• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rasyid Ridha

Dalam dokumen Kitab-kitab Tafsir (Halaman 98-103)

TAFSIR PERIODE PERTENGAHAN (Tahun 656 H /XII H.) (masa ulama’ muta’akhkhirin)

KITAB TAFSIR PERIODE MODERN (ABAD XIII H./XIX M – SEKARANG)

2. Rasyid Ridha

Nama lengkapnya adalah Muhammad Rasyid ibn Ali Ridha ibn Muhammad Syams Din al-Qalamuny. Beliau dilahirkan di Syria (Syam) pada tanggal 27 tahun 1282 H (1865 M).

Pendidikan Rasyid Ridha dimulai di Madrasah tradisional Qalamun untuk belajar al-Qur’an disamping belajar membaca dan berhitung. Kemudian pada tahun 1882 M ia meneruskan studinya di Madrasah al-Wathaniyah al-Islam di Tripoli. Namun, beliau tidak dapat lama belajar di sana karena sekolah tersebut harus ditutup setelah mendapat tantangan hebat dari pemerintah kerajaan Utsmani.

Setelah itu, ia kembali lagi ke Tripoli (Syria) untuk melancarkan ide-ide pembaharuan dengan bekal keilmuwannya. Namun, usahanya mendapat kecaman dan intimidasi dan pihak pemerintah Utsmani, yang membuat Rasyid Ridha akhirnya memutuskan untuk pindah ke Mesir pada tahun 1898 M., di Mesir Rasyid Ridha menjadi murid Muhammad Abduh dalam usaha-usaha melancarkan pembaharuan.

Beberapa bulan di Mesir, la berhasil menerbitkan sebuah majalah yang terkenal yakni al-Manar. Adapun tujuan dari penerbitan majalah ini untuk melanjutkan misi majalah al-‘Urwah (Muhamamad Abduh dan Jamaluddin al-Afghani) yang diantaranya adalah mengadakan pembaharuan dalam bidang agama, sosial, ekonomi, mengikis takhayul, khurafat dan bid'ah yang merusak ajaran Islam.

Selain menerbitkan majalah al-Manar, Rasyid Ridha sangat raiin menulis dan mengarang dalam bentuk berbagai buku dan kitab. Salah satunya adalah penulisan tafsir modern terhadap al-Qur’an yang diberi nama tafsir al-Manar. Hal ini bemula dari anjuran Rasyid Ridha kepada Gurunya, Muhammad Abduh agar membuat tafsir al-Qur’an

yang sesual dengan ide-ide pembaharuan yang dicanangkannya. Pada mulanya, Muhammad Abduh menolak gagasan tersebut, namun karena selalu di desak Rasyid Ridha, akhirnya, Muhammad Abduh menyetujuinya dengan cara memberikan semacam perkualiahan mengenai tafsir al-Qur’an di al-Azhar. Dan perkualiahan tersebut dicatat oleh Rasyid Ridha untuk disusun dalam bentuk karangan. Tulisan tersebut diperiksa kembali oleh Muhammad Abduh dan setelah mendapatkan pengesahan baru disiarkan dalam al-Manar. Sebelum wafatnya tahun 1905, Muhammad Abduh sempat menyusun tafsir tersebut sampai pada surat al-Nisa’ ayat 125, yakni baru jilid ketiga dari tafsir al-Manar. Kemudian, Tafsir tersebut dilanjutkan oleh Rasyid Ridha.

Di samping itu, Rasyid Ridha mampu mendirikan sekolah yang diberi nama “al-Madrasah al-Dakwah Wwa al-lrsyad” pada tahun 1912 M di Kairo. Namun, sayang sekali umur sekolahan tersebut tidak panjang, karena waktu itu terjadi perang Dunia I dan sekolahan tersebut terpaksa harus ditutup. Selain bergerak dalam bidang mengarang dan pendidikan Rasyid Ridha juga aktif dalam bidang politik. Namun, perjuangannya tidak berlangsung lama. Di masa tuanya, Rasyid Ridha sering terganggu kesehatannya. Walaupun begitu, ia tidak suka diam dan selalu aktif dalam perjuangannya. Akhirnya, tokoh pembaharu ini menemui ajalnya pada bulan Agustus 1935 M.

Adapun karya-karya Rasyid Ridha lainnya adalah: Tarikh al-Ustadz al-Imam al-Syekh Muhammad Abduh, Nida’u li Jinsi Latif, Wahyu Muhammadiy, Yusra Islam wa Usul Tasyri’ ‘Am, Khilafat, Wahabiyyah wa al-Hijaz, Muhawarat al-Muslih wa al-Muqallid, dan lain-lain.

Kitab Tafsir al-Manar diterbitkan pada 22 Syawal 1315 H. Hal ini di latar belakangi oleh keinginan Rasyid Ridha untuk menerbitkan sebuah surat kabar yang membahas masalah sosial-budaya dan agama. Awalnya al-Manar diterbitkan secara serial dan periode, ternyata mendapatkan sambutan hangat, bukan hanya di Mesir dan negara-negara Arab lainnya, namun juga sampai ke Eropa dan Indonesia.

Kitab ini terdiri dari 12 jus dari al-Qur’an, yakni surat al-Fatihah sampai dengan surat Yusuf ayat 53. Penafsiran dari awal sampai surat al-Nisa’ ayat 126 diambil dari pemikiran tafsir Muhammad Abduh dan selebihnya dilanjutkan oleh Rasyid Ridha (muridnya) dengan mengikuti metode Muhammad Abduh. Masing-masing dari 12 jus mencakup 1 jus dari al-Qur'an. Dan ketebalan dari setiap jilidnya sekitamya 500 halaman. Ayat-ayatnya dikelompokkan dalam 1 kesatuan yang logis.

d. Metodologi Penafsiran.

Tafsir ini menggunakan metode Ilmy karena penafsirannya memfokuskan pada kajian-kajian ilmiah untuk menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan alam, atau tafsir yang memberikan hukurn terhadap istilah alamiyah dalam ibarat al-Qur’an. Hal ini sesuai dengan penafsiran

Muhammad Abduh yang cenderung

mengkombinasikan antara riwayat yang shahih dan nalar yang rasional, yang diharapkan dapat menjelaskan hikmah-hikmah syariat sunnatullah, serta eksistensi al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia.

Sedangkan penafsiran Rasyid Ridha banyak tergantung pada riwayat dari Nabi SAW dan banyak menukil dari pemikiran para mufassir lain. Hal ini dilakukannya jika la menilai Muhammad Abduh setiap kali dihadapkan dengan masalah selalu

mengikuti kata pikiran dan hatinya saja, serta sesuai dengan apa yang dibacanya dalam al-Qur'an.

Disamping itu, tafsir al-Manar banyak berbicara tentang sastra-budaya dan kemasyarakatan. Suatu corak penafsiran yang menitik beratkan penjelasan ayat al-Qur’an pada segi ketelitian redaksinya, kemudian menyusun kandungan ayat-ayatnya dalam suatu redaksi yang indah dengan penekanan pada tujuan utama turunnya al-Qur’an, yakni memberikan petunjuk bagi kehidupan manusia dan merangkaikan ayat-ayat tersebut dengan hukum-hukum alam yang berlaku dalam masyarakat dan kemajuan peradaban manusia.

Adapun hal yang membedakan tafsir al-Manar dengan tafsir lainnya adalah bahwa dalm tafsir ini banyak menganalisis tentang masalah-masalah sosial yang aktual pada masanya. Atas dasar itu, metode yang digunakan dalam tafsir ini, menurut Muhammad Husain adz-Dzahaby adalah metode Adaby Ijtima’iy (sosio-kultural).

Tafsir al-Manar merupakan salah satu kitab tafsir yang memuat riwayat-riwayat yang shahih dan sesuai dengan pandangan akal yang tegas, serta menjelaskan hikmah-hikmah syari’ah dan sunnah Allah (hukum-hukum Allah) terhadap manusia. Tafsir ini ditulis dengan redaksi yang sederhana serta menghindari istilah-istilah ilmiah dan teknologi sehingga mudah dimengerti oleh orang-orang awam, namun tidak diabaikan oleh para cendekiawan.

Berdasarkan hal tersebut, maka para ulama’ tafsir memasukkan al-Manar kedalam golongan tafsir dengan metode Tahliliy (metode tafsir yang menjelaskan kandungan ayat-ayat a]-Qur’an dari seluruh aspeknya), kemudian mengemukakan munasabah antar ayat. Penjelasan tentang Asbabun Nuzul juga dijelaskan dalam metode ini. Namun, tafsir ini jarang menggunakan kisah-kisah Israilivat. Kalaupun ada, kisah tersebut bukannya sebagai

dasar penafsiran, tapi hanya sekedar sebagai tambahan penjelasan dalam rangkaian untuk menguatkan tafsirnya.

e. Penilaian Ulama’

Berkaitan dengan tafsir al-manar Syekh manna’ al-Qaththan berkata: “Syaikh Muhammad Abduh telah merintis kebangkitan ilmiah dan memberikan buahnya kepada murid-muridnya. Kebangkitan ini berpusat pada kesadaran Islami, upaya pemahaman ajaran sosiologis Islam dan pemecahan agama terhadap problematika kehidupan masa kini. Benih-benih kebangkitan tersebut sebenarnya dimulai dengan gerakan Jamaluddin al-Afgani, yang kepadanya Muhammad Abduh berguru. Abduh memberikan mata kuliah tafsir di Unversitas al-Azhar dan mendapat sambutan baik dari murid dan mahasiswanya. Dan Rasyid Rida adalah murid paling tekun mempelajari mata kuliah tersebut, paling bersemangat dan mencatatnya dengan teliti. Maka dapatlah dikatakan bahwa ia adalah ahli waris tunggal bagi ilmu-ilmu Syaikh Mphammad Abduk Buah nyata akan hal ini tampak jelas dalam tafsimya yang diberi nama tafsir Qur’an Hakim, populer dengan nama Tafsir al-Manar, nisbah kepada Majalah al-manar yang diterbitkannya.

Tafsir al-Manar adalah sebuah tafsir yang penuh dengan pendapat para pendahulu umat ini, sahabat dan tabi’in dan penuh pula dengan uslub-uslub bahasa Arab dan penjelasan tentang sunnatullah yang berlaku dalam kehidupan umat manusia. Ayat-ayat Qur’an ditafsirkan dengan gaya bahasa menarik, makna-makna diungkapkan dengan redaksi yang mudah dipahami, berbagai persoalan dijelaskan secara tuntas, tuduhan dan kesalahpahaman pihak musuh yang dilontarkan terhadap Islam dibantah dengan tegas dan penyakit-penyakit masyarakat ditangani, diobati

dengan petunjuk qur’ani. Syekh Rasyid menjelaskan bahwa tujuan pokok tafsirnya ialah (untuk) memahami Kitabullah sebagai sumber ajaran agama yang membimbing umat manusia ke arah kebahagiaan hidup, di dunia dan hidup di akhirat.”

4. TAFSIR AL-MARAGHI

Dalam dokumen Kitab-kitab Tafsir (Halaman 98-103)

Dokumen terkait