 3
1.3 Tujuan Penelitian ... 4
1.4 Manfaat Penelitian ... 5
1.5 Ruang Lingkup Penelitian ... 5
II. TINJAUAN PUSTAKA ... 6
2.1 Kinerja Keuangan... 6
2.1.1 Definisi ... 6
2.1.2 Manfaat dan Tujuan Penilaian Kinerja Perusahaan ... 6
2.1.3 Tahap-tahap dalam Menganalisis Kinerja Keuangan ... 7
2.2 Laporan Keuangan ... 9
2.2.1 Definisi ... 9
2.2.2 Laporan Keuangan dan Pengaruhnya bagi Perusahaan ... 9
2.2.3 Pihak-pihak yang Berkepentingan Terhadap Laporan Keuangan ... 11
2.2.4 Jenis Laporan Keuangan ... 14
2.3 Analisa Laporan Keuangan ... 18
2.3.1 Definisi Rasio Keuangan... 18
2.3.2 Hubungan Rasio Keuangan dan Kinerja Keuangan ... 19
2.3.3 Analisis Rasio Keuangan ... 22
2.3.4 Analisis Trend dan Proyeksi Kinerja Keuangan ... 28
2.3.5 Analisis SWOT ... 28
2.4 Penelitian Terdahulu ... 29
III. METODE PENELITIAN ... 32
3.1 Kerangka Pemikiran ... 32
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 34
3.3 Jenis dan Sumber Data ... 34
3.4 Analisis dan Metode Pengolahan Data ... 34
3.4.1 Analisis Rasio Keuangan ... 34
vii
3.4.3 Analisis Peramalan ... 36
3.4.4 Analisis SWOT ... 37
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 39
4.1 Sejarah Perusahaan... 39
4.2 Visi dan Misi Perusahaan ... 40
4.3 Struktur Organisasi ... 41
4.4 Analisis Rasio Keuangan Minimarket XYZ ... 41
4.4.1 Rasio Likuiditas ... 41
4.4.2 Rasio Solvabilitas ... 44
4.4.3 Rasio Profitabilitas ... 46
4.4.4 Rasio Aktivitas ... 49
4.5 Perkembangan dan Proyeksi Keuangan Minimarket XYZ ... 51
4.5.1 Neraca ... 52
4.5.2 Laba Rugi ... 60
4.6 Rekomendasi Strategi untuk Minimarket XYZ ... 68
KESIMPULAN DAN SARAN ... 77
1. Kesimpulan ... 77
2. Saran ... 78
DAFTAR PUSTAKA ... 79
viii
DAFTAR TABEL
No. Halaman
1. Nilai penjualan dan pertumbuhan minimarket XYZ 2009-2013 ... 2
2. Matriks SWOT ... 37
3. Perkembangan rasio likuiditas tahun 2009-2013 ... 42
4. Perkembangan rasio solvabilitas tahun 2009-2013 ... 44
5. Perkembangan rasio profitabilitas tahun 2009-2013 ... 47
6. Perkembangan rasio aktivitas tahun 2009-2013 ... 49
7. Hasil tingkat akurasi aktiva lancar dengan α=0,2 dan β=0,2 serta α=0,4 dan β=0,3 ... 56
8. Hasil tingkat akurasi hutang lancar dengan α=0,2 dan β=0,2 serta α=0,4 dan β=0,3 ... 58
9. Hasil tingkat akurasi aktiva tetap dengan α=0,2 dan β=0,2 serta α=0,4 dan β=0,3 ... 59
10. Hasil tingkat akurasi ekuitas dengan α=0,2 dan β=0,2 serta α=0,4 dan β=0,3 ... 60
11. Hasil tingkat akurasi penjualan dengan α=0,2 dan β=0,2 serta α=0,4 dan β=0,3 ... 64
12. Hasil tingkat akurasi HPP dengan α=0,2 dan β=0,2 serta α=0,4 dan β=0,3 ... 65
13. Hasil tingkat akurasi beban usaha dengan α=0,2 dan β=0,2 serta α=0,4 dan β=0,3 ... 67
14. Hasil tingkat akurasi laba bersih dengan α=0,2 dan β=0,2 serta α=0,4 dan β=0,3 ... 68
ix
DAFTAR GAMBAR
No. Halaman
1. Grafik perkembangan jumlah gerai minimarket XYZ ... 2
2. Grafik tren penjualan minimarket XYZ tahun 2009-2013 ... 3
3. Kerangka pemikiran penelitian ... 33
4. Struktur organisasi ... 41
5. Perkembangan rasio likuiditas tahun 2009-2013 ... 42
6. Perkembangan rasio solvabilitas tahun 2009-2013 ... 44
7. Perkembangan rasio profitabilitas tahun 2009-2013 ... 47
8. Perkembangan rasio aktivitas tahun 2009-2013 ... 50
9. Perkembangan (tren) komponen likuiditas dalam neraca minimarket XYZ tahun 2009-2013 ... 53
10. Perkembangan (tren) komponen solvabilitas dalam neraca minimarket XYZ tahun 2009-2013 ... 53
11. Perkembangan total aktiva dengan trend analysis ... 53
12. Perkembangan aktiva lancar tahun 2009-2013 ... 54
13. Perkembangan hutang lancar tahun 2009-2013 ... 54
14. Grafik proyeksi aktiva lancar tahun 2014 dan 2015 ... 54
15. Grafik proyeksi hutang lancar tahun 2014 dan 2015 ... 54
16. Perkembangan aktiva tetap tahun 2009-2013 ... 55
17. Perkembangan ekuitas tahun 2009-2013 ... 55
18. Grafik proyeksi aktiva tetap tahun 2014 dan 2015 ... 55
19. Grafik proyeksi ekuitas tahun 2014 dan 2015... 55
20. Perkembangan (tren) komponen dalam laporan laba rugi minimarket XYZ tahun 2009-2013 ... 61
21. Perkembangan penjualan tahun 2009-2013 ... 62
22. Perkembangan HPP tahun 2009-2013 ... 62
23. Grafik proyeksi penjualan tahun 2014 dan 2015 ... 62
24. Grafik proyeksi HPP tahun 2014 dan 2015 ... 62
25. Perkembangan beban usaha tahun 2009-2013 ... 63
26. Perkembangan laba bersih tahun 2009-2013 ... 63
27. Grafik proyeksi beban usaha tahun 2014 dan 2015 ... 63
x
DAFTAR LAMPIRAN
No. Halaman
1. Laporan neraca minimarket XYZ ... 80
2. Laporan laba rugi minimarket XYZ ... 82
3. Analisis tren terhadap laporan neraca minimarket XYZ ... 84
4. Analisis tren terhadap laporan laba rugi minimarket XYZ ... 86
5. Hasil time series plot komponen neraca ... 88
6. Hasil time series plot komponen laba rugi ... 89
7. Analisis proyeksi terhadap komponen neraca ... 90
8. Analisis proyeksi terhadap komponen laba rugi ... 92
9. Hasil analisis rasio minimarket XYZ ... 94
I.PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Manusia semakin dihadapkan pada pemenuhan kebutuhan-kebutuhan hidup yang serba instan. Di era globalisasi saat ini, setiap orang harus dapat memanfaatkan waktu secara efektif dan efisien dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat. Peluang-peluang bisnis yang menjanjikan keuntungan besar dalam rangka memberikan kepuasan dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat ini mulai banyak dimanfaatkan oleh para pengusaha. Saat ini, banyak pengusaha yang mencoba membuka peluang bisnis ritel yang bergerak dalam bidang penjualan barang-barang kebutuhan sehari-hari.
Bisnis ritel modern telah membuktikan eksistensinya, baik ketika kondisi ekonomi sedang baik maupun buruk. Toko-toko yang menjual bahan pangan dan kebutuhan harian masyrakat tidak pernah sepi. Mulai dari tempat-tempat strategis di pusat kota sampai jalan-jalan sempit di perumahan, kini menjamur toko modern yang menjajakan aneka kebutuhan. Pesatnya pertumbuhan itu tak lain karena ledakan jumlah penduduk dan perubahan gaya hidup yang akhirnya diikuti dengan meningkatnya kebutuhan sandang dan pangan secara pesat. Di dalam buku berjudul Retail
Rules tahun 2010 disebutkan bahwa jumlah ritel makanan modern telah
mencapai hampir 13.000 gerai. Jumlah gerai minimarket di Indonesia pada 2010 naik hingga 42 persen menjadi 16.922 unit dibandingkan 2009 yang sebesar 11.927 unit (Karina 2011)
Pasar modern yang sedang berkembang di Indonesia saat ini adalah
minimarket yang memfokuskan pada penjualan ritel dan langsung ke
2
mengutamakan kepraktisan dan kecepatan dalam berbelanja. Keuntungan lain berbelanja di minimarket adalah suasana nyaman dan aman dalam berbelanja, mudah dalam memilih barang yang diperlukan, kualitas barang lebih terjamin dibandingkan berbelanja di pasar tradisional, harga barang sudah pasti sehingga tidak perlu tawar menawar lagi, dan dapat berbelanja berbagai keperluan dalam satu tempat saja sehingga akan menghemat waktu dan tenaga.
Gambar 1. Grafik perkembangan jumlah gerai minimarket XYZ (Minimarket XYZ 2014)
Saat ini konsep minimarket telah dipadukan dengan konsep franchise
atau waralaba yang mempermudah para investor lain untuk mengembangkan usaha terutama bagi mereka yang belum memiliki pengalaman dalam mengelola dan mengoperasikan minimarket. Sistem yang mulai diberlakukan kebijakannya pada tahun 1997 ini, memungkinkan pemilik atau investor minimarket untuk membuka puluhan bahkan ratusan gerai. Investor yang berminat mengembangkan pasar minimarket ini pasti akan melihat kinerja minimarket tersebut sebelum menentukan pilihan pada minimarket mana mereka akan berinvestasi, khususnya kinerja keuangan. Tabel 1. Nilai penjualan dan pertumbuhan minimarket XYZ 2009-2013
(Minimarket XYZ 2014)
Keterangan : Nilai 2009 sebagai tahun dasar dalam nilai pertumbuhan
DESKRIPSI 2009 (Rp) 2010 (Rp) 2011 (Rp) 2012 (Rp) 2013 (Rp) Penjualan 409,718,139 300,660,768 273,571,602 308,211,079 314,295,984 Pertumbuhan (%) 100 -26.62 -33.23 -24.77 -23.29
3
Gambar 2. Grafik tren penjualan minimarket XYZ tahun 2009-2013 (Minimarket XYZ 2014)
Kinerja keuangan sangat penting untuk mengetahui kondisi keuangan dan omset minimarket yang selanjutnya dapat dijadikan dasar dalam melakukan proyeksi dan menentukan strategi ke depan untuk meningkatkan keuntungan dan menghadapi persaingan global yang terjadi. Investor atau pengusaha lebih memilih bisnis waralaba seperti minimarket karena biasanya perusahaan waralaba tersebut akan mengolahkan dan memberikan laporan keuangan secara kontinyu kepada investor pemilik minimarket. Hal itu akan memudahkan investor dalam mengetahui kondisi keuangan dan omset minimarketnya. Dilihat dari Tabel 1 dan Gambar 2 diketahui bahwa nilai penjualan menurun dan tidak stabil. Oleh karena itu perlu dikaji dan dievaluasi hal yang menyebabkan penurunan penjualan dan apakah berdampak langsung terhadap perolehan laba minimarket. Selanjutnya minimarket melakukan perencanaan peningkatan penjualan dan laba untuk masa yang akan datang.
1.2. Perumusan Masalah
4
membuat persaingan semakin ketat, khususnya persaingan harga. Masyarakat atau konsumen akan cenderung memilih minimarket yang menyediakan produk yang lebih lengkap dengan harga murah. Oleh karena itu pelaku usaha minimarket akan berusaha untuk menurunkan harga produk sehingga membuat perusahaan juga harus menekan biaya produksi dan pengadaan seluruh produk yang dijual. Hal tersebut akan mempengaruhi pelaku usaha minimarket dalam menentukan strategi terbaik yang akan dipilih dengan melihat kinerja keuangan selama beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan masalah yang dihadapi minimarket tersebut maka rumusan permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini antara lain :
1. Bagaimana tren kinerja keuangan di minimarket XYZ cabang Cimahi
tahun 2009-2013?
2. Hasil proyeksi apa yang akan didapatkan dari analisis tren dan kinerja keuangan tersebut?
3. Strategi apa yang akan dipilih oleh minimarket XYZ cabang Cimahi
untuk meningkatkan kinerja keuangan dan omsetnya di masa yang akan
datang berdasarkan analisis SWOT (Strengths, Weaknesses,
Opportunities, Threats)?
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan tersebut adalah :
1. Menganalisis tren kinerja keuangan minimarket XYZ cabang Cimahi
sehingga diketahui kondisi keuangan minimarket apakah stabil, cenderung meningkat atau cenderung menurun.
2. Menganalisis proyeksi kinerja keuangan minimarket XYZ cabang
Cimahi.
3. Menentukan strategi yang akan dipilih dalam meningkatkan kinerja
5
1.4. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini bagi perusahaan dan penulis adalah : 1. Bagi perusahaan :
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan dan bahan pertimbangan perusahaan dalam membuat proyeksi untuk mengukur kinerja keuangan dan menentukan strategi dalam upaya peningkatan kinerja keuangan.
2. Bagi penulis:
Penelitian ini bermanfaat bagi penulis untuk mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh selama perkuliahan sehingga dapat menambah pengalaman dan wawasan peneliti dalam menganalisis permasalahan keuangan yang terjadi di lapangan berdasarkan kinerja keuangannya.
1.5. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini membahas mengenai tren dan proyeksi kinerja keuangan pada minimarket XYZ. Lokasi penelitian ini dilakukan di minimarket yang berada di daerah Cimahi, Bandung. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan pada periode bulan Mei-Juli 2014.
Penelitian ini menggunakan data laporan keuangan minimarket tahun 2009-2013. Analisis yang digunakan untuk menilai kinerja keuangan minimarket XYZ adalah analisis rasio, pengukuran tren dengan analisis
trend dan peramalan dengan metode time series dengan model Double
Exponential Smoothing menggunakan Software Minitab 16. Selanjutnya
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Kinerja Keuangan
2.1.1 Definisi
Kinerja keuangan menurut Fahmi (2011) adalah suatu analisis yang dilakukan untuk melihat sejauh mana suatu perusahaan telah melaksanakan aktivitas dengan menggunakan aturan-aturan pelaksanaan keuangan secara baik dan benar. Perusahaan sebagai salah satu bentuk organisasi pada umumnya memiliki tujuan tertentu yang ingin dicapai dalam usaha untuk memenuhi kepentingan para anggotanya. Keberhasilan dalam mencapai tujuan perusahaan merupakan prestasi manajemen. Penilaian prestasi atau kinerja suatu perusahaan diukur karena dapat dipakai sebagai dasar pengambilan keputusan baik pihak internal maupun eksternal.
Kinerja perusahaan merupakan suatu gambaran tentang kondisi keuangan suatu perusahaan yang dianalisis dengan alat-alat analisis keuangan sehingga dapat diketahui mengenai baik buruknya keadaan keuangan suatu perusahaan yang mencerminkan prestasi kerja dalam periode tertentu. Hal ini sangat penting agar sumber daya digunakan secara optimal dalam menghadapi perubahan lingkungan.
2.1.2 Manfaat dan Tujuan Penilaian Kinerja Perusahaan
Penilaian kinerja keuangan ini memiliki beberapa manfaat dan tujuan yang ingin dicapai oleh perusahaan. Manfaat dari penilaian kinerja perusahaan sebagai berikut:
a. Untuk mengukur prestasi yang dicapai oleh suatu organisasi dalam suatu periode tertentu yang mencerminkan tingkat keberhasilan pelaksanaan kegiatannya.
b. Selain digunakan untuk melihat kinerja organisasi secara
7
c. Dapat digunakan sebagai dasar penentuan strategi perusahaan
untuk masa yang akan datang.
d. Memberi petunjuk dalam pembuatan keputusan dan kegiatan
organisasi pada umumnya dan divisi atau bagian organisasi pada khususnya.
e. Sebagai dasar penentuan kebijaksanaan penanaman modal agar
dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas perusahaan.
Tujuan penilaian kinerja perusahaan menurut Munawir (2010) adalah sebagai berikut:
a. Untuk mengetahui tingkat likuiditas, yaitu kemampuan perusahaan untuk memperoleh kewajiban keuangannya yang harus segera dipenuhi atau kemampuan perusahaan untuk memenuhi keuangannya pada saat ditagih.
b. Untuk mengetahui tingkat solvabilitas, yaitu kemampuan
perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangannya apabila perusahaan tersebut dilikuidasi baik kewajiban keuangan jangka pendek maupun jangka panjang.
c. Untuk mengetahui tingkat rentabilitas atau profitabilitas, yaitu menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu.
d. Untuk mengetahui tingkat stabilitas usaha, yaitu kemampuan
perusahaan untuk melakukan usahanya dengan stabil, yang diukur dengan mempertimbangkan kemampuan perusahaan untuk membayar beban bunga atas hutang-hutangnya termasuk membayar kembali pokok hutangnya tepat pada waktunya serta kemampuan membayar deviden secara teratur kepada para pemegang saham tanpa mengalami hambatan atau krisis keuangan.
2.1.3 Tahap-tahap dalam Menganalisis Kinerja Keuangan
8
a. Melakukan review terhadap data laporan keuangan
Review dilakukan dengan tujuan agar laporan keuangan yang
sudah dibuat tersebut sesuai dengan penerapan kaidah-kaidah yang berlaku umum dalam dunia akuntansi sehingga hasil laporan keuangan dapat dipertanggungjawabkan.
b.Melakukan perhitungan
Penerapan metode perhitungan disesuaikan dengan kondisi dan permasalahan yang sedang dilakukan sehingga hasil dari perhitungan tersebut akan memberikan suatu kesimpulan sesuai dengan analisis yang diinginkan.
c. Melakukan perbandingan terhadap hasil hitungan yang telah
diperoleh
Jika hasil perhitungan sudah diperoleh, selanjutnya dilakukan perbandingan dengan hasil hitungan dari berbagai perusahaan lainnya. Metode yang paling umum dipergunakan untuk melakukan perbandingan ini ada dua yaitu :
1) Time series analysis, yaitu membandingkan secara antar
waktu atau antar periode dengan tujuan tersebut nantinya akan terlihat secara grafik.
2) Cross sectional approach, yaitu melakukan perbandingan
terhadap hasil hitungan rasio-rasio yang telah dilakukan antara satu perusahaan dan perusahaan lainnya dalam ruang lingkup yang sejenis yang dilakukan secara bersamaan.
Hasil dari penggunaan kedua metode ini diharapkan nantinya akan dapat dibuat satu kesimpulan yang menyatakan posisi perusahaan tersebut berada dalam kondisi sangat baik, baik, sedang/normal, tidak baik, dan sangat tidak baik.
d.Melakukan penafsiran terhadap berbagai permasalahan yang
ditemukan
9
dilakukan penafsiran untuk melihat apa-apa saja permasalahan dan kendala-kendala yang dialami oleh perusahaan tersebut.
e. Mencari dan memberikan pemecahan masalah terhadap berbagai
permasalahan yang ditemukan
Pada tahap terakhir ini setelah ditemukan berbagai permasalahan yang dihadapi maka dicarikan solusi untuk memberikan suatu masukan atau saran agar apa yang menjadi kendala dan hambatan selama ini dapat diselesaikan.
2.2. Laporan Keuangan
2.2.1 Definisi
Laporan keuangan merupakan suatu informasi yang menggambarkan kondisi suatu perusahaan, yang selanjutnya itu akan menjadi suatu informasi yang menggambarkan tentang kinerja suatu perusahaan. Laporan keuangan diharapkan mampu memberikan bantuan kepada pengguna untuk membuat keputusan ekonomi yang bersifat finansial. Laporan keuangan menjadi alat yang sangat penting untuk memperoleh informasi sehubungan dengan posisi keuangan dan hasil-hasil yang telah dicapai oleh perusahaan yang bersangkutan.
Laporan keuangan juga menunjukkan apa yang telah dilakukan manajemen atau pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya. Pihak manajemen memegang peranan penting dalam membuat laporan keuangan untuk dapat dipahami oleh pihak yang berkepentingan. Dalam laporan keuangan terdapat informasi yang menyangkut posisi keuangan suatu perusahaan.
2.2.2 Laporan Keuangan dan Pengaruhnya bagi Perusahaan
10
proses pengambilan keputusan sesuai yang diharapkan. Di dalam analisis informasi keuangan, setiap aktivitas bisnis harus dianalisis secara mendalam baik oleh manajemen maupun oleh pihak-pihak yang berkepentingan dengan perusahaan yang bersangkutan.
Seorang investor yang ingin membeli atau menjual saham bisa terbantu dengan memahami dan menganalisis laporan keuangan untuk selanjutnya dapat dijadikan bahan dalam menilai perusahaan mana yang mempunyai prospek yang menguntungkan di masa depan. Laporan keuangan sangat diperlukan untuk mengukur hasil usaha dan perkembangan perusahaan dari waktu ke waktu dan untuk mengetahui sudah sejauh mana perusahaan mencapai tujuannya. Laporan keuangan pada dasarnya merupakan hasil proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antara data keuangan atau aktivitas suatu perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan dengan data atau aktivitas perusahaan tersebut sehingga laporan keuangan memegang peranan yang luas dan memiliki suatu posisi yang mempengaruhi dalam pengambilan keputusan (Fahmi 2011).
Menurut Munawir (2010), laporan keuangan merupakan salah satu informasi keuangan yang bersumber dari intern perusahaan yang bersangkutan. Pihak-pihak yang menginvestasikan modalnya membutuhkan informasi tentang sejauh mana kelancaran aktivitas dan profitabilitas perusahaan, serta potensi deviden, sehingga pemegang saham dapat memutuskan untuk mempertahankan sahamnya, menjual atau bahkan menambahnya. Adanya laporan keuangan yang disediakan oleh pihak manajemen perusahaan sangat berguna dalam melihat kondisi suatu perusahaan, baik kondisi pada saat ini maupun dijadikan sebagai alat prediksi untuk kondisi di masa yang akan
datang (forecast analyzing). Laporan keuangan ditujukan sebagai
11
informasi kepada pihak-pihak yang berkepentingan dalam membuat analisa ekonomi dan peramalan untuk masa yang akan datang. Dengan diperolehnya laporan keuangan maka diharapkan dapat membantu untuk menghindari analisis yang keliru dalam melihat kondisi dan menilai kinerja suatu perusahaan.
2.2.3 Pihak-pihak yang Berkepentingan terhadap Laporan Keuangan suatu Perusahaan
Menurut Fahmi (2011) ada beberapa pihak yang selama ini dianggap memiliki kepentingan terhadap laporan keuangan suatu perusahaan, yaitu :
a. Kreditur
Kreditur adalah pihak yang memberikan pinjaman baik dalam bentuk uang, barang maupun dalam bentuk jasa. Contoh kreditur yang memberikan pinjaman dalam bentuk uang adalah
pebankan atau leasing. Saat pihak debitur mengajukan
permohonan untuk meminjam sejumlah dana kepada kreditur maka sudah menjadi kewajiban bagi pihak kreditur untuk melakukan pengecekan terhadap laporan keuangan pihak debitur. Dengan melihat dan meneliti setiap laporan keuangan tersebut pihak kreditur akan dapat memberikan sebuah rekomendasi apakah usulan untuk pinjaman tersebut layak untuk direalisasikan dan jika layak berapa angka yang harus direalisasikan. Hal tersebut bagi pihak kreditur menyangkut dengan kemampuan dari pihak debitur untuk mampu mengembalikan pinjaman tersebut tepat pada waktunya, karena jika timbul kemacetan maka tentunya akan menimbulkan kesulitan tersendiri bagi pihak kreditur. Kemampuan debitur untuk membayar cicilan pinjamannya itu dapat dilihat pada data-data keuangan masa lalu yang di sana telah tergambarkan kinerja debitur.
b. Investor
12
di mana ia akan berinvestasi atau pada saat ia berinvestasi, karena dengan memahami laporan keuangan perusahaan tersebut artinya investor akan mengetahui berbagai informasi keuangan perusahaan. Investor menginginkan dana yang diinvestasikannya itu selalu berada dalam keadaan aman dan terus berkembang. Jika kondisi sebaliknya yaitu perusahaan tersebut sudah mulai menunjukkan tanda bermasalah maka akan lebih baik jika investor memindahkan dananya atau menjual saham yang dimilikinya.
Dalam kasus lebih jauh sering ditemui saat pihak manajemen perusahaan melakukan perubahan data-data keuangan sesuai dengan yang diinginkan seperti memperbesar keuntungan dengan tujuan investor yakin untuk menanamkan modalnya di perusahaan tersebut, atau sebaliknya memperkecil keuntungan agar pembagian deviden menjadi kecil, padahal sebagian keuntungan telah diambil oleh pihak manajemen perusahaan. Konflik ini biasa disebut dengan konflik antara manajemen perusahaan dengan pemilik perusahaan dan ini lebih dikenal dengan agency theory.
c. Akuntan publik
Akuntan publik adalah mereka yang ditugaskan untuk melakukan audit pada sebuah perusahaan. Bahan yang diaudit oleh seorang akuntan publik adalah laporan keuangan perusahaan, untuk selanjutnya pada hasil audit ia akan melaporkan dan memberikan penilaian dalam bentuk rekomendasi. Bagi sebuah perusahaan yang akan go public, tanggung jawab seorang auditor
menjadi lebih berat karena dengan penilaiannya sebuah perusahaan biasa atau tidak dinyatakan laporan keuangannya
memenuhi syarat untuk go public. Dalam konteks ini reputasi
seorang auditor dipertaruhkan.
d. Karyawan Perusahaan
13
diterima dari perusahaan tempat bekerja telah begitu berperan dalam membantu kehidupannya, terutama jika karyawan tersebut telah berkeluarga. Oleh karena itu posisi perusahaan yang tergambarkan dalam laporan keuangan menjadi bahan kajian bagi para karyawan dalam memposisikan keputusan ke depan. Misalnya jika ternyata kondisi perusahaan telah menunjukkan tanda-tanda financial distress (kesulitan keuangan) dan bahkan
cenderung menuju pailit maka tindakan antisipasi dengan pindah atau siap-siap untuk mencari pekerjaan di tempat lain adalah sebuah solusi konstruktif yang dapat dilakukan. Oleh karena itu seorang karyawan yang bekerja di suatu perusahaan jangan hanya menghabiskan waktu untk bekerja namun harus juga memperhatikan bagaimana kondisi laporan keuangan tersebut. e. Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
Berdasarkan Undang-undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan, terhitung mulai tanggal 31 Desember 2012 tugas dan fungsi Bapepam-LK berpindah ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Tugasnya ialah mengamati dan mengawasi setiap kondisi perusahaan yang go public, termasuk berkewajiban
untuk tidak menerima atau mengeluarkan perusahaan yang dianggap sudah tidak layak lagi untuk go public. Go public artinya
perusahaan tersebut telah memutuskan untuk menjual sahamnya kepada publik dan siap untuk dinilai oleh publik secara terbuka.
Bagi suatu perusahaan yang akan go public maka perusahaan
tersebut berkewajiban untuk memperlihatkan laporan keuangannya kepada OJK dalam hal ini PT Bursa Efek Indonesia.
f. Konsumen
14
Konsumen potensial adalah konsumen yang berpotensi untuk menjadi konsumen yang aktual. Konsumen yang menjadi loyal terhadap produk atau jasa yang dihasilkan oleh sebuah perusahaan memiliki ketergantungan yang tinggi pada perusahaan tersebut.
g. Pemasok
Pemasok merupakan mereka yang menerima order untuk memasok setiap kebutuhan perusahaan mulai dari hal-hal yang dianggap kecil sampai besar yang semua itu dihitung dengan skala finansial. Tentunya dari setiap barang yang dipasok tersebut ada yang dibayar di muka sebagian saja dan pelunasannya dilakukan dalam kurun jangka waktu tertentu yang dapat terlaksana setiap per semester atau juga setiap akhir tahun. Pihak pemasok merasa sangat berkepentingan terutama menyangkut dengan kondisi keuangan perusahaan guna memprediksi kelancaran pembayaran yang akan dilakukan di kemudian hari.
h. Pemerintah
Pemerintah dengan segala perangkat yang dimilikinya telah menjadikan laporan keuangan perusahaan sebagai data fundamental acuan untuk melihat perkembangan pada berbagai sektor bisnis. Selain itu juga harus disadari bahwa terbentuknya angka-angka pada laporan keuangan tidak bisa dipungkiri dari regulasi dan deregulasi yang telah digulirkan.
2.2.4 Jenis Laporan Keuangan
15
a) Penghasilan (penjualan) yang berkaitan dengan uang yang
diperoleh dari penjualan produk atau jasa perusahaan.
b) Harga pokok penjualan yang berhubungan dengan biaya produksi
atau biaya untuk menghasilkan barang-barang dan jasa yang akan dijual.
c) Beban operasi yang berhubungan dengan pemasaran dan distribusi produk atau jasa serta administrasi bisnis.
d) Beban keuangan dalam menjalankan bisnis, yaitu bunga
dibayarkan kepada kreditur perusahaan pembayaran deviden kepada para pemegang saham istimewa (bukan pembayaran deviden pada pemegang saham biasa).
e) Beban pajak yaitu jumlah pajak yang ditanggung berdasarkan
pajak pendapatan perusahaan.
Jika laporan laba-rugi menggambarkan hasil dari operasi bisnis untuk suatu periode waktu, maka neraca memberikan gambaran posisi keuangan perusahaan pada waktu tertentu, ekuitas pemegang saham dari pemilik, kewajiban, dan modal yang disediakan pemilik. Dalam format yang paling sederhana ini neraca mempunyai rumusan sebagai berikut :
Total aktiva = total kewajiban + ekuitas pemegang saham …..…… (1)
a. Aktiva
Aktiva menggambarkan sumber-sumber yang dimiliki oleh perusahaan, sedangkan kewajiban dan ekuitas pemegang saham menunjukkan bagaimana sumber daya itu dibiayai. Aktiva perusahaan dimasukkan dalam tiga kategori yaitu aktiva lancar, aktiva tetap, dan aktiva lain.
1. Aktiva lancar
16 a) Kas
Setiap perusahaan harus memiliki kas untuk operasional bisnis. Cadangan kas diperlukan karena tidak samanya aliran dana yang masuk (kas yang diterima) dan yang keluar (biaya-biaya kas) dalam bisnis tersebut. Jumlah dari saldo kas ditentukan tidak hanya oleh volume penjualan, tetapi juga oleh kemungkinan penerimaan kas dan pembayaran kas.
b) Piutang usaha
Piutang usaha perusahaan terdiri dari pembayaran pelanggan yang membeli dengan kredit.
c) Persediaan
Persediaan terdiri dari bahan baku, bahan yang sedang dikerjakan, dan produk akhir yang ada dalam perusahaan yang siap untuk dijual.
d) Biaya dibayar di muka
Perusahaan sering harus membayar di muka sebagian bebannya. Biaya-biaya yang dibayar di muka adalah pembayaran tunai yang dicatat pada neraca sebagai aktiva lancar dan dinyatakan sebagai beban dalam laporan laba-rugi jika telah digunakan.
2. Aktiva Tetap
Aktiva tetap meliputi peralatan dan perlengkapan, bangunan, dan tanah. Beberapa usaha membutuhkan lebih banyak modal tambahan yang menyebabkan aktiva tetap juga bernilai lebih besar. 3. Aktiva Lain
Aktiva lain adalah semua aktiva yang bukan termasuk aktiva lancar atau aktiva tetap, sebagai contoh aset tak berwujud seperti hak paten, hak cipta, dan good will. Dalam melaporkan jumlah uang
17
historisnya atau yang disebut sebagai nilai pembukuan akuntansi perusahaan (Keown et al. 2008).
b.Jenis Pembiayaan
Kewajiban dan ekuitas pemegang saham menunjukkan perusahaan membiayai aktiva-aktivanya. Pembiayaan datang dari dua sumber utama yaitu hutang (kewajiban-kewajiban) dan ekuitas. Hutang adalah uang yang telh dipinjam dan harus dibayar kembali pada tanggal yang telah ditentukan sedangkan ekuitas menunjukkan investasi pemegang saham dalam perusahaan.
1. Modal Pinjaman (Hutang)
Modal pinjaman adalah pembiayaan yang diberikan oleh kreditur. Modal pinjaman dibagi menjadi hutang lancar atau hutang jangka pendek dan hutang jangka panjang. Hutang lancar atau hutang jangka pendek meliputi uang yang dipinjam yang harus dibayar kembali dalam 12 bulan berikutnya. Sumber hutang lancar adalah:
a) Hutang usaha, menunjukkan perpanjangan kredit oleh para
pemasok kepada perusahaan ketika perusahaan tersebut mengadakan pembelian persediaan. Pembayaran perusahaan 30 atau 60 hari sebelum pembayaran untuk persediaan yang sudah dibeli. Kredit ini disebut juga hutang dagang.
b) Kewajiban lain, meliputi hutang bunga dan pembayaran
pajak pendapatan yang diterima dan akan diterima dalam tahun tersebut.
c) Beban yang masih harus dibayar, adalah hutang-hutang
jangka pendek yang terjadi dalam operasi perusahaan tetapi belum dibayar.
d) Wesel jangka pendek, menunjukkan sejumlah pinjaman dari
18
Hutang jangka panjang meliputi pinjaman dari bank atau sumber lain yang meminjamkan uang untuk waktu jangka panjang lebih dari 12 bulan.
2. Ekuitas
Ekuitas meliputi investasi pemegang saham, yaitu :
a) Pemegang saham preferen, menerima suatu dividen yang
ditetapkan dalam jumlah tertentu. Ketika perusahaan dilikuidasi, pemegang saham ini dibayar setelah kreditur perusahaan tetapi sebelum pemegang saham biasa.
b) Pemegang saham biasa, adalah pemegang perusahaan di luar
pemegang saham preferen dari suatu bisnis. Mereka menerima apapun yang terjadi, baik atau buruk, setelah kreditor dan pemegang saham preferen dibayar. Jumlah dari ekuitas biasa perusahaan, seperti yang dilaporkan pada neraca laba-rugi adalah jumlah yang diterima perusahaan dari penjualan saham ke investor ditambah dengan saldo laba perusahaan.
2.3. Analisa Laporan Keuangan
2.3.1 Definisi Rasio Keuangan
Rasio dapat dipahami sebagai hasil yang diperoleh antara satu jumlah dengan jumlah lainnya. Perbandingan tersebut dapat memberikan gambaran relatif tentang kondisi keuangan dan prestasi perusahaan. Secara sederhana rasio disebut sebagai perbandingan jumlah, dari satu jumlah dengan jumlah lainnya itulah dilihat perbandingannya dengan harapan nantinya akan ditemukan jawaban yang selanjutnya dijadikan bahan kajian untuk dianalisis dan diputuskan.
Rasio keuangan atau financial ratio ini sangat penting gunanya
19
Informasi tersebut dapat diketahui dengan cara yang lebih sederhana yaitu dengan menghitung rasio-rasio keuangan yang sesuai dengan keinginan.
Secara jangka panjang rasio keuangan juga dipakai dan dijadikan sebagai acuan dalam menganalisis kondisi kinerja suatu perusahaan, misalnya kondisi kinerja perusahaan selama 12 tahun untuk kemudian diprediksi selama 10 sampai 12 tahun ke depan. Namun analisa tersebut jarang dilakukan karena kondisi stabilitas selama 10 sampai 12 tahun ke depan belum tentu sama seperti 12 tahun yang lalu. Dalam penilaian suatu kondisi keuangan perusahaan dipengaruhi oleh faktor-faktor yang turut menyebabkan perubahan pada kondisi keuangan seperti kondisi mikro dan makro ekonomi baik yang terjadi di tingkat domestik dan internasional. Kondisi ekonomi global mampu memberi pengaruh pada kondisi makro ekonomi di suatu negara dan lebih jauh bisa memberi pengaruh pada berbagai keputusan di bidang industri hingga akhirnya memberi pengaruh pada berbagai kebijakan perusahaan sendiri sehingga analisa degan menempatkan berbagai data-data pendukung lain akan mampu memberi bantuan dalam pembentukan pengambilan keputusan.
Analisis rasio keuangan sendiri dimulai dengan laporan keuangan dasar yaitu neraca, perhitungan laba-rugi, dan laporan arus kas. Perhitungan rasio keuangan akan menjadi lebih jelas jika dihubungkan antara lain dengan menggunakan pola historis perusahaan tersebut dengan melihat perhitungan pada sejumlah tahun guna menentukan apakah perusahaan membaik atau memburuk, atau melakukan perbandingan dengan perusahaan lain dalam industri yang sama (Fahmi 2011).
2.3.2 Hubungan Rasio Keuangan dan Kinerja Keuangan
20
menggambarkan trend pola perubahan tersebut sehingga dapat
menunjukkan resiko dan peluang yang melekat pada perusahaan yang bersangkutan. Manfaat analisis rasio keuangan yaitu :
a) Analisis rasio keuangan sangat bermanfaat untuk dijadikan
sebagai alat menilai kinerja dan prestasi perusahaan.
b) Analisis rasio keuangan sangat bermanfaat bagi pihak manajemen sebagai rujukan untuk membuat perencanaan.
c) Analisis rasio keuangan dapat dijadikan sebagai alat untuk
mengevaluasi kondisi suatu perusahaan dari perspektif keuangan. d) Analisis rasio keuangan juga bermanfaat bagi para kreditor untuk
memperkirakan potensi resiko yang akan dihadapi terkait dengan adanya jaminan kelangsungan pembayaran bunga dan pengembalian pokok pinjaman.
e) Analisis rasio keuangan dapat dijadikan sebagai penilaian bagi pihak stakeholder organisasi.
Analisis rasio keuangan memiliki keunggulan dan kelemahan. Keunggulan dari analisis rasio keuangan sebagai berikut :
a) Rasio merupakan angka-angka atau ikhtisar statistik yang lebih mudah dibaca dan ditafsirkan.
b) Merupakan pengganti yang lebih sederhana dari informasi yang
disajikan laporan keuangan yang sangat rinci dan rumit. c) Mengetahui posisi perusahaan di tengah industri lain.
d) Bermanfaat untuk bahan daam mengisi model-model pengambilan
keputusan dan model prediksi. e) Menstandardisasi size perusahaan.
f) Lebih mudah memperbandingkan perusahaan dengan perusahaan
lain atau melihat perkembangan perusahaan secara periodik atau
time series.
g) Lebih mudah melihat tren perusahaan serta melakukan prediksi di masa yang akan datang.
21
a) Penggunaan rasio keuangan akan memberikan pengukuran yang
relatif terhadap kondisi suatu perusahaan. Sisi relative yang dimaksud bahwa rasio-rasio keuangan bukanlah merupakan kriteria mutlak. Analisis rasio keuangan hanyalah suatu titik awal dalam analisis keuangan perusahaan.
b) Analisis rasio keuangan hanya dapat dijadikan sebagai peringatan awal dan bukan kesimpulan akhir.
c) Setiap data yang dipergunakan dalam menganalisis bersumber
dari laporan keuangan perusahaan maka sangat memungkinkan data yang diperoleh tersebut adalah data yang angka-angkanya tidak memiliki keakuratan yang tinggi dengan alasan mungkin data-data tersebut diubah dan disesuaikan berdasarkan kebutuhan.
d) Pengukuran rasio keuangan banyak yang bersifat artificial.
Artificial ini berarti perhitungan rasio keuangan tersebut
dilakukan oleh manusia, dan setiap pihak memiliki pandangan yang berbeda-beda dalam menempatkan ukuran dan justifikasi penggunaan rasio-rasio tersebut. Terkadang justifikasi penggunaan rasio tersebut tidak dapat menjawab kasus-kasus yang dianalisis secara maksimal. Ada beberapa solusi yang dapat diberikan dalam rangka mengatasi permasalahan dalam bidang rasio keuangan ini, yaitu:
a) Rasio keuangan adalah sebuah formula yang dipakai sebagai alat pengujian maka hasil yang diperoleh belum tentu benar-benar sesuai untuk dijadikan alat prediksi sehingga dibutuhkan pendekatan lain untuk melihat permasalahan itu secara lebih jelas yaitu dengan melihat kondisi non keuangan seperti kondisi kualitas SDM karyawan dan manajer perusahaan baik di bidang administrasi, pemasaran, produksi dan keuangan.
b) Hasil perhitungan yang telah dilakukan selanjutnya
22
perbedaan antar pos dan mencari apa yang menyebabkan perbedaan itu terjadi. Selanjutnya dilakukan analisa lebih mendalam tentang perbedaan-perbedaan tersebut untuk mengetahui penyebabnya dan mencari solusinya.
c) Perlu pemahaman yang mendalam dan prinsip kehati-hatian
dalam proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh manajer keuangan. Jika analisis yang dilakukan memberikan suatu gambaran pola perusahaan yang menyimpang dari norma industri maka hal ini merupakan gejala adanya masalah dan perlu dilakukan analisis dan penelitian lebih lanjut. Contoh sederhana seperti jika suatu rasio perputaran persediaan tinggi maka menunjukkan adanya kekurangan persediaan yang serius dan besar kemungkinan terjadi kehabisan persediaan.
2.3.3 Rasio Keuangan
Ada empat kelompok analisis rasio keuangan yang dijadikan rujukan untuk melihat kondisi kinerja suatu perusahaan, yaitu :
1. Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas adalah kemampuan suatu perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya secara tepat waktu (Fahmi 2011). Contoh membayar listrik, telepon, air PDAM, gaji dan lain-lain. Rasio likuiditas ini penting karena kegagalan dalam membayar kewajiban dapat menyebabkan kebangkrutan perusahaan. Rasio ini mengukur pada kemampuan likuiditas jangka pendek perusahaan dengan melihat aktiva lancar perusahaan relatif terhadap utang lancarnya.
a) Rasio Lancar (Current Ratio)
23
Rasio lancar dapat dirumuskan sebagai berikut :
b) Rasio Cepat (Quick Ratio)
Rasio cepat menunjukkan kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya dengan tidak memperhitungkan persediaan. Menurut Sawir (2010) persediaan merupakan unsur aktiva lancar yang tingkat likuiditasnya rendah sehingga sulit untuk direalisasikan menjadi uang kas dalam waktu yang singkat. Jadi rasio ini dinilai lebih baik dalam mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Rasio cepat dapat dirumuskan sebagai berikut :
2. Rasio Solvabilitas
Analisis solvabilitas menunjukkan kemampuan suatu perusahaan dalam memenuhi segala kewajiban finansialnya baik jangka pendek maupun jangka panjang. Rasio-rasio yang umum digunakan dalam analisis solvabilitas antara lain :
a) Rasio Utang (Debt to Total Asset Ratio)
Rasio ini menunjukkan proporsi antara total kewajiban perusahaan dengan total kekayaan perusahaan yang dimiliki. Semakin tinggi nilai persentase rasio utang maka semakin tinggi pula resiko perusahaan yang harus ditanggung perusahaan (Sawir 2010). Rasio utang dapat dirumuskan sebagai berikut :
b) Rasio Utang terhadap Ekuitas (Debt to Equity Ratio)
24
memenuhi seluruh kewajibannya (Sawir 2010). Rasio utang terhadap ekuitas dirumuskan sebagai berikut :
c) Rasio Ekuitas terhadap Total Aktiva (Equity to Total Asset
Ratio)
Rasio ini menunjukkan besarnya modal sendiri yang digunakan untuk mendanai seluruh aktiva perusahaan. Semakin tinggi nilai rasio maka semakin kecil jumlah pinjaman perusahaan yang digunakan untuk mendanai seluruh aktiva perusahaan. Rasio ekuitas terhadap total aktiva dirumuskan sebagai berikut :
d) Rasio Ekuitas terhadap Aktiva Tetap (Equity to Fixed Asset
Ratio)
Rasio ini menunjukkan besarnya proporsi modal sendiri yang digunakan untuk mendanai aktiva tetap perusahaan. Jika aktiva tetap perusahaan didanai dari modal sendiri maka keadaan ini akan lebih menguntungkan mengingat aktiva tetap berjangka panjang. Maka sudah sewajarnya jika aktiva tetap didanai dari modal sendiri supaya tidak mengganggu likuiditas perusahaan jika sewaktu-waktu pembayaran utang harus dilaksanakan. Rasio ini dirumuskan sebagai berikut :
e) Rasio Akiva Tetap terhadap Utang Jangka Panjang (Fixed
Asset to Long Term Debt Ratio)
25
keamanan kreditur dari perusahaan. Rasio ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
3. Rasio Profitabilitas
Rasio ini mengukur efektivitas manajemen secara keseluruhan yang ditujukan oleh besar kecilnya tingkat keuntungan yang diperoleh dalam hubungannya dengan penjualan maupun investasi. Semakin baik rasio profitabilitas maka semakin baik menggambarkan kemampuan tingginya perolehan keuntungan perusahaan. Rasio Profitabilitas secara umum ada enam yaitu :
a) Rasio Marjin Laba Kotor (Gross Profit Margin)
Rasio ini menunjukkan berapa persen keuntungan perusahaan yang diperoleh melalui penjualan. Semakin besar nilai rasio maka semakin besar pula perusahaan memperoleh laba kotor. Rasio ini diumuskan sebagai berikut :
b) Rasio Marjin Laba Bersih (Net Profit Margin)
Rasio ini mengukur laba bersih setelah pajak terhadap penjualan. Rasio ini dirumuskan sebagai berikut :
c) Rasio Marjin Operasi (Operating Margin Ratio)
Rasio ini menunjukkan tingkat efisiensi perusahaan dalam memperoleh laba. Semakin besar nilai rasio ini maka kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba operasi semakin besar pula. Rasio ini dirumuskan sebagai berikut :
d) Rasio Tingkat Pengembalian Ekuitas (Return of Equity)
26
yang tinggi menunjukkan keberhasilan dari manajemen perusahaan dalam mengelola modal yang ditanam oleh pemilik perusahaan, ditunjukkan dari laba yang diperoleh tinggi. Rasio ini dirumuskan sebagai berikut :
e) Rasio Tingkat Pengembalian Investasi (Return of Investment)
Rasio ini menunjukkan hasil yang dicapai dari investasi-investasi yang ditanam dalam perusahaan oleh para investor. Manajemen dapat menggunakan ROI sebagai peringatan dini atas tindakan yang perlu diambil agar perusahaan dapat tetap berjalan lancar dan terus menghasilkan keuntungan (profit). Rasio ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
f) Rasio Tingkat Pengembalian atas Total Aktiva (Return of
Asset)
Rasio ini mencerminkan keuntungan yang diperoleh perusahaan tanpa mempermasalahkan sumber modal dan
menunjukkan tingkat efisiensi perusahaan dalam
melaksanakan operasinya. Rasio ini dirumuskan sebagai berikut :
4. Rasio Aktivitas
27
a) Rasio Perputaran Total Aktiva (Total Asset Turn Over Ratio)
Rasio ini menunjukkan sejauh mana tingkat efektivitas penggunaan seluruh aset perusahaan dalam rangka menghasilkan penjualan dan memperoleh laba (profit). Nilai rasio ini menunjukkan banyaknya penjualan bersih yang dapat diperoleh untuk setiap rupiah total aktiva yang dimiliki perusahaan. Rasio ini memiliki rumus sebagai berikut :
b) Rasio Perputaran Aktiva Tetap (Fixed Asset Turn over Ratio)
Rasio ini menunjukkan efisiensi penggunaan aktiva tetap dalam kegiatan yang menghasilkan pendapatan penjualan. Rasio ini berguna untuk mengevaluasi kemampuan perusahaan dalam menggunakan aktivanya secara efektif untuk meningkatkan pendapatan. Rasio ini dapat dirumuskan:
c) Rasio Perputaran Modal Kerja (Working Capital Turn Over
Ratio)
Rasio ini digunakan untuk menguji tingkat efisiensi penggunaan modal kerja, yakni berapa banyaknya penjualan (dalam rupiah) yang dapat diperoleh perusahaan untuk tiap rupiah modal kerja. Rumus dari rasio ini adalah :
d) Rasio Perputaran Persediaan (Inventory Turn Over Ratio)
28
e) Rasio Perputaran Piutang (Account Receivable Turn Over
Ratio)
Rasio ini menunjukkan berapa kali perusahaan menagih piutangnya dari penjualan dalam satu periode. Rumus dari rasio ini adalah :
2.3.4 Analisis Trend dan Proyeksi Kinerja Keuangan
Analisis time-series adalah analisis data berdasarkan waktu atau
periode, dengan tujuan itu nantinya akan terlihat dalam bentuk
angka-angka dan juga secara grafik. Time-series dianalisis untuk
mendapatkan pengukuran-pengukuran yang dapat digunakan untuk membuat keputusan, memprediksi, dan merencanakan operasi di
waktu mendatang (Fahmi 2011). Analisis time-series ini akan
membutuhkan laporan kecenderungan yang menggambarkan arah
pergerakan yang terjadi dengan menggunakan grafik tren. Trend
analysis adalah pendekatan yang menggunakan perbandingan laporan
keuangan perusahaan dari waktu ke waktu. Jika tren membaik disimpulkan bahwa kinerja keuangan perusahaan relatif baik dan demikian pula sebaliknya.
Grafik tren menggambarkan suatu kinerja, khususnya kinerja keuangan yang dihasilkan oleh suatu perusahaan selama satu periode akuntansi atau lebih. Pergerakan tren dapat dilihat dalam bentuk grafik dan memungkinkan berbagai bentuk bisa terjadi. Garis tren (trend
lines) merupakan garis yang menggambarkan arah kecenderungan
pergerakan, seperti naik dan turun. Selanjutnya diproyeksikan 2 tahun
ke depan menggunakan software Minitab 16 dengan model Double
Exponential Smoothing yang menggunakan data historis dalam bentuk
time series tahunan.
2.3.5 Analisis SWOT
29
memaksimalkan kekuatan (Strengths) dan peluang (Opportunities),
namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (Weaknesses) dan ancaman (Threats). Proses pengambilan keputusan
strategis selalu berkaitan dengan pengembangan misi, tujuan, strategi, dan kebijakan perusahaan. Dengan demikian perencana strategis (strategis planner) harus menganalisis faktor – faktor strategis
perusahaan (kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman) dalam kondisi yang ada saat ini. Hal ini disebut dengan Analisis Situasi. Model yang paling populer untuk analisis ini adalah Analisis SWOT.
Penelitian menunjukkan bahwa kinerja perusahaan dapat ditentukan oleh kombinasi faktor internal dan eksternal. Kedua faktor tersebut harus dipertimbangkan dalam analisis SWOT. SWOT adalah singkatan dari lingkungan Internal Strengths dan Weaknesses serta
lingkungan eksternal Opportunities dan Threats yang dihadapi dunia
bisnis. Analisis SWOT membandingkan antara faktor eksternal Peluang (opportunities) dan Ancaman (threats) dengan faktorinternal
Kekuatan (strengths) dan Kelemahan (weaknesses) (Rangkuti 2003)
2.4. Penelitian Terdahulu
Penelitian ini mengambil tiga literatur skripsi yang dijadikan sebagai panduan, rekapitulasi hasil penelitian terdahulu dapat dilihat dalam Lampiran 10. Tujuan dari penelitian Hartono (2006) menganalisis tingkat efisiensi perusahaan khususnya masalah keuangan, mengetahui langkah-langkah yang telah diambil dan memberi masukan alternatif lain untuk meningkatkan kinerja perusahaan, dan juga menganalisis sebab-sebab terjadinya kerugian dan langkah apa saja yang dapat diambil untuk meminimalisasi potensi kerugian yang lebih besar. Metode analisis laporan
keuangan yang digunakan dalam penelitiannya adalah analisis trend,
analisis common size statement, analisis rasio yang terdiri dari empat
30
100/M-BUMN/2002 mengenai penilaian kinerja perusahaan dalam aspek keuangan. Hasil dari penelitian yang telah dilakukannya adalah perkembangan kinerja keuangan yang menunjukkan kondisi keuangan yang kurang baik yang menandakan perusahaan masih belum mampu untuk berbuat banyak dalam meningkatkan performa keuangannya karena perusahaan hanya bergerak di satu jenis usaha dan satu jenis produk saja.
Tujuan penelitian Meliala (2011) menganalisis kinerja keuangan BRI dengan menggunakan alat analisis EVA dan MVA, menganalisis pengaruh nilai EVA terhadap MVA, serta menganalisis struktur modal BRI tahun 2006-2010, serta memprediksi keadaan keuangan BRI masa yang akan datang. Penelitian ini menggunakan data sekunder, yaitu laporan keuangan tahunan BRI antara lain neraca, laba rugi serta data historis harga saham BRI periode tahun 2006-2010. Berdasarkan hasil analisa diperoleh bahwa kinerja keuangan BRI berdasarkan metode EVA dan MVA, nilai EVA dan MVA BRI periode 2006-2010 adalah positif dan relatif mengalami kenaikan. Hal ini berarti bahwa pihak manajemen telah berhasil menciptakan nilai tambah perusahaan. Namun pada tahun 2008, EVA dan MVA mengalami penurunan dari tahun 2007. EVA turun disebabkan oleh COC yang tinggi, MVA BRI mengalami penurunan disebabkan oleh nilai pasar BRI (harga saham) turun Rp2.825 (38,18 persen) dari tahun 2007. Hasil pengujian pengaruh EVA terhadap MVA menggunakan analisis regresi sederhana menunjukkan bahwa EVA berpengaruh positif dan signifikan terhadap MVA. Nilai MVA sebesar 88,5 persen yang dihasilkan oleh perusahaan dipengaruhi oleh EVA, sedangkan sisanya sebesar 11,5 persen dipengaruhi oleh faktor lain diluar model regresi sederhana tersebut. Struktur modal BRI tahun 2006-2010 sudah cukup baik, hal ini dapat dilihat dari penciptaan nilai EVA yang positif dan relatif meningkat setiap tahunnya walaupun di tahun 2008 sempat mengalami penurunan namun tetap menunjukkan nilai yang positif. Peramalan nilai komponen neraca dan
laba rugi yang dilakukan dengan menggunakan Double Exponential
31
bahwa kinerja keuangan BRI tahun berikutnya diprediksi akan bertambah baik lagi.
Penelitian Aryani (2011) berjudul “Kajian Terhadap Kinerja Keuangan pada PT. Goodyear Indonesia Tbk Berbasis Laporan Keuangan”. Penelitian ini menganalisis trend, peramalan, persentase per komponen
(common size statement) dan rasio keuangan perusahaan dengan hasil
III. METODE PENELITIAN
3.1. Kerangka Pemikiran
Kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks dan menuntut keefektifan serta keefisienan waktu dalam pemenuhan kebutuhannya, akhirnya memberi peluang semakin maraknya industri retail modern yang bermunculan, khususnya minimarket. Saat ini investor lebih tertarik dengan industri waralaba karena mudahnya proses kepemilikan dan pengelolaan bisnisnya sehingga investor tidak perlu kesulitan membangun bisnisnya dari nol (awal). Perusahaan waralaba memiliki suatu sistem yang dibangun
dengan terencana untuk mengembangkan bisnisnya dan menaikkan brand
dalam menghadapi persaingan dan kemajuan teknologi yang semakin pesat. Perencanaan dalam pengembangan minimarket ini harus disusun secara baik agar perusahaan mampu bertahan di tengah persaingan. Perencanaan ini dimulai dari studi kelayakan sebelum mendirikan minimarket, mengawasi setiap aktivitas yang sudah berjalan sampai memberi laporan dan evaluasi dari hasil penjualan yang telah dicapai, khususnya laporan keuangan. Tujuan utama minimarket adalah memaksimalkan keuntungan atau laba dengan melakukan peningkatan penjualan. Setiap transaksi dan aktivitas yang terjadi akan terekam dalam laporan keuangan. Laporan keuangan ini akan memberi gambaran mengenai kinerja perusahaan yang dapat menjadi sumber informasi yang bermanfaat untuk pemilik, perusahaan maupun investor yang akan menanamkan investasinya.
33
Pergerakan tren ini akan menunjukkan gambaran yang terjadi selama tahun-tahun sebelumnya kemudian dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan untuk menentukan target dan strategi pada tahun yang akan datang. Selain itu dilakukan pula proyeksi kebutuhan dana untuk tahun yang akan datang dengan tujuan mempersiapkan dan mengantisipasi pembiayaan aktivitas minimarket. Hasil yang diperoleh dari analisa laporan keuangan dan tren kinerja keuangan selama lima tahun akan menunjukkan perkembangan kinerja keuangan dalam lima tahun terakhir tersebut dan hal-hal positif atau negatif apa saja yang dapat diambil untuk membantu pemilihan dan pencarian strategi yang tepat untuk tahun yang akan datang. Kerangka pemikiran dari penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :
Gambar 3. Kerangka pemikiran penelitian Minimarket XYZ cabang Cimahi
Tujuan Memaksimalkan Profit Minimarket XYZ cabang Cimahi
Analisis Laporan Keuangan :
- Analisis Rasio Keuangan
- Analisis Trend
Proyeksi Keuangan :
- Metode Double
Exponential Smoothing
Tren Kinerja Keuangan 5 Tahun Terakhir
Kinerja Keuangan
Rekomendasi
34
3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian
Kegiatan penelitian ini dilaksanakan selama di Minimarket XYZ yang berlokasi di daerah Cimahi. Waktu penelitian dilaksanakan selama tiga bulan yaitu pada bulan Mei hingga Juli 2014.
3.3. Jenis dan Sumber Data
Data yang dikumpulkan untuk penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang diperoleh melalui wawancara dengan pihak pengelola minimarket, sedangkan data sekunder adalah data yang diperoleh dari laporan keuangan minimarket selama 5 tahun terakhir (2009-2013), profil minimarket serta literatur yang berkaitan dengan penelitian baik dari pihak internal perusahaan maupun dari eksternal seperti buku-buku dan media informasi internet.
3.4. Analisis dan Metode Pengolahan Data
Data dan informasi yang telah dikumpulkan disusun dan diolah secara manual dan dengan menggunakan alat bantu (komputer). Selanjutnya hasil dari pengolahan data dianalisis secara kuantitatif dan diinterpretasikan secara deskriptif. Analisis yang digunakan untuk melihat tren dan proyeksi kinerja keuangan Minimarket XYZ terdiri dari analisis laporan keuangan yang berupa analisis tren, analisis rasio (rasio likuiditas, solvabilitas, profitabilitas dan aktivitas) serta analisis proyeksi berdasarkan time-series dengan metode
Double Exponential Smoothing.
3.4.1 Analisis Rasio Keuangan
3.4.1.1.Rasio Likuiditas
a) Rasio Lancar (Current Ratio) pada rumus (2)
b) Rasio Cepat (Quick Ratio) pada rumus (3)
3.4.1.2.Rasio Solvabilitas
a) Rasio Utang (Debt to Total Asset Ratio) pada rumus (4)
b) Rasio Utang terhadap Ekuitas (Debt to Equity Ratio) pada
rumus (5)
c) Rasio Ekuitas terhadap Total Aktiva (Equity to Total Asset
35
d) Rasio Ekuitas terhadap Aktiva Tetap (Equity to Fixed
Asset Ratio) pada rumus (7)
e) Rasio Akiva Tetap terhadap Utang Jangka Panjang (Fixed
Asset to Long Term Debt Ratio) pada rumus (8)
3.4.1.3.Rasio Profitabilitas
a) Rasio Marjin Laba Kotor (Gross Profit Margin) pada
rumus (9)
b) Rasio Marjin Laba Bersih (Net Profit Margin) pada rumus
(10)
c) Rasio Marjin Operasi (Operating Margin Ratio) pada
rumus (11)
d) Rasio Tingkat Pengembalian Ekuitas (Return of Equity)
pada rumus (12)
e) Rasio Tingkat Pengembalian Investasi (Return of
Investment) pada rumus (13)
f) Rasio Tingkat Pengembalian atas Total Aktiva (Return of
Asset) pada rumus (14)
3.4.1.4.Rasio Aktivitas
a) Rasio Perputaran Total Aktiva (Total Asset Turn Over
Ratio) pada rumus (15)
b) Rasio Perputaran Aktiva Tetap (Fixed Asset Turn over
Ratio) pada rumus (16)
c) Rasio Perputaran Modal Kerja (Working Capital Turn
Over Ratio) pada rumus (17)
d) Rasio Perputaran Persediaan (Inventory Turn Over Ratio)
pada rumus (18)
e) Rasio Perputaran Piutang (Account Receivable Turn Over
Ratio) pada rumus (19)
3.4.2 Analisis Trend
Analisis trend ini merupakan laporan kecenderungan yang
36
tetap. Trend analysis adalah pendekatan yang menggunakan
perbandingan laporan keuangan perusahaan dari waktu ke waktu. Jika tren membaik disimpulkan bahwa kinerja keuangan perusahaan relatif baik dan demikian pula sebaliknya.
Analisis ini membutuhkan satu tahun dasar yang merupakan tahun paling awal dari periode yang dianalisis. Setiap pos yang terdapat dalam laporan keuangan yang dipilih sebagai tahun dasar diberikan angka indeks 100. Pos-pos yang sama dari periode yang dianalisis dihubungkan dengan pos yang sama dalam laporan keuangan tahun dasar dengan cara membagi jumlah rupiah tiap-tiap pos dalam periode yang dianalisis dengan jumlah rupiah dari pos yang sama dalam laporan keuangan tahun dasar. Hasil perhitungan tersebut akan memperlihatkan kenaikan atau penurunan nilai persentase tiap pos. Analisis ini merupakan pelengkap dari analisis rasio yang akan membantu menginterpretasikan hasil analisis rasio. Rumus analisis
trend yaitu :
Di mana : Rxt = Nilai presentase untuk tahun ke-t
Pxt = Pos x dalam laporan keuangan yang akan di analisis
Pxo = Pos x dalam laporan keuangan sebagai tahun dasar 3.4.3 Analisis Peramalan/Proyeksi Kinerja Keuangan
Penelitian model peramalan yang dipakai menggunakan data
historis time series tahunan dengan model Double Exponential
Smoothing menggunakan software Minitab 16. Metode ini
menyesuaikan faktor tren yang ada pada pola data. Dipopulerkan oleh C.C. Holt (1957), model ini menambahkan faktor pertumbuhan
(growth factor) atau faktor tren (trend factor) pada persamaan dasar
dari smoothing. Rumus Holt’s Linear Smoothing :
Untuk komponen level estimate :
Lt= αYt + (1-α)(Lt-1 + Tt-1) ……….……….(21)
Untuk komponen trend estimate :
37
Untuk forecast period eke p dari data tertentu :
(berdasar angka di kolom FITS 1 pada MINITAB)
Ýt+p = Lt + pTt ………(23)
Di mana :
L = level estimate (dipengaruhi oleh besaran)
T = trend estimate (dipengaruhi oleh besaran)
Ý = nilai forecast untuk periode mendatang
α = parameter pertama perataan antara 0 dan 1 β = parameter kedua untuk pemulusan tren p = periode ke depan yang akan diramalkan
3.4.4 Analisis SWOT
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Metode deskriptif dipilih karena metode ini dapat memberikan gambaran terhadap fenomena-fenomena, menerangkan hubungan, menguji hipotesa-hipotesa, membuat prediksi, serta
mendapatkan makna dan implikasi dari suatu masalah yang ingin
dipecahkan. Matriks ini dapat menghasilkan empat sel kemungkinan alternatif strategis.
Tabel 2. Matriks SWOT
Faktor Internal Strength Weakness
Faktor Eksternal Kekuatan Kelemahan
38 a. Strategi SO
Strategi ini dibuat berdasarkan jalan pikiran perusahaan, yaitu
dengan memanfaatkan seluruh kekuatan untuk merebut dan
memanfaatkan peluangsebesar-besarnya. b.Strategi ST
Ini adalah strategi dalam menggunakan kekuatan yang dimiliki
perusahaanuntuk mengatasi ancaman.
c. Strategi WO
Strategi ini diterapkan berdasarkan pemanfaatan peluang yang
ada dengancara meminimalkan kelemahan yang ada.
d.Strategi WT
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Sejarah Perusahaan
Minimarket XYZ bergerak di bidang retail/perdagangan eceran yang menjual kebutuhan pokok sehari-hari. Berdiri sejak 1 Mei 2006 dengan tipe toko 45 rak dan luas toko 100 m2, memiliki jumlah pegawai sebanyak 8 orang. Pada mulanya, minimarket XYZ merupakan toko yang dimiliki oleh perusahaan retail ABC. Namun sejak 1 Mei 2006, toko tersebut diambil alih kepemilikannnya oleh Bapak Djumadi Rustam dengan pola kerjasama waralaba.
Adapun latar belakang dijualnya minimarket tersebut dengan pola kerjasama waralaba adalah bukan karena kinerja minimarket tersebut khususnya secara keuangan kurang baik melainkan sebaliknya. Pada saat diambil alih kepemilikannya, rata-rata hasil penjualan per hari yang dihasilkan oleh minimarket tersebut sebesar Rp 9.000.000,-. Dana yang harus dikeluarkan untuk mengambil alih minimarket sebesar Rp 660.000.000,- dengan estimasi pengembalian modal selama 43 bulan dan estimasi rata-rata keuntungan yang akan diperoleh setiap bulannya sebesar Rp 16.000.000,-
Pertimbangan yang diambil untuk pengambilalihan minimarket tersebut adalah:
1. Memanfaatkan dana pensiun yang diperoleh agar dapat dipergunakan
sebaik mungkin meskipun konsep waralaba pada saat itu merupakan hal yang baru di dalam bidang industri retail.
2. Konsep waralaba yang ditawarkan oleh perusahaan retail ABC cukup
menarik karena meskipun toko dimiliki oleh investor namun dalam pengelolaan sehari-hari minimarket tersebut tetap dikerjakan oleh perusahaan retail ABC. Dalam hal ini bisa dikatakan bahwa investor memiliki usaha namun tidak direpotkan dalam pengelolaannya sehingga dapat menjalankan bisnis/usaha yang lainnya yang dimiliki oleh investor.
3. Sistem dan manajemen yang dimiliki perusahaan retail ABC yang baik
40
maksimal dikarenakan pada saat itu pertumbuhan bisnis retail belum marak seperti saat ini.
Memang dalam perjalanannya setelah dilakukan pengambilalihan minimarket tersebut, target penjualan yang diestimasikan sebelumnya tidak maksimal (lihat data rata-rata Sales per Day per tahun), namun dari sisi
keuntungan yang diperoleh sesuai dengan apa yang disajikan dalam proposal penawaran pengambilalihan toko bahkan melebihi nilai keuntungan yang tercantum dalam proposal tersebut. Seiring dengan perkembangan waktu, sampai saat ini minimarket XYZ mempekerjakan 10 orang karyawan. Selain itu keberadaannya juga menguntungkan pedagang lain yang menyewa lahan parkir minimarket untuk berjualan. Meskipun saat ini terdapat dua minimarket dengan konsep sejenis berada dekat dengan minimarket XYZ, namun dengan pelayanan yang baik, adanya interaksi antara pegawai minimarket dengan konsumen, manajemen stok yang baik serta manajemen keuangan yang baik menjadikan minimarket XYZ tetap bertahan di tengah ketatnya persaingan antar usaha sejenis.
4.2. Visi dan Misi Perusahaan
4.2.1 Visi Minimarket
Menjadi jaringan distribusi ritel terkemuka yang dimiliki oleh masyarakat luas, berorientasi kepada pemberdayaan pengusaha kecil, pemenuhan kebutuhan dan harapan konsumen, serta mampu bersaing secara global.
4.2.2 Misi Minimarket
1. Memberikan kepuasan kepada pelanggan/konsumen dengan
berfokus pada produk dan pelayanan yang berkualitas unggul. 2. Selalu menjadi yang terbaik dalam segala hal yang dilakukan dan
selalu menegakkan tingkah laku/etika bisnis yang tertinggi.
3. Ikut berpartisipasi dalam membangun negara dengan
menumbuhkembangkan jiwa wiraswasta dan kemitraan usaha. 4. Membangun organisasi global yang terpercaya, tersehat dan terus