3.1. Jumlah siswa kelompok usia 16-18 tahun yang bersekolah di jenjang pendidikan
SMA/MA/SMK
38.318 38.244 38.028 40.506 47.159
3.2. Jumlahpenduduk kelompok usia
16-18 tahun 51.246 54.906 51.560 51.560 52.631 3.3. APM SMA/MA/SMK 74,77 69,65 73,75 78,56 89,60 Sumber: Data Dinas Pendidikan Kota Bogor, 2013
Realisasi APM SD/Mi di kota Bogor pada tahun 2013 tercatat sebesar 97,18. Jika membandingkan dengan tahun lalu jumlah ini mengalami penurunan sebesar 5,88 poin, pada tahun 2012 nilai APM mencapai 103,06.
Penurunan angka ini disebabkan oleh penurunan jumlah siswa kelompok usia 7-12 tahun yang bersekolah di jenjang pendidikan SD/MI yaitu penurunan sebanyak 1.791 siswa dimana pada tahun 2012 sebanyak 108.407 siswa pada tahun 2013 turun menjadi 106.616 siswa.
Realisasi APM SMP/MTs di Kota Bogor pada tahun 2013 mencapai angka 89,60, jika dibandingkan dengan tahun lalu penurunan ini cukup signifikan karena pada tahun 2012 nilai APM SMP/MTs mencapai 128,40. Penurunan ini disebabkan berkurangnya jumlah siswa kelompok usia 13-15 tahun yang bersekolah di jenjang pendidikan SMP/MTs yang tahun 2012 berjumlah 51.480 siswa, pada tahun 2013 hanya 47.159 siswa. Capaian APM SMA/MA/SMK di Kota Bogor pada tahun 2013 mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari tahun sebelumnya dimana pada tahun 2012 hanya mencapai nilai 78,56 pada tahun 2013 APM SMA/MA/SMK Kota Bogor mencapai angka 89,60.
Tabel II. 40 Angka Partisipasi Murni Tahun 2013 menurut Kecamatan Kota Bogor
NO KECAM ATAN
SD/MI SMP/MTS SMA/MA/SMK
JUMLAH
59
NO KECAM ATAN
SD/MI SMP/MTS SMA/MA/SMK
JUMLAH
Sumber: Data Dinas Pendidikan Kota Bogor, 2013
Jika membandingkan nilai APM berdasarkan kecamatan, maka realisasi APM SD/MI di Kecamatan Bogor Tengah merupakan yang paling tinggi yakni mencapai angka 167, sementara APM SD/MI yang paling rendah di tingkat kecamatan adalah kecamatan Bogor Utara yaitu hanya mencapai 76. Senada dengan APM di tingkat SD/MI, realisasi APM SMP/MTs di Kecamatan Bogor Tengah merupakan yang paling tinggi nilai partisipasinya yakni mencapai 374.
Sementara yang paling rendah nilai partisipasinya adalah Kecamatan Bogor Timur dengan angka 36. Nilai ini sangat rendah jika dibandingkan dengan standar nilai tertinggi APM Nasional dengan angka 100. Untuk capaian APM tingkat SMA/MA/SMK nilai APM yang paling tinggi berasal dari Kecamatan Bogor Tengah dengan nilai APM sebesar 128, sementara paling rendah berasal dari Kecamatan Bogor Selatan yang hanya mencapai nilai 38.
II.2.2.2. KESEHATAN
II.2.2.2.1. ANGKA KELANGSUNGAN HIDUP BAYI
Kesehatan merupakan salah satu faktor penting yang berpengaruh terhadap kualitas sumberdaya manusia. Tujuan dari pembangunan kesehatan adalah terwujudnya derajat kesehatan masyarakat yang optimal sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum. Angka Kematian Bayi per 1.000 kelahiran mencapai 19,52. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan standar nasional yaitu 40 per kelahiran hidup. Nilai AKB 19,52 per kelahiran hidup termasuk kategori angka kematian hardrock yang sangat sulit untuk diturunkan ke depannya dalam hal jumlah. Tahap hardrock merupakan tahap ketiga dari Infrant Mortality Rate (IMR) dengan besar IMR dibawah 30 per 1000 kelahiran. Sementara Angka Kematian Ibu (AKI) mencapai 13.
Angka Kelangsungan Hidup Bayi (AKHB) pada tahun 2013 di Kota Bogor sebesar 996,75 menggambarkan peluang bayi yang hidup usia di bawah satu tahun diantara 1.000 bayi yang lahir adalah sebanyak 996,75 bayi. Jika melihat dari cakupan kecamatan di Kota Bogor, maka kecamatan dengan AKHB paling tinggi ditunjukkan pada Kecamatan Bogor Timur yakni sebesar 998,02 bayi setiap 1.000 bayi yang lahir. Pada umumnya setiap kecamatan di Kota Bogor harapan seorang bayi hidup cukup tinggi dengan AKHB berkisar antara 994,75 hingga 998,02 bayi.
Tabel II. 41 Jumlah Kematian Bayi, Kelahiran Hidup, Angka Kematian Bayi, Angka Kematian Ibu dan Angka Kelangsungan Hidup Bayi Kota Bogor Tahun 2013 KECAMATAN 11, Bogor Utara 11, Bogor selatan 14, Tanah Sareal 11
60
Sumber: Data Dinas Kesehatan Kota Bogor, 2013 II.2.2.2.2. ANGKA HARAPAN HIDUP
Angka Harapan Hidup (AHH) merupakan rata-rata perkiraan banyaknya tahun yang dapat ditempuh seseorang selama hidupnya. Indikator ini sering digunakan untuk mengevaluasi kinerja pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk khususnya di bidang kesehatan. Berdasarkan sumber IPM Kota Bogor Tahun 2012, AHH di Kota Bogor dalam kurun waktu 2007-2011 menunjukkan peningkatan, dimana pada tahun 2010 AHH penduduk Kota Bogor mencapai 68,87 tahun dan pada tahun 2011 meningkat sebesar 0,09 menjadi 68,96 tahun.
Peningkatan AHH di Kota Bogor cukup baik walaupun peningkatan dari tahun ke tahun tidak begitu signifikan, untuk itu beberapa variabel yang memiliki hubungan terhadap angka harapan hidup perlu lebih diperhatikan lagi, seperti persentase penolong persalinan medis, jumlah dokter, persentase angka kesakitan, keadaan lingkungan perumahan dan penyediaan air bersih sehingga peningkatan AHH di Kota Bogor lebih signifikan di tahun yang akan datang.
II.2.2.2.3. PERSENTASE BALITA GIZI BURUK
Persentase balita gizi buruk adalah persentase balita dalam kondisi gizi buruk terhadap jumlah balita. Gizi buruk adalah bentuk terparah dari proses terjadinya kekurangan gizi menahun. Status gizi tidak hanya diketahui dengan mengukur berat badan (BB) atau tinggi badan (TB) sesuai dengan umur (U) secara masing-masing, tetapi juga dalam bentuk indikator yang dapat merupakan kombinasi antara ketiganya. Masing-masing indikator mempunyai makna tersendiri. Seperti kombinasi antara BB dan U membentuk indikator BB menurut U yang disimpulkan dengan “BB/U” kombinasi antara TB dan U atau “TB/U dan kombinasi antara BB dan TB membentuk indikator BB menurut TB atau “BB/TB”.
Tabel II. 42 Jumlah Balita Gizi Buruk di Kecamatan Kota Bogor Tahun 2009-2013 NO KECAMATAN JUMLAH BALITA GIZI BURUK
2009 2010 2011 2012 2013
Sumber: Data Dinas Kesehatan Kota Bogor, 2013
Jumlah balita yang menderita gizi buruk di Kota Bogor pada tahun 2013 tercatat sebanyak 378 kasus, dimana angka balita gizi buruk paling banyak berasal dari Kecamatan Bogor Utara yakni sebanyak 94 kasus, angka ini mengalami peningkatan dibanding tahun tahun sebelumnya, terlihat pada tabel di atas, pada tahun 2011 kasus balita gizi buruk terdapat 41 kasus,
Comment [A2]: Bogor Tengahnya hilang.. ????
Comment [A3]: 4
Comment [A4]: 3804 Comment [A5]: 1 Comment [A6]: 19749 Comment [A7]: 13
61
kemudian pada tahun 2012 meningkat lagi sebesar 19 kasus menjadi 60 kasus, dan pada tahun 2013 mengalami peningkatan sebesar 34 kasus.
Jumlah kasus balita gizi buruk di Kecamatan Bogor Utara ini cukup memprihatinkan karena jika merujuk pada tabel di atas, maka terlihat kecamatan lainnya di Kota Bogor justru mengalami penurunan kasus balita gizi buruk seperti di Kecamatan Bogor Barat yang penurunan angka gizi buruknya cukup signifikan yakni sebesar 95 kasus.
Untuk kasus balita gizi buruk paling sedikit terjadi di Kecamatan Bogor Timur yang hanya ditemukan delapan kasus, angkanya menurun dari tahun lalu dengan jumlah sebanyak satu kasus. Penurunan jumlah balita gizi buruk di sebagian besar kecamatan di Kota Bogor menunjukkan adanya peningkatan kesadaran dan peran posyandu yang semakin membaik.
Tabel II. 43 Jumlah Balita di Kecamatan Kota Bogor Tahun 2009-2013
NO KECAMATAN JUMLAH BALITA
2009 2010 2011 2012 2013 1 Bogor Barat 13.814 24.210 13.953 17.941 18.305
2 Bogor Timur 6.764 6.756 7.195 7.722 7.922
3 Bogor Utara 12.347 11.894 12.355 12.622 13.832 4 Bogor Selatan 13.803 14.819 14.051 14.625 16.509
5 Bogor Tengah 7.732 6.682 7.337 7.289 7.769
6 Tanah Sareal 16.241 17.348 14.569 16.308 15.470
Jumlah 70.701 81.709 69.460 76.507 79.807
Sumber: Data Dinas Kesehatan Kota Bogor, 2013
Jumlah balita di Kota Bogor pada tahun 2013 berjumlah 79.807 jiwa jumlah ini meningkat dibanding dua tahun sebelumnya yakni sebanyak 69.460 jiwa di tahun 2011 dan 76.507 jiwa di tahun 2012. Jumlah balita paling banyak tercatat berasal dari kecamatan Bogor Barat yakni sebanyak 18.305 jiwa dan kecamatan dengan jumlah balita paling sedikit adalah Kecamatan Bogor Tengah yakni sebanyak 7.769 jiwa.
Tabel II. 44 Persentase Balita Gizi Buruk di Kota Bogor Menurut Kecamatan Tahun 2009-2013
NO. KECAMATAN PERSENTASE BALITA GIZI BURUK 2009 2010 2011 2012 2013
1 Bogor Barat 0,34 0,19 0,91 0,76 0,23
2 Bogor Timur 0,2 1,33 0,9 0,14 0,1
3 Bogor Utara 0,38 0,3 0,33 0,47 0,68
4 Bogor Selatan 0,42 0,93 0,92 0,64 0,49
5 Bogor Tengah 0,41 0,32 1,3 0,85 0,81
6 Tanah Sareal 0,18 0,25 0,65 0,58 0,57
Jumlah 0,32 0,36 0,79 0,6 0,47
Sumber: Data Dinas Pendidikan Kota Bogor, 2013
Persentase jumlah balita yang menderita gizi buruk di Kota Bogor pada tahun 2013 adalah sebesar 0,47 persen, besarnya persentase ini menunjukkan adanya penurunan balita gizi buruk dari tahun 2011 hingga tahun 2013.
Penurunan persentase balita gizi buruk juga mengindikasikan adanya peningkatan kesehatan balita itu sendiri dan kesadaran ibu-ibu untuk memberikan makanan yang bergizi untuk anaknya.
II.2.2.2.4. KESEMPATAN KERJA (RASIO PENDUDUK YANG BEKERJA) Penduduk Kota Bogor pada tahun 2012 terdapat sebanyak 1.004.831 orang yang terdiri atas 510.884 orang laki-laki dan sebanyak 493.947 perempuan. Dibandingkan dengan tahun 2011 jumlah penduduk Kota Bogor pada tahun 2012 bertambah sebanyak 37.433 orang atau meningkat sebanyak
62
3,87 persen. Berdasarkan hasil survei angkatan kerja nasional, jumlah penduduk usia kerja (15 tahun ke atas) pada tahun 2012 terdapat sebanyak 422.528 orang.
Dari seluruh penduduk usia kerja sebanyak 422.528 orang termasuk kedalam kelompok angkatan kerja. Sebanyak 383.111 orang diantaranya adalah penduduk yang bekerja dan sisanya sebanyak 39.417 orang adalah pengangguran yang sedang mencari pekerjaan.
Tabel II. 45 Rasio Penduduk yang Bekerja dengan Angkatan Kerja GOLONGAN
UMUR
ANGKATAN KERJA JUMLAH PENDUDUK USIA 15 TAHUN
KEATAS(BEKERJA+MENCAR I PEKERJAAN) BEKERJA MENCARI PEKERJAAN
(MENGANGGUR)
15-19 17.290 9.989 27.279
20-24 37.385 12.018 49.403
25-29 46.012 3.355 49.367
30-34 68.054 3.903 71.957
35-39 58.728 1.488 60.216
40-44 46.312 1.488 47.800
45-49 37.630 2.480 40.110
50-54 34.632 3.630 38.262
55-59 16.706 533 17.239
60-64 11.821 533 12.354
65+ 8.541 0 8.541
Jumlah 383.111 39.417 422.528
Sumber:Bogor Dalam Angka, 2013
Tabel II. 46 Rasio Angkatan Kerja GOLONGAN
UMUR
JUMLAH PENDUDUK
BEKERJA
JUMLAH ANGKATAN
BEKERJA RASIO PENDUDUK YANG BEKERJA
15-19 17.290 27.279 0,63
20-24 37.385 49.403 0,76
25-29 46.012 49.367 0,93
30-34 68.054 71.957 0,95
35-39 58.728 60.216 0,98
40-44 46.312 47.800 0,97
44-49 37.630 40.110 0,94
50-54 34.632 38.262 0,91
55-59 16.706 17.239 0,97
60-64 11.821 12.354 0,96
65+ 8.541 8.541 1,00
Jumlah 383.111 422.528 0,91
Sumber:Bogor Dalam Angka 2013
Kesempatan kerja merupakan hubungan antara angkatan kerja dengan kemampuan penyerapan tenaga kerja. Pertambahan angkatan kerja harus diimbangi dengan investasi yang dapat menciptakan kesempatan kerja sehingga diharapkan dapat menyerap pertambahan angkatan kerja, sedangkan rasio penduduk yang bekerja adalah perbandingan jumlah penduduk yang bekerja terhadap jumlah angkatan kerja. Rasio penduduk yang bekerja Kota Bogor pada Tahun 2012 mencapai 0,91 (Tabel II. 46), berdasarkan nilai tersebut dapat disimpulkan bahwa 91 persen dari angkatan kerja yang ada di Kota Bogor memperoleh kesempatan kerja sedangkan sembilan persen masih mencari kerja atau pengangguran.
63
Pada umumnya penduduk yang bekerja di Kota Bogor terserap pada lapangan pekerjaan sektor Perdagangan dan Jasa. Dengan rincian sebanyak 115.406 orang bekerja pada lapangan pekerjaan sektor Perdagangan, Rumah Makan dan Hotel, sedangkan yang bekerja pada lapangan pekerjaan sektor Jasa terdapat sebanyak 113.108 orang.
Tabel II. 47 Jumlah Pekerja Menurut Lapangan Kerja
LAPANGAN KERJA TAHUN
2008 2009 2010 2011 2012
Pertanian 11.598 12.137 6.920 4.703 6.198
Industri Pengolahan 47.792 68.605 63.597 60.857 67.674 Perdagangan, Hotel dan
Resort 66.572 111.737 108.820 112.774 115.406
Jasa 133.074 96.022 99.031 113.697 113.108
Lain-lain 91.344 96.987 68.359 99.190 80.725
Jumlah 350.380 385.488 346.727 391.221 383.111 Sumber: Bogor Dalam Angka, 2013