• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rasio PDRB Provinsi Kalimantan Utara dan PDB Nasional

TINJAUAN PUSTAKA

1. Rasio PDRB Provinsi Kalimantan Utara dan PDB Nasional

Analisis shift share dalam penelitian ini menjelaskan bagaimana rasio PDRB Provinsi Kalimantan Utara dengan nasional pada dua titik waktu yaitu tahun 2008 sebagai tahun dasar analisis dan tahun 2012 sebagai tahun akhir analisis yang disajikan dalam Tabel 8. Nilai Ra periode 2008 hingga 2012 adalah

sebesar 0.26 untuk semua sektor dan diperoleh dari selisih antara total PDB nasional tahun 2012 dengan total PDB nasional tahun 2008 dibagi dengan total PDB nasional tahun 2008. Nilai Ra yang positif (Ra > 0) mengindikasi bahwa

30

Nilai Ri diperoleh dari selisih antara PDB nasional setiap sektor pada tahun

2012 dengan PDB nasional setiap sektor tahun 2008 dibagi dengan PDB nasional setiap sektor tahun 2008. Pada Tabel 8, semua sektor memiliki nilai Ri positif (Ri

> 0) yang artinya setiap sektor ekonomi di tingkat nasional mengalami pertumbuhan positif. Besarnya pertumbuhan sektor pengangkutan diduga sangat dipengaruhi oleh adanya kegiatan pengembangan kepariwisataan yang sering mengalami masalah ketersediaan sarana dan prasarana. Sedangkan sektor perkebunan juga mengalami pertumbuhan positif dengan nilai Ri sebesar 0.17

meskipun masih berada di bawah sektor pengangkutan.

Nilai ri diperoleh dari selisih PDB setiap sektor Provinsi Kalimantan Utara

tahun 2012 dengan PDRB setiap sektor Provinsi Kalimantan Utara tahun 2008 dibagi dengan PDRB setiap sektor Provinsi Kalimantan Utara tahun 2008. Berdasarkan Tabel 8, hampir semua sektor ekonomi Provinsi Kalimantan Utara memiliki nilai ri yang positif (ri > 0) kecuali sektor kehutanan dan industri

pengolahan. Sementara sektor dengan nilai ri terbesar dimiliki oleh sektor

pertambangan dan sektor perkebunan dengan nilai masing-masing 0.65 dan 0.57. 2. Analisis Komponen Pertumbuhan Wilayah Periode 2008 Hingga 2012

Analisis shift share menggunakan tiga komponen nilai, yaitu pertumbuhan nasional (PN), pertumbuhan proporsional (PP) dan pertumbuhan pangsa wilayah (PPW) serta komponen pergeseran bersih (PB). Pada Tabel 9 menunjukkan bahwa komponen PN memiliki nilai PNij > 0, yaitu sebesar 25.76%. Hal ini menunjukkan

bahwa pertumbuhan ekonomi nasional selama tahun 2008 hingga 2012 telah memengaruhi peningkatan PDRB Provinsi Kalimantan Utara sebesar Rp 1,473,679.88 juta. Secara sektoral, peningkatan kontribusi terbesar terdapat pada sektor perdagangan, hotel dan restoran yaitu sebesar Rp 356,748.51 juta. Hal ini menunjukkan bahwa sektor ini sangat dipengaruhi oleh perubahan kebijakan nasional. Sedangkan sektor perkebunan masih kurang responsif terhadap

Tabel 8 Rasio PDRB Provinsi Kalimantan Utara dan PDB nasional (Nilai Ra,

Ri dan ri) Lapangan Usaha Ra Ri ri Pertanian 0.26 0.15 0.01 Pangan 0.26 0.16 0.03 Perkebunan 0.26 0.17 0.57 Kehutanan 0.26 0.05 (0.17) Pertambangan 0.26 0.12 0.65 Ind.Pengolahan 0.26 0.20 (0.58) Listrik 0.26 0.34 0.29 Bangunan 0.26 0.30 0.31 Perdagangan 0.26 0.30 0.35 Pengangkutan 0.26 0.60 0.38 Keuangan 0.26 0.27 0.37 Jasa-jasa 0.26 0.27 0.25 Total 0.26 0.26 0.23

31 perubahan kebijakan nasional karena peningkatan kontribusi yang dimiliki relatif lebih kecil dibandingkan sektor perdagangan yaitu sebesar Rp 24,996.98 juta.

Komponen PP menunjukkan laju pertumbuhan sektor ekonomi di suatu wilayah, jika PPij > 0 artinya sektor tersebut memiliki pertumbuhan cepat.

Berdasarkan Tabel 9, pertumbuhan PDRB Provinsi Kalimantan Utara tidak mengalami perubahan secara keseluruhan. Namun jika ditinjau per sektor, maka sektor ekonomi dengan pertumbuhan paling cepat ditunjukkan oleh sektor pengangkutan dan komunikasi dengan nilai 34.20%. Pertumbuhan cepat sektor pengangkutan selain untuk mendukung kegiatan kepariwisataan juga sebagai upaya untuk meningkatkan produksi di bidang pertanian maupun industri di desa. Sektor perkebunan menjadi salah satu sektor dengan pertumbuhan yang lambat selama tahun 2008 hingga 2012 dengan nilai pertunbuhan -8.92%. Lambatnya pertumbuhan sektor perkebunan disebabkan penggunaan lahan perkebunan yang belum optimal. Pada tahun 2012, tercatat bahwa kurang dari 40% lahan perkebunan tidak menghasilkan, sementara sisanya merupakan lahan perkebunan yang tidak menghasilkan. Bahkan penggunaan lahan di Kabupaten Tana Tidung masih sebesar 1% dari total lahan menghasilkan yang ada.

Komponen ketiga yaitu komponen PPW yang menunjukkan baik tidaknya daya saing dari suatu sektor ekonomi. Nilai PPWij > 0 artinya sektor tersebut

berdaya saing baik. Pada Tabel 9, dapat diketahui bahwa sektor dengan nilai PPW terbesar dimiliki oleh sektor pertambangan dan sektor perkebunan dengan nilai masing-masing 52.67% dan 40.43%, artinya kedua sektor ini mempunyai daya saing paling baik dibandingkan sektor keuangan, sektor perdagangan dan sektor bangunan yang juga memiliki nilai PPW positif. Apabila dicermati antara sektor pertambangan dan perkebunan, sektor perkebunan yang tumbuh lebih cepat dari sektor pertambangan ternyata masih belum mampu mengungguli daya saing

Tabel 9 Pertumbuhan dan daya saing sektor ekonomi di Provinsi Kalimantan Utara berdasarkan perhitungan shift share tahun 2008 hingga 2012

Lapangan Usaha

Komponen PN Komponen PP Komponen PPW Juta (Rp) % Juta (Rp) % Juta (Rp) %

Pertanian 321,782.55 25.76 (130,176.77) (10.42) (178,935.91) (14.33) Pangan 190,210.28 25.76 (73,687.73) (9.98) (90,714.45) (12.29) Perkebunan 24,996.98 25.76 (8,657.29) (8.92) 39,226.78 40.43 Kehutanan 106,575.29 25.76 (84,576.98) (20.44) (90,703.02) (21.93) Prtambangan 274,573.31 25.76 (147,171.67) (13.81) 561,320.51 52.67 Ind.Pnglhan 192,767.63 25.76 (41,943.34) (5.61) (583,104.16) (77.93) Listrik 19,475.24 25.76 6,168.19 8.16 (3,615.42) (4.78) Bangunan 87,978.57 25.76 15,964.87 4.67 2,213.73 0.65 Perdagangan 356,748.51 25.76 59,246.54 4.28 66,296.36 4.79 Pngangkutan 104,425.59 25.76 138,623.80 34.20 (89,299.03) (22.03) Keuangan 61,234.98 25.76 3,596.94 1.51 23,532.02 9.90 Jasa-jasa 81,265.68 25.76 3,411.23 1.08 (5,686.68) (1.80) Total 1,473,679.88 25.76 - - (164,132.74) (2.87)

32

sektor pertambangan. Namun dengan pertumbuhan yang lambat, sektor perkebunan telah cukup berhasil menunjukkan bahwa sektor ini berdaya saing.

Selain itu, telah dijelaskan dalam Renstra BPTP Kaltim tahun 2010 hingga 2014, sektor perkebunan akan menerima dampak dari sektor pertambangan apabila sektor pertambangan tidak dibatasi pertumbuhannya. Oleh karena itu, untuk tetap menjaga dan meningkatkan pertumbuhan dan daya saing sektor perkebunan, pemerintah akan melaksanakan perlindungan lahan pertanian dan perkebunan dari konversi dan rehabilitasi lahan bekas tambang agar dapat dimanfaatkan kembali menjadi lahan pertanian maupun perkebunan.

Pergeseran Bersih dan Profil Pertumbuhan Sektor Ekonomi Kalimantan Utara

Profil pertumbuhan sektor ekonomi di Provinsi Kalimantan Utara dapat dievaluasi dengan menggunakan nilai pergeseran bersih (PB) yang diperoleh dari penjumlahan nilai PP dan PPW setiap sektor ekonomi. Apabila nilai PBij > 0

artinya pertumbuhan sektor i termasuk ke dalam kelompok maju.

Berdasarkan Tabel 10, selama tahun 2008 hingga 2012 di Provinsi Kalimantan Utara terdapat tujuh yang memiliki PB positif termasuk satu sektor di sektor pertanian, yaitu sektor perkebunan sebesar 31.51%, sektor pertambangan sebesar 38.86%, sektor listrik, gas dan air bersih sebesar 3.38%, sektor bangunan sebesar 5.32%, sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 9.07%, sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar 12.17% dan sektor jasa sebesar 11.41%. Kutujuh sektor tersebut dikelompokkan ke dalam sektor dengan pertumbuhan maju atau progresif. Dan sektor lainnya dikategorikan menjadi sektor dengan pertumbuhan lambat yaitu sektor pertanian secara keseluruhan sebesar -24.75%, sektor industri pengolahan sebesar -83.53%, sektor jasa sebesar -0.72% dan jika dari sektor pertanian terdapat sektor pertanian tanaman pangan dan kehutanan

Tabel 10 Nilai pergeseran bersih Provinsi Kalimantan Utara tahun 2008 hingga 2012

Lapangan Usaha Pertumbuhan Bersih (PB)

Juta (Rp) % Pertanian (309,112.68) (24.75) Pangan (164,402.18) (22.27) Perkebunan 30,569.49 31.51 Kehutanan (175,279.99) (42.37) Pertambangan 414,148.84 38.86 Industri Pengolahan (625,047.49) (83.53) Listrik 2,552.77 3.38 Bangunan 18,178.61 5.32 Perdagangan 125,542.90 9.07 Pengangkutan 49,324.77 12.17 Keuangan 27,128.95 11.41 Jasa-jasa (2,275.44) (0.72) Total (164,132.74) (2.87)

33 dengan nilai PB masing-masing -22.27% dan -42.37%.

Nilai total pergeseran bersih sektor ekonomi Provinsi Kalimantan Utara sebesar -2.87%, artinya bahwa perekonomian di Provinsi Kalimantan Utara memiliki laju pertumbuhan yang lambat meskipun tujuh dari sekian sektor yang ditampilkan merupakan sektor dengan pertumbuhan yang maju.

Pada Gambar 3, garis yang memotong kuadran II dan IV menunjukkan nilai PBij = 0. Sektor-sektor yang berada di atas garis PB (PBij > 0) termasuk sektor

dengan pertumbuhan maju, yaitu sektor pertambangan, sektor perkebunan, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, sektor bangunan dan sektor pengangkutan dan komunikasi. Sebaliknya sektor yang berada di bawah garis PB (PBij < 0) menunjukkan sektor dengan

pertumbuhan lambat.

Sementara untuk sektor perkebunan yang berada di kuadran II menunjukkan bahwa sektor perkebunan memiliki daya saing yang baik dengan pertumbuhan lambat. Sektor ini merupakan sektor yang potensial, yaitu memiliki potensi besar untuk dikembangkan dalam suatu wilayah karena PBij > 0 (Zainudin, 2012).

Analisis Wilayah Pengembangan Sektor Basis

Identifikasi sektor basis di Provinsi Kalimantan Utara dengan metode shift share menunjukkan bahwa sektor perkebunan merupakan sektor yang memiliki daya saing paling baik dan layak dikembangkan menjadi sektor basis. Pembangunan ekonomi di Provinsi Kalimantan Utara dengan sektor basis akan lebih optimal apabila pemerintah mengetahui bagaimana potensi yang dimiliki oleh masing-masing kabupaten/kota, sehingga dapat ditetapkan satu wilayah sebagai pusat pengembangan sektor perkebunan.

Dokumen terkait