II.3. ASPEK PELAYANAN UMUM
II.3.1. FOKUS LAYANAN URUSAN WAJIB
II.3.2.3. RASIO DAYA SERAP TENAGA KERJA
Penyerapan Tenaga Kerja di Kota Bogor pada Tahun 2012 sebanyak 1.997 orang. Sedangkan untuk tahun 2013, dengan jumlah perusahaan PMA sebanyak 61 dan PMDN sebanyak 1.414. Adapun penyerapan tenaga kerja di Kota Bogor pada Tahun 2013 sebanyak 2.696 orang.
Penyerapan tenaga kerja menurut jumlah seluruh PMA/PMDN menunjukkan kenaikan dari tahun 2012 sampai tahun 2013. Peningkatan jumlah seluruh PMA/PMDN dan jumlah tenaga kerja yang sangat signifikan di rentang tahun tersebut menyebabkan rasio daya serap tenaga kerja meningkat hingga mencapai 2,98. Hasil analisis rasio daya serap tenaga kerja di Kota Bogor, dapat disajikan dalam tabel sebagai berikut:
Tabel II. 69 Rasio Daya Serap Tenaga Kerja Tahun 2009 s.d 2013 Kota Bogor
NO URAIAN 2009 2010 2011 2012 2013
1 Jumlah tenaga kerja yang berkerja pada perusahaan PMA/PMDN
- - - 1.997 2.696
2 Jumlah seluruh PMA/PMDN - 96 138 242 904
3 Rasio daya serap tenaga
kerja - - - 8,25 2,98
Sumber: Laporan Keterangan Pertanggung Jawaban (LKPJ) Tahun 2013, BPPTPM Kota Bogor
II.3.2.4. PERTANIAN
Laju alih fungsi lahan pertanian menjadi lahan non pertanian di Kota Bogor semakin tinggi. Alih fungsi lahan ini tentu berimplikasi kepada produksi pangan, lingkungan fisik serta kesejahteraan masyarakat pertanian yang kehidupannya tergantung pada lahannya. Lahan pertanian (sawah) di Kota Bogor hingga saat ini tercatat 750 hektar dengan jumlah penduduk yang
76
bergantung pada sektor pertanian sekitar 72.388 jiwa (Kota Bogor Dalam Angka 2012) hampir sepuluh persen dari jumlah penduduk Kota Bogor.
Dalam rangka mengendalikan laju alih fungsi lahan pertanian pangan ini, pada tahun 2009 Pemerintah menetapkan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) yang didalamnya menjelaskan mengenai Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) adalah bidang lahan pertanian yang ditetapkan untuk dilindungi dan dikembangkan secara konsisten guna menghasilkan pangan pokok bagi kemandirian, ketahanan dan kedaulatan pangan nasional. LP2B dapat berupa lahan beririgasi, lahan reklamasi rawa pasang surut dan non pasang surut (lebak) dan/atau lahan tidak beririgasi (lahan kering).
Pada UU Nomor 41/2009 pasal 23 dengan tegas disebutkan bahwa penetapan Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan Nasional diatur dalam Peraturan Pemerintah mengenani Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional dan untuk di Tingkat Provinsi diatur dalam Perda mengenai tata ruang wilayah provinsi serta di kabupaten/kota diatur dalam Perda tata ruang wilayah kabupaten/kota. Demikian juga halnya apabila suatu Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan tertentu memerlukan perlindungan khusus, kawasan tersebut dapat ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN)
Dalam rangka pelaksanaan perlindungan dan pengendalian LP2B langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh Pemerintah pusat dan Pemerintah daerah antara lain: pemberian insentif, disinsentif, mekanisme perizinan, proteksi dan penyuluhan.
Pemberian insentif diberikan dengan mempertimbangkan: jenis lahan, kesuburan tanah, luas kondisi irigasi, produktivitas usaha tani, lokasi dan lain-lain. Pemberian insentif dapat dilakukan dengan cara:
1. Keringanan PBB
2. Pengembangan infrastruktur pertanian
3. Pembiayaan penelitian dan pengembangan benih dan varietas unggul 4. Kemudahan dalam mengkases informasi dan teknologi
5. Penyediaan sarana dan prasarana produksi pertanian
6. Jaminan penerbitan sertifikat bidang tanah pertanian tanaman pangan 7. Penghargaan bagi petani berprestasi tinggi.
Realisasi panen tanaman padi di lahan seluas 689 hektar, dengan jumlah produksi padi sebesar 4271,8 ton Gabah Kering Panen (GKP) diperoleh produktivitas padi per tahun rata-rata mencapai 6,2 ton per hektar. Apabila dikonversi ke komoditi pangan beras, maka beras yang dihasilkan Kota Bogor selama tahun 2013 adalah 2392,21 ton beras (konversi dari Padi GKP ke beras
= 56%).
Kebutuhan beras per kapita per tahun sebanyak 120 kg per jiwa per tahun, maka dengan jumlah penduduk sebanyak 967.398 jiwa, Kota Bogor membutuhkan beras sebanyak 116.087,760 ton per tahun. Berdasarkan data hasil produksi beras lokal Kota Bogor yang berjumlah 2392,21 ton beras, maka kontribusi produksi beras lokal Kota Bogor pada tahun 2013 sebesar 2,10 persen.
Palawija di Kota Bogor yang memiliki jumlah produksi terbesar yaitu talas dan ubi kayu, tahun 2012 produksi tanaman talas mencapai 3.232,65 ton dan ubi kayu sebanyak 3.140,28 ton. Untuk lebih jelasnya mengenai target dan realisasi produksi tanaman palawija telah tersaji pada Tabel II. 70.
Kangkung menjadi komoditas sayuran di Kota Bogor yang mempunyai produksi terbesar di tahun 2012 yaitu sebesar 979 ton. Tanaman tomat juga termasuk tanaman sayuran yang jumlah produksinya besar yaitu 702 ton.
Untuk target, realisasi dan produksi tanaman sayuran telah tersaji pada Tabel II. 71.
77
Tabel II. 70 Target dan Realisasi Produksi Palawija
TANAMAN 2011 2012
Sumber: Kota Bogor Dalam Angka, 2013
Tabel II. 71 Target, Realisasi dan Produsi Tanaman Sayuran Menurut Jenis Tanaman di kota Bogor
Sumber: Kota Bogor Dalam Angka, 2013
Buah jambu biji pada tahun 2012 menghasilkan 1.128 ton sementara buah-buahan lainnya hanya berproduksi tidak lebih dari 400 ton. Pada 2012, produksi tanaman obat-obatan juga meningkat, temulawak menghasilkan 174,61 ton, diikuti mengkudu/pace sebesar 143,50 ton dan laos sebesar 114,55 ton.
Tabel II. 72 Banyaknya Pohon Ditanam, Dipanen dan Produksi Tanaman Buah-buahan di Kota Bogor
Sumber: Kota Bogor Dalam Angka,2013
Tabel II. 73 Luas Tanam, Luas Panen dan Produksi Tanaman Obat-obatan menurut Jenis Tanaman
Sumber: Kota Bogor Dalam Angka, 2013
78 II.3.2.5. PETERNAKAN
Di bidang peternakan, tercatat populasi hewan ternak besar terdiri dari 874 ekor sapi perah, 212 ekor sapi potong dan 181 ekor kerbau. Ternak kecil terdiri dari 12.094 ekor domba dan 1.298 ekor kambing, sedangkan untuk ternak unggas terdiri dari 205.610 ekor ayam ras pedaging, 131.850 ekor ayam bukan ras dan 5.224 ekor itik. Untuk produksi daging tahun 2013, dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel II. 74 Data Produksi Daging Kota Bogor Tahun 2013 NO. KOMODITI DAGING PRODUKSI (KG)
JUMLAH LOKAL RPH/TPH/TPA
1 Sapi 0,00 3.263.048 3.263.048
2 Kerbau 0,00 0,00 0,00
3 Kambing/Domba 99.244 0,00 99.244
5 Ayam: 0,00 0,00 0,00
- Buras 113.870 0,00 113.870
- Broiler 0 8.417.923 8.417.923
6 Itik 3.050 0,00 3.050
Jumlah 216.164 11.680.971 11.897.135
Sumber: Laporan Keterangan Pertanggung Jawaban (LKPJ) Walikota Bogor Tahun 2013
Dari Tabel II. 74 diperoleh total produksi daging Kota Bogor tahun 2013 mencapai 11.897.135 kg. Komoditi daging Ayam Broiler mempunyai total produksi terbesar yaitu sebesar 8.417.923 kg dengan seluruh produksinya berasal dari RPH/TPH/TPA. Komoditi daging Itik mempunyai total produksi terkecil yaitu 3.050 kg dengan seluruh produksinya berasal dari lokal.
Total produksi daging Kota Bogor tahun 2013 mencapai11.897.135 kg.
Kebutuhan konsumsi daging masyarakat Kota Bogor (target daerah) adalah sebesar 10,1 x 967.398=9.770.719,8 kg/kapita/thn. Sehingga tingkat capaian kinerja produksi daging mencapai 121,8 persen.
Jumlah produksi telur (ayam buras, itik dan ayam petelur/layer) sebanyak 53.959 kg dengan norma gizi (Nasional) 6,10 dan jumlah penduduk 967.398 jiwa, maka diperolah kebutuhan telur di Kota Bogor sebesar 5.901.127,8 kg, sehingga kemampuan produksi Kota Bogor sebesar 0,9 persen.
Untuk memenuhi kebutuhan telur di Kota Bogor maka didatangkan telur dari luar Kota Bogor.
Produksi susu berupa susu sapi murni sebanyak 1.850.188 liter, merupakan susu produksi sapi perah yang dipelihara masyarakat dengan populasi sebanyak 874 ekor. Dengan norma gizi (nasional) 4,70 dan jumlah penduduk 967.398 jiwa, maka diperoleh kebutuhan susu di Kota Bogor sebesar 4.546.770,6 liter, sehingga kemampuan produksi susu Kota Bogor tahun 2013 sebesar 40,68 persen. Untuk memenuhi kebutuhan susu di kota Bogor dipenuhi dari produk susu pabrikan yang banyak beredar di pasar.
II.3.2.6. PERIKANAN
Produksi ikan di Kota Bogor tahun 2012 menurut tempat penangkapan/pemeliharaan sebagian besar berasal dari budi daya ikan kolam dengan total produksi sebesar 3.295,1 ton dan luasan kolam sebesar 264.000 hektar. Kecamatan Tanah Sareal merupakan kecamatan penyumbang terbesar terhadap produksi ikan di Kota Bogor. Jumlah produksi ikan dari tahun 2011 sampai 2012 terus meningkat untuk budi daya kolam, sawah dan keramba.
Untuk lebih jelasnya mengenai luas areal dan jumlah produksi ikan menurut tempat penangkapan/pemeliharaan dapat dilihat pada tabel berikut.
79
Tabel II. 75 Luas Areal dan Jumlah Produksi Ikan Menurut Tempat Penangkapan/Pemeliaraan per Kecamatan Sumber: Kota Bogor Dalam Angka,2013
II.3.2.7. PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN