• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori .1 Bank

2.1.5 Rasio Keuangan Berdasarkan Metode Risk Based Bank Rating (RBBR) (RBBR)

Penilaian tingkat kesehatan bank menurut Risk Based Bank Rating (RBBR) menitikberatkan penilaian berdasarkan pendekatan risiko. Terdapat empat faktor penilaian yang digunakan dalam metode ini, yaitu profil risiko, Good Corporate Governance, Earnings (Rentabilitas), dan Capital (Permodalan). Rasio-rasio keuangan yang digunakan dan dijadikan proksi dari indikator-indikator RBBR adalah Non Performing Loan (NPL) dan LDR merupakan proksi dari profil risiko, Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) merupakan proksi dari Good Corporate Governance, Return on Assets (ROA) dan Net Interest Margin (NIM) merupakan proksi dari rentabilitas, dan Capital Adequacy Ratio (CAR) merupakan proksi dari permodalan.

2.1.5.1Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO)

Penilaian faktor Good Corporate Governance (GCG) merupakan penilaian

terhadap kualitas manajemen Bank atas pelaksanaan prinsip-prinsip GCG. Prinsip-prinsip GCG dan fokus penilaian terhadap pelaksanaan prinsip-prinsip GCG berpedoman pada ketentuan Bank Indonesia mengenai Pelaksanaan GCG bagi bank umum dengan memperhatikan karakteristik dan kompleksitas usaha

Bank. Penilaian kualitas manajemen suatu bank dapat dilakukan dengan

menghitung rasio-rasio efesiensi usaha sehingga dapat diukur secara kuantitatif. Biaya Operasional Terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) adalah perbandingan antara biaya operasional dengan pendapatan operasional dalam mengukur tingkat efisiensi dan kemampuan bank dalam melakukan kegiatan operasinya (Rivai, et al 2007:722). Biaya operasi merupakan biaya yang dikeluarkan oleh bank dalam rangka menjalankan aktivitas usaha pokoknya (biaya bunga, biaya tenaga kerja, biaya pemasaran, dan biaya operasi lainnya). Pendapatan operasi merupakan pendapatan utama bank yaitu pendapatan bunga yang diperoleh dari penempatan dana dalam bentuk kredit dan pendapatan operasi lainnya. Semakin kecil rasio ini berarti semakin efesien biaya operasional yang dikeluarkan bank yang bersangkutan sehingga kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin kecil.

2.1.5.2Non Performing Loan (NPL)

Menurut Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 5/8/PBI/2003, risiko adalah potensi terjadinya peristiwa yang dapat menimbulkan kerugian. Risiko kredit menunjukkan kemungkinan terjadinya risiko tidak tertagihnya piutang terhadap

sejumlah pinjaman yang telah diberikan (Rivai et al, 2007:731). Bank dalam melakukan kredit harus melakukan analisis terhadap kemampuan debitur untuk membayar kembali kewajibannya. Setelah kredit diberikan, bank wajib melakukan pemantauan terhadap penggunaan kredit serta kemampuan dan kepatuhan debitur dalam memenuhi kewajibannya. Bank melakukan peninjauan dan pengikatan terhadap agunan untuk memperkecil risiko kredit.

Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 13/1/PBI/2011 indikator yang digunakan untuk mengukur risiko kredit yaitu NonPerforming Loan (NPL). Non Performing Loan merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur risiko gagal bayar yang dihadapi suatu bank ketika menjalankan kegiatan penyaluran kredit perbankan. Semakin kecil NPL maka semakin kecil pula risiko kredit yang ditanggung oleh bank sehingga bank dapat meningkatkan profit dan meminimalisir kerugian yang ditanggung bank. Menurut peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 13/1/PBI/2011 batas NPL dapat dikategorikan baik adalah dibawah 5%.

2.1.5.3Capital Adequacy Ratio (CAR)

Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan permodalan yang ada untuk menutup kemungkinan kerugian di dalam kegiatan perkreditan dan perdagangan surat surat berharga. Menurut Peraturan Bank Indonesia Nomor 10/15/PBI/2008 pasal 2 ayat 1 tercantum bank wajib menyediakan modal minimum sebesar 8% dari aset tertimbang menurut resiko (ATMR), CAR adalah rasio yang memperlihatkan seberapa besar jumlah seluruh aktiva bank yang mengandung resiko (kredit, penyertaan, surat berharga, tagihan pada bank lain)

ikut dibiayai dari modal sendiri disamping memperoleh dana - dana dari sumber-sumber diluar bank (PBI, 2008). Menurut Surat Edaran (SE) Bank Indonesia No.6/23/DPNP Tanggal 31 Mei 2004, rasio CAR dapat dirumuskan sebagai perbandingan antara modal bank terhadap aktiva tertimbang menurut risiko. Modal bank adalah total modal yang berasal dari bank yang terdiri dari modal inti dan modal pelengkap. Modal inti yaitu modal milik sendiri yang diperoleh dari modal disetor oleh pemegang saham. Sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan CAR yang harus dicapai oleh suatu bank minimal 8%. Angka tersebut merupakan penyesuaian dari ketentuan yang berlaku secara internasional berdasarkan Standar Bank for International Settlement (BIS).

2.1.5.4 Loan to Deposito Ratio

LDR menyatakan seberapa besar kemampuan bank dalam membayar kembali penarikan dana yang dilakukan deposan dengan mengandalkan kredit yang diberikan sebagai sumber likuiditasnya. Dikatakan likuid jika pada saat ditagih bank mampu membayar dan bank juga harus dapat pula memenuhi semua permohonan kredit yang layak dibiayai (Khasmir 2011:44). Oleh karena itu, semakin tinggi rasionya memberikan indikasi rendahnya kemampuan likuiditas bank tersebut, hal ini sebagai akibat jumlah dana yang diperlukan untuk membiayai kredit menjadi semakin besar (Veithzal Rivai et al 2013:484). LDR adalah perbandingan antara total kredit yang diberikan dengan Total Dana Pihak ke Tiga (DPK) yang dapat dihimpun oleh bank. LDR akan menunjukkan tingkat kemampuan bank dalam menyalurkan dana pihak ketiga yang dihimpun oleh bank

yang bersangkutan. Maksimal LDR yang diperkenankan oleh Bank Indonesia adalah sebesar 110%.

Dari uraian di atas dapat diketahui kaitan antara LDR dengan bank yang terletak pada hal penghimpunan dana dan penyaluran dan kepada sektor riil. Bank dapat mengelola tingkat likuiditasnya yang diukur dengan LDR. Hubungan antara Loan to Deposit Ratio terhadap kinerja bank adalah bahwa LDR menunjukkan tingkat kinerja bank apabila bank memiliki kinerja yang baik maka kemampuan bank dalam menciptakan laba akan bertambah. Semakin tinggi LDR maka laba perusahaan mempunyai kemungkinan untuk meningkat dengan catatan bahwa bank tersebut mampu menyalurkan kreditnya dengan optimal, maka dapat disimpulkan bahwa LDR berpengaruh positif terhadap laba bank.

2.1.5.5 Net Interest Margin

Net Interest Margin (NIM) merupakan rasio yang menunjukkan

kemampuan earning assets dalam menghasilkan pendapatan bunga bersih (Rivai dkk, 2012:481). Dapat disimpulkan bahwa pengertian Net Interest Margin (NIM) pada dasarnya adalah sebuah rasio keuangan yang merupakan hasil dari perbandingan antara pendapatan dari bunga terhadap aktiva dan merupakan selisih antara bunga simpanan dan bunga pinjaman.

Rasio ini menggambarkan jumlah pendapatan bunga bersih yang diperoleh dengan menggunakan aktiva produktif yang dimiliki oleh bank. Sehingga disimpulkan semakin besar nilai NIM yang dicapai oleh bank maka semakin besar pula pendapatan bunga atas aktiva produktif sehingga keuntungan yang diperoleh

dari suatu bank akan meningkat. Sesuai dengan aturan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia, besaran NIM yang harus dicapai oleh suatu bank adalah minimal 6%. 2.1.5.6Return on Assets (ROA)

Salah satu penilaian dari aspek earning adalah rasio laba terhadap total aset atau ROA (Return on Assets). ROA adalah rasio yang menunjukkan perbandingan antara laba (sebelum pajak) dengan total aset bank. Rasio ini menunjukkan tingkat efisiensi pengelolaan aset yang dilakukan oleh bank bersangkutan. ROA merupakan indikator kemampuan kemampuan perbankan untuk memperoleh laba atas sejumlah aset yang dimiliki oleh bank (Pandia, 2012:71) . Semakin besar ROA suatu bank, maka semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai bank tersebut dan semaikin baik pula posisi bank tersebut dari sisi penggunaan aset. Angka ROA yang ditetapkan Bank Indonesia adalah minimal adalah 1,5%. ROA diperoleh dengan cara membandingkan antara earning before interest tax (EBIT) terhadap total assets. EBIT merupakan pendapatan bersih sebelum bunga dan pajak. Total assets merupakan total asset perusahaan dari awal tahun dan akhir tahun. Total assets yang sering digunakan untuk mengukur ROA sebuah bank adalah jumlah dari asset-asset produktif yang terdiri dari penempatan surat-surat berharga.

Dokumen terkait